cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial
ISSN : 14125153     EISSN : 25028707     DOI : -
Core Subject : Social,
Berbagai hasil penelitian dan kajian model praktik pekerjaan sosial tentang model pelayanan sosial, perlindungan sosial, rehabilitasi sosial, pemberdayaan sosial, pengembangan sosial, dan intervensi praktik pekerjaan sosial dapat dipublikasikan melalui jurnal Peksos ini.
Arjuna Subject : -
Articles 143 Documents
PERAN MASYARAKAT LOKAL DALAM PENANGANAN TINDAK KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA STKS, Windriyati
Pekerjaan Sosial Vol 11, No 1 (2012): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.002 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v11i1.5

Abstract

AbstractThe Role of Community in Handling Domestic Violence. Domestic violence is any form of violence, either physical or non-physical or unlawful deprivation of liberty committed by a person in household. Domestic violence includes acts that violate the dignity and human rights because domestic violence can cause the victim suffered physical injury, phsychological and even result in death. Acts of domestic violence each year increased. In the year 2006 (22.512 cases), four years late in 2010 (101.000 cases, and the impact not only felt by the victim itself, however, other family members will feel discomfort in the family. Therefore, domestic violence must receive immediate treatment, at least from who are the closest to the victim that is community. The method which used is a literary study. Handling of domestic violence is commited by community through a prevention-oriented, victim, offender and its impact. Community is expected to take an active role to assist the government in overcoming the problem of domestic violence. Community’s role in handling domestic violence carried out by local institutions and organizations in their respective areas. Where the execution is accompany by social worker as facilitator. Keywords: domestic violence, role, and facilitator AbstrakKekerasan dalam rumah tangga merupakan segala bentuk tindak kekerasan, baik fisik maupun non-fisik atau pereampasan kemerdekaan secara melawan hokum yang dilakukan oleh seseorang dalam lingkup rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) termasuk tindakan yang melanggar martabat dan hak asasi manusia karena KDRT dapat menyebabkan korban mengalami luka fisik, psikis, bahkan berakibat pada kematian. Tindak KDRT setiap tahun meningkat. Pada tahun 2006 (22.512 kasus) dan empat tahun kemudian tahun 2010 (101.000 kasus), berdampak bukan hanya dirasakan oleh korban saja, akan tetapi anggota keluarga lainnya akan merasakan ketidaknyamanan dalam keluarga. Oleh karena itu KDRT harus segera mendapat penanganan, minimal dari orang terdekat dengan korban yaitu masyarakat. Metoda yang digunakan yaitu studi kepustakaan. Penanganan KDRT yang dilakukan oleh masyarakat antara lain melalui pananganan dengan  berorientasi pada pencegahan korban, pelaku, serta dampak yang ditimbulkan. Masyarakat diharapkan dapat ikut berperan aktif membantu pemerintah dalam menanggulangi masalah KDRT. Peran masyarakat dalam penanganan KDRT dilaksanakan melalui kelembagaan atau organisasi lokal di wilayah masing-masing, dimana dalam pelaksanaannya didampingi oleh pekerja sosial sebagai fasilitator.
COPING STRATEGY PEREMPUAN RAWAN SOSIAL EKONOMI MEMENUHI KEBUTUHAN KELUARGA DI KAMPUNG ADAT CIJERE, RANCAKALONG, SUMEDANG Lubis, Nurhayani
Pekerjaan Sosial Vol 17, No 1 (2018): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.717 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v17i1.128

