cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Siddhayatra: Jurnal Arkeologi
ISSN : 08539030     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Art,
Siddhayatra publishes papers devoted to a broad scope in archaeological research comprises quaternary and prehistory, classical archaeology, colonial archaeology, maritime archaeology, epigraphy, ethnoarchaeology, paleoanthropology, zooarchaeology, geoarchaeology and other applied science related with human past.
Arjuna Subject : -
Articles 137 Documents
Cover depan Siddhayatra Vol. 22 No. 2 November 2017 Rachmawan, Titet Fauzi
Siddhayatra Vol 22, No 2 (2017): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1393.535 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v22i2.103

Abstract

BEBERAPA HASIL AWAL PENELITIAN ARKEOLOGI DI KAWASAN KARS BUKIT BULAN, SAROLANGUN Fauzi, Mohammad Ruly
Siddhayatra Vol 21, No 1 (2016): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (971.602 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v21i1.12

Abstract

Selama ini belum pernah dilakukan suatu penjajakan arkeologis di wilayah kars Bukit Bulan yang termasuk wilayah Kabupaten Sarolangun, Jambi. Penelitian eksploratif berupa survei oleh balai arkeologi palembang menghasilkan sejumlah temuan yang tergolong penting dalam kajian prasejarah di Sumatera. Lima lokasi situs baru ditemukan diantara banyak gua lainnya yang berada di wilayah penelitian. Temuan arkeologi yang berhasil terdata antara lain: gambar cadas, artefak litik khususnya alat obsidian, tembikar serta sisa fauna yang kemungkinan merupakan bekas aktivitas manusia. Temuan gambar cadas warna hitam berupa figur antropomorfik di Gua Sungai Lului dan Gua Kerbau 1 mengisyaratkan tinggalan budaya prasejarah dari petutur Austronesia di wilayah tersebut.
Batu Bergores (Batu Gong) Di Tepi Sungai Mesumai, Jambi Kajian Awal Seni Cadas Prasetyo, Sigit Eko
Siddhayatra Vol 20, No 2 (2015): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1946.976 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v20i2.85

Abstract

Seni cadas telah dikenal manusia sejak zaman prasejarah. Adanya gambar-gambar yang terdapat pada dinding-dinding gua ataupun ukiran-ukiran pada batu alam “meninggalkan pesan” yang masih terlihat hingga kini sebagai data arkeologi. Interpretasi terhadap seni cadas dapat dilakukan dengan pendekatan formal atau informal, namun gabungan dari kedua pendekatan tersebut merupakan cara yang jitu untuk dapat memahami arti seni cadas. Batu Gong yang terdapat di tepian sungai merupakan ukiran pada batu yang hingga kini belum dapat diketahui artinya, baik oleh masyarakat setempat ataupun peneliti. Tulisan ini hanya sampai pada kesimpulan bahwa Batu Gong tersebut merupakan salah satu seni cadas dengan jenis petroglyph
FUNGSI PATIRTHAN DI KABUPATEN GIANYAR, BALI Purwanto, Heri
Siddhayatra Vol 22, No 1 (2017): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1845.842 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v22i1.60

Abstract

Patirthan merupakan salah satu warisan budaya masa lalu. Tulisan ini difokuskan pada empat patirthan yaitu Tirtha Empul, Pura Mengening, Gunung kawi, dan Goa Gajah. Keempat patirthan itu merupakan patirthan kuno yang masih difungsikan oleh masyarakat Bali hingga saat ini. Umumnya tinggalan masa lalu yang tersebar di Bali sebagian besar bersifat living monument. Artinya fungsi yang telah ada sejak masa lalu masih dipertahankan hingga sekarang meskipun ada perubahan-perubahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui fungsi patirthan masa lalu dan masa kini. Metode yang digunakan ialah kajian pustaka, wawancara, dan observasi langsung. Adapun analisis yang digunakan ialah kualitatif dan komparatif. Berdasarkan hasil analisis dapat diperoleh bahwa fungsi patirthan yang sudah ada sejak dulu masih bertahan hingga sekarang dan ada juga fungsi tambahan di masing-masing patirthan. Adapun fungsi tersebut dapat dibagi menjadi tujuh jenis yaitu sebagai tempat upacara pemujaan, sumber air pelengkap upacara, tempat membersihkan diri (melukat), tempat tirthayatra (perjalanan ke tempat suci), sumber air untuk memohon tertentu (seperti kesuburan, keselamatan, awet muda, dan kesembuhan), tempat wisata, serta sumber air bagi masyarakat setempat untuk memenuhi keperluan sehari-hari.
BENDUNGAN WATERVANG: PENGARUH DAN PERKEMBANGAN NYA SAMPAI SAAT INI rahmawan, titet fauzi
Siddhayatra Vol 23, No 1 (2018): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1218.421 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v23i1.128

Abstract

Watervang dam is built by stemming the Kelingi River which divides Lubuk Linggau City. The dam is built for the purpose of developing agriculture and the economy after ethical politics. This paper looks at how the influence of the Watervang Dam on Lubuk Linggau City and its development to date. To see the influence of the survey and the study of dam libraries in the present. This dam consists of dam components, suspension bridges, water reservoirs, water gates, sedimentary buildings, warehouses, rain gauges, and tourism support buildings. The influence of the watervang dam in general to Lubuk Linggau City is the formation of the city's supporting area. This city's economic support area is one of the largest rice producers in South Sumatra until now.
Cover Vol. 21 (2) November 2016 Redaksi, Dewan Redaksi
Siddhayatra Vol 21, No 2 (2016): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.26 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v21i2.18

