cover
Contact Name
Aulia Novemy Dhita
Contact Email
aulianovemydhita@unsri.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
aulianovemydhita@unsri.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah
Published by Universitas Sriwijaya
ISSN : 19788673     EISSN : 26569620     DOI : -
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah, (P-ISSN: 1978-8673 dan E-ISSN: 2656-9620) merupakan jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, FKIP Universitas Sriwijaya yang mempublikasikan hasil penelitian Pendidikan Sejarah, Kajian Ilmu Sejarah dan Ilmu Sosial Budaya dalam Pendidikan Sejarah. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali setahun (Februari dan Agustus).
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 1 (2022)" : 7 Documents clear
Peran HOS Tjokroaminoto Dan Kiai Haji Ahmad Dahlan Dalam Perjalanan Soekarno Memahami Islam Tahun 1915 – 1934 Putri Ambarwati Prayitno; M Fakhruddin; Kurniawati Kurniawati
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v10i2.14702

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan juga memahami perjalanan Islam Soekarno yang bertujuan untuk melihat seberapa jauh pemahaman Soekarno dalam memahami dirinya sebagai seorang Muslim; melihat peranan HOS Tjokroaminoto dan Kiai Haji Ahmad Dahlan mempengaruhi Soekarno mengenai pemikiran Islam yang modernis serta melihat pengaruh HOS Tjokroaminoto dan Kiai Haji Ahmad Dahlan dalam mempengaruhi pemikiran Soekarno mengenai Islam. Metode yang digunakan adalah metode historis naratif. Hasil penelitian ini adalah dapat menjelaskan latar belakang dan pengaruh kedua tokoh tersebut terhadap Soekarno dalam memahami agamanya. Dapat mengetahui dan memahami perjalanan Soekarno mengenal dan mendalami Islam. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa seiring perjalanan Soekarno mengenal Islam ada peran penting dari HOS Tjokroaminoto dan K.H Ahmad Dahlan dalam memberi pengaruh, pemahaman serta pemikiran Islam kepada Soekarno. Oleh sebab itu, tujuan dari tokoh-tokoh tersebut dalam mencanangkan pemikiran-pemikiran Islam modern semata-mata hanya untuk kepentingan umat Islam agar selalu siap menghadapi tantangan masa depan.Kata Kunci: HOS Tjokroaminoto, Ahmad Dahlan, Soekarno, Islam, Modernisme. Abstract: This study aims to find out and also understand Soekarno's Islamic journey which aims to see how far Soekarno's understanding is in understanding himself as a Muslim; see the role of HOS Tjokroaminoto and Kiai Haji Ahmad Dahlan in influencing Soekarno regarding modernist Islamic thought and see the influence of HOS Tjokroaminoto and Kiai Haji Ahmad Dahlan in influencing Soekarno's thoughts on Islam. The method used is the historical narrative method. The results of this study are able to explain the background and influence of these two figures on Soekarno in understanding his religion. Can know and understand Soekarno's journey to know and explore Islam. Based on the results of this study, it can be concluded that along Soekarno's journey to know Islam there was an important role of HOS Tjokroaminoto and K.H Ahmad Dahlan in giving influence, understanding and Islamic thought to Soekarno. Therefore, the purpose of these figures in proclaiming modern Islamic thoughts is solely for the benefit of Muslims so that they are always ready to face future challenges.Keywords: HOS Tjokroaminoto, Ahmad Dahlan, Soekarno, Islam, Modernism.
Pengawasan Orde Baru Terhadap Eks-Tahanan Politik PKI Di Sumatera Barat Haldi Patra; Anatona Anatona; Yenny Narny
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i1.14724

