cover
Contact Name
Jaya Pramana
Contact Email
jayapram@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
support@majalahpatologiindonesia.com
Editorial Address
Departemen Patologi Anatomik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jl. Salemba Raya 6, Tromol Pos 3225, Jakarta 10002
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Majalah Patologi Indonesia
ISSN : 02157284     EISSN : 25279106     DOI : https://doi.org/10.55816/
Core Subject : Health,
Majalah Patologi Indonesia (MPI) digunakan sebagai wahana publikasi hasil penelitian, tinjauan pustaka, laporan kasus dan ulasan berbagai aspek di bidang patologi manusia. Tujuannya ialah menghadirkan forum bagi permakluman dan pemahaman aneka proses patologik serta evaluasi berbagai penerapan cara diagnostik sejalan dengan kemajuan perkembangan ilmu dan teknologi. Selain itu juga untuk merangsang publikasi barbagai informasi baru/mutakhir.
Articles 643 Documents
Perbedaan Ekspresi CD56 pada Hiperplasia Nodular, Adenoma Folikular dan Karsinoma Papiler Tiroid Amalia Octaviani Dewi; Mezfi Unita; Apitriani
Majalah Patologi Indonesia Vol. 29 No. 2, Mei 2020
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55816/mpi.v29i2.420

Abstract

BackgroundThyroid carcinomas are the most common malignancy of endocrine organs and the fourth most common cancer of women inIndonesia. Most of these tumors derived from thyroid follicular cells and more than 85% of cases are papillary carcinoma. Somecases may be confusing and cause misdiagnosis due to the morphology of these tumors are frequent overlap between nodularhyperplasia, follicular adenoma and papillary carcinoma. Anti-CD56 is one of the diagnostic markers with high sensitivity andspecificity in distinguishing benign thyroid lesions and papillary carcinoma. The aims of this study is to analyze the differences ofCD56 expression in nodular hyperplasia, follicular adenoma and papillary carcinoma.MethodsAn observational study with cross-sectional design was performed at Departement of Anatomical Pathology Faculty of MedicineUniversity of Sriwijaya/Dr. Mohammad Hoesin Palembang, from 1st January 2014 to 30th June 2017. Paraffin blocks of 52 samplesare collected from nodular hyperplasia (24 cases), follicular adenoma (8 cases) and papillary carcinoma (20 cases). The slides wereimmune stained using CD56 antibody. The difference of CD56 expression between papillary carcinoma and nodular hyperplasiawas analyzed using Chi-Square test while those between papillary carcinoma among follicular adenoma was analyzed usingFisher’s exact test.ResultsIn all samples of papillary carcinoma CD56 expression was negative compared to totally positive reaction in all samples of nodularhyperplasia and follicular adenoma.ConclusionAnti-CD56 could be used as a diagnostic marker in distinguishing between papillary carcinoma, nodular hyperplasia and follicularadenoma.
Analisis Ekspresi Cyclin D1 dan COX-2 pada Berbagai Grading Histopatologik Karsinoma Endometrioid Ovarium Erwin Sunardi; Endang Joewarini
Majalah Patologi Indonesia Vol. 29 No. 2, Mei 2020
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55816/mpi.v29i2.421

Abstract

BackgroundOvarian endometrioid carcinoma accounts for 10-15% of ovarian carcinomas, representing the second most common form ofovarian epithelial malignancy. Epithelial cell lines stably transfected to overexpress COX-2 exhibit a higher proliferation rate and aninhibition of apoptosis by prolongation of the G1 phase of the cell cycle through effects on Cyclin D1. The aim of this study is toanalyzed the correlation and differences between Cyclin D1 and COX-2 expressions in various histopathology grading ovarianendometrioid carcinoma.MethodsAn analitycal obsevational design with cross-sectional approach on sample from 23 paraffin blocks in Anatomical PathologyLaboratory Dr. Soetomo General Hospital. Microscopic slide stained with Cyclin D1 and COX-2 antibody. The imunohistochemistryexpression are evaluated and analyzed using Kruskal Wallis and Spearman test.ResultsThere were no differences Cyclin D1 expression in each grade, there were no differences COX-2 expression in each grade, therewas no correlation between Cyclin D1 and COX-2 expression all histopathologic grading, but have correlation expression in grade 3ovarian endometrioid carcinoma.ConclusionThis study showed that Cyclin D1 and COX-2 expression have no significant differences in various histopathological grading ovarianendometrioid carcinoma, and no correlation between Cyclin D1 and COX-2 expression all grade ovarian endometrioid carcinoma
