cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalhumanus@gmail.com
Editorial Address
Sekretariat Pusat Kajian Humaniora Gedung Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang Jl. Prof. Dr. Hamka, Air Tawar, Padang, Sumatera Barat, Indonesia 25131
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Humanus: Jurnal ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora
ISSN : 14108062     EISSN : 25283936     DOI : https://doi.org/10.24036/humanus.v21i2
Core Subject : Humanities, Art,
Humanus: Jurnal ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora (P-ISSN 1410-8062, E-ISSN 2528-3936) is an international journal devoted to the publication of original papers published by Center for Humanities Studies of FBS Universitas Negeri Padang. It is a peer-reviewed and open access journal of humanity studies, including linguistics, literature, philosophy, and cultural studies. Humanus accept manuscript in English, Indonesian, and Malay.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 2 (2017)" : 10 Documents clear
FIGURES OF SPEECH MINANGKABAU LOCALITY IN CARITO MINANG KINI BY HAKIMAH RAHMAH S. IN PADANG EKSPRES Hasnul Fikri
Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.047 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v16i2.7678

Abstract

GAYA BAHASA LOKALITAS MINANGKABAU DALAM CARITO MINANG KINI KARANGAN HAKIMAH RAHMAH S. DI PADANG EKSPRESAbstractThe research aimed to describe the locality style of Minangkabau in anecdotal texts “Carito Minang Kini: Barinam jo Rosalina” by Hakimah Rahmah S. in Padang Ekspres (CMK: BJR), which includes rhetoric devices and figures of speech. The type of research is qualitative descriptive which applied content analysis method. The research data are words, phrases, clauses, or sentences that can be formulated as a locality style of Minangkabau. The data source of this research is anecdotal texts in CMK: BJR issued in January and February 2016 consisting of eight issues. The data analysis was conducted by: (1) classifying the locality style of Minangkabau found in a rhetorical assertion and figures of speech based on the theory, (2) analyzing the style according to the subcategory of rhetoric devices and figures of speech of Minangkabau locality style, (3) interpreting the trends of locality style of Minangkabau in texts CMK: BJR, and (4) concluding the study. The findings show that in the texts CMK: BJR there are: (1) the locality rhetoric devices which consist of: (a) confirmation in the form of climax, redundancy, and hyperbole and (b) disputes in the form of an antithesis; (2) the locality figures of speech that consist of (a) a comparison in the form of metaphor and allusion, and (b) satire in the form of sarcasm, cynicism and irony. Among the styles that were found, the dominant locality rhetoric device is affirmation in the form of hyperbole and the dominant figurative language style is satire in the form of sarcasm.Keywords: stylistic, rhetorical, figure of speech, Minangkabau locality AbstrakPenulisan makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan gaya bahasa lokalitas Minangkabau dalam teks-teks anekdot Carito Minang Kini: Barinam jo Rosalina karangan Hakimah Rahmah S di Padang Ekspres (CMK:BjR), yang meliputi retorik dan majas. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif melalui analisis isi. Data penelitian ini adalah kata, frasa, klausa, atau kalimat yang dapat dirumuskan sebagai gaya bahasa lokalitas Minangkabau. Sumber data penelitian ini adalah teks-teks anekdot dalam CMK:BjR terbitan bulan Januari dan Februari 2016 yang terdiri atas delapan tulisan. Analisis data dilakukan dengan cara: (1) mengklasifikasikan gaya bahasa lokalitas Minangkabau yang ditemukan ke dalam retorik penegasan dan majas berdasarkan teori, (2) menganalisis gaya bahasa menurut subkategori gaya bahasa retorik dan pemajasan lokalitas Minangkabau, (3) menafsirkan kecenderungan gaya bahasa lokalitas Minangkabau dalam teks-teks CMK:BjR, dan (4) menyimpulkan hasil penelitian. Temuan penelitian menunjukkan bahwa dalam teks-teks CMK:BjR terdapat: (1) gaya bahasa retorik yang terdiri atas: (a) penegasan berupa antiklimaks, pleonasme, dan hiperbola serta (b) pertentangan berupa antitesis; (2) gaya bahasa pemajasan lokalitas Minangkabau, terdiri atas (a) perbandingan berupa metafora dan alusio serta (b) sindiran berupa sarkasme, sinisme, dan ironi. Dari sejumlah gaya bahasa yang ditemukan, gaya bahasa retorik yang dominan adalah penegasan berupa hiperbola dan gaya bahasa pemajasan yang dominan adalah sindiran berupa sarkasme.Kata kunci : gaya bahasa, retorik, majas, lokalitas Minangkabau
GRAMMATICAL FUNCTIONS IN INDONESIAN RELATIVE CLAUSES IN FOREIGN STUDENTS’ WRITING Anggun Melati Sari; Andayani Andayani; Sumarlam Sumarlam
Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.132 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v16i2.7855

