cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Unnes Journal of Mathematics Education Research
ISSN : 22526455     EISSN : 25024507     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 568 Documents
PEMBELAJARAN DENGAN IDEAL PROBLEM SOLVING BERMUATAN DISPOSISI MATEMATIS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATERI BANGUN RUANG SISI DATAR
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 3 No 1 (2014): June 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan perangkat pembelajaran matematika yang valid, praktis dan pembelajaran yang efektif. Model pengembangan pembelajaran mengacu pada model Plomp. Hasil pengembangan perangkat pembelajaran sebagai berikut: (1) perangkat pembelajaran yang dikembangkan valid; silabus adalah 4,10 (sangat baik); RPP adalah 4,12 (sangat baik); LKS adalah 4,06 (sangat baik); buku siswa adalah 4,18 (sangat baik); dan TKPM adalah 4,08 (sangat baik); (2) Perangkat pembelajaran dinyatakan praktis, yaitu: a) kemampuan guru mengelola kelas rata-ratanya 4,40 (baik); dan b) respon siswa positif dengan rata- rata 85,21%; (3) pembelajaran matematika dinyatakan efektif yaitu: a) KPM siswa secara individu minimal mencapai kriteria 73, serta  proporsi siswa mendapatkan nilai minimal KPM sama dengan 73 melebihi 75%; b) adanya pengaruh positif disposisi matematis dan keterampilan pemecahan masalah terhadap KPM sebesar 93,3% ; c) berdasarkan uji banding KPM kelas IDEAL Problem Solving lebih baik dari pada kelas ekspositori; dan d) adanya peningkatan KPM, sebesar 0,6 (sedang). Hasil penelitian perangkat pembelajaran dengan IDEAL Problem Solving bermuatan disposisi matematis telah valid  dan terbukti praktis dan efektif dapat digunakan guru sebagai alternatif dalam proses pembelajaran.AbstractThe purpose of this study was to produce a valid mathematics learning equipment, practical, and  to  determine  the  effectiveness  of  learning. The  research  that  used  is  instructional development model which refers to a Plomp’s model. The result of  learning equipment development as follows: (1) learning equipment developed is valid: syllabus 4,10 (very good); RPP 4,12 (very good); LKS 4,06 (very good); student books 4,18 (very good); and TKPM 4,08 (very good); (2) learning tool use specified practice: a) ability to manage classroom teacher is an average 4,40 (very good), b) the positive student response to learning has an average 85,21%; (3) learning mathematics effective: a) the proportion of students who learn a minimum value KPM equal by 73 by 75%; b) the existence of a positive influence of disposition mathematics and skills of  the problem solving ability as large as 93,3%; c) class that learn use IDEAL Problem solving method better than expoxitory; and d) an increasing in the KPM formation proccess of  experimental class. The results of  learning devices IDEAL Problem solving contained disposition mathematics  have a valid and proven practical and effective teachers can be used as an alternative in the learning process.
ANALISIS KEMAMPUAN GURU MATEMATIKA SMP DALAM MEMBUAT SOAL-SOAL PEMECAHAN MASALAH
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 3 No 1 (2014): June 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini untuk mengetahui kemampuan guru matematika SMP dalam membuat soal pemecahan masalah yang digunakan dalam latihan soal olimpiade. Metode yang digunakan adalah kualitatif. Proses pengambilan data dilakukan dua kali, analisis data tahap pertama dan kedua menunjukkan bahwa guru matematika SMP dalam membuat soal pemecahan masalah kategori berpikir tingkat tinggi masih  kurang.  Karena  dari  empat  materi  matematika  yaitu  kombinatorika, aljabar, geometri dan teori bilangan masih terdapat soal-soal yang masuk kategori berpikir  tingkat  rendah.  Terutama  pada  materi  geometri  mengalami  kesulitan dalam membuat soal pemecahan masalah. Dalam hal ini guru telah mengetahui tentang soal pemecahan masalah meskipun didefiniskan secara berbeda. Sehingga sebenarnya soal pemecahan masalah bukan merupakan hal yang baru bagi guru matematika SMP.AbstractThis study was to determine the ability of  junior high school math teacher in making the problem solving exercises used in the Mathematics Olympics. The method used is qualitative. The process of  data collection is done twice, the first stage of  data analysis and the second shows that the teachers in the junior high school mathematics problem solving to make higher order thinking category is still lacking. Because of  the four materials, namely combinatorics math, algebra, geometry and number theory, there are still problems in the category of lower order thinking. Mainly on the geometry of the material have difficulty in making the matter of solving the problem. In this case the teacher has to know about the matter of solving the problem though defined differently. So the actual problem solving is not a new thing for the junior high school math teacher.
