cover
Contact Name
Lalan Ramlan
Contact Email
lalan_ramlan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Seni Makalangan
ISSN : 23555033     EISSN : 27148920     DOI : -
Core Subject : Art,
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 11 No. 1 (2024): " : 9 Documents clear
TARI PEMETIK TEH KARYA PAUL KUSARDY DI SANGGAR VIATIKARA KOTA BANDUNG Faadhilah, Ghina Alya; Suherti, Ocoh
Jurnal Seni Makalangan Vol. 11 No. 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v11i1.3402

Abstract

ABSTRAK Tari Pemetik Teh merupakan salah satu dari 19 hasil karya Paul Kusardy yang diciptakan tahun 1961 di sanggar Viatikara Bandung. Tarian ini menarik perhatian penulis karena merefleksikan kepribadian Indonesia sehingga tarian tersebut memiliki keberagaman budaya. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui struktur tari Pemetik Teh yang menjadi daya tarik secara visual. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan teori struktur tari yang diungkapkan oleh Iyus Rusliana. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan metode studi lapangan terdiri dari observasi dan wawancara, studi pustaka dan studi dokumentasi. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukan karya tari Pemetik Teh ciptaan Paul Kusardy yang memiliki pola pikir kreatif dan inovatif sehingga menghasilkan karya tari yang menarik. Kata Kunci: Tari Pemetik Teh, Struktur Tari, Tari Kreasi Baru, Paul Kusardy. ABSTRACT THE TEA PICKER DANCE BY PAUL KUSARDY AT VIATIKARA STUDIO BANDUNG, JUNE 2024. The Tea Picker Dance is one of 19 works by Paul Kusardy which was created in 1961 at Bandung Viatikara studio. This dance attracted the writer's attention because it reflects the Indonesian personality so that the dance has cultural diversity. The aim of the research is to determine the structure of Tea Picker Dance which is visually attractive. This research uses qualitative research method with the dance structure theory approach by Iyus Rusliana. The data have been collected using a field study method through observation and interviews, literature study, and documentation study. The finding of this research shows that the Tea Picker Dance work created by Paul Kusardy has a creative and innovative mindset resulting in an interesting dance work. Keyword: Tea Picker Dance, Dance Structure, New Creation Dance, Paul Kusardy.
KREATIVITAS DALAM TARI KUKUPU PRODUKSI BADAN KESENIAN INDONESIA TAHUN 1952 Asyari, Pradasta; Sumiati, Lilis
Jurnal Seni Makalangan Vol. 11 No. 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v11i1.3403

