cover
Contact Name
Ahmad Ihwanul Muttaqin
Contact Email
ihwanmuttaqin@gmail.com
Phone
+6285258606162
Journal Mail Official
tarbiyatunaiais@gmail.com
Editorial Address
Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang Jl. Pondok Pesantren Kiai Syarifuddin Kedungjajang
Location
Kab. lumajang,
Jawa timur
INDONESIA
TARBIYATUNA
ISSN : 20856539     EISSN : 24424579     DOI : DOI: 10.36835/tarbiyatuna
Core Subject : Education,
Tarbiyatuna adalah jurnal ilmiah yang memuat artikel-artikel tentang pendidikan Islam, pendidikan Agama Islam dan bahkan manajemen Pendidikan Islam. Dimaksudkan sebagai wahana pemikiran kritis dan terbuka bagi semua kalangan baik akademisi, agamawan, intelektual, mahasiswa dengan spesifikasi kajian dan penelitian di bidang Pendidikan Islam.
Arjuna Subject : -
Articles 127 Documents
Pluralisme Perspektif Pendidikan Islam Muhammad Abdul Halim Sidiq; Rohman Rohman
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 8 No 1 (2015): FEBRUARI
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam sejarah perkembangan agama Islam, diketahui bahwa hijrahnya Nabi ke Madinah dengan tujuan menjamin keamanan masyarakat agamanya serta demi kondisi-kondisi yang dibutuhkan bagi penyiaran agama Islam. Di Madinah, Nabi mengeluarkan sebuah Piagam yang menjamin kebebasan beragama orang-orang Yahudi sebagai suatu komunitas, dengan menekankan kerjasama seerat mungkin antara muslim dengan non muslim untuk bekerjasama demi keamanan mereka bersama. Kecenderungan sekelompok kecil umat Islam yang sering bersikap keras terhadap penganut agama lain menurut Abdurrahman Wahid merupakan proses pendangkalan agama. Proses pendidikan dan dakwah Islam yang cenderung bersifat memusuhi, mencurigai, dan tidak mau mengerti agama lain merupakan faktor lain yang memperburuk hubungan antarumat beragama di Indonesia. Hal ini dilakukan baik oleh mubalig maupun guru-guru di sekolah. Padahal tidak ada ayat atau hadis nabi yang memerintahkan kaum Muslim bersikap keras demikian, apalagi terhadap agama-agama samawi.
Pesantren dan Pembentukan Jalan Hidup Kaum Sufi Urban Muhammad Masyhuri
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 10 No 1 (2017): FEBRUARI
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper explains how the adherents of urban tarekat form sufism that becomes a way of life in their daily life. This study is considered important because the existence of tarekat adherents is often positioned as part of traditional society, which is contrary to aspects of modernity. On the contrary, their current existence is not only widely embraced by the urban community, but also a way of life in responding to modernity. Related to that, the following describes the process of forming the path of life of the three congregation adherents of tarekat communities such as Raden Rahmad Pesantren and Surau Ghautsil Amin in Jember District. Using ethnographic methods that attempt to explain how they learn to live in conjunction, this study will formulate how they seek to renew tradition to modernity, and how they attempt to explain how modernity and tradition are an integral part of one another
Kiai Langgar sebagai Episentrum Pendidikan Islam Masyarakat Desa Meninjo Ranuyoso Lumajang Robiatul Adawiyah; Ahmad Ihwanul Muttaqin
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 13 No 1 (2020): FEBRUARI
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/tarbiyatuna.v13i1.606

