cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Dakwah
ISSN : 16938054     EISSN : 2581236X     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
FOCUS The focus is to provide readers with a better understanding of dakwah knowledge and activities the life on Indonesian Muslims. SCOPE The subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of communication and broadcasting Islam, guidance and counseling Islam, management dakwah, development of Islamic societies and many more. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 40, No 2 (2020)" : 14 Documents clear
Program less waste sebagai inovasi dakwah Hanan Attaki Nizar, Yasyva Agfa
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 40, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v40.2.5762

Abstract

Dakwah tentang pengurangan sampah sangat penting dilakukan mengingat persoalan sampah masih menjadi problem bersama yang belum terselesaikan solusinya. Namun, tidak banyak para pendakwah yang melakukan dakwah dengan tema lingkungan, pengurangan sampah khususnya. Hanan Attaki sebagai pendakwah muda yang memiliki banyak pengikut, melakukan inovasi dakwah dengan mengkampanyekan program less waste sebagai materi dakwah. Tulisan ini merupakan studi kasus pada dakwah yang dilakukan Hanan Attaki di komunitas pemuda Bandung. Tulisan ini membahas tentang dua hal, pertama tentang inovasi dakwah yang disampaikan oleh Hanan Attaki kepada para pemuda untuk menanggulangi permasalahan sampah di kota Bandung, kedua tentang proses program less waste mampu memaksimalkan peran pemuda. Penulis  menggunakan pendapat Al-Bayanuni dalam kitab Al-Madkhal Ila Ilmi Dakwah dalam menganalisis. Hasil studi menunjukkan bahwa inovasi dakwah Hanan Attaki dilakukan dengan membuat program less waste merupakan tindakan awal dalam pengaplikasian materi yang disampaikan kepada pemuda kota Bandung. Less waste dijadikan sebagai gaya hidup baru bagi para pemuda Bandung. Para pemuda diajarkan cara meminimalisir dan mengelola sampah organik dan anorganik. Sehingga, program less waste dapat membuat pemuda Bandung terlibat mengambil peran dalam isu lingkungan sekaligus mengatasinya secara langsung, serta mampu mengubah gaya pemuda yang suka nongkrong di cafe menjadi nongkrong di masjid. Da'wah about waste reduction is very important considering the problem of waste is still a common problem whose solution has not been resolved. However, not many preachers carry out preaching on the theme of the environment, especially waste reduction. Hanan Attaki as a young preacher who has many followers innovates da'wah by campaigning for a less waste program as a material for da'wah. This paper is a case study on the da'wah carried out by Hanan Attaki in the Bandung youth community. This paper discusses two things, first about the da'wah innovation conveyed by Hanan Attaki to youths to overcome the waste problem in the city of Bandung, second about the process of the less waste program capable of maximizing the role of youth. The author uses Al-Bayanuni's opinion in the book Al-Madkhal Ila Ilmi Dakwah in analyzing. The results of the study show that Hanan Attaki's innovation in preaching by creating a less waste program is the first step in the application of the material presented to the youth of Bandung. Less waste is used as a new lifestyle for Bandung youth. The youth are taught how to minimize and manage organic and inorganic waste. Thus, the less waste program can make Bandung youths involved in taking part in environmental issues as well as addressing them directly, as well as being able to change the style of youth who like to hang out in cafes to hang out in mosques.
Komunikasi dakwah da’i dalam pembinaan komunitas mualaf di kawasan pegunungan Karomba kabupaten Pinrang Tahir, Aswar; Cangara, Hafied; Arianto, Arianto
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 40, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v40.2.6105

