cover
Contact Name
Lukmanul Hakim
Contact Email
lukmanulhakim7419@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalmabasan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
MABASAN
ISSN : 20859554     EISSN : 26212005     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
MABASAN is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in MABASAN have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. MABASAN is published by Kantor Bahasa NTB twice times a year, in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 283 Documents
PROBLEMATIKA BAHASA INDONESIA KEKINIAN: SEBUAH ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA RAGAM TULISAN NFN Akmaluddin
MABASAN Vol. 10 No. 2 (2016): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1159.15 KB) | DOI: 10.26499/mab.v10i2.85

Abstract

Indonesian language has special functions among the Indonesian nation and national life that are Bahasa Indonesia as a national and nation language. On the basis of that functions, Indonesia language is used in official documents in some countries. The language forms shall be used in making official documents are the standardized Indonesia language. As a national language, Indonesian language is used by any levels of community in Indonesia. However, the both functions are not well applied, therefore it creates some Indonesia language problems. Some problems meant are the mistakes in using Indonesian language, either spoken or written. The problems discussed in this research are (1) some of nowadays Indonesian language problems and their solutions, (2) Factors causing the use of Indonesian language in a variety of life usages. The data are collected through observation and documentation. The data are then analyzed by using inductive data analysis. The results of the analysis show that (1) Indonesia language nowadays has some problems in some linguistics features. (2) The mistakes in using Indonesian language are caused by some factors.
CULTURAL TYPOLOGY OF INDONESIA REVEALED IN PRAMOEDYA’S NOVEL Koh Young Hun
MABASAN Vol. 6 No. 1 (2012): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.885 KB) | DOI: 10.26499/mab.v6i1.222

Abstract

Like Poerbatjaraka, though in a very different style, Pramoedya Ananta Toer was, and is, a rebel against the Javanese culture he imbibed as a child and young man. So far as I know, he has never published a page in the language of his childhood home; but this does not mean that Java and its culture are ever very far from his mind.
Filsafat Nggusu Waru dalam Tradisi Lisan Bima dan Relevansinya dengan Ciri Kepemimpinan Modern Ahmad Badrun
MABASAN Vol. 2 No. 1 (2008): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.744 KB) | DOI: 10.26499/mab.v2i1.120

Abstract

Dalam tulisan ini dibahas relevansi isi filsafat Nggusu Waru dengan ciri kepemimpinan modern dan penyebab masyarakat Bima melupakan filsafat itu. Pembahasan ini dilakukan dengan metode semiotik. Hasil kajian menunjukkan bahwa 8 butir filsafat Nggusu Waru mempunyai nilai yang sama dengan ciri kepemimpinan modern, yaitu (1) matoqa đi Ruma labo Rasu (yang taat kepada`Allah dan Rasul) adalah sama dengan percaya kepada Tuhan yang Mahaesa, (2) maloa ro þade ‘yang pandai dan cerdas’ adalah sama dengan berwawasan luas, (3) mantiri nggahi kalampa ‘yang jujur dalam melaksanakan tugas’ adalah sama dengan kejujuran, (4) mapoda nggahi paresa ‘yang mampu menegakkan kebenaran’ adalah sama dengan adil, (5) mambani ro disa ‘yang bertanggung jawab dan berani’ adalah sama dengan berani menanggung risiko, (6) matenggo ro wale ‘sehat jasmani dan rohani serta kuat’ adalah sama dengan sehat jasmani dan rohani, (7) maþisa ro guna ’berwibawa dan sakti’ adalah sama dengan berwibawa atau berpengaruh, dan (8) londo dou taho ‘keturunan orang baik-baik’ adalah sama dengan bermoral baik. Filsafat itu tidak lagi populer karena masyarakat Bima kurang apresiatif terhadap tradisi lisannya.
Distribusi dan Pemetaan Varian-Varian Bahasa Selayar di Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat Fatma Astifaijah
MABASAN Vol. 1 No. 1 (2007): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.233 KB) | DOI: 10.26499/mab.v1i1.143

Abstract

Bahasa merupakan alat komunikasi yang paling ampuh untuk menyatakan identitas suatu kelompok masyarakat. Dengan bahasa, kita dapat memperkuat kepribadian bangsa, mempertebal rasa harga diri, dan sebagai alat kebanggaan nasional serta kesatuan nasional.Di wilayah  Nusa Tenggara Barat, bahasa yang digunakan secara garis besar ada empat bahasa yaitu bahasa Bali, bahasa Sasak, bahasa Sumbawa, dan bahasa Bima. Di samping itu ada bahasa lain seperti bahasa Jawa, bahasa Bugis, bahasa Selayar, dan bahasa Sunda yang jumlah pemakainya tidak sebesar empat bahasa tersebut. Salah satu bahasa yang dijadikan sebagai bahan penelitian adalah bahasa Selayar. Bahasa Selayar merupakan salah satu variasi dialek dari bahasa Makasar. Bahasa Selayar di Provinsi Nusa Tenggara Barat hanya ada di daerah pesisir pantai Sumbawa Barat dan Sumbawa Besar.
MENILIK ULANG KAMUS BAHASA SUMBAWA INDONESIA KARYA USMAN AMIN DAN A. HIJAZ H.M. NFN Kasman
MABASAN Vol. 7 No. 2 (2013): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.131 KB) | DOI: 10.26499/mab.v7i2.176