Abstract

Artikel ini hendak mengungkapkan peran Kiai Langgar yang dalam berbagai riset tidak banyak diulas dalam berbagai penelitian sebagaimana Kiai Pesantren. Langgar sebagaimana disebutkan dalam berbagai literatur menjadi penyokong dan penguat pendidikan Islam di level akar rumput. Bahkan, langgar menjadi entrypoint masuknya pendidikan Islam untuk masyarakat yang ingin belajar Islam, jauh sebelum pesantren. Penelitian ini dilakukan di Desa Meninjo Kecamatan Ranuyoso Kabupaten Lumajang dengan pendekatan kualitatif untuk memperdalam hasil temuan. Dari hasil penelitian, didapati kesimpulan sebagai Kiai Langgar memiliki peran yang cukup signifikan antara lain sebagai sarana meningkatkan keimanan masyarakat, penjaga moral dan nilai ke-Islaman di masyarakat hingga menjadi gerbang masuknya ilmu pengetahuan Islam yang akhirnya menjadi norma yang disepakati bersama di tengah-tengah masyarakat. Respon masyarakat terhadap peran Kiai Langgar juga beragam. Tetapi keseluruhan masyarakat menjadikan Kiai Langgar sebagai sosok yang sentral dalam berbagai dinamika kehidupan. Peran inilah yang menjadikan Kiai Langgar sebagai episentrum pendidikan Islam. Kata kunci: Kiai langgar, pendidikan Islam
KONSEP GENDER PERSPEKTIF EPISTEMOLOGI PENDIDIKAN ISLAM Zainil Ghulam
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 7 No 2 (2014): AGUSTUS (Terbit secara daring sejak Februari, 2015)
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diskursus gender, secara hisoris sudah ada sejak abad ke 17, akan tetapi kata gender belum ada dalam perbendaharaan kamus besar Bahasa Indonesia. Mengurai teori gender dalam konteks lokalitas pendidikan Islam di Indonesia, hendaknya dibaca sebagai entitas yang berangkaian dengan kekuatan kontrol wacana dan hemegoni. Islam telah memposisikan perempuan sebagai “mitra sejajar” laki-laki. Relasi gender jika dibaca perspektif pendidikan Islam maka tidak bisa dengan teks doktrin Islam yang cenderung misoginis. Ini tidak saja karena Islam lahir di tengah-tengah masyarakat yang dikenal memiliki setting tradisi yang gemar melecehkan perempuan, namun kesimpang-siuran dalam memahami otoritas teks di satu sisi dan dimensi penafsiran disisi lainnya, sering bermuara pada reproduksi wacana yang bertentangan dengan nilai kesetaraan (equality).
Pendidikan Entrepreneurship dalam Pespektif Global Mohammad Darwis
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 9 No 2 (2016): AGUSTUS
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mencoba mengulas tentang pendidikan entrepreneurship dari sudut pandang globalisasi. Entrepreneurship oleh banyak pakar diasumsikan menjadi salah satu tonggak penentu progresifitas dinamika pembangunan suatu bangsa. Dalam konteks Indonesia munculnya ketidak seimbangan antara potensi yang dimiliki dengan kesejahteraan yang diwujudkan ditengarahi oleh banyak pihak disebabkan oleh minimnya entrepreneur yang ada. Untuk itu pendidikan yang memiliki peran penting dalam menggali dan mengembangkan segala potensi fisik, psikis, bakat, minat, keterampilan dan potensi lainnya perlu diarahkan dan disinergikan dengan wacana kebutuhan entrepreneur di negeri ini. Berangkat dari diskursus tersebut tulisan ini mencoba mengulas tentang pendidikan entrepreneurship dalam perspektif global dengan didahului penjabaran terkait teori tentang pendidikan entrepreneurship dan globalisasi. Selanjutnya paparan substantif tentang pendidikan entrepreneurship diulas berangkat dari pandangan UNESCO tentang empat pilar pendidikan yaitu; learning to know atau learning ti think, learning to do, learning to be, dan learning to life together.
Problematika Kebijakan Linierisasi dan Mutasi Guru di Kabupaten Jember Imron Fauzi
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 12 No 1 (2019): FEBRUARI
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/tarbiyatuna.v12i1.351

