cover
Contact Name
Nani Darmayanti
Contact Email
n.darmayanti@unpad.ac.id
Phone
+6282130179000
Journal Mail Official
n.darmayanti@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung A Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjara Jalan Raya Bandung Sumedang Km 21 Jatinangor Kabupaten Sumedan 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Metahumaniora
ISSN : 20854838     EISSN : 26572176     DOI : 10.24198/metahumaniora
Metahumaniora adalah jurnal dalam bidang bahasa, sastra, dan budaya yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran sejak tahun 2012 dan bertujuan menyebarluaskan pemikiran-pemikiran konseptual maupun hasil riset yang telah dicapai dalam rumpun ilmu humaniora. Fokus dan ruang lingkup Jurnal Metahumaniora adalah kajian dalam rumpun ilmu humaniora, meliputi bidang bahasa (linguistik mikro, linguistik makro, dan linguistik interdisipliner), sastra, filologi, sejarah, dan kajian budaya. Metahumaniora diterbitkan pertama kali pada 10 Februari 2012 dalam versi cetak dengan nomor ISSN 2085-4838. Dan seiring dengan perkembangan sistem teknologi dalam bidang literasi, pada tanggal 12 April 2019 Jurnal Metahumaniora telah menggunakan Online Journal System (OJS) dengan nomor EISSN 2657-2176. Redaksi menerima tulisan yang diangkat dari hasil penelitian, gagasan konseptual, kajian, dan aplikasi teori, serta ulasan buku. Naskah yang diserahkan harus sesuai dengan fokus dan ruang lingkup jurnal serta sesuai dengan format penulisan yang telah ditetapkan (rujuk format penulisan). Penerbitan Metahumaniora dilakukan tiga kali dalam setahun, yaitu April, September, dan Desember. Meskipun demikian, penerimaan naskah dilakukan sepanjang tahun. Proses penyerahan, penilaian, dan penerbitan naskah seluruhnya dilakukan secara online. Metahumaniora menerapkan proses peer review. Semua artikel yang dikirimkan akan direview secara tertutup (blind review) oleh para mitra bestari. Pada umumnya, setiap artikel akan direview oleh satu sampai dua orang reviewer. Tanggapan dari para reviewer ini akan dijadikan landasan bagi Editor untuk menentukan apakah suatu artikel dapat diterima (accepted), diterima apabila direvisi (accepted with major/minor revision), atau ditolak (rejected).
Articles 263 Documents
Mengenal Penggunaan Partikel His ‘His’ sebagai Pengungkap Emosi dalam Cerita Rekaan Berbahasa Sunda Wahya Wahya; Hera Meganova Lyra; Raden (R.) Yudi Permadi
Metahumaniora Vol 9, No 2 (2019): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i2.23292

