cover
Contact Name
Nasrul Wathoni
Contact Email
majalah@farmasetika.com
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
majalah@farmasetika.com
Editorial Address
Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran Jl. Bandung-Sumedang KM.21, 45363 Sumedang
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Majalah Farmasetika
ISSN : -     EISSN : 26862506     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmasetika Edisi Khusus merupakan majalah online farmasi di Indonesia berbentuk artikel ilmiah populer, artikel review, laporan kasus, komentar, dan komunikasi penelitian singkat di bidang farmasi. Edisi khusus ini dibuat untuk kepentingan informasi, edukasi dan penelitian kefarmasian. Majalah Farmasetika Edisi Khusus terbit 5 kali dalam setahun.
Articles 368 Documents
Karagenan dan Aplikasinya di Bidang Farmasetika Dwi Prihastuti; Marline Abdassah
Majalah Farmasetika Vol 4, No 5 (2019): Vol. 4, No. 5, Tahun 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1303.784 KB) | DOI: 10.24198/farmasetika.v4i5.23066

Abstract

Karagenan merupakan polisakarida linier tersulfasi dari D-galaktosa dan 3, 6-anhidro-D-galaktosa yang diekstraksi secara komersial dari rumput laut merah kelas Rhodophyceae. Nama karagenan sendiri berasal dari spesies rumput laut yaitu Chondrus crispus yang dikenal sebagai Carrageen Moss atau Irish Moss di Inggris, dan Carraigin di Irlandia. Tiga tipe utama karagenan yang dibedakan berdasakan struktur diantaranya, kappa (κ), iota (ι), dan lambda (λ). Secara komersial karagenan digunakan sebagai agen pengental dan penstabil terutama pada produk makanan dan saus. Selain itu karagenan digunakan pada formulasi farmasetik dan kosmetik sebagai penstabil dalam sistem dispersi, pengatur viskositas dan sebagai pembentuk gel. Dalam bidang farmasetik karagenan banyak digunakan dalam sistem penghantaran obat untuk memperoleh kerja obat yang lebih panjang. Karagenan digunakan sebagai matriks tablet, ektruksi dalam pembuatan pelet, agen pembentuk gel, peningkat viskositas, peningkat permiabilitas dan digunakan pula dalam pembuatan mikrokapsul, beads serta nanopartikel. Selain itu karagenan juga digunakan dalam produksi antibiotik semi sintetik, tetrasiklin, klorotetrasiklin dan asam D-aspartat.Kata kunci: karagenan, aplikasi dalam bidang farmasetik, sistem penghantaran obat
Review: Bahan Alami Penyembuh Luka Dede Jihan Oktaviani; Shella Widiyastuti; Dian Amalia Maharani; Agni Nur Amalia; Asep Maulana Ishak; Ade Zuhrotun
Majalah Farmasetika Vol 4, No 3 (2019): Vol. 4, No. 3, Tahun 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.09 KB) | DOI: 10.24198/farmasetika.v4i3.22939

Abstract

Prevalensi luka yang cukup tinggi di Indonesia (8,2%) pada tahun 2013 yang diakibatkan oleh kasus terjatuh (40,9%) dan transportasi kendaraan bermotor (40,6%) memerlukan perhatian berbagai pihak. Diantaranya melalui upaya menumbuhkan kesadaran para pengguna jalan dan edukasi masyarakat akanpentingnya keselamatan. Review ini merupakan hasil penelusuran pustaka yang bertujuan memberikan pengetahuan umum mengenai luka dan bahan alami untuk menyembuhkan luka. Jenis luka yang terjadi bermacam-macam berdasarkan penyebab dan ada tidaknya kontaminasi, yang semuanya memerlukan perawatan agar proses penyembuhan berlangsung cepat. Beberapa bahan alami yang telah terbukti dapat membantu menyembuhkan luka diantaranya yaitu papaya (Carica papaya), babadotan (Ageratum conyzoides), pegagan (Centela asiatica), jarak (Jatropa curcas), kunyit (Curcuma domestica), singkong (Manihot esculenta) dan pisang (Musa paradisiaca).Kata kunci: Luka, bahan alami, menyembuhkan luka.
Beta Keton, Penanda Diabetes Tipe 1 pada Sensor Elektrokimia Patria Pari Agnes
Majalah Farmasetika Vol 3, No 1 (2018): Vol. 3, No. 1, Tahun 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.702 KB) | DOI: 10.24198/farmasetika.v3i1.22859

