cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif
ISSN : 18584837     EISSN : 2598019X     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif, diterbitkan oleh Pusat Informasi dan Pembangunan Wilayah (PIPW) yang berada di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret Surakarta, berisi tulisan tentang hasil penelitian, gagasan konseptual dan resensi buku dalam lingkup perencanaan wilayah dan kota serta perencanaan partisipatif. Jurnal terbit dua kali setahun pada bukan Januari dan Juli. Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif menerima tulisan ilmiah dalam bidang yang relevan dengan permasalahan tentang perencanaan wilayah dan kota serta pembangunan daerah.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 2 (2022)" : 20 Documents clear
Permodelan kerawanan tanah longsor di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar Muhammad Arief Hartono; Rizon Pamardhi Utomo; Nur Miladan
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 2 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i2.40500

Abstract

Kecamatan Ngargoyoso merupakan kecamatan dengan jumlah peristiwa kejadian tanah longsor terbanyak di Kabupaten Karanganyar. Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Karanganyar 2011-2031, terdapat peta kerawanan tanah longsor yang digunakan sebagai dasar untuk melakukan tindakan penanganan kejadian bencana tanah longsor. Namun, peta kerawanan yang terdapat dalam RTRW terlihat mengelompok dan tidak menunjukkan kenampakan fisik alam yang beragam. Ketelitian peta tersebut kurang baik sebagai dasar mitigasi pra-bencana tanah longsor di Kecamatan Ngargoyoso. Penelitian ini bertujuan untuk membangun permodelan kerawanan bencana tanah longsor di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Peneliti menggunakan permodelan  yang dibangun menggunakan teknik overlay dari enam variabel, yaitu kemiringan lereng, jenis tanah, struktur batuan, lokasi patahan, curah hujan, dan tutupan vegetasi. Hasil dari permodelan ini membagi kerawanan menjadi tiga kategori, yakni kerawanan rendah, sedang dan tinggi. Kategori kerawanan rendah hanya mencakup 54,87 hektar, kerawanan sedang mendominasi dengan luasan 4236,62 hektar, dan kerawanan tinggi mencakup 1657,54 hektar. Kerawanan tinggi tersebar di bagian timur Kecamatan Ngargoyoso, sedangkan lokasi yang memiliki tingkat kerawanan sedang dan rendah tersebar di seluruh desa di Kecamatan Ngargoyoso. Terdapat perbedaan yang signifikan antara peta kerawanan dari dokumen RTRW dengan peta hasil dari permodelan. Lokasi kerawanan pada peta kerawanan RTRW terlihat mengelompok, sedangkan peta hasil permodelan memperlihatkan bahwa lokasi tingkat kerawanan tanah longsor tersebar dan disesuaikan dengan kondisi lapangan. Oleh karena itu, hasil dari permodelan dapat dianggap lebih detail dan mendekati realita.
Identifikasi karakteristik pedagang keliling (studi kasus Kota Surakarta) Parithustha Mahayati; Murtanti Jani Rahayu
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 2 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i2.46926

Abstract

Kota Surakarta sebagai salah satu kawasan perkotaan penting di Jawa Tengah menjadi tempat berdagang bagi banyak pedagang informal, khususnya pedagang keliling. Keberadaan mereka dibutuhkan oleh warga kota walaupun dengan permasalahan status legal. Pedagang keliling memiliki sifat pergerakan yang leluasa sehingga mudah dijumpai dan diakses masyarakat. Penelitian ini berfokus pada kajian karakteristik pedagang keliling di Kota Surakarta. Objek pedagang keliling yang digunakan dalam penelitian adalah pedagang sayur dan pedagang makanan siap saji. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif yang menekankan pada realitas dan proses suatu fenomena dapat terjadi agar mampu memberikan gambaran khusus terkait pedagang keliling. Hasil dari penelitian ini berupa karakteristik pedagang keliling yang diidentifikasi dengan lima indikator, yaitu karakteristik pelaku, lokasi, sarana fisik, modal, dan aktivitas berdagang. Strategi yang digunakan pedagang keliling untuk menjaga keberlangsungan usaha dilakukan melalui dua cara, yaitu diversifikasi produk sesuai kebutuhan konsumen serta mempertahankan kepercayaan konsumen terhadap pedagang keliling.
Prediksi spasial kawasan pertanian berkelanjutan di Provinsi Jawa Timur Gatot Subroto; Agung Witjaksono
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 2 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i2.50966

