cover
Contact Name
Jaya Pramana
Contact Email
jayapram@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
support@majalahpatologiindonesia.com
Editorial Address
Departemen Patologi Anatomik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jl. Salemba Raya 6, Tromol Pos 3225, Jakarta 10002
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Majalah Patologi Indonesia
ISSN : 02157284     EISSN : 25279106     DOI : https://doi.org/10.55816/
Core Subject : Health,
Majalah Patologi Indonesia (MPI) digunakan sebagai wahana publikasi hasil penelitian, tinjauan pustaka, laporan kasus dan ulasan berbagai aspek di bidang patologi manusia. Tujuannya ialah menghadirkan forum bagi permakluman dan pemahaman aneka proses patologik serta evaluasi berbagai penerapan cara diagnostik sejalan dengan kemajuan perkembangan ilmu dan teknologi. Selain itu juga untuk merangsang publikasi barbagai informasi baru/mutakhir.
Articles 643 Documents
Korelasi Antara Overekspresi Ki-67 dan BCL2 dengan Derajat Histopatologik Meningioma Maria Ulfa; Mezfi Unita; Aspitriani
Majalah Patologi Indonesia Vol. 28 No. 2, Mei 2019
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar BelakangMeningioma terhitung sekitar 26% dari semua tumor otak primer. Beberapa faktor berperan pada progresivitastumor ini, di antaranya ketidakseimbangan antara proliferasi dan kematian sel. Beberapa penelitianmenyimpulkan terdapat hubungan bermakna antara overekspresi Ki-67 dan BCL2 dengan progresivitasmeningioma. Tetapi penelitian lainnya tidak mendukung hasil ini.MetodePenelitian observasional dilakukan di Sentra Diagnostik Laboratorium Patologi Anatomik Universitas SriwijayaPalembang. Total 40 kasus meningioma, terdiri atas 25 kasus meningioma derajat I, 14 kasus derajat II dan 1kasus derajat III, di antaranya dijumpai 4 kasus rekurensi. Kemudian dilakukan pulasan imunohistokimia (IHK)menggunakan antibodi Ki-67 dan BCL2 dan dianalisa dengan SPSS versi 22.0.HasilDari data klinikopatologik didapatkan, pasien didominasi perempuan (70%), usia rerata 44,43 tahun. Mayoritastumor berukuran ≥5 cm dan lokasi terbanyak di intrakranial. Uji statistik menunjukkan terdapat korelasi yangbermakna antara overekspresi Ki-67 dan BCL2 dengan peningkatan derajat histopatologik meningioma(p=0,018 dan p=0.001 berurutan).Ko-ekspresi Ki-67 dan BCL2 dijumpai pada 14 kasus (11 kasus derajat II, 1kasus derajat III dan 2 kasus derajat 1), tiga di antaranya merupakan kasus rekurensi.KesimpulanHasil penelitian ini menunjukkan korelasi bermakna antara overekspresi Ki-67 dan BCL2 dengan derajathistopatologik meningioma. Koekspresi kedua protein ini dominan dijumpai pada meningioma derajat II dan III.Kumpulan data ini menunjukkan bahwa koekspresi Ki-67 dan BCL2 dapat dipakai sebagai faktor prognostikmeningioma. Studi lanjutan dengan metode cohort mungkin dapat membuktikannya.