Abstract

ABSTRAK Tari Kukupu merupakan salah satu karya tari Badan Kesenian Indonesia (BKI) tahun 1952, yang disajikan oleh sekelompok perempuan yang menggambarkan tentang siklus atau daur hidup kupu-kupu sebagai seekor serangga. Di balik pesonanya, karya ini bukan semata hasil kreasi individual, melainkan buah kolaborasi transdisipliner tiga agen yaitu Raden Tjetje Somantri, Tubagus Oemay Martakusumah, dan Kayat (Soma). Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis dan mengungkapkan proses kerja kreatif dan inovatif penciptaan Tari Kukupu, yang terwujud melalui sinergisitas lintas disipliner. Melalui metode kualitatif pendekatan fenomenologi dengan wawancara mendalam, observasi, dan analisis konten. Tulisan ini memaparkan tentang gaya koreografi Tjetje, estetika kostum Oemay, serta komposisi musik Kayat (Soma) yang saling berkaitan dan berkontribusi dalam menghidupkan Tari Kukupu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiganya telah berhasil menyajikan Tari Kukupu dengan sentuhan dan warna baru yang tetap mempertahankan nilai-nilai dan identitas tradisi Sunda. Karya ini menjadi bukti bahwa tradisi dan modernitas dapat saling melengkapi dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya. Kata Kunci: Kreativitas, Inovasi, Tari Kukupu, Raden Tjetje Somantri, Tubagus Oemay Martakusuma, dan Kayat. ABSTRACT THE CREATIVITY IN KUKUPU DANCE AT THE INDONESIAN ARTS AGENCY IN 1952, JUNE 2024. The Kukupu Dance is one of the dance works of Badan Kesenian Indonesia (BKI) in 1952, which is presented by a group of women which describes the cycle or life cycle of a butterfly as an insect. Behind its charm, this work is not merely the result of individual creation, but also the result of a transdisciplinary collaboration among three agents, namely Raden Tjetje Somantri, Tubagus Oemay Martakusumah, and Kayat (Soma). This article aims to analyze and reveal the creative and innovative work process of creating the Kukupu Dance, which was realized through cross-disciplinary synergy. Through a qualitative method of phenomenological approach, in-depth interviews, observation and content analysis. This article describes Tjetje's choreography style, the aesthetics of Oemay's costumes, and Kayat's (Soma) musical composition which are interrelated and contribute to develop the Kukupu Dance. The results of the research show that the three of them have succeeded in presenting the Kukupu Dance with a new touch and color that still maintains the values and identity of Sundanese tradition. This work is a proof that tradition and modernity may complement each other in maintaining the sustainability of cultural heritage. Keywords: Creativity, Innovation, Kukupu Dance, Raden Tjetje Somantri, Tubagus Oemay Martakusuma, and Kayat.
PROSES KREATIF TARI KONTEMPORER SEBAGAI MEDIA EDUKASI ANAK DI LUAR PENDIDIKAN FORMAL Alfiyanto, Alfiyanto
Jurnal Seni Makalangan Vol. 11 No. 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v11i1.3404

Abstract

ABSTRAK Proses kreatif penciptaan tari kontemporer memiliki peluang untuk menjadi media edukasi di luar pendidikan formal untuk anak-anak. Merealisasikan hal tersebut perlu sebuah data dan uji coba untuk menentukan instrument yang digunakan. Pengumpulan data dilakukan melalui sebuah riset berbasis praktik dan praktik berbasis riset (practice based research, research based practice). Metode Literasi Tubuh dan proses kreatif tari kontemporer dijadikan sebagi instrument untuk menggali kepekaan raga, rasa, pikir, dan imajinasi anak-anak melalui pendekatan seni. Literasi Tubuh menjadi metode untuk menggiring anak-anak ke ranah proses kreatif tari kontemporer. Tari kontemporer sebagai ruang tempat aktualisasi dan mempertajam hasil dari pelatihan Literasi Tubuh. Proses Kreatif tari kontemporer memberikan peluang yang cukup terbuka untuk anak-anak berekspresi, eksplorasi, improvisasi, dan berkreasi. Proses panjang yang dilakukan secara rutin ini akan menciptakan habit baru pada anak-anak, yaitu mental kreatif, percaya diri, meningkatnya daya empati, serta berani menyatakan. Proses tersebut tidak hanya bermanfaat dalam bidang artistik tapi juga memiliki nilai edukasi yang bermanfaat dalam kehidupan mereka saat ini dan ke depannya. Kata Kunci: Media Edukasi, Literasi Tubuh, Tari Kontemporer Anak. ABSTRACT THE CREATIVE PROCESS OF CONTEMPORARY DANCE AS A MEDIUM FOR CHILDREN’S EDUCATION OUTSIDE OF THE FORMAL EDUCATION. The creative process of creating contemporary dance could become an educational medium outside of the formal education for children. It requires data and trials to determine the instrument to be used in order to realize this. Data collection was carried out through practice based research and, research based practice. The Body Literacy method and the creative process of contemporary dance are used to explore the sensitivity of children's body, feel, thought and imagination through an artistic approach. Body Literacy is a method for bringing children into the contemporary dance creative process. Contemporary dance is a space for actualizing and sharpening Body Literacy training results. The creative process of contemporary dance provides open opportunities for children to express, explore, improvise, and create. This lengthy process that is carried out continuesly will create new habits for children, namely creative mentality, self-confidence, increasingly empathy, and the courage to express. This process is not only valuable for the artistic field but also having educational values that is beneficial in their present and future life. Keywords: Educational Media, Body Literacy, Children's Contemporary Dance.
KONSEP INTERPRETASI AWAN SEBAGAI RANGSANG VISUAL DALAM PENCIPTAAN KARYA TARI ’TITI SURYA’ DI KOTA BANDUNG Rosilawati, Riyana; Suparli, Lili
Jurnal Seni Makalangan Vol. 11 No. 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v11i1.3405

