cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : -
Core Subject : Education,
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan and Pembinan Bahasa, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Kegelisahan Eksistensial Joko Pinurbo: Sebuah Tanggapan Pembaca Yoseph Yapi Taum
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.597 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v5i2.364

Abstract

Kehadiran penyair Joko Pinurbo dengan karya-karyanya mendapat tanggapan pembaca yang luas di tanah air. Puisi-puisinya memiliki karakteristik tersendiri yang kontradiksif antara pilihan katanya yang nyeleneh dan sikap kepenyairannya yang cenderung serius dan filosofis. Makalah ini merupakan sebuah tinjauan terhadap karya-karya Joko Pinurbo sebagai sebuah tanggapan. Tanggapan beberapa ahli sastra juga ikut didiskusikan di sini. Melalui pembacaan terhadap beberapa tanggapan, makalah ini mengungkap 1) Kecenderungan Puisi Mbeling dalam puisi-puisi Joko Pinurbo; 2) Penggunaan Bahasa dan Persoalan Sehari-hari dalm puisi-puisi Joko Pinurbo; 3) Refleksi Keagamaan dalam puisi-puisi Joko Pinurbo, dan 4) Kegelisahan Eksistensial dalam puisi-puisi Joko Pinurbo
SANGGAR SASTRA JAWA YOGYAKARTA DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI TALCOTT PARSONS Hayu Avang Darmawan
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8081.668 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v4i2.445

Abstract

Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta is a literary group that focus on Javanese literature in D.I.Yogyakarta. The purpose of this research is to discover and explain the establishment and Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta system that is able to survive for a long time. It was given a lot of group Javanese literature in East Java, Central Java, and Yogyakarta that appear but can not last long. The analysis used is the social system theory developed by Talcott Parsons. The theory explains the four functional requirements, that is latent pattern-maintenance, integration, goal attainment, adaptation as a requirement for the system to survive in a long time. Further descriptive method is used, with data collection through participant observation and in-depth interviews, and the data is written. Informants consisted of administrators and members of the group. The results of the study found that the Operasi Tertib Remaja in 1966 and the elimination of regional language lessons by the education minister of the 1970s was able to immobilize the joints of Javanese literature. Furthermore, emerging awareness group of people to maintain their identity by setting up Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta. The group was able to survive by maintaining system adaptation by uniting themselves with government agencies, have short and long term goals, integrity harmonization that is able to be maintained, and renegeration pattern with internalization value and norm. AbstrakSanggar Sastra Jawa Yogyakarta merupakan sanggar sastra yang fokus pada sastra Jawa di D.I.Yogyakarta. Tujuan penelitian ini adalah menemukan dan menjelaskan pendirian dan sistem Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta yang mampu bertahan dalam kurun waktu lama. Hal itu mengingat banyak sanggar sastra Jawa di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta yang muncul namun tidak dapat bertahan lama. Analisis yang digunakan adalah teori sistem sosial yang dikembangkan Talcott Parsons. Teori tersebut menjelaskan empat kebutuhan fungsional, yaitu latent pattern-maintenance, integration, goal attainment, adaptation sebagai syarat sebuah sistem untuk mampu bertahan hidup dalam kurun waktu yang lama. Selanjutnya digunakan metode deskriptif, dengan pengambilan data melalui observasi terlibat dan wawancara mendalam, serta data-data tertulis. Informan terdiri atas pengurus dan anggota sanggar. Hasil dari penelitian diketahui bahwa Operasi Tertib Remaja tahun 1966 dan penghapusan pelajaran bahasa daerah oleh menteri pendidikan era 1970an mampu melumpuhkan sendi-sendi sastra Jawa. Selanjutnya, timbul kesadaran sekelompok orang untuk mempertahankan identitasnya dengan mendirikan Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta. Sanggar tersebut mampu bertahan dengan memelihara sistem adaptasi dengan menyatukan diri dengan lembaga pemerintahan, memiliki tujuan jangka pendek dan panjang, harmonisasi integritas yang mampu dijaga, serta pola renegerasi dengan internalisasi nilai dan norma.
MENATA DIRI DAN MENEGAKKAN PANCASILA: KAJIAN TERHADAP GEGURITAN DALAM MAJALAH-MAJALAH BERBAHASA JAWA DI YOGYAKARTA PASCA KEMERDEKAAN SAMPAI DENGAN TAHUN 1966 Yohanes Adhi Satiyoko
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.276 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v6i1.270