Abstract

Abstrak: Artikel ini membahas tentang pengawasan Pemerintah Orde Baru Indonesia terhadap eks-tahanan politik PKI di Provinsi Sumatera Barat. Para eks-tapol itu ditangkap setelah peristiwa G30S dan dilepaskan pada secara bertahap pada 1970-an. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menjelaskan mengapa Orde Baru mengawasi mereka dan bagaimana pola pengawasan pemerintah Orde Baru terhadap para eks-tahanan politik itu di Provinsi ini. Artikel ini menggunakan metode sejarah, yaitu; heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Penelitian ini menunjukan bahwa terdapat lebih dari 40.000 orang tahanan politik di provinsi ini. Pengawasan terhadap mereka dilaksanakan oleh berbagai instansi pemerintahan dan dilakukan secara terstruktur dan sistematis. Otoritas memegang semua data eks-tapol tersebut agar memudahkan proses pemantauan mereka. Dengan begitu, Orde Baru dapat mencegah kebangkitan kembali PKI dan komunisme di Indonesia. Sebagai rezim yang berkuasa, Orde Baru dapat menjalankan program karena ia memiliki otoritas. Namun pengawasan ini juga memberikan dampak bagi kehidupan eks-tahanan politik itu karena membatasi ruang gerak mereka.Kata Kunci: PKI, eks-Tahanan, Politik, Sumatera, Barat, Orde, Baru. Abstract: This article examines the New Order's supervision of ex-PKI political prisoners in West Sumatra. They were arrested after the G30S incident and were released in the 1970s. The purpose of this paper is to explain why the New Order supervised them and how the New Order government's supervision patterns of the ex-political prisoners in West Sumatra Province. This paper historical method. There are four steps in this method; heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. This research shows that there are more than 40,000 political prisoners in this province. This Surveillance had carried out by various government agencies and carried out in a structured and systematic manner. The authorities held all the data of the ex-political prisoners. Thus it made it easier for the process to monitor them. The New Order could prevent the revival of the PKI and communism in Indonesia. As the governing regime, the New Order had the authority to run its programs. However, this policy affected the ex-political prisoner's lives because it the limitation that resulted from that policy. Keywords: PKI, ex-Political, Prisoner, West, Sumatera, Orde, Baru.
Eksistensi Majelis Al-Awwabien Dalam Mengamalkan Ritual Ratib Al-Haddad Di Kota Palembang Tahun 1985-2008 Nabila Julaikha Putri; Muhammad Ilmi Luthfi; Syarifuddin Syarifuddin; Supriyanto Supriyanto
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i1.13821

Abstract

Abstrak: Penelitian ini di uraikan dalam tiga pokok bahasan rumusan masalah yaitu; (1). Majelis Al-Awwabien sebagai organisasi penyebar Ratib al-Haddad di Kota Palembang; (2). Ciri khas yang dibawakan oleh Majelis Al-Awwabien dalam pembacaan Ratib al-Haddad di Kota Palembang; (3). Mencari pengaruh Ratib al-Haddad pada jama’ah majelis al-Awwabien di Kota Palembang. Tujuan dilakukan penelitian ini ialah untuk mengeksplorasi pengaruh salah satu ajaran Islam klasik dalam mengamalkan sebuah ritual keagamaan, yakni ritual dzikir Ratib Al-Haddad di majelis Al-Awwabien Palembang. Penelitian ini juga bertujuan mengetahui ciri khas Majelis Al-Awwabien dalam mengamalkan Ratib al-Haddad. Dan memahami pengaruh Ratib al-Haddad pada jama’ah majelis al-Awwabien di Palembang. Studi ini menggunakan metode penelitian historis dengan menggunakan pendekatan agama dan antropologi. Penelitian ini dilakukan berdasarkan data yang tepat melalui wawancara tiga informan yaitu Habib Ali Karor al-Haddad, Ustadz Abul Hasan Assyadzili dan Ustadz Ilyas. Hasil penelitian ini sebagaimana diketahui, dzikir Ratib Al-Haddad umumnya diamalkan oleh masyarakat keturunan Arab Hadramaut. Setelah majelis al-Awwabien yang didirikan oleh KH. Ali Umar Thoyyib pada tahun 1985 mengajarkan dzikir Ratib al-Haddad kepada masyarakat, secara perlahan menjadi amalan yang populer diluar lingkungan keturunan Arab. Jenis bacaan Ratib al-Haddad yang di ajarkan oleh majelis al-Awwabien sedikit berbeda dengan yang diamalkan oleh kalangan umum, yakni penambahan dzikir lainnya. Majelis Al-Awwabien sangatlah berpengaruh terhadap masyarakat Palembang sehingga menjadi lebih religius.Kata Kunci: Dzikir, Ratib A-Haddad, Majelis al-AwwabienAbstrack: This research is described in three main issues of problem formulation, namely; (1). Al-Awwabien Assembly as the organization that spreads Ratib al-Haddad in Palembang City; (2). Characteristics brought by the Al-Awwabien Assembly in the reading of Ratib al-Haddad in Palembang City; (3). Looking for the influence of Ratib al-Haddad on the al-Awwabien congregation in the city of Palembang. The purpose of this research is to explore the influence of one of the classical Islamic teachings in practicing a religious ritual, namely the dhikr ritual of Ratib Al-Haddad in the Al-Awwabien assembly in Palembang. This study also aims to determine the characteristics of the Al-Awwabien Assembly in practicing Ratib al-Haddad. And understand the influence of Ratib al-Haddad on the al-Awwabien congregation in Palembang. This study uses historical research methods using religious and anthropological approaches. This research was conducted based on accurate data through interviews with three informants, namely Habib Ali Karor al-Haddad, Ustadz Abul Hasan Assyadzili and Ustadz Ilyas. The results of this study, as is known, the dhikr of Ratib Al-Haddad is generally practiced by people of Hadramaut Arab descent. After the al-Awwabien assembly founded by KH. Ali Umar Thoyyib in 1985 taught the dhikr of Ratib al-Haddad to the public, slowly became a popular practice outside the Arab descent environment. The type of Ratib al-Haddad reading taught by the al-Awwabien assembly is slightly different from that practiced by the general public, namely the addition of other dhikr. The Al-Awwabien Assembly was very influential on the people of Palembang so that they became more religious.Keywords: Dhikr, Ratib A-Haddad, Majelis al-Awwabien
Pengembangan E-Modul Strategi Pembelajaran Sejarah dalam Upaya Peningkatan Literasi Digital Mahasiswa Eva Dina Chairunisa; Ahmad Zamhari
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i1.16047

