cover
Contact Name
Hadrian Erlanda
Contact Email
hadrian2011@live.com
Phone
-
Journal Mail Official
hadrian2011@live.com
Editorial Address
-
Location
Kota bukittinggi,
Sumatera barat
INDONESIA
Human Care Journal
ISSN : 26855798     EISSN : 2528665X     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Human Care akan menerbitkan artikel tentang, keperawatan, kesehatan masyarakat, kebidanan, fisioterapy, farmacologi dan analis kesehatan, ilmu kedokteran jurnal ini akan terbit 3 kali dalam satu tahun pada bulan Februari, Juni dan Oktober, jurnal Human Care diterbitkan oleh Stikes Fort De Kock bekerja sama dengan organisasi profesi kesehatan dan organisasi peneliti kesehatan Indonesia.
Arjuna Subject : -
Articles 475 Documents
VITAMIN D DAN DISFUNGSI ENDOTEL PADA KAKI DIABETIK Raflis Raflis
HUMAN CARE JOURNAL Vol 6, No 1 (2021): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v6i1.1077

Abstract

Globally the prevalence of type 2 Diabetes Mellitus (DM) among adult remain increase, including in Indonesia. DM with complicated condition might be cause disability that’s call diabetic foot. Diabetic foot is a leg disorder caused by uncontrolled diabetes mellitus resulting in blood vessel disorders, nervous disorders and infection. There are three main problems with diabetic foot, namely ischemia, neuropathy, and infection. These three problems, if triggered by trauma, will cause diabetic foot ulcers. Diabetic foot process initiated by their state of chronic hyperglycemia that causes inflammation in the arterial endothelium, cause endothelial dysfunction.  Many studies that suggest a relationship of vitamin D with this inflammatory process. Hipovitaminosis state D will give effect to the increasing activity of the RAAS include hypertension, increased insulin resistance and dysfunction of pancreatic cells which can lead to hyperglycemia, decreased HDL and increased triglycerides. Hypovitaminosis vitamin D can directly increase the proinflammatory cytokines that produce TNF-α. This inflammatory process would lead to decreased levels of Nitric Oxide (NO) and increased ROS. Vitamin D might be have  a role in cotrolling inflammation in endothelial cells among people with diabetic foot.Keywords: endothelial dysfunction, diabetic foot, vitamin D
ANALISIS FAKTOR KEGAGALAN PROMOSI KESEHATAN DALAM PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF OLEH IBU BEKERJA Ardi Yansyah
HUMAN CARE JOURNAL Vol 5, No 4 (2020): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v5i4.1014

Abstract

The achievement of exclusive breastfeeding as a global strategy to reduce IMR (Infant Mortality Rate) is still around 35.73% nationally. Jambi City ranks the lowest in the coverage of exclusive breastfeeding in Jambi Province (30.4%) in 2017. Several reasons are the reasons why mothers do not provide exclusive breastfeeding, including mother's employment status, incessant promotion of breastfeeding substitutes, and lack of husband and family support. In working mothers, breastfeeding is a behavior that can be influenced by multidimensional influences on the success or failure of health promotion. This study aims to analyze the factors that influence the failure of health promotion, namely sociodemography, psychosocial and postnatal care towards exclusive breastfeeding by working mothers in Jambi City. Quantitative research method with cross-sectional design, using a questionnaire instrument to 105 working mothers who have children aged 6-24 months in Jambi City from April to May 2020. The selection of respondents was based on purposive sampling. Data were analyzed using the chi-square test. The results showed there was an effect of sociodemography (Pvalue 0.003), psychosocial (Pvalue 0.001), and postnatal (Pvalue 0.000) on exclusive breastfeeding by working mothers in Jambi City. Psychosocial and postnatal factors have several dominant indicators affecting working mothers not exclusively breastfeeding, including the allocation of working time and feeding formula or complementary breastfeeding aged <6 months.
KEJADIAN ABSES SEREBRI PADA PASIEN PJB SIANOTIK DI RS DR M DJAMIL PADANG Diska Yulia Trisiana
HUMAN CARE JOURNAL Vol 6, No 2 (2021): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v6i2.1185