Abstract

Recognizing Pancasila within Indonesian national and governmental life dynamic activities story could be comprehended through some guritan expression as written and published during postindependence to 1966 era in Javanese magazines, Praba, Kembang Brayan, and Medan Bahasa Basa Djawi. Review to those guritans was conducted using sociology theory by Janet Wolff by presenting social cultural phenomena in postindependence to 1966 era and interpreting content of guritans as written and published at that era. The result shows that the content of the guritans is ideology to as citizens to self reconcile and stand up Pancasila as dasic ideology of Negara Kesatuan Republik Indonesia ABSTRAKMengenal kembali Pancasila dalam dinamika perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia dapat dipahami melalui ekspresi beberapa guritan yang ditulis dan diterbitkan masa pascakemerdekaan  dengan tahun 1966 di majalah berbahasa Jawa, Praba, Kembang Brayan, dan  Medan Bahasa Basa Djawi. Kajian terhadap guritan-guritan tersebut dilakukan dengan teori sosiologi sastra Janet Wolff, yaitu dengan melihat fenomena sosial budaya yang terjadi pada masa pascakemerdekaan sampai dengan tahun 1966 dan menafsirkan isi guritan-guritan yang ditulis dan diterbitkan pada masa itu. Hasil pembacaan terhadap guritan-guritan tersebut menunjukkan sebuah ideologi untuk mengajak masyarakat menata diri dan menegakkan Pancasila sebagai dasar ideologi Negara Kesatuan Repiblik Indonesia.  
POETIC JUSTICE DALAM KARYA-KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO: SEBUAH AJARAN MORAL DALAM MENJALANI HIDUP Diah Ariani Arimbi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 3, No 1 (2014): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v3i1.431

Abstract

Sapardi Djoko Damono or Sapardi is known as one of the greatest poets in the world of Indonesian literature whose works are full of intensity in the quest of moral conduct and moral virtue.  Reading works of Sapardi parallels to read teachings of morality: of how one should live in the world with full moral responsibilities. One major issue Sapardi always tackles in his works is the notion of poetic justice. As a literary device, poetic justice always sees that the right will win in the batttle against the wrong, and eventually truth will prevail.  In the perspective of Martha Nussbaum: a philosopher who believes that literature signifies important position in establishing social justice, poetic justice may function essentially as moral conduct human beings long for. The works of Sapardi will be analyzed using close reading technique as one method in literary reading and analysis. Sapardi’s works, be it his poems, lyrical proses, or short stories propose human struggles in search for truth and social justice. Using poetic justice in scrunitizing the works of Sapardi one can easily understand that in the battle between the virtue versus the vice, the virtue will win and be rewarded while the vice will be defeated and punished, and often virtue will replace vice in ironic twist. Sapardi’s works also show that in the quest of truth, sacrifice is necessary action as through sacrifice transformation from bad to good will take place. Abstrak Sapardi Djoko Damono atau yang dikenal sebagai Sapardi adalah salah satu pujangga besar yang sangat produktif dalam dunia sastra Indonesia. Membaca karya Sapardi seperti membaca pencarian moral karena karyanya, baik puisi, prosa liris, maupun cerita pendek sarat dengan ajaran moral. Salah satu isu utama yang selalu muncul dalam karya Sapardi adalah keadilan puitis, yaitu dalam pertarungan antara kebaikan dan kejahatan pada akhirnya kebaikan dan kebenaran selalu muncul. Itulah yang dikatakan sebagai keadilan puitis (poetic justice) dalam perspektif Marta Nussbaum, seorang filsuf yang selalu menggunakan sastra sebagai sarana dalam membangun keadilan sosial. Dengan menggunakan pemikiran Nussbaum tentang pentingnya sastra sebagai pembentuk ajaran moral dan panduan moral dalam kehidupan seseorang, tulisan ini membedah karya Sapardi, baik yang berupa puisi, prosa liris, maupun cerita pendek. Terbukti bahwa karya Sapardi tidak pernah lepas dari pergulatan manusia dalam mencari kebenaran dan keadilan sosial. Dengan menggunakan metode pembacaan sastra yang dikenal sebagai teknik pembacaan mendalam (close reading technique) tulisan ini akan menggunakan perangkat sastra, yaitu poetic justice yang sering kali muncul melalui pembalikan posisi dari awal yang baik kalah dan menjadi pemenang pada akhirnya dan yang awalnya kejahatan menang tapi kalah pada akhirnya. Melalui karya-karyanya Sapardi mengingatkan kita sebagai pembaca bahwa kebenaran akan selalu menang pada akhirnya dan kebenaran membutuhkan pengorbanan karena melalui pengorbanan itulah transformasi dari yang buruk menjadi yang baik akan terjadi. 
CERITA RAKYAT ”AJI BATARA AGUNG DEWA SAKTI” DAN ”PUTRI KARANG MELENU” DARI KUTAI KARTANEGARA (KAJIAN MOTIF INDEKS THOMPSON) Yudianti Herawati
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 1 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (773.721 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v8i1.928