Abstract

Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) merupakan salah satu amanat untuk perlindungan pertanian pangan berkelanjutan berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009. Namun, masih belum ditemukan model pengembangan KP2B dalam implementasinya. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah cenderung hanya dapat menentukan luas KP2B dalam bentuk tabular. Padahal, diperlukan persebaran KP2B secara spasial untuk kebutuhan perencanaan tata ruang wilayah untuk menjamin akurasi pengendalian. Ketidakjelasan persebaran KP2B secara spasialmenjadi salah satu permasalahan dalam rencana peruntukan pemanfaatan ruangyang mengarah pada semakin sulitnya pengendalianperubahan peruntukan sawah ke bukan sawah. Sehingga, diperlukan model persebaran KP2B sebagai cara dalam pengendalian alih fungsi peruntukan sawah abadi untuk mewujudkan kemandirian, kedaulatan, dan ketahanan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan prediksi KP2B Jawa Timur melalui metode cellular automata. Tujuan tersebut dapat dicapai melalui tiga tahapan: (1) Menentukan sawah potensial untuk KP2B Jawa Timur; (2) Menghitung luas minimal sawah produktif Jawa Timur; dan (3) Membangun model spasial KP2B Jawa Timur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lahan potensial untuk pengembangan KP2B adalah sebesar 852.892,82 ha. Dengankebutuhan pangan minimum sebesar 4.983.888,5 ton, maka kebutuhan sawah minimum adalah seluas 767.617,01 ha. Model KP2B dibangun melalui metode cellular automata dan telah dilakukan validasi dengan tingkat akurasi sebesar 87%.
Keuntungan aglomerasi industri: studi kasus industri mebel di Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara Anggita Adelina; Paramita Rahayu; Ana Hardiana
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 2 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i2.46549

Abstract

Industri mebel di Kecamatan Kedung memiliki persebaran spasial yang terkonsentrasi di bagian utara sesuai dengan arahan sentra kawasan industri di Kabupaten Jepara. Konsentrasi spasial membentuk aglomerasi yang berpotensi mendapatkan keuntungan-keuntungan tertentu dari kerja sama antar industri yang saling berdekatan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik industri mebel yang teraglomerasi di Kecamatan Kedung. Analisis tetangga terdekat (Average Nearest Neighbor, ANN) digunakan untuk mengetahui konsentrasi spasial industri mebel dan mendeliniasi kawasan mikro untuk dibahas lebih detail mengenai karakteristik dan keuntungan industri mebel teraglomerasi dengan menggunakan statistika deskriptif. Karakteristik industri mebel pada kawasan mikro terdiri dari industri kecil dan industri rumah tangga, yang melakukan proses terpisah setiap industrinya, diantaranya pemotongan kayu bulat, pembuatan komponen, perakitan mebel setengah jadi, dan pengepulan. Keuntungan aglomerasi yang didapat pada industri mebel di Kecamatan Kedung diantaranya lokalisasi pasar dan bahan baku, keuntungan tenaga kerja dari pengelompokkan asal tenaga kerja yang dekat dengan kawasan industri, keuntungan skala ekonomi dari meningkatnya omset dan meluasnya jangkauan pemasaran, serta limpahan pengetahuan dari kerja sama pertukaran informasi dan keterampilan. Sementara itu, keuntungan yang tidak didapat pada aglomerasi industri mebel Kecamatan Kedung adalah jenis keuntungan fasilitas dan keuntungan alam.
Kesesuaian sepuluh destinasi wisata terhadap konsep Community-based Tourism di Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar Aulia Basundhari Widyaningsih; Istijabatul Aliyah; Rufia Andisetyana Putri
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 2 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i2.43886

