cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Siddhayatra: Jurnal Arkeologi
ISSN : 08539030     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Art,
Siddhayatra publishes papers devoted to a broad scope in archaeological research comprises quaternary and prehistory, classical archaeology, colonial archaeology, maritime archaeology, epigraphy, ethnoarchaeology, paleoanthropology, zooarchaeology, geoarchaeology and other applied science related with human past.
Arjuna Subject : -
Articles 137 Documents
EFEK ERUPSI SUPER TOBA ~ 73 RIBU TAHUN YANG LALU TERHADAP LINGKUNGAN BERDASARKAN BUKTI TEPRA; SUMBER DARI TERBITAN JURNAL INTERNASIONAL Octavianus Sofian, Harry
Siddhayatra Vol 21, No 1 (2016): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (666.494 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v21i1.16

Abstract

Erupsi super Toba di Sumatera Utara terjadi ~ 73 ribu tahun yang lalu. Letusan ini tercatat merupakan salah satu letusan terbesar pada periode Pleistosen. Letusan yang terjadi telah mempengaruhi perubahan iklim dan lingkungan di dunia pada saat itu. Tulisan ini memaparkan erupsi super Toba berdasarkan bukti-bukti keberadaan tepra yang menjadi penanda kronologi.
Back Cover Siddhayatra Vol. 20 (2) November 2015 Siddhayatra, Jurnal
Siddhayatra Vol 20, No 2 (2015): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.93 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v20i2.88

Abstract

ARKEOLOGI DAN TANTANGANNYA PADA MASA KEMAJUAN TEKNOLOGI INFORMASI Sarjiyanto, Sarjiyanto
Siddhayatra Vol 22, No 1 (2017): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1576.925 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v22i1.63

Abstract

Naskah Dalam masa kemajuan teknologi informasi, arkeologi memiliki tantangan yang cukup berat. Dalam satu sisi kemanjuan teknologi informasi dapat mengikis kelestarian budaya, namun disisi lain, teknologi informasi dapat dijadikan wahana mengembangkan budaya untuk tujuan yang positif. Melalui metode kualitatif deskriptif, persoalan yang terkait dengan budaya dan teknologi informasi dibahas untuk mencapai tujuan. Tujuannya memberikan perspektif tentang peran dan sikap yang harus dilakukan oleh penanggung jawab arkeologi, agar warisan budaya tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan secara positif sesuai zamannya. Hasilnya yang diperoleh berupa perntaaan dan upaya-upaya tentang peran dan sikap yang harus dilakukan arkeologi dalam dalam menjaga kelestarian budaya sesuai perkembangan zaman, agar dapat memperlihatkan bentuk identitas budaya dan berguna membangkitkan rasa kebangsaan.
TULISAN ARAB: PEMBINA TAMADUN ISLAM DI NUSANTARA Cho, Taeyoung
Siddhayatra Vol 23, No 2 (2018): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8663.739 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v23i2.136

Abstract

This paper describes the role of Arabic script on a view of establishing Islamic civilization in Indonesian archipelago. Arabic script, apart from a tool for writing, its characteristic is so intensive to symbolize Islamic civilization. The arrival of Islamic civilization into the archipelago has not only spread the religion, but also influenced the change of social system in which Arabic script wrote the various spheres of Islamic civilization and transferred them into the local communities. The appearance of variant graphemes into the Arabic- based local scripts (Jawi, Pégon, Sérang, and Buri Wolio) is a result from the modification of Arabic script to the local languages for transmitting the elements of Islamic civilization to the contexts of local communities. In other words, Arabic script shifted Indonesian archipelago from the age of Jahiliah to the age of Islamic civilization.
PENELITIAN ASPEK MEGALITIK PADA BATU MEJA DI SITUS DESA WAEYASEL, KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT PROVINSI MALUKU Surbakti, Karyamantha
Siddhayatra Vol 21, No 2 (2016): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.164 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v21i2.21