Abstract

Tulisan ini ingin melihat bagaimana implementasi Undang-Undang No. 14 tahun 2005, Permendiknas No. 16 tahun 2007, serta Permendikbud No. 46 Tahun 2016 yang menuntut setiap guru untuk menjadi tenaga profesional yang berkompetensi dan sesuai dengan kualifikasinya. Karena itu pula, kebijakan Pemerintah Kabupaten Jember yang melakukan mutasi guru hanya karena janji kampanye turut disorot dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan kualitatif berupa studi descriptive dan explorative yang mengungkap fenomena riil yang terjadi di Kabupaten Jember dengan cara wawancara, observasi, serta kajian dokumen berupa informasi valid melalui media cetak dan elektronik. Hasil penelitian ini menemukan bahwa problematika mutasi guru yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Jember diantaranya: pertama, mutasi guru tidak didasarkan pada kebutuhan sekolah (bezetting); kedua, banyak Guru Tidak Tetap (GTT) yang dimutasi lebih jauh dari domisilinya; ketiga, adanya kesenjangan antara proses mutasi guru PNS dengan GTT; keempat, sulitnya adaptasi diantara para guru dengan peserta didik pada tempat mutasi barunya; kelima, realisasi pemberian Surat Penugasan (SP) GTT tidak terlaksana sesuai dengan rencana awal; keenam, adanya kesalahan data mutasi guru dan penentuan tugas mengajar.
Transformasi Pendidikan Pesantren dalam Pembentukan Kepribadian Santri Nur Jamal
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 8 No 2 (2015): AGUSTUS
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan Pesantren pada hakikatnya tumbuh dan berkembang berdasarkan motivasi agama. Tujuan pendidikan pesantren dalam rangka mengefektifkan usaha penyiaran (dakwah) dan pengamalan ajaran agama Islam. Dalam pelaksanaannya, pendidikan Pesantren melakukan proses pembinaan pengetahuan, sikap dan kecakapan yang menyangkut segi keagamaan. Sehingga terbentuknya manusia berbudi luhur (al akhlaqul karimah) dengan amalan agama yang konsisten atau istiqomah. Dengan demikian Pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam secara efektif bertujuan menjadikan santri sebagai manusia yang mempunyai kepribadian khusus, mandiri dan diharapkan menjadi panutan atau suri tauladan umat sekitarnya menuju keridho’an Allah SWT. Oleh karena itu, Pondok Pesantren bertugas untuk mencetak manusia yang benar ahli dalam bidang agama (tafaqquh fiddin), ilmu pengetahuan ke masyarakatan dan berakhlak mulia. Dari sana tertanam pembentukan akhlak yang baik merupakan kekuatan jiwa dari dalam yang mendorong manusia untuk melakukan yang baik dan mencegah perbuatan yang buruk, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar. Dari sini tindak perilaku baik (akhlaq al-karimah) yang akan menjadi watak dan karakter kepribadiannya. Terkait dengan pembentukan kepribadian, terdapat problem santri yang menjadi talok ukur berhasil atau tidaknya pembinaan kepribadian santri. Adapun yang menjadi keberhasilan pembinaan kepribadian santri adalah pola sikap yang ada di pesantren tergurus oleh kondisi dan situasi, perubahan pada sikap terjadi karena pola pikir santri yang berubah semula salafiyah menjadi modern sebagai akibat dari kebedaraan pendidikan formal, meskipun sebenarnya manfaat dari pendidikan formal sangat besar terhadap kemajuan manusia. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa pendidikan formal membawa dampak terhadap kepribadian santri yang tidak selamanya dampak tersebut positif, ada beberapa fakta di lapangan bahwa kepribadian santri salaf dengan kepribadian santri modern berbeda.
Ideologi KH. Abdurrahman Wahid dan Bangunan Pendidikan Multikultural Pasca Tragedi Kebangsaan Siti Qomala Khayati
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 11 No 1 (2018): FEBRUARI
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/tarbiyatuna.v11i1.268

