cover
Contact Name
Suciati
Contact Email
psuciati@ecampus.ut.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jp-ut@ecampus.ut.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Pendidikan
Published by Universitas Terbuka
ISSN : 14111942     EISSN : 24433586     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Pendidikan diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Terbuka. Jurnal ini memuat artikel yang ditulis berdasarkan hasil penelitian dan analisis konseptual mencakup berbagai dimensi pendidikan, seperti kurikulum, pembelajaran, evaluasi, manajemen, kualitas Pendidikan, dan pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi, dalam berbagai jenjang pendidikan dan modus penyampaian pembelajaran
Arjuna Subject : -
Articles 267 Documents
PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF DAN SELF MONITORING SISWA TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR ILMIAH DALAM BIOLOGI BAGI SISWA KELAS X SMA Gusti Nurdin
Jurnal Pendidikan Vol. 16 No. 2 (2015)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.57 KB) | DOI: 10.33830/jp.v16i2.344.2015

Abstract

The purpose of this study was to describe (1) the ability to follow the scientific thinking of students learning with cooperative learning. (2) differences in scientific thinking skills among students who have self-monitoring high and students who have self-monitoring low (3) differences in scientific thinking skills of students who have self-monitoring high following study with cooperative learning learning students (4) differences in scientific thinking skills of students who have low self-monitoring which follows cooperative learning students in the subjects of biology in high school. (5) the effect of the interaction between learning strategy and self-monitoring of the scientific thinking skills. The research location is housed in SMA 22 Jakarta Timur. With descriptive results, the low self-monitoring group, the average student learning outcomes before treatment amounted to 58,55. After scientific thinking and treatment, an increase in the average learning result of 72,91 and 84,18. Likewise, the high self-monitoring group, the average student learning outcomes before treatment was of 58,33. After scientific thinking and treatment, an increase in the average learning result of 71,17 and 81,33. The average value of student learning outcomes before treatment amounted 58,43.Setelah scientific thinking and treatment, the average student learning outcomes increased by 72,0 and 82,70. The average value of student learning outcomes before treatment amounted 58,43.Setelah scientific thinking and treatment, be increased by 72,0 and 82,70. The average value of student learning outcomes low self-monitoring group amounted to 71,88. The average results of students 'self-monitoring group high of 70,28. Sebelum treatment, the average value of the students' self-monitoring group a low of 58,55. The average results of students' self-monitoring group high of 58,33. The difference in value of student learning outcomes between low self-monitoring groups did not differ significantly with high self-monitoring after treatment. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) kemampuan berpikir ilmiah siswa yang mengikuti pembelajaran dengan pembelajaran kooperatif. (2) perbedaan kemampuan berpikir ilmiah antara siswa yang memiliki self monitoring tinggi dan siswa yang memiliki self monitoringrendah (3) perbedaan kemampuan berpikir ilmiah siswa yang memiliki self monitoring tinggi yang mengikuti pembelajaran dengan pembelajaran kooperatif learning siswa (4) perbedaan kemampuan berpikir ilmiah siswa yang memiliki self monitoring rendah yang mengikuti pembelajaran kooperatif siswa dalam mata pelajaran biologi di SMA. (5) pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dengan self monitoring terhadap kemampuan berpikir ilmiah. Lokasi penelitian ini bertempat di SMA 22 Jakarta Timur. Dengan hasil secara deskriptif, pada kelompok self monitoring rendah, rata-rata hasil belajar siswa sebelum treatment adalah sebesar 58,55. Setelah berpikir ilmiah dan treatment, terjadi peningkatan rata-rata hasil belajar sebesar 72,91 dan 84,18. Demikian juga pada kelompok self monitoring tinggi, rata-rata hasil belajar siswa sebelum treatmentadalah sebesar 58,33. Setelah berpikir ilmiah dan treatment, terjadi peningkatan rata-rata hasil belajar sebesar 71,17 dan 81,33. Rata-rata nilai hasil belajar siswa sebelum treatment adalah sebesar 58,43.Setelah berpikir ilmiah dan treatment, rata-rata hasil belajar siswa meningkat sebesar 72,0 dan 82,70. Rata-rata nilai hasil belajar siswa sebelum treatment adalah sebesar 58,43.Setelah berpikir ilmiah dan treatment, menjadi meningkat sebesar 72,0 dan 82,70. Rata-rata nilai hasil belajar siswa kelompok self monitoring rendah adalah sebesar 71,88. Rata-rata hasil belajar siswa kelompok self monitoring tinggi sebesar 70,28.Sebelum treatment, rata-rata nilai hasil belajar siswa kelompok self monitoring rendah sebesar 58,55. Rata-rata hasil belajar siswa kelompok self monitoring tinggi sebesar 58,33. Selisih nilai hasil belajar siswa antara kelompok self monitoring rendah tidak berbeda signifikan dengan self monitoring tinggi setelah treatment.
COMMUNITY HEALTH EDUCATION THROUGH NON-FORMAL EDUCATION IN PAKISTAN Muhammad Ajmal; Farzana M Phil
Jurnal Pendidikan Vol. 16 No. 2 (2015)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.607 KB) | DOI: 10.33830/jp.v16i2.345.2015