Abstract

This paper aims to describe motifs of “Aji Batara Agung Dewa Sakti” and “Putri Karang Melenu” folklores from Kutai Kartanegara Kingdom with the Thompson’s motif index approach. This research uses descriptive-qualitative method,it discusses (1) the historical background, (2) the division of motifs, and (3) the similarities and differences in those two folklores. The result shows that they apply eight Thompson’s motifs index revealing similarities and differences of the folklores. Abstrak: Tujuan penelitian ini mendeskripsikan motif cerita rakyat ”Aji Batara Agung Dewa Sakti” dan “Putri Karang Melenu” yang berasal dari Kerajaan Kutai Kartanegara dengan pendekatan teori motif indeks Thompson. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif, sedangkan rumusan masalahnya meliputi (1) bagaimana peristiwa sejarah yang melatar belakangi cerita rakyat; (2) bagaimanakah klasifikasi motif dalam cerita; dan (3) bagaimana pula persamaan dan perbedaan cerita rakyat “Aji Batara Agung Dewa Sakti” dan “Putri Karang Melenu”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif cerita “Aji Batara Agung Dewa Sakti” dan “Putri Karang Melenu” menerapkan motif indeks yang disusun oleh Thompson sehingga kedua cerita rakyat itu memiliki delapan motif cerita. Kedelapan motif tersebut memperlihatkan persamaan dan perbedaan. 
REPRESENTASI PEWAYANGAN MODERN: KAJIAN ANTROPOLOGI SASTRA DALAM NOVEL RAHVAYANA AKU LALA PADAMU KARYA SUJIWO TEJO Diki Febrianto
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 1 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.792 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v8i1.1192

Abstract

This research paper is entitled "Modern Puppet Representation: Anthropological Studies of Literature in Sujiwo Tejo's Rahvayana Aku Lala Novel". The discussion in this article paper is limited to two aspects, namely the representation of world views and representations of elements of culture in general. This study aims to uncover both aspects, which are found in Sujiwo Tejo's novel Rahvayana Aku Lala Padamu. The dDiscussion uses a descriptive- analytical methods by describing a reality followed by analysis. The theory used is representation theory with a literary anthropology approach. The source of this research data is the novel Rahvayana Aku Lala Padamu by Sujiwo Tejo. The form of research data is in the form of a collection of stories that contain cultural elements that experience change. The results of this study are 1) World view: representation of modern wayang (dialogical structure) and social groups in the novel Rahvayana Aku Lala Padamu by Sujiwo Tejo. 2) elements of culture in general: social systems, language and literary systems, and knowledge systems. Abstrak: Penelitian ini berjudul “Representasi Pewayangan Modern: Kajian Antropologi Sastra dalam Novel Rahvayana Aku Lala Padamu karya Sujiwo Tejo”. Pembahasan di dalam artikel ini dibatasi pada dua aspek, yaitu representasi pandangan dunia dan representasi unsur kebudayaan secara umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kedua aspek, yang terdapat dalam novel Rahvayana Aku Lala Padamu karya Sujiwo Tejo. Pembahasan menggunakan metode deskriptif analitik dengan cara memaparkan suatu kenyataan disusul dengan analisis. Teori yang digunakan adalah teori representasi dengan pendekatan antropologi sastra. Sumber data penelitian ini adalah novel Rahvayana Aku Lala Padamu karya Sujiwo Tejo. Wujud data penelitian berupa kumpulan cerita yang mengandung unsur budaya yang mengalami perubahan. Hasil dari penelitian ini terdapat  1) Pandangan dunia: representasi pewayangan modern (struktur dialogis) dan kelompok sosial dalam novel Rahvayana Aku Lala Padamu karya Sujiwo Tejo. 2) unsur kebudayaan secara umum: sistem kemasyarakatan, sistem bahasa dan sastra, dan system pengetahuan. 
KAUM KOMUNIS DAN ISLAM REFORMIS DALAM ROMAN-ROMAN ABDOELXARIM M.S. Dedi Arsa
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 1 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.241 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v8i1.1334

