cover
Contact Name
Lukmanul Hakim
Contact Email
lukmanulhakim7419@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalmabasan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
MABASAN
ISSN : 20859554     EISSN : 26212005     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
MABASAN is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in MABASAN have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. MABASAN is published by Kantor Bahasa NTB twice times a year, in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 283 Documents
Kearifan Lokal dalam Cerita Rakyat Nusantara: Upaya Melestarikan Budaya Bangsa Erli Yetti
MABASAN Vol. 5 No. 2 (2011): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.666 KB) | DOI: 10.26499/mab.v5i2.207

Abstract

Sastra lisan merupakan salah satu bentuk produk budaya yang diciptakan dan diwarisi secara lisan dan turun-menurun melalui alat pengingat (memonic devices).  Bentuk sastra ini terus hidup dalam tradisinya dan berkembang menyesuaikan perkembangan masyarakatnya. Sastra lisan sangat beragam bentuknya, mulai dari bahasa rakyat, ungkapan tradisional (pepatah dan peribahasa), pertanyaan tradisional (teka-teki), puisi rakyat (pantun, syair, bidal, dll), dan prosa rakyat, mite (myth), legenda, (legend), dan dongeng (folktale), serta nyanyian rakyat. Jenis sastra ini dalam masyarakat Nusantara bisa menjadi identitas karena di dalamnya terkandung pelbagai kearifan lokal (local wisdom). Prosa rakyat yang lebih dikenal dengan cerita rakyat tersebar di seluruh Nusantara. Sebagai kekayaan budaya, melalui cerita rakyat dapat digali berbagai kemajemukan identitas nasional Indonesia. Dalam masa sekarang kearifan lokal bisa menjadi salah satu cara dalam mewujudkan aspek positif arus globalisasi. Kearifan lokal banyak terdapat dalam cerita rakyat seperti cerita Malin Kundang, Bawang Merah Bawang Putih, Sangkuriang, Pulo Kemaro, Anak Durhaka, dan lain sebagainya. Cerita rakyat tersebut mengandung pesan moral seperti sopan santun, saling menyayangi, suka menolong orang lain, dan lain sebagainya. Keanekaragaman cerita daerah inilah kemudian melahirkan apa yang disebut multikulturalisme. Dengan menempatkan kebangsan sebagai benang merah akan terlihat keberagaman budaya etnis dan pluralitas sebagai budaya dalam ”kebhineka tunggalikaan”.
Lawas Samawa dalam Konfigurasi Budaya Nusantara Made Suyasa
MABASAN Vol. 3 No. 1 (2009): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.749 KB) | DOI: 10.26499/mab.v3i1.103

Abstract

Sastra lisan merupakan media pengungkap ekspresi manusia yang hidup dan berkembang pada masyarakat pemiliknya. Sastra lisan sebagai fenomena budaya merupakan cerminan dari kandungan nilai yang hidup pada masyarakat di zamannya, karena itu nilai budaya tersebut sangat bersifat konstektual. Masyarakat Sumbawa (Samawa) mempunyai karya sastra lisan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, salah satunya dalam bentuk puisi (lawas).Lawas dikenal luas pada masyarakat Samawa sejak zaman dahulu sampai saat ini. Lawas begitu melekat dalam kehidupan masyarakat Samawa sehingga lawas mempunyai berbagai bentuk ekspresi dalam berbagai aspek kehidupan masyarakatnya. Lawas yang mempunyai berbagai bentuk ekspresi disajikan dalam berbagai konfigurasi. Disadari atau tidak oleh masyarakat pemiliknya ternyata dalam perkembangannya lawas telah melahirkan berbagai konfigurasi sebagai gambaran keterbukaan masyarakat dalam menerima budaya orang lain yang dianggap masih sejalan dengan budaya Samawa. Konfigurasi ditunjukkan dalam bentuk (struktur), isi, dan penyajian lawas, seperti dalam penyajian lawas pada sakeco.Konfigurasi yang terbangun dalam sastra lisan lawas mencerminkan gambaran budaya Nusantara sebagai wujud persahabatan dan berterimanya terhadap budaya lain. Bentuk lawas mempunyai kesamaan dengan pantun Bugis dan patu’u Bima ditunjukkan dari jumlah baris, yakni yang mempunyai bentuk tiga baris. Isi lawas sangat kontektual. Peristiwa dalam berbagai lapisan masyarakat mampu terakomodasi dengan baik menjadikan lawas sebagai media persahabatan. Lawas sebagaimana sastra lisan yang lain ciri utama penyampaiannya dalam bentuk pertunjukkan seperti, sakeco, ngumang, begero, saketa yang memadukan berbagai peralatan seperti rebana ode/rea, serunae, genang dan sebagainya yang banyak digunakan oleh masyarakat di luar Samawa.
PERGESERAN BAHASA MASYARAKAT ETNIS TIONGHOA DI BIMA Nini Ernawati; NFN Usman
MABASAN Vol. 13 No. 1 (2019): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.319 KB) | DOI: 10.26499/mab.v13i1.246