Gambaran Immunoekspresi Matrix Metalloproteinase 9 (MMP-9) pada Lesi-lesi Prakanker dan Karsinoma Serviks Invansif Jessy Chrestella; Muhammad Nadjib D Lubis; Soekimin; A. H. Wibisono
Majalah Patologi Indonesia Vol. 19 No. 2 (2010)
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar BelakangMatrix Metalloproteinase 9 (MMP-9) merupakan enzim proteolitik yang diduga berperan pentingdalam proses progresifitas lesi prakanker menjadi kanker serviks. Kadar MMP-9 yang tinggi akanmenyebabkan proses degradasi jaringan serviks menjadi lebih cepat dan mempermudah prosesinvasi sel kanker. Penelitian ini mengevaluasi level immunoekspresi dari MMP-9 secaraimmunohistokimia pada berbagai spektrum lesi prakanker dan lesi karsinoma serviks invasif.Bahan dan CaraLima puluh sampel jaringan serviks dibagi dalam tiga kelompok yaitu lesi prakanker Low gradeSquamous Intraepithelial Lesion (LGSIL), lesi prakanker High Grade Squamous IntraepithelialLesion (HGSIL), dan lesi karsinoma invasive. Sampel akan dievaluasi intensitas dan kuantitasekspresi immunohistokimia MMP-9, kemudian diamati dan dianalisa dengan uji korelasi Spearmen.HasilJumlah sel yang terwarnai diffuse pada stroma serviks ditemukan pada 23 (46 %) kasus, 12 (26%)kasus pada karsinoma invasif dan 9 (18%) kasus HGSIL. Stroma pada lesi LGSIL lebih banyakyang tidak menampilkan IHK MMP-9. Pada stroma neoplasia intraepitel dan karsinoma invasifserviks ditemukan korelasi positif dan signifikan dengan ekspresi imunohistokimia MMP-9 baik darisegi intensitas pewarnaan maupun jumlah sel yang positif terwarnai.KesimpulanSemakin tinggi nilai positif ekspresi imunohistokimia MMP-9 yang dinilai berdasarkan intensitas dankuantitas, semakin tinggi derajat keparahan lesi neoplasia serviks. Peningkatan ekspresiimunohistokimia MMP-9 berperan penting dalam proses karsinogenesis tumor serviks
Hubungan antara Ekspresi MMP-2, C-erbB-2 (HER-2/neu), dan Derajad Keganasan Histologik Karsinoma Endometrium dengan Kedalaman Invasi Miometrium Resti Arania; Budiningsih Siregar; Esti Dwi Sabarati
Majalah Patologi Indonesia Vol. 19 No. 2 (2010)
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar belakangKedalaman invasi miometrium pada karsinoma endometrium penting dalam menentukan stadium dan prognosis.Saat ini telah banyak ditemukan faktor prognostik yang berhubungan dengan perubahan molekuler padakarsinogenesis, antara lain Matrix metalloproteinase-2 (MMP-2) yang merupakan enzim proteolitik yangberperan dalam degradasi matriks ekstrasel pada proses invasi dan c-erbB2, suatu reseptor faktor pertumbuhanyang bila ekspresinya meningkat berhubungan dengan prognosis buruk dan derajat keganasan histologik tinggi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ekspresi MMP-2, c-erbB2 dan derajad keganasanhistologik dengan kedalaman invasi miometrium pada karsinoma endometrium.CaraDilakukan studi retrospektif potong lintang terhadap 28 spesimen hasil operasi karsinoma operabel diDepartemen Patologi Anatomik FKUI/RSUPNCM dalam kurun waktu 2002-2008. Dilakukan pemeriksaan ulangpreparat HE untuk menilai jenis histologik, derajad keganasan dan kedalaman invasi Ekspresi MMP-2 dan cerbB2 dinilai dari pulasan imunohistokimia menggunakan antibodi monoklonal. Hasilnya dibandingkan menurutkedalaman invasi dan hubungan antar variabel.Hasil dan diskusiTerdapat hubungan yang bermakna antara derajad keganasan histologik dengan kedalaman invasi miometrium(p=0,02) yaitu kanker dengan derajad keganasan sedang-tinggi berisiko terjadi invasi lebih dari setengahketebalan miometrium 9 kali. Terdapat perbedaan bermakna antara ekspresi MMP-2 dengan derajad keganasanhistologik. Ekspresi MMP-2 lebih cenderung pada derajad keganasan rendah. Tidak terdapat hubungan antaraekspresi MMP-2, dan ekspresi c-erbB2 dengan kedalaman invansi. Dari penelitian ini disimpulkan bahwaderajad keganasan berhubungan dengan kedalaman invasi miometrium sedangkan ekspresi MMP-2 maupun cerbB2 tidak berhubungan.