Abstract

Komunikasi dakwah yang dilakukan oleh da’i dalam membinaan mualaf sangat penting bagi perrubahan sudut pandang dan perilaku komunitas mualaf dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan ajaran Islam, mengingat da’i sebagai tokoh sentral bagi pengetahuan keagamaan mualaf. Penelitian ini berupaya untuk mengetahui dan menganalisis komunikasi dakwah yang dilakukan da’i dalam pembinaan komunitas mualaf di kawasan pegunungan Karomba yang meliputi da’i sebagai komunikator, materi atau pesan ajaran Islam yang disampaikan, media yang digunakan dalam pembinaan dan perubahan sikap komunitas mualaf yang menerima pembinaan keagamaan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara dan observasi langsung. Sedangkan data sekunder didapatkan dari studi pustaka pada berbagai sumber bacaan yang sesuai dengan tema. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, komunikasi dakwah dilakukan dengan tatap muka secara langsung dalam kelompok pengajian dan konsultasi syari’ah, ceramah keagamaan serta kelompok belajar mengaji. Kedua, materi yang disampaikan da’i berupa nilai-nilai dasar keagamaan, keutamaan Islam dan keindahan-keindahan Islam, shalat dan mengaji. Ketiga, media yang digunakan da’i dalam pembinaan adalah dengan cara tatap muka secara langsung. Keempat,  terjadi perubahan sikap pada diri mualaf setelah mendapatkan pembinaan, yaitu meningkatnya pengetahuan komunitas mulaf tentang Islam, seperti pengetahuan tentang nilai-nilai tauhid, akhlak dan syariat. The da'wah communication carried out by the da'i in fostering converts is very important for changing the perspective and behavior of the converts community in daily life according to Islamic teachings, considering that the da'i is a central figure for converts' religious knowledge. This study seeks to identify and analyze the da'wah communication carried out by preachers in coaching the community of converts in the Karomba mountain area which includes preachers as communicators, the material or messages of Islamic teachings conveyed, the media used in coaching, and changes in the attitudes of the converts who accept religious formation. The research method used in this research is a qualitative method with a case study approach, primary data collection is done by interview and direct observation. Meanwhile, secondary data were obtained from literature studies on various reading sources in accordance with the theme. The results showed that first, da'wah communication was carried out face-to-face in recitation groups and shari'ah consultations, religious lectures, and Koran study groups. Second, the material presented by the da'i was in the form of basic religious values, the virtues of Islam and the beauties of Islam, prayer, and recitation. Third, the media used by da'i in coaching is face-to-face. Fourth, there is a change in the attitude of the converts after receiving guidance, namely increasing knowledge of the mulaf community about Islam, such as knowledge of the values of tawhid, morals, and sharia.
Social media utilization in Covid-19 epoch: Virtual da’wah-ramadan lectures in Northern Nigeria Sule, Muhammad Maga
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 40, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v40.2.5809

Abstract

Social media have become part of the individual and public lifestyles of Muslims globally. The paper examined the utilization of social media platform such as Facebook and YouTube as an available option to conduct Virtual Da’wah Ramadan lectures on the commentary of the Glorious Qur’an and Ta’aleem in Northern Nigeria and this was done with the sampled of scholars from the three zones in Northern Nigeria, i.e. North-West, North-Central and North-East. The paper adopts the use of secondary data as method of data collection where In-depth survey of the various pages/channels on social media and participant observation to obtain data. The researchers purposively sampled nine scholars for the study and survey was carried out on their various social media pages/channels to ascertain their level of utilization of the technology during the COVID-19 period to teach their followers with the restriction of movement and gathering in places of worship in Nigeria.  Some of the findings of the study revealed that the sampled Muslims scholars finds it convenient to present live programme of their teachings virtually and post video and audio of their Virtual Da’wah Ramadan lectures on the commentary of the Glorious Qur’an and Ta’aleem social media. The research paper concludes Muslim scholars to continue with the utilization of the social media platforms even after the Ramadan and Post-COVID-19 pandemic in carrying out their day to day virtual teachings so that other audience who are not close to their Masjid will benefit from their lectures on the various teachings of Islam.
Anak autis sebagai mad’u dakwah: Analisis komunikasi interpersonal Rahman Hakim, Uky Firmansyah; Fadillah, Rima
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 40, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v40.2.4702