Abstract

ABSTRAK Artikel ini menjelaskan tentang penciptaan karya tari kreasi baru ‘Titi Surya’ yang terinspirasi dari awan, dan dijadikan sebagai rangsang visual, serta di dalamnya diinterpretasikan tentang gambaran manusia dalam mengarungi proses kehidupan penuh dengan dinamika, bentuk apapun yang telah digariskan yang Maha Kuasa dilalui dengan sabar, tabah, tawakal, dan ikhlas diterima dengan rasa syukur. Metode kreativitas digunakan dengan melalui tahapan eksplorasi, improvisasi, evaluasi, dan komposisi, yang di dalamnya memunculkan pendekatan konsep interpretasi. Hasil dari karya tari kreasi baru ‘Titi Surya’ ini merupakan karya inovatif yang masih melekat esensi tradisinya, yang dapat disosialisasikan kepada masyarakat luas khususnya kepada generasi muda. Kata Kunci: ‘Titi Surya’, Konsep Interpretasi, Rangsang Visual Awan. ABSTRACT THE CONCEPT OF CLOUD INTERPRETATION AS VISUAL EXCITEMENT IN THE CREATION OF DANCE WORK ‘TITI SURYA’ IN BANDUNG, JUNE 2024. This article explains the creation of the new dance work 'Titi Surya' which is inspired by clouds, and is used as a visual stimulus, and there is an image of humans navigating the life process full of dynamics, various forms which have been outlined by the Almighty, being passed through patiently, steadfast, trusting, and sincerely accepted with gratitude. The creativity method is used through stages of exploration, improvisation, evaluation and composition, which rises to an interpretive concept approach. The result of this new creative dance work '’Titi Surya’ is an innovative work that still has the traditional essence, which can be disseminated to the wider community, especially to the younger generation. Keywords: 'Titi Surya', Interpretation Concept, Visual Stimulus Of Clouds.
KARYA TARI PUNTADEWA Permana, Yana; Kawi, Kawi
Jurnal Seni Makalangan Vol. 11 No. 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v11i1.3406

