Jurnal Ilmiah LISKI (Lingkar Studi Komunikasi)
The Journal of Communication Studies Peripheries (LISKI) has a philosophy of advancing communication studies through the dissemination of knowledge transferred by the journal. At the beginning of its formation, LISKI was a discussion-group activity initiated by the lecturers of communication studies of Telkom University. Starting from sharing knowledge among themselves, it expanded into becoming a scientific-media for communication experts throughout Indonesia. LISKI is inviting all researchers and academicians of communication studies in publishing their research either in qualitative, quantitative, or mixed-mode method. All research papers must be correlated to communication studies. LISKI publishes two publications yearly (1 volume, 2 issues) in February and September.
Articles
137 Documents
Hypercapitalism Pesan Komunikasi Pemasaran “Paylater”
Indra Novianto Adibayu Pamungkas;
Udi Rusadi
Lingkar Studi Komunikasi (LISKI) Vol 8 No 1 (2022): FEBRUARI 2022
Publisher : Universitas Telkom
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25124/liski.v8i1.3782
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bagaimana konten dari produk kapitalisme dibentuk dalam aktivitas komunikasi pemasaran di era digital melalu brand Paylater. Produk kapitasime dipasarkan melalui konten-konten yang berkenaan dengan perilaku millennials melalui jalan cerita. Penelitian ini menggunakan analisis teks yang mengintegrasikan pengetahuan yang tersedia seperti sumber kajiuan komunikasi pemasaran. Penelitian ini menghadirkan objek Paylater adalah salah satu produk kapitalis yang bekerjasama dengan berbagai macam merchant e-commerce. Masing-masing e-commers membuat program komunikasi pemasarannya masing-masing untuk program tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa bisnis “PayLater” mengemas pesan dengan melibatkan mediasi perpindahan makna “Paylater” menjadi “solusi” bagi manusia melalui propaganda. Hal ini berlaku pada setiap e-commerce yang bekerja sama dengan program “Paylater” dalam setiap promosinya. Pesan propaganda menggunakan sudut pandang kehidupan manusia millennials sebagai komoditas seperti gaya hidup, kebutuhan harian diatas kemampuan, rasionalitas, dan status sosial. Komoditas tersebut mendukung pesan utama yaitu “beli sekarang, bayar kemudian” dengan makna denotasinya adalah “berhutang”. Kata Kunci: Digital, Hypercapitalism, Komunikasi, Pemasaran, Propaganda
Representasi Perempuan Minang dalam Film “Liam Dan Laila”
Wahyu Anggraini;
Stara Asrita
Lingkar Studi Komunikasi (LISKI) Vol 8 No 1 (2022): FEBRUARI 2022
Publisher : Universitas Telkom
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25124/liski.v8i1.3932
Perempuan Minang merupakan salah satu simbol adat istiadat dan budaya di Sumatera Barat. Perempuan Minang menempati posisi penting, sehingga sang anak mengikuti garis keturunan ibu (matrilineal). Perempuan Minang berperan penting dalam beberapa pengambilan keputusan. Sehingga perempuan bisa mempertahankan eksistensi di ruang publik. Budaya Minang yang dianggap unik dan memiliki ciri khas tersebut kemudian sering diangkat ke dalam sebuah film. Tujuan penelitian ini menganalisis bagaimana penggambaran perempuan minang yang ada dalam film “Liam dan Laila”. Analisis teks digunakan dalam penelitian ini dengan pendekatan kritis. Data yang diambil berupa adegan-adegan dalam film akan dianalisis melalui tiga tahapan menggunakan dasar pemikiran Charles Sanders Pierce melalui, yaitu tanda (sign), objek (object) dan pengguna tanda (interpretant). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam film “Liam dan Laila” terdapat temuan yang merepresentasikan perempuan minang, yakni: (1) perempuan Minang dalam menjunjung tinggi nilai adat dan agama Islam; (2) perempuan Minang berada dalam dalam pengaruh tekanan mamak (paman) dalam pengambilan keputusan; (3) perempuan Minang akan menjadi seorang Bundo Kanduang yang dihormati setelah menikah; (4) perempuan Minang dalam karakter dan perbuatan memiliki aturan yang harus ditaati; (5) perempuan Minang dalam kekuasaan (matriakhat), adalah pewaris harta pusaka dan kekerabatan sehingga harus dijaga keturunannya. Kata Kunci: Representasi, Perempuan, Minang, Film, Semiotika
Strategi Digital Marketing Perusahaan MGD dalam Mengelola Merek Klien
Muhammad Nabil Hafidli;
Arie Prasetio
Lingkar Studi Komunikasi (LISKI) Vol 8 No 1 (2022): FEBRUARI 2022
Publisher : Universitas Telkom
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25124/liski.v8i1.4310