Abstract

Abstract Objective : Cyanotic CHD is a congenital disease, insidence tend to increased with time. At M Djamil Hospital there was 85 case in 2013-2015. Brain abscess is the complication that mostly found in patient that can be serious and fatal. The aim of this study is to identify characteristics and factors in the occurence of brain abscess in cyanotic CHD patients. Methods : This was a cross sectional study. Data were collected from medical records of cyanotic CHD patient who admitted at M Djamil Hospital from 2016 to 2018. Bivariate analysis using paired sample T test and chi square. Data were analyzed with SPSS. P value <0.05 were considered to be statistically significant. Result : A total 15 patient (14.5%) brain abscess of 104 cyanotic CHD were found. Majority patient were boys (67.3%). The subjects mean age was 4.95 years and the youngest age was 1 year old. Nutritional status (p=0.009), head circumference (p=0.005), cyanotic spell (p=0.028), blood gas analysis (p=0.005), and outcome (p=0.005) were significant related factors for brain abscess. Hemoglobin (16.65±3.57), leucocyte (18775±7749.28), hematocryte (54.87±7.90), oxygen saturation (59.93±9.21) were statistycally significant. The culture of abscess were no growth. 9 of 15 patient with brain abscess were died. Conclusion : poor nutritional status, microcephaly, cyanotic spell, metabolic asidosis, hemoglobine, leucocytosis, high hematocryte, and low peripheral oxygen saturation were the significant related factors to brain abscess in cyanotic CHD patients. No bacterial growth in abscess culture. Mortality was still high, sixty percent of brain abscess child were died.Keywords: Brain abscess; cyanotic; congenital heart disease.  AbstrakTujuan : insiden pasien penyakit jantung bawaan siantoik semakin bertambah. Di RS Dr. M. Djamil Padang terdapat sebanyak 85 kasus selama tahun 2013-2015. Abses serebri merupakan komplikasi yang paling sering ditemukan dan dapat berakibat serius. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik dan faktor yang berhubungan dengan kejadian abses serebri pada pasien PJB sianotik. Metode : suatu penelitian cross sectional, dengan pengumpulan data dari rekam medis pasien PJB sianotik di RS Dr. M. Djamil tahun 2016-2018. Analisis bivariate dengan uji T dan chi square. Kemaknaan signifikan pada p value <0.05. Hasil : total sejumlah 104 pasien PJB sianotik, 15 pasien (14,5%) mengalami abses serebri. Jenis kelamin laki-laki 67,3%. Rerata usia 4.95 tahun dan termuda usia 1 tahun. Faktor yang berhubungan signifikan yaitu status gizi (p=0.009), lingkar kepala (p=0.005), cyanotic spell (p=0.028), analisa gas darah (p=0.005) dan outcome (p=0.05). Hubungan signifikan kejadian abses serebri dengan kadar hemoglobin (16.65±3.57), leukosit (18775±7749.28), hematokrit (54.87±7.90), dan saturasi oksigen (59.93±9.21). Pada pemeriksaan kultur abses tidak ditemukan pertumbuhan mikroorganisme. Sebanyak 9 dari 15 pasien meninggal. Kesimpulan : status gizi buruk, mikrosefal, cyanotic spell, asidosis metabolic, kadar hemoglobin, leukosit, hemokonsentrasi, dan saturasi oksigen perifer rendah merupakan faktor-faktor yang berhubungan signifikan dengan kejadian abses serebri pada pasien PJB sianotik. Tidak ada pertumbuhan mikroorganisme pada kultur cairan abses. Mortalitas cukup tinggi, sebanyak 60% pasien meninggal. Kata kunci : abses serebri; penyakit jantung bawaan; sianotik
PERAN SELENIUM PADA DIARE AKUT Nolitriani Nolitriani; Yusri Dianne Jurnalis; Yorva Sayoeti
HUMAN CARE JOURNAL Vol 5, No 4 (2020): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v5i4.771