Abstract

Dewasa ini, diabetes mulai menjadi permasalahan global, dimana jumlah penderitanya terus mengalami peningkatan tiap tahunnya. Maraknya kasus diabetes ini mendorong dilakukannya pergerakan guna mengembangkan suatuperangkat sederhana yang mampu mendeteksi kadar gula darah. Dalam mini review ini dibahas potensi beta keton sebagai penanda diabetes tipe 1 pada sensor elektrokimia. Dijelaskan pula kelebihan dan kekurangannya.Kata kunci : beta keton, diabetes tipe 1, sensor elektrokimia
Masalah dan Pengembangan Formulasi Obat untuk Bentuk Dosis Anak-Anak Aslamnur Fikri Ramadhana; Rini Hendriani
Majalah Farmasetika Vol 4, No 4 (2019): Vol. 4, No. 4, Tahun 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.87 KB) | DOI: 10.24198/farmasetika.v4i4.23064

Abstract

Obat sering digunakan masyarakat sehari-hari, termasuk oleh anak-anak. Ada berbagai alasan untuk formulasi obat menjadi bentuk sediaan yang sesuai, contohnya untuk pengukuran dosis yang akurat. Review artikel ini bertujuan mengetahui masalah dalam formulasi bentuk dosis untuk anak-anak dan penelitian yang mengembangkan bentuk sediaan sesuai dosis untuk anak-anak. Metode yang dilakukan adalah dengan review jurnal dari tahun 1994 sampai tahun 2019. Diperlukan bentuk sediaan yang sesuai dengan kondisi dan usia anak-anak. Rasa yang tidak enak menjadi masalah dalam formulasi dan hambatan dalam terapi. Tablet dispersible, bubuk butiran, pellet, atau taburan rekonstitusi sering digunakan pada bayi tetapi rasanya perlu ditutupi dan pemberian tanpa air tidak cocok untuk semua umur. Beberapa penelitian melakukan pengembangan formulasi yang dapat diterima untuk anak-anak seperti tablet disintegrasi cepat cetirizine gydrochloride, fast-dissolving tablet untuk pengobatan antiretroviral, tablet pelarut susu dan tablet hisap paracetamol, suspensi oral deksametason, hidroklorotiazid, spironolakton, dan fenitoin, tablet orodispersible, dan sirup ranitidine hidroklorida dari tablet ranitidine hidroklorida. Dengan demikian masalah bentuk dosis anak-anak dan penelitian pengembangan bentuk dosis anak-anak dapat diberi solusi.Kata kunci: pengembangan formulasi obat, bentuk dosis, anak-anak
Penandaan Alfa-Mangostin dengan Radionuklida Teknesium-99m sebagai Senyawa Deteksi Kanker Luthfi Utami Setyawati; Risda Rahmi Islamiaty; Kevin Reinard Lie; Cindy Aprillianie Wijaya; Muchtaridi Muchtaridi
Majalah Farmasetika Vol 4, No 5 (2019): Vol. 4, No. 5, Tahun 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.798 KB) | DOI: 10.24198/farmasetika.v4i5.23274