Abstract

ABSTRAK Karya tari yang berjudul Puntadewa terinspirasi dari cerita epos Mahabarata, mengenai permainan adu dadu berfokus pada tokoh Yudistira yang tergila-gila akan judi tersebut, hasutan dari sengkuni pada permainan yang menjadikannya terlena sehingga memunculkan sifat Yudistira yang tergila-gila terhadap judi yang berakhir kehilangan segalanya. Karya tari Puntadewa berbentuk tari kelompok dikemas dalam tipe tari dramatik dengan pola garap tradisi. Bertujuan menyampaikan pendapat bahwa seni tari tradisi tidak selalu bersifat statis melainkan dinamis, tergantung bagaimana mengkemas tanpa menghilangkan unsur tradisinya. Koreografi yang digunakan bersumber dari gerak-gerak tari wayang yang dikembangkan dengan gerak keseharian yang di stilisasi dan distorsi, seperti gerak adeg-adeg, makutaan, capang, keupat, jangkung ilo, ukel, calik jengkeng, selut, sembada, dan nyawang. Pada karya tari puntadewa terdapat tiga pola adegan yang dibangun diantaranya suasana tenang, amarah, dan penyesalan. Menggunakan pendekatan metode garap Y. Sumandiyo Hadi diantaranya observasi, eksplorasi, dan pembentukan (komposisi). Pesan yang ingin disampaikan dari karya tari ini yaitu sehebat dan sesempurna apapun manusia akan selalu kalah oleh nafsu yang ada dalam dirinya sendiri, seharusnya diri yang mengendalikan nafsu bukan diri yang dikendalikan nafsu. Kata Kunci: Puntadewa, Mahabharata, Dramatik, Tradisi. ABSTRACT THE DANCE WORK “PUNTADEWA”, JUNE 2024. The dance work entitled Puntadewa was inspired by the Mahabarata epic story, about the dice game focused on the character Yudistira who was crazy about the gambling, the incitement from Sengkuni in the game that made him complacent so that it raised Yudistira’s character who was crazy about the gambling which ended in loss of everything. Puntadewa dance work is a form of group dance which is packaged in a dramatic dance type with a traditional working pattern. It aims to express the opinion that traditional dance is not always static but dynamic as well, depending on how to pack it without losing its traditional elements. The choreography is sourced from the motions of puppet dance which are developed with stilized and distorted daily movements, such as the movements of adeg-adeg, makutaan, capang, keupat, jangkung ilo, ukel, calik jengkeng, selut, sembada, and nyawang. In the Puntadewa dance work there are three scene patterns, among others are silent atmosphere, anger, and regret. The research uses work method approach by Y. Sumandiyo Hadi namely observation, exploration, and formation (composition). The message to be conveyed from this dance work is that as great and as perfect as any human will always be defeated by their own lust, it should be their mind that controls the lust and not their mind controlled by the lust. Keywords: Puntadewa, Mahabharata, Dramatic, Tradition.
UPAYA PENYEBARAN NILAI NILAI KARAKTER PADA TARI KÉLANGAN Hadisuroso, Wahyu; Adji, Muhamad; Muhtaddin, Teddi
Jurnal Seni Makalangan Vol. 11 No. 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v11i1.3407

Abstract

ABSTRAK Kondisi sosial sebagian masyarakat khususnya kaum muda terindikasi sedang kehilangan jatidiri, akibat bergesernya nilai-nilai hidup yang hakiki dan adanya pengaruh budaya luar. Penelitian ini membahas tentang upaya penyebaran nilai-nilai karakter pada tari Kélangan. Melalui teori Resepsi Encoding-Decoding Stuart Hall, bertujuan mendeskripsikan bagaimana proses penyebaran nilai-nilai karakter pada tari Kélangan dan bagaimana khalayak memaknai gagasan tesebut. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitiatif berdasarkan metode Bogdan dan Taylor. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Sumber data terdiri dari data primer berupa hasil wawancara dan data sekunder berupa catatan, buku, tesis, jurnal, foto dan video dan data lapangan. Tujuan penelitian menunjukan nilai-nilai karakter pada tari Kélangan antara lain nilai religius, disiplin, tanggung jawab, kerjasama, toleransi, sopan santun dan kewaspadaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan audiens/khalayak terhadap upaya penyebaran nilai-nilai karakter pada tari Kélangan beragam: (1) sebagian besar menerima secara utuh wacana yang disebarkan oleh pencipta tari; (2) sebagian lagi menerima, namun menyandinya dengan makna yang berbeda dan (3) audiens/khalayak menolak sama sekali wacana tersebut dan menyandinya dengan caranya sendiri. Kata Kunci: Kondisi Sosial, Tari Kélangan, Nilai Karakter, Resepsi Audiens/Khalayak. ABSTRACT THE EFFORTS TO DISSEMINATE CHARACTER VALUES ON KÉLANGAN DANCE, JUNE 2024. The social conditions of some people, especially young people are indicated to be losing identity, due to the shifting of essential life values and external cultural influences. This research discusses efforts to disseminate character values in the Kélangan dance. Through Stuart Hall's Encoding-Decoding reception theory, the research aims to describe how the process of spreading character values in the Kélangan dance and how the audience interpreted the idea. This research is a qualitiative descriptive based on the Bogdan and Taylor methods. The techniques of collecting data through observation, interviews and documentation. Data sources consist of primary data in the form of interview results and secondary data in the form of notes, books, thesis, journals, photos and videos, and field data. The purpose of the study shows character values in the Kélangan dance, among others, religious values, discipline, responsibility, co-operation, tolerance, courtesy and vigilance. The results of the research show that the interpretation of the audience towards the efforts to spread the character values in the Kélangan dance is varied: (1) mostly received the discourse that was distributed by the creator of the dance; (2) Some accepted, but signed it with different meanings and (3) Audience rejected the discourse and signed it in their own way. Keywords: Social Condition, Kélangan Dance, Characteristic Values, Audience Reception.
IDHA JIPO SEBAGAI PENARI VOKAL DALAM PERTUNJUKAN BAJIDORAN DI KOTA BANDUNG Martiasyah, Agung Rizki; Ramlan, Lalan
Jurnal Seni Makalangan Vol. 11 No. 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v11i1.3408

