cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : -
Core Subject : Education,
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan and Pembinan Bahasa, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Struktur dan Corak Novel-Novel Jawa Pra Kemerdekaan Teguh Supriyanto; Esti Sudi Utami
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.006 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v5i2.368

Abstract

Struktur teks novel- novel Jawa Pra Kemerdekaan dibangun dari arkasemem kota –desa. Kota merupakan tempat yang ideal sementara desa tidak ideal. Dengan demikian, alur cerita umumnya memutar dari kota ke desa dan memutar kembali ke kota menuju ke arah yang ideal. Alur cerita dibangun melalui penerobosan medan semantis yang memenuhi ruang ruang artistik. Medan semantis novel novel tersebut umumnya dikonstruksi melalui pasangan oposisi bangsawan - rakyat, laki- perempuan, tampan/cantik-buruk, kaya–miskin. Bangsawan tinggal di kota. Mereka berada di istana serta rumah-rumah mewah. Sementara desa merupakan tempat para petani dan orang orang biasa bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya. Corak novel Jawa Pra Kemerdekaan umumnya istana sentris dengan gaya bahasa perbandingan seperti metafora dan personifikasi. Romantisisme menjadi corak yang menonjol dengan sebaran ideologi yang berorientasi feodalistik dan romantik.
LAKI-LAKI “CANTIK” DI MATA PEREMPUAN: KONSTRUKSI TUBUH SUPERHERO DALAM SASTRA CYBER Irana Astutiningsih
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9382.925 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v2i2.408

Abstract

Jika perspektif feminisme pada umumnya banyak ‘mencurigai’ karya sastra sebagai arena eksploitasi tubuh perempuan oleh laki-laki, dan jika pada perkembangannya perempuan penulis telah cukup berbicara tentang tubuh perempuan seperti banyak tergambar dalam karya sastra2000-an, dalam artikel ini akan dipaparkan bagaimana perempuan berbicara tentang tubuh dan daya tarik seksual laki-laki dalam sastra cyber. Berangkat dari yang dikatakan Viires tentang sastra cyber, artikel ini memaparkan wacana gender dalam sastra cyber; atau lebih spesifik, tentang bagaimana perempuan penulis nonprofesional menkonstruksi tubuh maskulin dan daya tarik seksual laki-laki melalui fiksi yang mereka tulis dan unggah di internet. Uniknya, konstruksi tubuh ini diungkapkan melalui karakterisasi lelaki pecinta sesama jenis yang juga dideskripsikansebagai laki-laki cantik dalam karya fiksi mereka. Jika di dunia rill para perempuan tersebut kerapkali harus menghadapi kendala normatif untuk ‘bebas berbicara’ terkait dengan isu yang dianggap tabu, internet dengan karakteristiknya yang ‘demokratis’ telah membuka peluang bagi mereka untuk berbicara sebagai subjek. Dalam konteks ini, internet memberi kesempatan bagi para perempuan tersebut untuk mengonstruksi fantasi mereka terkait tubuh dan daya tarik lakilaki sesuai yang mereka inginkan melalui karaktesasi homoseksual, sebuah isu yang kerapkali dianggap tabu secara normatif di dunia riil.
MODEL PEMBALIKAN MITOS RANGDA I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyan
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 3, No 1 (2014): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9499.855 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v3i1.432