Abstract

Diare cair akut merupakan salah satu manifestasi gangguan fungsi saluran cerna. Umumnya episode diare adalah akut, bila berlangsung lebih dari 14 hari disebut diare persisten. Diare masih merupakan penyebab kematian utama pada bayi dan anak di Indonesia. Menurut Riset Kesehatan Dasar yang diselenggarakan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, berdasarkan penyakit menular, diare menempati urutan ketiga setelah tuberkulosis dan pneumonia. Di Indonesia, dilaporkan tiap anak mengalami diare sebanyak 411 per 1000 episode per tahun dengan angka kesakitan dan kematian masih tetap tinggi. Oleh karena itu, diperlukan penanganan yang komprehensif dan rasional. Penelitian mendapatkan bahwa defisiensi mikronutrien tertentu dapat berhubungan dengan penyakit diare. Penelitian mengenai zink telah banyak diketahui, namun hanya sedikit penelitian tentang mikronutrien yang lain seperti selenium yang diduga juga terlibat dalam proses diare akut.Penyakit gastrointestinal dinilai sebagai suatu stress oksidatif. Selenium yang mengandung enzim gastrointestinal glutathione peroxidase (GPx2/ GPx GI) yang paling banyak ditemukan dalam mukosa epitel traktus gastrointestinal. Pada diare terjadi defisiensi selenium yang dapat meningkatkan stress oksidatif dan menurunkan differensiasi dan proliferasi sel T dan menurunkan toksisitas limfosit T. Hal ini memunculkan hipotesis bahwa selenium memegang peranan dalam proses penyembuhan diare akut
APLIKASI PENGELOLAAN TABUNGAN BANK SAMPAH SISWA SD N 06 PULAI BERBASIS DEKSTOP Dina Ediana; Henny Arwina Bangun; Yos Mariani Tamba
HUMAN CARE JOURNAL Vol 6, No 2 (2021): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sampah merupakan salah satu sumber masalah di Indonesia mulai kota-kota besar dan instansi pemerintahan yang sampai saat ini masih terus diupayakan untuk dikelola dengan baik. Penumpukan sampah-sampah sekolah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) belum dikelola dengan baik sehingga menemui kendala terkait lahan yang semakin sempit serta efek bau tidak sedap. Sekolah termasuk penghasil sampah perharinya, yang dapat menimbulkan bau tidak sedap dan mengganggu lingkungan sekitarnya. Dampaknya dapat menyebabkan sumber penyakit. Sekolah SD N 06 Pulai Anak Air mulai menerapkan system pengelolaan tabungan bank sampah dengan cara siswa dapat mengumpulkan sampah-sampah bekas yang dapat ditimbang dan diberi nilai uang. Petugas Sekolah/Guru BK melakukan pencatatan di buku secara manual sehingga menyebabkan data-data siswa tidak Terekap dengan baik, adanya data yang hilang dan redudansi data.tujuan penelitian ini agar lebih memudahkan petugas dalam proses pencatatan data/penginputan data siswa penabung sampah di sekolah. dengan metode Analisa System  Development Life Cycle (SDLC) serta tekhnik pengumpulan data (observasi, wawancara, Studi kepustakaan) dengan metode ini perancangan aplikasi tabungan bank sampah siswa sekolah SD N 06 pulai dapat memudahkan penulis dalam perancangan aplikasi Tabungan bank sampah.Hasil penelitian dengan menggunakan aplikasi Pemograman Delphi7.0 sebagai Software aplikasi dalam merancangan system aplikasi Tabungan Bank Sampah siswa SD N 06 Pulai dapat memudahkan petugas dalam mengelola data tabungan sampah siswa dengan mudah dan data tersimpan dengan aman, efektif dan efisien serta diharapkan dapat mempermudah petugas dalam pembuatan laporan.
INVASI ORBITA PADA KARSINOMA NASOFARING feby helwina
HUMAN CARE JOURNAL Vol 6, No 1 (2021): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v6i1.963