Abstract

Abstrak: Mengacu kepada empat kompetensi yang harus dimiliki pada abad 21, kemampuan literasi digital adalah salah satu kompetensi yang sangat penting untuk dimiliki generasi muda saat ini khususnya mahasiswa Pendidikan Sejarah. Permasalahan penelitian ini yaitu bagaimana mengembangkan e-modul pada mata kuliah Strategi Pembelajaran Sejarah di Prodi Pendidikan Sejarah, FKIP-Universitas PGRI Palembang. Adapun ujuan dari penelitian ini menghasilkan e-modul pada mata kuliah Strategi Pembelajaran Sejarah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan dengan tahapan yaitu, need assessment, literature review, planning, develop preminarry form of product, revisi produk, preminnary field test, dan revisi produk. Dalam modul ini disusun menjadi lima bagian besar, terdiri dari teori belajar, PAIKEM, Model, metode dan media pembelajaran serta contohnya dan penilaian pada pembelajaran sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-modul ini dinilai sudah komunikatif dan user friendly untuk digunakan mahasiswa yang mengambil mata kuliah Strategi Pembelajaran Sejarah.Kata Kunci: E-Modul, Pembelajaran Sejarah, Literasi, Digital. Abstract: Referring to the four competencies that must be possessed in the 21st century, digital literacy skills are one of the most important competencies for today's young generation especially student of history education. The problem of this research is how to develop an e-module in the History Learning Strategy course in History Study Program in Faculty of Teacher and Training Education, University of PGRI Palembang. The purpose of this research is to produce e-modules in the History Learning Strategy course. This study uses a development research method with stages, namely, need assessment, literature review, planning, developing the preminarry form of product, product revision, preminnary field test, and product revision. In this module, it is organized into five major sections, consisting of learning theory, PAIKEM, models, methods and learning media as well as examples and assessments of historical learning. The results showed that this e-module was considered communicative and user friendly to be used by students taking the History Learning Strategy course.Keywords: E-Modul, History, Learning, Digital, Lieteracy
Peran Polisi Pamong Praja dalam Menangani Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat di Kabupaten Lombok Timur Tahun 2000-2020 Bambang Eka Saputra; Abdul Hafiz; Abdul Rasyad; Lalu Murdi; Muhammad Shulhan Hadi; Muchamad Triyanto
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i1.14897