Abstract

Batu meja dalam khasanah arkeologi dikenal sebagai tinggalan dengan ciri yang mengarah sebagai media pemujaan ataupun altar persembahan. Batu ini hingga sekarang masih terletak insitu di Desa Waeyasel. Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai upaya dalam melihat tinggalan batu meja yang penggunaannya masih menunjukkan tradisi megalitik yaitu pemujaan roh leluhur. Penelitian ini menggunakan tiga cara dalam pengumpulan data yaitu, survei, observasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini adalah pengunaan beberapa sajian di batu meja seperti rokok, makanan dan uang logam dijadikan media sesembahan untuk ritual tertentu oleh masyarakat hingga dewasa ini. Kesimpulan penelitian adalah adanya faktor keselarasan penduduk dengan roh leluhur menyebabkan ritual ini masih terus berlangsung dalam masyarakat setempat.
SUNTINGAN TEKS DAN ANALISIS ISI TEKS PADA NASKAH ULU SUMATERA SELATAN DALAM KOLEKSI PETI PNRI NO 91/3+ Ramadhona, Nuzulur
Siddhayatra Vol 24, No 1 (2019): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1174.449 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v24i1.149

Abstract

Sumatera Selatan telah mengenal tradisi tulis mulai dari Abad VII hingga saat ini dengan ditemukannya artefak beraksara Sanskerta, Arab Melayu, ulu, Jawa, dan Latin. Naskah Ulu merupakan naskah yang banyak berkembang dan tersebar di daerah perdalaman Sumatera Selatan. Naskah Peti 91/3+ merupakan salah satu naskah koleksi PNRI beraksara Ulu dan berdialek Melayu daerah Sumatera Selatan. Masalah penelitian ini yaitu bagaimana Suntingan dan analisis isi naskah Peti No. 91/3+ tersebut. Tujuan penelitian untuk menyunting dan mengetahui isi naskah tersebut. Metode filologi yang digunakan dalam penelitian ini yang menyajikan edisi teks dengan menggambarkan fisik naskah yang akan diteliti. Naskah Peti No.91/3+ berbahan bambu berwarna coklat masih dalam keadaan utuh.Naskah Peti No.91/3+ menceritakan tentang sebuah perjalanan seorang pelaut dan hukum suatu perkara. Naskah ini ditulisan oleh penulis naskah sekitar akhir abad ke 15 atau awal abad ke 16.
EKSPLORASI GEOARKEOLOGI BELITUNG TIMUR, PROVINSI BANGKA-BELITUNG Intan, Fadhlan Syuaib
Siddhayatra Vol 24, No 1 (2019): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3373.729 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v24i1.150

Abstract

Air Belitung Timur, yang menjadi lokasi penelitian, menyimpan banyaktinggalan budaya, salah satunya dari masa Arkeologi Islam, yang sekian lama tak mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan. Hal inilah yang dijadikan dasar permasalahan utama yang mencakup geologi secara umum. Oleh sebab itu, maksud penelitian ini adalah untuk melakukan pemetaan geologi permukaan secara umum sebagai salah satu upaya untuk menyajikan informasi geologi, sedangkan tujuannya adalah untuk mengetahui aspek-aspek geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi yang dikaitkan dengan keberadaan di situs-situs arkeologi wilayah penelitian. Metode penelitian diawali dengan kajian pustaka, survei, analisis, dan interpretasi data lapangan. Pengamatan lingkungan memberikan informasi tentang bentang alamnya terdiri yang dari satuan morfologi dataran, dan satuan morfologi bergelombang lemah. Sungainya berpola Dendritik, Rektangular dan Radial, berstadia Sungai Dewasa-Tua, Sungai Periodik/Permanen, dan Sungai Episodik atau Intermittent. Batuan penyusun berasal dari Formasi Kelapakampit, Formasi Tajam, Aluvial dan Endapan Pantai. Struktur geologi berupa lipatan, sesar, kekar, dan kelurusan. Eksplorasi di Belitung Timur telah menemukan 36 situs Arkeologi Islam.
PEMANFAATAN LINGKUNGAN OLEH MASYARAKAT PENDUKUNG SITUS DI BELITUNG BAGIAN SELATAN Novita, Aryandini; Purnama, Dadang Hikmah
Siddhayatra Vol 24, No 1 (2019): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1752.499 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v24i1.145

Abstract

Tulisan ini membahas tentang hubungan masyarakat pendukung situs dengan lingkungannya di wilayah Belitung bagian selatan berdasarkan hasil penelitian Balai Arkeologi Sumatera Selatan pada tahun 2018. Dalam upaya mencapai tujuan tulisan, penulis menggunakan pendekatan lanskap budaya maritim di mana pengetahuan sejarah dan etnografi diintegrasikan dengan tinggalan-tingalan arkeologi. Hasil penelitian menunjukkan interaksi masyarakat di lokasi penelitian dengan lingkungannya dilakukan dengan cara memanfaatkan sumber daya yang berasal dari dua lingkungan yang berbeda, yaitu laut dan darat. Sumberdaya alam yang tersedia di lokasi penelitian utamanya dimanfaatkan untuk subsistensi dan kelebihan pasokan akan dijual yang hasil penjualan tersebut digunakan untuk membeli barang-barang yang tidak diproduksi oleh masyarakat setempat.
MODERNISASI TEKNOLOGI KERETA API DI SUMATERA BARAT MASA HINDIA BELANDA (1871-1933) Rahman, Aulia
Siddhayatra Vol 24, No 1 (2019): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1118.099 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v24i1.146