Abstract

This study aims to describe the grammatical function of the Indonesian relative clauses found on the foreign students' academic degree program at Technical Manager Unit Language (UPTBahasa) University Sebelas Maret Surakarta. Data used in the form of writing, the sentences in the written essays of foreign students contained relative clauses. The techniques of data analysis use apportion method and advanced techniques of apportion method. The result of this study shows that the process of relativization that occurs in Indonesian can only relate the subject function. As the development of linguistics, the process of relativizationalso occurs in the object. Relativization on object will be accepted when it is altered through the passage process. In addition, the process of relativizationthat occurs can be through the steps, namely the obliteration strategy. The obliteration strategy serves to dissipate the nominative which relating its relative clauses. This research has concluded that the relativization process of relative clauses in Indonesian only occurs in the subject. Then, the most frequently used relativization in Indonesian is the obliteration strategy.Keywords: Indonesian for foreign speakers, grammatical functions, strategy obliteration, relative clausesFUNGSI GRAMATIKAL DALAM KLAUSA RELATIF BAHASA INDONESIA PADA KARANGAN MAHASISWA ASINGAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan tentang fungsi gramatikal klausa relatif bahasa Indonesia yang ditemukan pada karangan mahasiswa asing program darmasiswa level akademik di UPT Bahasa Universitas Sebelas Maret Surakarta. Data yang digunakan berupa data tulis, yakni kalimat-kalimat dalam karangan mahasiswa asing yang didalamnya terdapat klausa relatif. Teknik analisis data menggunakan metode agih dan teknik lanjutan dari metode agih. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses perelatifan yang terjadi dalam bahasa Indonesia hanya dapat merelatifkan fungsi subjek. Seiring perkembangan ilmu kebahasaan, proses perelatifan terjadi juga pada objek. Perelatifan pada objek akan berterima apabila diubah melalui proses pemasifan. Selain itu, proses perelatifan yang terjadi dapat melalui langkah-langkah, yakni strategi obliteration. Strategi obliteration berfungsi untuk melesapkan nomina yang direlatifkan dalam klausa relatifnya. Penelitian ini memeroleh simpulan bahwa proses perelatifan klausa relatif dalam bahasa Indonesia hanya terjadi pada subjek. Kemudian, strategi perelatifan dalam bahasa Indonesia yang sering digunakan adalah strategi obliteration. Kata Kunci: bahasa Indonesia bagi penutur asing, fungsi gramatikal, strategi obliteration, klausa relatif
THE MEANING AND TEACHING OF “BUDI PEKERTI” IN THE POETRY OF KEKEAN BY F. AZIZ MANNA: SEMIOTIC STUDIES OF RIFFATERRE Kodrat Eko Putro Setiawan; Andayani Andayani; Retno Winarni
Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.935 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v16i2.8034