Sebagai salah satu perusahaan digital marketing terbaik di Kota Bandung, MGD selalu menggunakan strategi yang tepat dan akurat dalam menjalankan kegiatan digital marketing kliennya. Strategi yang digunakan oleh MGD tentunya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan dari masingmasing merek sehingga memenuhi tujuan dan ekspektasi kliennya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi digital marketing yang dilakukan oleh perusahaan MGD Digital Marketing Consultant dalam mengelola merek, peneliti akan menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus dan menggunakan paradigma konstruktivisme. Penelitian ini dilakukan atas dasar studi digital marketing yang sebagian besar hanya dilakukan pada sudut pandang sebuah merek, sehingga peneliti akan memberikan gambaran dalam sudut pandang berbeda, yaitu sebuah perusahaan digital marketing consultant. Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa dalam mengelola merek, MGD menggunakan konsep strategi digital marketing SOSTAC, penggunaan saluran media digital, serta evaluasi dan peningkatan kinerja berdasarkan buku strategi digital marketing Chaffey (2016). Penelitian ini bertujuan memberikan pemahaman mengenai strategi digital marketing yang dilakukan oleh perusahaan digital marketing consultant dalam mengelola merek, sehingga dapat memberikan manfaat dalam lingkup komunikasi dan pemasaran digital. Selain itu, penelitian ini juga dapat memberikan manfaat dalam pengembangan konsep digital marketing dan menambah referensi penelitian mengenai digital marketing. Kata Kunci: Strategi Pemasaran Digital, Konsultan Pemasaran Digital, Merek, SOSTAC
Penggunaan SNS (Social Networking Sites) dalam Akun Instagram @tabu.id
Putri Eka Wulandari
Lingkar Studi Komunikasi (LISKI) Vol 8 No 2 (2022): SEPTEMBER 2022
Publisher : Universitas Telkom
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25124/liski.v8i2.4353
Kesehatan seksual dan reproduksi merupakan hal yang harus diajarkan sejak dini, sayangnya di Indonesia hal ini masih menjadi sesuatu yang tabu sehingga butuh adanya wadah untuk bertukar informasi mengenai kesehatan seksual dan reproduksi. Akun Instagram @tabu.id hadir sebagai salah satu wadah bagi masyarakat untuk saling bertukar informasi mengenai kesehatan seksual dan reproduksi dalam bentuk komunitas online. Komunitas online merupakan sekelompok orang dengan minat atau ketertarikan yang sama dan menggunakan media internet sebagai medium untuk berkomunikasi antara satu sama lainnya. Melalui adanya komunitas online terbentuk pula kegiatan knowledge sharing di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode triangulasi data melalui penggabungan studi kepustakaan dan observasi secara online atau online research dalam menjawab pertanyaan penelitian tentang bagaimana SNS digunakan oleh akun @tabu.id dalam membentuk komunitas online dan kegiatan knowledge sharing di dalamnya. Peneliti menemukan bahwa komunitas online yang terbentuk dapat dikategori menjadi general community dan interest community berdasarkan Laudon dan Traver. Lalu, interaksi maupun diskusi yang terjadi antara setiap anggota merupakan full knowledge sharing di mana interaksi ini memenuhi karakteristik bahwa pemberi informasi memberikan semua pengetahuan yang mereka rasa relevan untuk penerima informasi; pengetahuan yang relevan tidak ditahan karena alasan apa pun; dan ada komunikasi yang sangat terbuka antara pemberi dan penerima informasi. Kata kunci : SNS, knowledge sharing, komunitas online, kesehatan seksual, reproduksi
Analisis Semiotika tentang Kekerasan Simbolik dalam Film ‘Story of Kale’
Alya Denisa;
Twin Agus Pramonojati
Lingkar Studi Komunikasi (LISKI) Vol 8 No 2 (2022): SEPTEMBER 2022
Publisher : Universitas Telkom
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25124/liski.v8i2.4328
Kekerasan terhadap perempuan masih kerap menjadi permasalahan yang ada di Indonesia, kekerasan tersebut bisa terjadi pada perempuan baik yang belum ataupun sudah menikah. Namun kekerasan yang terjadi tidak hanya berupa kekerasan fisik, terdapat juga kekerasan secara halus dan terselubung yaitu kekerasan simbolik. Kekerasan simbolik jika diamati lebih lanjut sangat sering terjadi di tengah masyarakat, termasuk di dalam sebuah film. Salah satunya dalam film Story of Kale film garapan Angga Dwimas Sasongko tersebut sangat terkenal dengan sisi toxic relationship yang juga terindikasi adanya fenomena kekerasan simbolik yang terjadi sepanjang film. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana bentuk dan makna kekerasan simbolik yang dikemas dalam film tersebut. Untuk mencapai tujuan penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan teknik analisis semiotika Roland Barthes yaitu makna denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya bentuk-bentuk kekerasan simbolik dalam film Story of Kale, yaitu (1) kekerasan simbolik dalam bentuk bahasa; (2) kekerasan simbolik berbentuk eufemisme; (3) kekerasan simbolik berbentuk mekanisme sensorisasi. Dari seluruh bentuk tersebut, hasil penelitian menunjukkan adanya makna dan mitos patriarki yang menjadi penyebab terjadinya kekerasan simbolik terhadap tokoh utama perempuan dalam film ini. Kata kunci: semiotika, kekerasan simbolik, roland barthes, patriarki, film story of kale.
