cover
Contact Name
Muhammad Isrul
Contact Email
isrulfar@gmail.com
Phone
+628114053811
Journal Mail Official
jurnalpharmaconmw@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Farmasi, STIKES Mandala Waluya Kendari Jalan A.H Nasution No. G-37, Kendari
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
ISSN : 24426032     EISSN : 25989979     DOI : 10.35311
Core Subject : Health,
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia merupakan jurnal (Open Journal System) untuk informasi bidang ilmu farmasi yang memuat kajian tentang ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk tulisan ilmiah, studi kepustakaan dan studi empirik. Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia telah memiliki ISSN cetak : 2442 - 6032 dan ISSN online : 2598-9979 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia terbit 2 kali setahun (Bulan Juni dan Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 284 Documents
Perbandingan Beberapa Metode Ekstraksi Ekstrak Etanol Daun Sawo Duren (Chrysophyllum cainito L.) Terhadap Kadar Flavanoid Total Menggunakan Metode Spektrofotometri UV-VIS Fadillah Maryam; Yuri Pratiwi Utami; Suwahyuni Mus; Rohana Rohana
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 9 No. 1 (2023): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v9i1.336

Abstract

Sawo Duren (Chrysophyllum cainito L.) memiliki Kandungan kimia yang teridentifikasi seperti flavonoid, saponin, tanin, steroid, triterpen dan polifenol. Penelitian ini bertujuan membandingkan metode ekstraksi terhadap kadar flavanoid total daun sawo duren. Penelitian ini meliputi ekstraksi menggunakan metode refluks, soxhletasi, maserasi, perkolasi, dengan etanol 70% sebagai penyari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan antara metode ekstraksi menghasilkan kadar flavonoid yang berbeda-beda pada ekstrak etanol daun sawo duren  (Chrysophyllum cainito L.). Metode ekstraksi yang paling efektif digunakan untuk mengekstraksi daun sawo duren (Chrysophyllum cainito L.) adalah metode maserasi dibandingkan metode perkolasi, soxhletasi, dan refluks.
Studi In Vivo Ekstrak Etanol Kulit Buah Nangka (Artocarpus heterophyllus L.) Sebagai Kandidat Obat Analgetik Terhadap Model Hewan Uji Mecit (Mus musculus) Muhammad Nur Amir; Rifdah Aulia; Harfiana Suardi; Zainah Aura Hatifah; Ismail Ismail; Muhammad Raihan; Yayu Mulsiani Evary
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 9 No. 1 (2023): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v9i1.338

Abstract

Nyeri merupakan tanda bahwa telah terjadi kerusakan jaringan, inflamasi, atau infeksi. Terapi yang umum digunakan dalam penatalaksanan nyeri adalah menggunakan NSAID (Nonsteroidal Anti-inflammatory Drugs). Namun, penggunaan jangka panjang serta penggunaan yang kurang tepat dapat memicu berbagai efek samping, seperti ulcer pepticum. Tanaman Nangka ((Artocarpus heterophyillus L) telah banyak diteliti terkait khasiat dan kandungannya, namun hanya sedikit eksplorasi terhadap bagian kulitnya.  Penelitian ini dilakukan untuk melihat aktivitas analgetik dari ekstrak etanol kulit buah Nangka (Artocarpus heterophyillus L). Pengujian aktivitas analgetik menggunakan tiga metode in vivo model hewan uji mencit (Mus musculus), yaitu metode hot plate, tail immersion dan induksi kimia asam asetat. Setiap metode pengujian analgetik menggunakan 25 ekor mencit jantan yang dibagi ke dalam 5 kelompok perlakuan. Ekstrak etanol kulit buah Nangka (EEKN) yang diuji dibuat dalam tiga variasi dosis, 100 mg/kg, 300 mg/kg dan 500 mg kg. Pada pengujian dengan metode hot plate, EEKN dosis 500 mg/kg menunjukkan hasil yang terbaik dengan persen aktivitas analgesik sebesar 97,26%. Hal ini juga terlihat pada pengujian menggunakan metode tail immersion, EEKN dengan dosis 500 mg/kg memiliki waktu latensi terbaik di menit ke 30 yaitu 6.8 ±1.20 detik. Untuk metode induksi geliat menggunakan asam asetat, EEKN dengan dosis 300 mg/kg dan 500 mg/kg menghasilkan persen penghambatan geliat paling baik dengan nilai 78.28% dan 89.14%. Berdasarkan hasil analasis statistik yang digunakan EEKN 500 mg/kg memiliki nilai signifikansi jika dibandingkan dengan kelompok negatif (p<0.05).  Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dalam penelitian ini yaitu ekstrak etanol kulit buah Nangka pada rentang dosis 300 mg/kg hingga 500 mg/kg memiliki aktivitas sebagai obat analgetik walaupun masih membutuhkan penelitian lebih lanjut kedepannya.
Uji Kestabilan Fisik Krim Antijerawat Ekstrak Etanol Daun Sagu (Metroxylon sagu Rottb) dan Uji Aktivitas Bakteri Terhadap Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis Muhammad Isrul; Silviana Hasanuddin; Citra Dewi; Asnur Alimasi
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 9 No. 1 (2023): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v9i1.355

