cover
Contact Name
Lukmanul Hakim
Contact Email
lukmanulhakim7419@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalmabasan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
MABASAN
ISSN : 20859554     EISSN : 26212005     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
MABASAN is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in MABASAN have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. MABASAN is published by Kantor Bahasa NTB twice times a year, in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 283 Documents
KETAKSAAN PADANAN KATA DAN UNGKAPAN BAHASA ASING DALAM BAHASA INDONESIA: SEBUAH KAJIAN POLITIK BAHASA UNTUK PENYEMPURNAAN PEDOMAN UMUM PEMBENTUKAN ISTILAH DAN KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA EDISI IV Irma Setiawan; NFN Bakri
MABASAN Vol. 9 No. 1 (2015): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.995 KB) | DOI: 10.26499/mab.v9i1.156

Abstract

Ketaksaan pemadanan kata dan ungkapan asing dalam kebijakan politik bahasa ditunjukkan dalam PUPI dan KBBI edisi IV, seperti: 1) peraturan perubahan ejaan yang tidak mengatur ejaan ct→k dan hanya mengklaim ejaan k dari cc→k,ck→k, ch→k, dan c→k seperti pada kata abstrack, extrack, contrack, dan bentuk yang diatur dalam pembentukan ejaan hanya kata contrack, acclamation, check, dan cholera. Begitu juga dengan ejaan au→o tidak diatur, yang ditetapkan hanyalah ejaan au→au seperti pada kata automatic seharusnya automatis sesuai peraturan ejaan, tetapi dalam kbbi ditulis otomatis, 2) kerancuan pemaknaan imbuhan per- yang juga dapat bermakna sistem, seperti pada kosakata sistem perekonomian → perekonomian, sistem perpolitikan → perpolitikan, 3) tidak dapat memilah antara makna proses dan hasil dalam bahasa sumber, seperti erosion (proses dan hasil) →erosi/pengikisan (proses), seharusnya menjadi pengikisan (proses) dan kikisan (hasil) dan4) pemaknaan lema yang kerap dibolak-balikkan, seperti tolol→tulu, tulu→tolo, tolo bukan tolol, perempuan→wanita,  wanita →peremuan dan pada kata sepatu, cangkul tidak mengacu pada atributEsensial sehingga dapat menyulitkan penutur memahami bahasa indonesia. Inilah alasan utama penulis mengangkat permasalahan  kekaburan  pemadanan  atau  pemaknaan  lema.  Sehubungan dengan itu, tulisan ini betujuan untuk mendeskri tentang kekaburan atau padanan kata (lema) dan ungkapan asing dalam   bahasa indonesia. Kontribusi kajian tersebut diharapkan dapat memberi input bagi upaya penyempurnaan pupi dan KBBI edisi IV.
KEARIFAN LOKAL SUKU SASAK SEBAGAI MODEL PENGELOLAAN KONFLIK DI MASYARAKAT LOMBOK Muhammad Harfin Zuhdi
MABASAN Vol. 12 No. 1 (2018): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.182 KB) | DOI: 10.26499/mab.v12i1.34

Abstract

Kearifan lokal sebagai suatu kekayaan budaya yang mengandung nilai pandangan, kebijakan, dan kearifan hidup masyarakat dalam banyak ragam variannya, seperti tercermin dalam konsep krama, sesenggak. perteke, atau lelakaq. Namun saat ini kearifan lokal masih belum difungsikan secara optimal, padahal kearifan lokal dapat dijadikan rujukan sebagai model dalam pengelolaan konflik dan masalah sosial di masyarakat. Keterlibatan kearifan lokal dapat diupayakan melalui pembangunan perdamaian untuk mencegah dan melokalisir konflik di masyarakat, karena melibatkan kearifan lokal terbukti mampu mempertahankan harmoni sosial. Artikel ini berupaya mendeskripsikan kearifan lokal suku Sasak dengan pendekatan kualitatif berbasis content analisis. Dalam upaya pengelolaan konflik harus ada keterlibatan tokoh agama dan tokoh adat dalam mendorong hadirnya peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kearifan lokal. Oleh karena itu, untuk menjadikan kearifan lokal sebagai model dalam pengelolaan konflik, maka perlu direvitaliasi dan disosialisasikan secara sistematis dan massif sehingga dapat fungsional sebagai model pengelolaan konflik di masyarakat Lombok. Pendekatan multikultural berbasis kearifan lokal ini merupakan model penting yang dapat dimanfaatkan untu pngelolaan konflik di wilayah ini.Local wisdom can be defined as a local cultural treasure that contains the values of life policy, life viewpoints, and living wisdom. Local wisdom not only applied locally to a particular culture or ethnic, but also to be a cross-cultural or cross-etnical known as the concept of Bhineka Tunggal Ika (Unity in Diversity) in which there are teachings of mutual assistance, tolerance, hard work, and mutual respect. Local wisdom can be used as a reference in solving problems in the community.In the related reconciliation efforts, it was revealed that there was the involvement of religious and traditional leaders in encouraging the enhancement public appreciation of local wisdom. The local wisdom of the Sasak tribe varies widely, as reflected in the concept of krama, sekenggak. perteke, or lelakaq. Sasak local wisdom needs to be revitalized and socialized systematically and synergistically by traditional leaders, religious leaders and stakeholders in the region to function as a model of conflict management in Lombok society. This multicultural approach based on local wisdom is an important model that can be utilized to minimize conflicts in the region. 
“Bue-Bue” : Representasi Kehidupan Masyarakat Bajo di Sulawesi Tenggara NFN Uniawati
MABASAN Vol. 4 No. 1 (2010): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.369 KB) | DOI: 10.26499/mab.v4i1.189