Abstract

Pendidikan kesehatan merupakan komponen integral dari pelayanan kesehatan primer. Petugas kesehatan wanita menyediakan berbagai layanan kesehatan kepada masyarakat di Pakistan. Mereka harus menyadari dan dilatih tentang aspek kuratif dan preventif pelayanan kesehatan primer. Ada kebutuhan mendesak untuk mendidik dan mengatur kesehatan pelatihan pendidikan untuk petugas kesehatan wanita. Jadi studi ini dirancang pada "pendidikan kesehatan masyarakat melalui pendidikan non-formal". Populasi dari penelitian ini adalah petugas kesehatan wanita, master trainer dan masyarakat. Tanggal dikumpulkan melalui lima titik skala Likert dan beberapa pertanyaan terbuka untuk petugas kesehatan wanita dan master trainer dan wawancara checklist untuk masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petugas kesehatan wanita tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang kesehatan dan penyakit umum. Ada cukup pelatihan in-service bagi petugas kesehatan wanita untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka untuk hasil yang lebih baik. Studi direkomendasikan bahwa selain program pelatihan yang ada, sesi kesehatan pelatihan harus diatur melalui videoconference / telekonferensi, kursus pelatihan online, media sosial, TV / program Radio FM, literatur terbaru, program CD yang direkam untuk petugas kesehatan wanita. Health education is an integral component of primary health care services. Lady health workers provide a broad range of health services to the communities in Pakistan. They should be aware and trained about curative and preventive aspects of primary health care services. There is an urgent need to educate and organize health educational trainings for Lady Health Workers. So this study was designed on “community health education through Non-formal education”. The population of this study was lady health workers, master trainers and community people. Date was collected through five point Likert scale and some open-ended questions for lady health workers and master trainers and interview checklist for community people. Results showed that the lady health workers do not have sufficient knowledge about health and common diseases. There are insufficient in-service trainings for lady health workers to enhance their skill and knowledge for better outcomes. Study recommended that in addition to existing training program, training health sessions should be arranged through videoconferencing/ teleconferencing, online training courses, social media, TV/ FM Radio programs, latest literature, CD recorded programs for lady health workers.
PENGEMBANGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA SMP PENGEMBANGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIK DENGAN MEAs (Developing Mathematical Communication Skills For Junior High School Students) Endang Wahyuningrum
Jurnal Pendidikan Vol. 14 No. 1 (2013)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (796.158 KB) | DOI: 10.33830/jp.v14i1.346.2013