Ekspresi Matriks Metalloproteinase-9 Berhubungan Positif dengan Kedalaman Invasi Adenokarsinoma Kolorektal Herlina Eka Shinta,; I Gusti Alit Artha,; Herman Saputra
Majalah Patologi Indonesia Vol. 28 No. 2, Mei 2019
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakangKarsinoma kolorektal masih merupakan penyakit keganasan penyebab kematian di dunia, termasuk Indonesia.Kedalaman invasi merupakan salah satu gambaran prognostik mayor yang penting dalam menentukanprogresivitas dan prognostik penyakit. Matriks metaloproteinase-9 (MMP-9) adalah salah satu komponen yangpenting pada proses invasi sel tumor, karena memegang peranan penting dalam mendegradasi matriksekstraseluler. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara MMP-9 dan kedalaman invasiadenokarsinoma kolorektal.MetodePenelitian ini menggunakan metode potong lintang. Jumlah sampel sebanyak 50 yang berasal dari blok parafinpasien adenokarsinoma kolorektal sejak tahun 2012 sampai 2016 di Laboratorium Patologi Anatomik RSUPSanglah Denpasar. Re-evaluasi faktor prognosis kedalaman invasi telah dilakukan dan kemudian dilakukanpulasan imunohistokimia MMP-9.HasilHasil uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat korelasi antara ekspresi MMP-9 dengan kedalaman invasi(r=0,435, r2=0,189; p=0,002).KesimpulanEkspresi MMP-9 dan kedalaman invasi karsinoma kolorektal menunjukkan hubungan positif
Perbedaan Ekspresi Chromogranin A pada Adenokarsinoma Prostat Berdiferensiasi Baik, Sedang dan Buruk Gandi Haryono; Budiana Tanurahardja,; Agus Rizal AH. Hamid
Majalah Patologi Indonesia Vol. 28 No. 2, Mei 2019
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang Kanker prostat merupakan tumor ganas terbanyak ketiga pria di dunia. Penyebabnya dipengaruhi faktor usia, genetik, ras, hormonal, diet dan lingkungan. Kanker prostat dapat mengalami neuroendocrine differentiation (NED), meningkat pada kanker prostat berdiferensiasi buruk terutama yang tidak merespon baik terhadap terapi hormonal. NED akan menentukan prognosis dan pemilihan alternatif terapi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan ekspresi chromogranin A (CgA) pada adenokarsinoma prostat berdiferensiasi baik, sedang dan buruk serta kaitannya dengan derajat keganasan berdasarkan grading tumor yang diharapkan dapat menentukan prognosis dan pemilihan alternatif terapi. Metode Studi potong lintang terhadap jaringan biopsi yang difiksasi formalin, diletakkan dalam parafin dari pasien dengan adenokarsinoma prostat berdiferensiasi baik, sedang dan buruk. Sampel penelitian dipulas dengan pewarnaan imunohistokimia CgA, diidentifikasi dan dianalisa hubungan ekspresi CgA berdasarkan usia, diagnosis histopatologik, grade groups, skor Gleason dan kadar PSA. Hasil Ekspresi CgA positif dengan median 40 (0,4-100) banyak terjadi pada kelompok usia <70 tahun. Ekspresi CgA positif dengan median 56,2 (0,4-100) banyak terjadi pada kasus adenokarsinoma prostat berdiferensiasi buruk, grade tinggi dan skor Gleason >7. Ekspresi CgA positif dengan median 35,4 (0,4-88,6) banyak terjadi dengan kadar PSA >52,4 μg/ml. Didapatkan hubungan bermakna antara ekspresi CgA dengan diagnosis histopatologik, grade groups dan skor Gleason (p=0,006; p=0,021; p=0,006). Tidak didapatkan hubungan bermakna antara ekspresi CgA dengan usia dan kadar PSA (p=0,412; p=0,969). Kesimpulan Terdapat kecenderungan positivitas ekspresi CgA lebih banyak terjadi pada kasus adenokarsinoma prostat berdiferensiasi buruk dengan grade tinggi, yang dapat mempengaruhi prognosis dan pemilihan alternatif terapi
Perbedaan Ekspresi PTEN pada Endometrium Normal, Hiperplasia Endometrium dan Endometrioid Carcinoma Suhaili; Heni Maulani,; Aida Farida