Abstract

Makalah ini bertujuan untuk mengungkapkan makna yang terkandung dalam lirik “bue-bue”. Makna lirik bue-bue dalam masyarakat Bajo akan diungkapkan melalui proses kajian hermeneutik Ricoeur. Proses itu dapat mengupas secara saksama perihal kehidupan sosial budaya masyarakat tersebut sebagai komunitas pelaut yang hingga kini masih akrab dengan kemisteriusannya. Isi yang terdapat dalam lirik “bue-bue” menyiratkan makna yang dapat merepresentasikan konstruksi realitas dan identitas dalam kehidupan masyarakat suku Bajo, khususnya di Sulawesi Tenggara. Pada intinya, “bue-bue” dalam kehidupan masyarakat Bajo dipandang sebagai sebuah medium untuk mempertahankan kearifan lokal yang terdapat dalam lingkungan masyarakat pelaut tersebut. Menyangkut “bue-bue”, ada satu hal pokok yang mesti dipahami yaitu mengenai keberadaan jenis sastra lisan ini di tengah masyarakat penuturnya. Keberadaan “bue-bue” dalam kenyataan kian hari kian terancam akan ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya. Kurangnya kepedulian masyarakat setempat terhadap kelestarian suatu tradisi lisan menjadi faktor utama terhadap ancaman tersebut. Bajo sebagai masyarakat pelaut yang memiliki kecenderungan terpinggirkan oleh masyarakat yang lain dapat menjadi salah satu pemicu yang mempercepat hilangnya tradisi lisan tersebut. Oleh karena itu, kekhawatiran akan musnahnya penanda identitas budaya masyarakat Bajo sebagai salah satu bentuk “local genius” patut untuk segera diatasi. 
IDENTIFIKASI BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA REDUPLIKASI BAHASA SASAK DIALEK [A-A] DI DESA ANGGARAKSA KECAMATAN PRINGGABAYA Deny Prasetiawan
MABASAN Vol. 8 No. 2 (2014): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (878.713 KB) | DOI: 10.26499/mab.v8i2.89

Abstract

Commonly, language could be seen based on three perspectives, namely are form, function and meaning. Form is relating to the situation which supporting its role as a mean of communication. Various communication needs of the language users and their relationship to the value and meaning aspect are its role in a language form which functions as a mean of communication. Those three aspects are owned by every language in the world.The aim of this research is to identify form, function, and meaning of Sasak language (BS) reduplication of /a-a/ dialect in Anggaraksa village. This research applies qualitative descriptive since it tries to describe language phenomenon based on actual circumstances.The data are presented by using formal and informal method. Formal method is formulating method by using signs or symbols while informal method is formulating by using words including the use of technical terms. The result of the research shows that (1) in Anggaraksa village, there are four types of reduplication, namely are full reduplication, half reduplication, and reduplication with affixes; (2) reduplication found in Angara’s creates new words different with the base words, the change of form (singular, plural, base words, and affixes); (3)reduplication found in Angara’s village also change the word class such as noun to be adjective and other word classes (verb, adjective, noun, and numbers) ; (4) reduplication in Angara’s village also creates new meaning, such as the meaning of (many/much, varieties, qualitative, quantitative and prequency intensity, reciprocal, and correlative.
DISTRIBUSI DAN PEMETAAN JENIS-JENIS KARYA SASTRA YANG TUMBUH DAN BERKEMBANG PADA MASYARAKAT TUTUR BAHASA JAWA DI PULAU LOMBOK NFN Nuryati
MABASAN Vol. 2 No. 1 (2008): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.057 KB) | DOI: 10.26499/mab.v2i1.124