Abstract

Daun sagu (Metroxylon sagu Rottb) mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, saponin, fenol, steroid, dan tanin yang berfungsi sebagai antibakteri. Untuk meningkatkan aktivitas dalam pemanfaatan potensi dari daun sagu, maka dibuat dalam bentuk sediaan yang praktis dan mudah digunakan yaitu dalam bentuk krim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri sediaan krim ekstrak daun sagu (Metroxylon sagu Rottb) terhadap penghambatan pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis sebagai antijerawat.  Sampel daun sagu (Metroxylon sagu Rottb) diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan  pelarut etanol 96%, kemudian dibuat formulasi dalam bentuk sediaan krim dengan konsentrasi ekstrak 2,5%, 5%, dan 10% Selanjutnya evaluasi fisik sediaan yaitu meliputi uji organoleptik, uji pH, uji homogenitas, uji daya sebar, dan uji viskositas. Hasil penelitian menunjukkan evaluasi fisik sediaan krim antijerawat ekstrak daun sagu (Metroxylon sagu Rottb) dengan kosentrasi 2,5%, 5%, dan 10% memiliki warna, bau dan bentuk yang stabil, sediaan yang homogen, viskositas sediaan yang baik , dan nilai pH yang dapat diterima. Sediaan ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes pada kosentrasi 2,5% sebesar (4,87 mm) kategori lemah, 5% sebesar (7,87 mm) kategori sedang dan 10% sebesar (12,60 mm) kategori kuat. Sedangkan pada bakteri Staphylococcus epidermidis yaitu 2,5% sebesar (5,07 mm) kategori sedang, 5% sebesar (7,07 mm) kategori sedang dan 10% sebesar (10,53 mm) kategori kuat.
Formulasi dan Uji Stabilitas Sediaan Hair Emulsion Minyak Biji Chia (Salvia hispanica) dengan Kombinasi Tween 80 dan Span 80 Sebagai Emulgator Mayu Rahmayanti; Ginanjar Putri Nastiti; Mutia Azkia Fitri
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 9 No. 1 (2023): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v9i1.356

Abstract

Hair emulsion saat ini sudah banyak dikembangkan untuk mengatasi kerontokan dan kebotakan pada rambut, baik dari produk yang terbuat dari bahan sintetis maupun dari bahan alam. Namun, penggunaan bahan sintetis dapat menyebabkan iritasi pada kulit, gatal-gatal, alergi, dan beberapa efek samping lainnya. Salah satu solusi untuk menghindarinya adalah dengan menggunakan bahan alami. Minyak biji chia memiliki beragam potensi kesehatan, secara umum di masyarakat penggunaannya sebagai sumber pangan, tetapi minyak biji chia juga dapat dimanfaatkan untuk perangsang pertumbuhan rambut karena mengandung asam linoleat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik dan stabilitas fisik sediaan hair emulsion dari minyak biji chia sebagai penumbuh rambut. Hair emulsion dibuat menggunakan metode basah dengan kombinasi emulgator span 80 dan tween 80. Evaluasi fisik sediaan meliputi uji organoleptis, pH, tipe emulsi, dan homogenitas. Uji stabilitas sediaan dilakukan dengan penyimpanan pada suhu ruang selama 21 hari dan cycling test sebanyak 6 siklus. Data yang diperoleh dianalisis dengan pendekatan teoritis dan analisis statistik. Formulasi sediaan dengan variasi konsentrasiminyak biji chia menghasilkan sediaan emulsi tipe m/a yang homogen, berwarna putih susu, beraroma khas minyak biji chia dan memiliki pH pada rentang 4-7. Berdasarkan analisis statistik, formula I dan II tidak menunjukkan adanya signifikansi setelah dilakukan uji stabilitas pada nilai pH, sedangkan penurunan nilai pH pada formula III memiliki nilai signifikansi p (0,00) < 0,05. Berdasarkan data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa FI dan FII memiliki sifat fisik dan stabilitas yang baik, sedangkan FIII memiliki nilai pH yang tidak memenuhi syarat pH yang baik dan tidak stabil selama penyimpanan
Formulasi dan Uji Stabilitas Sediaan Hair Emulsion Minyak Biji Chia (Salvia hispanica) dengan Kombinasi Tween 80 dan Span 80 Sebagai Emulgator Mayu Rahmayanti; Ginanjar Putri Nastiti; Mutia Azkia Fitri
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 9 No. 1 (2023): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v9i1.271