Analisis Pelaksanaan Virtual Event Louversal 2020 pada Peringatan Disabilitas Internasional
Fauzan Firzatullah;
Indria Angga Dianita
Lingkar Studi Komunikasi (LISKI) Vol 8 No 2 (2022): SEPTEMBER 2022
Publisher : Universitas Telkom
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25124/liski.v8i2.4593
Keberadaan penyandang disabilitas di Indonesia masih kurang perhatian dari masyarakat. Hal tersebut melatarbelakangi Louversal menyelenggarakan acara dalam memperingati hari disabilitas yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Penelitian membahas tahapan-tahapan pelaksanaan virtual event dalam Louversal. Tujuan penelitian untuk mengetahui tahapan pelaksanaan virtual event Louversal 2020 dalam memperingati hari disabilitas internasional. Metode yang digunakan dalam penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dokumentasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menjabarkan Louversal 2020 melakukan semua tahapan Rubinger, et al (2020) walaupun beberapa tahapan dilakukan berbeda. Pre-plan, Louversal 2020 melakukan semua tahapan tetapi kurang pada pembentukan tim penyelenggara awal karena Ketua Pelaksana justru terpilih setelah beberapa anggota tim terpilih. Plan, Louversal melakukan semua tahapan tetapi pada penentuan sumber pemasukan, Louversal 2020 melakukan hal yang berbeda dengan teori tersebut. Accomplish, Louversal 2020 melakukan bentuk interaksi yang berbeda dengan teori. Teori tersebut memaparkan interaksi dengan perkenalan dan obrolan awal sesi, sementara Louversal 2020 melakukan interaksi melalui Live Comment Youtube. Pada tahapan Response and Engage Louversal 2020 melakukan semua yang dijabarkan teori tersebut, tetapi cara Louversal 2020 melihat tanggapan partisipan sangat minim. Kata Kunci: Event, Virtual Event, Hari Disabilitas Internasional, Louversal
Representasi Gerakan Feminisme pada Akun Instagram @perempuanfeminis
Fakhira Shabira
Lingkar Studi Komunikasi (LISKI) Vol 8 No 2 (2022): SEPTEMBER 2022
Publisher : Universitas Telkom
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25124/liski.v8i2.4581
Perkembangan teknologi hari ini memungkinkan terjadinya interaksi antar individu maupun kelompok dapat dilakukan melalui media sosial. Interaksi yang terjadi di media sosial semakin berkembang menjadi wadah bagi komunitas maupun gerakan-gerakan tertentu salah satunya adalah gerakan feminis. Dengan adanya perkembangan internet dan media sosial, gerakan feminisme ini melanjutkan perjuangannya menggunakan media sosial seperti akun @perempuanfeminis. Penelitian ini melihat representasi gerakan feminisme pada akun Instagram @perempuanfeminis menggunakan analisis isi yang dilakukan secara kualitatif. Dilihat dari unggahan dan tampilan profil Instagram @perempuanfeminis, akun ini merepresentasikan gerakan feminis yang berjuang melawan terjadinya kekerasan seksual yang sedang marak terjadi, melawan ketidakadilan hukum bagi korban kekerasan seksual sehingga mendukung disahkannya RUU PKS dan Permendikbud sebagai payung hukum kekerasan seksual di negara ini. Selain itu, unggahan yang ada merepresentasikan bahwa gerakan ini mendukung adanya kesetaraan gender laki-laki dan perempuan melawan budaya patriarki yang dianggap sebagai toxic culture. Perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam menentukan pilihan dan jalan hidupnya. Gerakan feminisme juga direpresentasikan sebagai gerakan saling mendukung sesama perempuan. Kata Kunci : Feminis, media sosial, kekerasan seksual, kesetaraan gender
The Strengthening Family Communication Bond through WhatsApp Media Group in Timor Leste
Miqueias da Conceicao
Lingkar Studi Komunikasi (LISKI) Vol 8 No 2 (2022): SEPTEMBER 2022
Publisher : Universitas Telkom
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25124/liski.v8i2.4497