Abstract

Abstrak: Eksistensi Polisi Pamong Praja (Pol-PP) dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan pemerintahan, baik sejak masa kolonial Belanda sampai Indonesia merdeka. Peran Pol-PP mewujudkan ketentraman dan ketentraman di Lombok Timur menjadi bagian dari agenda rutin pemerintah daerah. Atas dasar pemikiran tersebut kajian tentang sejarah dan peranan Pol-PP dalam menjaga ketentraman dan ketertiban masyarakat di Lombok Timur menjadi penting dilakukan.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah berdirinya Pol-PP di Indonesia dan Lombok Timur, dan mengetahui peran Pol-PP dalam menjaga dan mengatasi ketentraman dan ketertiban umum di Lombok Timur. Metode penelitian sejarah digunakan untuk mengungkap tentang eksistensi dan peran Pol-PP dalam menjaga keamana, dan ketetiban dalam roda pemerintahan di Lombok Timur. Tahapan metode sejarah dilakukan melalui heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pol-PP di Lombok Timur telah memberikan sumbangan yang berarti terhadap keberhasilan pemerintah daerah Lombok Timur dalam menjaga ketentraman dan ketertiban masyarakat khususnya. Hal ini terwujud dari periode tahun 2000-20020 dimana peran dan fungsi Pol-PP berjalan dengan baik.Kata Kunci: Peran, Polisi Pamong Praja, Ketertiban, Keamanan.Abstract: The existence of the Civil Service Police (Pol-PP) in the historical trajectory of the Indonesian nation has become an inseparable part of the administration of government, both from the Dutch colonial period until Indonesia's independence. The role of Pol-PP in realizing peace and tranquility in East Lombok is part of the routine agenda of the local government. On the basis of this thought, a study of the history and role of Pol-PP in maintaining peace and order in East Lombok is important. This study aims to determine the history of the establishment of Pol-PP in Indonesia and East Lombok. Knowing the role of Pol-PP in maintaining and overcoming public peace and order in East Lombok. The historical research method is used to reveal the existence and role of Pol-PP in maintaining security and order in the wheels of government in East Lombok. The stages of the historical method are carried out through heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The results of the study indicate that the Pol-PP in East Lombok has made a significant contribution to the success of the East Lombok regional government in maintaining peace and order in the community in particular. This was realized from the period 2000-20020 where the role and function of Pol-PP went well.Keywords: Role, Civil Service Police, Order, Security. 
Pemanfaatan Museum dan Situs Cagar Budaya di Pontianak Sebagai Sumber Belajar Sejarah Indonesia Mohammad Rikaz Prabowo; Supardi Supardi
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i1.14704