Abstract

Masyarakat etnis Tionghoa yang ada di Bima merupakan masyarakat yang bilingual, bahkan multilingual. Selain menguasai bahasa ibu (B1), mereka juga menguasai bahasa Indonesia dan bahasa Bima. Namun, dalam kehidupan sosial sehari-hari, masyarakat etnis Tionghoa lebih memilih meninggalkan bahasa ibunya dan beralih menggunakan bahasa Bima dan bahasa Indonesia. Sikap berbahasa masyarakat etnis Tionghoa tersebut menjadi hal yang menarik diteliti. Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini, yakni (1) faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pergeseran bahasa masyarakat etnis Tionghoa di Bima dan (2) dampak dari pergeseran bahasa masyarakat etnis Tionghoa di Bima. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode rekam, observasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, faktor-faktor penyebab terjadinya pergeseran bahasa masyarakat etnis Tionghoa ada tiga, yaitu faktor migrasi, faktor sosial, dan faktor ekonomi; Kedua, dampak pergeseran bahasa ada dua, yaitu dampak positif dan dampak negatif. Adapun dampak positifnya, yaitu 1) mempermudah masyarakat etnis Tionghoa berkomunikasi dengan masyarakat di lingkungan tempat tinggal mereka yang baru; 2) meningkatkan status sosial; dan 3) memberikan keuntungan sebagai sarana mencari nafkah/meningkatkan nilai ekonomi. Dampak negatif dari pergeseran bahasa adalah dapat menyebabkan terjadinya kematian atau kepunahan bahasa. Namun, pergeseran bahasa yang terjadi pada masyarakat etnis Tionghoa yang berada di Bima tersebut tidak sampai menyebabkan punahnya bahasa karena pergeseran bahasa itu berlangsung bukan di tempat bahasa ibu digunakan.
FUNGSI TRADISI LISAN SUSURUNGAN BAGI MASYARAKAT BANJAR HULU NFN Hestiyana
MABASAN Vol. 9 No. 2 (2015): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.427 KB) | DOI: 10.26499/mab.v9i2.161

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi tradisi lisan susurungan bagi masyarakat Banjar Hulu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik yang dilakukan untuk mengumpulkan data adalah teknik rekam dan teknik catat. Prosedur pengolahan data dilakukan dengan empat tahapan, yaitu: (1) transkripsi rekaman data, (2) klasifikasi data, (3) penerjemahan data, dan (4) menganalisis data. Sumber data dalam penelitian ini adalah: (1) data primer, yaitu data yang diperoleh dari informan di lapangan sebanyak 4 orang yang dikategorikan sebagai penutur tradisi lisan susurungan yang bertempat tinggal di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, dan Kabupaten Tabalong; dan (2) data sekunder, yaitu data pelengkap yang diperoleh dari hasil penelitian yang sudah ada yang terkait dengan penelitian tradisi lisan Banjar Hulu susurungan. Dari hasil sumber data primer di lapangan diperoleh hasil perekaman, yaitu sebanyak 27 tuturan. Akan tetapi, dalam tahap analisis data hanya disajikan hasil teks tuturan yang dianggap mewakili masing-masing fungsi susurungan. Hasil penelitian ditemukan ada tiga fungsi tradisi lisan susurungan bagi masyarakat Banjar Hulu, yaitu(1) fungsi susurungan untuk menguji kepandaian seseorang, 2) fungsi susurungan untuk mengisi waktu pada saat bergadang menjaga jenazah, dan 3) fungsi susurungan untuk dapat melebihi orang lain.
NILAI-NILAI KEHIDUPAN DALAM NOVEL DILAN, DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1990 DAN IMPLEMENTASINYA PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA Farida Fitriani; Ani Endriani
MABASAN Vol. 12 No. 2 (2018): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1005.48 KB) | DOI: 10.26499/mab.v12i2.60