Majalah Patologi Indonesia Vol. 28 No. 2, Mei 2019
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatarbelakangHiperplasia endometrium merupakan lesi prekursor terjadinya karsinoma endometrium terutama jenisendometrioid carcinoma. Patogenesis karsinoma endometrium dan perubahan dari normal menjadi keganasanmelibatkan banyak kelainan molekular termasuk PTEN gen penghambat tumor. Hipotesis kami adalah terdapatperbedaan ekspresi PTEN pada hiperplasia endometrium dan endometrioid carcinoma dengan endometriumnomal fase proliferasi.MetodeRancangan penelitian yang digunakan adalah case control. Sampel adalah jaringan endometrium berasal darikuretase, biopsi dan histerektomi. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok kontrol yaitu endometriumnormal fase proliferasi 25 sampel, dan kelompok kasus terdiri dari 25 endometrium hiperpasia dan 25endometrioid carcinoma. Sampel dilakukan pulasan imunohistokimia dengan antibodi monoklonal PTEN.Imunoreaktifitas PTEN di skor secara semikuantitatif yang dilihat dari persentase luas area dan intensitaspulasan. Perbedaan ekspresi PTEN dianalisa dengan SPSS versi 19.0.HasilTidak ada perbedaan yang bermakna pada ekspresi PTEN antara kelompok kasus dengan kontrol berdasarkanluas area dan intensitas pulasan. Penurunan intensitas ekspresi PTEN terlihat pada mayoritas kasushiperplasia atipik dan endometrioid carcinoma dibandingkan dengan endometrium fase proliferasi. Terlihatkecenderungan intensitas ekspresi PTEN menurun pada hiperplasia endometrium atipik dibandingkanhiperplasia endometrium non atipik.KesimpulanIntensitas pulasan PTEN pada endometrium hiperplasia atipik cenderung lebih menurun dibandingkanhiperplasia non atipik. Hiperplasia atipik yang merupakan lesi prekursor terjadinya endometrioid carcinoma. Halini mengindikasikan kemungkinan besar mutasi PTEN mempunyai peranan penting pada patogenesiskarsinoma endometrium.
Ekspresi Vascular Endothelial Growth Factor Berhubungan Positif dengan Kedalaman Invasi pada Adenokarsinoma Kolorektal IB Caka Gunantara; IGA Sri Mahendra Dewi; I Gusti Alit Artha
Majalah Patologi Indonesia Vol. 28 No. 2, Mei 2019
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar belakangKarsinoma kolorektal adalah salah satu keganasan yang kejadiannya cukup sering, yang terjadi di seluruhdunia dan merupakan masalah kesehatan serius di Indonesia. Kedalaman invasi merupakan salah satu faktorpenting dalam menentukan faktor prognosis adenokarsinoma kolorektal. Vascular endothelial growth factor(VEGF) merupakan faktor pro-angiogenik dominan yang berperan dalam angiogenesis untuk pertumbuhantumor, invasi, dan metastasis tumor pada adenokarsinoma kolorektal. Tujuan penelitian ini untuk menganalisishubungan antara ekspresi VEGF dan kedalaman invasi pada adenokarsinoma kolorektal.MetodePenelitian ini menggunakan metode analitik potong lintang, menggunakan 50 sampel adenokarsinomakolorektal dari operasi kolonektomi yang diambil dari arsip blok parafin di Bagian/SMF Patologi AnatomikFakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah Denpasar sejak tanggal 1 Januari 2012 sampai 30Juni 2016. Dilakukan diagnosis ulang kedalaman invasi, kemudian dilakukan pulasan imunohistokimia VEGF.HasilEkspresi VEGF ditemukan pada 45 kasus dan 5 kasus dengan ekspresi VEGF negatif. Hasil uji korelasiSpearman menunjukkan korelasi positif sedang antara ekspresi VEGF dengan kedalaman invasi (r=0,491;r2(rsq)=0,24; p=0,000 (p<0,05)).KesimpulanEkspresi VEGF dan kedalaman invasi menunjukkan hubungan positif pada adenokarsinoma kolorektal.
