Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif, diterbitkan oleh Pusat Informasi dan Pembangunan Wilayah (PIPW) yang berada di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret Surakarta, berisi tulisan tentang hasil penelitian, gagasan konseptual dan resensi buku dalam lingkup perencanaan wilayah dan kota serta perencanaan partisipatif. Jurnal terbit dua kali setahun pada bukan Januari dan Juli. Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif menerima tulisan ilmiah dalam bidang yang relevan dengan permasalahan tentang perencanaan wilayah dan kota serta pembangunan daerah.
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 15, No 2 (2020)"
:
10 Documents
clear
Karakteristik pedagang kaki lima dan preferensinya terhadap lokasi kawasan Solo Techno Park
Eldora Aristian Lintang Perdana;
Paramita Rahayu;
Ana Hardiana
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 15, No 2 (2020)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/region.v15i2.24440
Jalan Ki Hajar Dewantara merupakan salah satu ruas jalan yang termasuk dalam program penataan pemerintah untuk merelokasi PKL ke Pasar Panggungrejo pada tahun 2009. Sebagai tempat menyelenggarakan usaha informal, Jalan Ki Hajar Dewantara memiliki daya tarik yang tinggi karena lokasi yang berdekatan dengan berbagai pusat aktivitas, antara lain Solo Techno Park, kampus UNS Kentingan, kampus ISI Surakarta, Kantor BPN/ATR Kota Surakarta, Kantor Kecamatan Jebres, Balai Diklat Industri, dan Taman Cerdas. Meskipun sudah pernah dilakukan penataan, pada saat ini PKL masih bisa ditemui dengan mudah di ruas jalan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi PKL terhadap karakteristik lokasi di Kawasan Solo Techno Park, yang terletak di Jalan Ki Hajar Dewantara. Penelitian juga menguraikan hubungan kesesuaian karakteristik PKL dengan karakteristik lokasi kawasan, yang juga mendukung preferensi PKL dalam berlokasi. Metode yang digunakan untuk menganalisis dalam penelitian ini adalah deskriptif serta analisis data statistik deskriptif yang menggunakan teknik skala Likert dalam mengukur preferensi PKL terhadap setiap karakteristik lokasi di Kawasan Solo Techno Park. Hasil analisis menunjukkan preferensi PKL terhadap karakteristik lokasi di Kawasan Solo Techno Park secara urut dari yang paling disukai yaitu: (1) lokasi strategis; (2) luas ruang PKL; (3) pusat aktivitas; (4) aksesibilitas; (5) lalu lintas jalan; (6) sarana dan prasarana PKL, dan; (7) aglomerasi PKL.
Kerangka kerja penilaian rencana tata ruang berbasis manajemen risiko bencana
Rozita, Syarifah Gita;
Setiadi, Rukuh
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 15, No 2 (2020)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/region.v15i2.38451
Sistem regulasi di Indonesia mengamanatkan untuk memasukkan pertimbangan kebencanaan dalam penyusunan rencana tata ruang. Namun demikian belum ada panduan yang terintegrasi untuk menerjemahkan konsep manajemen risiko bencana ke dalam rencana tata ruang. Studi ini bertujuan untuk merumuskan kerangka kerja untuk memadukan konsep manajemen risiko bencana (MRB) ke dalam rencara tata ruang sehingga dapat dijadikan panduan dalam penilaian produk tata ruang. Metode yang digunakan ialah deskriptif kualitatif, dengan menggunakan sumber data sekunder berupa literatur sebagai data utamanya. Penelitian ini menghasilkan tabel kerangka kerja yang berfungsi sebagai pedoman untuk menilai penerapan konsep MRB dalam menyusun rencana tata ruang. Studi ini menemukan bahwa tidak semua komponen dari MRB dapat masuk ke dalam ranah perencanaan tata ruang, terutama untuk komponen yang terkait dengan tahapan respon bencana.