PEMBELAJARAN MATEMATIKA MODEL DOUBLE LOOP PROBLEM SOLVING DENGAN PENDEKATAN PMRI BERMUATAN KARAKTER UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 3 No 1 (2014): June 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTujuan dari penelitian ini  adalah  untuk memperoleh hasil perangkat pembelajaran matematika model DLPS dengan pendekatan PMRI yang valid, praktis dan efektif. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan meliputi Silabus, RPP, Buku Peserta didik, LKPD dan test kemampuan pemecahan masalah. Subyek uji coba dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas X semester genap SMAN 4 Semarang. Variabel penelitian meliputi keaktivan (X1) dan sikap peserta didik (X2) dan kemampuan pemecahan masalah (Y). Pengembangan perangkat pembelajaran   mengacu pada model Plomp, yaitu: (1) investigasi awal (prelimenary investigation), (2) perancangan (design); (3) realisasi/ kontruksi (realization/construction), (4) pengujian, evaluasi dan revisi (test, evaluation and revision), dan (5) implementasi (implementation). Hasil Penelitian menunjukkan: (1) perangkat pembelajaran yang dikembangkan telah dinyatakan valid dan (2) uji coba perangkat menghasilkan (a) secara signifikan prestasi belajar peserta didik melebihi KKM = 70 dan lebih dari 80% peserta didik mencapai KKM yaitu 93,75%. Simpulan dari penelitian ini adalah model DLPS dengan Pendekatan PMRI bermuatan karakter untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah materi trigonometri kelas X merupakan model pembelajaran yang valid dan efektif, dan praktis.AbstractThe purpose of this study is to obtain the results of mathematical learning DLPS models with PMRI approachment charged   character that is valid, pratical and effective. The learning instruments which are developed include syllabus, lesson plan, student book, student work sheets, and problem solving abilities test. The subject of this study are the students of Senior High School 4 Semarang. The variable of this research include the activity as (X1) and the student’s attitudes as (X2). while the dependent variable is the problem solving abilities as (Y). The learning development refers to a model of Plomp i.e : (1) prelimenary investigation, (2) design, (3) realization/construction, (4) test, evaluation and revision, and (5) implementation. The result of the study shows: (1) The learning instruments that is developed is valid, (2) the result of  experimental instrument  shows : (a) the individual problem solving abilities exceed the KKM value = 70  and 93,75 % of the students can achieve above the standard  of  80%. The conclusions of  this study is the  model of  Double Loop Problem Solving Learning with PMRI to enhance the Problem Solving Abilities is a Learning Model that is valid, practical and effective.