Abstract

Bentuk Hias Tembikar Di Wilayah Sumbagsel: Kunduran, Lolo Gedang, dan Muak Ornamental Shape Pottery In The Southern Sumatera Region: Lolo Gedang, Muak, and Kunduran Prasetiyo, Muhamad Hadi; Purwanti, Retno
Siddhayatra Vol 22, No 2 (2017): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2356.336 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v22i2.90

Abstract

Abstract. Pottery is a tool made by hands with special skills. Pottery one of the cultural results that began to be known at the time of cultivation in Indonesia. Pottery is a fragile item, because the ingredients and the manufacturing process produce goods that have limited endurance in their use. The varying needs of pottery also indicate the diversity of forms made of produced. Pottery artifacts are often found on archaological sites, either intact or broken in an occasional amount, and are the most dominant artifact findings among other artefact findings. From pottery data may be revealed some aspects of human life supporters, both the maker and the wearer. Research that has been done by archaeology center of south sumatera and the center of national archaeology research and development in sumbagsel region found many decorative pottery such as Kunduran Site, Lolo Gedang, and Muak. From Kunduran 9 decorative pottery, Lolo Gedang 41 decorated pottery, and Muak 11 decorated pottery.
Arkeologi Makam Sultan Muhammad Ali Ternate, Maluku Utara Ali, A Mujib
Siddhayatra Vol 20, No 2 (2015): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2572.171 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v20i2.81

Abstract

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Peneliti menggambarkan tinjauan arkeologis makam Sultan Muhammad Ali yang memerintah Ternate pada awal abad ke-19. Makam Sultan Muhammad Ali terletak tidak jauh dari Kedaton dan Masjid Tua Kesultanan Ternate. Nisannya terbuat dari batu berukuran tinggi 150 cm berhiaskan inskripsi nama dan tahun sebagai monumen yang menjadi penanda eksistensi Sultan Muhammad Ali. Gambar hati terletak antara inskripsi nama dan tahun, serupa gambar hati lambang kesultanan, menyiratkan hubungan erat antara yang dimakamkan dengan Kesultanan Ternate. Sultan Muhammad Ali semasa hidupnya mempunyai perhatian yang cukup besar dalam hal agama Islam dengan membangun Masjid sebagai simbol agama dan Istana yang megah sebagai simbol kerajaan, pada masa pemerintahannya status kesultanan menjadi bagian dari kerajaan Belanda dengan traktat yang ditandatanganinya bersama Belanda, praktis hanya urusan dalam negeri dan keagamaan yang menjadi wewenang kesultanan. Bentuk nisan yang sangat jauh berbeda dengan dengan nisan lainnya serta peletakannya ditempat yang cukup tinggi memperlihatkan posisi seorang pemimpin yang dijunjung tinggi semasa hidupnya
REL KERETA DAN DINAMIKA TAMBANG TIMAH MASA LALU DI PULAU BANGKA: KAJIAN ARKEOLOGI INDUSTRI Fahrozi, Muhamad Nofri
Siddhayatra Vol 23, No 2 (2018): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1920.564 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v23i2.139

Abstract

Artifacts are the main study in archeological studies, from an artifact, archaeologists try to uncover events that took place in the past. This article seeks to do this process by linking it to other information that has been collected so that a description of past events can be obtained. By focusing on the findings of the Rail in Sungailiat, this article seeks to link past events, especially in the Dutch colonial era. From the results of the research, it is hoped that it can be an inspiration for knowledge in the field of history and technology in the past to be a consideration in making policy in the future.
RITUAL ASYEIK SEBAGAI AKULTURASI ANTARA KEBUDAYAAN ISLAM DENGAN KEBUDAYAAN PRA-ISLAM SUKU KERINCI Sunliensyar, Hafiful Hadi
Siddhayatra Vol 21, No 2 (2016): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1323.154 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v21i2.23

Abstract

Penelitian terhadap ritual Asyeik ini bertujuan untuk mengetahui percampuran antara kebudayaan Islam dengan kebudayaan pra Islam Kerinci. Akulturasi ini tercermin dari berbagai benda-benda arkeologi yang digunakan dalam ritual Asyeik serta dari mantra-mantra yang diucapkan. masalah percampuran kebudayaan maka dalam penelitian ini digunakan teori akulturasi. Penelitian ini dilakukan di wilayah kecamatan Siulak dan Siulak Mukai yang dilakukan secara bertahap. Pada tahap observasi dilakukan studi kepustakaan bertujuan untuk mengumpulkan sumber kepustakaan yang diperlukan dan digunakan dalam riset lapangan yaitu wawancara dan observasi. Selanjutnya pada tahap pengolahan data dilakukan analisis data yang telah terhimpun yakni dengan membuat pemerian yang terinci pada unsur-unsur ritual Asyeik baik unsur-unsur kebudayaan Kerinci maupun unsur-unsur kebudayaan Islam dalam ritual Asyeik. Sebagai hasil penelitian diketahui bahwa ritual Asyeik telah berkembang sesuai dengan perkembangan keyakinan masyarakat suku Kerinci. Terdapat banyak unsur-unsur kebudayaan Islam dalam penyelenggaraan ritual Asyeik dilihat dari material yang digunakan dalam upacara.

Page 2 of 14 | Total Record : 137