Abstract

Communication ability on mathematics should be mastered by students to involve in mathematical learning process. This ability would help students in learning mathematics. Srategy of Model Eliciting Activities (MEAs) can be used to develop mathematical communication ability. This study examines mathematical communication ability of students after going through the learning process with a MEAs strategy. This Quasi-static research with comparison group design involved 69 eight-grade students. The students were from secondary school in Depok. The data were analized by using average differential test and ANOVA two pathways. Generally, the data shows that mathematical communication ability of students engaged in learning with MEAs strategy were better than the students engaged in conventional. Kemampuan komunikasi matematik merupakan kemampuan yang harus dimiliki siswa untuk dapat terlibat secara maksimal dalam proses pembelajaran matematika. Kemampuan ini bermanfaat bagi siswa untuk membangun pemahaman dan pengetahuan konsep matematik. Srategi pembelajaran Model Eliciting Activities (MEAs) dapat digunakan guru untuk mengembangkan kemampuan komuniksai matematik siswa. Tulisan ini melaporkan hasil penelitian tentang kemampuan komunikasi siswa setelah terlibat dalam proses pembelajaran matematika dengan strategi MEAs. Penelitian dengan rancangan Quasi-static ini melibatkan 69 siswa SMP kelas 8 yang terbagi dalam dua kelompok. Kelompok eksperimen terdiri dari 34 siswa dan kelompok kontrol terdiri dari 35 siswa. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji beda rata-rata dan uji ANOVA dua jalur. Secara umum, penelitian menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi matematik siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan strategi MEAs lebih baik dari kemampuan komunikasi matematik siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional.
PEMAHAMAN KONSEP BILANGAN BULAT GURU SD DI PASIR JAMBU KABUPATEN BANDUNG Didi Permana; Tatang Herman
Jurnal Pendidikan Vol. 14 No. 1 (2013)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.619 KB) | DOI: 10.33830/jp.v14i1.347.2013

Abstract

This study aimed to identified the understanding of whole number concept among elementary school teacher taking distance course in Elementary Teacher Training Indonesia Open University as viewed from the quality of module, tutor performance, and learning motivation. Samples were 72 participants of tutorial program under Mathematics for Elementary School subject carried out in Pasir Jambu village Bandung Regency during 2012.1 registration period. Using questionaire, test concerning whole number concept, documentary study, observation and interview for data gathering. Results indicated that (i) module quality, tutor performance, and motivation contributed significantly toward whole number concept, the contribution number were 29,80%, 18,30% dan 29,80%, (ii)module quality and tutor performance contributed significantly to whole number concept (36,70%), (iii) tutor performance and motivation contributedsignificantly to whole number concept (38,70%), (iv) module quality, tutor performance and motivation contributed significantly to whole number concept (51,50%), and (v) the rest 48,50% was determined by unidentified variables. Recommends that tutorial administrator should maintain the quality of module and to enlarge student access upon learning material through media alternative, to improve tutor profesionalism, and to encourage motivation among studentconcerned. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pemahaman tentang konsep bilangan bulat kelompok guru SD peserta pendidikan guru jarak jauh ditinjau dari aspek kualitas modul, kinerja tutor dan motivasi belajar. Sampel adalah seorang tutor dan 72 mahasiswa peserta tutorial mata kuliah Pembelajaran Matematika SD di Kelompok Belajar Pasir Jambu Kabupaten Bandung masa registrasi 2012.1. Pengumpulan data dilaksanakan menggunakan angket, tes pemahaman konsep bilangan bulat, studi dokumentasi, observasi dan tes untuk tutor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (i) kualitas modul, kinerja tutor dan motivasi belajar secara bersama-sama berkontribusi secara signifikan terhadap pemahaman konsep bilangan bulat, yaitu masing-masing sebesar 29,80%, 18,30% dan 29,80%, (ii) kualitas modul dan kinerja tutor secara bersama-sama berkontribusi signifikan (36,70%) terhadap pemahaman konsep bilangan bulat, (iii) kinerja tutor dan motivasi belajar mahasiswa secara bersama-sama berkontribusi secara signifikan (38,70%) terhadap pemahaman konsep bilangan bulat, (iv) kualitas modul, kinerja tutor dan motivasi belajar mahasiswa bersama-sama berkontribusi secara signifikan (51,50%) terhadap pemahaman konsep bilangan bulat, dan (v) sisanya 48,50% ditentukan oleh variabel lain yang tidak diteliti. Disarankan hendaknya penyelenggara tutorial mempertahankan kualitas dan memperluas akses mahasiswa terhadap materi belajar, meningkatkan profesionalitas tutor, dan meningkatkan motivasi mahasiswa peserta tutorial.
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR KIMIA RINTISAN SMA BERTARAF INTERNASIONAL KELAS XI MATERI LAJU REAKSI Inova Putri Carera; I Wayan Dasna
Jurnal Pendidikan Vol. 13 No. 1 (2012)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.234 KB) | DOI: 10.33830/jp.v13i1.349.2012

