cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : -
Core Subject : Education,
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan and Pembinan Bahasa, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
GENDER BIAS AS REFLECTED ON UPIN & IPIN THE SERIES Herry Nur Hidayat; Wasana Wasana
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 2 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v8i2.1642

Abstract

This paper describes gender bias as reflected in Upin & Ipin the series. This study employed qualitative research methods in which the objects were observed repeatedly to construct indicators that reflected gender bias. Then it was followed by analyzing them within sociological and feminist perspectives. It showed that there was an imbalance in gender position within several episodes of Upin & Ipin. As one of the media forms that later on becoming an instructional media, it should posit its position neutrally in the term of gender issues. The content of the gender bias in Upin & Ipin reflected within characters and settings. It reflected as the characters articulate their dialogues and behave in their daily life. There was a tendency to determine the ownership of boys and girls based on colors and things. In this case, pink regarded as to belong to girls. Also, there was a tendency to describe that girls and boys behave differently. For example, girls should be gentle and neat, and boys should be strong and brave. In the term of setting, gender bias reflected in the domination of areas that boys dominate outdoor public space while girls are in the domestic sector (households). Abstrak: Artikel ini memaparkan hasil penelitian terhadap serial animasi Upin & Ipin yang memperlihatkan bias gender dalam beberapa episodenya. Sebagai salah satu bentuk media yang kemudian menjadi media pembelajaran seharusnya bisa berposisi netral dalam hal gender. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Objek material diamati secara berulang untuk memperoleh indikator yang menunjukkan bias gender yang kemudian dianalisis dalam kerangka sosiologi dan perspektif feminisme. Hasil penelitian menunjukkan muatan bias gender dalam Upin & Ipin terdapat dalam tokoh dan penokohan serta pembentukan latar. Dalam tokoh dan penokohan serial animasi ini, melalui dialog dan lakuannya, terdapat kecenderungan “kepemilikkan” warna dan benda tertentu. Dalam hal ini, warna merah muda dianggap sebagai warna “milik” perempuan. Di samping itu, terdapat pula kecenderungan sifat dan perilaku perempuan dan laki-laki. Perempuan harus memiliki sifat lembut dan rapi sementara laki-laki harus keras dan berani. Dalam latar cerita, muatan bias gender muncul sebagai bentuk wilayah dominasi perempuan dan laki-laki. Perempuan dibatasi dalam wilayah domestik rumah tangga sementara laki-laki berada di wilayah luar (publik)..
Bentuk-Bentuk Satire Ekologis dalam Kumpulan Puisi Suara Anak Keerom: Tinjauan Ekokritik Grace J.M. Mantiri; Tri Handayani
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 1 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i1.1803

Abstract

The ecological satire is a ecocritical view that is study of critical and satire on environment literature. The satire is the massage delivery medium. Keerom is a area that are environment damage impacts. The problem is the exist of oil palm company. This study aims to describe the forms of ecological satire in the collection of Keerom Children's Voice poems written by students in Keerom. This research used ecocritical approach with discourse analysis method. The research tecniques used data collecting and data analysis. The data collecting tecniques used observation and book view. The data analysis technique through text analysis. The result founds three satire, there are abuse and insult form, nausea, and group or personal demerit telling. AbstrakSatire ekologis merupakan sebuah kajian ekokritik yang mengkaji kritik dan sindiran yang ada pada karya sastra yang berlatar lingkungan. Satire merupakan sarana penyampaian pesan. Keerom merupakan sebuah wilayah yang mengalami dampak kerusakan lingkungan. Penyebabnya adalah adanya perusahaan sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk satire ekologis dalam kumpulan puisi Suara Anak Keerom yang ditulis oleh anak-anak sekolah di Keerom. Penelitian ini memanfaatkan pendekatan ekokritik dengan metode analisis wacana. Teknik penelitian yang digunakan ada dua, yaitu teknik pengumpulan data dan teknik analisis data. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan tinjauan kepustakaan. Teknik analisis data adalah dengan cara analisis teks. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan tiga bentuk satire, yaitu berbentuk cemooh dan nista, perasaan muak, serta menceritakan kekurangan orang atau kelompok.
Transmisi Memori dan Wacana Rekonsiliasi dalam Cerpen “Perempuan Sinting Di Dapur” Karya Ugoran Prasad: Kajian Postmemory Galih Pangestu Jati
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 1 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i1.2265