Abstract

The myth Rangda (Calon Arang) does not only belong to the Balinese. Rangda phenomenon as the destructive force has been successful going through centuries. In this modern era, new force from Rangda that deconstructs Rangda myth emerges. Rangda as the protector force is seen in the novel Janda dari Jirah (2007). This writing shows the writer’s efforts in creating Rangda’s new image creatively. Through this research, it is expected to encourage the writers to produce creative works that source from classic texts. Those texts are found out to contain noble values that are timeless. Several things found in this research are the Buddhist characteristics dominate this novel, which also break the last long perception that the classic text (Calon Arang) reinforces Siva’s teaching. Economic, politic, and social cultural aspects in this novel are also represented inversely from the original text. It can be said that this novel offers renewal with the inversion way as it is said by Riffaterre (1978). AbstrakMitos Rangda (Calon Arang) bukan hanya milik masyarakat Bali. Fenomena Rangda sebagai kekuatan penghancur telah berhasil melewati abad demi abad. Pada zaman modern ini muncul kekuatan baru dari Rangda yang mendekonstruksi mitos Rangda. Rangda sebagai kekuatan pelindung dijumpai dalam novel Janda dari Jirah (2007). Tulisan ini memperlihatkan upaya pengarang di dalam menciptakan imaji baru Rangda secara kreatif. Melalui penelitian ini diharapkan mendorong para pengarang untuk menghasilkan karya kreatif yang bersumber dari teks klasik. Teks tersebut diketahui mengandung nilai luhur yang tidak lekang oleh zaman. Beberapa hal yang ditemukan di dalam penelitian ini, yakni corak keagamaan Buddha mendominasi novel itu sekaligus mematahkan persepsi yang sejak lama bertahan bahwa teks klasik (Calon Arang) menekankan ajaran Siwa. Aspek ekonomi, politik, dan sosial budaya di dalam novel itu juga digambarkan bertolak belakang dari teks aslinya. Dapat dikatakan bahwa novel itu menawarkan pembaruan dengan cara pembalikan sebagaimana disinggung oleh Riffaterre (1978). 
MAGICAL REALISM-LIKE IN SHAKESPEARE'S A MIDSUMMER NIGHT'S DREAM Dio Catur Prasetyohadi; Hat Pujiati; Irana Astutiningsih
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (755.535 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v7i1.508

Abstract

This article uses concepts of magical realism by Wendy B. Faris to analyze Shakespeare's A Midsummer Night's Dream. We analyze elements of magical realism of the work in mapping discourses between the text and the real life. The chosen material object that published earlier than the theory we chose make this work contributes to describe the trace of the civilization development; event of in-betweeness of human consciousness. However, we have found that A Midsummer Night’s Dream is only a magical realism-like mode, since realism is dominant in the text as the trace of modernity. Meanwhile, the characteristics of Magical Realism that is postulated by Faris is in-between realism and fantasy as a trace of transition era; modern to postmodern.Abstrak: Artikel ini menggunakan konsep-konsep realism magis oleh Wendy B. Faris untuk menganalisis “A Midsummer Night’s Dream” karya Shakespeare.  Kami menganalisis elemen-elemen realism magis yang ada dalam karya untuk memetakan wacana-wacana yang ada antara teks dan kenyataan. Pemilihan objek materi yang telah dipublikasi lebih awal dari kelahiran teori yangkami pilih ini berkontribusi untuk menjelaskan jejak perkembanan peradaban Kebudayaan; peristiwa keberantaraan pada kesadaran manusia. Namun demikian, kami menemukan bahwa “A Midsummer Night’s Dream” hanyalah moda tulisan Serupa Realisme Magis, karena dominan teks lebih pada realisme yang merupakan jejak dari modernitas. Sementara syarat realism magis yang ditawarkan Faris adalah keberantaraan realisme dan fantasi sebagai jejak era transisi modern menuju postmodern.
CINDERELLA COMPLEX PADA TEEN LIT “EIFFEL I’M IN LOVE” KARYA RAHMANIA ARUNITA DAN “FAIRISH” KARYA ESTI KINASIH Tania Intan
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 2 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v8i2.1476

Abstract

Cinderella compleks merupakan kecenderungan psikologis [pada perempuan], yang secara konsisten mengalami ketergantungan dan selalu berharap pada perlindungan [dari laki-laki]. Penelitian ini ditujukan untuk mengungkap Cinderella complex yang terinternalisasi pada tokoh perempuan dalam dua teen lit Indonesia yang berjudul Eiffel I’m in Love karya Rahmania Arunita dan Fairish karya Esti Kinasih. Telaah menggunakan pendekatan kritik sastra feminis dan metode deskriptif kualitatif. Konsep teoretis yang diapropriasi adalah psikologi sastra mengenai Cinderella complex dari Dowling, yang dikaitkan dengan gagasan-gagasan posfeminis. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemicu Cinderella complex pada para tokoh perempuan adalah kepribadian yang belum matang, pola pengasuhan otoriter dalam keluarga, dan konsep diri yang rendah. Bentuk Cinderella complex yang terungkap dalam dua novel remaja tersebut di antaranya tokoh perempuan tergantung pada tokoh laki-laki dan mempertahankan sifat manja dan lemah yang diatribusikan sebagai karakter feminin. Dampaknya, tidak terbentuk kemandirian dan kemampuan tokoh perempuan untuk menyelesaikan permasalahan.
WEWANGIAN YANG MENGHANCURKAN TATANAN SIMBOLIK DALAM FILM PERFUME: THE STORY OF A MURDERER (2006) Innezdhe Ayang Marhaeni
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 2 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v8i2.1851

