cover
Contact Name
Lukmanul Hakim
Contact Email
lukmanulhakim7419@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalmabasan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
MABASAN
ISSN : 20859554     EISSN : 26212005     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
MABASAN is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in MABASAN have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. MABASAN is published by Kantor Bahasa NTB twice times a year, in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 283 Documents
PERANG CINE: CARA PANDANG ETNIS SASAK YANG TERCERMIN DALAM FOLKLOR LISANNYA Nining Nur Alaini
MABASAN Vol. 7 No. 1 (2013): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.895 KB) | DOI: 10.26499/mab.v7i1.169

Abstract

 Karya sastra diciptakan bukan hanya demi karya sastra itu sendiri, tetapi digunakan untuk berbagai tujuan yang dikehendaki manusia, memberi sugesti, sindiran, kritik, pendidikan, dan lain-lain. Karya sastra merupakan sebuah fakta yang terlahir sebagai bagian dari berbagai permasalahan dan situasi kongkret yang dihadapi manusia. Melalui karya sastra, proses pewarisan nilai moral dan karakter kelompoknya biasanya dilakukan. Salah satu wujud sastra yang berkembang dalam masyarakat adalah sastra lisan. Lombok, wilayah asal suku Sasak,  merupakan wilayah yang sangat kaya dengan sastra lisan, yang salah satunya berwujud nyanyian rakyat. Dengan mengkaji sastra lisannya yang merupakan bagian dari kebudayaan mereka, akan dapat diungkapkan sikap, perbuatan, pikiran, perasaan, kepercayaan, dan cita-cita etnis Sasak yang merupakan salah satu unsur identitas bangsa Indonesia yang sangat berharga. Salah satu nyanyian rakyat Sasak yang sarat dengan nilai-nilai yang layak diwariskan guna mereka ulang identitas bangsa adalah “Perang Cine”. Kearifan lokal yang merupakan salah satu identitas bangsa ini tidak selayaknya dibiarkan hilang seiring dengan menghilangnya dendangan nyanyian rakyat “Perang Cine” dari pendengaran kita. Kajian ini mencoba menggali kembali kearifan lokal yang terkandung dalam nyanyian rakyat Sasak “Perang Cine”.
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN NARASI MELALUI MEDIA GAMBAR SERI PADA SISWA KELAS III SEMESTER 2 SDN 1 WANASABA TAHUN PELAJARAN 2015/2016 NFN Muharipin
MABASAN Vol. 11 No. 1 (2017): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (890.304 KB) | DOI: 10.26499/mab.v11i1.64

Abstract

The study aimed at finding out the improvement of students’ writing skill in class III, Semester II SDN 1 Wanasaba, academic year 2015/2016. The subject of the study is Students of class III with a total of 23 students comprised of 10 males and 13 females. The study applies two cycles. Each cycle consists of four steps, namely are planning, application, observing/evaluating, and reflecting. The method used is observation, questioner/test, and documentation. Observation conducted to observe the execution process being conducted. Questioner/test is used to find out the result of learning and achievement. Documentation is for supplement material for teaching and learning process. The result of the study shows that the achievement of Students in class III, Semester II SDN 1 wanasaba, academic year 2015/2016 in learning bahasa Indonesia on writing a simple essay based on the serial pictures using correct words and sentences choice considering spelling, capital letters, and punctuation  before the application phase is very low. It is showed by the achievement of 26%. After the application of using serial pictures, the student’ achievement are better. It is showed in cycle 1, the result increases to 70% with good category. In cycle 2, the result increases to 100% with very good category.
Konservasi Nilai Budaya Indonesia melalui Bahasa Daerah Isti Purwaningtyas; Esti Junining
MABASAN Vol. 3 No. 1 (2009): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.139 KB) | DOI: 10.26499/mab.v3i1.102