Abstract

Poetry can be used as a medium internalization precept of “budi pekerti” (manner). The theory of semiotic Riffaterre can be used in understand the meaning and precepts of “budi pekerti” mind contained in poetry Kekean work F. Aziz Manna. Research methodology this is descriptive qualitative. The result of this research suggests that indirectness expression by replacing meaning in the form of metaphors and similes and the deflection the meaning of ambiguity. Reading a heuristic useful to clarify the meaning of language. Reading hermeneutic in poetry Kekean remembrance people is in this world for permits god, therefore attitude “tawaduk” should be owned by each individual. Matrix poetry Kekean is an attitude “tawaduk” that should be owned by each individual.  The model in Kekean poetry is “hanya kepala dan torso. tubuhku bulat. togog. Lenganku buntung”, “Aku pun tumbuh bagai barang aduan”. The varians in the Kekean poem is “Leherku terlilit tali panjang; berjuang dalam gerak melingkar; Aku pun tumbuh bagai barang aduan”. The teaching of “budi pekerti” that are contained in the poetry Kekean among others: believe in the existence of God; have a sense of self-worth; developing work ethos and learning; have a sense of responsibility; and able to control themselves.Keyword: Kekean poetry, budi pekerti, semiotik Riffaterre MAKNA DAN AJARAN BUDI PEKERTI DALAM PUISI KEKEAN KARYA F. AZIZ MANNA: KAJIAN SEMIOTIK RIFFATERREAbstrakPuisi dapat digunakan sebagai media internalisasi ajaran budi pekerti. Teori Semiotik Riffaterre dapat digunakan dalam memahami makna dan ajaran budi pekerti yang terkandung dalam puisi Kekean karya F. Aziz Manna. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa ketidaklangsungan ekspresi berupa penggantian arti dalam bentuk metafora dan simile dan penyimpangan arti berupa ambiguitas. Pembacaan heuristik berguna untuk memperjelas arti secara kebahasaan. Pembacaan hermeneutik dalam puisi Kekean mengandung makna manusia ada di dunia ini atas izin Allah, oleh sebab itu sikap tawaduk harus dimiliki oleh setiap individu. Matriks puisi Kekean adalah sikap tawadhu yang harus dimiliki oleh setiap individu. Model dalam puisi Kekean adalah “hanya kepala dan torso. tubuhku bulat. togog. Lenganku buntung”, “Aku pun tumbuh bagai barang aduan”. Varian dalam puisi Kekean adalah  “Leherku terlilit tali panjang; berjuang dalam gerak melingkar; Aku pun tumbuh bagai barang aduan”. Ajaran budi pekerti yang terkandung dalam puisi Kekean antara lain: meyakini adanya Tuhan; memiliki rasa menghargai diri sendiri; mengembangkan etos kerja dan belajar; memiliki rasa tanggungjawab; dan mampu mengendalikan diri.Kata kunci: puisi Kekean, budi pekerti, semiotik Riffaterre
THE TRACES OF PROTO-LANGUAGES OF AUSTRONESIA IN SOME MODERN LANGUAGES IN SUMATRA Ermanto Ermanto
Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.555 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v16i2.8052

Abstract

This study discusses the traces proto-languages of Austronesian in modern languages in Sumatra. Modern languages in Sumatra are the languages of the subgroups of Sumatra as part of a group which is an Austronesian Southwestern which is Western Austronesian group. The purpose of this study is to find and assess reflex etimon mother language of Austronesian present in some modern languages in the language of Sumatra namely Aceh, Batak Toba, Mandailaing language, language Kerinci, Minangkabau and Mentawai language. To find reflex (reflection) mother language of Austronesian in several languages in Sumatra used comparative methods are qualitative. The use of the method is to reconstruct antarabahasa relationship based on the legacy of rank higher language that PAN into several languages with the lower rank (top-down reconstruction) namely the Acehnese language, language Batak Toba, Mandailing language, language Kerinci, Minangkabau and Mentawai language. Research findings indicate that there are reflex (reflection) etimon mother language of Austronesian in some modern languages in the language of Sumatra, Aceh, Batak Toba, Mandailaing language, language Kerinci, Minangkabau and Mentawai language. This indicates that all six of these languages is a derivative of the PAN.Keywords: mother language of Austronesian, modern languages, reflex,  derivativeJEJAK PROTOBAHASA AUSTRONESIA PADA BEBERAPA BAHASA DI SUMATERAAbstrakPenelitian ini membahas jejak-jejak protobahasa Austronesia pada beberapa bahasa bahasa modern di Sumatera. Bahasa-bahasa modern yang ada di Sumatera merupakan bahasa-bahasa subkelompok Sumatera sebagai bagian dari kelompok Austronesia Barat Daya yang merupakan kelompok Austronesia Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan dan mengkaji refleks (cerminan) etimon protobahasa Austronesia yang terdapat di dalam beberapa bahasa modern di Sumatera yakni bahasa Aceh, bahasa Batak Toba, bahasa Mandailing, bahasa Kerinci, bahasa Minangkabau, dan bahasa Mentawai. Untuk menemukan refleks (cerminan) protobahasa Austronesia (PAN) pada beberapa bahasa daaerah di Sumatera tersebut digunakan metode komparatif yang bersifat kualitatif. Penggunaan metode adalah dengan merekonstruksi hubungan antarabahasa berdasarkan warisan dari peringkat bahasa yang lebih tinggi yakni PAN ke beberapa bahasa dengan peringkat yang lebih bawah (top-down reconstruction) yakni bahasa Aceh, bahasa Batak Toba, bahasa Mandailing, bahasa Kerinci, bahasa Minangkabau, dan bahasa Mentawai.  Hasil peneltian menunjukkan bahwa terdapat refleks (cerminan) etimon protobahasa Austronesia di dalam beberapa bahasa modern di Sumatera yakni bahasa Aceh, bahasa Batak Toba, bahasa Mandailing, bahasa Kerinci, bahasa Minangkabau, dan bahasa Mentawai. Hal ini menunjukkan bahwa keenam bahasa tersebut merupakan turunan dari PAN.Kata kunci: protobahasa Austronesia, bahasa modern, refleks, turunan
RHETORIC DAN FIGURE OF SPEECH MINANGKABAU LOCALITY IN TONIL SCRIPT SABAI NAN ALUIH BY SUTAN SATI Rio Rinaldi
Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.516 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v16i2.7627