Abstract

ABSTRAK Penari vokal merupakan sebuah istilah yang muncul dalam perkembangan kesenian Bajidoran, yaitu penari tunggal yang mengawali tarian dalam pertunjukan serta memiliki daya tarik untuk mengundang perhatian penonton potensial (bajidor) yang menyaksikan serta memberikan uang sawéran. Idha Jipo sebagai penari vokal kehadirannya dalam mencug memiliki kekhasannya tersendiri yang memberi warna, sehingga membuat pertunjukan ini selalu menarik dan tak lekang oleh waktu. Fenomena inilah yang menjadi daya tarik, sehingga penelitian ini difokuskan pada permasalahan kreativitas kepenarian Idha Jipo dalam mencug sebagai penari vokal pada pertunjukan Bajidoran di Kota Bandung. Berdasarkan pada fokus permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan konsep pemikiran kreativitas 4P menurut Rhodes yaitu; Person, Press, Process, dan Product. Sejalan dengan konsep pemikiran tersebut, sehingga metode yang digunakan adalah metode kualitatif melalui pendekatan deskriptif analisis, dengan langkah-langkah; studi pustaka, studi lapangan, dan analisis data. Adapun penelitian ini menghasilkan informasi akademik mengenai keberhasilan yang dicapai oleh Idha Jipo dalam kariernya sebagai penari vokal yang menggunakan konstruksi tari; bukaan, pencugan, nibakeun, dan mincid ketika mencug dengan menggunakan pengolahan teknik ngigelkeun lagu. Gaya penyajiannya seperti itu telah menjadi identitasnya yang mempribadi, sehingga eksistensinya dapat dipertahankan hingga saat ini dan tetap diapresiasi oleh para bajidor baik di Bandung, Subang maupun Karawang. Kata Kunci: Idha Jipo, Penari Vokal, Mencug, Kreativitas, Bajidoran. ABSTRACT IDA JIPO AS A VOCAL DANCER IN BAJIDORAN PERFORMANCE IN BANDUNG, JUNE 2024. Vocal dancer is a term that emerged in the development of Bajidoran art, namely a single dancer who starts the dance in a performance and has the allure to attract the attention of potential audiences (bajidor) who watch and give money as sawéran. Idha Jipo, as a vocal dancer, has her own unique presence in mencug to make the performance always interesting and timeless. This phenomenon has been an attraction, so this research focuses on the problem of Idha Jipo's dancing creativity in mencug as a vocal dancer at the Bajidoran performance in Bandung. Based on the focus of the problem, this research uses the 4P creativity thinking concept approach by Rhodes, namely; Person, Press, Process, and Product. In line with this concept of thought, the method used is a qualitative method through a descriptive analysis approach, with these steps; literature study, field study, and data analysis. This research produces academic information regarding the success achieved by Idha Jipo in her career as a vocal dancer using dance constructions; bukaan, pencugan, nibakeun, and mincid when mencug using the processing technique of ngigelkeun lagu. This style of presentation has become her personal identity, so that her existence can be maintained to this day and is still appreciated by bajidor in Bandung, Subang and Karawang. Keywords: Idha Jipo, Vocal Dancer, Mencug, Creativity, Bajidoran.
IBING GAPLEK TEPAK JAIPONG NAEK GOYANG KARAWANG PADA TOPENG BANJET SEKARWATI BASKOM GROUP Dadang, Dadang; Nuriawati, Risa
Jurnal Seni Makalangan Vol. 11 No. 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v11i1.3409

