cover
Contact Name
Pratiwi Hermiyanti
Contact Email
pratiwi.kesling@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
journalgemakesling@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
GEMA KESEHATAN LINGKUNGAN
ISSN : 16933761     EISSN : 24078948     DOI : -
Jurnal ini menerima artikel dengan scope sanitasi lingkungan meliputi penyehatan air, pengolahan limbah, penyehatan makanan minuman, penyehatan tanah dan pengolahan sampah, sanitasi tempat umum, kesehatan keselamatan kerja, penyehatan udara sanitasi permukiman dan promosi kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 298 Documents
KEBERADAAN JAMUR CANDIDA ALBICANS FASILITAS SANITASI TOILET DI SPBU Randi Aditya Pambudi; Bambang Sunarko; Rusmiati .
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 17, No 1 (2019): GEMA Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v17i1.1044

Abstract

Toilet merupakan ruangan bersih, aman, nyaman dan higienis yang dirancang lengkap dengan kloset, persediaan air bersih dan perlengkapan lain untuk masyarakat saat berada di tempat domestik, komersial, dan publik dapat membuang hajat serta memenuhi kebutuhan fisik, sosial dan psikologisnya. Air pada bak toilet dapat ditumbuhi Candida sp apabila sanitasi yang dilakukan kurang baik. Air dapat menjadi sumber penularan penyakit jamur (kandidiasis) terutama pada air bak toilet yang digunakan untuk membersihkan anggota badan yang vital. Faktor lain kontaminasi jamur Candida pada air bak toilet dapat melalui berbagai sumber, diantaranya yaitu kontaminasi sumber air, lingkungan sekitar toilet dan frekuensi menguras. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh fasilitas sanitasi toilet terhadap jamur Candida albicans pada toilet laki-laki dan perempuan di SPBU.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Pengumpulan data dengan cara pengukuran, pemeriksaan, dan penilaian formulir sanitasi toilet. Subyek penelitian ini adalah toilet yang terdapat bak air yang berjumlah 6 toilet (3 toilet laki-laki dan 3 toilet perempuan). Obyek penelitian yaitu jamur Candida albicans.Dari hasil penilaian fasilitas sanitasi toilet di SPBU Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo menunjukkan dari 6 toilet didapatkan 4 toilet (66,7 %) termasuk dalam kriteria baik dan 2 toilet (33,3 %) termasuk dalam kriteria kurang. Hasil pemeriksaan jamur Candida albicans di 6 toilet SPBU menunjukkan hasil positif pada semua toilet yang telah diperiksa.
KUALITAS UDARA RUANG PERAWATAN PENYAKIT MENULAR DI RUMAH SAKIT PARU SURABAYA TAHUN 2016 Imro’atul Mufidah; Erna Triastuti; Ernita Sari
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 14, No 3 (2016): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v14i3.255

Abstract

Infectious disease treatment rooms are places with a high risk of the transmission of diseases and nosocomial infections. Therefore, there is a need for good environmental quality, either in terms of air quality, and room construction condition, cleaning process and number of occupant density.  The study was a descriptive study aimed at describing the air quality of infectious disease treatment rooms in Lung Hospital Surabaya in 2016. Data were collected by means of observations, interviews, measurements and calculation of the airborne bacterial index.  CFU/m3Results showed that the airborne bacterial index of inpatient rooms was 1030 CFU/m and 2628 CFU/m3 for Dahlia Room 1, Dahlia Room 2 and Pear Room, respectively. Room temperature was 29.8°C, 30.5°C and 30.9C for Dahlia Room 1, Dahlia Room 2 and Pear Room, respectively. Room humidity was 69%, 65% and 65% for Dahlia Room 1, Dahlia Room 2 and Pear Room, respectively. Room air velocity was eligible for Dahlia Room 1 and Dahlia Room 2 at 0.49 m/s and 2 0.18 m/s respectively, but It was not so for Pear Room at 0.89 m/s. Room lighting was 62 lux, 26 lux and 81 lux for Dahlia Room 1, Dahlia Room 2 and Pear Room, respectively. In conclusion, the airborne bacterial index, temperature, humidity and lighting in Lung Hospital Surabaya in 2016 did not meet the requirements as defined in Decree of the Minister of Health No. 1204/Menkes/SK/X/2004 on Hospital Environmental Health Requirements.  It iis recommended to improve the cleaning and maintenance process of those rooms in accordance with health procedures and to improve construction of the rooms which do not meet the requirements.  Keywords : Room air quality, Hospital
HUBUNGAN KONDISI FISIK RUMAH DENGAN KEJADIAN PENYAKIT TBC PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SIMOMULYO KOTA SURABAYA TAHUN 2019 Nur Anisah Apriliani; Umi Rahayu; Narwati .
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 18, No 1 (2020): GEMA Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v18i1.1103