Abstract

Tulisan ini sebagai masukan terhadap keberadaan Kamus Bahasa Sumbawa-Indonesia yang ditulis oleh Usman Amin dan A. Hijaz H.M. Tulisan ini mencoba menilik kembali kamus yang dimaksud karena masih terdapat beberapa hal yang perlu ditambahkan dalam kaitannya dengan kaidah-kaidah perkamusan. Hal ini dipadang wajar karena penulis kamus tidak berlatar belakang pendidikan kebahasaan.Metode pengumpulan data yang digunakan dalam kajian ini adalah metode pustaka, sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah metode ekstralingual dan metode padan intralingual.Berdasarkan analisis data yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kamus tersebut masih terdapat beberapa kesalahan terutama yang terkait dengan kaidah-kaidah kebahasaan dan kaidah perkamusan.Kekurangan kamus tersebut, antara lain: penulisan penggunaan transkrip fonemik bahasa Samawa yang masih menyamakan antara ketiga fonem /ě/, /é/, dan /e/ padahal dalam bahasa Samawa ketiga fonem tersebut masing-masing berdiri sendiri; pembagian morfem afiks dalam bahasa Samawa yang masih tidak sesuai dengan jumlah afiks yang sebenarnya, pemenggalan kata yang belum tepat, penulisan katagori kata tiap entri yang belum ada, dan lain-lain.
TRANSITIVITAS DALAM TEKS BANGKE OROS DAN RELEVANSINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA DI SMA Lukmanul Hakim
MABASAN Vol. 10 No. 1 (2016): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.269 KB) | DOI: 10.26499/mab.v10i1.78

Abstract

This research is aimed at describing transitivity system in  the Bangke Oros text, the value within the text, and its’ relevancy toward Indonesian teaching and learning at senior high school. Data were gathered using library research using reading and a note taking technique. Data were mainly taken from the Bangke Oros text.  The descriptive qualitative and quantitative approaches were used to analyze the data. The analysis employed an identification technique and both formal and informal methods. The result shows that (1) transitivity system on the text of Bangke Oros covered three functions: i.e. process, participant, and circumstance. In according with the functions, process was dominated by realization process. The participants consisted of participants I and II. Participant I was dominated by the one who involved and participants II was dominated by identity. Circumstance is dominated by location.  (2) the values in Bangke Oros  text consisted of creating, the power of God, defencelessness, awareness and obedience. (3) its’ contribution is focused on the suitability of the text of Bangke Oros into teaching and learning material and application of transitivity system in the teaching and learning of Indonesian language.
Identitas Perempuan yang Terbelenggu dalam Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer: Subaltern dalam Konstruksi Sosial Masyarakat Tradisi Syukrina Rahmawati
MABASAN Vol. 5 No. 2 (2011): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.121 KB) | DOI: 10.26499/mab.v5i2.212

Abstract

 Peran perempuan yang selalu tersubordinasikan dan termajinalisasikan telah menjadi isu utama bagi tiap karya sastra atau novel yang muncul di Indonesia, mulai dari novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli hingga pada novel Saman karya Ayu Utami. Isu tersebut lahir akibat realitas masyarakat tradisi di Indonesia terutama yang berkaitan dengan pengaruh amat kental dari sistem pemerintahan masa kolonial Belanda. Pulau Jawa termasuk pulau yang menjadi kawasan pusat pemerintahan kolonial khususnya di kawasan Jawa Tengah. Novel yang menarik perhatian pembaca adalah novel-novel Pramoedya Ananta Toer dikarenakan novel-novelnya dianggap sebagai bukti sejarah Indonesia sejak zaman penjajahan hinggan zaman kemerdekaan. Salah satunya adalah novel Gadis Pantai yang pertama kali diterbitkan tahun 2003, tetapi sebelumnya telah beredar sejak tahun 1963. Isinya berisi tentang perwajahan perempuan Jawa yang terbelenggu oleh budaya dan tradisi bangsawan Jawa atas dasar pengaruh kolonial. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian novel Gadis Pantai adalah pengaruh kolonial terhadap feodalisme jawa bagi perempuan, relasi penguasa antara sang Bendoro-Mas Nganten (Gadis Pantai), dan keterbatasan ruang aktivitas perempuan yang menjadi kaum perempuan subaltern. Dengan menggunakan teori postkolonial, yakni subaltern yang diusung oleh Gayatri Spivak (1988) maka dapat disimpulkan bahwa peran perempuan hanya ditentukan oleh ideologi priyayi atau keluarga yang menginginkan status sosial anak perempuannya lebih tinggi dari orang tuanya.
Gegar Wacana dalam Komunikasi Lintas Bahasa Daerah Atikah Solihah
MABASAN Vol. 3 No. 2 (2009): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.012 KB) | DOI: 10.26499/mab.v3i2.109