Abstract

This study aims to explain the structure of memory transmission in the short story "Perempuan Sinting di Dapur" by Ugoran Prasad and the reconciliation discourse offered by the author. Overall, this short story raised the 1965 Event in Indonesia. Ugoran Prasad tried to discuss the impact caused by the incident, both in terms of the perpetrators and victims. The theory used is the postmemory theory developed by Marianne Hirsch. The results of this study indicate that the structure of memory transmission in short stories is mediated by behavior and narratives, both from the perspective of victims and perpetrators. Both of these parties turned out to be equally save the deep trauma that was carried throughout his life. Then, through this short story, Ugoran Prasad presented a discourse of reconciliation to those who had a traumatic impact on the 1965 event, both generations who were traumatized and post-generation. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan struktur transmisi memori dalam cerpen “Perempuan Sinting di Dapur” karya Ugoran Prasad dan wacana rekonsiliasi yang ditawarkan oleh penulis. Secara keseluruhan, cerpen ini mengangkat Peristiwa 1965 di Indonesia. Ugoran Prasad berusaha membahas mengenai dampak yang ditimbulkan dari peristiwa itu, baik dari segi pelaku maupun korban. Adapun teori yang digunakan adalah teori postmemory yang dikembangkan oleh Marianne Hirsch. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa struktur transmisi memori dalam cerpen dimediasi oleh perilaku dan narasi atau cerita, baik dari perspektif korban maupun pelaku. Kedua pihak ini ternyata sama-sama menyimpan trauma mendalam yang dibawa seumur hidupnya. Kemudian, melalui cerpen ini Ugoran Prasad menghadirkan wacana rekonsiliasi kepada pihak-pihak yang berdampak trauma akan Peristiwa 1965, baik generasi yang mengalami trauma maupun post-generation
Kekerasan Simbolik Terhadap Karakter Homoseksual dalam Novel Lelaki Terindah karangan Andrei Aksana Desca Angelianawati
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 1 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i1.1740

Abstract

Homosexuality is a controversial topic in Indonesia because Indonesia is considered as a conservative country concerning one’s sexual preferences. This social phenomenon is binding as it restricts the identity construction of sexual preferences in Indonesia. Relating it to literary arena, this issue is addressed in several Indonesian literatures by Indonesian novelists like Ayu Utami, Djenar Mahesa Ayu, Ratih Kumala and Andrei Aksana. Taking Aksana’s novel Lelaki Terindah as the object of the study, this paper analyses (1) how symbolic violence operates in the novel (2) how this novel resists the hetero-normativity in Indonesia. The library study is taken to deepen the analysis. The finding shows that (1) the form of symbolic violence is represented with the normalisation of the LGBT characters. (2) This novel also challenges the concept of Indonesian heteronormativity by representing the LGBT character and rising the issue about homosexuality in Indonesia. AbstrakHomoseksualitas selalu menjadi topik yang kontroversial di Indonesia karena Indonesia dianggap sebagai negara yang cukup konservatif terutama menyangkut preferensi seksual seseorang. Fenomena sosial ini tentunya bagi sebagian orang dianggap mengikat dan membatasi pilihan seksual seseorang. Dalam kaitannya dengan kesusastraan, tema homoseksualitas ini diangkat oleh beberapa novelis dalam karya sastra mereka, seperti Ayu Utami, Djenar Mahesa Ayu, dan Andrei Aksana. Novel Lelaki Terindah karya Andrei Aksana diambil sebagai obyek studi untuk  penelitian ini dengan menganalisis (1) bentuk kekerasan simbolik dalam novel ini dan (2) bagaimana novel ini menentang heteronormativitas di Indonesia. Melalui metode studi pustaka, peneliti mendapati bahwa (1) bentuk kekerasan simbolik dalam novel Lelaki Terindah direpresentasikan dengan bentuk penormalan identitas seksual pada karakter LGBT. (2) Novel tersebut juga merupakan bentuk penentangan terhadap konsep heteronormativitas di Indonesia dengan menampilkan karakter LGBT dan mengangkat isu mengenai homoseksualitas yang ada di Indonesia. 
HIBRIDITAS POSTKOLONIALISME HOMI K. BHABHA Dalam Novel Midnight’s And Children Salman Rushdie Syihabul Furqon; NFN Busro
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 1 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i1.494