Abstract

ABSTRAKKondisi fisik rumah di wilayah kerja Puskesmas Simomulyo berdempetan, sehingga mempengaruhi kualitas ruang pada rumah, yaitu sirkulasi udara dan pencahayaan yang didapat kurang dari 50 lux pada luas ventilasi yang berukuran kurang dari 10%. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi kejadian penyakit TBC Paru. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan kondisi fisik rumah dengan kejadian penyakit TBC Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Simomulyo.Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan kasus kontrol (perbandingan 1 : 1). Sampel kasus 60 rumah dan sampel kontrol 60 rumah yang diambil secara acak dengan simple random sampling. Data dianalisis melalui uji Chi-Square pada tingkat kepercayaan 95% (ά = 0.05).Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pencahayaan (p-value= 0,009), kelembapan (p-value= 0,001), suhu (p-value 0,007), Ventilasi (p-value= 0,004), Kepadatan Hunian (p-value = 0,019) ,Lantai (p-value = 0,039) Lubang Asap Dapur (p-value = 0,001), kondisi fisik rumah ( p-value = 0,030) dengan penyakit TBC Paru. Hal ini diperhatikan dengan kondisi fisik rumah yang tidak memenuhi syarat sesuai Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 829/Menkes/ /SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan perumahan dan rumah tinggal.Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada pengaruh hubungan kondisi fisik rumah dengan kejadian penyakit TBC Paru. diharapkan bagi masyarakat untuk peduli terhadap kondisi lingkungan rumah seperti membersihkan sarang laba – laba, membersihkan debu yang  ada di dalam dan sekitar rumah secara rutin, memasang genteng kaca, membuka jendela setiap pagi.berperan aktif dalam menemukan dan melapor bila terdapat pasien TBC Paru, menjaga kebersihan diri, menerapkan etika batuk, dan menggunakan masker apabila batuk dan pilek. Bagi Puskesmas untuk melakukan pemberian genteng kaca terhadap Penderita TBC Paru dan pemberian status ventilasi aktif di setiap rumah Penderita TBC Paru dan Non Penderita TBC Paru. Keywords:  Kondisi Fisik Rumah, Penyakit TBC Paru
KONDISI SANITASI RUMAH DAN PERILAKU PENGHUNI (Studi KasusDi Pemukiman Sawahpulo RW11 Kelurahan Ujung Kecamatan Semampir Yosi Arteri Rosalina; Umi Rahayu; Suroso Bambang Eko
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 12, No 2 (2014): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v12i2.65

Abstract

Healthy homes can be viewed from its basic sanitary conditions, construction, and the properbehavior of their occupants. The facts indicated that there are homes that do not have latrines, wastedisposal facility, open sewerage system, windows are rarely opened, increasing the risk of diseaseinfection and health problems to the community. The purpose of this study was to assessand determinethe sanitary conditions and the behavior of occupants in Sawahpulo RW 11 at Ujung village, SemampirSubdistrict, Surabaya.Employing a descriptive method, large sample of 92 houses were selected using a proportionalrandom sampling. Data collection were carried out using interviews and observation sheets. Respondentsin this study were housewives, that have been collected and subsequently tabulated, and discussed withreference to the Minister Regulation 829 / Menkes / SK / VII / 1999 on Health Requirements forResidential area .Results of the study on 92 homes showed that, 39 homes (42.3%) were in violation of basicsanitation facilities. Home components of 75 houses homes were not eligible (81.6%). In terms ofoccupant density, 35 homes (38%) were in violation of the standard. Regarding behavior of occupants, 90people (97.8%) were found to be unsatisfactory. The sanitary condition of the houses in as much as 8home (8.7%) have met the designated requirements while in the other 84 homes (91.3%) the conditionwere below standard. In the maintenance of sanitary conditions home dwellers have done poorly asshown by 79 people (85.9%).It is recommended to the Pegirian health center to initiate counseling on environment associateddiseases, initiate activities such as training on making handicrafts made from recycled plastic wastes andhow ro make compost. Public toilet facilities should be improved by installing doors, erect separator wallson each latrine unit and to provide water reservoirs for comfortable use, maintenance of latrines should bedone by scheduled teams. For the People should engage in the maintainenance of basic hygiene andsanitation facilities, home repair, improve basic sanitation facilities and repair damaged components.Change the behavior of the inhabitants in order to care more about the sanitary conditions of their ownhome and its environment and to provide information about healthy home quality.
Hubungan Perilaku dengan Kualitas Komponen Rumah Penderita Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut tahun 2017 (Studi Kasus di Desa Wage Kec. Taman Kab. Sidoarjo) Dana Aprilia; Umi Rahayu; Khambali .
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 16, No 1 (2018): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v16i1.816