Abstract

Kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi dan transportasi memberikan peluang dan ruang yang lebih besar bagi masyarakat pengguna bahasa daerah yang berbeda di Indonesia untuk saling berinteraksi. Sekalipun keberadaan bahasa Indonesia diakui secara sadar sebagai bahasa persatuan, dalam komunikasi antara pengguna bahasa daerah yang berbeda masih sering muncul ungkapan-ungkapan khas daerah masing-masing. Kemunculannya sering dilakukan secara alami dan spontan sebagai perwujudan dari skemata pengetahuannya yang masih banyak dipengaruhi oleh referensi bahasa daerah. Hal itu sering menimbulkan peristiwa yang aneh dan lucu bagi pendengar yang memahami konteks sebenarnya. Akan tetapi, bagi pelaku yang sedang berkomunikasi, hal itu tidak jarang menimbulkan gegar wacana, yaitu kegagalan membentuk wacana karena pemahaman konteks wacana dan referensi ungkapan yang berbeda dari mitra tutur. Akibatnya, reaksi yang muncul pun berbeda dari yang diharapkan mitra tuturnya. Reaksi itu sering menimbulkan kebingungan atau kemarahan bagi mitra tuturnya.Gegar wacana merupakan peristiwa bahasa yang sangat berkaitan dengan sosial budaya di masyarakat multietnis. Banyak faktor yang memengaruhi munculnya gegar wacana, di antaranya penguasaan yang kurang seimbang antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Gegar wacana dapat berawal dari peristiwa bahasa alih kode, campur kode, atau inferensi yang dilakukan seseorang tanpa kesepakatan dan kesadaran dari mitra tuturnya.Kemunculan peristiwa bahasa berupa gegar wacana dalam masyarakat multietnis dan multibahasa yang memiliki bahasa daerah sebanyak 742 buah seperti di Indonesia (SIL, 2006) peluangnya sangat besar. Bagaimana latar belakang, proses, keunikan, dan pengaruh gegar wacana dalam kehidupan masyarakat dan dalam dunia pendidikan sangat menarik untuk dibahas lebih lanjut.
DISTRIBUSI DAN PEMETAAN VARIAN-VARIAN BAHASA JAWA DI NUSA TENGGARA BARAT (Suatu Kajian Dialektologi) NFN Hartini
MABASAN Vol. 2 No. 2 (2008): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.508 KB) | DOI: 10.26499/mab.v2i2.134

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang bahasa Jawa beserta lokasinya di Provinsi Nusa Tenggara Barat serta mendeskripsikan tentang varian-varian yang terdapat dalam beberapa variabel linguistik dalam bahasa Jawa. Melalui metode dialektometri, dari 254 buah peta perbedaan unsur-unsur kebahasaan yang meliputi bidang fonologi dan leksikon, didapat tiga dialek dalam bahasa Jawa yang ada di Provinsi Nusa Tenggara barat, yaitu dialek Praya, Uma Sima, dan So Nggajah (DPUS), dialek Sakra (DSak) dan dialek Sepayung (DSep). Mengenai hubungan kekerabatan antardialeknya, dapat dikatakan bahwa DPUS lebih dekat dengan DSak daripada dengan DSep.
Istilah Teknis dan Permasalahannya dalam Penerjemahan Muhamad Nur
MABASAN Vol. 5 No. 1 (2011): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.044 KB) | DOI: 10.26499/mab.v5i1.200

Abstract

Term is a word or word-combination which denotes the notion of a special realm of communication in science, industry, technology, art, in a definitive field of knowledge and human activity, that is a special purposes linguistic unit (Лейчик 2007). In this context, the article develops the analyses of writer’s master thesis about the translation of Indonesian terminology standardization directory for computer application ‘Panduan pembakuan istilah penggunaan komputer dengan aplikasi komputer berbahasa Indonesia’ that were set up by the TIM INPRES ‘the Presidential directive teams’ of Indonesia, Number 2/2001. The analyses result was that identifiable numerous approaches of equivalent, and these categorizable inconsistance in the translation process.  Therefore, the message of source language (English) could not comprehensively be expressed in the target language (Indonesian).  Analyses development in the article is tend toward the reviewing of technical terms existence etimologically-theoretically, referring to the International Terminology Standardization, International Standardization Organization (ISO), and Handbook of Terminology in relation to the message sense of technical terms in translation.      Thus, the technical terms in the translation context are bounded by four dimensions; concept, object, term and definition referring to the semiotic triangle as the terminologists’ additional dimension. Where, the pyramid was extended by the dimension of definition resulting four intersections to represent the concept. Accomodating the concept of technical terms can only be handled through the adoption approach of phonetic and semantic adaptation to keep the equivalent message of two different languages.

Page 9 of 29 | Total Record : 283