Abstract

ABSTRAK Ibing Gaplek Tepak Jaipong Naek Goyang Karawang adalah sebuah tarian yang ada pada kesenian Topeng Banjet Baskom. Tarian ini disajikan oleh tiga penari atau tarian rampak. Ibing Gaplek ini diciptakan untuk menggambarkan seorang ronggeng pada saat memberi kode melalui gerakan atau geolan kepada para kaum laki-laki yang ingin menari bersama. Adapun metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis melaui langkah-langkah penelitian meliputi; studi pustaka, studi lapangan meliputi; wawancara, observasi, dokumentasi, dan analisis data. Untuk menguraikan permasalahan penelitian tersebut, maka penulis menggunakan landasan konsep pemikiran mengenai struktur tari yang dikemukakan oleh Iyus Rusliana. Hasil dari penelitian ini merupakan deskriptif mengenai bentuk meliputi; penyajian, koreografi, karawitan, rias busana, properti, dan setting panggung. Berkaitan dengan Isi antara lain; latar belakang cerita, gambaran dan tema, nama atau judul tarian, karakter dan unsur filosofi. Adapun temuan ciri khas dari gerakan Ibing Gaplek yaitu; geol kanan kiri, geol gibrig, dan geol handap ajul gedang. Kata Kunci: Topeng Banjet Baskom, Struktur Tari, Ibing Gaplek, Tepak Jaipong Naek Goyang Karawang. ABSTRACT IBING GAPLEK TEPAK JAIPONG NAEK GOYANG KARAWANG ON THE BANJET MASK OF SEKARWATI BASKOM GROUP, JUNE 2024. Ibing Gaplek Tepak Jaipong Naek Goyang Karawang is a dance that exists in the Baskom Banjet Mask dance. The dance is presented by three dancers or called as rampak dance. This Ibing Gaplek was created to depict a ronggeng when giving codes through movement or geolan to the men who wish to dance together. The research uses a qualitative method with a descriptive analysis approach through research phases namely; literature study, field studies including; interviews, observation, documentation, and data analysis. To describe the research problem, the writer uses the basic concept of dance structure by Iyus Rusliana. The result of this study is a description on a dance form including: presentation, choreography, karawitan (music), fashion make-up, properties, and stage setting. Meanwhile related to the contents, among others; story background, description and theme, dance name or title, character and philosopichal elements. The findings of the characteristic of the Ibing Gaplek movements are: right and left geol, geol gibrig and geol handap ajul gedang. Keywords: Baskom Banjet Mask, Dance Structure, Ibing Gaplek, Tepak Jaipong Naek Goyang Karawang.
IBING KALANGENAN DI KALANGAN KAUM SOMAH DALAM TAYUB BALANDONGAN Jatnika, Asep; Hadi, Sopian
Jurnal Seni Makalangan Vol. 11 No. 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v11i1.3410