Ekspresi hector battifora mesothelial epitope-1 (HBME-1) pada lesi jinak dan ganas tiroid Meilany Feronika Durry; Djumadi Achmad; Truly D. Dasril
Majalah Patologi Indonesia Vol. 19 No. 2 (2010)
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar belakangLesi kelenjar tiroid merupakan kelainan yang sering ditemukan, namun penegakan diagnosisberdasarkan gambaran histopatologik sesuai kriteria morfologi WHO, seringkali sulit dilakukanterutama pada tumor folikuler berdiferensiasi baik. Antibodi HBME-1 adalah antibodi yangdiproduksi dari suspensi sel mesotelioma yang bereaksi dengan antigen yang tidak diketahui padamembran sel mesotel. Antibodi ini juga dilaporkan terekspresi pada lesi ganas tiroid terutama yangberasal dari sel epitel folikel dan tidak terekspresi pada lesi tiroid jinak seperti nodular goiter danadenoma folikular.CaraDesain penelitian ini adalah cross sectional yang dilakukan di Bagian Patologi Anatomik FakultasKedokteran Universitas Hasanuddin. Sampel diperoleh dari jaringan tiroid selama periode Januari –Desember 2008. Dilakukan pewarnaan imunohistokimia menggunakan antibodi monoklonal HBME1 pada 30 jaringan lesi tiroid ganas (karsinoma papiler dan folikuler) dan 30 jaringan tiroid jinak(nodular goiter) menggunakan metode labelled streptavidin biotin peroxidase.HasilEkspresi HBME-1 ditemukan pada 25 dari 30 (83,3%) lesi ganas dan hanya ditemukan pada 1 dari30 (83,3%) lesi jinak. Penelitian ini memiliki angka sensitifitas 83%, spesifisitas 96,6%, nilai prediksipositif 96,1%, nilai prediksi negatif 85,3% dan Odds Ratio (OR) 145 (Conficence Interval 95% (15,9-1325))KesimpulanPewarnaan imunohistokimia menggunakan antibodi HBME-1 dapat menjadi pemeriksaan tambahanbagi pewarnaan hematoksilin eosin (HE) terutama untuk kasus-kasus lesi tiroid yang sulit dalammembedakan antara lesi jinak dengan ganas
Aspirasi Jarum Halus dan Pemeriksaan Imunositokimia pada Diagnosis Kasus Timoma Mediastinum Diah Setiawati; Lisnawati
Majalah Patologi Indonesia Vol. 19 No. 2 (2010)
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Timoma adalah tumor primer yang berasal dari sel-sel epitel timus. Pada umumnyabersifat asimptomatik dengan gejala klinik yang tidak khas, kadang-kadang disertaisindrom paraneoplastik seperti miastenia gravis. Perilaku biologi timoma tidak dapatdiprediksi. Gejala yang dapat menyebabkan keadaan darurat seperti dispneu dansindrome vena cava superior perlu penanganan yang segera dan tepat. Makalah inimenyajikan sebuah kasus timoma pada wanita usia 29 tahun yang cukup menarik yangdidiagnosis dengan Fine needle Aspiration Biopsy (FNAB) dan dibuktikan denganpemeriksaan imunositokimia. Laporan ini menekankan pentingnya peranan diagnosissitologi dengan tehnik FNAB pada kasus kegawatan. Gambaran sitologi timomamenunjukkan campuran populasi sel-sel epitel dan limfosit. FNAB dan imunositokimiamemainkan peranan yang penting dalam penetapan diagnosis dan berperan sebagaidasar diagnosis penatalaksanaan segera yang tepat pada pasien berisiko.