Abstract

α-mangostin merupakan turunan xanthon yang banyak terdapat pada kulit dan buah manggis.     α-mangostin memiliki kemampuan menekan pembentukan senyawa karsinogen yang merupakan salah satu penyebab terjadinya kanker. α-mangostin dapat membentuk kompleks khelat dengan logam seperti teknesium-99m (99mTc), sehingga dapat membentuk sediaan radiofarmaka yang dapat digunakan sebagai diagnosis kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan sediaan radiofarmasi 99mTc-Alfamangostin dengan metode langsung dengan melakukan optimalisasi terhadap beberapa parameter seperti jumlah reduktor, kondisi pH, jumlah ligan, dan waktu inkubasi. Penentuan kemurnian radiokimia dilakukan dengan kromatografi lapis tipis dengan pengembang  campuran amonia : etanol : air dengan perbandingan 1 : 2 : 5 untuk memisahkan pengotor radiokimia berupa TcO2 dan NaCl 0,9% untuk  memisahkan pengotor radiokimia berupa TcO4. Kondisi optimum penandaan diperoleh pada pH 9, dengan jumlah reduktor 50 μl, jumlah ligan α-mangostin 1000 μg dengan waktu penandaan pada menit ke 0 pada suhu kamar (250C) dengan kemurnian radiokimia 86.5 ± 1,31 %. Kata kunci : Kanker, α-mangostin, Teknesium-99m, Radiofarmaka
Review : Superdisintegran dalam Sediaan Oral Ira Safitri; Sulistiyaningsih Sulistiyaningsih; Anis Yohana Chaerunisaa
Majalah Farmasetika Vol 4, No 3 (2019): Vol. 4, No. 3, Tahun 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2150.869 KB) | DOI: 10.24198/farmasetika.v4i3.22945

Abstract

Rute pemberian obat secara oral banyak disukai masyarakat karena memiliki kemudahan dalam penggunaannya namun juga memiliki kelemahan bagi pasien yang mengalami kesulitan menelan sehingga dapat menurunkan kepatuhan pasien serta memerlukan waktu yang lama untuk mencapai efek farmakologis. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kepatuhan pasien dan mempercepat waktu mencapai efek farmakologis, penekanan diberikan pada pengembangan formula baru. Salah satu pendekatan tersebut adalah pengembangan fast dissolving tablets (FDTs). FDT merupakan bentuk sediaan padat yang hancur dan larut di mulut dalam 60 detik atau lebih rendah dan dapat digunakan tanpa air. Dalam formulasi FDT digunakan superdisintegran baik yang berasal dari alam maupun sintesis. Review artikel ini bertujuan untuk mengumpulkan infomasi tentang superdisintegran yang biasa digunakan dalam formulasi beserta kelebihan dan kekurangannya, mekanisme kerja superdesintegran dan metode pencampurannya, evaluasi dalam sediaan FDT serta aplikasi penggunaan superdisintegran. Superdisintegran alam dapat berupa polisakarida, mucilago, gum, pati, dan chitosan sedangkan superdisintegran sintetik dapat berupa natrium starch glikolat dan natrium crosscarmellose. Superdisintegran ini memiliki kondisi optimum yang berbeda-beda serta memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Secara umum evaluasi sediaan FDT hampir sama dengan evaluasi tablet oral namun hanya persyaratannya saja yang membedakan.Kata kunci : fast dissolving tablets, superdisintegran, alam, sintesis
Sediaan Farmasi yang Mengandung Mineral untuk Veterinary Sapi Ega Megawati; Nasrul Wathoni
Majalah Farmasetika Vol 3, No 2 (2018): Vol. 3, No. 2, Tahun 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.57 KB) | DOI: 10.24198/farmasetika.v3i2.23207

Abstract

Mineral merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kualitas dari hewan ternak dimana 3-5% dari tubuh hewan ternak pada umumnya terdiri dari zat-zat mineral. Beberapa penyakit pada hewan ternak telah diketahui dipicu oleh adanya defisiensi mineral. Dalam Artikel ini akan dibahas apa saja gangguan atau penyakit yang mungkin terjadi akibat defesiensi penyakit pada hewan ternak Sapi dan bagaimana fungsi mineral itu sendiri, serta tinjauan mengenai sediaan-sediaan Farmasi. Hasil yang didapatkan adalah mineral akan mempengaruhi fungsiologi dari tubuh sapi sehingga mengakibatkan beberapa gangguan dan  ditinjau dari 5 sediaan Farmasi yang telah ditemukan secara efektif dapat meningkatkan status mineral dengan bentuk sediaan oral maupun injeksi.Kata kunci: Sapi, Mineral, Defisensi
Review : In Situ Gel Optalmik Lutfiah Yusuf; Iyan Sopyan
Majalah Farmasetika Vol 4, No 4 (2019): Vol. 4, No. 4, Tahun 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.329 KB) | DOI: 10.24198/farmasetika.v4i4.23065

