cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : -
Core Subject : Education,
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan and Pembinan Bahasa, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
JEJAK PUISI RENDRA DALAM NASKAH DRAMA: KAJIAN RESEPSI SASTRA DAN INTERTEKTUALITAS Tri Amanat
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.724 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v7i1.602

Abstract

Penelitian ini bertujuan menemukan hubungan antara naskah drama Suto Mencari Bapak karya M. Ulil Albab dan Nasrudin Yusuf Reza dengan puisi karya W.S. Rendra “Mencari Bapak” dan bagaimana bentuk hubungannya. Masalah penelitian ini terkait dengan reaksi pembaca setelah membaca sebuah karya yang mengkonkretkan tanggapan mereka dalam bentuk sebuah karya baru. Melalui pendekatan resepsi sastra dan intertektualitas, penelitian ini berusaha menemukan hubungan dan bentuk hubungan antara kedua karya sastra dengan membandingkan elemen-elemennya. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pembacaan dan pencatatan yang kemudian dianalisis dengan teknik komparatif-induktif, kategorisasi, dan inferensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naskah drama Suto Mencari Bapak merupakan teks konkretisasi hasil resepsi pembaca puisi “Mencari Bapak”. Dalam prosesnya, elemen-elemen yang diresepsi mengalami pengolahan sedemikian rupa berdasarkan horison harapan dan gudang pengalaman pembaca dengan memanfaatkan ruang-ruang terbuka yang terdapat dalam teks puisi. Resepsi produktif elemen-elemen puisi di dalam naskah drama meliputi aspek person, aspek peristiwa, aspek latar, dan aspek tematik. Adapun model resepsi yang ditemukan ada dua. Pertama, model afirmatif dengan varian peminjaman pada sebagian aspek person, peristiwa, dan latar. Kedua, model ekspansi dengan varian penggantian pada sebagian aspek person, peristiwa, dan latar. Varian penggeseran pada sebagian aspek person, peristiwa, latar, dan tematik. Varian penggabungan pada sebagian aspek person. Varian pemadatan pada sebagian aspek person dan peristiwa. Abstract: This study aims to find the relationship between the drama script of Suto Mencari Bapak  creating by M. Ulil Albab and nasrudin Yusuf Reza with W.S. Rendra’s poem Mencari Bapak  and how it relates. This research problem is related about the reader's reaction after reading a work that concretizes their response in the form of a new work. Through the approach of literary receptions and intertextuality research attempts to find the relationship and form of relationship between the two works of literature by comparing its elements. The data were collected by reading and recording which were then analyzed by comparative-inductive, categorization, and inference techniques. The results show that the play script is a concrete text of the receptive reader results of poetry Mencari Bapak. In the process the perceived elements undergo processing in such a way based on the horizon of expectation and the repertoire of the reader's by utilizing the Indeterminate Sections in the poem. The productive receptions of the poetry elements in the drama include personality aspects, event aspects, background aspects, and thematic aspects. While the recipe model found there are two. First, the affirmative model with the borrowing variant on some aspects of person, event, and background. Second, the expansion model with replacement variants on some aspects of person, event, and background. Variants shift in some aspects of person, event, background, and thematic. Variant of combining on some aspects of person. Variant compaction on some aspects of person and event.
Mimikri dan Ambivalensi dalam Novel Berpacu Nasib di Kebun Karet Karya M.H. Székely-lulofs Rosliani Rosliani
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 1, No 2 (2012): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6777.963 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v1i2.276

Abstract

Fakta dan fiksi senantiasa pengaruh-memengaruhi sehingga pembaca karya sastra mau tidak mau harus menempatkan kehidupan dalam sastra bersinggungan dengan kehidupan masyarakat yang realistik. Pengungkapan realitas fiksi dan realitas historis untuk melihat dampak kolonialisme yang berbentuk mimikri dan ambivalensi dalam novel BNdKK karya M.H. Székely-Lulofs diteliti dengan teori struktur naratif dan poskolonialisme. Pengaplikasian teori dilakukan metode kualitatif bersifat deskriptif. Hasilnya, dari struktur penceritaan novel BNdKK dan penelusuran sejarah bangsa Indonesia serta riwayat hidup M.H. Székely-Lulofs ternyata novel ini merupakan gabungan realitas fiksi dan realitas historis kehidupan bangsa yang terjajah dan bangsa yang menjajah di Hindia Belanda, khususnya Sumatera Timur. Mimikri dan ambivalensi yang terjadi berupa penggunaan bahasa, budaya dan perilaku kehidupan.Kata kunci: novel, mimikri, ambivalensi, Hindia Belanda
SEKUJANG DI AMBANG HILANG: USAHA PELESTARIAN SASTRA LISAN MELALUI FILM DOKUMENTER Sarwo F. Wibowo
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8772.049 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v4i1.383