Abstract

This study was aimed to develop teaching materials about chemical reaction rate which covered materials adapted to A-Level High School students of grade XI in Pioneer International Standard High School (RSMA-BI). The developmental research was adopting the instructional development model 4D which include four stages of development, namely define, design, develop, and disseminate. Instructional materials were written in English consist of seven topics titled: Reaction Rate Concept, The Exchange's Expressions, Rate Law and Reaction Order, Experimental Determination of a Rate Law, Reaction Mechanism, Theories of Reaction Rate, Factors Affecting Reaction Rate. Results of content validation from content experts obtained the average score of 3. 56 of 14 range of scores which means valid / good / decent. Test limited to high school students of RSBI obtained an average score of 3.35 (valid / good / decent). The results of the use of teaching materials obtained a score of 77.8 which is above the minimal passing grade (75). Therefore it can be concluded that the materials were feasible to be used in the classroom.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar laju reaksi dengan cakupan materi yang disesuaikan dengan A-Level untuk siswa kelas XI Rintisan Sekolah Menengah Atas Bertaraf Internasional (RSMA-BI. Rancangan penelitian pengembangan mengadaptasi model pengembangan bahan ajar Model 4D yang meliputi empat tahap pengembangan, yaitu define, design, develop dan disseminate. Produk pengembangan adalah bahan ajar kimia RSMA-BI kelas XI materi laju reaksi yang ditulis dalam bahasa Inggris menggunakan pendekatan kontekstual. Bahan ajar terdiri atas empat bagian utama yaitu pendahuluan, materi, evaluasi dan penutup. Materi tersusun atas tujuh sub materi yaitu Reaction Rate Concept, The Rates Expressions, Rate Law and Reaction Order, Experimental Determination of a Rate Law, Reaction Mechanism, Theories of Reaction Rate, Factors Affecting Reaction Rate. Hasil validasi isi dari ahli materi diperoleh nilai rata-rata 3,56 dari rentang skor 1-4 dengan kriteria valid/baik/layak. Hasil uji terbatas pada siswa SMA RSBI diperoleh nilai rata-rata 3,35 dari rentang skor 1-4 dengan kriteria valid/baik/layak. Hasil uji penggunaan bahan ajar diperoleh skor sebesar 77,8. Skor ini diatas SKM (Skor Kelulusan Minimal) yaitu 75 sehingga dapat disimpulkan bahwa bahan ajar telah layak dan dapat digunakan dalam pembelajaran di kelas.
PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP POLA INTERAKSI DALAM TUTORIAL ONLINE MATAKULIAH FISIKA STATISTIK Herawati Herawati
Jurnal Pendidikan Vol. 14 No. 1 (2013)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.912 KB) | DOI: 10.33830/jp.v14i1.350.2013