Abstract

Abstrak: Pembelajaran sejarah akan lebih bermakna jika peserta didik dapat merasakan langsung pengalaman belajarnya. Salah satunya dengan melakukan edukasi di museum. Permasalahan penelitian ini yaitu bagaimana pemanfaatan museum dan cagar budaya di Pontianak. Adapun tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pemanfaatan museum dan cagar budaya serta kesesuaiannya dalam materi pada mata pelajaran sejarah. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif melalui studi kepustakaan yang berkaitan dengan topik yang dipilih. Hasil penelitian yaitu Pertama, museum dapat menambah wawasan pengetahuan dan perjalanan bangsa, rasa cinta tanah air, serta patriotisme peserta didik. Musuem dan cagar budaya sebagai sumber belajar alternatif, mengimbangi keterbatasan belajar di kelas. Keduanya dapat membuka cakrawala peserta didik melihat dan menghayati kehidupan serta peninggalan sejarah di masa lalu secara nyata. Kedua, museum dan cagar budata di Pontianak yang dapat dijadikan sumber belajar sejarah antara lain Museum Provinsi Kalimantan Barat dan Keraton Kadriyah Kesultanan Pontianak. Ketiga, pada Museum Provinsi terdapat koleksi geologikan, arkeologika, historika, dan benda-benda bersejarah hasil kebudayaan pra-aksara hingga masa islam. Hal ini mendukung sebagai sumber belajar sejarah dan berkorelasi dengan materi. Sedangkan Keraton Kadriyah keberadaannya dapat memperdalam khazanah keilmuan peserta didik mengenai materi pada masa kesultanan-kesultanan Islam di Kalimantan. Terdapat pula Masjid Jami’ yang memadukan gaya arsitektur rumah melayu dan timur tengah sebagai hasil kebudayaan bangunan masa Islam.Kata Kunci: Museum, Cagar Budaya, Sumber Belajar, Pontianak.Abstract: Historical learning will be more meaningful if learners can feel the learning experience directly. One of them is by doing education in the museum. The problem of this research is how to use museums and cultural reserves in Pontianak.  The purpose of this study is to describe the use of museums and cultural reserves and their suitability in materials in historical subjects. The method used is qualitative descriptive through literature studies related to the chosen topic. The results of the research are  first,  the museum can add insight into the knowledge and journey of the nation, the love of the homeland, and the patriotism of learners. Musuem and cultural heritage as alternative learning resources, offsetting the limitations of learning in the classroom. Both can open the horizons of learners to see and live life and historical relics in the past for real.  Second,  budata museums and reserves in Pontianak that can be used as sources of historical learning include the West Kalimantan Provincial Museum and the Kadriyah Palace of the Pontianak Sultanate. Third,  in the Provincial Museum there is a collection of geology, archaeology, history, and historical objects produced by pre-script culture until the islamic period. It is supportive as a source of historical learning and correlates with matter. While the Kadriyah Palace its existence can deepen the scientific treasures of learners about the material during the Islamic sultanates in Kalimantan. There is also Jami' Mosque which combines the architectural style of Malay and Middle Eastern houses as a result of Islamic building culture. Keywords: Museums, Cultural Heritage, Learning Resources, Pontianak.
Agresi Militer Belanda di Wilayah Batu Pujon 1947-1948: Sebuah Kajian Sejarah Lokal Moch. Dimas Galuh Mahardika
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i1.14979

Abstract

Abstrak: Peristiwa yang menandai periode 1945-1950 adalah Agresi Militer I dan II oleh pemerintah Belanda dengan mengerahkan berbagai divisi militer sebagai upaya merebut kembali tanah jajahan. Keinginan besar Belanda untuk mendapatkan kekuasaan kembali atas Indonesia setelah proklamasi merupakan salah satu bentuk ancaman nyata yang harus dihadapi oleh bangsa Indonesia. Dengan dalih "Aksi Polisionil", tentara Belanda melakukan aktifitas militer di wilayah Indonesia, sekaligus melanggar perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. Gejolak di berbagai daerah mulai muncul, salah satunya terjadi di wilayah Batu-Pujon. Monumen status quo lijn di daerah Pujon menjadi simbol batas pendudukan Belanda dan wilayah Republik. Pertempuran yang terjadi di wilayah Batu-Pujon merupakan salah satu dari sekian banyak pertempuran yang terjadi selama periode Agresi Militer. Artikel ini ditulis dengan menggunakan metode penelitian sejarah untuk menceritakan peristiwa Agresi Militer Belanda dalam konteks sejarah lokal wilayah Batu- Pujon.Kata Kunci: Agresi, Militer, Belanda, Batu, Pujon, TNI.Abstract: One of the events marking the period 1945-1950 was the Military Aggression I and II which deployed many military divisions in an effort to fight for independence in the regions. The Dutch' great desire to regain control of Indonesia after the proclamation is one form of real threat that must again be faced by the Indonesian nation. Under the pretext of "Police Action", the Dutch soldiers carried out military activities while violating a previously agreed agreement. Turmoil in various regions began to appear, one of them in the Batu-Pujon region which is one of the highlands and flanked by several mountains. The status quo monument in Pandesari area became a symbol of the boundaries of dutch occupation and Republic territory. The battle that took place in the Batu-Pujon region was a small battle that took place during the Military Aggression. This article written by using the historical research methods try to explain the history of Dutch Military Agression in the local history context of Batu-Pujon region. Keywords: Agression, Batu, Pujon, Indonesian, National, Army.

Page 1 of 1 | Total Record : 7