Faktor-faktor spasial yang mempengaruhi perkembangan klaster industri (Studi kasus: Industri gitar di Desa Mancasan, Desa Ngrombo dan Desa Pondok, Kabupaten Sukoharjo)
Nurlela Siti Eminawati;
Kusumastuti Kusumastuti;
Soedwiwahjono Soedwiwahjono
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 15, No 2 (2020)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/region.v15i2.25300
Industri gitar yang terletak di dalam klaster Desa Mancasan, Desa Ngrombo dan Desa Pondok sudah mencapai 141 unit industri di dalam kawasan yang seluas 508Ha, yang mengalami peningkatan 81 unit dalam kurun waktu 10 tahun. Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan klaster, tetapi faktor yang dapat dilihat secara langsung adalah aspek fisik atau spasialnya. Sehingga, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor spasial yang mempengaruhi perkembangan klaster industri dan pengaruh faktor spasial terhadap perkembangan klaster industri di Desa Mancasan, Desa Ngrombo, dan Desa Pondok. Analisis faktor digunakan untuk mengetahui tingkatan faktor yang dianggap paling memengaruhi menurut pengusaha di dalam klaster industri. Analisis regresi digunakan untuk mengetahui pengaruh faktor terhadap perkembangan. Faktor-faktor spasial yang mempengaruhi perkembangan klaster industri di ketiga Desa yaitu lokasi, aksesibilitas, infrastruktur, dan sarana. Hasil penelitian menunjukkan faktor utama yang paling mempengaruhi adalah lokasi klaster terhadap bahan baku maupun tenaga kerja.
Strategi bermukim Suku Bajo di Desa Mola, Kabupaten Wakatobi
Laode Musyafir Eryano;
Sudaryono Sudaryono;
Doddy Aditya Iskandar
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 15, No 2 (2020)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/region.v15i2.31960
Desa Mola merupakan salah satu permukiman suku Bajo yang berada di Kepulauan Wakatobi yang memiliki kepadatan cukup tinggi dan berada di pesisir Mandati yang merupakan bagian dari kawasan perkotaan Wangi-Wangi. Perkembangannya permukiman suku Bajo di Desa Mola yang cukup pesat dikhawatirkan akan menciptakan konflik antara masyarakat yang ada di darat dengan suku bajo terkait pemanfaatan laut sebagai tempat bermukim yang di tuding menguntungkan pihak suku Bajo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seperti apa strategi bermukim suku Bajo di Desa Mola yang merupakan wilayah adat orang darat dan apakah strategi tersebut berpotensi menghasilkan konflik. Penelitian ini menggunakan metode induktif-kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang dalam tahapannya melalui proses grandtour, wawancara mendalam di Desa Mola. Analisa data dilakukan dengan cara kualitatif untuk menjelaskan fenomena yang terjadi terkait ruang, kegiatan dan pelaku yang ada di Desa Mola. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa strategi suku Bajo dalam bermukim yaitu melalui tata kelola lahan di laut yang diatur oleh lembaga adat Sara Mandati sebagai perwakilan masyarakat yang ada di darat melalui pemberian izin dan rekomendasi terhadap kepemilikan lahan dan pembangunan di laut serta adanya pemberian sanksi terhadap pelanggaran dilakukan. Selain itu Pengelolaan terhadap pemanfataan laut sebagai tempat bermukim suku Bajo oleh Sara Mandati tidak berpotensi menghasilkan konflik karena adanya ikatan sejarah serta adanya hubungan kelembagaan.
Pengaruh jejaring industri lurik terhadap pengembangan Desa Wisata Tenun Tradisional Tlingsing, Klaten
Yudhasesa, Nasa Rosa;
Aliyah, Istijabatul;
Yudana, Galing
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 15, No 2 (2020)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/region.v15i2.24138
Pola jejaring industri lurik tradisional merupakan suatu pola yang terbentuk berdasarkan aktivitas industri lurik tradisional yang dihubungkan dengan sistem transportasi, yang meliputi aktivitas pengadaan bahan baku, proses produksi hingga pemasaran. Aktivitas industri lurik tradisional berpengaruh terhadap keberlanjutan proses produksi tenun lurik tradisional di Desa Tlingsing. Desa Tlingsing pada tahun 2011 telah ditetapkan sebagai Desa Wisata tenun Tradisional sehingga pola jejaring yang terbentuk berdasarkan aktivitas industri juga akan berdampak dengan pengembangan Desa Wisata Tlingsing. Jumlah pengrajin lurik dan pengunjung desa wisata Tlingsing dari tahun 2011-2017 mengalami peningkatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola jejaring industri lurik tradisional terhadap pengembangan desa wisata Tlingsing. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis skoring dan analisis regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh pola jejaring industri lurik tradisional terhadap pengembangan desa wisata Tlingsing. Berdasarkan analisis regresi linier berganda didapatkan hasil tingkat pengaruh pola jejaring industri lurik tradisional terhadap pengembangan desa wisata Tlingsing dari pengaruh lemah – kuat yaitu (1) rumah makan, (2) dekat dengan jalan raya dan fasilitas transportasi, (3) toko cinderamata, (4) pusat informasi, (5) atraksi yang unik, (6) moda transportasi, (7) rambu jalan, (8) akomodasi, (9) ATM, dan (10) adanya masyarakat atau organisasi pengelola desa wisata.