Abstract

Sekujang merupakan tradisi tahunan yang diadakan oleh masyarakat Serawai di Kabupaten Seluma untuk mendoakan jemo putus (orang yang putus silislahnya, orang yang mati karena kecelakaan, orang yang mati namun tidak ditemukan mayatnya, dan lain-lain). Tradisi ini dulunya dilaksanakan tidak kurang dari tujuh desa di Kabupaten Seluma dan Kepahiang, namun saat ini hanya desa Talang Benuang saja yang melestarikannya. Penelitian ini merupakan usaha dokumentasi Sekujang sebagai sastra lisan yang terancam punah. Data mengenai sejarah, asalusul, tata cara Sekujang, dan pergeseran nilai yang terjadi dalam sekujang diperoleh melalui wawancara dengan teknik simak cakap. Selain itu juga dilakukan observasi dan dokumentasi untuk merekam dan menunjukkan kondisi sebenarnya dalam ritual Sekujang. Hasil penelitian ini berhasil menggali bahwa hilangnya adat Sekujang di beberapa desa utamanya diakibatkan oleh meninggalnya tetuo Sekujang yang membawa pengetahuan tentang tradisi ini mati bersamanya.Beberapa faktor lain seperti adanya tekanan dari pihak yang mengklaim Sekujang sebagai tindakan syirik, tidak adanya dukungan dari pemerintah, keterbatasan dana, dan persaingan dengan kebudayaan modern makin memberi dorongan bagi Sekujang menuju kepunahannya.Mengingat kondisinya yang sangat kritis, maka pelestarian melalui film dokumenter menjadi jalan keluar terbaik yang memberikan manfaat ganda. Pertama, film dokumenter menjadi upaya dokumentasi visual dan kedua film dokumenter menjadi bagian dalam upaya advokasi dan promosi pelestarian tradisi ini.
A COMPARATIVE STUDY OF POETRY’S STRUCTURE: ‘NIGHT’ BY BLAKE AND ‘SHE WALKS IN BEUATY’ BY BYRON Ana Rosida
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 6, No 2 (2017): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.426 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v6i2.435

Abstract

This research presented the comparative study about the structure in two poetries; they are Night and She Walks in Beauty. It focused the theme, the figure of speech and the imagery. It used the qualitative research. It is analyzed the structure by reading the poetry carefully and giving the note for each line that contains theme, figure of speech and imagery. It used the theory of comparative study and structural approach.The result of this research shows that the poet of those poetries use theme, figure of speech and imagery. There are many kinds of figure of speech and imagery in the poetry. In Night, there are only four figure of speeches  namely (a) Simile, (b) Personification, (c) Metaphor and (d) Hyperbole and uses (1) Visual, (2) Auditory, (3) Tactile and (4) Kinesthetic as the imagery. In She Walks in Beauty, Byron uses (a) simile, (b) personification and (c) litotes as figure of speech and its imagery are (1) Visual and (2) Kinesthetic.The poetry Night and She Walks in Beauty appear both differences and similarities with regard to its poet’s writing style. Blake is subjective whereas Byron is objective in writing. Both poets use the nature in different ways to build the theme, the figure of speech and the imagery. Blake uses the nature to describe two contrast place and Byron used the nature to describe a woman character. AbstrakPenelitian ini membahas studi perbandingan tentang struktur dalam dua puisi, yaitu Night dan She Walks in Beauty. Penelitian ini berfokus pada Theme, Figure of Speech dan Imagery. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Pada penelitian ini, struktur dianalisa dengan membaca puisi dengan seksama dan memberikan catatan untuk setiap baris yang berisi Tema, Majas dan Pencitraan. Penelitian ini mengunakan teori Comparative Study dan pendekatan Structural.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyair pada kedua puisi ini menggunakan Tema, Majas dan Pencitraan. Ada banyak jenis majas dan pencitraan dalam puisi tersebut. Pada puisi Night, Majas hanya ada empat yaitu (a) Simile, (b) Personification, (c) Metaphor dan (d) Hiperbole dan menggunakan (1) Visual, (2) Auditory, (3) Tictile dan (4) Kinestethic sebagai pencitraan. Pada puisi She Walks in Beauty, Byron menggunakan (a) Simile, (b) Personification dan (c) Litotes sebagai majas dan pencitraannya adalah (1) Visual dan (2) Kinestethic.Puisi Night dan She Walks in Beauty tampak perbedaan dan persamaan yang berkaitan dengan gaya penulisan penyairnya. Blake adalah penyair yang subjektif sedangkan Byron adalah penyair yang objectif dalam menulis. Kedua penyair tersebut menggunakan alam dengan cara yang berbeda untuk membangun Tema, Majas dan Pencitraan. Blake menggunakan alam untuk menggambarkan dua tempat yang dan Byron menggunakan alam untuk menggambarkan karakter wanita.   
Piranti Bahasa dan Mistisime Jawa dalam Kumpulan Puisi Hujan Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono Tjahjono Widijanto dan Sumarlam
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.612 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v5i2.363