Minyak Ikan dari Limbah Pengalengan Ikan Berpotensi Menurunkan Ekspresi Penanda Inflamasi pada Proses Keganasan Kolon Mencit yang Diinduksi Azoksimetan dan Dextran Sodium Sulfate Kusmardi1; Aryo Tedjo
Majalah Patologi Indonesia Vol. 28 No. 2, Mei 2019
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKStudi epidemiologi yang menghubungkan diet minyak ikan diet dengan risiko kanker kolorektal telah banyakdilaporkan walaupun hasinya tidak konsisten. Kebanyakan laporan menunjukkan adanya hubungan yangpositif. Penelitian ini dilakukan untuk memahami efek penghambatan minyak ikan yang diperoleh dari sisaproduk pengalengan ikan pada ekspresi penanda inflamasi dari preneoplasia kolorektal mencit yang diinduksioleh azoxymetane (AOM) dan dekstran natrium sulfat (DSS). Dalam penelitian ini, mencit Balb/c diinduksidengan AOM 10 mg/kg berat badan diikuti dengan pemberian 1% DSS selama seminggu. Minyak ikandiberikan secara oral dengan dosis 1,5 mg, 3 mg, dan 6 mg pada setiap mencit percobaan per hari. EkspresiPGE2 diamati pada sel epitel kripta pada mukosa kolon. Pada bulan kedua, ekspresi PGE2 menurun denganpemberian dosis sedang (3 mg/hari) dan tinggi (6 mg/hari) minyak ikan. Sedangkan pada bulan ketiga dankeempat, penurunan ekspresi PGE2 diamati karena pemberian minyak ikan dosis rendah, sedang dan tinggi(p=0,010 dan 0,005 m). Kesimpulannya, pemberian dosis sedang minyak ikan pada mencit yang diinduksiAOM/DSS telah menurunkan ekspresi PGE2 pada bulan kedua adalah dosis yang paling efektif.
Korelasi Ekspresi MMP-9 dengan Derajat Histologik dan Faktor Karakteristik Derajat Histologik pada Karsinoma Payudara Invasif Yolanda Isabela Simon; A.A.A.N Susraini; Moestikaningsih
Majalah Patologi Indonesia Vol. 28 No. 3, September 2019
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

BackgroundHistological grade and MMP-9 expression are prognostic factors in invasive breast carcinoma, nevertheless thecorrelation between both prognostic factors is still debatable. The aim of this study was to determine therelationship between expression of MMP-9 and histological grade and to evaluate which characteristic factor ofthe histological grade is dominant to MMP-9 expression in invasive breast carcinoma.MethodsThis study was carried out using a cross sectional analytical method. The samples were paraffin blocks frominvasive carcinoma of no special type grade I, II, and III at Pathology Anatomy Department UdayanaUniversity/RSUP Sanglah Denpasar from 1st January 2013 to 31st July 2016. Histopathologically re-diagnosiswas conducted to get the eligible samples and obtained 47 samples, consisted of 7 samples grade I, 18samples grade II, and 22 samples grade III. Immunohistochemistry of the MMP-9 was done and the result wascorrelated to histological grade and characteristic factor of histological grade.ResultsThe study results showed high expression of MMP-9 2.1% (n=1) in grade I, 19.2% (n=9) in grade II, and 36.2%(n=17) in grade III. Chi-square test analysis showed there was a significant correlation between tumor gradeand MMP-9 expression (p=0,010). The logistic regression test showed the mitotic counting was statisticallysignificant dominant factor (p=0.012) determining MMP-9 expression, whereas tubular formation and nuclearpleomorfia were not statistically significant (p>0.05).ConclusionHigh expression of MMP-9 was correlated with high histological grade, which also indicated worse prognosis.MMP-9 testing is an important examination to determine the level of tumour aggresive-ness and plan theeffective therapies
Hubungan Ekspresi Reseptor Progesteron dan Ki-67 Labeling Index dengan Derajat Histopatologik Meningioma Dwi Sri Rejeki; Salmiah Agus; Yuliarni Syafrita
Majalah Patologi Indonesia Vol. 28 No. 3, September 2019
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