Ekspresi CD10 dan Bcl6 pada Limfoma Malignum Sel B Jenis Sel Besar Difus dan Hubungannya dengan Skor Indeks Prognostik Internasional Widjaja, Jimmy Hadi; Sandhika, Willy
Majalah Patologi Indonesia Vol. 19 No. 2 (2010)
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang.Limfoma malignum sel B jenis sel besar difus adalah Limfoma malignum non-Hodgkinyang sering dijumpai. Penyakit ini memiliki gambaran klinis, morfologik, perubahangenetik, dan molekular yang heterogen. Sel limfoma dapat memiliki fenotip serupadengan sel sentrum germinativum normal ditandai dengan ekspresi CD10 dan Bcl6 yangdapat berhubungan dengan gejala klinis dan prognosis yang baik. Penelitian ini inginmenilai hubungan imunoekspresi CD10 dan Bcl6 dengan skor Indeks PrognostikInternasional (IPI).CaraPenelitian dilakukan secara retrospektif pada 22 sediaan kasus Limfoma malignum sel Bjenis sel besar difus dari Januari 2007 sampai Juni 2009 di Bagian Patologi AnatomikRumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya. Semua bahan dilakukan penilaian ulang untukmenentukan diagnosis berdasarkan klasifikasi WHO 2001 berupa pulasan HE danimunohistokimia dengan CD10 dan Bcl6. Uji korelasi kontigensi digunakan untuk analisadata.HasilHasil penelitian ini menunjukkan hubungan yang bermakna antara ekspresi CD10 danekspresi Bcl6 dengan skor IPI (p< 0,05). Tidak terdapat hubungan bermakna antaraekspresi CD10 dengan Bcl6 (p > 0,05).KesimpulanEkspresi CD10 dan Bcl6 berkaitan dengan prediksi prognosis.
Ketepatan Pemeriksaan Terpadu Sitologi Biopsi Aspirasi Jarum Halus (Si-BAJAH) dan Ultrasonografi pada Nodul Tiroid di RSUP Adam Malik Medan Juliana Lina; Gani .W Tambunan; Netty .D Lubis
Majalah Patologi Indonesia Vol. 19 No. 2 (2010)
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar BelakangPembesaran nodul tiroid merupakan keadaan yang biasa ditemukan dan hanya sebagian kecil sajayang merupakan neoplasma (5-10%). Sitologi biopsi aspirasi jarum halus (Si-BAJAH) merupakanmetode pemeriksaan prabedah dan untuk memilih pasien yang memerlukan tindakan pembedahanpada kelainan neoplasma atau pengobatan (medikamentosa). Ultrasonografi (USG) dapat dipergunakan sebagai pengarah pada Si-BAJAH, agar jarum biopsi dapat lebih jelas dan akuratdiinsersikan ke lesi yang dicuriga. Ultrasonografi secara signifikan meningkatkan sensitivitas danspesifitas Si-BAJAH pada nodul tiroid dibanding jika hanya menggunakan Si-BAJAH.CaraPenelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan potong lintang untuk menilaiketepatan pemeriksaan Si-BAJAH dan USG pada nodul tiroid di RSUP Adam Malik Medan, danpemeriksaan histopatologi sebagai baku emasnya. Semua penderita dengan nodul tiroid ukuran≥2cm dilakukan biopsi aspirasi dan USG, kemudian dilakukan biopsi aspirasi ulang. Hapusandiwarnai dengan Giemsa.HasilHasil pengukuran menunjukkan sensitifitas Si-BAJAH mencapai 13,0% (1/8) dan spesifisitas100,0% (26/26). Akurasi diagnostik Si-BAJAH dan USG pada nodul tiroid lebih tinggi dibandingkanjika hanya dengan Si-BAJAH, dimana sensitifitas mencapai 25% (2/8) dan spesifisitas 100,0%(26/26).KesimpulanKesimpulan dari penelitian ini adalah pemeriksaan USG meningkatkan nilai akurasi diagnostik SiBAJAH pada nodul tiroid, terutama pada lesi jinak dengan ukuran ≥2 cm.