Abstract

Bad behavior of maintaining the quality of house components can be a risk factor to environmentally based disease transmission. a.o, Acute Respiration Infection. The germs of Acute Respiration Infection can be transmitted through coughing or sneezing using air as transmission media. This research aimed to find out the relation between behavior and the quality of house component of people affected by acute respiration infection. This research was analytical with cross sectional approach. Data collection was through observation, interviews and measurements. Sample collected were 51 houses of people suffering from Acute Respiration Infection. Variables of this research were: awareness, behavior, action / proceeding, ventilation available, lighting, humidity, temperature, bedroom occupants density, and cleanliness of the house. Sampling technique used was random sampling. Data analyzes utilized was Chi Square test statistical analysis by means of SPSS 20 version. The result of the research showed that there was a relation between awareness (p=0,005), attitude (p=0,032), action/proceeding (p=0,002) behavior (p=0,002) with the quality of house components of people affected by Acute Respiration Infection. Based on this research, it could be concluded that there was a relation between awareness level, attitude, proceeding, and behavior with the quality of house component of people affected by Acute Respiration Infection. Prevention of transmission of Acute Respiration Infection could be done by upgrading the patient and house inmates behavior to create a healthy house condition.Keywords : Behavior, Quality of the House Components, Acute Respiration Infection
EFEKTIFITAS Bill KELOR (Moringa oleifera), Bill SALAK (Salacca zalacca), DAN BIll PEPAYA (Carica papaya) SEBAGAI BAHAN KOAGULAN DALAM MENURUNKAN KEKERUHAN AIR Intan Permata; Margono .; Ngadino .
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 11, No 2 (2013): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v11i2.191

Abstract

Water purification is typically carried out using chemical coagulants like Tewes. localname for Aluminum sulfate. In many parts of the world experts are looking into coagulantmaterials derived from plants. Among many of them is the Moringa seeds. Moringa seedscontain water-soluble proteins, when crushed and dissolved in water it will form a positivelycharged solution. Electrophoreses Test proved that positively charged solution were alsoresulted from the use of Salak seeds and Papaya seed. The purpose of this study was toanalyze the differences in coagulation using Moringa (Moringa oleifera), Salak (Salaccazalacca), and Papaya seeds (Carica Papaya).The study was performed in a quasi-experimental set up exercising a pretest-posttestdesign. The object for the study was water sample taken from a river used by the communityin kecamatan Krembung for their water source. As much as 1000 ml of river water was used ineach test run. Test containers were treated with natural coagulants. Coagulant materials usedin the tests were Tawas powder, Moringa, Salak, and Papaya seeds at a dose-series of 50 ppmto 1000 ppm. The resulted data were analyzed using Kruskal - Wallis Test.There was a significant difference with regard to optimal dose of the natural coagulantsas well as the percentage of turbidity reduction. The optimal dose for Moringa seeds was 130ppm with a percentage of reduction at 97,3% that reduced turbidity down to 2.7 NTU. Theoptimal dose for Salak seeds was 100 ppm that resulted in a percentage reduction of 89,2%and reduced the turbidity down to 10.9 NTU. The optimal dose for Papaya seeds was 50 ppmwith a percentage of decline at 83,4% reducing the turbidity down to 16,7 NTU. Moringaseeds coagulant has maximum turbidity reducing capability, while the other two naturalcoagulants, Salak and Papaya seeds, were not in their maximum levels of turbidity reducingcapabilities.At a dose of 200 ppm Moringa seeds exhibited a greater ability as a coagulant inlowering water turbidity compared to the other natural coagulants, Salak seeds at a dose of100 ppm and Papaya seeds at a dose of 50 ppm. The study concluded that Moringa seeds canbe applied as a substitute for chemical coagulants provided they are used within 1 x 24 hours.Key Words : Turbidity and Coagulant
GAMBARAN LAMA PAJANAN DENGAN KADAR HbCO DALAM DARAH PADA PETUGAS RETRIBUSI TERMINAL PURABAYA BUNGURASIHSURABAYATAHUN 2015 Agustin Wulansari; Rachmaniyah .; Imam Thohari
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 14, No 1 (2016): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v14i1.120