Abstract

Penelitian ini mengkaji Coping Strategy Perempuan Rawan Sosial Ekonomi (PRSE) pada komunitas adat Cijere, Kabupaten Sumedang, tentang problem focused coping dan emotion focused copingnya. PRSE harus menjalankan peran gandanya,  sebagai ibu dan kepala keluarga memenuhi kebutuhan keluarganya, sementara sebelumnya tidak mengenal dunia kerja, tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan. Sementara persoalan  rumah tangga, pengasuhan dan pendidikan anak juga bukan merupakan hal yang mudah, sehingga dapat menimbulkan tekanan psikologis/stres. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, latar penelitian tertutup dan terbuka dengan informan 3 PRSE warga komunitas adat Cijere, tetangga, dan keluarganya, yang ditentukan secara purposive. Teknik pengumpulan data menggunakan Wawancara Mendalam dan Observasi. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan uji kredibilitas data: Member Check dan Triangulasi, serta teknik analisis data dengan  Reduksi Data, Kategorisasi dan Pengkodean, Display Data dan Kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan Coping strategy informan sudah terbangun,  problem focused coping maupun emotion focused copingnya, yang bentuknya disesuaikan dengan masalahnya dan sumber/potensi yang ada. Dua informan bekerja membantu warga yang membutuhkan tenaganya dan membantu anaknya berjualan sate (En) dan membuat layangan (Ah) serta membangun sikap tidak peduli. Sedangkan informan Kr tidak bekerja, kebutuhannya dipenuhi orangtua dan saudaranya, berencana kerja di luar desa saat kedua anaknya sudah agak besar, bisa ditinggal dengan keluarganya Kata Kunci : Coping Strategy, PRSE, Komunitas Adat
IMPLEMENTASI MODEL TASK-CENTERED PADA RESPONDEN YANG MEMILIKI GANGGUAN KEJIWAAN SKIZOAFEKTIF, POST-PARTUM PSYCHOSIS DAN BABYBLUES SYNDROME DI KOTA BANDUNG Salamah, Umi
Pekerjaan Sosial Vol 15, No 2 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7265.027 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v15i2.86

Abstract

Abstract Task-Centered Models include Cognitive-Behavior Therapy (CBT) and Task-Centered Therapy begins with light Cognitive Therapy  focuses on thoughts, next Behavioral Therapy focus on act and reward application. Behavioural therapy also as a preface into task-centered therapy as conditioning. Comorbid symptoms of anxiety, aggression, and depression are target of changes. Using methods of action research, with Single Subject Design with pattern model of A-B at one baseline period (control) and two intervention period (treatments phase). The purpose of this study is to proof main hypothesis H1 = Task-Centered Models can reduce symptoms of anxiety, aggression and depression of  respondent Y or H0 = Task-Centered Models can not reduce symptoms of anxiety, aggression and depression of respondent Y. Related with research setting, qualitative analysis of the research subjects should also be included. Hypothesis is tested by using the formula of 2 standard deviation (2 SD), visual analysis within and between conditions. Test result shows that the entire hypothesis is accepted  with  and fulfill criterias of visual analysis significant. Its concluded that intervention effectiveness define by motivation, participation and discipline,parent commitment is vital for therapy that demands action and consistency, maintaining cognitive of respondent are essential for reducing stressors of recurrence through recreational activity and positive emotion building.Key words: Psychiatric Social Worker, Psychiatric Disorder, Cognitive-Behavior Therapy, Task- Centered TherapyAbstrak Model Task-Centered meliputi Cognitive-Behaviour Therapy (CBT) dan Terapi Berpusat Tugas (Task-Centered), dimulai oleh Terapi Kognitif ringan yang fokus pada pikiran, kemudian Terapi Behavioral fokus pada kegiatan (tindakan) tujuan dan penentuan bentuk imbalan (rewards). Terapi Behavioural menjadi pengantar terapi berpusat-tugas yang bersifat conditioning. Gejala penyerta anxiety (kegelisahan), aggression (agresifitas), dan depression (depresi) merupakan target perubahan. Pilihan metode penelitian yaitu penelitian tindakan (action research) dengan Desain Subjek Tunggal (Single Subject Design) dengan pola A-B dalam satu periode baseline (kontrol) dan dua periode intervensi (treatment phase). Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan hipotesis utama; H1= task-centered model dapat menurunkan gejala anxiety, aggression dan depression responden Y atau H0= task-centered model tidak dapat menurunkan gejala anxiety, aggression dan depression responden Y. Berkaitan dengan setting penelitian, penjelasan kualitatif cukup penting untuk dilakukan. Secara kuantitatif, pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan rumus 2 standard deviation (2 SD) dan analisis visual dalam kondisi. Berdasarkan hasil pengujian, diperoleh hasil bahwa hipotesis diterima ( ) dan memenuhi kriteria signifikansi dalam analisis visual. Kesimpulan penelitian adalah efektifitas intervensi ditentukan motivasi, peran serta dan tingkat kedisiplinan, komitmen orangtua penting dalam terapi yang menuntut aksi dan konsistensi responden, penekanan kognitif responden menurunkan stressor kekambuhan melalui kegiatan rekreatif dan positive emotion building.Kata kunci: Pekerja Sosial Medis Setting Kesehatan Mental, Gangguan Kejiwaan, Terapi Kognitif-Behavior, Terapi Berpusat Tugas
PENERAPAN TERAPI KELUARGA EKSPERIENTAL DAN TERAPI KELOMPOK SENSITIVITAS TERHADAP PERILAKU HISTRIONIC PERSONALITY DISORDER (HPD) PENYANDANG DISABILITAS TUBUH Rochmat, Cica Annisa Rochmat Annisa
Pekerjaan Sosial Vol 13, No 2 (2014): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (861.136 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v13i2.37