Penghambatan aktivitas proliferasi sel dan perubahan histopatologik epitel mukosa nasofaring mencit C3H dengan pemberian ekstrak benalu teh Sulistyo, Hidayat; Prasetyo, Awal; Tjahjono
Majalah Patologi Indonesia Vol. 19 No. 1 (2010)
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar belakangEfek scurrulla atropurpurea (SA) sebagai anti kanker telah banyak dibuktikan hingga tingkat molekuler, namunsebagaian besar dilakukan secara in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan inhibisi aktivitas proliferasisel dan perubahan histopatologik epitel mukosa nasofaring mencit C3H dengan pemberian ekstrak SA.MetodePenelitian eksperimental menggunakan 15 mencit C3H, dibagi menjadi tiga kelompok: kelompok kontrol (K)diinduksi dengan uap larutan formalin 10%, diberi diet standar AIN-93M mengandung 54 mg/kg BB formalinselama 9 minggu; kelompok P1 diinduksi uap formalin dan diet standar berformalin selama 6 minggu, lalu diberi1,5 g/kgBB ekstrak SA selama 3 minggu; kelompok P2 diberi ekstrak SA selama 3 minggu, kemudian diinduksiuap formalin dan diet standar mengandung formalin selama 6 minggu. Di akhir penelitian dilakukan pemeriksaanhistopatologik dan hitung AgNOR.HasilSkor perubahan histopatologik epitel nasofaring kelompok K (3,72±0,46), P1 (2,07±0,62), dan P2 (1,69±0,48).Rerata hitung AgNOR kelompok K (3±0,15), P1 (1,72±0,07), dan P2 (1,76±0,08). Uji Mann-Whitney terhadapvariabel perubahan histopatologik antara P1 vs P2, K vs P2, dan P2 vs P3 bermakna. Uji Mann-Whitneyterhadap variabel hitung AgNOR antara K vs P1 dan K vs P2 bermakna, namun antara P1 vs P2 tidakbermakna.KesimpulanEkstrak SA sebelum dan sesudah induksi formalin menimbulkan pengaruh berbeda bermakna pada perbaikanskor histopatologik dan aktivitas proliferasi sel epitel mukosa nasofaring mencit C3H
Pemeriksaan helicobacter pylori dengan PCR dari lambung penderita gastritis kronis Novi Triana; Mezfi Unita; Jusuf Fantoni; Theodorus; Yuwono
Majalah Patologi Indonesia Vol. 19 No. 1 (2010)
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar belakangHelicobacter pylori (H.pylori atau Hp) adalah bakteri yang hidup pada mukus dan epitel lambungmanusia. Bakteri ini merupakan salah satu penyebab terjadinya gastritis, ulkus duodenum danlambung, atau salah satu faktor penyebab keganasan lambung. Di negara berkembang prevalensiH.pylori dilaporkan lebih tinggi dibandingkan negara maju. Angka prevalensi juga tergantung daristatus sosialekonomi, budaya, lingkungan dan genetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuiperbandingan nilai sensitifitas dan spesifisitas pemeriksaan PCR dengan pemeriksaan histopatologik dalam mendeteksi H.pylori serta mengetahui nilai dugaan positif dan negatif pemeriksaanPCR.MetodeSampel diambil dari arsip slide dan blok parafin di Laboratorium Patologi Anatomik, dan cairanlambung dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya/Rumah SakitDr. Mohammad Hoesin Palembang. Jumlah sampel yang diperlukan untuk penelitian ini sebanyak30 sampel, kemudian dilakukan review oleh spesialis Patologi Anatomik, dilakukan pulasan Giemsadan pemeriksaan PCR untuk cairan lambung.HasilPada penelitian ini didapatkan 30 sampel, tujuh sampel (23,3%) dengan atrofi kelenjar, 5 sampel(16,7%) dengan metaplasia intestinal dan 14 sampel H.pylori positif (46,7%). Hasil pemeriksaansequen DNA H.pylori positif sebanyak 28 orang (93,3%) dan sequen DNA H.pylori negatif sebanyak2 orang (6,7%). Setelah dilakukan uji diagnostik didapati nilai sensitifitas 92,85%, spesifisitas6,25%, prediksi positif 46,4% dan prediksi negatif 50%. Sampel terbanyak (27) adalah gastritiskronik aktif, diikuti oleh gastritis kronik nonaktif.KesimpulanUntuk mengetahui adanya H.pylori pada lambung, pemeriksaan dengan metode PCR ini bisadijadikan pemeriksaan alternatif apabila pasien menolak untuk dilakukan biopsi lambung.