Abstract

Karya sastra suatu tutur bahasa tertentu akan berkembang seiring dengan perkembangan bahasa itu, sebab bahasa merupakan medium realisasi karya sastra. Perkembangan suatu karya sastra dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah migrasi atau perpindahan masyarakat tutur suatu bahasa ke suatu daerah yang  jauh dari daerah asalnya. Selain itu, kontak dengan masyarakat tutur bahasa lain di tempat yang baru akan berpengaruh pada keberadaan dan corak dari sastra yang berkembang di tempat yang baru. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk dan jenis-jenis karya sastra yang hidup pada masyarakat tutur bahasa Jawa di Pulau Lombok.
Distribusi dan Pemetaan Varian-Varian Bahasa Madura di Kabupaten Sumbawa Ryen Maerina
MABASAN Vol. 1 No. 1 (2007): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.847 KB) | DOI: 10.26499/mab.v1i1.147

Abstract

Makalah ini mengkaji distribusi dan pemetaan varian-varian bahasa Madura di Kabupaten Sumbawa, dengan menggunakan pendekatan dialektologi.Ada tiga kantong bahasa (enklave) Madura di Kabupaten Sumbawa, yaitu di Kelurahan Brang Bara, Kelurahan Bugis, dan Desa Luar. Jumlah etnis Madura yang menghuni ketiga kantong bahasa tersebut sebanyak 222 kepala keluarga.Bahasa Madura yang ada di Kabupaten Sumbawa memiliki tiga dialek, yaitu DBB (dialek Brang Bara), DBs (dialek Bugis), DL (dialek Luar). Secara kualitatif, hubungan kekerabatan diantara ketiganya dinyatakan dengan hubungan dialek, yang meneruskan satu bahasa induk, yaitu Prabahasa Madura Sumbawa (PMS). DBB dengan DBs memiliki hubungan kekerabatan yang lebih tinggi daripada DBB dengan DL ataupun DBs dengan DL. Pada fase historis tertentu DBB dan DBs diduga sebagai subdialek dari satu dialek yaitu dialek DBBBs (dialek Brang Bara Bugis). Dalam perkembangan bahasa Madura Modern, kedua subdialek itu muncul sebagai dialek yang berdiri sendiri.
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PARAGRAF PERSUASIF MELALUI POLA LATIHAN BERJENJANG NFN Abdullah
MABASAN Vol. 6 No. 1 (2012): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.617 KB) | DOI: 10.26499/mab.v6i1.217

Abstract

Keterampilan menulis merupakan aktivitas pembelajaran yang dianggap sulit oleh siswa.  Permasalahan ini tampak pada hasil tulisan siswa yang tidak sepenuhnya mencerminkan ide atau gagasan yang dipikirkan.  Apa yang ditulis sering tidak menunjukkan apa yang diinginkan.  Hal ini membuktikan bahwa siswa yang bersangkutan belum menulis secara efektif.  Ketidakefektifan tulisan tersebut disebabkan oleh tidak jelasnya penggunaan tanda baca, ejaan, pilihan kata, dan struktur kalimat yang masih rancu. Permasalahan tersebut ditambah lagi dengan belum dipahaminya struktur tulisan persuasif yang harus dibuat.  Salah satu solusi yang diterapkan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan pola latihan berjenjang.  Pola latihan berjenjang melatih siswa menulis secara bertahap, mulai dari tataran ejaan sampai wacana, mulai dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks. Penerapan pola ini menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa pada setiap siklus. Hasil belajar pada siklus I mencapai 61,76%. Pada siklus II meningkat menjadi 88,24% dan pada siklus III meningkat lagi menjadi 91,18%.  Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pola latihan berjenjang mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis paragraf persuasif.
Nilai Budaya Masyarakat Suku Sasak yang Tercermin dalam Lelakaq Safoan Abdul Hamid
MABASAN Vol. 3 No. 2 (2009): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.576 KB) | DOI: 10.26499/mab.v3i2.113

