cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : -
Core Subject : Education,
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan and Pembinan Bahasa, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Konteks Sosial, Politik, dan Budaya dalam Sastra Drama Tahun 1970-an: Studi Kasus pada “Kisah Perjuangan Suku Naga” Karya W.S Rendra dan “Maaf, Maaf, Maaf” Karya N. Riantiarno M. Yoesoef
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4040.22 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v1i1.16

Abstract

Pesona kekuasaan, baik di ranah keluarga (domestik) maupun di ranah umum (publik) senantiasa memicu pergolakan di antara anggota keluarga dan masyarakat luas. Dalam pada itu, para birokrat yang mengemban tugas pemerintahan dapat dikatakan sebagai ujung tombak untuk menyejahterakan masyarakat melalui program-programnya. Namun demikian, dinamika di lapangan, selain hal positif juga menimbulkan efek negatif, yang berkaitan dengan perilaku birokrat dalam hal implementasi program-program itu. Hal itu terekam dalam ingatan kolektif masyarakat dan menjadi batu besar yang menghalangi pandangan. W.S. Rendra dan N. Riantiarno melalui karyanya merekam ingatan kolektif itu menjadi sebuah drama yang menyindir dan kritis. Di balik karyanya itu, mereka memberi ingatan kepada kita betapa ekses dari proses pembangunan sepanjang tahun 1970-an menuai opini yang perlu dicermati di masa sekarang ini.Kata kunci: ingatan kolektif, domestik, publik, birokrat
KAJIAN SEMANTIK ETNOGRAFI PADA CERITA RAKYAT JEPANG WARASHIBECHŌJA Ida Ayu Laksmita Sari
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5791.788 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v4i2.471

Abstract

This study discuss the word and the sentences containing meaning ethnography in Japanese Folklore of Warashibechōja. This study uses the theory of semantic ethnography focusing to the meanings illustrating the local culture system. Through the text story of Warashibechōja data is collected anda analysed using methodes of descriptive qualitative with techniques note. The result of this study is found the word including sonkeigo constituting oral expression which is based on consideration respect towards the interloculator. In addition to, found the culture vacabularies describing Japanese traditional culture, those are wara, miso, furoshiki, uma, and muko. The illustrated Ideology is someone shall try to do from the small thing seriously to get the best result and found also the intention to diffuse religion of Buddhist in Japan.AbstrakPenelitian ini membahas kata serta kalimat yang mengandung makna etnografi pada cerita rakyat Jepang Warashibechōja. Penelitian ini menggunakan teori semantik etnografi yang memfokuskan pada makna-makna yang menggambarkan sistem kebudayaan setempat. Melalui teks cerita Warashibechōja data dikumpulkan dan dianalisis menggunakan metode metode deskriptif kualitatif dengan teknik catat. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukannya kata yang termasuk sonkeigo yang merupakan ungkapan tingkat tutur yang didasarkan pada pertimbangan rasa hormat terhadap lawan bicara. Selain itu, ditemukan pula kosakata budaya yang menggambarkan kebudayaan tradisional Jepang, yaitu wara, miso, furoshiki, uma, dan muko. Ideologi yang tergambar adalah seseorang harus berusaha dari hal kecil secara sungguh-sungguh untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan terdapat pula maksud untuk menyebarkan agama Buddha di Jepang.
Kemampuan Pemain Teater Cepung Lombok sebagai Kekayaan Dramaturgi Tradisional Salman Alfarisi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.099 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v5i1.348