Abstract

In situ gel optalmik merupakan sediaan gel untuk mata yang awalnya berupa larutan, namun ketika diteteskan pada mata akan berubah menjadi gel sehingga waktu kontak dengan mata akan lebih lama. Pembuatan in situ gel menggunakan matriks-matriks yang mengental apabila berada pada kondisi fisiologi tertentu seperti pH, suhu dan konsentrasi ion. Sediaan optalmik konvensional seperti larutan, suspense dan salep memiliki kelemahan yaitu waktu kontak yang singkat dengan kornea mata serta tidak nyaman digunakan. In situ gel dibuat untuk mengatasi kelemahan atau kekurangan yang terkait dengan drug delivery system (Sistem Penghantaran Obat) dan memiliki potensi yang besar untuk dijadikan sebagai ocullar therapy karena memiliki waktu kontak yang lama dengan kornea mata.Kata Kunci : In situ gel, Optalmik, Sistem penghantaran obat.
Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Bedah Caesar dan Hernia di Salah Satu Rumah Sakit di Jawa Barat Nisa Maulani Nuraliyah; Zelika Mega Ramadhania; Eni Syofiah
Majalah Farmasetika Vol 4, No 5 (2019): Vol. 4, No. 5, Tahun 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.383 KB) | DOI: 10.24198/farmasetika.v4i5.23278

Abstract

Antimikroba mempunyai peranan besar dalam penanganan penyakit infeksi, namun adanya penggunaan yang tidak tepat dan berlebihan memicu terjadinya resistensi. Salah satu yang paling umum adalah resistensi terhadap antibiotik. Di rumah sakit, antibiotik banyak digunakan untuk penanganan penyakit infeksi maupun pada prosedur bedah sebagai profilaksis.  Merujuk pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 8 tahun 2015 tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba dan bahwa penggunaan antibiotik di rumah sakit harus dikendalikan, salah satu bentuk pengendalian adalah melalui evaluasi penggunaan antibiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan gambaran penggunaan antibiotik pada pasien bedah Caesar dan hernia di Rumah Sakit Al Islam periode September – November 2018. Evaluasi penggunaan antibiotik dilakukan dengan metode penilaian Defined Daily Dose (DDD)/100 hari rawat. Hasil evaluasi menunjukan antibiotik yang paling banyak digunakan adalah sceftriaxone dengan nilai 32.95 DDD/100 hari rawat pada bedah hernia dan 62.58 DDD/100 hari rawat untuk bedah caesar.Kata kunci: antibiotik, ATC/DDD, evaluasi
Review: Konsep BDDCS (Biopharmaceutical Drug Disposition Classification) sebagai Landasan Pengembangan Produk Obat Shinta Lestari; Taofik Rusdiana
Majalah Farmasetika Vol 4, No 3 (2019): Vol. 4, No. 3, Tahun 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.533 KB) | DOI: 10.24198/farmasetika.v4i3.22960

Abstract

Tantangan dalam proses penemuan dan pengembangan obat salah satunya adalah memprediksi secara klinis interaksi obat. Sehingga para ilmuan baru-baru ini banyak menggunakan Sistem Klasifikasi Disposisi Obat Biofarmasi atau dikenal dengan BDDCS untuk membantu menentukan hal tersebut. BDDCS mampu memprediksi metabolisme enzim dan efek transporter pada disposisi obat sehingga dapat menentukan ketersediaan hayati obat di dalam tubuh. BDDCS juga berguna dalam memprediksi: interaksi obat-obat; toksisitas; efek farmakogenomik dan substrat endogen; efek makanan; efek ke sistem saraf pusat; rute eliminasi obat; dan resistensi obat yang dimediasi oleh transporter. Sehingga BDDCS bisa menjadi alat prediksi yang kuat setiap kali transporter obat terlibat dalam proses fisiologis dan dapat dijadikan landasan pada tahap awal proses penemuan dan pengembangan obat. Kata Kunci : Biopharmaceutics Drug Disposition Classification System (BDDCS), efek transporter pengembangan obat, tingkat metabolisme