Abstract

Masyarakat suku Sasak di Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dikenal kaya akan berbagai karya sastra daerah. Salah satu jenis karya sastra daerah yang berkembang dalam masyarakat suku Sasak ialah lelakaq atau pantun berbahasa Sasak. Lelakaq memiliki fungsi sosial yang cukup signifikan terutama sebagai media untuk menyampaikan pesan dan nilai-nilai etika dan budaya. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan nilai-nilai budaya masyarakat suku Sasak yang tercermin dalam lelakaq yang terkait dengan hakikat hidup, hakikat hubungan manusia dengan sesama, dan hakikat karya.Tulisan ini disusun berdasarkan hasil penelitian lapangan di beberapa lokasi di Pulau Lombok yang diyakini masih berkembangnya lelakaq tersebut. Data kesastraan berupa lelakaq dan informasi terkait nilai budaya yang terkandung di dalamnya dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara mendalam. Data yang terkumpulkan kemudian dianalisis menggunakan metode deskrtiptif dan semiotik.Hasil analisis data menunjukkan bahwa sebagai salah satu jenis karya sastra sekaligus foklor yang dimiliki oleh masyarakat suku Sasak, lelakaq berisi berbagai muatan nilai budaya yang mencerminkan nilai budaya masyarakat pendukungnya. Nilai budaya tersebut terdiri atas hakikat hidup, hakikat hubungan manusia dengan sesama, dan hakikat karya. Berbagai mutan nilai budaya tersebut secara implisit dan ekplisit terkandung baik dalam sampiran dan isi lelakaq
Distribusi dan Pemetaan Bentuk/Jenis Karya Sastra yang Tumbuh dan Berkembang pada Masyarakat Tutur Bahasa Bugis di Kabupaten Sumbawa Syaiful Bahri
MABASAN Vol. 2 No. 2 (2008): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.554 KB) | DOI: 10.26499/mab.v2i2.138

Abstract

Tulisan ini akan menggambarkan dua hal, yaitu: (1) deskripsi bentuk dan jenis karya sastra yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat tutur bahasa Bugis di KabupatenSumbawa; (2) distribusi dan penyebaran karya sastra tersebut.Dari hasil analisis data ditemukan dua ragam karya sastra, yaitu prosa dan puisi. Dari ragam prosa ditemukan dua jenis karya sastra, yaitu dongeng dan legenda yang kesemuanya ditemukan di kedua daerah pengamatan. Pengelompokan lebih khusus menunjukkan, di Teluk Santong hanya ditemukan jenis dongeng lelucon, sedangkan di Labuan Mapin ditemukan tiga jenis dongeng, yaitu lelucon, fabel, dan dongeng biasa. Jenis legenda di Teluk Santong hanya legenda setempat, sedangkan di Labuan Mapin ditemukan legenda perorangan, keagamaan, dan alam gaib.Ragam puisi ditemukan jenis pantun (kélong) dan mantra (jappi). Jenis pantun ditemukan di kedua daerah pengamatan, sedangkan jenis Mantra hanya ditemukan di Labuan Mapin.
INTERFERENSI FONOLOGIS BAHASA MELAYU PATTANI DALAM BERBAHASA INDONESIA MAHASISWA THAILAND DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA Aseeyah Kuwing
MABASAN Vol. 11 No. 1 (2017): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (873.387 KB) | DOI: 10.26499/mab.v11i1.63

Abstract

The purpose of this study is to describe a form ofphonological interference of Malay Pattani language in Indonesian language of Thai students at the University of Muhammadiyah Surakarta. This type of research is qualitative descriptive. The data source of this research is Thai students at the University of Muhammadiyah Surakarta. Data were collected by listening, recording, and interviewing. Data were analyzed using match method with translational type and contrastive analysis method. There is one thingaddressed in this study;   Existence of phonological interference of Malay Pattani language in Indonesian language of Thai students at the University of Muhammadiyah Surakarta. The study shows that (a) Interference phonological elements found in the phoneme replacement, phoneme deletion, substitution of syllables, and syllables deletion. (b) Interference also found in the lexicon of nouns, verbs, adjectives, pronouns, bookmark, adverbs, prepositions and question words. (c)syntaxInterference found in the type of news sentences, interrogative sentence, and imperative sentences.

Page 7 of 29 | Total Record : 283