Abstract

Artikel ini mendiskusikan tentang fenomena Teater Cepung Lombok di tengah masyarakat Sasak. Dengan menggunakan metode kualitatif, artikel ini berpijak pada keinginan untuk mengetahui tentang Teater Cepung Lombok, khususnya mengenai pemain yang secara tradisional memiliki kemampuan untuk menafsirkan teks Tutur Monyeh sebagai sumber penciptaan Teater Cepung.Meneropong dengan teori teks, artikel ini menunjukkan bahwa Teater Cepung merupakan produk kesenian asli Lombok yang menonjolkan kekuatan pemain sebagai keutamaan dalam pementasan. Meskipun dikategorikan tradisional, namun pemain teater Cepung pada hakikatnya memberikan ruang baru untuk memahami kekayaan bentuk dramaturgi Indonesia.
KAJIAN WACANA SASTRA PASCAKOLONIAL DAN PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA Tirto Suwondo
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v3i2.440

Abstract

This article talks about Indonesia literature postcolonial discourse in relation to characters building (nation). The approaches used are postcolonial and pragmatic. Postcolonial approach is used to study the meaning of texts, while pragmatic is used to study the meaning of contexts. The postcolonial approach proves that Indonesia literature texts indicate the existence of postcoloniality in the form of power relation, double identities, mimicry, and resistence. The pragmatic approach shows that postcoloniality can be used by readers as a reference to various temathical ideas; and those ideas can also be made as a projection for characterized self building (nation). AbstrakArtikel ini membahas wacana pascakolonial sastra Indonesia dalam kaitannya dengan pembangunan karakter bangsa. Pendekatan yang digunakan adalah pascakolonial dan pragmatik. Pascakolonial digunakan untuk membahas makna teks, sedangkan pragmatik digunakan untuk membahas makna konteks. Hasil pembahasan pascakolonial membuktikan bahwa teks-teks sastra Indonesia menunjukkan adanya pascakolonialitas yang berupa relasi kuasa, identitas ganda, mimikri, dan resistensi. Hasil pembahasan pragmatik menunjukkan bahwa pascakolonialitas itu oleh para pembaca dapat digunakan sebagai referensi berbagai gagasan tematis; dan gagasangagasan tematis itu dapat pula dijadikan sebagai proyeksi bagi pembangunan diri (bangsa) yang berkarakter
PERSPEKTIF BOURDIEU PADA POLA INTERRELASI PADA EKSISTENSI LENGGER LANANG LANGGENG SARI DALAM PERTUNJUKAN SENI DI BANYUMAS lynda susana widya ayu fatmawaty; NILA MEGA MARAHAYU; SHOFI MAHMUDAH BUDI UTAMI; IMAM SUHARDI
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.74 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v7i2.916

Abstract

Penelitian ini berjudul Perspektif Bourdieu pada Pola Interrelasi pada eksistensi Lengger Lanang Langgeng Sari dalam Pertunjukan Seni di Banyumas bertujuan untuk mengungkap pola interrelasi mendukung eksistensi Lengger Lanang di Banyumas. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif yang menggunakan teori Bourdieu untuk menganalisis fenomena ini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa arena, modal, habitus, dan lintasan adalah unsur-unsur yang saling terkait yang mendukung eksistensi lengger lanang hingga saat ini. Namun, bidang ini menunjukkan sebagai pemantik munculnya kembali Komunitas Lengger Lanang Langgeng Sari dalam seni pertunjukan Banyumas. Lebih jauh, modal diakui sebagai modal budaya dan simbolik di mana mereka dikelilingi oleh seniman tradisional dan pemerintah yang mendukung mereka. Modal simbolis juga mengarah pada penerimaan masyarakat untuk keunikan. Sementara, habitus adalah keterampilan lengkap setiap anggota di masyarakat yang mengikat mereka dalam harmoni. Akhirnya, lintasan ini didefinisikan sebagai penerimaan lengger sepenuhnya karena Lengger dikaitkan dengan Banyumas pada pekerja seni lainnya di Banyumas ini.Penelitian ini berjudul Perspektif Bourdieu pada Pola Interrelasi pada eksistensi Lengger Lanang Langgeng Sari dalam Pertunjukan Seni di Banyumas bertujuan untuk mengungkap pola interrelasi mendukung eksistensi Lengger Lanang di Banyumas. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif yang menggunakan teori Bourdieu untuk menganalisis fenomena ini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa arena, modal, habitus, dan lintasan adalah unsur-unsur yang saling terkait yang mendukung eksistensi lengger lanang hingga saat ini. Namun, bidang ini menunjukkan sebagai pemantik munculnya kembali Komunitas Lengger Lanang Langgeng Sari dalam seni pertunjukan Banyumas. Lebih jauh, modal diakui sebagai modal budaya dan simbolik di mana mereka dikelilingi oleh seniman tradisional dan pemerintah yang mendukung mereka. Modal simbolis juga mengarah pada penerimaan masyarakat untuk keunikan. Sementara, habitus adalah keterampilan lengkap setiap anggota di masyarakat yang mengikat mereka dalam harmoni. Akhirnya, lintasan ini didefinisikan sebagai penerimaan lengger sepenuhnya karena Lengger dikaitkan dengan Banyumas pada pekerja seni lainnya di Banyumas ini.
CITRA PEREMPUAN DALAM KABA ANGGUN NAN TUNGGA KARYA AMBAS MAHKOTA Ninawati Syahrul
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v2i2.407