Abstract

Postcolonialism is a branch of the cultural studies that focuses on socio-cultural analysis, including signs and languages. Colonialism had clear implications in the actions of postcolonial society. Homi K. Bhabha found identification that in postcolonialism there emerged what he called as hybridity. Hybridity is a cross-culture (both intrinsic and extrinsic) that appears in society in many forms, one of which is language and attitude. This research will review Salman Rushdie's Midnight’s Children novel to reveal which aspects are hybridities. As a methodological tool, the authors use descriptive analysis (intrinsic-extrinsic). In this study, the authors found a large number of hybridity identifications in the novel Midnight’s Children. Especially in the aspects of identity (especially the formation of the subject), language, and inner struggle of characters in the novel. AbstrakPoskolonialisme merupakan cabang kajian studi budaya yang berfokus pada analisis sosiokultural, termasuk tanda-tanda dan bahasa. Kolonialisme memunculkan implikasi yang terbaca jelas dalam tindakan masyarakat poskolonial. Homi K. Bhabha menemukan identifikasi bahwa dalam poskolonialisme muncul apa yang disebutnya sebagai hibriditas. Hibriditas adalah silang budaya, baik intrinsik maupun ekstrinsik, yang muncul di masyarakat dalam banyak bentuk, seperti bahasa dan sikap. Dalam penelitian ini akan ditinjau novel Midnight’s Children karya Salman Rushdie untuk mengungkapkan aspek mana saja yang merupakan hibriditas. Sebagai alat metodologi, penulis menggunakan analisis deskriptif (intrinsik-ekstrinsik). Dalam penelitian ini penulis menemukan sejumlah identifikasi hibriditas dalam novel Midnight’s Children, terutama dalam aspek identitas (pembentukan subjek), bahasa, serta pergulatan batin tokoh..
Kekerasan, Balas Dendam, dan Pengkambinghitaman dalam Tiga Cerpen Indonesia Novita Dewi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 1 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i1.1755

Abstract

This study aims to investigate the representation of violence, revenge, and scapegoating in three Indonesian short stories, i.e. “Kuli Kontrak” [The Contract Coolie] by Mochtar Lubis, “Tukang Cukur” [The Barber] by Budi Darma, and “Akhir Perjalanan Gozo Yoshimasu” [The End of  Gozo Yoshimasu’s Journey] by Sori Siregar. Content analysis method is applied to read the short stories in light of René Girard’s theory of mimetic desire and sacpegoating. The study reveals that first, violence as repercussion of mimetic desires and rivalry can occur between individuals, individuals to groups, and groups to individuals; and violence is contagious and spreads quickly. Second, revenge which is a direct impact of rivalry in the three short stories takes place on behalf of women, bloodshed, and power; and the most corrosive is power. Third, the scapegoat mechanism in these short stories has different causes and implications; while the similarity is that the scapegoat manifests in the defeated and marginalized personas. They are sacrificed to break the chains of violence and to bring peace.  AbstrakTujuan penelitian ini adalah mengamati representasi kekerasan, balas dendam, dan pengambinghitaman dalam tiga cerpen Indonesia, yaitu “Kuli Kontrak” karya Mochtar Lubis, “Tukang Cukur” karya Budi Darma, dan “Akhir Perjalanan Gozo Yoshimasu” karya Sori Siregar. Metode content analysis digunakan dalam penelitian ini dengan terang teori hasrat mimesis dan kambing hitam dari René Girard. Penelitian ini menghasilkan tiga temuan. Pertama, kekerasan sebagai buntut hasrat mimesis dapat terjadi antarindividu, inividu terhadap kelompok, dan kelompok terhadap individu. Kekerasan bersifat menular serta menyebar dengan cepat. Kedua, aksi balas dendam yang merupakan dampak langsung rivalitas dalam ketiga cerpen terjadi atas nama perempuan, kucuran darah, dan kekuasaan. Dari ketiga hal tersebut yang paling korosif adalah kekuasaan. Ketiga, mekanisme kambing hitam pada ketiga cerpen memiliki penyebab dan siratan yang berbeda-beda, sedangkan persamaannya adalah kambing hitam mewujud dalam diri tokoh-tokoh yang kalah dan terpinggirkan. Mereka dikorbankan untuk memutus rantai kekerasan sehingga dapat membawa perdamaian. 
Opresi Pernikahan Bagi Perempuan dalam Cerpen “Jemari Kiri” Karya Djenar Maesa Ayu Amriani Happe; Ati Murmahyati
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 1 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i1.1828