Abstract

Pendidikan seni budaya, termasuk pendidikan budi pekerti, merupakan upaya paling mendasar yang harus diterapkan kepada anak-anak generasi bangsa, karena tanpa mengenal budaya Indonesia, maka pertumbuhan generasi akan kacau di masa datang. Efek dari hal ini adalah timbulnya demoralisasi atau kemerosotan moral di masyarakat. Misalnya, dalam masyarakat Jawa, kehalusan bertutur kata yang tercermin dalam stratifikasi bahasa Jawa sudah mengalami erosi berat. Anak-anak muda tidak lagi mau dan mampu berbahasa krama dengan orang tuanya dan dengan orang lain yang lebih tua sebagai wujud adanya rasa hormat. Apalagi pada era globalisasi saat ini, identitas budaya pribumi (lokal) dan budaya nasional makin musnah, tergerus oleh budaya global atau kultural dunia barat. Kecintaan budaya lokal dan nasional sangat penting demi kemajuan bangsa. Akar dan keberagaman budaya lokal dan nasional tersebut akan mampu mengikis masuknya budaya global yang negatif. Tidak hanya itu, perspektif budaya lokal akan mampu menyatukan komponen bangsa menuju keberhasilan pembangunan. Perangkat dan pengaruh globalisasi terhadap budaya dan seni masyarakat akan memudarkan aktivitas seni dan budaya lokal. Seni budaya lokal dan nasional yang sangat positif sangat perlu diterapkan menjadi materi pendidikan dalam proses belajar mengajar di sekolah. Oleh karena itu, upaya peningkatan dalam menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah dan nasional diterapkan di sekolah dengan berbagai kompetisi, kreativitas lomba budaya daerah terutama melalui lembaga-lembaga pendidikan formal dan non formal. Agar  pemilik dan penutur asli bahasa daerah sadar tentang begitu besar dan pentingnya fungsi bahasa daerah, perlu diupayakan peningkatan mutu pemakaian bahasa daerah, mencakup upaya meningkatkan sikap, pengetahuan, dan ketrampilan berbahasa daerah melalui jalur formal—pendidikan dan pengajaran di sekolah dan jalur informal--dengan memfungsikan bahasa daerah dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
ANALISIS STRUKTUR BATIN SYAIR ADAT PADA MASYARAKA SIKKA KROWE DALAM TRADISI POTO WUA TA’A DI KABUPATEN SIKKA NUSA TENGGARA TIMUR Gisela Nuwa; Ahmad Yani
MABASAN Vol. 13 No. 1 (2019): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.882 KB) | DOI: 10.26499/mab.v13i1.244

Abstract

Dampak langsung dari globalisasi adalah tergerusnya bahasa, seni, serta adat-istiadat yang selama ini dijaga dan dilestarikan oleh nenek moyang, akan hilang dan tidak dikenali lagi oleh para pemuda yang hidup di zaman sekarang. Padahal, sastra lisan adat istiadat justru memiliki nilai-nilai karakter yang mampu menjadi pedoman dalam hidup bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Berhadapan dengan tradisi poto wua ta’a yang merupakan bagian dari syair adat yang belakangan eksistensinya mulai hilang oleh perkembangan globalisasi. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan struktur batin dalam syair adat poto wua ta’a. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah struktural batin karena pendekatan ini menempatkan karya sastra sebagai dasar penelitian dan memandang karya sastra sebagai dasar penelitan serta sebagai sistem maknanya yang berlapis-lapis sebagai suatu totalitas yang tak dapat dipisahkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif yaitu menganalisis data deskriptif dengan cara memaparkan dan mendeskripsikan sesuatu yang ada. Sumber data yang diperoleh dari narasumber berupa syair adat poto wua ta’a. Teknik dan prosedur pengumpulan data berupa: rekam, catat, observasi, wawancara. Teknik analisis data dengan cara: terjemahan syair adat poto wua ta’a, mengklasifikasi data, menganalisis data dan menyimpulkan. Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, tema dalam syair adat poto wua ta’a adalah (1) tema perkenalan, (2) tema peminangan (3) tema keluarga, (4) tema keTuhanan. Kedua, Nada dalam syair adat Poto wua ta’a adalah (1) nada romantik yang mencakup nada tanya, nada menjawab, nada mengajak, (2) nada mencekam, (3) nada intensi/memohon, (4) nada memiliki. Ketiga, (1) rasa gembira, (2) rasa sedih, (3) rasa malu. Keempat, amanat yang terkandung dalam syair adat poto wua ta’a sebagai berikut: (1) amanat berkaitan dengan menjaga kesucian perkawinan, (2) amanat berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab kepala keluarga, (3) jangan lupa bersyukur kepada Tuhan, (4) harus hidup rukun dan damai dengan sesama ciptaan Tuhan.
MODALITAS DEONTIK DIALEK KUTO-KUTE BAHASA SASAK DAN HUBUNGANNYA DENGAN PENGAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMP Denda Puspita Sari
MABASAN Vol. 9 No. 2 (2015): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.877 KB) | DOI: 10.26499/mab.v9i2.160