Abstract

This paper aims to describe the rhetoric and masters of Minangkabau locality in the script of Sabai Nan Aluih tonic written by Sutan Sati. The type of this research is qualitative with descriptive method. The data in this study are words or phrases that can be formulated as rhetoric and masters of Minangkabau locality in the script of Sabai Nan Aluih written by Sutan Sati. The source of data in this study is the script tonil Sabai Nan Aluih written in Indonesian form by Sutan Sati written in 1960 with the publisher Balai Pustaka. In an introduction to the manuscript of Sabai Nan Aluih, Sutan Sati said that Minangkabau language can also be Indonesianized by not changing its language. Meanwhile, for people who do not know the language Minangkabaupun not lost meaning. That is, readers who are not of Minangkabau ethnic can also understand the language and contents of the story written in Minangkabau locality language. The language of Minangkabau locality in literary texts is utilized by the use of regional idioms or terminology, socio-cultural references related to certain locality, regional dialect, and non-formal language, regional expressions, including language styles.Keyword: rhetoric, figure of speech, locality, MinangkabauRETORIK DAN MAJAS LOKALITAS MINANGKABAU DALAM NASKAH TONIL SABAI NAN ALUIH KARYA SUTAN SATIAbstrakTulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan retorik dan majas lokalitas Minangkabau dalam naskah tonil Sabai Nan Aluih karya Sutan Sati. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan metode deskriptif. Data dalam penelitian ini adalah kata-kata atau kalimat yang dapat dirumuskan sebagai retorik dan majas lokalitas Minangkabau dalam naskah Sabai Nan Aluih karya Tulis Sutan Sati. Sumber data dalam penelitian ini adalah naskah tonil Sabai Nan Aluih yang ditulis dalam bentuk bahasa Indonesia oleh Tulis Sutan Sati pada tahun 1960 dengan penerbit Balai Pustaka. Dalam sebuah pengantarnya pada naskah Sabai Nan Aluih, Sutan Sati mengatakan bahwa bahasa Minangkabau dapat juga diindonesiakan dengan tidak mengubah jalan bahasanya. Sementara itu, bagi orang yang tidak tahu berbahasa Minangkabaupun tidak hilang artinya. Artinya, pembaca yang bukan dari etnis Minangkabau dapat pula memahami bahasa dan isi cerita yang ditulis dengan bahasa lokalitas Minangkabau tersebut. Bahasa lokalitas Minangkabau dalam teks sastra didayagunakan dengan memanfaatkan idiom-idiom atau peristilahan kedaerahan, acuan-acuan sosial budaya yang terkait dengan lokalitas tertentu, dialek daerah, dan ragam bahasa nonformal, ungkapan-ungkapan kedaerahan, termasuk gaya bahasa.Kata kunci: retorik, majas, lokalitas, Minangkabau
VARIETY OF RHETORICS IN POLITICAL SPEECH PRESIDENT OF THE REPUBLIC OF INDONESIA SUSILO BAMBANG YUDHOYONO AND JOKO WIDODO IN EDUCATIONAL FIELD Noermanzah Noermanzah; Emzir Emzir; Ninuk Lustyantie
Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.219 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v16i2.8103