Abstract

ABSTRAK               Bahasa di mana pun di dunia ini secara universal memiliki kelas kata yang disebut partikel. Secara praktis keberadaan partikel ini penting karena memiliki fungsi tertentu dalam bahasa sebagai sarana untuk berkomunikasi bagi para penuturnya. Namun demikian, sebagai ciri keunikan setiap bahasa, tentu bentuk, jumlah, dan fungsi partikel ini berbeda-beda. Bahasa Sunda sebagai bahasa alamiah yang merupakan salah satu bahasa daerah di Indonesia kaya dengan pertikel ini. Salah satu partikel yang terdapat dalam bahasa Sunda adalah his ’his’. Artikel ini akan mencoba membahas partikel his ini dari ssi sebagai pengungkap emosi dalam percakapan para tokoh cerita rekaan berbahasa Sunda. Untuk membahas partikel his ini digunakan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode simak, yakni menyimak penggunaan partikel his oleh para tokoh dalam cerita rekaan berbahasa Sunda dengan teknik pengumpulan data berupa teknik catat. Adapun metode analisis menggunkan metode padan pragmatik dan referensial dengan pendekatan semantik gramatikal. Sumber data yang digunakan berupa enam buah cerita rekaan berbahasa Sunda dengan pertimbangan pada keenam buku tersebut terdapat data yang diperlukan dan sebagai sampel sumber data. Dari hasil pengamatan terhadap enam belas data ditemukan enam emosi yang diungkapkan partikel his, meyakinkan, kesal, melarang, kecewa, tidak setuju, danangkuh.Kata kunci: partikel, fatis, emosi, semantik gramatikal ABSTRACT               Languages everywhere in the world universally have a class of words called particles. Practically the existence of this particle is important because it has a certain function in language as a means to communicate for its speakers. However, as a feature of the uniqueness of each language, the shape, number, and function of these particles differ. Sundanese as a natural language which is one of the regional languages in Indonesia is rich in this particles. One of the particles contained in Sundanese is his. This article will try to discuss his particle from an expression of emotion in the conversation of the fictional characters in Sundanese. To discuss this particle, a qualitative descriptive method is used. Data were collected using the method of listening, which is listening to the use of his particle by the characters in a fictional story in Sundanese language with data collection techniques in the form of note taking techniques. The analytical method uses the pragmatic and referential equivalent method with a grammatical semantic approach. The data source used in the form of six Sundanese fiction stories with consideration in the six books contained the necessary data and as a sample data source. From the observation of the sixteen data found six emotions expressed his particle, convincing, annoyed, forbidding, disappointed, disagreeing, and arrogant.Keywords: particle, phatic, emotion, grammatical semantics
Daur Ulang Makanan Tradisional di Tasikmalaya dan Indramayu Mamat Ruhimat
Metahumaniora Vol 8, No 3 (2018): METAHUMANIORA, DESEMBER 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v8i3.20717

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengenal jenis-jenis produk olahan dari makanan yang dianggap sudah tidak layak dimakan karena kotor atau basi di wilayah Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya dan Kecamatan Widasari Kabupaten Indramayu. Makanan tersebut diolah kembali menjadi makanan yang bersih dan layak dimakan. Dengan adanya penelitian ini diharapkan: (1) dapat menjelaskan jenis-jenis produk turunan makanan tradisional Sunda; (2) sebagai sumbangan ilmiah bagi peningkatan ketahanan pangan; dan (3) sebagai bahan kajian nutrisi dan teknologi pangan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Teknik yang digunakan adalah survei lapangan untuk menginventarisasi dan mendokumentasikan data. Sebagian data makanan didapat dengan cara langsung mengolahnya di tempat bila bahan-bahannya tersedia. Sebagian lagi diuji coba dengan mencatat resepnya terlebih dahulu karena proses pengolahannya memerlukan waktu yang cukup lama. Dari hasil penelitian lapangan ditemukan produk turunan dari nasi, singkong rebus, pisang, serabi, martabak, roti, tumis-tumisan, jagung rebus, ampas kelapa, sisa kelapa, galendo, talas kukus, dan tape singkong.Kata kunci: produk turunan, makanan, ketahanan panganAbstractThis study aims to identify the types of processed products from foods that are considered not to be eaten because they are dirty or stale in the districts of Ciawi, Tasikmalaya and Widasari and Indramayu. The foods are reprocessed into clean and edible foods. This study is expected to: (1) be able to explain the types of traditional Sundanese food products; (2)share the result as a scientific contribution for increasing food security; and (3) as sources for nutrition and food technology studies. The method used in this study is descriptive method. The technique used is a field survey for inventing and documenting the data. Some data about traditional foods are obtained by direct process on the spot if the ingredients are available. Some are tested by recording the recipe first because the processing takes a long time. The results of this field research show that there are many derivative products from rice, boiled cassava, banana, pancake, martabak, bread, stir-fry, boiled corn, coconut pulp, remaining coconut, galendo, steamed taro, and cassava tape.Keywords: derivative products, food, food security
Mencerdaskan Siswa dengan Membiasakan Menulis Kreatif (Pelatihan Menulis Artikel dan Puisi di Sma Negeri 1 Jatinangor, Kabupaten Sumedang) Baban Banita
Metahumaniora Vol 8, No 1 (2018): METAHUMANIORA, APRIL 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v8i1.18870