Abstract

Hair emulsion saat ini sudah banyak dikembangkan untuk mengatasi kerontokan dan kebotakan pada rambut, baik dari produk yang terbuat dari bahan sintetis maupun dari bahan alam. Namun, penggunaan bahan sintetis dapat menyebabkan iritasi pada kulit, gatal-gatal, alergi, dan beberapa efek samping lainnya. Salah satu solusi untuk menghindarinya adalah dengan menggunakan bahan alami. Minyak biji chia memiliki beragam potensi kesehatan, secara umum di masyarakat penggunaannya sebagai sumber pangan, tetapi minyak biji chia juga dapat dimanfaatkan untuk perangsang pertumbuhan rambut karena mengandung asam linoleat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik dan stabilitas fisik sediaan hair emulsion dari minyak biji chia sebagai penumbuh rambut. Hair emulsion dibuat menggunakan metode basah dengan kombinasi emulgator span 80 dan tween 80. Evaluasi fisik sediaan meliputi uji organoleptis, pH, tipe emulsi, dan homogenitas. Uji stabilitas sediaan dilakukan dengan penyimpanan pada suhu ruang selama 21 hari dan cycling test sebanyak 6 siklus. Data yang diperoleh dianalisis dengan pendekatan teoritis dan analisis statistik. Formulasi sediaan dengan variasi konsentrasi minyak biji chia menghasilkan sediaan emulsi tipe m/a yang homogen, berwarna putih susu, beraroma khas minyak biji chia dan memiliki pH pada rentang 4-7. Berdasarkan analisis statistik, formula I dan II tidak menunjukkan adanya signifikansi setelah dilakukan uji stabilitas pada nilai pH, sedangkan penurunan nilai pH pada formula III memiliki nilai signifikansi p (0,00) < 0,05. Berdasarkan data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa FI dan FII memiliki sifat fisik dan stabilitas yang baik, sedangkan FIII memiliki nilai pH yang tidak memenuhi syarat pH yang baik dan tidak stabil selama penyimpanan.
Optimasi Depolimerisasi Kitosan Menggunakan Asam Asetat dengan Variasi Suhu, Waktu, dan Konsentrasi Suryani Suryani; Nur Aisyah Abdullah; Nur Illiyyin Akib; Ruslin Ruslin; La Ode Ahmad Nur Ramadhan; Anton Anton; Muhammad Aswan
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v9i2.283

Abstract

Kitosan adalah biopolimer alam yang dihasilkan dari deasetilasi kitin. Parameter utama yang mengontrol sifat fisikokimia dan biologi kitosan adalah derajat deasetilasi dan berat molekul (BM). Pemanfaatan kitosan belum optimal karena rantai kitosan yang panjang dan mengakibatkan kelarutan yang rendah. Oleh karena itu dilakukannya depolimerisasi untuk memotong ikatan kitosan menjadi rantai pendek. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh kondisi optimum metode depolimerisasi kitosan menggunakan asam asetat (CH3COOH) serta untuk mengetahui karakteristik kitosan berat molekul rendah hasil depolimerisasi. Optimasi proses depolimerisasi menggunakan Design Expert versi 13 dengan metode Box Behnken Design (BBD). Desain eksperimen terdiri dari 17 run dengan 5 center point. Variabel proses dalam penelitian ini, yaitu suhu dengan variasi 60oC; 70oC; 80oC, waktu dengan variasi 30 menit; 45 menit; 60 menit, dan konsentrasi kitosan dengan variasi 1%; 1,5%; 2%. Variabel respon pada penelitian ini yaitu rendemen, berat molekul, dan kelarutan kitosan. Hasil dari penelitian ini diperoleh kondisi optimum pada suhu 80oC, waktu pengadukan 34 menit, dan konsentrasi 1% dengan rendemen sebesar 98.0667%, berat molekul 31.662 kDa, dan kelarutan 19.7%, derajat deasetilasi 98.57%, dan indeks kristalinitas sebesar 32.28%.
Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Bunga Krisan (Chrysanthemum morifolium Ramat) dengan Metode DPPH: Fraksi Larut Air, Etil Asetat, n-Heksan dari Varietas lamet dan sheena Kharisma Mayda Mahera; Rizqa Salsabila Firdausia
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v9i2.309