Abstract

Karya sastra daerah Minangkabau cukup dominan menghadirkan tokoh perempuan. Apabila dihubungkan dengan sistem kekerabatan yang dianut masyarakatnya, yakni matrilineal, sangat menarik untuk mengkaji eksistensi tokoh perempuan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikancitra perempuan Minangkabau sebagai pribadi dan mendeskripsikan citra perempuan Minangkabau sebagai anggota masyarakat dalam kaba Anggun Nan Tungga. Penelitian ini bersifat deskriptif. Untuk melihat gambaran citra perempuan dalam penelitian ini digunakan pendekatan objektif sastra yang dikaitkan dengan teori psikologi wanita, psikologi umum, dan filsafat manusia. Citra perempuan yang digambarkan dalam kaba Anggun Nan Tungga menunjukkan bahwa pada umumnya tokoh perempuan mempunyai kepribadian sangat baik karena ia memiliki kedua aspek citra perempuan, yaitu citra perempuan sebagai pribadi dancitra perempuan sebagai anggota masyarakat. Hal itu sudah mencerminkan tokoh perempuan yang diidealkan. Perempuan merupakan tiang kokoh dalam rumah tangga dan masyarakat. Ia berfungsi memberikan arahan dan pengaruh besar bagi generasi muda.
JAGAD ALUS MISTIS JAWA DALAM CERPEN-CERPEN DANARTO DAN FANTASI MAGIS TERNATE DALAM NOVEL CALA IBI KARYA NUKILA AMAL Tjahjono Widijanto
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1072.979 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v7i1.682