Abstract

Tulisan ini bisa dikatakan sebagai sebuah pengaya kajian pendidikan multikultural yang sudah lama diperbincangkan di Indonesia, melalui cara menampilkan tokoh baru (baca; Gus Dur) yang sejatinya tidak pernah menjadikan pendidikan mutikultural sebagai gagasan pemikirannya. Keberadaan Gus Dur lebih sebagai ideolog pemikiran multikultural. Oleh karena itulah maka, tulisan ini lebih terbentuk pada proses rekonstruktif pemikiran Gus Dur secara general dalam hal keislaman, kebudayaan, dan diskursus ideologis di Indonesia, yang dikontekskan pada dunia pendidikan. Selain itu, secara implementatif, tulisan ini juga akan didesain melalui pendekatan teori sismtem di dalam dunia pendidikan. Agar supaya pemikiran-pemikiran yang tidak spesifik itu menjadi lebih praktis dan bisa dijadikan strategi para guru dalam menjalankan pembelajarannya di lembaga pendidikan. Terakhir, berdasarkan penelitian ini, pelajaran terpenting dari pemikiran cultural dan sikap ideologis Gus Dur, untuk membangun pendidikan berbasis multikulturalisme di Indonesia, berada pada kuatnya Gus Dur berprinsip bahwa Bhinneka Tunggal ika merupakan identitas masyarakat yang tidak bisa dirubah oleh kekuatan politik manapun, Pancasila sebagai landasan ideologis yang wajib dipahami dan dihayati semua kalangan masyarakat di Indonesia, serta berpegang teguh pada aturan main berbangsa dan bernegara di Indonesia apakah itu melalui nilai-nilai kebudayaan dan keagamaan integrative yang hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia serta kandungan subtansial Undang-Undang Dasar Tahun 1945, yang merangkul semua kalangan tanpa membedakan SARA.
The Persepsi Guru Pendidikan Agama Islam tentang Technological Pedagogical Content Knowledge antara MTs Billingual Muslimat dan MTs al-Muawwanah Hakka Ahmadia Mustawa; Munawir Munawir
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 14 No 1 (2021): FEBRUARI
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/tarbiyatuna.v14i1.859

Abstract

This research aims to analyze the perception of teachers in the 21st century in technological pedagogical content knowledge (TPACK). The method in this research is descriptive qualitative. Data collection techniques using observation instruments, interviews, and also surveys through the Googleform application. There were 12 informants in this study consisting of 6 Islamic teachers at MTs al-Muawwanah Sidoarjo and 6 Islamic teachers at MTs Billingual Muslimat NU Sidoarjo. The results of this study indicate that teachers who are in the school have perceptions with good categories in the use of the TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) model. In this study also found that some of these teachers have problems in applying TPACK. The problem depends on the completeness of school facilities and infrastructure.
Telaah Korelasi Sains dan Agama dalam Paradigma Islam Ahmad Munir Saifulloh
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 10 No 2 (2017): AGUSTUS
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wacana sains dan agama sudah cukup lama bergulir . Pertemuan sains dan agama terwujud dalam situasi persahabatan kurang lebih pada abad ke-17. Memasuki abad ke-20 hubungan sains dan agama mengambil beragam bentuk. Temuan-temuan baru sains nyata-nyata menantang doktrin dan gagasan-gagasan keagamaan klasik. Sehingga, responsnya pun beraneka rupa. Misalnya, beberapa kalangan mempertahankan doktrin-doktrin tradisional, beberapa yang lain meninggalkan tradisi, dan beberapa lagi yang merumuskan kembali konsep keagamaan secara ilmiah. Ian G. Barbour mengusulkan empat hubungan yaitu konflik [conflict], perpisahan [independence], dialog - perbincangan [dialogue], dan integrasi-perpaduan [integration]. Sedangkan John F. Haught membagi pendekatan sains dan agama, menjadi pendekatan konflik, pendekatan kontras, pendekatan kontak, dan pendekatan konfirmasi. Agama dan sains, merupakan dua bagian penting dalam kehidupan sejarah umat manusia. Bahkan pertentangan antara agama dan sains tak perlu terjadi jika kita mau belajar mempertemukan ide-ide spiritualitas [agama] dengan sains. Para sarjana Muslim, menekankan bahwa sains dan agama memiliki dasar metafisik yang sama, dan tujuan pengetahuan yang diwahyukan maupun pengetahuan yang di upayakan adalah mengungkapkan ayat-ayat Tuhan dan sifat-sifat-Nya kepada umat manusia. kegiatan ilmiah sebagai bagian dari kewajiban agama, dengan catatan bahwa ia memiliki metodologi dan bahasanya sendiri. Motivasi di balik upaya pencarian ilmu-ilmu kealaman dan ilmu-ilmu matematis adalah upaya untuk mengetahui ayat-ayat Tuhan di alam semesta.

Page 8 of 13 | Total Record : 127