Abstract

Bunga krisan (Chrysanthemum morifolium Ramat) varietas lamet dan sheena diketahui dapat berperan sebagai antioksidan alami yang berpotensi mencegah radikal bebas karena mempunyai kandungan senyawa fenolik dan flavonoid. Untuk mendapatkan senyawa yang lebih spesifik yang berfungsi dalam aktivitas antioksidan pada bunga krisan dilakukan dengan fraksinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari ekstrak fraksi larut air, n-heksan, dan etil asetat pada bunga krisan varietas lamet dan sheena menggunakan metode DPPH. Serbuk bunga krisan diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Selanjutnya difraksinasi menggunakan air, n-heksan, dan etil asetat. Filtrat dipekatkan menggunakan waterbath pada suhu 60?C hingga diperoleh ekstrak kental. Kemudian diidentifikasi fenolik dan flavonoid secara kuantitatif menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Analisis antioksidan dilakukan menggunakan metode peredaman radikal bebas DPPH untuk mengukur nilai IC50­. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa total kadar fenolik, flavonoid, dan antioksidan yang paling baik dari varietas lamet sebesar 2,342% (fraksi etil asetat), 3,077% (fraksi n-heksan), dan 137,589 ppm (fraksi etil asetat). Sedangkan dari varietas sheena terdapat pada fraksi etil asetat dengan nilai sebesar 6,174%; 4,824%; dan 21,208 ppm. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak fraksi larut air, n-heksan, dan etil asetat pada bunga krisan varietas lamet dan sheena terdapat aktivitas antioksidan.
Karakteristik Mikroemulsi Deksametason Menggunakan Variasi Surfaktan Tween 80 dengan Kombinasi Kosurfaktan Propilen Glikol dan Gliserin Nur Husfianingsi; Santi Sinala; Arisanty Arisanty
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v9i2.314

Abstract

Bentuk sediaan dengan penghantaran yang buruk dapat menurunkan bioavailabilitas dan menyebabkan obat tidak dapat menghasilkan efek terapi secara optimal. Obat yang mempunyai kelarutan sukar larut dalam air yaitu deksametason. Salah satu langkah yang dapat meningkatkan kecepatan disolusi dan ketersediaan hayati obat yaitu diformulasikan menjadi sediaan mikroemulsi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik mikroemulsi deksametason menggunakan variasi surfaktan tween 80 dengan kombinasi kosurfaktan propilen glikol dan gliserin. Pada penelitian ini digunakan metode observasi dengan mengamati karakteristik dari masing-masing formula yang meliputi uji organoleptis, uji pH, uji viskositas, uji morfologi, dan uji ukuran partikel. Hasil pengujian organoleptis formula 1 dan 2 terjadi pemisahan fase ketika telah dimasukkan dalam climatic chamber, pengujian pH formula 1-4 mempunyai nilai rata-rata pH sebelum masuk climatic chamber berturut-turut 5,5; 5,7; 5,4; 5,8; dan setelah 4,3; 4,9; 5,0; 4,8; Pengujian viskositas formula 1-4 sebelum masuk dalam climatic chamber berturut-turut 211 cps, 344 cps,  496,7 cps, 413 cps, dan setelah 250,7 cps, 287,3 cps, 315,3 cps, 428,3 cps, pengujian morfologi semua formula berbentuk sferis, pengujian ukuran partikel formula 1-4 berturut turut 42,7 µm, 38,7 µm, 23,2 µm, 28,7 µm. Mikroemulsi deksametason pada konsentrasi tween 80 sebesar 30% mampunyai karakteristik yang paling stabil karena sifat fisikokimia yang paling stabil secara orgonoleptik dan mempunyai ukuran partikel yang paling kecil.
Gambaran Pengobatan Pasca Kemoterapi Pasien Kanker Payudara Pada Rumah Sakit Di Provinsi Gorontalo Endah Nurrohwinta Djuwarno; Zulkarnain Marhaba; Rahmatia Abdullah; Rahmatia Baharuddin; Tirta Cahnia Usuli; Nabila Husnunnisa Ismail; Nur Aisya Tonde
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v9i2.328