Abstract

Kecamatan Ngargoyoso merupakan kecamatan yang dicanangkan menjadi wisata dengan Konsep Community Based Tourism. Potensi wisata yang dikembangkan antara lain pelestarian budaya lokal, makanan khas setempat, sumber mata air yang melimpah, serta pelibatan masyarakat dalam berbagai bentuk. Namun, terdapat beberapa atraksi yang ditengarai merusak lingkungan lokal seperti wisata di tengah kebun teh dan pembangunan goa di ujung tebing. Peberdaan tersebut memunculkan kebutuhan penelitian yang bertujuan menganalisis kesesuaian pengembangan destinasi wisata terhadap Konsep Community Based Tourism di Kecamatan Ngargoyoso. Dengan pendekatan penelitian kuantitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara, dan kuesioner. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat 15 sub komponen dari total 23 komponen yang tidak sesuai dengan pengembangan destinasi wisata terhadap Konsep Community Based Tourism.
Kesiapan masyarakat dan pemerintah desa dalam pembangunan pelabuhan di Desa Patimban, Kecamatan Pusakanagara, Kabupaten Subang Riffa Laudhia Safira; R.Raisya Insani Prasiwi; Aan Julia; Novandri Rahadian Putra
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 2 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i2.59327

Abstract

Pembangunan Pelabuhan Patimban yang tidak didukung oleh kesiapan masyarakat menimbulkan respon negatif, walaupun pembangunan tersebut ditujukan untuk mengembangkan Desa Patimban. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kesiapan masyarakat dan pemerintah desa dalam pembangunan Pelabuhan Patimban dengan menggunakan Community Readiness Model (CRM) yang terdiri dari lima dimensi, yaitu pengetahuan masyarakat, pengetahuan masyarakat terkait isu, sumber daya terkait isu, kepemimpinan, dan iklim masyarakat. Tingkat kesiapan masyarakat dilihat melalui perspektif tujuh informan kunci yang mewakili masyarakat dan pemerintah desa. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata tingkat kesiapan masyarakat berada pada tahap inisiasi dengan dimensi terendah pada sumber daya terkait isu. Sementara itu, pada sisi pemerintah desa, tingkat kesiapan berada pada tahap confirmation/expansion dengan dimensi terendah pada pengetahuan masyarakat terkait isu dan iklim masyarakat. Strategi  yang diajukan untuk meningkatkan tingkat kesiapan adalah dengan mendengarkan aspirasi masyarakat dan melakukan pendampingan untuk mencegah marginalisasi masyarakat dengan mendorong peningkatan kualitas SDM.
Inisiasi model konseptual Transfer of Development Rights (TDR) bagi kawasan cagar budaya Gusti Aditya Rahadyan; Doddy Aditya Iskandar
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 2 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i2.53339

Abstract

Kawasan Pecinan Ketandan di Kota Yogyakarta sebagai salah satu bagian dari kawasan permukiman etnis Tionghoa memiliki keterbatasan dalam hal pengembangan bangunan setelah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya. Akibatnya, timbul kesulitan bagaimana menyetarakan hak milik dan hak pembangunan dikarenakan fungsi perlindungan dan pelestarian yang melekat tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah telah membentuk instrumen salah satunya melalui pengalihan hak membangun (transfer of development rights/TDR). Agar dapat berfungsi secara optimal sebagai sebuah kebijakan, maka perlu dirumuskan model konseptual TDR melalui pendekatan ahli. Dengan memilih Kawasan Pecinan Ketandan di Kota Yogyakarta sebagai studi kasus, perumusan model konseptual TDR dilakukan melalui metode deskriptif kualitatif dengan alat analisis Delphi. Hasil penelitian menghasilkan model konseptual TDR di Kawasan Pecinan Ketandan yang terdiri atas tahap awal, tahap transaksi serta tahap akhir dan evaluasi. Didalam model tersebut telah termuat indikator-indikator utama keberhasilan TDR, yaitu adanya area pengirim, area penerima, pasar TDR, dan nilai TDR.
Pendekatan keruangan tingkat pemerataan Sekolah Menengah Atas Negeri terhadap implementasi kebijakan zonasi pendidikan di Kabupaten Temanggung Muhammad Hardifan Asananjaya; Rizon Pamardhi-Utomo; Nur Miladan
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 2 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i2.47331