Abstract

Ide pembangunan ker eta api dimulai untu k memudah kan pengangkutandan distribusi dari pedalaman Minangkabau ke Pesisir Pantai barat Sumatera. Pengangkutan kopi yang semuaa memakai transportasi tradisional seperti Pedati. Namun, Ide ini terkendala kondisi alam yang berbukit menjadi kendala utama. Setelah berbagai perdebatan akhirnya lahir sebuah bentuk adaptasi pembangunan Jalur-Jalur Kereta Api, Pembangunan stasiun, terowongan, jembatan. Adapatasi yang paling kentara terdapat pada Pembangunan rel bergerigi, Kontruksi bangunan jembatan dan terowongan. Teknologi kereta api di Sumatera Barat yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda mengadaptasi dari kondisi geografis. Keadaan alam yang berbukit-bukit, menjadi kendala utama dalam perluasan jaringan kereta api. Mengatasi kendala itu, diperlukan kontruksi rel kereta api yang sesuai dengan daerah yang memiliki tanjakan yang cukup tinggi. Penyesuaiaan terhadap kondisi alam itu melahirkan 2 tipe kontruksi rel. selain itu, kehadiran teknologi transporasi kereta api di Sumatera Barat awal abad ke 20 memberikan pengaruh pada tatanan sosial, ekonomi, budaya dan pendidikan.
NASKAH INCUNG SASTRA MELAYU KLASIK YANG TERLUPAKAN Surakhman, Muhammad Ali
Siddhayatra Vol 24, No 1 (2019): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1130.332 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v24i1.148

Abstract

Penelitian naskah Incung yang mer upa kan salah satu dari peninggalan kesusastraan Melayu Klasik bertujuan untuk memperoleh gambaran dan informasi tentang kesusastraan Incung yang sudah tidak dikenal lagi oleh masyarakat Kerinci sendiri. Pada gilirannya dapat membantu masyarakat melestari dan mengembangkan kesusastraan klasik ini. Selain itu, dapat memperluas wawasan pengetahuan tentang sastra Incung Kerinci untuk kegiatan bagi pengembangan bahasa, pelajaran muatan lokal, referensi perpustakaan, penelitian dan kontribusi untuk memajukan bahasa dan sastra Indonesia. Ruang lingkup penelitian dibatasi pada naskah sastra Incung, yang masih disimpan sebagai benda-benda pusaka di Kerinci. Di sini tidak semua materi dalam kesusastraan Kerinci dapat disajikan secara lengkap, penyusunannya memperhatikan nilai-nilai keaslian lokal pada naskahnaskah Incung itu sendiri, untuk membuktikan itu kita melakukan pengamatan langsung terhadap naskah sastra Incung, di beberapa ilayah Kabupaten Kerinci, yaitu Rawang, Semurup, dan Koto Tuo, pengamatan dilakukan dengan cara kritis terhadap bentuk grafis aksara Incung dan isi dalam naskah Incung Kerinci, pada tahap berikut dilanjutkan dengan studi kepustakaan melihat dan membandingkan dengan hasil penelitian yang sudah ada sebelumnya. Dari hasil penelitian didapat, salah satu peninggalan peradaban masa silam yang terdapat di Sumatera adalah kesastraan Incung. Bahasa Kerinci Kuno merupakan  bahasa lingua franca suku Kerinci zaman dahulu. Kalau kita simak fonetis yang terdapat dalam naskah-naskah Incung umumnya memakai bahasa Melayu Kuno, merupakan bahagian dari bahasa Melayu zaman lampau yang penyebaran meluas dari Madagaskar sampai ke lautan Fasifik. Tidak dapat disangkal lagi, Sastra Indonesia Lama yang lazim dikenal dengan istilah “Sastra Melayu Klasik”, kedalamnya termasuk juga Sastra Incung Kerinci.

Page 5 of 14 | Total Record : 137