Abstract

The study aims to provide an understanding of the range of rhetoric in the political speech of the President of Indonesian Republic Susilo Bambang Yudhoyono and Joko Widodo, especially in the field of education. The research method used is the critical discourse analysis method of Norman Fairclough model. Data collection techniques used are documentation techniques, note-taking techniques, and interviews. Data analysis techniques are operated by connecting micro, meso, and macro elements in dimensions, such as: (a) text, (b) discourse practice, and (b) socio-cultural practices. The result of the research shows the rhetoric in the political speech of President Susilo Bambang Yudhoyono and Joko Widodo in the field of education which are compiled by the staf of presidential documents are as followed: 54,25% of the argumentation, 31,21% of the hortatory variety, 5,32% of  the exposition, 4,25% of persuasion, 2,48% of  informative variety,  1,06 % of narrative range, 0,71% of descriptive variation, 0,35% of dramatic variation, and 0,35% of  procedural variation. The variety of rhetoric used aims to deliver educational programs that have been made, promises, and wishes or expectations to improve the quality of education in Indonesia, especially in the reform era.Keywords:  variety of rhetoric, state speech, educationRAGAM RETORIKA DALAM PIDATO KENEGARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SUSILO BAMBANG YUDHOYONO DAN JOKO WIDODO PADA BIDANG PENDIDIKAN AbstrakPenelitian ini bertujuan memberikan pemahaman tentang ragam retorika dalam pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo khususnya dalam bidang pendidikan. Metode penelitian menggunakan metode analisis wacana kritis model Norman Fairclough. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi, teknik catat, dan wawancara. Teknik analisis data dengan cara menghubungkan unsur mikro, meso, dan makro pada dimensi: (a) teks, (b) praktik wacana, dan (b) praktik sosial budaya. Hasil penelitian menunjukkan ragam retorika yang terdapat dalam pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo dalam bidang pendidikan yang disusun bersama tim kerjanya, yaitu ragam argumentasi terdapat 54,25%, ragam hortatori terdapat 31,21%, ragam eksposisi terdapat 5,32%, ragam persuasi terdapat 4,25%, ragam informatif terdapat 2,48%, ragam narasi terdapat 1,06%, ragam deskriptif terdapat 0,71%, ragam dramatik terdapat 0,35%, dan ragam prosedural terdapat 0,35%. Ragam retorika yang digunakan bertujuan untuk menyampaikan program pendidikan yang telah dilakukan, janji,  dan keinginan atau harapan untuk memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia khususnya pada era reformasi.Kata kunci: ragam retorika, pidato kenegaraan, bidang pendidikan
INTERNAL INNOVATION OF TABA IN NORTHERN MALUKU HISTORICAL LINGUISTICS PERSPECTIVE Burhanuddin Burhanuddin
Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.865 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v16i2.8293