Abstract

Kajian ini adalah ihtiar menganalisis bahasa sekaligus menafsirkan dan menjelajahi konteks sosial budaya puisi-puisi Sapardi Djoko Damono (SDD) yang terhimpun dalam kumpulan puisi Hujan Bulan Juni, diterbitkan Gramedia Pustaka Juni 2013. Pijakan awal kajian ini adalah stilistika dengan fokus menggali aspek-aspek kebahasaan seperti ragam bunyi, kata, simbol, imaji dan majas. Dalam kajian ini nampak pusi-puisi SDD didominasi suasana ketertekanan, keheningan, dan kefanaan dengan bersandar pada kekuatan cacphony, gaya paradaksol dengan mempertentangkan kata yang mempunyai dua sifat berbeda, menghadirkan pada diri pembacanya imaji yang membangun ruang-ruang misteri. Pemilihan kata dengan cermat dipilih dengan menggunakan natural symbol dan privat symbol, Puisi-puisi SDD mayoritas menggambarkan dunia misteri kesunyian yang dihadirkan sebagai sesuatu yang tidak ada( flow chart) yang ada hanya degup, suara, warna, dan ide hadir seperti sebuah bayang putih yang membaur dan terasa jauh. Dalam bingkai bahasa itu, di dalam puisi-puis SDD dapat dilacak jejak mistisime Jawa yang mempersoalkan renungan awal akhir (sangkan-paran), kefanaan, kematian dan keheningan khas Jawa (sonya ruri).
KELENTURAN MASYARAKAT BALI-TRADISIONAL TERHADAP MODERNITAS DALAM KUMPULAN CERPEN MANDI API Puji Retno Hardiningtyas
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v3i2.444

Abstract

This study analyzes the social dynamics of Balinese culture and intellectual to face tradition and modernization clash by applying the theory of sociology literaryas a scalpel. This researchis is adescriptive study using descriptive qualitative research, descriptive analysis analytic methods, and the theory used of sociology literaryas. Within the scope of the sociallife of the Balinese people, the collection of short stories Mandi Api by Gde aryantha Soethama presentinga local color.This Socio cultural dynamics is combined with ancestor’s social symptoms pressure, namelysocial interaction between communities, social conflict, cultural identity, andhuman relationships that shape the Balinese behavior and culture. The intensityof the social and cultural changes as a result of activity of Balinese life isstrongly influenced by the strength of the values and traditions ofindigenous cultural communities in the social environment of Bali.AbstrakPenelitian ini bertujuan menganalisis dinamika sosial budaya dan sikap masyarakat Bali tradisional dalam menghadapi benturan tradisionalitas dan modernitas. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif, metode analisis deskriptif analitik, dan teori yang digunakan sosiologi sastra. Hasil yang ditemukan terlihat dalam lingkup kehidupan sosial masyarakat Bali, kumpulan cerpen Mandi Api karya Gde Aryantha Soethama menyuguhkan warna lokal. Dinamika sosial budaya ini dikombinasikan dengan tekanan tradisi nenek moyang menimbulkan gejala sosial, yaitu interaksi antarkomunitas sosial, konflik sosial, identitas budaya, dan hubungan percintaan manusia Bali yang membentuk perilaku dan kultur masyarakat Bali. Intensitas terjadinya perubahan nilai sosial budaya sebagai akibat aktivitas kehidupan masyarakat Bali sangat dipengaruhi oleh kuat lemahnya nilai tradisi dan adat di lingkungan sosial kultural masyarakat Bali.
MENGGUGAH IDENTITAS KEBANGSAAN MELALUI PUISI Besse Darmawati
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.28 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v6i1.333