Abstract

Abstract Histrionic Personality Disorder (HPD) behaviour on subject “AG” is a behavioural disorder which shows affectation in daily life to get the attention of others. The aim of this research is to examine and analyse the respondent’s Histrionic Personality Disorder Behaviour, the implementation of experiential family therapy to decrease respondent’s HPD behaviour and the implementation of Sensitivity Group Therapy to decrease respondent’s HPD behaviour. This research has the benefits both theoretical and practical for social work development.The method used in this research is the Single Subject Design N=1. This research used multiple baseline design cross variables model. The data collection technique used observation, interview and documentation study. As for the data source used is primary and secondary data source. The validity test used statistic test with product moment correlation formula from Pearson and reliability test used Alpha Cronbach technique. Furthermore the research result is analysed by using quantitative analysis technique with formula 2 deviation standard.The result shows that the experiential family therapy and sensitivity group therapy implemented on subject can decrease HPD behaviour which include the target speaks loudly/yell, dominate the conversation, shows excessive force talk and overflowing emotions expression. The intervention conducted by using family and group approach.  Keywords: Histrionic Personality Disorder (HPD) behaviour, people with  physical disability, experiential family therapy, sensitivity group  therapy  Abstrak Perilaku Histrionic Personality Disorder (HPD) subjek “AG” adalah gangguan perilaku yang memperlihatkan kepura-puraan dalam kesehariannya untuk mendapatkan perhatian dari orang lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji dan menganalisa perilaku HPD responden, penerapan terapi keluarga eksperiental terhadap penurunan perilaku HPD responden dan penerapan terapi kelompok sensitivitas terhadap penurunan HPD responden. Penelitian ini memiliki manfaat baik secara teoritis maupun praktis bagi perkembangan pekerjaan sosial.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian Single Subject Design (desain subjek tunggal) N=1. Penelitian ini menggunakan model multiple baseline designs cross variables. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Adapun sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Uji validitas menggunakan uji statistik dengan rumus korelasi produt moment dari Pearson dan uji reliabilitas menggunakan teknik Alpha Cronbach. Selanjutnya hasil penelitian ini dianalisis menggunakan teknik analisis kuantitatif, menggunakan rumus 2 standar deviasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi keluarga eksperiental dan terapi kelompok sensitivitas yang dilakukan terhadap subjek dapat menurunkan perilaku HPD yang mencakup target perilaku berbicara keras/berteriak, mendominasi pembicaraan, menunjukkan gaya bicara yang berlebihan serta ekspresi emosi yang meluap-luap. Intervensi dilakukan dengan menggunakan pendekatan keluarga dan kelompok. Kata kunci: perilaku Histrionik Personality Disorder (HPD), penyandang disabilitas tubuh, terapi keluarga eksperiental, terapi kelompok sensitivitas.   
PENERAPAN TERAPI RASIONAL EMOTIF TERHADAP KEPERCAYAAN DIRI PENYANDANG DISABILITAS FISIK DI KOTA BANDUNG ., Lumadi,
Pekerjaan Sosial Vol 16, No 2 (2017): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.625 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v16i2.116