Abstract

Kemoterapi merupakan pengobatan yang diberikan kepada pasien kanker, pengobatan ini sering kali memberikan efek samping yang kurang nyaman bagi pasien kanker yang menjalaninya. Efek samping yang ditimbulkan sering kali menjadi alasan bagi pasien kanker untuk tidak melakukan pengobatan kemoterapi, diantaranya yaitu seperti anemia, alopesia, trombosipenia, leukopenia, mual dan muntah.. Tujuan studi ini dilakukan untuk mengetahui gambaran efek samping pada pasien pengidap kanker payudara yang melakukan kemoterapi di rumah sakit Di Provinsi Gorontalo. Metode yang digunakan adalah metode SOAP dengan Rancangan Subjektif Objektif Assesment dan Planning. penelitian deskriptif untuk mengetahui gambaran efek samping kemoterapi pada pasien kanker payudara. Pasien yang dijadikan sampel adalah salah satu pasien yang menjalani kemoterapi siklus pertama yang datang akibat efek samping kemoterapi yang memiliki rekam medik di RSUD Di Provinsi Gorontalo. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 24 Februari 2023, di bagian rawat inap RSUD Di Provinsi Gorontalo. Penelitian ini menggunakan studi literatur pendukung data/informasi terkait terapi obat. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa adanya efek samping yang ditimbulkan dari kemoterapi pada pasien kanker payudara. Dari kasus diatas dapat disimpulkan bahwa pasien ini datang dengan keluhan lemas, mual, muntah, pusing, sulit berdiri yang merupakan efek samping dari kemoterapi yang dilakukannya seminggu yang lalu karena kanker payudara yang dideritanya.
Eksplorasi Jenis dan Pemanfaatan Tanaman Obat Di Bumi Patowonua, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara Muhammad Syahruddin; Saparuddin Saparuddin; Zhaqina Tun Islamiyah; M. Arjun
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v9i2.335

Abstract

Kearifan lokal di Bumi Patowonua Kabupaten Kolaka Utara Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki budaya tersendiri dalam memanfaatkan berbagai tanaman yang berkhasiat obat. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi jenis, khasiat, serta cara pemanfaatan tanaman obat yang meliputi akar, batang, daun, bunga, buah dan biji yang dilakukan oleh masyarakat di Bumi Patowonua, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi tenggara. penelitian ini menggunakan metode survey eksploratif dan metode Participatory Rural Appraisal (PRA), survey ini dilakukan di 6 kecamatan di daerah Bumi Patowonua yaitu di Kecamatan Porehu, Lasusua, Kodeoha, Ranteangin, Batu Putih, dan Kecamatan Tolala dengan luas wilayah survey 1.933,84  km2. Survey yang dilakukan melibatkan 102 orang  responden yang telah menggunakan tanaman sebagai obat tradisional selama lebih dari 10  tahun. peneltian ini menunjukan bahwa ditemukanya 46 koleksi tanaman obat dalam pengisian kuisioner dan wawancara kepada responden atau masyarakat di bumi Patowonua Kabupaten Kolaka Utara. Dari 46 tanaman tersebut 1 diantaranya menjadi tanaman yang telah digunakan secara turun temurun untuk pengobatan tradisional yaitu patikala/paccilaka dengan nama indonesia kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.). Tanaman patikala banyak ditemukan di Kecamatan Porehu, Kecamatan Tolala dan Kecamatan Batu Putih Kabupaten Kolaka utara. Selain itu terdapat 1 tanaman endemik dimana masyarakat lokal menyebutnya dengan tanaman dara karena klasifikasi dari tanaman tersebut belum diketahui secara pasti. Keberadaan tanaman dara sudah mulai punah karena tidak banyak orang yang mengetahui manfaat dari tanamana tersebut. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka diperoleh sebanya 46 tanaman yang telah digunakan oleh masyarakat bumi Patowonua sebagai obat tradisional yaitu 1 diantaranya merupakan patikala yang telah digunakan secara turun temurun untuk pengobatan dan 1 tanaman endemik yang dikenal masyarakat lokal dengan nama tanaman dara.