Abstract

 The purpose of this study is to describe values of the life in the novel of “Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990” and its implementation in Indonesian language learning at MAN 1 Lombok. The type of research used is qualitative method. The data are collected in the study throughreading method by tapping and note-taking techniques. Data analysis technique uses semiotic reading model, namely heuristic and hermeneutic readings. The validity of the data in this study is tsted by using triangulation techniques by applying the intrarater and interrater principles.The values of life in the novel of “Dilan, dia adalah Dilanku Tahun 1990” is social, democracy and love valueamong teenagers in that time. The values of life that can be modeled  are the positive values, while the negative ones can be used as learning to avoid or not fall into things that are harmful to ourselves or others. The implementation of the values of life in the novel of“Dilan, dia adalah Dilanku Tahun 1990 at MAN 1 Lombok Tengah” has three stages of learning planning, namely the initial stage, the core, and the end.
Pengembangan Keterampilan Sosial Melalui Pembelajaran Puisi pada Siswa Sekolah Dasar Kelas V SD Muhammadiyah Kolombo Yogyakarta NFN Hilmiati
MABASAN Vol. 5 No. 1 (2011): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.996 KB) | DOI: 10.26499/mab.v5i1.195

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa kelas V SD Muhammadiyah Kolombo, Yogyakarta melalui peningkatan keterampilan membaca dan menulis puisi. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri atas delapan pertemuan dalam dua siklus dengan menggunakan model spiral menurut Kemmis dan Mc Taggart. Peneliti bertindak sebagai pengamat, sedangkan kolaborator utama, yaitu guru bahasa Indonesia yang mengajar kelas tersebut sebagai pelaksana tindakan. Kolaborator pembantu terdiri atas tiga  orang pengamat. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan, wawancara, dan dokumentasi: instrumen yang digunakan adalah tes sikap dan lembar pengamatan. Data keterampilan sosial dianalisis dengan teknik deskriftif kuantitatif dan data keterampilan membaca dan menulis puisi dianalisis dengan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) peningkatan keterampilan sosial: a) rerata skor keterampilan sosial pada siklus pertama dengan rentang skor 1—40  diperoleh 21,4 (cukup), pada siklus kedua meningkat menjadi 27,12 (baik);  b) rerata skor tes sikap sebelum pelaksanaan tindakan dengan rentang skor 1—75  diperoleh 42,9 (cukup), pada pascatindakan meningkat menjadi 54,9 (baik). 2) peningkatan keterampilan membaca pada siklus pertama dengan rentang 1—100  diperoleh 52,63% (belum tuntas); pada siklus kedua meningkat menjadi 68,42% (tuntas) dan menulis puisi pada siklus pertama dengan rentang 1—100  diperoleh 52,63% (belum tuntas); pada siklus kedua meningkat menjadi 73,68% (tuntas).
ANALISIS STRUKTURAL FABEL TEGODEK DAIT TETUNTEL: REPRESENTASI PERILAKU DALAM MASYARAKAT SASAK Syaiful Bahri
MABASAN Vol. 8 No. 2 (2014): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (811.392 KB) | DOI: 10.26499/mab.v8i2.94

Abstract

This study analyzed structure of Tegodek Dait Tetuntel fable. Through these structures, it will be seen the role of each character in relationto the behavior of Sasak community based on the social levels . By using the structural analysis methods of Levi-Strau,it is shown that Tegodek and Tetuntel fable is not only presenting two main characters,  ‘Godek’ (monkey) and Tuntel (frogs/toads), but it is also presenting some phenomena of opposition figures such as ‘Godek’ is always insuperior position, while figures of Tuntel is always in inferior position. This indicates that ‘Godek’ figure is representation of a higher social class, while Tuntel is representation of a lower social class. Relating to the behavior, the ‘Godek’ character has a more active behavior, while the Tuntel figure tends to bea  passive behavior. If it is related to "working" activities, Tuntel figures have more knowledge than the characters of Tuntel. In relation to the behavior of revealing facts, the Tuntel figures tend to reveal something accordance with the facts, while the ‘Godek’ figures tend to precede the prestige that sometimes they do not meet the facts. When it is dealt with a problem solving, ‘Godek’ figures are more like doing intervention, whereas Tuntel figures to be relentless.
ANALISIS STRUKTURAL CERITA CILINAYE: UPAYA MENGUNGKAP KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT SASAK Muhammad Shubhi
MABASAN Vol. 6 No. 2 (2012): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.598 KB) | DOI: 10.26499/mab.v6i2.231