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian untuk memperoleh gambaran secara empiris, sehingga mampu melakukan analisis tentang Terapi Rasional Emotif (TRE) dalam meningkatkan kepercayaan diri penyandang disabilitas fisik pada aspek optimisme dan aspek tanggung jawab terhadap  keputusan dan tindakan bagi subjek penelitian. Metode penelitian menggunakan kuantitatif dengan desain subjek tunggal atau Single Subject Design (SSD). Pencatatan data yang dipakai adalah pencatatan dengan observasi langsung. Uji validitas mengunakan pencatatan kejadian (menghitung frekuensi), dan reliabilitas pengukuran pada subjek dilakukan secara langsung dengan mengandalkan ketelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, angket dan observasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Terapi Rasional Emotif (TRE) yang dilakukan terhadap subjek dapat meningkatkan kepercayaan diri “AG” mencakup aspek optimisme dan aspek tanggung jawab. Indikator perilaku yang dijadikan target behavior adalah canggung, malu, menarik diri, menyapu, mencuci piring, dan memberi makan ternak. Intervensi dilakukan menggunakan Terapi Rasional Emotif (TRE) dengan teknik konseling. Meskipun demikian penting untuk dilakukan pertimbangan yang lebih seksama dalam penerapannya, karena latar sosial budaya subjek penelitian, mempengaruhi faktor keefektifan strategi tersebut. Kata kunci:  kepercayaan diri, penyandang disabilitas fisik, Terapi Rasional Emotif
PENERAPAN FAMILY THERAPY DAN LOGO THERAPY TERHADAP SELF ESTEEM PENYANDANG DISABILITAS TUBUH Hattu, Maxmillian Roberth
Pekerjaan Sosial Vol 15, No 1 (2016): PEKSOS
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.626 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v15i1.65

Abstract

Abstract Self-esteem refers to the belief Disability possessed skills, appreciation of others, their competence, responsibility to self and family responsibilities even others. The purpose of this study was to examine about self esteem of persons with body disabilities through family therapy and logo therapy. If the self-esteem of persons with body disabilities, They are can actualize themselves well, and goodwell social functioning. This study has the benefit, both theoretically and practically to thedevelopment of social work.The method used in the research is Action Research. The data collection techniques used are in-depth interviews, participant observation and documentation study. The subjects in this reseach is "AR" which is built with disabilities ex-Social Rehabilitation Center (BRSPC) Cibabat Cimahi domiciled in Cibiru Wetan village, District Cileunyi Bandung regency. Examination of data validity is tested through Test Credibility, transferability Test, Test and Test confirmability Dependability. Furthermore, th eresults of this study were analyzed using data reduction, data presentation, conclusion and verification.The results showed that family therapy and Logo therapy done to meet the needs of self esteem subject "AR". It is visible from the Respecty our self better, Award of others increases, the better the self competence, responsibility to ourselves, the better, responsibility towards the family and others for the better. Key words: self esteem, person with disabilities, Family Therapy and Logo Therapy  Abstrak Self-esteem merujuk pada keyakinan Penyandang Disabilitas akan keterampilan yang dimiliki, penghargaan dari orang lain, kompetensi yang dimiliki, tanggung jawab terhadap diri sendiri dan tanggung jawab terhadap keluarga bahkan orang lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji tentang self esteem penyandang disabilitas tubuh melalui Family Therapy dan Logo Therapy. Jika self esteem penyandang disabilitas tubuh menjadi baik maka penyandang disabilitas tubuh dapat mengaktualisasikan diri secara baik dan dapat berfungsi sosial secara baik pula. Penelitian ini memiliki manfaat, baik secara teoritis maupun praktis bagi perkembangan pekerjaan sosial.Metode penelitian yang digunakan adalah Action Research. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah “AR” yang merupakan penyandang disabilitas tubuh eks-binaan Balai Rehabilitasi Sosial (BRSPC) Cibabat Cimahi, berdomisili di Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung. Pemeriksaan keabsahan data diuji melalui Uji Credibility, Uji Transferability, Uji Dependability dan Uji Confirmability. Analisis hasil penelitian ini menggunakan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan verifikasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Family Therapy dan Logo Therapy yang dilakukan dapat memenuhi kebutuhan self esteem subjek “AR”. Hal tersebut terlihat dari penghargaan terhadap diri sendiri lebih baik, penghargaan dari orang lain meningkat, kompetensi diri semakin baik, tanggung jawab terhadap diri sendiri semakin baik, tanggung jawab terhadap keluarga dan orang lain menjadi lebih baik. Kata kunci: self esteem, penyandang disabilitas, Family Therapy dan Logo Therapy
MOBILITAS SOSIAL PADA KELOMPOK DEWASA MUDA DI KELURAHAN KALABBIRANG KECAMATAN PATTALLASSANG KABUPATEN TAKALAR Salam, Abd. Muhni
Pekerjaan Sosial Vol 12, No 2 (2013): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.989 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v12i2.28