Abstract

ABSTRAK Tayub balandongan sebagai ibing kalangenan yang menjadi ikon daerah Situraja Sumedang Jawa Barat. Ada dua jenis ibing tayub, diantaranya tayub menak dikenal dengan istilah tayub pendopo dan tayub somah atau tayub liar dengan istilah tayub balandongan. Tayub menak penarinya merupakan para bangsawan karena ada suatu keharusan sebagai salah satu syarat untuk menjadi seorang bangsawan yaitu terampil ibing tayub, karena tampil menari dalam peristiwa tayuban sebagai identitas sosial bagi menak. Sedangkan tayub balandongan pelakunya merupakan masyarakat biasa yang dikenal kaum somah yang meniru kebiasaan menak. Mereka memiliki anggapan bahwa bangsawan atau menak merupakan panutan bagi masyarakat sehingga pola perilaku dan kebiasannya harus ditiru, salah satunya yaitu ngibing dengan ronggeng di Balandongan. Balandongan merupakan arena pertunjukan tayuban yang letaknya di luar gedung (out door), dan peran ronggeng dalam peristiwa tayuban mempunyai daya pikat yang luar biasa sebagai roh dalam pertunjukan ibing tayub balandongan. Kata Kunci: Ibing Tayub Balandongan, Kalangenan, Ronggeng. ABSTRACT IBING KALANGENAN IN THE SOMAH IN TAYUB BALANDONGAN, JUNE 2024. Tayub Balandongan as Ibing Kalangenan which becomes the icon of Situraja Sumedang West Java. There are two types of Ibing Tayub, namely Tayub Menak known as Tayub Pendopo and Tayub Somah or Tayub Liar called as Tayub Balandongan. The dancers of Tayub Menak are noblemen because there is a necessity as one of the requirements to become noblemen, they must be skilled at Ibing Tayub, because it appeared that dancing in the Tayuban event as a social identity for Menak. Whereas in Tayub Balandongan the performers are ordinary people known as the Somah who imitate the habits of the Menak. They have assumption that nobles or Menak are role models for the community so their pattern of behavior and habits must be imitated, one of which is ngibing with ronggeng in Balandongan. Balandongan is a Tayuban performance arena which is located outside the building (out door), and the role of ronggeng in Tayuban event has an extraordinary allure as a spirit in the performance of Ibing Tayub Balandongan. Keywords: Ibing Tayub Balandongan, Kalangenan, Ronggeng.

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2024 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 2 (2025): "Ruang Kreatif Mencipta Tari" Vol. 12 No. 1 (2025): "Merawat Warisan" Nilai Tradisi dan Kontemporer Vol. 11 No. 2 (2024): "Fenomenologi Tari Berbasis Tradisi dan Kontemporer" Vol 11, No 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika" Vol. 11 No. 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika" Vol. 10 No. 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi" Vol 10, No 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi" Vol 10, No 1 (2023): "Menguak Seni Tradisi Di Era Globalisasi" Vol. 10 No. 1 (2023): "Menguak Seni Tradisi Di Era Globalisasi" Vol 9, No 2 (2022): "Dimensi Kreativitas Ketubuhan Penari Sunda" Vol 9, No 1 (2022): "Menggali Inspirasi Dari Tradisi" Vol 8, No 2 (2021): "Tari Di Ruang Virtual" Vol 8, No 1 (2021): "GERAK TUBUH TARI MENGALIR MENCIPTA ASA DAN CITA" Vol 7, No 2 (2020): “Gemulai Gerak Ketubuh Tradisi Mencipta Enerji Dinamis Tari Kreasi” Vol 7, No 1 (2020): "GELIAT TARI DI BUMI TRADISI" Vol 6, No 2 (2019): "Menjaga Asa Merajut Cita" Vol 6, No 1 (2019): "Menari dengan Hati-Menandak dengan Rasa" Vol 5, No 2 (2018): "Mengupas Kreativitas, Menumbuhkan Sensitivitas" Vol 5, No 1 (2018): "Jari Jemari Membuai Emosi" Vol 4, No 1 (2017): "Spirit Tubuh Tanpa Batas" Vol 3, No 2 (2016): "Menelisik Tradisi Mengais Kreasi" Vol 3, No 1 (2016): "Membumikan Tradisi Menumbuhkan Kreasi" Vol 2, No 2 (2015): "Wayang Bayang-bayang Kehidupan" Vol 1, No 2 (2014): "Membumikan Tradisi Meraih Inspirasi" Vol 1, No 1 (2014): "Menggali Potensi Berbagai Tradisi Kreatif" More Issue