Abstract

Artikel ini mengkaji kumpulan cerpen Godlob karya Danarto dan novel Cala Ibi karya Nukila Amal dari sudut pandang realisme magis. Realisme magis dipahami sebagai gaya estetetik yang mengandung unsur-unsur magis bercampur aduk dengan realitas. Dalam realisme magis wilayah mistis dan realitas empiris diperlakukan sejajar karena yang fantasi dan supranatural mengakar pada realitas kultural dan historis. Kajian dalam tulisan ini berdasarkan pandangan bahwa teks sastra pasti akan terpengaruh oleh kultur masyarakat dan pengarangnya. Muatan makna yang terdapat di dalam karya sastra akan dipengaruhi dan ditentukan oleh kosmologi budaya, nila-nilai, norma, konvensi sosial budaya atau bahkan ideologi pengarangnya. Metode dalam tulisan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yakni prosedur penelitian yang menghasilkan data-data deskriptif berupa kata-kata atau kalimat tertulis yang menunjukkan kadar realisme magis dalam cerpen-cerpen Danarto yang terkumpul dalam kumpulan cerpen Godlob dan dalam novel Cala Ibi karya Nukila Amal. Dalam kumpulan crpen Godlob karya Danarto maupun novel Cala Ibi Nukila Amal dapat ditemukan ciri-ciri realisme magis, yakni elemen yang tidak dapat direduksi, dunia fenomenal, keraguan-keraguan yang menggoyahkan, penggabuangan antara yang magis fantasi dengan realitas dan rusaknya batas, ruang, waktu dan identitas. Dalam cerpen-cerpen Danarto, realisme magis berlandaskan mistisisme Jawa berupa konsep-konsep sangkan paraning dumadi, mulih-mulanira, dan manunggaling kawula-gusti, sedangkan dalam novel Cala Ibi, realisme magis berdasarkan  mitos-mitos historis Ternate, dan sufisme Islam dengan konsep wahdatul wujud.Abstract: These article investigate the short story collections of Godlob by danarto and novel Cala Ibi by Nukila Amal from from point of view magical realism. Magical realism is being understood as an aesthetic style which is consist of magical elements that mixed by reality. In magical realism, the mistic and empirical reality treated parallely because of the fantasy and supranatural which is rooted to cultural and historical reality. The study of these writing based on a view that literature writing will be affected and determined cultural cosmology, values, norm, cultural social converence or even the writer ideology. The metode in these writing using descriptive qualitative metode, that is research procedure which is produced descriptive datas contain word`s or `written sentences pointed Godlob and the novel Cala Ibi by Nukila Amal can be found in the magical realism: elements that cannot be reducted, fenomenal world, faltering doubts, merging between magical fantasy with reality and the damage limit, space, time and identity. In Danarto’s short story, magical realism based on Javanese mistism such as concept sangkan paraning dumadi,mulih mulanira and manunggaling kawula gusti. While in the novel Cala Ibi, magical realism based on Ternate historical myths and Islamic sufism with wihdatul wujud comcept.
TARAWANGSA DAN PENGEMBANGANNYA Yeni Mulyani Supriatin
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 1, No 2 (2012): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4158.67 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v1i2.277

Abstract

Perubahan pandangan dari budaya agraris ke budaya industri dan budaya pascaindustri telah menyebabkan perubahan dalam tata kehidupan masyarakat. Bertolak dari pandangan itu, dapat dikatakan bahwa tradisi lisan Sunda, contoh kasus tradisi tarawangsa, dapat dikembangkan untuk membangun ekonomi kreatif. Tarawangsa adalah jenis kesenian rakyat yang lazim dipertunjukkan dalam upacara ritual yang berhubungan dengan magis religius untuk menghormati Dewi Sri. Kondisi tarawangsa pada saat ini terancam punah, selain akibat modernisasi dan ditinggalkan oleh maestronya berpulang ke rahmatullah, juga efek dari pewarisannya yang tidak sebagaimana mestinya. Tulisan ini membahas seni tarawangsa, dalam hal ini mengkreasi tarawangsa dalam dunia industri pariwisata dan pengembangannya dalam industri kreatif. Upaya lintas sektoral diharapkan dapat melestarikan dan merevitalisasi tradisi tarawangsa serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat pendukungnya. Tulisan ini menerapkan metodologi kajian tradisi lisan dan berbagai pemahaman tentang kajian tradisi lisan dengan industri kreatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seni tarawangsa memiliki kepentingan praktis kemasyarakatan dan kemanfaatan lintas sektoral, yakni mendukung pariwisata dan ekonomi kreatif.Kata kunci: tradisi lisan, tarawangsa, industri kreatif
PERBANDINGAN EXTRAORDINARY ELEMENT DALAM NARASI FANTASI, FIKSI ILMIAH DAN REALISME MAGIS Henny Indarwaty; Sri Utami Budi; Scarletina Vidyayani Eka
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7052.096 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v4i1.384