Abstract

AbstractThis research discussed about young-adulthood social mobility in Kalabbirang. The Research purposes are to obtain data and an overview of: characteristics of informants, channel of social mobility of informants, the support factors of social mobility informants, the inhibiting factors of social mobility informants, and the hope of informants. This study used a qualitative approach with descriptive methods and case study research. Informant numbers are 4 (four) persons who are determined by purposive sampling technique by fitted the criteria and objectives of the research. The results showed that the channel of social mobility that used by young-adulthood for their social mobility are religious institutions, educational institutions, and economic institutions. The support factors that affecting social mobility of young-adults Kalabbirang are structural factors, individual factors, social status, economic situation, political situation, free communication, division of labor, and the ease of access to education. The inhibiting factor of social mobility of young-adults Kalabbirang are poverty, socialization, and different interests. This research showed that young-adulthood social mobility Kalabbirang extremely increasing of social status and allow the other young-adults to do the same. Keywords: social mobility, young-adulthood, social status AbstrakPenelitian ini tentang mobilitas sosial pada kelompok dewasa muda di Kalabbirang. Tujuan penelitian untuk memperoleh data dan gambaran tentang: karakteristik informan, saluran mobilitas sosial informan, faktor pendorong mobilitas sosial informan, faktor penghambat mobilitas sosial informan, dan harapan informan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan jenis penelitian studi kasus. Jumlah informan 4 (empat) orang yang ditentukan dengan teknik purposive sampling agar sesuai dengan kriteria dan tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan saluran mobilitas sosial yang digunakan oleh kelompok dewasa muda untuk melakukan mobilitas sosial adalah lembaga keagamaan, lembaga pendidikan, dan lembaga ekonomi. Faktor pendorong yang mempengaruhi mobilitas sosial dewasa muda Kalabbirang yaitu faktor struktural, faktor individu, status sosial, keadaan ekonomi, situasi politik, komunikasi yang bebas, pembagian kerja, dan kemudahan dalam akses pendidikan. Faktor penghambat mobilitas sosial dewasa muda Kalabbirang yaitu kemiskinan, sosialisasi yang kuat, dan perbedaan kepentingan. Hal ini menunjukkan bahwa mobilitas sosial kelompok dewasa muda Kalabbirang sangat baik dan lancar dan memungkinkan bahwa kelompok dewasa muda yang lain juga melakukannya. Kata kunci: mobilitas sosial, dewasa muda, status sosial
PENINGKATAN KAPASITAS KELOMPOK MASYARAKAT SIAGA BENCANA DALAM MENGURANGI RISIKO BENCANA GUNUNG TANGKUBANPARAHU KABUPATEN BANDUNG BARAT Narra, Saluki
Pekerjaan Sosial Vol 14, No 2 (2015): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.3 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v14i2.51