Abstract

In this article, the image of communists and the ideas of reformist Islam is discussed in the two novels of Abdoelxarim, namely Pandoe Anak Boeangan and Hadji Dadjal. Using a neohistorical approach, the author sees the image and views carried by the two novels related to communism and Islamic reformism in the context of its presence amid Indonesian social reality before the Pacific War. The result is the first novel represents an ambivalent image of the communist, i.e. they wants class equality but at the same time maintain ethnic discrimination and also fight for great socialism, but also explain the suffering of personal love life. Meanwhile, the second novel echoes the ideas of Islamic reformists in terms of ijtihad and the use of rational reasoning in religion which is opposing pilgrimage to the graves of saints and sacred scholars such as rejecting the sayyid, habib, and sheikh cults - the Arab cult as the most authoritative translating Islamic teachings. They also revile the practices of haul and festivity for death. The two novels relate to the historical reality of Indonesia before the Pacific War at a time when Islamic reform/ reform was rising in tandem with the emergence of communists in the movement arena. In addition, the novel also relate to Xarim himself who was one of Sumatra's main communist activists and familiar with the absorption of reformist ideas. Abstrak: Dalam artikel ini dibahas citra kaum komunis dan gagasan Islam reformis dalam  dua roman Abdoelxarim, yaitu Pandoe Anak Boeangan dan Hadji Dadjal. Dengan menggunakan pendekatan neohistorisisme, melalui artikel ini penulis melihat citra dan pandangan yang diusung kedua roman itu terkait dengan komunisme dan reformisme Islam dalam konteks kehadirannya di tengah realitas sosial Indonesia sebelum Perang Pasifik. Hasilnya adalah roman pertama merepresentasikan citra komunis yang ambivalen; menginginkan kesetaraan kelas, tetapi pada saat yang bersamaan memelihara diskrimatif etnis; serta memperjuangkan sosialisme yang agung, tetapi juga memaparkan derita percintaan personal. Sementara itu, roman kedua menggemakan ide-ide kaum reformis Islam bersoal ijtihad dan penggunaan akal yang rasional dalam beragama; menentang ziarah ke makam wali dan ulama keramat; menolak kultus sayyid, habib, dan syekh—kultus Arab sebagai yang paling otoritatif menerjemahkan ajaran-ajaran Islam; dan mencerca praktik haul dan kenduri untuk kematian. Kedua roman tersebut berkait dengan realitas historis Indonesia sebelum Perang Pasifik pada saat pembaruan/reformasi Islam sedang menanjak naik beriringan dengan kemunculan kaum komunis di gelanggang pergerakan. Selain itu, roman tersebut berkait juga dengan Xarim sendiri yang merupakan salah seorang aktivis komunis Sumatra yang utama, tetapi juga akrab dengan penyerapan ide-ide kaum reformis.
DEKONSTRUKSI DALAM CERPEN MONOLOG "AKU, PEMBUNUH MUNIR" KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA Ephrilia Noor Fitriana
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 1 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.536 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v8i1.719

Abstract

Abstract: This papper is a study of identifying the explicit meaning of monologue short story entitled "Aku, Pembunuh Munir" by Seno Gumira Ajidarma. The pronlem of the study is denoted through words, phrases and sentences used by the author tend to imply contradictive meanings. The method uses literatute study and deep meaning towards the text applying deconstruction theory by Derrida in order to help elaborate the meaning in wide point of view. The result of the study says that the meaning of text contains contradictive, irony and paradox meanings, consisting: the confession of character "Aku" does not reveal the murderer of Munir. The study concludes that those contradictive, irony and pa radox meanings represent the impression of a satire of Indonesian law which tends to be loose delivered by the author.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi makna eksplisit dari cerpen monolog yang berjudul "Aku, Pembunuh Munir" karya Seno Gumira Ajidarma. Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah makna-makna kontradiktif yang tersirat pada kata-kata, frase, dan kalimat yang digunakan oleh pengarang. Dalam penelitian ini digunakan metode studi literatur serta pemaknaan yang mendalam terhadap teks dengan menerapkan teori dekonstruksi Derrida untuk membantu menguraikan makna secara luas. Hasil penelitian ini adalah makna-makna kontradiktif, ironi, dan paradoks dalam kata-kata yang digunakan oleh pengarang, yaitu pengakuan tokoh "Aku" yang sebenarnya  ti dak menjawab siapa pembunuh Munir yang sesungguhnya. Simpulan penelitian ini adalah pengarang ingin menyampaikan makna-makna kontradiktif, ironi, dan paradoks yang merupakan sindiran terhadap hukum di Indonesia yang dirasa kurang tegas terkait dengan kasus Munir. 
REPRESENTASI HEGEMONI DALAM NOVEL MÉMOIRES D’HADRIEN KARYA MARGUERITE YOURCENAR Laila Fariha Zein; Dadang Sunendar; Tri Indri Hardini
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 1 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.742 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v8i1.1063