Modal sosial dalam ketahanan komunitas terhadap bencana banjir di Kelurahan Kemijen dan Krobokan, Kota Semarang
Avinda Dyah Norzistya;
Wiwandari Handayani
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 15, No 2 (2020)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/region.v15i2.29694
Berdasarkan letak geografisnya, Kota Semarang sering dilanda bencana banjir dan rob. Manajemen bencana telah dilakukan di wilayah ini tetapi masih bersifat teknis. Aspek sosial jarang diperhatikan dalam tahapan manajemen bencana. Hal ini tentunya berdampak pada ketahanan komunitasnya dalam merespon dan menyerap dampak terhadap bencana banjir. Membangun ketahanan komunitas bergantung pada hubungan sosial, jaringan, dan keterhubungan di antara komunitas. Beberapa faktor tersebut terdapat pada modal sosial sebagai sumberdaya potensial yang dapat menstimulasi berbagai fungsi yang terikat dalam struktur sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ketahanan komunitas terhadap manajemen bencana banjir di Kelurahan Kemijen dan Krobokan yang dilihat dari sejauh mana nilai-nilai modal sosial yang tertanam pada Kelurahan Siaga Bencana (KSB). Ini didukung dengan menggunakan pendekatan campuran antara kuantitatif yang menggunakan metode survei serta kualitatif menggunakan metode case study. Pendekatan campuran ini didukung dengan metode analisis skoring, normalisasi, dan deskripsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nilai modal sosial pada KSB Kemijen dan Krobokan dalam manajemen bencana banjir. Perbedaan terlihat pada nilai bonding dan bridging di KSB Kemijen lebih kuat dibandingkan dengan KSB Krobokan. Salah satunya dipengaruhi oleh keaktifan anggota komunitas dalam mengikuti tahap kesiapsiagaan bencana banjir. Namun, kondisi tersebut tidak mengurangi modal sosial di KSB Krobokan dalam manajemen bencana banjir salah satunya dipengaruhi oleh peran ketua KSB yang selalu menginformasikan terkait kebencanaan. Selain itu, keberadaan institusi lokal sebagai media dalam meningkatkan modal sosial di kedua KSB. Modal sosial yang tertanam pada KSB berperan dalam ketahanan komunitas Kelurahan Kemijen dan Krobokan dalam manajemen bencana banjir.
Perhitungan waktu tempuh koridor Jl. Sukarno-Hatta
Budi Sugiarto Waloejo;
Gunawan Prayitno
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 15, No 2 (2020)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/region.v15i2.40565
Tarikan dan bangkitan tata guna lahan, pergerakan antar kota atau antar kawasan pusat kota dengan sub pusat kota, atau subpusat kota dengan subpusat kota lainnya menyebabkan terjadinya penumpukan arus pergerakan lokal yang menyebabkan terjadinya peningkatan waktu tempuh pada ruas jalan.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui model interaksi tata guna lahan-sistem jaringan jalan di Kawasan Jl. Sukarno-Hatta Kota Malang; mengetahui komponen-komponen yang berpengaruh terhadap penentuan estimasi waktu tempuh; dan menganalisa model hubungan arus lalu lintas dengan penentuan estimasi waktu tempuh. Metode analisis dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan analisis kualitatif, metode korelasional (metode Pearson Product Moment), dan analisis kuantitatif yang meliputi analisis regresi metode Stepwise, analisis ANOVA, analisis sistem perparkiran, analisis perhitungan kapasitas jalan, analisis tingkat pelayanan jalan. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa rekayasa lalu lintas dapat memperbesar kapasitas ruas jalan terutama yang berada di frontage area guna mencapai tingkat pelayanan jalan ideal. Temuan dari penelitian ini adalah dibutuhkan rasio yang merupakan representasi dari karakteristik pergerakan bangkitan/tarikan tiap-tiap guna lahan pada setiap jamnya. Pengembangan guna lahan campuran (mixed use) yang diharapkan dapat mengurangi pergerakan antar tata guna lahan ternyata menimbulkan pengaruh terhadap peningkatan estimasi waktu tempuh pada ruas jalan tersebut. Komponen yang mempengaruhi estimasi waktu tempuh di Jl. Soekarno Hatta adalah kemacetan dan lama traffic light.