Abstract

Dalam karya seni, fantasi ideologis pengarang dikonstruksi sedemikian rupa oleh tatanan simbolik. Hal ini menunjukkan bahwa diri pengarang atau pencipta karya selalu hadir dalam karya yang dihasilkan, terutama berkenaan dengan muatan ideologi yang dibawa dan merepresentasikan sosial budaya sekitarnya. Demikian pula halnya dengan film. Dalam hal ini, seorang sutradara mampu menghadirkan apa yang disebut Žižek sebagai keterikatan antara narasi dengan gaze subjektifnya. Tindakan radikal yang otentik akan memuat kritik apabila dipengaruhi oleh fakta dalam diri sutradara. Berdasarkan hal tersebut, tulisan ini mempermasalahkan tentang tindakan radikal subjek dalam film Perfume arahan Tom Tykwer dan fantasi ideologis yang ada dalam film Perfume. Metode yang diambil ialah analisis karya secara visual dan tekstual. Kajian ini bertujuan untuk mengemukakan kritik ideologi yang diangkat sebagai realita oleh sutradara. Hal ini dapat dilakukan dengan menganalisis tindakan radikal yang dilakukan oleh subjek dan subjektivitas sutradara yang dipengaruhi dunia simbolik. Dari penelusuran tersebut akan ditemukan fantasi ideologis yang hadir dalam film sebagai bentuk sinisme akan monarki yang menerapkan absolutisme di Perancis pada abad 18.
MERAK, IKAN DAN SINGANDARUNG: CITRA SASTRA MASA PERALIHAN HINDU – ISLAM DI LOMBOK Abdullah Maulani
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 2 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v8i2.1524

Abstract

Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mendiskusikan bagaimana citra sastra petualangan turut berperan penting pada masa peralihan Hindu–Islam dalam struktur masyarakat Lombok. Salah satu contoh karya sastra peralihan yang masyhur di tengah masyarakat Lombok adalah teks Puspakrema. Sedangkan di dunia kesusasteraan Melayu, Hikayat Indraputra populer pada masa peralihan Hindu–Islam sejak abad ke-15. Kedua karya sastra ini termasuk ke dalam genre sastra petualangan Nusantara. Pendekatan sastra bandingan digunakan oleh peneliti untuk menemukan berbagai persamaan dan perbedaan baik struktur maupun motif cerita dalam kedua karya sastra ini. Secara umum, persamaan keduanya sebagai karya sastra petualangan adalah perjalanan tokoh utama demi mencapai tujuan kebaikan bagi sesamanya. Persamaan juga terlihat pada unsur-unsur cerita seperti penggunaan ikan dan burung merak sebagai simbol universal dalam kesusastraan Nusantara. Adapun perbedaan-perbedaan yang ada dalam kedua karya sastra ini seperti adanya tokoh Singandarung atau singa bersayap yang berasal dari tradisi Hindu‑Bali dalam Puspakrema. menunjukkan kesusastraan Islam yang memiliki unsur kesusasteraan Hindu Bali tetap populer di kalangan masyarakat Sasak sebagai bagian dari identitas dan kekayaan khazanah kesusastraan di Lombok.--Abstract: This article aims to discuss how adventurous literary images play an important role in the Hindu-Islamic transition in the structure of Lombok's society. One of the famous classical literature in Lombok is the text of Puspakrema. Whereas in the Malay literary world, Hikayat Indraputra was popular during the Hindu-Islamic transition since the 15th century. Both of these literary works belong to the archipelago adventure literary genre. The comparative literary approach is used by researcher to find various similarities and differences in both the structure and motives of stories in these two literary works. In general, the similarity of the two as adventurous literary works is the journey of the main character in order to achieve the goal of kindness for each other. Similarities can also be seen in story elements such as the use of fish and peacocks as universal symbols in Nusantara literature. As for the differences that exist in these two literary works such as the presence of Singandarung figures or winged lion originating from the Balinese Hindu tradition in Puspakrema shows that Islamic literature has elements of Balinese Hindu literature remains popular among the Sasak people as part of the identity and wealth of literary treasures on Lombok.
SINTREN DARI SUDUT PANDANG SECONDARY ORALITY yeni mulyani supriatin
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 2 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v8i2.1330