Abstract

The paper explains the internal phonological and lexical innovations in Taba language in North Maluku from historical linguistics perspective. 200 and 1000 basic and cultural vocabulary, respectively, have been collected using note-taking and recorded interviews in Taba language and other related languages, including Buli, Maba, Sawai, Gebe, and Gane. Data were analysed using horizontal approach, employing intralingual comparative-linking method. The analysis reveals that Taba language has nine phonological propensities which are unidentified in other languages in North Maluku. These include (1) realization of /s/ in the final position, preceded by dental consonants /d, t/; (2) omission, as opposed to appearance in other languages, of the first syllable; (3) realization of vowel /o/ in penultima sylable (otherwise i-o sequence in different syllables); 4) realization of consonant /h/ in ultima and penultima sylables; 5) realization of consonant /c/in the initial potition; 6) regular realization of vowel /a/ in the initial penultima syllable; 7) omission of the first syllable, followed by an addition of either a phoneme or syllable in the final position; 8) realization of /k/ in the final position; and 9) realization of /h/ in the central position. Meanwhile, the internal lexical innovation (the difference with the other five languages of South Halmahera is horizontal) can be observed in as such words that refer to awan ‘cloud’, baik ‘good’, belok ‘to turn’, gigit ‘to bite’, dekat ‘near’, ikat ‘bundle’, jahit ‘stitch’, jarum ‘needle’ and jika‘if’.Key words: internal innovations, historical linguistics, phonological innovations, lexical innovations.INOVASI INTERNAL BAHASA TABA DI MALUKU UTARA: PERSPEKTIF LINGUISTIK HISTORISAbstrakTulisan ini bertujuan menjelaskan inovasi internal aspek fonologi dan leksikal bahasa Taba di Maluku Utara dari perspektif studi linguistik historis. Data berupa 200 kosa kata dasar dan 1000 kosa kata budaya telah dikumpulkan dengan metode wawancara/cakap teknik catat dan rekam dalam bahasa Taba, dan lima bahasa lain yang sekerabatnya dengannya, yaitu Buli, Maba, Sawai, Gebe, dan Gane. Lalu, data dianalisis menggunakan pendekatan horizontal metode padan intralingual, teknik hubung-banding. Dalam bahasa Taba setidak-tidaknya memiliki sembilan kecenderungan fonologis yang tidak dimiliki oleh bahasa Halmahera Selatan lainnya. Yaitu, (1) merealisasikan bunyi /s/ pada posisi akhir yang diawali konsonan dental /d, t/; (2) mengalami penghilangan suku awal, sedangkan bahasa lain sebaliknya (muncul); (3) merealisasikan vokal /o/ (perendahan vokal) pada silabe penultima (atau pada urutan i-o pada silabe berbeda); (4) merealisasikan konsonan /h/ baik pada silabe penultima maupun ultima; (5) merealisasikan konsonan /c/ pada posisi awal; (6) merealisasikan vokal /a/ secara teratur pada silabe awal penultima; (7) terjadi penghilangan suku awal diikuti oleh penambahan fonem atau silabe pada posisi akhir; (8) merealisasikan /k/ pada posisi akhir; serta (9) merealisasikan bunyi /h/ pada posisi tengah. Adapun inovasi leksikal (perbedaannya dengan lima bahasa Halmahea Selatan lainnya secara horizontal) di antaranya dapat ditemukan pada kata yang bermakna ‘awan’, ‘baik’, ‘belok’, ‘gigit’, ‘dekat’, ‘ikat’, ‘jahit’, ‘jarum’, ‘jika, kalau’, dan sebagainya.Kata kunci: inovasi internal, linguistik historis, inovasi fonologi, dan inovasi leksikal.
SYMBOLIC MEANINGS OF AMONG TEBAL RITUAL IN NOVEL GENDUK BY SUNDARI MARDJUKI Lerry Alfayanti; Sarwiji Suwandi; Retno Winarni
Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.032 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v16i2.7972