Abstract

Bus station activity, transportation operations creates high pollution of carbon monoxide (CO) which is so dangerous for retribution officers of Purabaya bus station, Bungurasih. HbCO level can be affected by long exposure. This research aims to describe exposure to carbon monoxide tested through HbCO in the blood of retribution officers of  Purabaya Bus Station Bungurasih.This is a descriptive research with cross sectional approach and uses x Blood Gas analyzer method. Sample of the research was 12 retribution officersworkingin morning and afternoon shift. Data was analyzed by descriptive tabulation in the form of table.Interview was conducted to determine characteristics of the retribution officers of Purabaya Bus station, Bungurasih.Results showed that retribution officers possessed averageHbCO level of 11.94%, exposure duration per day of 8 hours was 66.7% and 41.7% officers had smoking habit of ½ - 2 packs/day.It is concluded that HbCO level in officers blood washigher than normal level( 5%). Improvement is needed in all aspects; all employees working outdoors are recommended to wear mass to filter gases or pollutants in which is harmful for health. They are recommended not to smoke when working. Manager of bus station also needsto do planting in bus station area.
PEMANFAATAN CANGKANG TELUR AYAM BROILER SEBAGAI TEPUNG KERABANG UNTUK MENINGKATKAN UNSUR HARA PADA TANAMAN Fanny Putri Andari; Koerniasari .; Marlik .
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 17, No 2 (2019): GEMA Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v17i2.1067

Abstract

Sampah merupakan bahan padat buangan yang berasal dari kegiatan rumah tangga, pasar, perkantoran, dll. Salah satunya adalah cangkang telur.  Cangkang telur merupakan limbah sisa buangan dari dapur yang berpotensi untuk dimanfaatkan. Sampai saat ini, limbah cangkang telur belum dimanfaatkan secara maksimal. Tujuan dari penelitian ini yaitu pemanfaatan cangkang telur ayam broiler sebagai tepung kerabang untuk meningkatkan unsur hara pada tanaman bayam.Jenis penelitian ini menggunakan eksperimen murni dengan menggunakan rancangan Posttest Only Control Group Design yang terdiri dari 6 perlakuan dengan konsentrasi yaitu 0% (kontrol), 20%, 25%, 30%, 35%, 40%, dan 4 kali pengulangan. Penelitian dilakukan dengan mengukur pada parameter pertumbuhan tanaman bayam yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah batang, berat basah akar, berat kering batang, dan berat kering akar yang dilakukan selama 3 minggu. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara analitik menggunakan uji kruskal wallis dan dilanjutkan dengan uji Post Hoc Mann Whitney U.Hasil kandungan unsur hara N, P, K mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya konsentrasi. Hal tersebut berbeda dengan hasil pertumbuhan tanaman bayam. Pertumbuhan tanaman bayam menunjukkan hasil yang paling tinggi yaitu pada perlakuan 20%. Hasil uji kruskal wallis menunjukkan pada konsentrasi berat tepung kerabang cangkang telur terhadap pertumbuhan tinggi tanaman dan berat basah tanaman. Hasil uji Post Hoc Mann Whitney U terdapat perbedaan yang signifikan dari berbagai konsentrasi berat tepung kerabang cangkang telur terhadap pertumbuhan tanaman bayam (P0,05).Disimpulkan bahwa pada perlakuan 20% menunjukkan hasil yang dianjurkan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bayam. Hal ini merupakan faktor lingkungan dan perawatan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman bayam. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan konsentrasi lebih rendah. Kata Kunci : Sampah, cangkang telur, pupuk kompos, bayam
ANALISIS RISIKO PAJANAN KARBON MONOKSIDA (CO) PADA PETUGAS PARKIR DI PASAR KAPASAN SURABAYA TAHUN 2017 Putri Delia Aryagita; Khambali .; Imam Thohari
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 15, No 2 (2017): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v15i2.672