Abstract

AbstrakMenulis kreatif dan menulis artikel memerlukan pelatihan yang intens dandisertai pembimbing yang berpengalaman. Selain itu, sebagai kekuatan utama darisebuah tulisan adalah referensi. Hal ini bisa didapatkan dari kebiasaan membaca yangrajin dan terus-menerus juga pengalaman riset yang menyeluruh. Sebagai generasi muda,siswa SMA harus dibiasakan menulis dan membaca yang intens. Hal ini diperlukan untukmenyampaikan gagasan-gagasan positif yang akan membawa kebaikan bagi kehidupan.Siswa SMA Jatinangor mempunyai potensi untuk menjadi cerdas dan memberi sumbanganpositif bagi kehidupan. Karena itu, mereka belajar dan ikut kegiatan pelatihan menulisdengan antusias. Hasilnya mereka bisa menulis puisi, cerita pendek, humor, artikel, danmembuat majalah dinding sebagai sarana untuk mempublikasikan tulisan-tulisannya.Kata kunci: artikel, kreatif, puisi, majalah dinding.AbstractCreative writing and article writing requires intense training and accompanied byexperienced mentors. In addition, as the main strength of an article is a reference. This can beobtained from the diligent and persistent reading habits as well as a thorough research experience.As a young generation, high school students should be accustomed to intense writing and reading.It is necessary to convey positive ideas that will bring goodness to life. Jatinangor high schoolstudents have the potential to be smart and make a positive contribution to life. Therefore, theylearn and join the writing training activities with enthusiasm. The result is that they can writepoems, short stories, humor, articles, and make wall magazines as a means to publish his writings.Keywords: articles, creative, poetry, wall magazine.
ETIKA SASTRA PROFETIK DALAM BUKU KUMPULAN PUISI TULISAN PADA TEMBOK KARYA ACEP ZAMZAM NOOR Dhena Maysar Aslam; Hazbini Hazbini; Lina Meilinawati Rahayu
Metahumaniora Vol 10, No 1 (2020): METAHUMANIORA, APRIL 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v10i1.26041

Abstract

Kuntowijoyo merumuskan etika sastra profetik yang terdiri dari nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi. Sementara ini sastra profetik selalu identik dengan karya-karya Kuntowijoyo. Acep Zamzam Noor (AZN) dalam konstelasi sastra Indonesia modern patut diperhitungkan sebagai penyair yang bernafaskan religi dalam karya-karyanya. Tesis ini akan meneliti mengenai kemungkinan-kemungkinan etika sastra profetik dalam buku kumpulan puisi Tulisan Pada Tembok karya Acep Zamzam Noor dengan metode penelitian kualitatif serta pendekatan hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer untuk mendeskripsikan nilai-nilai profetik dalam puisi-puisi AZN. Sebagai objek penelitian, peneliti memilih 35 puisi dalam buku kumpulan puisi Tulisan Pada Tembok karya AZN untuk kemudian menjadi objek penelitan utama dalam tesis ini atas dasar kecenderungan atau hipotesis sementara terdapat nilai-nilai profetik dalam ke-35 puisi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AZN merepresentasikan etika sastra profetik Kuntowijoyo secara benar sesuai apa yang dikonsepkan oleh Kuntowijoyo mengenai nilai-nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi sebagai etika sastra profetik. Nilai-nilai tersebut merupakan kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan dari konsep sastra profetik.
Budaya Mikanyaah Munding dan Terbang Gebes Gugun Gunardi
Metahumaniora Vol 7, No 1 (2017): METAHUMANIORA, APRIL 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v7i1.23331

Abstract

Konservasi budaya lokal “Mikanyaah Munding” (atau Memelihara Kerbau) sebagai basis Pusat Pembiakan Desa “Kerbau” adalah penelitian yang dilakukan pada pembiakan tradisional “kerbau” di Cikeusal, Tasikmalaya. “Mikanyaah Munding” menyimpan berbagai pertunjukan kesenian tradisional Sunda, salah satunya adalah “Seni Terbang Gebes”. Artikel ini menggunakan metode kualitatif yang melibatkan etnografi sebagai perspektifnya. Data dikumpulkan dari wawancara. Temuan kami dari analisis adalah: kebiasaan penduduk setempat dalam merawat kerbau mereka; Kosa kata spesifik tentang pembibitan; Perayaan dalam kaitannya dengan perkembangbiakan dan segala jenis pertunjukan kesenian tradisional Sunda termasuk dalam “Mikanyaah Munding”. Esai ini membahas salah satu pertunjukan keseniannya, “Seni Terbang Gebes”.
Gambaran Kemiskinan dalam Novel Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu Karya Mahfud Ikhwan Suci Purnama Cahyani
Metahumaniora Vol 8, No 2 (2018): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v8i2.20702