Abstract

This study aims to describe the symbolic meanings of among tebal ritual and the description of attitude of life of the tobacco farmers on the slopes of Sindoro in novel Genduk by Sundari Mardjuki. This research uses descriptive qualitative method which put forward on content analysis with in-depth reading on the novel. The problem in this research is the symbolic meaning of among tebal ritual and the description of the attitude of life of the tobacco farmers on the slopes of Sindoro which is reflected from among tebal ritual in the novel Genduk. The data of this research are all symbolic expressions in among tebal ritual and all words and sentences that describe the attitude of life of the tobacco farmers on the slopes of Sindoro in the novel Genduk. Result this research can describe the symbolic meaning of among tebal ritual which consists of symbolic meaning of ritual offerings that are white, yellow, red, and black tumpeng which symbolize the four elements in human beings that cannot be separated and jajan pasar that symbolize human character in this world is different. Prayer in rituals has a high expectation for tobacco plants to be planted to grow fertile with good harvest. The symbolic meaning of the procession of among tebal ritual is the togetherness that is in the society of tobacco farmers on the slopes of Sindoro. This study describes the attitude of life of the tobacco farmers on the slopes of Mount Sindoro which reflected from among tebal.Keywords: among tebal, attitude of life, symbolic meanings, tobacco farmers MAKNA SIMBOLIK RITUAL AMONG TEBAL DALAM NOVEL GENDUK KARYA SUNDARI MARDJUKI AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna simbolik ritual among tebal dan deskripsi sikap hidup petani tembakau di lereng sindoro dalam novel Genduk Karya Sundari Mardjuki. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang lebih mengedepankan pada analisis konten (isi) dengan pembacaan mendalam pada novel. Masalah dalam penelitian ini adalah makna simbolik dari ritual among tebal serta deskripsi sikap hidup petani tembakau di lereng sindoro yang tercermin dari ritual among tebal dalam novel Genduk. Data penelitian ini berupa semua ungkapan simbolis pada ritual among tebal serta semua kata dan kalimat yang mendeskripsikan sikap hidup petani tembakau di lereng Sindoro dalam novel Genduk. Hasil penelitian ini mendeskripsikan makna simbolik ritual among tebal yang terdiri atas makna simbolik sesaji ritual yaitu tumpeng putih, kuning, merah, dan hitam yang melambangkan keempat unsur dalam diri manusia tidak dapat dipisahkan serta jajanan pasar yang melambangkan karakter manusia di dunia ini tidak ada yang sama. Doa dalam ritual memiliki makna pengharapan tinggi untuk tanaman tembakau yang akan ditanam dapat tumbuh subur dan panennya bagus. Makna simbolik prosesi ritual among tebal yaitu kebersamaan yang terjalin di masyarakat petani tembakau lereng Sindoro. Penelitian ini juga mendeksripsikan sikap hidup petani tembakau lereng Sindoro yang tercermin dari ritual among tebal.Kata kunci: makna simbolik, among tebal, sikap hidup, petani tembakau
SHIFTING THE SYSTEM OF INDONESIAN WORD FORMATION; THE STUDY ON MORPHOLOGY AND SOCIOLINGUISTICS OF ACRONYMS, BLENDING, AND CLIPPING M Zaim
Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.956 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v16i2.8690

Abstract

The general guidelines of Indonesian word formation as annexed in appendix II of the reference standard of the Indonesian Grammar has not yet accommodated the Indonesian word formation system used by the Indonesian speakers today. Meanwhile, a new system of word formation began to emerge and the old paradigm shift in conjunction with the development of science and technology, and the change of social, cultural, and political paradigm. As a result, the reference standard of Indonesian grammar is no longer adequate to understand the system of the formation of the new words. Morphological studies, which analyze the internal structure of the words can be used as a theoretical foundation to address the issues of the Indonesian word formation. From the other side, sociolinguistic studies, which analyze the link of language with the language speakers in the community, can give meaning to the word formation shift. This article discusses (1) the morphological shift of the Indonesian word formation system of acronyms, blending, and clipping, (2) the sociolinguistic functions of the word formation, and (3) the productivity of the word formation system. The study of the shift of word formation system revealed a shift in the way of thinking and the way of looking at social, cultural, and political problems of the Indonesian speakers nowadays. Keywords: word formation, language shift, morphology, sociolinguistics, blending, clipping, acronymPERGESERAN SISTIM PEMBENTUKAN KATA BAHASA INDONESIA:KAJIAN MORFOLOGIS DAN SOSIOLINGUISTIK AKRONIM, BLENDING, DAN KLIPING AbstrakPedoman umum pembentukan kata Bahasa Indonesia pada Lampiran II Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia belum mengakomodasi sistem pembentukan kata Bahasa Indonesia yang digunakan oleh penutur Indonesia saat ini. Sementara itu, sistem pembentukan kata baru mulai bermunculan menggeser paradigma lama bersamaan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta perubahan paradigma sosial, budaya, dan politik. Akibatnya, standar acuan tata bahasa Indonesia sudah tidak memadai lagi untuk memahami sistem pembentukan kata baru. Kajian morfologi, yang menganalisa struktur internal kata dapat dijadikan landasan teoritis untuk mengatasi permasalahan pembentukan kata bahasa Indonesia. Dari sisi lain, kajian sosiolinguistik, yang menganalisa hubungan bahasa dengan penutur bahasa di masyarakat, bisa memberi makna pada pergeseran pembentukan kata ini. Artikel ini membahas (1) pergeseran morfologis sistem pembentukan kata dalam bahasa Indonesia pada bentuk akronim, blending, dan kliping, (2) fungsi sosiolinguistik dari pembentukan kata, dan (3) produktivitas sistem pembentukan kata. Kajian tentang pergeseran sistem pembentukan kata mengungkapkan adanya pergeseran cara berpikir dan cara melihat masalah sosial, budaya, dan politik para penutur Bahasa Indonesia saat ini.Kata kunci: pembentukan kata, pergeseran bahasa, morfologi, sosiolinguistik, blending, kliping, akronim
FACTUAL AND EXISTENTIAL PRESUPPOSITIONS IN INTERACTION AMONG LECTURERS AND STUDENTS OF INDONESIAN LANGUAGE EDUCATION DEPARTMENT AT UNIVERSITAS SEBELAS MARET Ria Dwi Puspita Sari; Sarwiji Suwandi; St. Y Slamet
Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.912 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v16i2.7975