Abstract

This study aims to discuss the forms of oppression that occur in a marriage. In the short story “Jemari Kiri” by Djenar Maesa Ayu found oppression carried out in a marriage is very detrimental to women. This research uses literature study method and data collection through the reading of the “Jemari Kiri” short story which is conducted to obtain the description of the oppression that occurs in the short story. The data were then analyzed using descriptive methods and feminist theory by linking oppression in marriage and women depicted in the short story “Jemari Kiri”. The results showed that the oppression that occurs in marriage described in the short story “Jemari Kiri” caused women to experience limitations in living their lives as free human beings so that equality of rights between husband and wife was needed to achieve an ideal marriage and provide happiness for both parties. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk membahas bentuk opresi yang terjadi dalam sebuah pernikahan. Dalam cerpen “Jemari Kiri” karya Djenar Maesa Ayu ditemukan opresi dalam pernikahan yang sangat merugikan kaum perempuan. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dan pengumpulan data melalui pembacaan cerpen “Jemari Kiri” yang dilakukan untuk memperoleh gambaran opresi yang terjadi dalam cerpen tersebut. Data kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif dan teori feminis dengan menghubungkan opresi dalam pernikahan dan perempuan yang tergambar dalam cerpen “Jemari Kiri”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa opresi yang terjadi dalam pernikahan yang digambarkan dalam cerpen “Jemari Kiri” menyebabkan perempuan mengalami keterbatasan dalam menjalani kehidupannya sebagai manusia yang bebas sehingga dibutuhkan kesetaraan hak antara suami dan istri untuk mencapai pernikahan yang ideal dan memberikan kebahagiaan bagi kedua belah pihak.
Kappa: Makhluk Mitologis Penjaga Sungai dalam Cerita Rakyat Jepang Ida Ayu Laksmita Sari
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 1 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i1.1956

Abstract

This article discusses one of the Japanese mythological creatures in the youkai category, the kappa which is believed to be river guardians. Data is taken from the anthology of Japanese folklore Mangga Nippon Mukashi Banashi 101 edited by Sayumi Kawauchi. Folklore used as the object of research are two titles that were chosen selectively which are "Kasa Uri Ohana" (Ohana the Umbrella Seller) and "Kappa no Amagoi " (Rain Calling Prayer from Kappa). Data were analyzed with Peirce's semiotic trichotomy theory, namely icons, indices and symbols, and literary anthropological theory. This article concluded three things related to the form of a kappa, where they are believed to be present and the status of kappa in the Japanese belief system. Kappa in Japanese mythology resembles a frog's shape but has scales and has a weakness in its skull. Kappa is believed to live in rivers in Japan. Kappa is present and has a special place in Japanese society's trust, evidenced by the existence of kappa temples. Unlike other Japanese youkai, the kappa is believed that before the form of the kappa he was a god whose rank was demoted, therefore it was believed that he could be begged for rain. The existence of kappa, thus, not only has negative attributes but also positive ones. AbstrakArtikel ini mengkaji sosok kappa, salah satu makhluk mitologis dan gaib Jepang yang masuk kategori youkai (hantu) dan dipercaya sebagai makhluk penjaga sungai. Data diambil dari antologi cerita rakyat Jepang Mangga Nippon Mukashi Banashi 101 dengan editor Sayumi Kawauchi. Cerita rakyat yang digunakan sebagai objek penelitian ada dua judul yang dipilih secara selektif, yaitu “Kasa Uri Ohana” (Ohana si Penjual Payung) dan “Kappa no Amagoi” (‘Doa Pemanggil Hujan dari Kappa). Data dianalisis dengan teori trikotomi semiotika Peirce, yaitu ikon, indeks, dan simbol, serta teori antropologi sastra. Artikel ini menyimpulkan tiga hal, yaitu wujud kappa, tempat mereka dipercaya hadir, dan eksistensi kappa dalam sistem kepercayaan Jepang. Kappa dalam mitologi Jepang menyerupai wujud katak, tetapi bersisik dan memiliki kelemahan di tempurung kepalanya. Makhluk gaib ini dipercaya tinggal dan sekaligus menjadi penjaga sungai-sungai di Jepang. Kappa hadir dan memiliki tempat yang khusus dalam kepercayaan masyarakat Jepang, yang dibuktikan dengan terdapatnya kuil kappa. Tidak seperti youkai Jepang lainnya, kappa dipercaya bahwa sebelum berwujud kappa dia adalah dewa yang derajatnya diturunkan. Oleh karena itu, kappa diyakini bisa dimohon untuk mendatangkan hujan. Dengan demikian, eksistensi kappa tidak saja memiliki atribut negatif, tetapi juga positif.
REPRESENTASI BUDAYA DALAM NOVEL BOENGA ROOS DARI TJIKEMBANG Syihaabul Hudaa; Ahmad Bahtiar; Novi Diah Haryanti; Winci Firdaus
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 1 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i1.3316