Abstract

Narasi fantasi, fiksi ilmiah, dan realisme magis mempunyai satu unsur yang sama yaitu elemen yang tidak rasional atau disebut extraordinary element. Namun demikian unsur ini tidak digunakan dengan cara yang sama dalam ketiga narasi tersebut sehingga membedakan jenis narasinya. Artikel ini akan mengkaji karakteristik narasi fantasi, fiksi ilmiah, dan realisme magis untuk melihat keberadaan extraordinary element di dalamnya serta fungsinya dalam pembentukan plot. Karakteristik ini akan diambil dari studi pustaka sekaligus dari hasil identifikasi beberapa karya sastra yang telah dilegitimasi sebagai teks dengan narasi-narasi tersebut. Artikel ini menunjukkan keberadaan extraordinary element dalam ketiga jenis narasi ditampilkan dengan aturan yang berbeda sehingga sebuah teks bisa dikatakan memakai gaya narasi fantasi, fiksi ilmiah, atau realisme magis. Extraordinary element dalam fantasi merupakan rekaan yang menciptakan dunia sendiri dan aturan yang memakai logikanya sendiri yang berbeda dengan logika dunia non-fiksi. Extraordinary element dalam fiksi ilmiah merupakan rekaan yang tetap harus berbasis aturan logika ilmu pengetahuan dalam dunia non-fiksi. Sedangkan extraordinary element dalam realisme magisberbasis mitos budaya yang diperlakukan sebagai hal biasa dan bukan dirayakan sebagai pusat tontonan. Artikel ini menggunakan metode perbandingan naratologi. Hasil artikel ini diharapkan bisa membantu para akademisi lainnya, terutama mahasiswa, untuk menentukan obyek material yang tepat sesuai teori yang ingin mereka terapkan; misalnya memilih narasi realisme magis untuk studi poskolonial, narasi fantasi dan fiksi ilmiah untuk studi cultural studies.
Simbol Budaya pada Novel Tamu Karya Wisran Hadi Eva Yenita Syam
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 6, No 2 (2017): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.696 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v6i2.438

Abstract

This paper discusses the meaning of Minangkabau culture in the novel Tamu by Wisran Hadi with semiotic approach proposed by Charles Sanders Peirce about signs and mark. This novel discusses the important elements in the changing of Minangkabau society, such as the changing role of mamak as the leader, the legacy, the brotherhood, the surau function, and rantau (wander). So, this study aims to determine the meaning of Minangkabau culture in the novel Tamu. This research uses descriptive analyse method which expose the data based on the findings content in the novel; 1) the position of mamak no longer respected by the nephew like mamangan adatnya kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka nan bana. 2) the legacy which mortgaged by mamak it is not accordance with the condition of the treasure requirement, 3) the relationship of brotherhood has a tension, 4) the surau is not used according to the function, 5) rantau that is no longer giving a better life. AbstrakTulisan ini membahas makna budaya Minangkabau dalam novel Tamu karya Wisran Hadi dengan pendekatan semiotik yang dikemukakan oleh Charles Sanders Peirce tentang tanda dan petanda. Novel ini membahas unsur-unsur penting dalam masyarakat Minangkabau yang mengalami perubahan, seperti perubahan peran mamak sebagai pemimpin adat, pewarisan harta pusaka, ikatan persaudaraan, fungsi surau, dan rantau. Maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna budaya Minangkabau dalam novel Tamu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis yakni data dipaparkan mengacu pada teks yang terdapat dalam novel dengan temuan; 1) kedudukan mamak tidak lagi dihormati oleh kemenakan seperti mamangan adatnya kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka nan bana. 2) harta pusaka yang digadaikan oleh mamak tidak sesuai dengan syarat yang boleh digadaikan, 3) hubungan persaudaraan yang mengalami ketegangan, 4) surau yang tidak digunakan sesuai fungsinya, 5) rantau yang tidak lagi memberi kehidupan lebih baik. 

Page 7 of 22 | Total Record : 218