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis struktur cerita Cilinaye guna mengungkap kearifan lokal apa saja yang terkandung di dalamnya. Untuk sampai kepada tujuan tersebut, tulisan ini didasarkan pada teori Strukturalisme Levi-Strauss yang melihat bahwa mitos (cerita) memiliki kemiripan dengan bahasa yang merupakan media penyampaian pesan dan memiliki struktur. Hasil analisis menemukan bahwa cerita Cilinaye memiliki struktur yang saling kait-mengait, bagian yang satu menjelaskan bagian yang lain. Dengan memahami struktur cerita Cilinaye tersebut, dapat mempermudah mengungkap kearifan lokal yang ada di dalamnya. Hal itu terlihat dari beberapa sikap dan perbuatan yang ditunjukkan dalam cerita. Ziarah makam, doa, dan nazar merupakan tiga hal yang erat kaitannya. Dalam nazar terdapat juga sebuah motivasi yang kuat untuk meraih apa yangmenjadi harapan. Selain itu, adanya perayaan disertai dengan presean juga merupakan kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Sasak sebagai perwujudan rasa syukur.
CERPEN SURAU KARYA KHAIRUL JASMI: SUATU ANALISIS SEMIOTIK Agus Yulianto
MABASAN Vol. 9 No. 1 (2015): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.334 KB) | DOI: 10.26499/mab.v9i1.152

Abstract

Cerita pendek adalah salah satu karya sastra yang berbentuk prosa. Untuk membuat sebuah karya sastra, penulis kadang-kadang mengambil ide dan cara berfikir dari perubahan di masyarakat. Perubahan tersebut kadang-kadang terdiri dari simbol-simbol tertentu. Oleh karena itu, untuk memahami sebuah karya sastra, kita harus menganalisanya. Salah satu alat yang dipakai untuk menganalisis adalah dengan menggunakan pendekatan semiotika.Penelitian ini menganalisis simbol yang ditemukan di cerita pendek “Surau” karya Khairul Jazmi dan makna yang terkandung di dalamnya.Dalam penelitian ini, data yang dianalisis adalah simbol di cerita pendek “Surau” karya Khairul Jazmi baru kemudian makna yang dikandungnya.Hasil penelitian menemukan 23 simbol yang diberikan makna juga. Salah satu dari simbol tersebut adalah masjid yang hilang 22 tahun yang lalu yang merupakan simbol religius dalam kehidupan Pak Karimun.
Inovasi Leksikal Bahasa Bali di Lombok: Kajian Dialektologi I Nyoman Sudika
MABASAN Vol. 4 No. 1 (2010): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.843 KB) | DOI: 10.26499/mab.v4i1.185

Abstract

Bahasa Bali di Lombok merupakan salah satu dialek dari bahasa Bali di Bali. Berdasarkan pengelompokan daerah pengamatan, bahasa ini terdiri atas dua kelompok dialek, yaitu dialek Pl (dialek pencilan) dan dialek Gtn. Perkembangannya, kedua dialek tersebut mendapat pengaruh yang cukup kuat dari bahasa Sasak atau pun bahasa daerah lain yang ada di Pulau Lombok. Sehubungan dengan itu, tujuan tulisan ini adalah untuk  mendeskripsikan bentuk inovasi leksikal yang terdapat pada bahasa Bali di Lombok dan  mengetahui asal-usul setiap varian dalam kerangka penentuan  tingkat keinovasian pada masing-masing dialek. Inovasi leksikal bahasa Bali di Lombok ditemukan dalam dua bentuk, yaitu inovasi internal dan inovasi eksternal. Inovasi internal dapat berupa bentuk perubahan bunyi, penambahan bunyi, dan penghilangan bunyi. Adapun inovasi eksternal,  bahasa Bali sangat kuat dipengaruhi oleh bahasa Sasak.  Persebaran unsur pungutan dari bahasa Sasak di dalam kedua dialek  itu terjadi secara tidak merata. Ketidakmerataan itu telah memperlihatkan bahwa dalam dialek yang terpencil memperlihatkan pengaruh unsur pungutan bahasa Sasak frekuensinya lebih tinggi dibandingkan dengan keterpengaruhannya pada daerah yang tidak terpencil. Inovasi internal yang dialami daerah dialek Pl yang merupakan daerah pencilan memperlihatkan inovasi internalnya rendah. Di sisi lain, pada daerah dialek Mt yang dekat dengan pusat kegiatan ekonomi, pemerintahan, dan kebudayaan, memperlihatkan inovasi internalnya tinggi.

Page 8 of 29 | Total Record : 283