Abstract

The aims of this study are to analyze the patterns of student interaction in online tutorial and to reveal the students perception of the pattern during the tutorial online. The research method used survey method. The study was conducted at physics education department, FKIP-UT on statistical physics course in registration period 2012.2. The number of respondents is 12 respondents. The questionnaire uses a Likert scale. To analyze data used Pearson bivariate analysis and Cronbach alpha. The results showed that 1) the high pattern of students interaction in tutorial is student interaction with matter and student interaction with tutors; 2) online discussion can be able to provide feedback from other students and can also give students a change to argue. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola interaksi mahasiswa dalam tutorial online (Tuton) dan mengetahui persepsi mahasiswa terhadap pelaksanaan tutorial online. Metode penelitian menggunakan metode survey. Penelitian dilakukan di program studi pendidikan fisika FKIP-UT pada matakuliah fisika statistik masa registrasi 2012.2. Responden sebanyak 12 responden. Instrumen menggunakan skala Likert. Validitas dan reliabilitas butir instrumen dilakukan uji pearson bivariat dan analisis alfa cronbach. Hasil menunjukkan bahwa: 1) pola interaksi mahasiswa yang sering terjadi adalah pola interaksi mahasiswa dengan materi dan pola interaksi mahasiswa dengan tutor 2) diskusi online dapat menyediakan umpan balik dari mahasiswa lainnya dan memberikan kesempatan mahasiswa untuk berpendapat.
PERBANDINGAN PENGGUNAAN MULTIMEDIA SECARA TUTORIAL DAN PRESENTASI TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS PADA KONSEP SISTEM PERTAHANAN TUBUH Eni Nuraeni; Dadang Machmudin; Tenten Hermansyah
Jurnal Pendidikan Vol. 13 No. 1 (2012)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.251 KB) | DOI: 10.33830/jp.v13i1.351.2012

Abstract

The purpose of this study was to compare the use of multimedia in the presentation and tutorial of mastery of the concept and process skills in science concerning the immune system. The experimental study was designed with Quasy pre-test post-test, multiple nonequivalent group design. Two treatments for each tutorials and presentations class were employed. Instruments consist of basic concept mastery test, the concept and process skills, questionnaires, and interviews. The result showed that there were differences among the two classes. However, there was no significant difference students process skill in science. Communication skills measured showed no significant difference, while the predictive ability measured showed a significant difference. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan penggunaan multimedia secara presentasi terhadap penguasaan konsep dan KPS pada konsep sistem pertahanan tubuh melalui penggunaan multimedia secara tutorial dan presentasi. Penelitian ini merupakan Quasy eksperiment dengan desain pre-test post-test, nonequivalent multiple group design. Digunakan dua kelas perlakuan masing-masing untuk kelas tutorial dan presentasi. Instrumen yang digunakan meliputi pokok uji penguasaan konsep, pokok uji KPS, angket dan wawancara. Hasi menunjukan adanya perbedaan penguasaan konsep pada kedua kelas perlakuan. Akan tetapi perlakuan yang diberikan tidak menunjukan adanya perbedaan terhadap KPS siswa. Kemampuan komunikasi yang diukur menunjukan tidak adanya, sedangkan kemampuan prediksi yang diukur menunjukan adanya perbedaan yang signifikan.
THE NEEDS OF COLLABORATION IN OPERATING AN OPEN AND DISTANCE LEARNING INSTITUTION: UT CASE Herman Herman
Jurnal Pendidikan Vol. 14 No. 1 (2013)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.185 KB) | DOI: 10.33830/jp.v14i1.352.2013