Abstract

Seiring perkembangan permukiman dan pertumbuhan penduduk, sebaran fasilitas pendidikan diharapakan dapat melayani keseluruhan wilayah secara merata dan ideal. Sistem fasilitas pendidikan yang terstruktur dan saling terkait satu sama lain akan membentuk struktur ruang yang baik dalam wilayah. Hal ini menjadi dasar diberlakukannya sistem zonasi pada berbagai jenjang pendidikan. Namun, fasilitas pendidikan SMA Negeri yang ada di Kabupaten Temanggung terpusat pada Kecamatan Temanggung saja sehingga berpengaruh terhadap layanan saat peraturan zonasi diberlakukan. Oleh karena itu, perlu dilakukan tinjauan dari konteks keruangan yang melihat dari segi pelayanan fasilitas berdasarkan pemerataan sarana pendidikan melalui aspek spasial dan observasi langsung. Tingkat pemerataan sarana pendidikan ini diukur dari sub variabel kapasitas SMA, kelompok usia SMA, pola sebaran sarana pendidikan, dan radius jangkauan pelayanan dengan menggunakan metode skoring skala Guttman. Hasil dari tinjauan sistem zonasi berdasarkan perspektif spasial menunjukkan bahwa Kabupaten Temanggung memiliki tingkat pemerataan pendidikan pada kategori sedang dengan indikator yang perlu ditingkatkan adalah kebutuhan ruang kelas dan persebaran lokasi sarana pendidikan SMA Negeri. Maka dari itu, kebijakan sistem zonasi perlu dipertimbangkan kembali dengan meninjau secara spasial pemerataan sarana pendidikan sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan menjadi lebih baik dan tercapainya tujuan sistem zonasi.
Backlog kepenghunian rumah di Kota Surakarta dan faktor yang mempengaruhinya Dian Rivia Hanifa; Galing Yudana; Erma Fitria Rini
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 2 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i2.43366

Abstract

Perkembangan Kota Surakarta yang cukup pesat mengakibatkan jumlah penduduk yang meningkat dan berpengaruh terhadap kebutuhan rumah di Kota Surakarta. Kebutuhan rumah yang tidak diimbangi dengan penyediaan perumahan menyebabkan terjadinya backlog kepenghunian rumah yang besar di Kota Surakarta. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Susenas tahun 2018, jumlah backlog kepenghunian rumah di Kota Surakarta sebesar 33.446 KK. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap angka backlog kepenghunian rumah di Kota Surakarta. Dengan menggunakan pendekatan deduktif kuantitatif, analisis faktor dilakukan terhadap data kuesioner oleh 100 responden yang tersebar di Kota Surakarta. Hasil penelitian didapatkan faktor yang mempengaruhi backlog kepenghunian rumah terbagi dalam 3 kelompok faktor, yaitu: (1) Faktor ekonomi mampu menjelaskan 42,436% dari keragaman total, terdiri atas pendapatan, jenis pekerjaan, harga sewa rumah, dan kemudahan pinjaman; (2) Faktor infrastruktur dapat menjelaskan 13,612% dari keragaman total, terdiri atas kemudahan transportasi, prasarana lingkungan, sarana lingkungan, dan jarak dengan pusat kota; (3) Faktor pertumbuhan penduduk, terdiri atas tingkat pertumbuhan penduduk dengan besar varian terkecil yaitu sebesar 12,213%. Kelompok faktor ekonomi memiliki pengaruh paling besar dalam mempengaruhi backlog kepenghunian rumah di Kota Surakarta.
Perubahan penggunaan lahan dan faktor-faktor yang mempengaruhi di kawasan Jalan Ahmad Yani Kartasura berdasarkan persepsi masyarakat Qonnita Putri Mulya; Istijabatul Aliyah; Galing Yudana
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 2 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i2.38660

Abstract

Pesatnya perkembangan Kota Surakarta berdampak pada kawasan di sekitarnya. Salah satu kawasan yang terdampak adalah Kartasura di Kabupaten Sukoharjo yang berkembang pesat didukung oleh keberadaan Jalan Ahmad Yani sebagai jalan arteri primer yang melayani kegiatan dalam skala luas. Perkembangan Kartasura terlihat dari perubahan penggunaan lahan pada kawasan Jalan Ahmad Yani Kartasura. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan pada kawasan Jalan Ahmad Yani Kartasura berdasarkan persepsi masyarakat menggunakan analisis skoring. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deduktif dengan menggunakan kuesioner untuk memperoleh persepsi masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan pada kawasan penelitian terjadi karena faktor-faktor peluang ekonomi, ketersediaan sarana dan prasarana, aksesibilitas, kondisi fisik lingkungan, kebijakan pengembangan, harga lahan, dan sosial ekonomi.

Page 1 of 2 | Total Record : 20