Model pertumbuhan kota (urban growth) di Kabupaten Manggarai Timur sebagai administrasi wilayah baru (startup)
Abdul Wahid Hasyim;
Gunawan Prayitno;
Hyang Iman K Gusti
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 15, No 2 (2020)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/region.v15i2.38063
Kabupaten Manggarai Timur merupakan hasil pemekaran wilayah dari administrasi Kabupaten Manggarai tepatnya pada tanggal 17 Juli 2017. Sebagai wilayah kabupaten baru (startup), Kabupaten Manggarai Timur masih dalam proses pengembangan dan pembangunan wilayah. Seiring berjalannya waktu, jumlah penduduk di Kabupaten Manggarai Timur semakin meningkat akibat beberapa faktor dan berdampak pada bertambahnya jumlah kebutuhan lahan. Kebutuhan lahan tersebut diwujudkan dengan bertambahnya luas lahan terbangun dibeberapa kawasan dengan berbagai fungsi seperti perumahan, fasilitas umum, perdagangan, dan fungsi lainnya. Bertambahnya luas lahan terbangun akan membentuk sebuah embrio kota yakni bibit awal (startup) terjadinya pertumbuhan kota (urban growth). Peristiwa demikian tentu menimbulkan perubahan fungsi lahan dan rentan terhadap munculnya permasalahan kota di masa yang akan datang apabila tidak diatur dengan regulasi yang kuat. Sehingga diperlukan sebuah kajian penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang dianggap sebagai pemicu utama terjadinya perubahan tutupan lahan, khususnya bertambahnya lahan terbangun sebagai wujud pertumbuhan kota (urban growth). Penelitian ini menggunakan metode penginderaan jauh (Remote Sensing) dengan teknologi GIS pengolahan Raster Citra Satelit 8 OLI Kabupaten Manggarai Timur dengan tanggal akuisi 22 Maret 2013 dan 11 November 2018. Sampel yang digunakan adalah kondisi lapangan disetiap desa. Berdasarkan hasil keseluruhan analisa data, bahwa pada tahun 2013 dan tahun 2018 pertumbuhan lahan terbangun disetiap desa sangat dipengaruhi oleh faktor kemiringan lahan, kepadatan penduduk, jarak titik pusat desa dengan jalan kolektor terdekat, dan kekuatan pusat aktivitas disuatu kecamatan. Sebagai rekomendasi dalam pengendalian pertumbuhan kota maka diprioritaskan untuk mengontrol jumlah kepadatan penduduk disetiap kawasan.
Front Matter Vol. 15 No.2 (2020)
Erma Fitria Rini
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 15, No 2 (2020)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/region.v15i2.53256
Jayengan Kampung Permata ditinjau dari kesesuaian terhadap konsep pariwisata berkelanjutan
Haque, Aprillia;
Astuti, Winny;
Mukaromah, Hakimatul
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 15, No 2 (2020)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/region.v15i2.24416
Pariwisata merupakan salah satu industri yang memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ekonomi di Indonesia. Namun disisi lain sektor pariwisata merupakan salah satu faktor utama kerusakan lingkungan. Oleh karena itu perlu adanya upaya pengendalian dengan penerapan konsep pariwisata berkelanjutan. Pariwisata berkelanjutan adalah konsep pembangunan yang memperhatikan keseimbangan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi. Kota Surakarta memiliki visi sebagai Eco-Cultural City, visi ini sejalan dengan konsep sustainable development dan menandakan bahwa Kota Surakarta sudah mulai memperhatikan pentingnya penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan. Jayengan Kampung permata adalah sebuah kampung wisata dengan ciri khas industri kerajinan permata. Dalam perkembangannya kampung ini mengalami permasalahan yang menyangkut tentang aspek – aspek keberlanjutan yaitu kegiatan wisata minim partisipasi masyarakat, kurang memperhatikan lingkungan dan belum memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitarnya. Untuk itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian Jayengan Kampung Permata terhadap konsep pariwisata berkelanjutan, secara keseluruhan dan berdasarkan pada lima komponen wisata yaitu atraksi, amenitas, infrastruktur, aksesibilitas dan kelembagaan. Metode dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis kuantitatif  yaitu  teknik analisis scoring. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Jayengan Kampung Permata masuk dalam klasifikasi sesuai sebagai kawasan wisata berkelanjutan.