BackgroundMeningioma is tumor originating from meningothelial cells (arachnoid) attached to duramater. These is thesecond most tumor in central nervous system. All degrees meningioma have risk for recurrence, unfortunatelythe biologic behavior of meningioma can’t be seen from histopathology alone. Therefore, many studies haveshown progesterone receptor influence the degree of meningioma and Ki-67 LI also has important role indetermining risk of recurrence in the degree meningioma. Therefore, the examination of progesterone receptorand Ki-67 LI in meningioma is required to see character of meningioma tumor cells and hence to determinetreatment and prognosis.MethodsThe study was a cross-sectional study, which conducted patients with diagnosis of meningioma from 5Pathological Anatomy Laboratories in West Sumatra. Total of 64 cases meningioma were obtained duringJanuary 2012 to December 2015 and 35 samples were taken and met the inclusion criteria.Immunohistochemical examination was using specific antibodies to progesterone receptor and Ki-67. Datacollected were analyzed using the Kruskal-Wallis test and p value <0.05 was considered as statisticallysignificant.ResultsFrom 35 samples, 29 samples (82.9%) classified meningioma grade I, 4 samples (11.4%) meningioma grade IIand 2 samples (5.7%) meningioma grade III. Meningioma was most prevalent the age range 41-50 years,female gender and histopathological grade I.ConclusionNo differences expression progesterone receptor on the degree histopathological meningioma. No differencesexpression Ki-67 LI on the degree histopathological meningioma. There is inverse relationship betweenexpression progesterone receptor and Ki-67 LI on the degree histopathological meningioma
Hubungan Jumlah Sel Mast dengan Tampilan Ekspresi Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) pada Cutaneous Squamous Cell Carcinoma Edi Kerina Sembiring,; Delyuzar; Soekimin
Majalah Patologi Indonesia Vol. 28 No. 3, September 2019
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

BackgroundThe most common non-melanocytic skin cancers are basalioma and squamous cell carcinoma. Squamouscell carcinoma is a malignancy of squamous epithelium. Mast cells stimulate neovascularization andangiogenesis in multiple tumors. One of the main factors of angiogenesis in squamous cell carcinoma isthe Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF). The aim of this study is to investigate the associationbetween number of mast cells with the expression of VEGF of cutaneous squamous cell carcinoma.MethodsThis is an analytical descriptive study with cross sectional approach. The sample of this study are paraffinblocks of skin tissue which diagnose histopathologically as squamous cell carcinoma. Then the sampleswill be stained with immunohistochemistry CD117 (Novocastra®) to count the number of mast cells andVEGF (Dako®) to see angiogenesis. Their expression will be analyzed with Fisher’s Exact Test statisticalanalysis to investigate the association between number of mast cells with expression of VEGF ofcutaneous squamous cell carcinoma.ResultsThe number of mast cells ≥15 cells were 7 cases (23.3%). Expressed VEGF positive expression in 30cases (100%). Suitability test Fischer's Exact Test has value not significant (p> 0.05).ConclusionThere is no conformance relationship between the number of mast cells with VEGF expression of p-value.
Hubungan Ekspresi Ki-67 dan E-Cadherin dengan Kedalaman Invasi Melanoma Malignum Berdasarkan Clark Level Santy Saberko; Salmiah Agus; Satya Wydya Yenny
Majalah Patologi Indonesia Vol. 28 No. 3, September 2019
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