Abstract

AbstrakTulisan ini membahas permasalahan sosial yang terjadi pada masyarakatRumbuk Randu dalam novel Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu karyaMahfud Ikhwan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis denganteori sosiologi sastra. Untuk dapat mengetahui gambaran permasalahan sosialyang terjadi dalam Dawuk, penelitian ini menggunakan teori permasalahan sosialyang dikemukakan oleh Soerdjono Soekanto. Dari Sembilan permasalahan sosialyang disebutkan oleh Soerdjono Soekanto, hasil penelitian ini mengindikasikanterdapat empat permasalahan sosial yang terjadi pada masyarakat Rumbuk Randudalam novel. Empat permasalahan sosial tersebut yaitu kemiskinan, kejahatan,disorganisasi keluarga, dan pelanggaran norma-norma masyarakat yang disebabkanoleh faktor ekonomis, faktor biologis, faktor psikologis, dan faktor kebudayaan. Darikeempat permasalahan sosial tersebut, dapat diindikasikan bahwa Dawuk berusahamenampilkan permasalahan sosial yang terjadi dalam novel, baik penyebab maupundampaknya, lewat peristiwa yang melibatkan para tokohnya.Kata kunci: Dawuk, kemiskinan, permasalahan sosial, masyarakatAbstractThis article examines social problems which happened to Rumbuk Randu’s society inthe novel Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu by Mahfud Ikhwan. This research usesanalytical description method and literature sociology theory. In order to know the reflectionof social problems that happened in Dawuk, this research applies social problems theory bySoerdjono Soekanto. From nine of social problems that mentioned by Soerdjono Soekanto, thisresearch indicates there are four social problems that happened to Rumbuk Randu’s society:poverty, wickedness, family disorganization, and social norms deviation which are causedby economic factor, biological factor, psychological factor, and cultural factor. From the foursocial problems, it can be identified that Dawuk reveals the social problems in the novel, eitherthe causes or the impacts through the stories involving the characters.Keywords: Dawuk, poverty, social problems, and society
Aseuk Hatong Antara Seni Berkomunikasi dan Teknologi: Studi Fenomenologi tentang Budaya Bertani Ladang Masyarakat Tatar Karang Priangan Kabupaten Tasikmalaya Samson CMS
Metahumaniora Vol 7, No 3 (2017): METAHUMANIORA, DESEMBER 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v7i3.18850