Page 9 of 37 | Total Record : 368


Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 11 No. 2, Tahun 2026 (In Press) Vol 11, No 1 (2026) Vol 10, No 6 (2025) Vol 10, No 5 (2025) Vol 10, No 4 (2025) Vol 10, No 3 (2025) Vol 10, No 2 (2025) Vol 10, No 1 (2025) Vol 9, No 6 (2024) Vol 9, No 5 (2024) Vol 9, No 4 (2024) Vol 9, No 3 (2024) Vol 9, No 2 (2024) Vol 9, No 1 (2024) Supl. 9 No. 1, Tahun 2024 Vol 8, No 5 (2023) Vol 8, No 4 (2023) Vol 8, No 3 (2023) Vol 8, No 2 (2023) Vol 8, No 1 (2023) Vol 7, No 5 (2022): Vol. 7, No. 5, Tahun 2022 Vol 7, No 4 (2022): Vol. 7, No. 4, Tahun 2022 Vol 7, No 3 (2022): Vol. 7, No. 3, Tahun 2022 Vol 7, No 2 (2022): Vol. 7, No. 2, Tahun 2022 Vol 7, No 1 (2022): Vol. 7, No. 1, Tahun 2022 Vol 6, No 5 (2021): Vol. 6, No. 5, Tahun 2021 Vol 6, No 4 (2021): Vol. 6, No. 4, Tahun 2021 Vol 6, No 3 (2021): Vol. 6, No. 3, Tahun 2021 Vol 6, No 2 (2021): Vol. 6, No. 2, Tahun 2021 Vol 6, No 1 (2021): Vol. 6, No. 1, Tahun 2021 Vol. 6, Supl. 1, Tahun 2021 Vol 5, No 5 (2020): Vol. 5, No. 5, Tahun 2020 Vol 5, No 4 (2020): Vol. 5, No. 4, Tahun 2020 Vol 5, No 3 (2020): Vol. 5, No. 3, Tahun 2020 Vol 5, No 2 (2020): Vol. 5, No. 2, Tahun 2020 Vol 5, No 1 (2020): Vol. 5, No. 1, Tahun 2020 Vol 4, No 5 (2019): Vol. 4, No. 5, Tahun 2019 Vol 4, No 4 (2019): Vol. 4, No. 4, Tahun 2019 Vol 4, No 3 (2019): Vol. 4, No. 3, Tahun 2019 Vol 4, No 2 (2019): Vol. 4, No. 2, Tahun 2019 Vol 4, No 1 (2019): Vol. 4, No. 1, Tahun 2019 Vol. 4, Supl. 1, Tahun 2019 Vol 3, No 5 (2018): Vol. 3, No. 5, Tahun 2018 Vol 3, No 4 (2018): Vol. 3, No. 4, Tahun 2018 Vol 3, No 3 (2018): Vol. 3, No. 3, Tahun 2018 Vol 3, No 2 (2018): Vol. 3, No. 2, Tahun 2018 Vol 3, No 1 (2018): Vol. 3, No. 1, Tahun 2018 Vol 2, No 5 (2017): Vol. 2, No. 5, Tahun 2017 Vol 2, No 4 (2017): Vol. 2, No. 4, Tahun 2017 Vol 2, No 3 (2017): Vol. 2, No. 3, Tahun 2017 Vol 2, No 2 (2017): Vol. 2, No. 2, Tahun 2017 Vol 2, No 1 (2017): Vol. 2, No. 1, Tahun 2017 Vol 1, No 5 (2016): Vol. 1, No. 5, Tahun 2016 Vol 1, No 4 (2016): Vol. 1, No. 4, Tahun 2016 Vol 1, No 3 (2016): Vol. 1, No. 3, Tahun 2016 Vol 1, No 2 (2016): Vol. 1, No. 2, Tahun 2016 Vol 1, No 1 (2016): Vol. 1, No. 1, Tahun 2016 More Issue