Abstract

Anak autis merupakan seseorang yang memiliki gangguan komunikasi, yang membuat penderitanya tidak mampu mengadakan interaksi sosial dengan baik. Sehingga keberadaan anak autis masih dipandang sebagai orang lain di masyarakat. Padahal, anak autis mampu melakukan komunikasi, meskipun komunikasi yang dilakukan berbeda dengan orang non-autis. Kaitannya dengan dakwah, anak autis seharusnya mampu menerima pesan-pesan dakwah, sehingga penelitian mengenai anak autis dari sudut pandang mad’u dakwah sangat penting untuk dilakukan. Penelitian ini dilakukan di SLB Autis Jalinan Hati Payakumbuh dengan tujuan mengetahui tentang apakah anak autis dapat digolongkan sebagai mad’u dakwah, dan bagaimana perkembangan sosial dan komunikasi anak autis sehingga ia mampu menerima pesan dakwah. Melalui penelitian lapangan (field research), penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif, data diperoleh dari wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menujukan bahwa (1) dilihat dari pengertian dan kriteria mad’u, anak autis dapat digolongkan sebagai mad’u dakwah; (2) anak autis memiliki pola komunikasi interpersonal yang berbeda dengan anak non-autis, dalam perkembangannya ia tetap mampu melakukan komunikasi dengan orang lain, baik mengirim ataupun menerima pesan, melalui 3 tahapan, yaitu the own agenda stage (tahapan perkembangan komunikasi yang mendasar), the requester stage (perkembangan komunikasi mengalami kemajuan yang baik, tetapi masih terbatas), dan the early communication stage (tahapan kemampuan berkomunikasi sudah lebih baik).Child with autism is someone who has a communication disorder, which makes the sufferer unable to have good social interactions. So that the existence of autistic children is still seen as another person in society. In fact, autism can communicate, even though communication is different from non-autism. With regard to da'wah, autism should be able to receive da'wah messages, so research on autism from the point of view of mad'u da'wah is very important to do. This research was conducted at SLB Autism Jalinan Hati Payakumbuh to know whether autism can be classified as mad'u da'wah, and how the social development and communication of autism so that they can receive da'wah messages. Through field research (field research), this study uses qualitative descriptive methods, data obtained from interviews, observation and documentation. The results show that (1) seen from the definition and criteria of mad'u, autism can be classified as mad'u da'wah; (2) autism has different interpersonal communication patterns from non-autism, in their development they are still able to communicate with other people, either sending or receiving messages, through 3 stages, namely the own agenda stage (basic stages of development of communication) , the requester stage (communication development has progressed well, but is still limited), and the early communication stage (the stage of communication skills is better).
Self-disclosure melalui media instagram: Dakwah bi al-nafsi melalui keterbukaan diri remaja Wiyono, Teguh; Muhid, Abdul
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 40, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v40.2.5834

Abstract

Self disclousure atau pengungkapan diri menjadi hal yang wajar dilakukan remaja di media sosial untuk saat ini. Remaja terbiasa membuka diri melalui postingan di instagram, yang merupakan ruang publik yang dapat dikonsumsi oleh banyak orang. Untuk itu mengetahui cara dan motif pengungkapan diri yang dilakukan oleh remaja di media sosial menjadi sangat penting dilakukan karena hal ini dapat memberikan dampak nilai, baik ataupun buruk, bagi pembaca. Selain itu, pengungkapan diri dapat ditelusuri dari segi dakwah nafsiyah yang dilakukan oleh remaja. Sehingga, fokus penelitian ini mengenai dakwah nafsiyah melalui keterbukaan diri remaja di masa pandemi Covid-19 di media sosial, instagram. Untuk menjabarkan fokus penelitian tersebut secara mendalam, penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan konstruktif, sementara self disclosure menggunakan teori dari Jendela Johari. Hasil Penelitian menunjukkan bahwasannya pertama, remaja melakukan pengungkapan diri di media sosial instagram secara terbuka dengan tujuan untuk menjernihkan diri dan aktualisasi diri. Hal yang dilakukan remaja dalam pengungkapan diri termasuk dalam dakwah nafsiyah jika dilihat dari kontrol yang dilakukan remaja secara terus menerus pada dirinya. Sementara, dampak yang ditimbulkan dari self disclosure pada diri remaja dapat dikategorisasikan berupa dampak positif dan negatif. Dampak positif yang ditimbulkan berupa motivasi bagi seseorang untuk merubah diri menjadi lebih baik. Sementara, dampak negatif yang ditimbulkan adalah menjadikan orang lain tidak nyaman bahkan terganggu dengan keterbukaan yang  disampaikan. Self disclosure is a natural thung for teenagers to do on social media at this time. Teenagers are accustomed to opening up through posts on instagram, which are public spaces that can be customed by many people. For this reason, knowing how and motives for self disclosure carried out by teenagers on social media are very important to do because this can have a value impact, good or bad, on the reader. In addition, self disclosure can be traced in terms of the preaching of the nafsiyah by adolescents. So, the focus of this research is on da’wah nafsiyah through the self disclosure of youth during the covid 19 pandemic on social media, instagram. To describe the focus of this research in depth, this study uses descriptive qualitative methods with a constructive approach, while self disclosure uses the theory of Johari Window. The result showed that adolescents made self disclosure on instagram openly with the aim of self purification and self actualization. What adolescents do in self disclosure is included in the preaching of the nafsiyah when viewed from the control that adolescents do continuiusly in themselves. Meanwhile, the impact of self disclosure on adoloscents can be categorized as positive and negative impacts. The positif impact is in the form of motivation for someone to change themselves for the better. Meanwhile, the negative impact caused is making other people uncomfortable and even distrubed by the openess conveyed.
Etika komunikasi dakwah: Studi terhadap video kajian Ustaz Abdul Somad tentang K-Pop dan Salib Rosyada, Amrina
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 40, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v40.2.4704