Abstract

ABSTRAKTidak mampunya kita mendalami pengetahuan asli kita sendiri mengakibatkanterjadinya disharmoni teknologi dengan kebutuhan di lapangan, tidak terkecuali TeknologiTepat Guna (TTG) dalam pertanian ladang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuiperanan Aseuk Hatong dalam tradisi pertanian ladang di masyarakat Tatar Karang PrianganKabupaten Tasikmalaya yang religius Islami, tapi masih mempertahankan tradisi tersebut.Metode penelitian ini menggunakan studi fenomenologi Schutz. Hasil penelitian menunjukkanbahwa 1) Seni berkomunikasi: (kakawihan) dalam tradisi Aseuk Hatong adalah upayaharmonisasi antara petani dengan alam yang sedang kemarau melalui senandung ringan yangkontekstual. 2) Teknologi Tani: (Aseuk Hatong) adalah suatu alat untuk mengolah untuk tanahladang pada musim kemarau yang dibalut dengan estetika musikal sederhana khas petaniladang, hasil pengembangan teknologi yang tepat guna, menyenangkan, inovatif, fungsional,terjangkau, murah, dan ramah lingkungan. Dengan demikian, dapat dirumuskan bahwa TradisiAseuk Hatong di Tatar Karang Priangan merupakan media persuasif bertani di kala ngahuma(berladang) tidak dibarengi musim penghujan. Tradisi Aseuk Hatong juga merupakanpengembangan teknologi yang sangat memperhitungkan kearifan lokal yang berlaku.Kata kunci: aseuk hatong, kawih, komunikasi seni, teknologi tani, pertanian ladangABST RACTOur inability to deepen our own original knowledge results in disharmony of technologywith the needs in the field, including the Appropriate Technology (TTG) in agriculture. It istherefore that in any development it is often not harmonious with the needs of society. Theobjective of the research is to know the role of Aseuk Hatong in the agricultural tradition in theTatar Karang Priangan community of Tasikmalaya Regency whicht is religiously Islamic yetstill maintains the tradition. The research method is Schutz phenomenology study. The resultsof research show that (1) the art of communicating (kakawihan) in Aseuk Hatong tradition isa harmonious effort between farmers and the dry nature through mild, contextual humming.(2) Farm technology (Aseuk Hatong)is a tool to cultivate the soil, plowing the fields during thedry season by wrapping with simple typical musical aesthetics of field farmers as the resultsof appropriate technology development, fun, innovative, functional, affordable, cheap, andenvironmentally friendly. As the conclusion, it can be said that Aseuk Hatong Tradition in TatarKarang Priangan as a persuasive media farming during ngahuma (farming) not accompaniedby rainy season is a technology development that takes into account local wisdom occur.Keywords: aseuk hatong, kawih, art communication, farming technology
Naon ataukah Naon ‘Apa’ Inovasi Internal dalam Bahasa Sunda Wahya Wahya
Metahumaniora Vol 7, No 1 (2017): METAHUMANIORA, APRIL 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v7i1.23320

Abstract

Konsep ‘apa’ dalam bahasa Sunda diekspresikan dengan kata naᴐn. Secara geolinguistik kata naᴐn memiliki varian naön. Sebaran geografis kata naᴐn dan naön berbeda. Kata naᴐn  tersebar luas di wilayah Priangan, sedangkan naön  tersebar di daerah Banten dan Priangan Timur berbatasan dengan Jawa Tengah, juga di Brebes. Secara diakronis kata naᴐn berasal dari nahaon, sedangkan kata naön  berasal dari nahaön, yang masingmsing kehilangan suku kata ha  karena proses sinkop. Baik kata nahaon  maupun nahaön memiliki bentuk dasar naha  yang masing-masing ditambah suku kata on  dan ön. Dalam bahasa Sunda bentuk ön secara morfemis berstatus sufiks. Dengan demikian, kemungkinan besar kata nahaön merupakan kata polimorfemis yang berasal dari naha + - ön. Dari analisis di atas, kemungkinan besar kata nahaon  berasal dari nahaön. Sama halnya dengan kata naᴐn  berasal dari naön. Dengan demikian, kata naᴐn dan nahaᴐn masing-masing merupakan inovasi internal dari kata naön dan nahaön. 
An Analysis of the Conceptual and Connotative Meanings in “Yoram Gross Blinky Bill Michivious Koala” Short Story Merina Devira
Metahumaniora Vol 8, No 2 (2018): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v8i2.20694

Abstract

AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis makna konseptual dankonotatif yang terdapat pada cerita pendek Yoram Gross Blinky Bill Michivous Koala. Datadalam penelitian ini adalah kalimat-kalimat yang terdapat dalam cerita pendek tersebutyang mengandung unsur makna konseptual dan konotatif yang kemudian dianalisissecara deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa makna konseptual yangsering ditemukan pada cerita singkat Yoram Gross Blinky Bill Michivous Koala maknayang berhubungan dengan benda (referent as entity like a thing). Serta, makna konotatifjuga ditemukan dalam cerita tersebut, khususnya konotasi kasar (hard connotation).Kata kunci: makna, konseptual, konotatif, Yoram Gross Blinky Bill Michivous KoalaAbstractThis research aims to analyse the conceptual and connotative meanings found in a short storyYoram Gross Blinky Bill Michivous Koala. Data taken in this study is sentences in which thereare elements of conceptual meanings and connotative meanings which then analysed descriptively.The data source of this research is Yoram Gross Blinky Bill Michivous Koala short story, publishedin Australia by Budget Books Pty Ltd in 1992 with 96 pages. The results of research showed thatmostly frequent conceptual meanings found in the short story of was the referent as entity like athing. Also, the words which have meanings as connotative meanings were found in the short story and the connotative meaning mostly frequent is rough connotation of them.Keywords: meanings, conceptual, connotative, Yoram Gross Blinky Bill Michivous Koala
Konsep Demokrasi Walt Whitman di Masa Kepresidenan Donald Trump1 Lestari Manggong
Metahumaniora Vol 7, No 2 (2017): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v7i2.18832