BackgroundMalignant melanoma (MM) is a neoplasia derived from melanocytes. This is the most aggressive cancer ofskin. Even small tumors may have a tendency to metastasize and thus lead to a relatively unfavorableprognosis. Malignant melanoma depth of invasion based on Clark level is one of the important prognosticfactors to determine survival rate of MM patient. Determination of invasion based on this Clark level issubjective, more objective checks such as Ki-67 and E-Cadherin are required. This examination isexpected to see the risk of metastasis in MM. Cell proliferation is the main key for tumor progression and itcan be measured with Ki-67 expression. E-cadherin is one of transmembrane protein that plays importantrole in metastasis. The purpose of this study is to determine correlation between Ki-67 and E-Cadherinexpression with depth of invasion of malignant melanoma based on Clark level.MethodsThis is cross sectional study in Padang and Jakarta, with 42 cases of malignant melanoma which havebeen diagnosed in Pathology Anatomic Laboratory in West Sumatera. Samples were obtained fromparaffin block of or tissue from surgery and have been reviewed depth of invasion based on the Clark level.These samples were divided into I-V Clark level group. Ki-67 expression of cells nuclei and expression ofE-Cadherin of cells membrane were analyzed using immunohistochemistry assay. One Way Annovabivariate statistical analysis were used and value p<0.05 were considered significant.ResultsPositive Ki-67 expression were found in 42 cases, 6 samples with II Clark level, 8 samples with III Clarklevel, 19 samples with IV Clark level, 9 samples with V Clark level. Malignant melanomas were mostlyfound in male 60-79 age group and depth of invasion in IV Clark level. Positive E-Cadherin expression in IIClark level. There was significant correlation between Ki-67 and E-Cadherin

Filter by Year

2010 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 35 No. 1, Januari 2026 Vol. 34 No. 3, September 2025 Vol. 34 No. 2, Mei 2025 Vol. 34 No. 1, Januari 2025 Vol. 33 No. 3, September 2024 Vol. 33 No. 2, Mei 2024 Vol. 33 No. 1, Januari 2024 Vol. 32 No. 3, September 2023 Vol. 32 No. 2, Mei 2023 Vol. 32 No. 1, Januari 2023 Vol 31. No. 3, September 2022 Vol 31 No 2 (2022): MPI Vol. 31 No. 2, Mei 2022 Vol. 31 No. 1, Januari 2022 Vol 31 No 1 (2022): MPI Vol. 30 No. 3, September 2021 Vol 30 No 3 (2021): MPI Vol. 30 No. 2, Mei 2021 Vol 30 No 2 (2021): MPI Vol 30 No 1 (2021): MPI Vol. 30 No. 1, Januari 2021 Vol. 29 No. 3, September 2020 Vol 29 No 3 (2020): MPI Vol 29 No 2 (2020): MPI Vol. 29 No. 2, Mei 2020 Vol 29 No 1 (2020): MPI Vol. 29 No. 1, Januari 2020 Vol 28 No 3 (2019): MPI Vol. 28 No. 3, September 2019 Vol 28 No 2 (2019): MPI Vol. 28 No. 2, Mei 2019 Vol 28 No 1 (2019): MPI Vol. 28 No. 1, Januari 2019 Vol 27 No.3, September 2018 Vol 27 No 3 (2018): MPI Vol 27 No 2 (2018): MPI Vol 27 No. 2, Mei 2018 Vol 27 No 1 (2018): MPI Vol 27 No.1, Januari 2018 Vol 26 No 3 (2017): MPI Vol 26 No 2 (2017): MPI Vol 24 No 3 (2015): MPI Vol 24 No 2 (2015): MPI Vol 26 No.3, September 2017 Volume 26 No. 2, Mei 2017 Vol 26 No 1 (2017): MPI Volume 26 No. 1, Januari 2017 Vol 25 No 2 (2016): MPI Vol 25 No 3 (2016): MPI Vol. 25 No. 3, September 2016 Vol. 25 No. 2, Mei 2016 Vol 25 No 1 (2016): MPI Vol. 25 No. 1, Januari 2016 Vol 23 No 2 (2014): MPI Vol. 24 No. 3, September 2015 Vol. 24 No. 2, Mei 2015 Vol 24 No 1 (2015): MPI Vol. 24 No. 1, Januari 2015 Vol 23 No 3 (2014): MPI Vol 23 No 1 (2014): MPI Vol 21 No 3 (2012): MPI Vol 21 No 2 (2012): MPI Vol 21 No 1 (2012): MPI Vol 20 No 3 (2011): MPI Vol 20 No 2 (2011): MPI Vol 20 No 1 (2011): MPI Vol. 23 No. 3, September 2014 Vol. 23 No. 2, Mei 2014 Vol. 23 No. 1, Januari 2014 Vol 22 No 3 (2013): MPI Vol. 22 No. 3, September 2013 Vol 22 No 2 (2013): MPI Vol. 22 No. 2, Mei 2013 Vol 22 No 1 (2013): MPI Vol. 22 No. 1, Januari 2013 Vol. 21 No. 3, September 2012 Vol. 21 No. 2, Mei 2012 Vol. 21 No. 1, Januari 2012 Vol. 20 No. 3, September 2011 Vol. 20 No. 2, Mei 2011 Vol. 20 No. 1, Januari 2011 Vol. 19 No. 2 (2010) Vol 19 No 2 (2010): MPI Vol 19 No 1 (2010): MPI Vol. 19 No. 1 (2010) More Issue