Abstract

Feby Helwina1), Ardizal Rahman2)1)Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas, Bagian Ilmu Kesehatan Mata RSUP DR.M.Djamil Padangemail: feby.helwina@gmail.com2)Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas, Bagian Ilmu Kesehatan Mata RSUP DR.M.Djamil Padangemail: ardizalrahman@yahoo.com             AbstractIntroduction: Nasopharyngeal carcinoma (NPC) is a squamous cell carcinoma arise from the nasopharyngeal epithelium. These tumors can appear in various areas of the nasopharynx, commonly derived from the Rosenmuller fossa, which is a transitional region, where columnar epithelium transforms into squamous epithelium. Nasopharyngeal carcinoma tends to spread and infiltrate surrounding tissue. This cancer can spread superiorly to base of the skull and intracranium that involve cranial nerve.  Incidence of base skull and brain  invasion has been reported as much as 12-31% in patients with nasopharyngeal carcinoma. Method: This cancer can also attack the nasal cavity, paranasal sinuses, pterygopalatine fossa, and orbital apex. Orbital invasion is relatively rare in nasopharyngeal carcinoma patients. Reported cases of orbital invasion of nasopharyngeal carcinoma in 22-year-old women were diagnosed with protusio bulbi oculi sinistra ec squamous cell nasopharyngeal carcinoma nonkeratinizing undifferentiated stage IV with orbital invasion, with complaints of visible lumps in the left eye, blurred vision, reduced hearing, and a history of bleeding nose. Result: Patients have been known to suffer from nasopharyngeal carcinoma since 2011 with CT scan results of nasopharyngeal carcinoma infiltration into the maxillary sinus sinistra, ethmoid sinus, left sided rice cavity, left sided frontal sinus, and retro orbital sinistra. Conclusion: Currently, the management of invasion of the orbit in surgical nasopharyngeal carcinoma plays a minor role, but radiotherapy and chemotherapy are the main treatments.  Previously the patient had chemoradiotherapy.Keywords: Nasopharyngeal carcinoma, orbital invasion, protusio bulbi AbstrakPendahuluan: Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan karsinoma sel skuamosa yang berasal dari epitel nasofaring. Tumor ini dapat muncul pada berbagai area di nasofaring namun lebih banyak ditemukan berasal dari fossa Rosenmuller, yang merupakan daerah transisional, dimana epitel kolumnar berubah menjadi epitel skuamosa. Karsinoma nasofaring memiliki kecendrungan besar untuk menyebar dan menginfiltrasi jaringan sekitar. Kanker ini dapat menyebar secara superior untuk melibatkan dasar tengkorak dan intrakranium sehingga menghasilkan keterlibatan saraf kranial. Insisden invasi dasar tengkorak dan otak telah dilaporkan sebanyak 12-31% pada pasien karsinoma nasofaring. Metode:  Kanker ini juga dapat menyerang kerongga hidung, sinus paranasal, fossa pterygopalatine, dan apeks orbita. Invasi orbita relatif jarang terjadi pada pasien karsinoma nasofaring. Dilaporkan kasus invasi orbita pada karsinoma nasofaring pada perempuan umur 22 tahun didiagnosa dengan protusio bulbi okuli sinistra ec squamous cell carcinoma nasofaring nonkeratinizing undifferentiated stadium IV dengan invasi ke orbita, dengan keluhan pada mata kiri tampak menonjol, penglihatan kabur, pendengaran berkurang dan riwayat hidung berdarah. Hasil: Pasien sudah dikenal menderita karsinoma nasofaring sejak tahun 2011 dengan hasil CT scan karsinoma nasofaring infiltrasi ke sinus maxilaris sinistra, sinus ethmoid, cavum nasi sisi kiri, sinus frontalis sisi kiri, dan retro orbita sinistra. Kesimpulan: Saat ini penatalaksanaan invasi ke orbita pada karsinoma nasofaring pembedahan memainkan peranan kecil, namun radioterapi dan kemoterapi merupakan penatalaksanaan utama. Pasien sebelumnya sudah dilakukan kemoradioterapi. Kata Kunci: Karsinoma nasofaring, Invasi orbita, protusio bulbi.   PENDAHULUANKarsinoma nasofaring (KNF) merupakan karsinoma sel skuamosa yang berasal dari epitel nasofaring. Tumor ini dapat muncul pada berbagai area di nasofaring namun lebih banyak ditemukan berasal dari fossa Rosenmuller, yang merupakan daerah transisional, dimana epitel kolumnar berubah menjadi epitel skuamosa. 