Abstract

ABSTRAKSajak “Song of Myself” karya pujangga Amerika abad ke-19, Walt Whitman,mengupas konsep demokrasi yang menjadi salah satu pondasi prinsip kebebasanberpendapat di Amerika. Makalah ini membahas pembelajaran tentang konsep demokrasiyang dapat diperoleh dari sajak tersebut. Arah pembahasan menjadi spesifik ketikakonsep demokrasi dalam sajak tersebut dikaitkan dengan praktek demokrasi yang terjadidi Amerika sekarang, sejak Amerika berada dalam masa administrasi Presiden DonaldTrump. Dalam pembahasannya, makalah ini mengemukakan argumentasi bahwa dalamprakteknya, prinsip demokrasi yang mengedepankan kebebasan berpendapat bagi setiapindividu, secara dilematis mengantar Amerika pada masa kepresidenan Trump yang dinilaikontroversial. Selain “Song of Myslelf,” makalah ini juga membahas dan membandingkansajak Whitman yang lain, yaitu “For You O Democracy” untuk melihat lebih jauh lagi persepsiWhitman tentang demokrasi. Pembahasan dilakukan dengan melihat aspek pragmatis sajakWhitman dengan merujuk pada Mack (2002). Selain itu, pembahasan juga akan berfokuspada aspek xenofobia dalam karya Whitman dengan merujuk pada salah satu tulisan Price(2004). Simpulan dari pembahasan akan bermuara pada gagasan bahwa konsep utopissemacam demokrasi pun tidak sepenuhnya ideal. Karena, seperti yang terjadi di Amerikasekarang, prinsip demokrasi yang dipraktekkan membuat rakyatnya memasuki era yangbanyak menuai protes. Pada akhirnya, pembelajaran tentang konsep demokrasi ini secaraglobal juga dapat memberi sudut pandang yang lebih kritis mengenai konsep demokrasi.Kata kunci: pembelajaran sastra, Walt Whitman, demokrasi Amerika, Donald Trump,kajian pragmatis, xenofobia.ABSTRACT“Song of Myself,” by America’s nineteenth-century poet, Walt Whitman, describesthe concept of democracy which is one of foundations of the principle of freedom of speechin America. This essay discusses literature learning on the concept of democracy in thepoem. The discussion becomes specific when the concept of democracy in the poem is linkedwith the practice of democracy that occurs currently in America, ever since it is underPresident Trump’s administration. This essay argues that in its practice, the principle ofdemocracy that upholds freedom of speech to every individual, in a dillematic way bringsAmerica to today’s controversial administration by President Trump. Aside From “Songof Myslelf,” this essay also discusses and compares Whitman’s other poem, “For You ODemocracy,” to see further Whitman’s perception on democracy. The discussion will havea look at the pragmatic aspect of Whitman’s poem, by referring to Mack (2002), and it will1 Makalah ini telah dipresentasikan dalam Seminar Nasional HISKI: “Literasi, Sastra, dan Pembelajaran” yangdiselenggarakan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo Kendari, Sulawesi Tenggara, 29-30 April 2017.222 | METAHUMANIORA, Vol. 7, Nomor 2 September 2017: 221—233Lestari Manggongalso focus on the xenophobic aspect in the poem, by referring to Price (2004). This essayconcludes that even a utopian concept such as democracy is not entirely ideal, because thepractice of democracy today leads the American people to enter an era of protests. Thisessay proposes an idea that literature learning of the concept of democracy in the poemalso contributes to giving a more critical view on the concept of democracy.Keywords: literature learning, Walt Whitman, American democracy, Donald Trump,pragmatics studies, xenophobia.

Page 8 of 27 | Total Record : 263