Abstract

This article discusses the importance of building collaboration among agencies in managing student support service for the distance student in Universitas Terbuka/UT (Indonesia Open University/IOU). As a mass-scale university with the number of students more than 600 thousand scattered in 37 provinces in Indonesia and overseas, heterogeneous socio-cultural background, offering more than 200 study program, and semester test held simultaneously, UT should be able to recruit thousands of tutors, invigilator, and executive personnel to conduct academic activities in those region. UT should manage course development team (curriculum developers, modules developers, content experts, media specialists, and art designers, linguists, and also graphics developers). UT should also provide classrooms for academic activities, lab and computer to facilitate student support service. This condition implies that the availability of human resources and infrastructure, including a computer lab connected to the internet in each unit of study is a necessity. Therefore, in order to improve the quality of distance learning and to accelerate change of learning style from traditional-based to e-learning-based, collaboration between UT with local agencies is a must to ensure the availability of human resources and e-learning facilities. Artikel ini membahas tentang peranan kolaborasi antar lembaga dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan bagi mahasiswa peserta program pendidikan jarak jauh di Universitas Terbuka (UT). Model perkuliahan sistem jarak jauh mengharuskan pesertanya mempraktekkan belajar mandiri, menggunakan modul sebagai bahan belajar utama, dan memanfaatkan ICT sebagai media dalam proses pembelajaran. Bahan ajar dalam bentuk cetak dan non-cetak dikembangkan oleh tim pengembang yang meliputi pengembang kurikulum, pengembang modul, ahli materi, ahli media, ahli bahasa, dan ahli grafik. Bantuan belajar disediakan dalam bentuk tutorial secara tatap muka dan online bagi mahasiswa di setiap unit belajar di dalam dan luar negeri. Sebagai sebuah perguruan tinggi berskala massal dengan jumlah mahasiswa lebih dari 600 ribu, mahasiswanya tersebar di 37 propinsi di Indonesia dan luar negeri, menawarkan lebih dari 100 program studi, serta ujian semester dilaksanakan secara serentak, maka UT harus mampu merekrut ribuan tenaga akademik (tutor), pengawas ujian, dan tenaga pelaksana ujian semester di setiap wilayah unit belajar. Untuk melaksanakan ujian semester dan memberikan layanan bantuan belajar, UT juga harus mampu menyediakan pusat unit belajar di daerah (regional center), ribuan ruang ujian, ruang untuk tutorial serta fasilitas lab computer. Karena itu, kolaborasi antara UT dengan instansi pemerintah dan non-pemerintah di daerah harus dilakukan untuk menjamin kelangsungan kegiatan akademik di daerah. Demikian pula, ketersediaan SDM berbasis ICT yang berkualitas dan infrastruktur termasuk lab komputer yang terkoneksi dengan internet di setiap unit belajar harus menjadi prioritas demi terciptanya pembelajaran berbasis e-learning bagi mahasiswa UT di daerah.
ISU GENDER DAN SERTIFIKASI GURU VERSUS PRESTASI BELAJAR SISWA Sri Sukarti
Jurnal Pendidikan Vol. 14 No. 1 (2013)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.389 KB) | DOI: 10.33830/jp.v14i1.353.2013

Abstract

This study aimed to identify achievement differences among elementary student connected with teaching professionalism and gender issues. Samples were retrieved randomly from elementary teachers in District KaranglewasBanyumas Regency consisted of 60 certified teachers and 60 non-certified teachers, in which each group consists of 30 male teachers and 30 female teachers. Data were obtained from the test scores. Results showed nonsignificant differences between the learning outcomes of students taught by certified teachers and students taught by non-certified teacher (tvalue0.789< ttable1.980). Significant differences between the learning outcomes of students taught by male teachers and female teachers (t value4.610)>ttable=1.980). Non significant differences in teaching ability between certified teacher and non-certified teachers. On average male teachers performed better than female groups. Suggested to review the certification system/model to improve teaching profesionalism. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perbedaan prestasi belajar siswa SD ditinjau dari aspek profesionalitas guru dan isu gender. Sampel ditarik secara acak di Kecamatan Karanglewas Banyumas, terdiri dari 60 guru yang bersertifikat dan 60 guru non-sertifikat, dan masing-masing terdiri dari 30 guru laki-laki dan 30 guru perempuan. Data prestasi belajar siswa diperoleh dari nilai ulangan umum. Hasil analisis data menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang diajar oleh guru yang sudah bersertifikasi dengan guru yang belum bersertifikasi dengan nilai t hitung0,789, dan ttabel1,980. Terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang diajar guru laki-laki dan guru perempuan (thitung= 4,610)>ttabel=1,980). Tidak terdapat perbedaan kemampuan mengajar yang signifikan antara guru yang sudah bersertifikasi dengan guru non-sertifikasi, guru laki-laki menghasilkan siswa dengan rata-rata nilai ulangan umum lebih baik dibanding guru perempuan. Disarankan peninjauan ulang sistem sertifikasi guru.
EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DAN JIGSAW PADA POKOK BAHASAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR Idha Novianti
Jurnal Pendidikan Vol. 13 No. 1 (2012)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.935 KB) | DOI: 10.33830/jp.v13i1.354.2012