Abstract

Ustaz Abdul Somad kembali menjadi sorotan khalayak karena dakwahnya yang kontroversial. Pada akhir Agustus 2019, video ceramah Ustaz Abdul Somad yang diunggah pada tahun 2016 yang berjudul “Hukum Melihat Salib” sempat viral di media sosial karena dianggap mengandung unsur Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). Video pendek yang berisi jawaban Ustaz Abdul Somad atas pertanyaan jamaah, mengandung konten yang menyinggung tentang salib sehingga menimbulkan respon negatif dari umat nonmuslim. Selain itu, ada video ceramah lain yang berjudul “Hukum Menonton Film Korea” yang juga menimbulkan respon negative bagi para penggemar KPop atau KPopers. Tulisan ini fokus pada bagaimana etika komunikasi dakwah Ustaz Abdul Somad yang dibangun berdasarkan perspektif Al Quran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif. Subjek penelitiannya adalah dua video ceramah Ustaz Abdul Somad yang berjudul “Hukum menonton Film Korea” dan “Hukum Melihat Salib”. Sementara objek penelitian ini ialah retorika Ustaz Abdul Somad dalam video-video tersebut. Hasilnya, ceramah dalam kedua video tersebut mengandung prinsip etika komunikasi dalam Al Quran, dengan catatan ceramah tersebut dilakukan pada kelompok terbatas. Etika Al Quran yang dimaksud adalah prinsip bicara tegas dan jujur. Namun, jika dalam konteks media sosial yang bersifat general atau umum, maka pesan dakwahnya tidak sesuai dengan salah satu kode etik dakwah serta dinilai tidak efektif. Ustaz Abdul Somad returned to the media spotlight because of his preaching that triggered a negative response by other groups. At the end of August 2019, Ustaz Abdul Somad's video lecture uploaded in 2016 entitled "Hukum Melihat Salib" was viral on social media because it was considered to contain SARA elements. In the video footage, there is content that is offensive about the cross, giving rise to negative responses from non-Muslim communities. In addition, the lecture video entitled "Hukum Menonton Film Korea" also caused a negative response for KPopers. Therefore, this paper focuses on how the ethics of Ustaz Abdul Somad's missionary communication are built on the perspective of the Qur'an. This research uses a qualitative descriptive approach. His research subjects used Ustaz Abdul Somad's video lecture entitled "Hukum Menonton Film Korea" and "Hukum Melihat Salib". While the object of this research is the rhetoric of Ustad Abdul Somad in the videos. As a result, both videos contain ethical principles of communication in the Koran, if the lecture is aimed at a particular group. Unlike the case in social media that is universal (anyone, anytime and anywhere can be accessed), then the message of preaching is not following one of the preaching code of ethics and has not been effective.
Eksistensi komunitas hijrah dan dakwah masa kini: Studi komunitas jaga sesama Solo Zulhazmi, Abraham Zakky; Priyanti, Erma
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 40, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v40.2.6249