Abstract

A good literary works are able to give positive values to human being. This research aims to describe the elements, meaning, and cultural values in the poems that contain positive values for human life. The researcher applies qualitative method through objective and intuitive approaches. The meaning and cultural values of the poems are intuitively gained from the result of the analysis objectively. The data are “Kata Cinta Usia 51”, “Jabatan Yang Hilang” and “Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini.” Objectively, these poems have the themes of belief in worldly life, the excessive mistaken, and the resurrection of life. Intuitively, the meaning of these three poems makes people aware that life is only temporary, so they cannot escape from gratitude, must not feel despair in facing hardships, are not mistaken by the beauty of the world, and strive to achieve a good quality of life. The cultural values of these poems are gratitude, fortitude, faithful, patience, bravery, firmness, and responsibility. These reflect the characters and identities of young generations as their identities, so they are different from other nations, in order to awaken their identity as a dignified Indonesian nation.   ABSTRAKKarya sastra yang baik mampu memberi nilai positif terhadap manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur, makna, dan nilai budaya dalam puisi yang bernilai positif bagi kehidupan manusia. Penulis menerapkan metode penelitian deskriptif kualitatif melalui pendekatan objektif dan intuitif. Makna dan nilai budaya dalam puisi secara intuitif diperoleh dari hasil analisis secara objektif. Data adalah puisi “Kata Cinta Usia 51,” “Jabatan Yang Hilang,” dan “Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini.” Secara objektif, puisi tersebut bertemakan keyakinan terhadap kehidupan duniawi, kekeliruan yang berlebihan, dan kebangkitan hidup. Secara intuitif, makna ketiga puisi tersebut menyadarkan manusia bahwa hidup hanya sementara sehingga tidak terlepas dari rasa syukur, jangan putus asa menghadapi cobaan, jangan keliru dengan keindahan dunia, dan berjuang mencapai kehidupan yang berkualitas. Adapun nilai budaya dari puisi tersebut adalah kesyukuran, ketabahan, keyakinan, kesabaran, keberanian, keteguhan, dan bertanggung jawab. Hal demikian mencerminkan karakter dan identitas anak bangsa sebagai jati diri mereka, sehingga berbeda dengan bangsa lain, dalam rangka menggungah identitas sebagai bangsa Indonesia yang bermartabat.
EKSNOMINASI POLITIK DALAM NARASI: KONSEPTUALISASI PEMIKIRAN MITOLOGIS ROLAND BARTHES DAN IMPLIKASI METODOLOGISNYA DALAM KAJIAN SASTRA Ikwan Setiawan
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 3, No 1 (2014): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v3i1.430

Abstract

This article deals with Roland Barthes’ mythological thinking and its methodological implication in literary studies. Its basic thinking is that in various modes of representation exist the dynamics of mythical signification using denotative signification as its basic and aims to address particular message to readers or viewers. Such signification intertwines with the complexity of discourses, histories, knowledge, and problems in the real life. Its final goal is to depoliticize and ex-nominates making something nameless dominant political interest in narrative naturally. Barthes also conceptualizes an idea on second myth that uses (the first) myth as its basis of signifying process to subvert the dominant class’ political interest. For explaining the contributions of these two mythological perspectives in literary studies, I give conceptualize method of analysis using both of them. As concluding remarks, I position Barthes’ mythological thinking as a theoretical framework which can avoid literary studies from over intervention of outside-literary factors political economy, general theories, etc. that make the studies seem losing their narrative base. Because Barthes’ perspective emphasizes on reading of narrative dynamics without negating exploration of discursive richness in signifying process, naturalization of ideological discourses, and ex-nomination of particular political interest.AbstrakTulisan ini membahas pemikiran mitologis Roland Barthes serta implikasi metodologisnya dalam kajian sastra. Inti dari pemikirannya adalah bahwa dalam beragam moda representasi berlangsung dinamika penandaan mitis yang menggunakan penandaan denotatif sebagai basisnya dan bertujuan menyampaikan pesan tertentu kepada pembaca ataupun penonton. Penandaan tersebut berjalin-kelindan dengan kompleksitas wacana, sejarah, pengetahuan, dan permasalahan dalam kehidupan nyata. Tujuan akhirnya adalah untuk mendepolitisasi dan mengeksnominasi menjadikan sesuatu tak bernama kepentingan politik dominan dalam narasi secara alamiah. Barthes juga mengkonseptualisasikan gagasan tentang mitos kedua yang menggunakan mitos (pertama) sebagai basis proses penandaan untuk mensubversi kepentingan politik kelas dominan. Untuk menjelaskan implikasi metodologis kedua perspektif mitologis tersebut dalam kajian sastra, saya mengkonseptuliasikan metode analisis dengan menggunakan keduanya. Sebagai simpulan, saya memosisikan pemikiran mitologis Barthes sebagai kerangka teoretis yang bisa menghindarkan kajian sastra dari intervensi berlebihan dari faktor-faktor di luar sastra faktor ekonomi-politik, teori-teori umum, dan lain-lain yang menjadikan kajian tersebut tampak kehilangan pijakan naratif. Karena perspektif Barthes menekankan kepada pembacaan dinamika naratif dalam kerangka penandaan tanpa mengabaikan eksplorasi kekayaan diskursif dalam proses penandaan, naturalisasi wacana ideologis, dan eks-nominasi kepentingan politik partikular. 
PROSA DAN KEHIDUPAN KOTA Ridha al Qadri
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 2, No 1 (2013): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6859.476 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v2i1.390