Filter by Year

2010 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 35 No. 1, Januari 2026 Vol. 34 No. 3, September 2025 Vol. 34 No. 2, Mei 2025 Vol. 34 No. 1, Januari 2025 Vol. 33 No. 3, September 2024 Vol. 33 No. 2, Mei 2024 Vol. 33 No. 1, Januari 2024 Vol. 32 No. 3, September 2023 Vol. 32 No. 2, Mei 2023 Vol. 32 No. 1, Januari 2023 Vol 31. No. 3, September 2022 Vol. 31 No. 2, Mei 2022 Vol 31 No 2 (2022): MPI Vol 31 No 1 (2022): MPI Vol. 31 No. 1, Januari 2022 Vol. 30 No. 3, September 2021 Vol 30 No 3 (2021): MPI Vol 30 No 2 (2021): MPI Vol. 30 No. 2, Mei 2021 Vol 30 No 1 (2021): MPI Vol. 30 No. 1, Januari 2021 Vol. 29 No. 3, September 2020 Vol 29 No 3 (2020): MPI Vol. 29 No. 2, Mei 2020 Vol 29 No 2 (2020): MPI Vol 29 No 1 (2020): MPI Vol. 29 No. 1, Januari 2020 Vol 28 No 3 (2019): MPI Vol. 28 No. 3, September 2019 Vol 28 No 2 (2019): MPI Vol. 28 No. 2, Mei 2019 Vol 28 No 1 (2019): MPI Vol. 28 No. 1, Januari 2019 Vol 27 No 3 (2018): MPI Vol 27 No.3, September 2018 Vol 27 No 2 (2018): MPI Vol 27 No. 2, Mei 2018 Vol 27 No 1 (2018): MPI Vol 27 No.1, Januari 2018 Vol 26 No 3 (2017): MPI Vol 26 No 2 (2017): MPI Vol 24 No 3 (2015): MPI Vol 24 No 2 (2015): MPI Vol 26 No.3, September 2017 Volume 26 No. 2, Mei 2017 Vol 26 No 1 (2017): MPI Volume 26 No. 1, Januari 2017 Vol 25 No 2 (2016): MPI Vol 25 No 3 (2016): MPI Vol. 25 No. 3, September 2016 Vol. 25 No. 2, Mei 2016 Vol 25 No 1 (2016): MPI Vol. 25 No. 1, Januari 2016 Vol 23 No 2 (2014): MPI Vol. 24 No. 3, September 2015 Vol. 24 No. 2, Mei 2015 Vol. 24 No. 1, Januari 2015 Vol 24 No 1 (2015): MPI Vol 23 No 3 (2014): MPI Vol 23 No 1 (2014): MPI Vol 21 No 3 (2012): MPI Vol 21 No 2 (2012): MPI Vol 21 No 1 (2012): MPI Vol 20 No 3 (2011): MPI Vol 20 No 2 (2011): MPI Vol 20 No 1 (2011): MPI Vol. 23 No. 3, September 2014 Vol. 23 No. 2, Mei 2014 Vol. 23 No. 1, Januari 2014 Vol 22 No 3 (2013): MPI Vol. 22 No. 3, September 2013 Vol 22 No 2 (2013): MPI Vol. 22 No. 2, Mei 2013 Vol 22 No 1 (2013): MPI Vol. 22 No. 1, Januari 2013 Vol. 21 No. 3, September 2012 Vol. 21 No. 2, Mei 2012 Vol. 21 No. 1, Januari 2012 Vol. 20 No. 3, September 2011 Vol. 20 No. 2, Mei 2011 Vol. 20 No. 1, Januari 2011 Vol. 19 No. 2 (2010) Vol 19 No 2 (2010): MPI Vol 19 No 1 (2010): MPI Vol. 19 No. 1 (2010) More Issue