ANALISIS KESESUAIAN SOAL UJIAN NASIONAL MATEMATIKA SMP MENGACU PADA PENILAIAN PROGRAMME FOR INTERNATIONAL STUDENT ASSESSMENT
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 3 No 1 (2014): June 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan klasifikasi soal UN Matematika SMP lima tahun terakhir mengacu pada penilaian PISA yang meliputi, aspek konten , aspek proses, aspek konteks, tingkat.  Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa klasifikasi soal UN Matematika SMP tidak ideal sesuai dengan ketetapan PISA. Pada aspek konten perubahan dan keterkaitan serta ruang dan bentuk mempunyai distribusi lebih dari distribusi yang ditetapkan PISA (25%). Aspek konten ruang dan bentuk mempunyai distribusi rata-rata paling tinggi dibandingkan dengan aspek konten yang lain yaitu 42,5%. Pada aspek proses kemampuan menggunakan konsep, fakta, prosedur dan penalaran Matematika yang mempunyai distribusi rata-rata 79% dari 50% ketetapan PISA. Proses menafsirkan, menerapkan dan mengevaluasi hasil dari suatu proses Matematika belum termuat dalam soal UN Matematika. Soal UN Matematika memiliki distribusi rata-rata 71% tidak memuat konteks. Sebaran soal UN Matematika lebih banyak pada perhitungan secara langsung tanpa memuat konteks. Tingkat kemampuan Matematika dalam PISA pada soal UN Matematika berada pada level 2 dan didominasi soal-soal yang terletak pada level 1.Disimpulkan bahwa sebaran konten, proses dan konteks soal UN Matematika lima tahun terakhir belum memenuhi standar ideal sesuai dengan ketetapan PISA.AbstractThis study aimed to determine and describe classification problem Mathematics national examination junior high school last five years refers to PISA assessment which includes, content aspects, process aspects, context aspect, level. This type of  research is descriptive qualitative research . Collecting data in this study using methods documentation. The aspect of  content change and relevance as well as space and shape distributions have more than specified distribution PISA (25 %). Aspects of  space and shape content distribution has highest average in comparison with other aspects of  content 42.5%.The aspect of  ability to use concepts, facts, procedures and Mathematical reasoning which has average distribution 79 % of  the 50 % provision PISA. Process of  interpreting, implementing and evaluating result of   process not contained in Mathematics to the national examination . Mathematic problem has average distribution of  71 % does’nt load context. The distribution of  matter in national examination Mathematical calculations more directly without loading context. Mathematical ability levels in PISA Mathematics national examination at level of  2 and dominated questions that lie level 1. The conclusion distribution of  content, process and context to Mathematics national examination past five years have not meet ideal standards accordance with provisions of PISA.
KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN DISPOSISI MATEMATIS SISWA KELAS X PADA PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 4 No 2 (2015): November 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis keefektifan model PBM pendekatan Van Hiele serta mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis tiap tingkat berpikir geometri pada model PBM pendekatan Van Hiele. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kombinasi kualitatif dan kuantitatif.Model kombinasi penelitian ini adalah tipe concurrent triangulation, pengabungan metode kualitatif dan kuantitatif secara seimbang. Teknik pengambilan sampel penelitian kuantitatif yaitu simple random sampling yang mana pada penelitian ini diambil satu kelas eksperimen dengan model PBM pendekatan Van Hiele dan satu kelas kontrol dengan pembelajaran ekspositori. Teknik pemilihan subyek penelitian kualitatif yaitu non-probability sampling, dimana pengambilan subyek berdasarkan tingkat berpikir geometri. Model PBM pendekatan Van Hiele efektif terhadap kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis. Kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis tiap tingkat berpikir geometri Van Hiele. Peserta didik tingkat 1 (analisis) dapat memahami masalah tapi tidak dapat menyusun rencana penyelesaian dengan baik. Peserta didik tingkat 2 (deduksi informal) dapat memahami masalah, menyusun rencana, melaksanakan rencana dengan baik tapi tidak dapat mengecek hasil. Peserta didik tingkat 3 (deduksi) dapat memahami masalah, menyusun rencana, melaksanakan rencana, dan mengecek hasil dengan baik. Disposisi matematis secara keseluruhan padatiap tingkat berpikir geometri dengan model PBM pendekatan Van Hiele termasuk pada kategori tinggi.The purpose this study was to analyze the effectiveness of the model PBL Van Hiele approach and describe problem solving ability and mathematical disposition of each level thinking geometry on the model PBL with Van Hiele approach. This study is a combination of qualitative and quantitative research. Model combination of this research is type of concurrent triangulation, merging qualitative and quantitative methods in a balanced manner. Quantitative research sampling technique is simple random sampling which in this study was taken experimentclass used model PBL with Van Hiele approach and control class with expository. Qualitative research subjects selection techniques, namely non-probability sampling, whereas the subjects based on levels thinking of geometry. Model PBL with Van Hiele approach effectived to increased problem-solving ability and mathematical disposition. Problem solving ability and disposition of each level mathematical thinking of Van Hiele  approach. Learners level 1 (analysis) can understand problem but can’t plan well completion. Learners level 2 (deduction informal) can understand problem, plan, execute plan well but can not check the results. Learners level 3 (deduction) can understand problem, plan, implement plan, and check results properly. Overall mathematicaldisposition of each level thinking of geometry use model PBL with Van Hiele approach included in high category.