Abstract

The same presupposition in the interaction among lecturers and students become important in order to achieve the goals and create a conducive learning environment. This study aims to describe and explain factual and existential presuppositions in the interaction among lecturers and students of Indonesian Language Education, Sebelas Maret University. This research is a qualitative research by using pragmatic approach. Sources of data are in the form of speech events in the classroom, as well as informants ie lecturers and sixth-semester students. Data collection techniques are observations, interviews, listening without getting involved in the conversation, record and note. Validation of data use triangulation of data sources, methods and theories. The data analysis used extralingual equivalent technique with an advanced connecting and comparing technique. The results of this study indicate that the factual presuppositions are manifested in several contexts, they are (1) the lecturer apologies for coming late; (2) the lecturer give assessment; (3) the lecturer answer student's questions; (4) the lecturer explain the course material; (5) students answer questions; (6) students apologize for mistyped in lesson plan; (7) students describe material during microteaching practice. Existential awareness can be manifested in (1) the lecturer commented on the students' appearances microteaching practices; (2) the lecturer explained the material; (3) the lecturer suggest learning references; (4) the lecturer provide an example.Keywords: factual presupposition, existential presupposition, classroom interaction, lecturePRAANGGAPAN FAKTUAL DAN EKSISTENSIAL DALAM INTERAKSI DOSEN DAN MAHASISWA PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA UNIVERSITAS SEBELAS MARETAbstrakPraanggapan yang sama dalam interaksi antara dosen dan mahasiswa menjadi hal penting agar tercapai tujuan dan terwujud suasana pembelajaran yang kondusif. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menjelaskan praanggapan faktual dan eksistensial dalam interaksi antara dosen dan mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) Universitas Sebelas Maret (UNS). Penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan pragmatik. Sumber data berupa peristiwa tutur dalam pembelajaran di kelas, serta informan yakni dosen dan mahasiswa PBI UNS. Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara, simak bebas libat cakap, rekam dan catat. Validasi data menggunakan trianggulasi sumber data, metode dan teori. Analisis data menggunakan teknik padan ekstralingual dengan teknik lanjutan Hubung Banding Menyamakan (HBS). Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa praanggapan faktual berwujud dalam beberapa konteks, yakni (1) dosen meminta maaf karena datang terlambat; (2) dosen memberikan nilai untuk jawaban mahasiswa; (3) dosen menjawab pertanyaan mahasiswa; (4) dosen menjelaskan materi perkuliahan; (5) mahasiswa menjawab pertanyaan dari dosen; (6)  mahasiswa meminta maaf karena kesalahan di RPP; (7) mahasiswa menjelaskan materi saat praktik microteaching. Praanggapan eksistensial dapat berwujud dalam (1) dosen mengomentari penampilan mahasiswa ketika praktik microteaching: (2) dosen menjelaskan materi pada mahasiswa; (3) dosen menyarankan referensi belajar; (4) dosen memberikan contoh.Kata Kunci: praanggapan faktual, praanggapan eksistensial, interaksi kelas, perkuliahan

Page 1 of 1 | Total Record : 10