1Kejadian KNF yang bersifat endemik di Asia seperti Cina Selatan, Asia Tenggara Jepang, dan Timur Tengah. Insiden KNF tertinggi di dunia dijumpai pada penduduk daratan Cina bagian selatan, khususnya suku Kanton di provinsi Guang Dong dan daerah Guangxi dengan angka mencapai lebih dari 50 per 100.000 penduduk pertahun. Sementara insiden KNF di dunia tergolong jarang, yaitu 2% dari seluruh karsinoma sel squamous kepala dan leher, dengan insiden 0.5 sampai 2 per 100.000 di Amerika Serikat.2   KNF dapat mengenai berbagai umur, tersering umur 40 - 60 tahun. Mulai meningkat setelah umur 20 tahun dan menurun setelah umur 60 tahun. Angka kejadian KNF pada anak bervariasi antara 1 -5 % dari seluruh kejadian kanker pada anak. Pria lebih banyak daripada wanita, yaitu 3 : 1. 2,3Gambaran klinis KNF berhubungan dengan perluasan massa dari kelenjar getah bening (KGB) yang terlibat, terutama ke anterior, lateral, atau superior dan posterior. Oleh karena itu gejala tersering adalah epistaksis, hidung tersumbat, gangguan pendengaran.2,4Karsinoma nasofaring memiliki kecendrungan besar untuk menyebar dan menginfiltrasi jaringan sekitar. Kanker ini dapat menyebar secara superior untuk melibatkan dasar tengkorak dan intrakranium sehingga menghasilkan keterlibatan saraf kranial. Insisden invasi dasar tengkorak dan otak telah dilaporkan sebanyak 12-31% pada pasien karsinoma nasofaring. Kanker ini juga dapat menyerang kerongga hidung, sinus paranasal, fossa pterygopalatine, dan apeks orbita. Invasi orbita relatif jarang terjadi pada pasien karsinoma nasofaring.4METODE PENELITIANSeorang pasien perempuan usia 22 tahun datang ke RSUP Dr M Djamil dengan keluhan mata kiri tampak menonjol bawah sejak 2 bulan yang lalu. Penglihatan mata kiri kabur sejak 6 bulan yang lalu, semakin lama semakin kabur dan dalam 1 bulan ini tidak bisa melihat. Pasien kemudian dilakukan pemeriksaan oftalmogis. Dan pasien direncanakan untuk dilakukan kemoterapi. HASIL DAN PEMBAHASANLAPORAN KASUSSeorang pasien perempuan umur 22 tahun, datang ke RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tanggal 4 Agustus 2017 dengan keluhan utama mata kiri tampak menonjol bawah sejak 2 bulan yang lalu. Penglihatan mata kiri kabur sejak 6 bulan yang lalu, semakin lama semakin kabur dan dalam 1 bulan ini tidak bisa melihat. Nyeri pada mata kadang dirasakan namun jarang. Pendengaran berkurang. Riwayat terdapat hidung berdarah. Bengkak pada leher sekarang tidak ada. Pasien sudah dikenal menderita karsinoma nasofaring sejak tahun 2011 dan sebelumnya sudah mendapat kemoradioterapi. Gambar 1. Kemosis pada konyungtiva inferior dengan posisi protusio. Status oftalmologi mata kiri didapatkan visus No Light Perception (NLP), palpebra tidak edem, konyungtiva terdapat hiperemis, kemosis di inferior. Pada kornea terdapat sikatrik di inferior. Pada pemeriksaan pupil refrlek langsung dan tidak langsung negative dengan diameter 6-7 mm. Pemeriksaan funduskopi ditemukan atropi papil. Pemeriksaan gerak bola mata terdapat keterbatasan gerak dengan posisi protusio (Gambar 1).      Gambar 2. Hasil pemeriksan CT scan region nasofaring dan orbita, dengan potongan axial, coronal tanpa kontras.  Hasil pemeriksaan CT scan menunjukkan kesan karsinoma nasofaring infiltrasi ke sinus maxilaris sinistra, sinus ethmoid, cavum nasi sisi kiri, sinus frontalis sisi kiri dan retro orbita sinistra, sehingga menyebabkan protusio okuli sinistra dan menekan otot-otot ekstra okular dan nervus optikus (Gambar 2).            Pasien didiagnosa dengan protusio bulbi okuli sinistra (OS) et causa squamous cell carcinoma nasofaring nonkeratinizing undifferentiated stadium IVB. Pada mata kiri diberikan terapi cendolyteers tetes mata dan kloramfenikol salap mata. Tanggal 5 Agustus 2017 pasien direncanakan untuk dilakukan kemoterapi di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Pada follow up hari kedua tanggal 6 Agustus 2017 kemosis pada konyungtiva mata kiri sudah berkurang setelah dilakukannya kemoterapi dan pada tanggal 7 Agustus 2017 pasien meninggal dunia. PEMBAHASANKarsinoma nasofaring adalah salah satu kanker kepala leher yang bersifat sangat invasif dan sangat mudah menyebar dibanding kanker kepala leher yang lain. Pada kasus ini seorang pasien perempuan umur 22 tahun didiagnosa dengan protusio bulbi OS et causa squamous cell carcinoma nasofaring nonkeratinizing undifferentiated stadium IVB dengan invasi ke orbita dan atropi papil. Diagnosa didasarkan pada anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan oftalmologi dan pemeriksaan penunjang. 