Abstract

Tulisan ini menunjukkan perkembangan dakwah kontemporer di Indonesia ditandai dengan fenomena maraknya komunitas hijrah diberbagai Kota. Bahkan, hijrah sudah menjadi sebuah fenomena yang tak asing dan bahkan familiar di kalangan masyarakat Islam. Bagi pemeluk agama Islam, hijrah sudah menjadi fenomena yang ramai dilakukan. Dalam hal ini dijelaskan bahwa hijrah sebagai jalan untuk mengubah seorang individu atau bertaubat. Baik yang dilakukan oleh setiap individu ataupun dalam sebuah komunitas. Salah satunya di Kota Solo yang memiliki latar keberagamaan dan keberagaman yang dinamis. Tujuan penelitian ini untuk menguraikan secara detail tentang pengelolaan dakwah dalam komunitas Jaga Sesama Solo. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang menjelaskan mengenai manajemen dakwah di Komunitas Jaga Sesama Solo. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Adapun wawancara mendalam (indept interview) dengan pengelola komunitas Jaga Sesama (ketua, bagian humas dan anggota). Hasil penelitian ini adalah Komunitas Jaga Sesama menjalankan dalam menajemen dakwah untuk mewadahi generasi muda Solo belajar dasar Islam. Perencanaan dakwah (takhthith) ditempuh melalui menentukan sasaran dakwah, menyusun visi misi komunitas, memilih ustaz. Pengorganisasian dakwah (tanzhim) dengan pembagian tugas kepada pengurus komunitas. Penggerakan dakwah (tawjih) dengan menghadirkan kegiatan yang relevan dengan generasi muda dan optimalisasi media sosial. Pengendalian dan evaluasi dakwah (riqabah) melalui evaluasi bulanan. In this paper the development of da’wa in contemporary Indonesia is marked by the phenomenon of the spread of hijrah communities in various cities. Hijrah has become a familiar phenomenon among the Muslim community. For Muslims, hijrah has become a predictable phenomenon. In this case, it is explained that hijrah is a way to change an individual or repent. Whether done by each individual or community. One of them is Solo, which has a dynamic diversity and religious background. This research is qualitative research that describes the da’wa management in Komunitas Jaga Sesama Solo. Interviews with Komunitas Jaga Sesama Solo managers (head of public relations and members) were used as the primary data collection method. This study concluedes that the Komunitas Jaga Sesama Solo carries out da’wa management to accommodate the young generation of Solo to learn the basics of Islam. Da'wa planning (takhthith) is pursued through determining the target of the da'wa, compiling the vision and mission of the community, choosing the ustaz. Organizing da'wa (tanzhim) by distributing tasks to community administrators. The movement of da'wa (tawjih) by presenting activities that are relevant to the younger generation and optimization of social media. Control and evaluation of da’wa (riqabah) by monthly evaluation.
Social media utilization in Covid-19 epoch: Virtual da’wah-ramadan lectures in Northern Nigeria Muhammad Maga Sule
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 40, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v40.2.5809

Abstract

Social media have become part of the individual and public lifestyles of Muslims globally. The paper examined the utilization of social media platform such as Facebook and YouTube as an available option to conduct Virtual Da’wah Ramadan lectures on the commentary of the Glorious Qur’an and Ta’aleem in Northern Nigeria and this was done with the sampled of scholars from the three zones in Northern Nigeria, i.e. North-West, North-Central and North-East. The paper adopts the use of secondary data as method of data collection where In-depth survey of the various pages/channels on social media and participant observation to obtain data. The researchers purposively sampled nine scholars for the study and survey was carried out on their various social media pages/channels to ascertain their level of utilization of the technology during the COVID-19 period to teach their followers with the restriction of movement and gathering in places of worship in Nigeria.  Some of the findings of the study revealed that the sampled Muslims scholars finds it convenient to present live programme of their teachings virtually and post video and audio of their Virtual Da’wah Ramadan lectures on the commentary of the Glorious Qur’an and Ta’aleem social media. The research paper concludes Muslim scholars to continue with the utilization of the social media platforms even after the Ramadan and Post-COVID-19 pandemic in carrying out their day to day virtual teachings so that other audience who are not close to their Masjid will benefit from their lectures on the various teachings of Islam.
Anak autis sebagai mad’u dakwah: Analisis komunikasi interpersonal Uky Firmansyah Rahman Hakim; Rima Fadillah
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 40, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v40.2.4702