Abstract

Salahsatu bahasa lokal yang ditemukan di Nusantara adalah bahasa Sasak. Bahasa Sasak salah satu bagian dari budaya nasional seperti bahasa lokal lainnya, perlu dilestarikan, dipelihara dan dikembangkan perannya tidak hanya sebagai bagian media komunikasi tetapi dapat juga menjadi sumber pengajaran bahasa lokal sebagai kekayaan nasional yang beragam. Berdasarkan pada masalah di atas, masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah bentuk modal deontik dialek Kuto-kute bahasa Sasak? (2) Bagaimanakah bentuk makna modal deontik dalam dialek Kuto-kute bahasa Sasak? (3) Bagaimanakah hubungan antara modal deontik dialek Kuto-kute dan relevansinya dengan pembelajaran bahasa di sekolah? Teknik pengumpulan data adalah wawancara dengan teknik lanjutan teknik rekam dan catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Bentuk modal deontik dialek Kuto-kute bahasa Sasak adalah bentuk permisi yang mencakup bentuk langsung dan tidak langsung, sedangkan bentuk perintah dalam bentuk deklaratif dan imperatif. (2) Modalitas deontik bahasa Sasak mencakup dua makna, yaitu makna permisi dan perintah penting yang dapat diekspresikan menggunakan penanda modalitas dan (3) Salah satu tipe dialek, dialek Kuto-kute berbedadengan dialek lainnya, sehingga dalam memformulasikan materi pengajaran bahasa membutuhkan langkah khusus dalam bentuk yang logis dan makna yang terkandung di dalamnya dapat dimengerti dengan mudah oleh siswa dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
PERBANDINGAN CERITA RAKYAT SASAK DAN SAMAWA: UPAYA MEMAHAMI MASYARAKAT SASAK DAN SAMAWA Syaiful Bahri
MABASAN Vol. 12 No. 2 (2018): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.549 KB) | DOI: 10.26499/mab.v12i2.58

Abstract

In this paper, there are two problems to be answered, namely are (1) the comparison between Sasak and Samawa folktales and (2) the description of Sasak and Samawa people based on the folktales. The folktales used as data are (1) Batu Goloq (Sasak) and Batu Plantolan (Samawa); Mandalika (Sasak) and Lala Buntar (Samawa); and (3) Tegodek dait Tetuntel (Sasak) and Ne Bote Ne Kakura (Samawa). Data are gathered through library research. Problems are answered using Levi-Strauss structural theory saying that tale is the gate of understanding the people. It is found that the relation of each group of tales shows a consistency in similarities and differences. Batu Goloq and Batu Plantolan give a description that Sasak people tend to solve problems by themselves as a consequence of being closed people, while Samawa people tend to invite others in solving their problems as a consequence of  being  opened people. The similar characters found in Mandalika and Lala Buntar specifically in miteme processing, in taking decision, and solving problems. Mandalika is characterized as a closed figure, while Lala Buntar is an opened one in deciding and solving the problems. The comparison between Tegodek dait Tetuntel and Ne Bote Ne Kakura shows that Sasak and Samawa people tend to protest any mistreatment from high class community toward a lower class community. It is the manifestation of the same view toward refusal and disagreement to the oppression done by high status people.
Penggunaan Media Film Dokumenter dalam Keterampilan Berbicara Bahasa Indonesia pada Siswa Bipa Tingkat Madya di Universitas Trisakti Dewi Nastiti Lestari
MABASAN Vol. 5 No. 1 (2011): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.965 KB) | DOI: 10.26499/mab.v5i1.194

Abstract

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan berbicara dengan teknik diskusi melalui penggunaan film dokumenter sangat membantu atau memotivasi siswa untuk berpikir logis dan berbahasa target, bahasa Indonesia.Permasalahan keterampilan berbicara siswa yang ditemui pada program BIPA di Universitas Trisakti antara lain terdapat kekurangtepatan pada beberapa poin kebahasaan berikut, seperti: pelafalan saat merangkai kata menjadi kalimat; penggunaan kata dalam konteks kalimat; penggunaan kata sambung intrakalimat dan antarkalimat; pengujaran kalimat majemuk, serta pemahaman konteks ujaran kawan tutur. Hal tersebut memunculkan pertanyaan: (a) Bagaimana meningkatkan keterampilan berbicara dalam bahasa Indonesia melalui media film dokumenter? (b) Apakah keterampilan berbicara bahasa Indonesia siswa BIPA tingkat madya dapat ditingkatkan melalui media film dokumenter? Keterampilan berbicara yang dimaksudkan adalah kegiatan yang bertujuan untuk berkomunikasi dengan kawan bicara secara logis dan wajar dengan menggunakan pelafalan yang tepat, bertata bahasa yang benar, penggunaan kosakata yang tepat, kelancaran pengucapan yang baik, dan terdapat pemahaman antarkawan bicara. Sementara itu, penggunaan media film dokumenter yang dimaksud merupakan alat bantu pembelajaran efektif untuk menyampaikan materi yang berisikan pengenalan budaya dan realita sosial dengan tujuan untuk menjembatani proses komunikasi pada saat-saat tertentu, seperti terdapat kesenjangan antara bahasa dan budaya siswa asing. Dalam hal ini digunakan film dokumenter yang disesuaikan dengan topik BIPA pada tingkat madya. Film dokumenter yang digunakan diperoleh dari Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia, sebuah komunitas film Indonesia yang di dalamnya terdapat kerja sama antara In-Docs dan The Ford Foundation.Bahasan dalam makalah ini memfokuskan pada penjelasan atas pertanyaan penelitian tersebut. Data yang digunakan dalam kajian ini berdasarkan hasil penelitian tindakan pada program BIPA, Kerjasama Negara Berkembang di Universitas Trisakti.
TEKNIK PENERJEMAHAN LISAN DALAM TRADISI BEKAYAT DI LOMBOK Safoan Abdul Hamid
MABASAN Vol. 8 No. 2 (2014): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.443 KB) | DOI: 10.26499/mab.v8i2.93