3 KGB regional  (N)NXKGB regional tidak dapat dinilaiN0Tidak terdapat metastasis ke KGB regionalN1Metastasis unilateral di KGB, 6 cm atau kurang diatas fossa supraklavikulaN2Metastasis bilateral di KGB, 6 cm atau kurang dalam dimensi terbesar diatas fossa supraklavikulaN3Metastasis di KGB, ukuran > 6 cmN3aUkuran > 6 cmN3bPerluasan ke fossa supraklavikulaMetastais jauh (M)MXMetastasis jauh tidak dapat dinilaiM0Tidak terdapat metastasis jauhM1Terdapat metastasis jauhTumor Primer (T)TXTumor primer tidak dapat dinilaiT0Tidak terdapat tumor primerTisKarsinma in situT1Tumor terbatas pada nasofaring, atau tumor meluas ke orofaring dana tau rongga hidung tanpa perluasan ke parafaringealT2Tumor dengan perluasan ke parafaringealT3Tumor melibatkan struktur tulang dari basis kranii dana tau sinus paranasalT4Tumor dengan perluasan intrakranial dana tau keterlibatan saraf kranial, hipofaring, orbita, atau dengan perluasan ke fossa infratemporal/masticator space Tabel 1. Klasifikasi TNM berdasarkan AJCC 7,8  B  Stage 0TisN0M0Stage IT1N0M0Stage IIT2N1M0T2N0M0T2N1M0Stage IIIT1N2M0T2N2M0T3N0M0T3N1M0T3N2M0Stage IVAT4N0M0T4N1M0T4N2M0Stage IVBAny TN3M0Stage IVCAny TAny NM1 Tabel 2. Stadium berdasarkan AJCC 7,8 WHO (World Health Organization) menggolongkan KNF menjadi 3 kriteria berdasarkan diferensiasi sel, yaitu WHO tipe 1 keratinizing squamous carcinoma, WHO tipe II nonkeratinizing squamous cell carcinoma, dan WHO tipe III undifferentiated carcinoma. Stadium pada KNF telah dirumuskan dalam berbagai sistem klasifikasi. Pada tabel 1 dipaparkan sistem klasifikasi TNM (Tumor, Node, Metastasis) staging menurut AJCC (American Joint Committee on Cancer). Stadium I dan II digolongkan sebagai stadium dini, sedangkan stadium III dan IV digolongkan sebagai stadium lanjut (table 2). Dalam kasus ini terdapat ukuran tumor T4, jenis nonkeratinizing squamous cell carcinoma dan undifferentiated carcinoma (WHO tipe II dan III) serta berada pada stadium IVB yang merupakan stadium lanjut. 6,7Data epidemiologi menyebutkan bahwa ras Mongoloid memiliki angka kejadian yang tinggi untuk menderita karsinoma nasofaring. Masyarakat Indonesia yang sebagian besar termasuk dalam ras Mongoloid serta memiliki kebiasaan mengonsumsi ikan asin yang merupakan salah satu bahan makan pokok masyarakat Indonesia. Ikan asin memiliki kandungan nitrosamin yang merupakan salah satu faktor pencetus kanker ini. Nitrosamin juga diteliti terkandung dalam beberapa jenis makanan yang diawetkan, seperti daging olahan. Faktor genetik juga dapat mempengaruhi terjadinya karsinoma nasofaring. Selain itu terbukti juga infeksi virus Epstein-Barr dapat menyebabkan karsinoma nasofaring. 9            Sebuah penelitian terdapat 3 orang pasien perempuan dan 6 orang pasien laki-laki yang didiagnosis dengan KNF yang terbukti melalui biopsy. Rerata usia pasien adalah 37-57 tahun. Satu pasien tidak memiliki riwayat KNF sebelumnya saat pertama kali datang dengan keluhan pada mata. Sebanyak 7 pasien telah mendapatkan radioterapi, dimana 1 pasein dengan metastasis paru telah mendapatkan kombinasi kemoterapi dan radioterapi saat pertama kali didiagnosis dengan KNF. Delapan pasien ini mengalami rekurensi dengan keterlibatan orbita unilateral (4 pasien dalam remisi dan 4 pasien memiliki KNF relaps aktif). 4 pasien  memiliki rekurensi multiple sebelum terjadi keterlibatan orbita. 5 pasien datang ke pusat kesehatan awalnya karena keluhan mata sebelum pemeriksaan menunjukkan adanya rekurensi KNF dengan ekstensi ke daerah orbita.9A Rerata waktu dari diagnosis primer KNF hingga keterlibatan orbita dari KNF rekuren adalah 8.2 tahun (0.8-29 tahun). Gejala yang muncul adalah massa pada kelopak mata (4 pasien), diplopia (3 pasien), pandangan kabur (3 pasien), protusio bola mata (2 pasien), nyeri orbita (2 pasien), tanda yang ditemukan pada mata adalah keterbatasan gerakan ekstraokular (8 pasien) dan nyeri kepala (1 Pasien). Durasi gejala berkisar antara 1 hingga 5 bulan. Pada pasien ini terdapat invasi pada mata kiri dengan gejala penglihatan kabur pada mata kiri, bengkak pada kelopak mata bawah, protusio, diplopia, keterbatasan gerakan bola mata dan terkadang terdapat nyeri pada bola mata.9,10,11 Gambar 3. A. Tumor yang melibatkan regio orbita. B. Setelah dilakukan kemoterapi dan radioterapi.10 Invasi langsung ke orbita jarang terjadi di karsinoma nasofaring. Karsinoma nasofaring adalah tumor yang sangat infiltratif dan ketika menyerang orbita, dapat terjadi melalui beberapa rute. Fossa pterigopalatina dan fisura orbital inferior adalah rute invasi yang paling umum, diikuti oleh invasi melalui sinus paranasal. Fisura orbital inferior merupakan berhubungan langsung antara orbita dan fossa infratemporal. Karsinoma nasofaring yang melibatkan fossa pterigopalatina dan fossa infratemporal dapat masuk langsung ke orbita melalui fisura orbita inferior (Gambar 3). Disisi lain, tumor pada etmoid dan/atau sinus sphenoid dapat mengikis lamina papyracia untuk mencapai orbita medial dan regio retrobulbar. Rute dari sinus ethmoid/sphenoid adalah jalur paling umum kedua invasi orbital. Karsinoma nasofaring yang melibatkan sinus maksilaris mungkin menginvasi orbita inferior melalui lantai orbita. Karena lamina papyracia dan lantai orbita tipis, sehingga menjadi barrier yang lemah untuk melindungi terhadap infiltrasi tumor. 