Abstract

Abstract This research conducted using qualitative approach. As for the design used action research, requires researcher to perform direct practice to KMSB as the research subject.The Aspects of capacity assessment of KMSB in this research cover organization history discussion, organization goals and the assessment of the nature of the better organization with KMSB officials. According to the organization characteristic assessment obtained result that KMSB founded in September 2012 has some weaknesses, namely administration management field, stewardship, activity management and the continuation of KMSB as a social organization in reducing disaster risk at local community.To overcome the weaknesses, activity plan designed with activity implementation through: (1) vision, mission preparation and KMSB work plan, (2) KMSB legalization, (3) Cooperation improvement, (4) Social assistance (5) Socialization of disaster risk reduction. Expected from such activities can be realized the community order in Cikole Village against possibility of Mount Tangkubanparahu disaster.  Keywords:  capacity building, disaster risk, Mount Tangkubanparahu Abstrak Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun desain yang digunakan adalah menggunakan penelitian tindakan, dimana penelitian tindakan menuntut peneliti untuk melakukan praktik langsung terhadap KMSB sebagai subjek yang diteliti.Aspek penilaian kapasitas KMSB dalam penelitian ini meliputi pembahasan sejarah organisasi, tujuan organisasi, serta penilaian terhadap ciri organisasi yang baik bersama pengurus KMSB. Berdasarkan penilaian ciri organisasi, diperoleh hasil bahwa saat ini KMSB yang berdiri sejak September 2012 memiliki beberapa kelemahan yaitu: bidang pengelolaan administrasi, kepengurusan, pengelolaan kegiatan, serta kelanjutan KMSB sebagai organisasi sosial lokal dalam mengurangi risiko bencana.Untuk mengatasi beberapa kelemahan di atas, dirumuskan rencana kegiatan dengan pelaksanaan kegiatan melalui: (1) penyusunan visi, misi, dan rencana kerja KMSB, (2) legalisasi KMSB, (3) peningkatan kerja sama, (4) pendampingan sosial, dan (5) sosialisasi pengurangan risiko bencana. Diharapkan melalui kegiatan tersebut, dapat terwujud satu tatanan masyarakat di Desa Cikole yang siap terhadap kemungkinan terjadi bencana Gunung Tangkubanparahu. Kata kunci: peningkatan kapasitas, risiko bencana, Gunung Tangkubanparahu
PENGEMBANGAN MODEL PEMBERDAYAAN KARANG TARUNA TERPADU DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Putri, Elly Kumari Tjahya
Pekerjaan Sosial Vol 12, No 1 (2013): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.121 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v12i1.19

Abstract

Abstract Youth has opportunity to participate actively in social welfare to tackling social problems in their environment through Karang Taruna (a kind of social organization of youth). Therefore, it is important to empower Karang Taruna so as to promote youth involvement in social welfare. This study using action research metho to find an effectively model to be more empower in the social welfare participation. The study results showed that the Integrated Youth empowerment model was effectively improve the cadre in managerial aspects, succession planning, and professionality in social welfare, as well as in increasing active involvement of community leaders in youth coaching. This study recommend the need for: (1) development of youth recreational activities appropriate to the age level, (2) intensive assistance from the district/city Social Welfare Office, (3) development of networks among  youth with stakeholder agencies such as; Local Manpower Office, Local Commerce Office, and also Social Welfare Office, and (4) development of cooperation network within the scheme of (Corporate Social Responsibility. Keywords : youth empowerment, youth organization, social welfare  Abstrak Remaja mempunyai kesempatan untuk berperan aktif dalam usaha kesejahteraan sosial untuk menanggulangi masalah sosial di lingkungannya melalui wadah Karang Taruna. Oleh sebab itu, Karang Taruna perlu diberdayakan agar mampu mendorong keterlibatan aktif remaja dalam usaha kesejahteraan sosial. Kajian ini menggunakan  penelitian tindakan untuk menemukan metode pemberdayaan Karang Taruna yang efektif, Hasil penelitian menunjukkan bahwa Model pemberdayaan Karang Taruna terpadu  mampu meningkatkan kemampuan kader pengurus Karang Taruna dari aspek manajerial, kaderisasi, serta profesionalitas dalam usaha kesejahteraan sosial, serta meningkatkan keterlibatan aktif tokoh masyarakat dalam pembinaan  Karang Taruna. Dari hasil penelitian direkomendasikan perlunya: (1) pengembangan kegiatan rekreatif remaja sesuai dengan usianya, (2) pembinaan intensif oleh dinas sosial Kabupaten/Kota, (3) pengembangan jaringan kerja antar  Karang Taruna,  maupun dengan instansi terkait sebagai pembina (Dinas Tenaga Kerja, Perdagangan, sosial), dan (4)  pengembangan jejaring kerja sama dengan skema CSR (Corporate Social Responsibility). Kata kunci: pemberdayaan remaja, karang taruna, kesejahteraan sosial
PARTISIPASI PRESSURE GROUP DALAM PROSES PENETAPAN KEBIJAKAN MANAJEMEN PENANGGULANGAN BENCANA DI LEMBAGA PERMASYARAKATAN ANAK KELAS III BANDUNG Muis, Ichwan
Pekerjaan Sosial Vol 17, No 2 (2018): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1007.817 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v17i2.148