Abstract

Anak autis merupakan seseorang yang memiliki gangguan komunikasi, yang membuat penderitanya tidak mampu mengadakan interaksi sosial dengan baik. Sehingga keberadaan anak autis masih dipandang sebagai orang lain di masyarakat. Padahal, anak autis mampu melakukan komunikasi, meskipun komunikasi yang dilakukan berbeda dengan orang non-autis. Kaitannya dengan dakwah, anak autis seharusnya mampu menerima pesan-pesan dakwah, sehingga penelitian mengenai anak autis dari sudut pandang mad’u dakwah sangat penting untuk dilakukan. Penelitian ini dilakukan di SLB Autis Jalinan Hati Payakumbuh dengan tujuan mengetahui tentang apakah anak autis dapat digolongkan sebagai mad’u dakwah, dan bagaimana perkembangan sosial dan komunikasi anak autis sehingga ia mampu menerima pesan dakwah. Melalui penelitian lapangan (field research), penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif, data diperoleh dari wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menujukan bahwa (1) dilihat dari pengertian dan kriteria mad’u, anak autis dapat digolongkan sebagai mad’u dakwah; (2) anak autis memiliki pola komunikasi interpersonal yang berbeda dengan anak non-autis, dalam perkembangannya ia tetap mampu melakukan komunikasi dengan orang lain, baik mengirim ataupun menerima pesan, melalui 3 tahapan, yaitu the own agenda stage (tahapan perkembangan komunikasi yang mendasar), the requester stage (perkembangan komunikasi mengalami kemajuan yang baik, tetapi masih terbatas), dan the early communication stage (tahapan kemampuan berkomunikasi sudah lebih baik).Child with autism is someone who has a communication disorder, which makes the sufferer unable to have good social interactions. So that the existence of autistic children is still seen as another person in society. In fact, autism can communicate, even though communication is different from non-autism. With regard to da'wah, autism should be able to receive da'wah messages, so research on autism from the point of view of mad'u da'wah is very important to do. This research was conducted at SLB Autism Jalinan Hati Payakumbuh to know whether autism can be classified as mad'u da'wah, and how the social development and communication of autism so that they can receive da'wah messages. Through field research (field research), this study uses qualitative descriptive methods, data obtained from interviews, observation and documentation. The results show that (1) seen from the definition and criteria of mad'u, autism can be classified as mad'u da'wah; (2) autism has different interpersonal communication patterns from non-autism, in their development they are still able to communicate with other people, either sending or receiving messages, through 3 stages, namely the own agenda stage (basic stages of development of communication) , the requester stage (communication development has progressed well, but is still limited), and the early communication stage (the stage of communication skills is better).
Self-disclosure melalui media instagram: Dakwah bi al-nafsi melalui keterbukaan diri remaja Teguh Wiyono; Abdul Muhid
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 40, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v40.2.5834

Abstract

Self disclousure atau pengungkapan diri menjadi hal yang wajar dilakukan remaja di media sosial untuk saat ini. Remaja terbiasa membuka diri melalui postingan di instagram, yang merupakan ruang publik yang dapat dikonsumsi oleh banyak orang. Untuk itu mengetahui cara dan motif pengungkapan diri yang dilakukan oleh remaja di media sosial menjadi sangat penting dilakukan karena hal ini dapat memberikan dampak nilai, baik ataupun buruk, bagi pembaca. Selain itu, pengungkapan diri dapat ditelusuri dari segi dakwah nafsiyah yang dilakukan oleh remaja. Sehingga, fokus penelitian ini mengenai dakwah nafsiyah melalui keterbukaan diri remaja di masa pandemi Covid-19 di media sosial, instagram. Untuk menjabarkan fokus penelitian tersebut secara mendalam, penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan konstruktif, sementara self disclosure menggunakan teori dari Jendela Johari. Hasil Penelitian menunjukkan bahwasannya pertama, remaja melakukan pengungkapan diri di media sosial instagram secara terbuka dengan tujuan untuk menjernihkan diri dan aktualisasi diri. Hal yang dilakukan remaja dalam pengungkapan diri termasuk dalam dakwah nafsiyah jika dilihat dari kontrol yang dilakukan remaja secara terus menerus pada dirinya. Sementara, dampak yang ditimbulkan dari self disclosure pada diri remaja dapat dikategorisasikan berupa dampak positif dan negatif. Dampak positif yang ditimbulkan berupa motivasi bagi seseorang untuk merubah diri menjadi lebih baik. Sementara, dampak negatif yang ditimbulkan adalah menjadikan orang lain tidak nyaman bahkan terganggu dengan keterbukaan yang  disampaikan. Self disclosure is a natural thung for teenagers to do on social media at this time. Teenagers are accustomed to opening up through posts on instagram, which are public spaces that can be customed by many people. For this reason, knowing how and motives for self disclosure carried out by teenagers on social media are very important to do because this can have a value impact, good or bad, on the reader. In addition, self disclosure can be traced in terms of the preaching of the nafsiyah by adolescents. So, the focus of this research is on da’wah nafsiyah through the self disclosure of youth during the covid 19 pandemic on social media, instagram. To describe the focus of this research in depth, this study uses descriptive qualitative methods with a constructive approach, while self disclosure uses the theory of Johari Window. The result showed that adolescents made self disclosure on instagram openly with the aim of self purification and self actualization. What adolescents do in self disclosure is included in the preaching of the nafsiyah when viewed from the control that adolescents do continuiusly in themselves. Meanwhile, the impact of self disclosure on adoloscents can be categorized as positive and negative impacts. The positif impact is in the form of motivation for someone to change themselves for the better. Meanwhile, the negative impact caused is making other people uncomfortable and even distrubed by the openess conveyed.

Page 1 of 2 | Total Record : 14