2           Gambar 4. CT scan axial (A) dan coronal (B) terdapat massa diruang extrakonal dan intrakonal orbita kanan (tanda bintang). 4 Pemeriksaan penunjang MRI (Magnetic Resonance Imaging) lebih baik dibandingkan CT scan (Gambar 4) dalam memperlihatkan baik bagian superfisial maupun dalam jaringan lunak nasofaring, serta membedakan antara massa tumor dengan jaringan normal. MRI dapat memperlihatkan infiltrasi tumor ke otot-otot dan sinus cavernosus. Pemeriksaan ini juga penting dalam menentukan adanya perluasan ke parafaring dan pembesaran kelenjar getah bening. Namun, MRI mempunyai keterbatasan dalam menilai perluasan yang melibatkan tulang. CT scan penting untuk mengevaluasi adanya erosi tulang oleh tumor, disamping juga dapat menilai perluasan tumor ke parafaring, perluasan perineural melalui foramen ovale. Pada pasien ini telah dilakukan pemeriksaan CT scan orbita axial dan coronal, tampak massa infiltrasi ke sinus maxilaris sinistra, sinus ethmoid, cavum nasi sisi kiri, sinus frontalis sisi kiri, dan retro orbita sinistra.12,13,14Radioterapi masih memegang peranan penting dalam penatalaksanaan KNF. Radioterapi adalah terapi sinar menggunakan energi tinggi yang dapat menembus jaringan dalam membunuh sel neoplasma. Kemoterapi adalah segolongan obat-obatan yang dapat menghambat pertumbuhan kanker atau bahkan membunuh sel kanker. Hsu dan Wang, radioterapi adalah pengobatan pilihan untuk karsinoma nasofaring dan metastasis nodul regionalnya. Kemoterapi digunakan untuk melengkapi radioterapi untuk metastasis nodus lanjut serta untuk mengobati metastasis. Pembedahan memainkan peran kecil dalam pengobatan karsinoma nasofaring. Radioterapi masih menjadi andalan treatment pada pasien karsinoma nasofaring dengan invasi orbital.  Pada pasien ini telah dilakukan kemoterapi dan setelah kemoterapi kemosis pada mata kiri tampak mengecil. 15,16,17Keterlibatan orbital memberikan prognosis yang sangat buruk dalam analisis karsinoma nasofaring. Au dkk menggambarkan tingkat ketahanan hidup selama 5 tahun sebesar 30% pada pasien stadium IV dalam tinjauan retrospektif terhadap 1294 pasien karsinoma nasofaring nonmetastatik. Mereka menemukan bahwa untuk stadium T4 karsinoma nasofaring, intrakranial ekstensi / kelumpuhan saraf kranial dan keterlibatan orbital membawa prognosis yang relatif lebih buruk terhadap karsinoma nasofaring dengan fossa infratemporal atau keterlibatan hipofaring saja. Dengan demikian, dengan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun sebesar 28%, hasil penelitian saat ini mengkonfirmasi bahwa keterlibatan orbital memberikan prognosis buruk pada pasien karsinoma nasofaring.18,19,20  SIMPULANKarsinoma nasofaring adalah salah satu kanker kepala leher yang bersifat sangat invasif dan sangat mudah menyebar dibanding kanker kepala leher yang lain. Invasi langsung ke orbita jarang terjadi di karsinoma nasofaring.Nitrosamin merupakan salah satu faktor pencetus kanker. Faktor genetik juga dapat mempengaruhi terjadinya karsinoma nasofaring. Selain itu terbukti juga infeksi virus Epstein-Barr dapat menyebabkan karsinoma nasofaring.            Pada pasien ini terdapat invasi pada mata kiri dengan gejala penglihatan kabur pada mata kiri, bengkak pada kelopak mata bawah, protusio, diplopia, keterbatasan gerakan bola mata dan terkadang terdapat nyeri pada bola mata.Pada pasien ini telah dilakukan radioterapi dan kemoterapi di RSCM dan RSUP M. Djamil, setelah dilakukan kemoterapi massa pada mata kiri tampak mengecil. UCAPAN TERIMAKASIH            Terimakasih saya ucapkan kepada Ketua Program Studi Ilmu Kesehatan Mata Program Pendidikan Dokter Spesialis Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dan Ketua Bagian Ilmu Kesehatan Mata RS Dr.M.Djamil Padang yang telah membantu dalam penulisan artikel penelitian ini.
FAKTOR PERSONAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN KOMITMEN ORGANISASI PERAWAT RSUD EMBUNG FATIMAH BATAM Nahrul Hayat; asfri sri rahmadeni; Isna Aglusi Badri; Dermawan Sidabutar
HUMAN CARE JOURNAL Vol 5, No 3 (2020): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v5i3.856