Abstract

This writing  aims to analyze and describe the elements of hegemony based on Gramsci's perspective in novel Mémoires d’Hadrien of Marguerite Yourcenar. Gramsci's hegemony is a mastery concept or strategy based on intellectual leadership, moral awareness, and agreement. The method used in this research is the descriptive-qualitative. The instrument used in this research is the bibliographic study and documentation. The population of the research is novel Mémoires d’Hadrien, and the sample of the research is hegemony based on Gramsci's perspective that contained in those work. The result of this research is the types of hegemony, including a) ideological hegemony; b) power hegemony; c) cultural hegemony; d) moral hegemony; and e) economic hegemony. Furthermore, the worldview of the author seems to integrate with the story of the characters in the novel. Abstrak: Penelitian ini difokuskan pada unsur-unsur hegemoni Gramsci pada novel Mémoires d’Hadrien karya Marguerite Yourcenar. Hegemoni Gramsci adalah suatu konsep dan strategi penguasaan berbasis kepemimpinan intelektual dan kesadaran moral yang dilandasi persetujuan. Metode dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-kualitatif. Teknik penelitian ini menggunakan Studi Pustaka dan Studi Dokumentasi. Populasi penelitian ini adalah novel Mémoires d’Hadrien, sedangkan sampel penelitiannya adalah unsur hegemoni yang terdapat pada karya tersebut. Berdasarkan hasil kajian, hegemoni yang muncul meliputi: a) hegemoni ideologi; b) hegemoni kekuasaan; c) hegemoni budaya; d) hegemoni moral; dan e) hegemoni ekonomi. Adapun selanjutnya, pandangan dunia pengarang terlihat berintegrasi dengan cerita tokoh pada novel.
REKONSILIASI TANAH KELAHIRAN DALAM DUA PUISI IMAN BUDHI SANTOSA Yohanes Adhi Satiyoko
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 1 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.113 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v8i1.851

Abstract

This research discusses the effort of reconciliation to the Javanese people view to their land of origin as expressed in the poems “Ziarah Tembuni” and “Ziarah Tanah Jawa” by Iman Budhi Santosa. The problem formulation is how social and cultural phenomena portrayed in those poems “Ziarah Tanah Jawa” and “Ziarah Tembuni” and ideology of its creation. The purpose of the research is to show modernity phenomena as faced by Javanese people in common and show the the ideology as the foundation of the poems creation. The discussion of the problem formulation and the purpose of the research use qualitative method with sociology theory by Janet Wolff. The result shows that those two poetic expressions of “Ziarah Tembuni” and “Ziarah Tanah Jawa” sound to ask reconciliation to remind, love, and realize the origin of the kinship of man-nature in the Javanese social construction. The result of the research concludes that kinship can avoid character of selfish and individualistic. Ideally, people face and experience modernity in life but they have to base it on local culture and tradition of their own country. Abstrak: Penelitian ini membahas tentang usaha merekonsiliasi pandangan masyarakat Jawa modern terhadap tanah kelahiran yang diekspresikan dalam puisi “Ziarah Tembuni” dan “Ziarah Tanah Jawa” karya Iman Budhi Santosa. Masalah penelitian tentang fenomena sosial budaya yang tergambar dalam puisi “Ziarah Tanah Jawa” dan “Ziarah Tembuni” serta ideologi yang melandasi kedua karya puisi tersebut. Tujuan penelitian adalah menunjukkan fenomena modernitas yang dijumpai dalam masyarakat Jawa secara umum dan menunjukkan ideologi yang melandasi penciptaan puisi “Ziarah Tembuni” dan “Ziarah Tanah Jawa”. Pembahasan masalah penelitian dan tujuan penelitian menggunakan metode kualitatif dengan memanfaatkan teori sosiologi Janett Wolff. Hasil penelitian membuktikan bahwa kedua ekspresi puitik dalam“Ziarah Tembuni” dan “Ziarah Tanah Jawa” menjadi ajakan rekonsiliasi untuk mengingat, mencintai, dan menyadari asal-usul kekerabatan manusia-alam dalam konstruksi sosial masyarakat Jawa. Dari hasil penelitian itu dapat disimpulkan bahwa kekerabatan dapat menghindarkan manusia dari sifat egois dan individualis. Diidealkan manusia mengalami modernitas dalam aktivitas kehidupan tetapi tetap berlandaskan pada budaya dan tradisi lokal atau bangsa sendiri.

Page 8 of 22 | Total Record : 218