Abstract

Tempat parkir adalah satu diantara lokasi yang terdapat konsentrasi gas karbon monoksida (CO) yang tinggi yang berasal dari emisi gas buangan kendaraan bermotor. Gas CO apabila terhirup ke dalam paru-paru akan mengikuti peredaran darah dan dapat menghalangi masuknya oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dikarenakan daya ikat dari gas CO terhadap Hb 210 kali dari daya ikat oksigen terhadap Hb. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis tingkat risiko gas CO terhadap petugas parkir Pasar Kapasan Surabaya.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Data yang digunakan merupakan data primer hasil wawancara dengan petugas parkir sebanyak 12 orang yang sebagai objek penelitian, wawancara dengan pengelola pasar untuk melengkapi data objek penelitian, dan pengukuran gas CO. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan menggunakan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL).Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan konsentrasi gas CO di titik ke 2 pada setiap lantai tempat parkir. Lantai I sebesar 27,13 ppm, lantai II sebesar 24,55 ppm, lantai III sebesar 24,19 ppm, dan lantai IV sebesar 23,64 ppm. Nilai intake gas CO tertinggi pada semua responden terdapat di konsentrasi gas CO maksimal, sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh petugas parkir Pasar Kapasan Surabaya berisiko terpajan oleh gas CO (RQ 1).Adapun saran yang ditujukan pada pengelola Pasar Kapasan Surabaya, antara lain perlu melakukan pemantauan kualitas udara baik secara fisik maupun kimia, memperbaiki lingkungan tempat parkir, memberikan shift kerja pada petugas parkir, dan menyediakan masker untuk petugas parkir. Kata Kunci         : Analisis risiko, Karbon monoksida (CO), Petugas parkir
HUBUNGAN KONDISI FISIK RUMAH, PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN KUSTA TAHUN 2020 (Di Wilayah Kerja Puskesmas Talango, Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep) Ibnatil Fitriya; Umi Rahayu; Bambang Sunarko
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 19, No 1 (2021): GEMA Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v19i1.1295

Abstract

Penyakit kusta atau lepra merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium Leprae. Di Kabupaten Sumenep prevalensi kusta pada tahun 2018 didapatkan sebesar 3,35/10.000 penduduk yang artinya masih diatas target 1/10.000 penduduk dengan penemuan kasus baru sebanyak 385 orang. Kecamatan Talango menduduki peringkat kedua di Kabupaten Sumenep setelah Kecamatan Gayam dengan jumlah penderita tahun 2018 sebanyak 39 orang dan tahun 2019 sebanyak 13 orang. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan kondisi fisik rumah, Personal Hygiene dengan kejadian kusta tahun 2019 (Di Wilayah Kerja Puskesmas Talango, Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep).Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan desain case control. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan pengukuran. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 52 orang dengan besar sampel kasus sebanyak 46 orang sehingga sampel kontrol 46 orang. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Chi Square.Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara : kondisi fisik rumah dengan kejadian kusta (p=0,000), jenis lantai dengan kejadian kusta (p=0,001), kepadatan hunian dengan kejadian kusta (p=0,001), ventilasi dengan kejadian kusta (p=0,014) pencahayaan dengan kejadian kusta (p=0,001), kelembaban dengan kejadian kusta (p=0,001), personal hygiene dengan kejadian kusta (p=0,013), kebiasaan mandi dengan kejadian kusta (p-0,002), kebiasaan meminjam handuk dengan kejadian kusta (p=0,001) dan tidak ada hubungan antara jenis dinding dengan kejadian kusta (p=0,062), kebiasaan meminjam pakaian dengan kejadian kusta (p=0,331).Berdasarkan hasil penelitian, saran yang diberikan kepada masyarakat yaitu meningkatkan kebersihan perorangan dengan cara mandi tidak kurang dari 2x sehari, tidak menggukan handuk serta pakaian antar keluarga dan perbaikan kondisi lingkungan rumah yang bertujuan mengurangi potensi perkembangbiakan bakteri penyebab kusta.

Page 3 of 30 | Total Record : 298