Abstract

Novel bukan hanya menyajikan unsur seni, melainkan unsur budaya, sejarah, dan nilai estetik lainnya melalui bahasa. Akan tetapi, tidak semua pembaca menemukan nilai tersebut dan sekadar menikmati cerita yang dituliskan oleh penulisnya. Tujuan penulisan artikel ini untuk menemukan nilai budaya apa saja yang terdapat di dalam novel Boenga Roos dari Tjikembang karya Kwee Tek Hoay yang merupakan keturunan Tionghoa. Penelitian ini termasuk ke dalam jenis kualitatif deskriptif di mana peneliti memaparkan hasil penelitiannya menggunakan teks secara deskriptif. Kemudian, peneliti menggunakan pendekatan di dalam penelitian berupa analisis isi dengan memfokuskan pada novel dengan melakukan kajian objektif. Kajian objektif dipilih karena peneliti dapat menelaah secara mendalam nilai-nilai yang terdapat di dalam novel tersebut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, ditemukan unsur kebudayaan Sunda, Jawa, dan Tionghoa dalam novel Boenga Roos dari Tjikembang.
Antara Ideal dan Utopis dalam Cerpen “Dongeng Tarka dan Sarka”:Telaah Konsep Kebersamaan Jean-Luc Nancy M. Hafidzulloh SM
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 2 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i2.2173

Abstract

The discourse about human existence in the world is a form of dasein communality that forms a certain group. The existence of groups then brings human life in the dimension of Being-In-Common. With the concept of Being-In-Common the subject continues to move and proceed towards an ideal situation. This situation become to the concept of Literary Utopia, where the subjects lives continued to share in togetherness. This part of the meaning of life is possible to lead in ideal conditions, a fantasy of a better life for the future with a sense of brotherhood as the key. Meanwhile, the ideal situation is a condition where the community goes to a dimension that has not yet been perfectly translated, so that a series of processes of division into a utopian step. It's no longer towards the ideal, but the mechanism that makes the lives of subjects share meaning. This condition then becomes the navigation’s subject determined in his ideal life, because if there is no dialectics, then life will be finished and no part of the expected meaning. Short story "Tarka and Sarka" by Yanusa Nugroho illustrates the existence of various meanings in the life of the subject. Internalization of religious values embedded in Tarka and Sarka figures is a form of dialectics that functions as a utopia in life. To analyze this, this study uses Jean-Luc Nancy's social philosophy theory. The results of this study are  1). Exploring the concept of life There-In-Togetherness and;  2). The existence of the conception of Literary Utopia as a process for approaching an ideal life for the subject.Keywords: Being-In-Common, Ideal, Utopia, Jean-Luc Nancy.

Page 10 of 22 | Total Record : 218