Abstract

Sasak ethnic group’s community in Lombok, Nusa Tenggara Barat Province, has an oral tradition of reciting hikayat namely bekayat. During the performance, step of the recitation is followed by interpretation from Melayu language to Sasak. As a part of literary work interpreting, the interpreter applies certain method, technique and ideology. This research is aimed at revealing interpreting technique applied in bekayat performance. Sample of this research is taken from Lombok Barat District, out of three other districts in Lombok. Data collection is conducted through recording and an interview technique. The data are transcribed and then analized by an interlinguistic and descriptive method. Result of the analysis shows that the interpreter of bekayat performance applied three techniques, namely paraphrase, contextual conditioning, and compensation.  
TARGET BACA: ALTERNATIF PENUMBUHAN MINAT BACA SASTRA Syaiful Bahri
MABASAN Vol. 6 No. 2 (2012): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.176 KB) | DOI: 10.26499/mab.v6i2.230

Abstract

Kebekuan pembelajaran sastra tidak terlepas dari faktor lemahnya budaya baca. Artinya, guna memecahkan kebekuan pembelajaran sastra, kegiatan membaca (khususnya sastra) harus dibudayakan.Target baca.Merupakan salah satu alternatif bagi upaya pembudayaan membaca di kalangan siswa.Kegiatan tawaran bagi guru Bahasa dan Sastra Indonesia ini dilaksanakan melalui proses membuat kesepakatan, penyetoran, dan penulisan. Masing-masing proses tersebut akan terlaksana dengan baik jika guru yang bertindak sebagai motivator juga mencintai sastra.
Bukti-Bukti Leksikal Pembeda Bahasa Wanokaka dan Anakalang di Sumba NTT I Gede Budasi
MABASAN Vol. 4 No. 1 (2010): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.442 KB) | DOI: 10.26499/mab.v4i1.184

Abstract

Wanokaka (Wn) and Anakalang (An) languages are two  of the seven languages spoken in Sumba,  East Nusa Tenggara.  Their speakers  live in Central Sumba Regency in East Nusa Tenggara  Province.  Some linguists have considered the two are dialects of Sumba language.  In Budasi’s study (2007 2009), however, both of them were quantitatively proved  as two diffrent languages spoken in the regency. Based on the lexicostatistics analysis and Swadesh’s classification of language, the  relatedness of the two languages was  75,5 %  which means that they belong to language family (They are not in dialects relationship). Both languages were hyphotesized originally from   Proto Wn-An in Sumba Language Group. Based on this hyphothesis, this paper aims at describing qualitatively the the lexical evidences which differ the two  languages. In this  study, the the compartive method was applied. The population of the study were the speakers of the two languages. Three informant samples were selected based on a set of criteria. The instruments of the data gathering were three word lists: Swadesh, Nothofer, and  Holle; and a tape recorder.  Two types of data: secondary and primary,  were collected.  The obtained data  were analysed descriptively and qualitattively. This study concludes that 24.5 %  of the total lexicons identified from the three word lists are  in different forms that differed the two laguages lexically. Thereare two types of findings. The first findings are a number of lexicons which show the forms  of lexical innovation, that is, the forms of cognat sets which show minimum differences in the their phonological patterns; and. The second, is that,  the existance of lexical retentions generated from the Proto Wn-An.  The whole identified evidences  confirmed  the quantitatif data findings mentioned in Budasi’s study (2007 and 2009), that is, the Wn-An are two different languages generated directly from the Proto Wn-An within Sumba language Group.

Page 5 of 29 | Total Record : 283