KEMAMPUAN LITERASI MATEMATIKA SISWA KELAS VIII BERDASARKAN GAYA KOGNITIF
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 4 No 2 (2015): November 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan literasi matematika adalah kemampuan seseorang untuk memahami dan menerapkan pengetahuan dasar matematika dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan gaya kognitif siswa sebagai bagian dari karakteristik individu yang menyebabkan perbedaan pada kemampuan literasi setiap siswa perlu diperhatikan pada kegiatan pembelajaran. PMRI merupakan salah satu pembelajaran yang dapat mendukung aktivitas siswa dalam mengembangkan kemampuan literasi matematika. Sebanyak 36 siswa ditentukan gaya kognitifnya dengan menggunakan Matching Familiar Figure Test (MFFT) sehingga diperoleh empat kategori: 2 siswa reflektif, 11 siswa impulsif, 2 siswa fast accurate, dan 21 siswa slow innaccurate. Pencapaian aspek literasi matematika siswa reflektif, impulsif, fast accurate, dan slow innaccurate berbeda-beda dengan siswa fast accurate yang menonjol pada aspek representation dan devising strategies for solving problems. Hal ini didukung oleh adanya peningkatan kemampuan literasi matematika pada siswa dengan nilai peningkatan terbesar dicapai siswa fast accurate. Guru dapat menerapkan pembelajaran PMRI untuk meningkatkan kemampuan literasi matematika siswa dengan tipe gaya kognitif yang berbeda-beda.Mathematics literacy is an indiviudal’s ability to understand and apply basic mathematical capabilities in daily life. Learning process should pay attention to the difference of students’ cognitive style as a part of individual characteristics that make difference to students’ mathematics literacy ability. PMRI learning activites may help students in developing their mathematics literacy ability. Matching Familiar Figure Test  are tested to 36 students which results four categories: 2 reflective students, 11 impulsive students, 2 fast accurate students, and 21 slow innaccurate students. Students’ different cognitive styles affect their different mathematics ability, fast accurate students gained best score at representation and devising strategies for solving problems. It is also supported by their highest improvement of mathematics literacy ability. Teachers may apply PMRI learning for every students whose different cognitive style to improve their mathematics literacy ability.
PBL BERNUANSA ADIWIYATA DENGAN BLENDED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 4 No 2 (2015): November 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk memperoleh keefektifan dan implementasi dari model pembelajaran tersebut serta untuk memperoleh temuan pengetahuan mengenai kemampuan pemecahan masalah dan karakter peduli lingkungan berdasarkan perbedaan gender. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dan kualitatif. Pengolahan data secara kuantitatif  menggunakan yaitu uji ketuntasan, uji banding dengan two way ANOVA dan uji pengaruh, sedangkan kualitatif dengan triangulasi data dari dokumen, wawancara dan pengamatan pada subjek penelitian pilihan yang terdiri dari 5 siswa laki-laki dan 5 siswa perempuan dari kelompok tinggi, sedang dan rendah. Hasil penelitian ini sebagai berikut: (1) Pembelajaran matematika dinyatakan efektif, yaitu: a) KPM (Kemampuan Pemecahan Masalah) mencapai ketuntasan; b) adanya pengaruh positif keterampilan pemecahan masalah dan karakter peduli lingkungan terhadap KPM; c) Rata-rata KPM dan karakter peduli lingkungan untuk kelas dengan pembelajaran PBL bernuansa adiwiyata menggunakan blended  learning lebih baik dibanding kelas dengan pembelajaran PBL menggunakan blended  learning dan kelas dengan pembelajaran PBL. (2) Kemampuan pemecahan masalah dan karakter peduli lingkungan siswa perempuan lebih tinggi dibanding siswa laki-laki.The purpose of this study  was to obtain the effectiveness and implementation of the learning model as well as to acquire knowledge about problem solving ability and environment caring character based on gender differences. This research is both quantitative and qualitative. Quantitative data processing is held use completion test, comparative test with two-way ANOVA and influence test while qualitative data processing is held by triangulate data from document, interview and observation from selected research subject that consists of 5 male students and 5 female students from high, medium and low group. Results of this study as follows: (1) Learning mathematics is declared effective, namely: a) KPM achieve mastery; b) the positive influence of problem solving skills and enviroment caring character to KPM; c) Average KPM and environment caring character in class with adiwiyata nuanced PBL learning using blended learning is better than class with PBL using blended learning and class with PBL. (2) The ability of problem solving and environment character caring in female student is higher than male student.