Abstract

Tulisan ini mengeksplorasi relasi antara karya sastra dan sejumlah fakta sosial di perkotaan Indonesia dalam rentang tiga zaman (normal-khaos-normal) hingga zaman global. Terdapat tiga hal yang dicermati, di antaranya (1) segregasi spasial di perkotaan sepanjang peralihan tiga zaman tersebut, yaitu era kolonialisme hingga kemerdekaan, (2) strategi kelas sosial di ruang perkotaan, khususnya dalam gambaran karya sastra pada zaman yang berubah-ubah tersebut, dan (3) respons parodi-romantik dalam karya sastra atas kontradiksi kota hingga zaman global, yang meliputi krisis keintiman warga kota.
PEREMPUAN DALAM SWARA SESTRA DAN FAKTA PERKAWINAN ENDOGAMI ARISTROKAT JAWA Fajar Wijanarko
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.578 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v7i1.606

Abstract

Abstract: In general, Javanese women are well-imagery and often raised as a form of teaching in literature. However, in the Swara Sěstra text, it is actually metaphorically as a senthe leaves, the allegory of young women who being a co-wife to older women. This issue becomes complicated when the situation occurs in the aristocratic environment of Java. By the discipline of philology with methods of text editing and translation, the phenomenon of women in the text of Swara Sěstra will be expressed. The semiotic study of text through heuristic and hermeneutical readings then becomes an attempt at interpreting the text. At the end of the discussion, it is known that female allegory as a senthe refers to the image of poor Javanese women. Behind the meaning of the text is then found also evidence that this female allegedly dragged historical facts about the rampant endogamy marriage in the nobility. Even the behavior repeatedly happen, especially in the inner court environment.Abstrak: Pada umumnya, perempuan Jawa bercitra baik sehingga kerap dimunculkan sebagai bentuk ajaran dalam sastra. Akan tetapi, dalam teks Swara Sěstra justru dimetaforakan sebagai daun senthe, yaitu alegori perempuan muda yang dimadu dengan perempuan yang lebih tua. Persoalan ini menjadi rumit ketika keadaan tersebut terjadi di lingkungan aristokrat Jawa. Berbekal disiplin filologi dengan metode penyuntingan teks dan penerjemahan, fenomena perempuan dalam teks Swara Sěstra akan diungkapkan. Telaah teks secara semiotik melalui pembacaan heuristik dan hermeneutik kemudian menjadi upaya dalam menafsirkan teks. Pada akhir pembahasan, diketahui bahwa alegori perempuan sebagai senthe merujuk pada citra perempuan Jawa yang tidak baik. Di balik pemaknaan teks tersebut kemudian ditemukan pula bukti bahwa pengalegorian perempuan ini menyeret fakta sejarah tentang maraknya perkawinan endogami di lingkungan bangsawan. Bahkan perilaku tersebut merupakan hal yang subur, terutama di lingkungan dalam tembok istana.

Page 6 of 22 | Total Record : 218