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkapkan sintren, sebuah tradisi lisan sebagai primary orality yang bertransformasi dalam bentuk secondary orality. Masalah yang dibahas adalah bagaimana sintren dalam bentuk secondary orality? Apakah benar-benar berubah atau ke luar dari bentuk asalnya? Teori yang digunakan dalam penganalisisan data adalah pendekatan modern dan sudut pandang secondary orality. Metode yang digunakan adalah metode modern dengan teknik perbandingan dan penyimakan. Hasil penelitian menggambarkan bahwa sintren dalam bentuk secondary orality lebih variatif, fungsional, dan lebih menarik, baik dari aspek bentuk maupun tampilannya. Simpulan penelitian ini adalah bahwa secondary orality merupakan satu bentuk penerobosan baru agar sintren sebagai tradisi lisan lebih bertahan, lebih diketahui generasi masa kini, dan lebih bisa menembus zamannya
PANDANGAN LIMA TOKOH PEREMPUAN TERHADAP PERNIKAHAN DALAM NOVEL MENIKAH KARYA JANE MARYAM Mamad Ahmad
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 2 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v8i2.1412

Abstract

AbstrakPernikahan adalah sebuah perbuatan  sakral yang dilakukan oleh dua insan berlainan jenis kelamin untuk hidup bersama secara sah dalam sebuah ikatan batin yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Namun, pada kenyataan banyak diantara kita yang berpandangan bahwa pernikahan dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa harus berlawanan jenis kelamin. Penelitian ini akan membahas pandangan lima tokoh perempuan dalam menyikapi dan memaknai sebuah pernikahan dalam novel “menikah” karya Jane Maryam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pandangan lima tokoh utama perempuan terhadap arti sebuah pernikahan. Penelitian ini menggunakan teori feminisme radikal untuk mengungkapkan pandangan lima tokoh perempuan melalui identifikasi dan interprestasi watak dan karakter lima tokoh perempuan. Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan studi pustaka dan teknik baca catat sebagai metode pengumpulan datanya. Adapun analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dengan teknik interpretatif. Hasil intertpretasi menunjukkan bahwa ada perbedaan yang mendasar tentang arti dan makna sebuah pernikahan dari kelima tokoh perempuan, antara lain pandangan seorang tokoh utama perempuan yang menyatakan bahwa pernikahan itu sebuah hubungan dua insan yang dilakukan dalam sebuah ikatan yang sah tetapi tidak harus berlainan jenis.Kata kunci:pernikahan;pandangan;kritik feminis
METAFORA PERJALANAN DALAM KUMPULAN PUISI SERAH KARYA ERIS RISNANDAR Hera Lyra
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 2 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v8i2.1742

Abstract

Peneliltian ini mengungkap metafora perjalanan yang ada dalam buku kumpulan puisi Serah karya Eris Risnandar. Penelitian ini menggunakan analisis metafora dan analisis simbol dengan memanfaatkan teori hermeneutika Paul Ricoeur. Hasil penelitian terhadap delapan dari 45 puisi dalam buku Serah yang berjudul “Dina Beus”, “Hayang Balik”, “Sabot Ngadagoan”, “Sabot Ngangkleung”, “Di Lampu Merah”, “Sorangeun”, “Réa Tapak”, dan “Mun Seug” menggambarkan pentingnya metafora perjalanan yang menjadi roh keseluruhan isi dan makna puisi sang penyair. Selain itu, melalui metafora perjalanan, satu puisi dan puisi lainnya dalam buku Eris tersebut memiliki hubungan dan ada pada satu napas yang sama.

Page 9 of 22 | Total Record : 218