The presence of social media in this digital era especially WhatsApp messenger is considered to be able to facilitate the communication process for everyone. The use of WhatsApp is not only intended for interpersonal communication. However, WhatsApp also offers a feature where users can communicate in a group or what is also called the WhatsApp group feature. Today, WhatsApp groups have become a media of communication that is commonly used among families, especially in Dili, Timor Leste. The presence of the WhatsApp Family Group has also helped the family in the way of communicating with each other. This research is conducted to identify how the WhatsApp Family Group strengthens the communication family bond over families in Dili, Timor Leste. This research was utilizing the new media theory and qualitative approach with the descriptive method through the interview, observation, and documentation study. The results of this study pointed that the WhatsApp group has strengthened the family communication bond and also WhatsApp group has become media of communication, media information and media of entertainment for family utilized WhatsApp group in Dili, Timor-Leste. Keywords: Family Communication, New Media, Family Bond, WhatsApp Family Group
Representasi tentang Eksistensi Perempuan pada Iklan Teh Sariwangi
Ali Muhammad Ramdhan;
Freddy Yusanto
Lingkar Studi Komunikasi (LISKI) Vol 8 No 2 (2022): SEPTEMBER 2022
Publisher : Universitas Telkom
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25124/liski.v8i2.4908
Ditengah perjuangan kaum feminis yang memperjuangkan kesetaraan gender, praktikpraktik budaya patriarki terus mensubdordinasi perempuan pada hampir seluruh aktivitas kehidupan. Hal tersebut disebabkan oleh budaya patriarki yang sudah mengakar sejak lama di Indonesia. Teh Sariwangi merilis sebuah iklan yang berjudul “#MariBicara dengan Pasangan Bersama Hangatnya SariWangi”. Iklan tersebut menceritakan kisah seorang istri yang mencoba meminta izin suaminya untuk tetap bisa bekerja di luar rumah. Dengan menggarisbawahi perempuan yang memperjuangkan eksistensinya di dalam budaya patriarki. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana eksistensi perempuan dalam budaya patriarki pada iklan Teh Sariwangi Versi #maribicara Dengan Pasangan Bersama Hangatnya Sariwangi dengan menggunakan metode penelitian semiotika John Fiske yang terbagi menjadi tiga level yaitu; level realitas yang terdiri dari kode tampilan, gesture, perilaku, ekspresi, dan percakapan; level representasi yang terdiri dari kode kamera, musik, karakter, editing, setting; level ideologi yang ditemukan adalah eksistensi perempuan. Pendekatan yang diterapkan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian ini ditemukan sebuah ideologi eksistensi perempuan dibalik iklan ini. Eksistensi perempuan praktis diluncurkan dalam adegan pada iklan. Ditunjukan dengan adanya sejarah perempuan, mitos perempuan, dan perempuan masa kini yang diperlihatkan melalui level realitas dan representasi pada iklan. Kata Kunci : Eksistensi Perempuan, Patriarki, Semiotika, Iklan
Catfishing Phenomenon in the Perspective of Online Dating Services Users
Uyung Pramudiarja;
Dian Artika;
Dhea Hanna Prabawati
Lingkar Studi Komunikasi (LISKI) Vol 9 No 1 (2023): FEBRUARI 2023
Publisher : Universitas Telkom
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25124/liski.v9i1.5128
The presence of online dating in the current digital era makes it easy for users to find their desired potential partner. The problem arises when not all online dating services require users to verify identity. Some users easily fake their identities to make them appear more attractive, known as catfishing behaviour. On the one hand, constructing an identity for a specific purpose is common in online dating services. But on the other hand, it can trigger a psychological impact for potential partners whose expectations are not met, and can even open a loophole for crime. This study wants to see the perception of online dating service users towards the catfishing phenomenon. Using the phenomenological method, this descriptive qualitative research was conducted with in-depth interviews with four informants who use online dating services with varying intensity of use and level of experience. As a result, the informants perceive a natural tendency to construct attractive impressions in online dating services. However, identity discrepancies in online dating services are at some point an unacceptable form of dishonesty. The informants also have their own anticipatory steps to avoid the snares of catfishing, from inviting video calls to doing their own profiling on social media. Keywords: Catfish, Identity, New Media, Online Dating