STRATEGI DAN PROSES BERPIKIR DALAM MENYELESAIKAN SOAL PEMECAHAN MASALAH BERDASARKAN TINGKAT KECEMASAN MATEMATIKA
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 4 No 2 (2015): November 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Strategi dan proses berpikir memiliki peran sangat penting dalam proses pemecahan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang strategi dan proses berpikir dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah siswa kelas VII dengan tingkat kecemasan matematika tinggi, sedang, maupun rendah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subyek dalam penelitian ini adalah 3 siswa dengan kecemasan matematika tinggi (KMT), 3 siswa dengan kecemasan matematika sedang (KMS), dan 3 siswa dengan kecemasan matematika rendah (KMR) kelas VII MTs NU Nurul Huda Kudus. Penetapan subyek berdasarkan hasil tes skala kecemasan matematika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi dan proses berpikir diketahui sebagai berikut (1) tiga subyek KMT tidak dapat menggunakan sebagian besar tahapan strategi dan proses berpikir dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah dengan tepat sehingga jawaban tidak tepat, (2) tiga subyek KMS dapat menggunakan sebagian besar tahapan strategi dan proses berpikir dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah dengan tepat terhadap beberapa soal yang diberikan, dan (3) tiga subyek KMR dapat menggunakan sebagian besar tahapan strategi dan proses berpikir dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah dengan tepat dan memperoleh jawaban tepat.Strategy and thinking process have a very important role in the process of problem solving. This study aimed to obtain a description of the strategies and thought processes in solving problem solving seventh grade students with mathematics anxiety levels. This research is a descriptive qualitative approach. Subjects in this study were three students with high math anxiety (KMT), 3 students with math anxiety medium (KMS), and 3 students with low math anxiety (KMR) class VII MTs. NU NU Nurul Huda. Determination of the subject based on the results of tests of mathematics anxiety scale. The results showed that the strategies and thought processes KMT three subjects can not use most of the stages of strategy and thought processes appropriately so that the answers are not right. Three subjects KMS can use most of the stages of strategy and thought processes appropriately to some given problem. Subjects KMR can use most of the stages of strategy and thought processes in solving solving with proper and precise answers.