Abstract

Abstrak  Penanggulangan bencana di Lembaga Pemasyarakatan Anak Kelas III Bandung belum begitu banyak mendapat perhatian baik dari pemerintah maupun dari pihak terkait lainnya. Hal ini dapat dilihat dari belum adanya kebijakan manajemen penanggulangan bencana di Lembaga Pemasyarakatan Anak Kelas III Bandung. Upaya advokasi perumusan kebijakan telah dilakukan untuk merespon isu permasalahan yang ada. Namun hasil perumusan kebijakan hanya sampai pada tahap konsultasi dimana hasilnya telah melahirkan draft kebijakan manajemen penanggulangan bencana. Hal tersebut tidaklah cukup dalam rangka menyelesaikan permasalahan kebencanaan yang ada. Sehingga selanjutnya peneliti melibatkan partisipasi pressure group dalam proses penetapan kebijakan manajemen penanggulangan bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengujicobakan ide kedalam proses penetapan kebijakan manajemen penanggulangan bencana. Pelibatan pressure group merupakan suatu upaya untuk melakukan pressure terhadap Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan yakni metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian action research. Sumber data yang diperoleh yakni dari pressure group dan pressure target. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, studi dokumentasi, observasi partisipatif, dan focus group discussion. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan melalui uji credibility, uji transferability, uji depenability, dan uji confirmability. Partisipasi pressure group dipilih, karena proses perumusan kebijakan dapat juga dikatakan sebagai suatu proses politik. Banyak aktor yang terlibat dalam proses kebijakan salah satunya yakni pressure group. Aktor-aktor tersebut di dalam proses perumusan kebijakan dapat mempengaruhi satu sama lain. Oleh karena itu pressure group diharapkan dapat memberikan pressure terhadap Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Jawa Barat melalui kegiatan kampanye penanggulangan bencana di Lembaga Pemasyarakatan Anak Kelas III Bandung. Adapun teknik pressure group yang digunakan dalam melakukan pressure yakni teknik lobby dan demonstration. Keberhasilan pelaksanaan kegiatan dapat dilihat dari lahirnya beberapa kebijakan terkait manajemen penanggulangan bencana di Lembaga Pemasyarakatan Anak Kelas III Bandung. Adapun kebijakan tersebut yakni Surat Keputusan Nomor : W.11.PAS.PAS.26.UM.01.01.408 Tahun 2015 Tentang Tim Penanggulangan Bencana Lembaga Pemasyarakatan Anak Kelas III Bandung dan Surat Nomor : W11.PAS.PAS.26-PK.01.08.03387/2015 tentang Permohonan Kerja Sama (Memorandum of Understanding) dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat.  Kata kunci : kebijakan sosial, manajemen penanggulangan bencana, lembaga permasyarakatan anak, pressure group.

Page 1 of 15 | Total Record : 143