Abstract

The objectives of the research are to investigate: (1) Whether the students taught with cooperative learning model STAD type has a better mathematics achievement than students taught with cooperative learning model Jigsaw type and conventional learning model and whether students taught with cooperative learning model Jigsaw type has the mathematics achievement better than students taught with conventional learning model on the subject of Two Variables System of Linear Equations, (2) Among the cooperative learning models STAD type, Jigsaw type and convensional learning model which produces better learning achievement when viewed from the students learning motivation, that is, low, medium and high. The research used a quasi-experimental research method. Its population was all of the students in Grade VIII of The State Junior High School in Surakarta city in the academic year of 2010/2011. The samples of the research were 283 students and were taken by stratified cluster random sampling technique. The data of the research were gathered through documentation, questionnaire, and test. The data of the research were analyzed by using a two-way analysis of variance with unequal cells, the pre-requisite of the analyzed using Lilieforss test for normality test, the homogeneity test used Bartletts test, at the significance level of (?) = 5%. The conclusion of this study are: (1) Students taught by STAD learning model has a better mathematics achievement than students taught by Jigsaw and the conventional learning model and students taught by Jigsaw learning model has the same mathematics achievement than students taught by the conventional learning model on the subject of Two Variables System of Linear Equations, (2) In each category of learning motivations, that is, high, low and medium, students taught by cooperative learning model STAD type has a better mathematics achievement than students taught by cooperative learning model Jigsaw type and the conventional learning model and students taught by cooperative learning model Jigsaw type has the same mathematics achievement than students taught by the conventional learning model. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki: (1) Apakah para siswa diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD memiliki prestasi matematika lebih baik daripada siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran tipe Jigsaw kooperatif dan model pembelajaran konvensional dan apakah siswa diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pencapaian matematika lebih baik daripada siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran konvensional pada subjek Dua Variabel Sistem Persamaan Linear, (2) Di antara model pembelajaran kooperatif jenis STAD, jenis Jigsaw dan model pembelajaran konvensional yang menghasilkan prestasi yang lebih baik belajar bila dilihat dari motivasi belajar siswa, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuasi-eksperimental. Populasi adalah semua siswa kelas VIII dari Sekolah SMP Negeri di Kota Surakarta pada tahun akademik 2010/2011. Sampel penelitian ini adalah 283 siswa dan diambil dengan teknik cluster sampling stratified random. Data penelitian dikumpulkan melalui dokumentasi, angket, dan tes. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis dua arah berbeda dengan sel tak sama, pra-syarat yang dianalisis menggunakan uji Liliefors untuk uji normalitas, uji homogenitas menggunakan uji Bartlett, pada tingkat signifikansi (?) = 5%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: (1) Siswa diajarkan dengan model pembelajaran STAD memiliki prestasi matematika yang lebih baik daripada siswa yang diajarkan oleh Jigsaw dan model pembelajaran konvensional dan siswa diajarkan dengan model Jigsaw pencapaian matematika yang sama dari siswa diajarkan dengan pembelajaran konvensional model pada subjek Dua Variabel Sistem Persamaan Linear, (2) Dalam setiap kategori motivasi belajar, yaitu, tinggi, rendah dan menengah, siswa diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD memiliki prestasi matematika yang lebih baik daripada siswa yang diajarkan dengan pembelajaran kooperatif model Jigsaw dan model pembelajaran konvensional, dan siswa diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memiliki prestasi matematika yang sama dari siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran konvensional.