ANALISIS KARAKTERISTIK BERPIKIR GEOMETRI DAN KEMANDIRIAN BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN FASE VAN HIELE BERBANTUAN GEOMETERS SKETCHPAD
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 4 No 2 (2015): November 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini mendeskripsikan karakteristik bepikir geometri dan kemandirian belajar siswa. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan subjek kelas 7 SMP N 2 Rembang yang diambil tiga siswa tiap level. Pengambilan datanya dilakukan tes dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran berkategori baik. (1) Subjek level 1 dapat mendefinisikan, mengelompokkan jenis transformasi berdasarkan gambar, namun belum mengenal sifat, serta memiliki kemandirian belajar yang rendah, (2) subjek level 2 dapat mendefinisikan, mengelompokkan jenis transformasi dan menyebutkan sifat-sifatnya serta memiliki kemandirian belajar sedang, (3) subjek level 3 dapat mendefinisikan, mengelompokkan jenis transformasi dari gambar, menyebut sifat dan menghubungkan dengan jenis lainnya serta memiliki kemandirian belajar tinggi. Berdasarkan hal tersebut maka guru dapat mendesain suatu pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan berpikir geometri siswa dengan memperhatikan karakteristik berpikir geometrinya.The purpose of this study was to describe the characteritics of VII grade students geometric thinking. This research was a descriptive qualitative research. The subject of this research was nine students of VII grade at SMP N 2 Rembang consist of three students from each level 1 (visualization), level 2 (analysis), and level 3 (informal deduction). Data in this research was the characteristics of geometric thinking obtained from test and interview. (1) Students of level 1 can define transformation based on the appearance; grouping the pictures; can’t understand properties of each transformation or related to another; and have low category in self regulated learning, (2) students of level 2 can define, grouping transformation based on the appearance, explain properties but can’t related to another, and have average category in their self regulated learning, (3) students of level 3 define, grouping transformation, understand properties of each transformation, also admit relation from any kinds of transformation, but can’t locate vector translation or center of rotation, also can’t decompose transformation, and have high category in self regulated learning. So teacher can design instruction to encourage students’ thinking processes with Van Hiele’s Phase-Based Instruction using the Geometer’s Sketchpad concern to the characteristics.
ANALISIS KEMAMPUAN KERUANGAN DAN SELF EFFICACY PESERTA DIDIK DALAM MODEL PEMBELAJARAN TREFFINGER BERBASIS BUDAYA DEMAK
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 4 No 2 (2015): November 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian  ini bertujuan untuk menganalisis self efficacy dan kemampuan keruangan peserta didik  serta menguji keefektifan model pembelajaran tersebut dalam upaya meningkatkan kemampuan keruangan peserta didik  SMK. Penelitian ini menggunakan metode kombinasi desain concurrent triangulation. Semua rumusan masalah akan dicarikan jawabannya dengan metode kualitatif dan kuantitatif secara seimbang. Analisis self efficacy dan kemampuan keruangan akan di bahas dari berbagai sudut pandang metode pengumpulan data. Efektivitas hasil dengan metode kuantitatif yaitu eksperimen dengan  One Sample Group Designe. Uji ketuntasan kemampuan keruangan memakai uji beda rata-rata satu pihak dan uji beda proporsi. Uji peningkatan kemampuan keruangan dengan memakai uji t- berpasangan serta uji Gain. Hasil Penelitian menghasilakan: (a)kemampuan keruangan matematika telah mencapai ketuntasan individual dan klasikal, sebanyak 91,89% peserta didik telah mencapai nilai KKM yaitu 75 ; (b) terdapat peningkatan kemampuan keruangan matematika dengan rata-rata gain klasikal sebesar 0,73 dengan kriteria tinggi. Hasil analisis self efficacy dan kemampuan keruangan peserta didik dari penelitian pembelajaran tersebut adalah peserta didik yang mempunyai kemampuan keruangan yang tinggi cenderung mempunyai self efficacy yang tinggi.The purpose of this study is to analyse self efficacy and spatial abilities and  effectiveness test of the learning model in an effort to improve the mathematical spatial ability of learners vocational high school. This study uses a combination of concurrent triangulation design. All the formulation of the problem will be answered with a qualitative and quantitative methods in a balanced. The effectiveness of the results of the quantitative method is experimental with one sample group designe. Mathematical spatial ability’s test use different average test and different proportions test. The increasing test of spatial abilities using paired t-test and Gain test. The result of this study is: (a) the average of spatial abilities have reached completeness individual and classical, the students who can reached KKM value is reached 91,89% ; (b) there is an increase in the spatial abilities, the gain value is 0,73 which it is in the high level. The result of analysis self efficacy and spatial abilities is the students who have high spatial abilities so they have high self efficacy.