Abstract

Commitment is the attitude or behavior of likes or dislikes shown by someone against the organization at work. Indonesia is recorded as a nurse who has a low organizational commitment (76%) so it harms services. This phenomenon in the hospital can be seen from the indicator of the high turnover rate of nurses which reaches 30.9% which exceeds the standard <5%. Many factors affect organizational commitment. The purpose of this study was to analyze the Personal Factors Associated with Organizational Commitment of Hospital Nurses. This study is a cross-sectional analytic study and purposive sampling technique with a sample of 59 nurses. Chi-Square test results obtained personal factors that have a relationship with organizational commitment Nurse Hospital is age with p = 0,000 and education with p = 0,000, personal factors not related to organizational commitment are gender p = 1,053 and years of service with p = 1,147. Hospitals should conduct research/surveys on Organizational Commitment periodically as an evaluation material in the context of the organization's development and development in the future.
BIOMARKER YANG BERPERAN MENDETEKSI FRAILTY widodo adi prasetyo
HUMAN CARE JOURNAL Vol 6, No 2 (2021): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v6i2.1197

Abstract

AbstractPopulasi lanjut usia (lansia) di dunia termasuk di Indonesia semakin meningkat. Pada tahun 2020 diperkirakan terdapat sekitar 29 juta jiwa penduduk berusia 60 tahun ke atas di Indonesia (11.11 % dari total populasi) dengan usia harapan hidup (UHH) mencapai 73.6 tahun selama periode tahun 2020 – 2025 dan proporsi perempuan usia lanjut lebih besar dibanding lelaki (11.43 % vs 10.78 %). Proses menua dapat berujung pada ketercapaian successful aging, usual (normal) aging atau pathologic aging. Kaum usila dengan proses menua patologis memiliki risiko untuk menjadi usila yang frail. Frailty merupakan suatu sindrom biologis terkait usia, berupa penurunan kapasitas fisiologik dan daya tahan terhadap stresor akibat akumulasi penurunan berbagai sistem fisiologik tubuh. Prevalensi frailty sangat bervariasi antar studi. Prevalensi frailty pada orang dewasa yang tinggal di komunitas berusia 65 lebih memiliki rata-rata 10,7% (kisaran 4,0% -59,1%). Patofisiologi frailty yang kompleks membuat perkembangan biomarker untuk mendeteksi frailty saat ini memiliki peran penting. Biomarker sirkulasi yang  diduga memiliki peranan pada frailty berhubungan dengan marker inflamasi (misalnya, C-reactive protein (CRP), IL6, dan tumor necrosis factor alpha [TNFα]), serum (misalnya, hemoglobin, albumin, produk oksidasi, dan antioksidan), hormon (misalnya, dehydroepiandrosterone [DHEA] sulfat, testosteron, vitamin D, paratiroid dan insulin-like growth factor-1 [IGF1]), metabolik (misal HbA1c) dan stem cell (% Cell Osteoprogenitor [% COP] dan Cell Osteoprogenitor Lamin A). Sebagian besar biomarker dianggap sebagai biomarker penuaan terlepas dari adanya frailty dan dapat ditemukan pada suatu kondisi tertentuKata kunci: Biomarker, frailty
DESKRIPSI KECERDASAN EMOSIONAL REMAJA SELAMA SCHOOL FROM HOME (SFH) Fitrianola Rezkiki; Imelda Rahmayunia Kartika; Fhajri Arye Gemilang; Fakhri Fakhri; Heru Meiyersi
HUMAN CARE JOURNAL Vol 6, No 1 (2021): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v6i1.1130

Abstract

AbstrakLatar Belakang : Pandemic corona virus disease bukan hanya berdampak pada dunia kesehatan dan  ekonomi, tetapi juga dirasakan oleh dunia pendidikan. Terhitung Maret 2020 hingga sekarang, kegiatan pembelajaran tatap muka di sekolah resmi dihentikan sementara, diganti dengan School from Home (SFH). Madrasah  Tsanawiyah/sederajat  paling  banyak  mengikuti metode belajar di rumah. Ada 28.587.688 murid yang belajar jarak jaruh. Penutupan dan pembelajaran yang di alokasikan ke rumah menimbulkan dampak terhadap kecerdasan emosional peserta didik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui deskripsi kecerdasan emosional peserta didik selama pembelajaran dirumah (School From Home). Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik, dengan sampel penelitian ini berjumlah 285 orang yang diambil menggunakan accidental sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner kecerdasan emosional disadur dari Siregar (2018) yakni berisi 30 item pernyataan dengan 24 pernyataan positif dan 6 pernyataan negatif menggunakan skala likert. Kuesioner terdiri atas komponen kecerdasan emosional yang meliputi kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati dan keterampilan sosial. Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian responden (58,25%) memiliki kecerdasan emosional yang rendah, dengan nilai mean terendah terdapat pada komponen Motivasi. Kesimpulan: Hasil pengkategorisasian skor  kecerdasan  emosional secara keseluruhan menunjukkan bahwa di MTsN 2 Bukittinggi didominasi  oleh  peserta didik  dengan kecerdasan  emosional  dengan kategori rendah, dimana pada kategori motivasi peserta didik itu sendiri. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kondisi pembelajaran dirumah, sehingga diharapkan pihak sekolah mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik walaupun belajar dari rumah masih tetap dilakukan pada kondisi pandemi ini.Kata kunci      : kecerdasan emosional, peserta didik, school from home
THE RELATIONSHIP BETWEEN THE ROLE OF: HEALTH WORKERS, COMMUNITY FIGURES, FACILITATORS OF PAMSIMAS AND UTILIZATION OF HEALTHY LATRINES IN PAMSIMAS AREAS IN MENTAWAI ISLANDS DISTRICT IN 2019 PUJI RAHAYU
HUMAN CARE JOURNAL Vol 6, No 2 (2021): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v6i2.665

Abstract

Background: The PAMSIMAS program is one of the government main program in the provision of clean water and sanitation for rural communities through a community-based approach. The problem of sanitation development in Indonesia is a socio-cultural challenge, one of the biggest problem is the behaviour of people who are accostumed to defecating in the open. This study aims: to identify the relationship between the role of: health workers, community figures, facilitators of PAMSIMAS and the utilization of healthy latrines in PAMSIMAS locations in Mentawai Islands District in 2019. Research method: quantitative research with a case control design with purposive sampling technique carried out on Januari 2020. The study population was 90 sample consist of head of familywho had accessed to healthy latrines in PAMSIMAS location in Mentawai IslandsDistrict. This researched used univariate analysis and bivariate analysis (p=0,05). Result: by using chi-square statistic, it was identified that the influential factors of the utilization of healthy latrines were health workers (p value = 0,841), the role of community figures (p value = 0,018) and the role of facilitators of Pamsimas (p value = 0,010). Conclusion: there was a significant relationship between the independent variables (the role of community figures and the role of facilitators of Pamsimas) and the dependent variable (the utilization of healthy latrines); there was no significant relationship between independent variables (the health workers) and the utilization of healthy latrines. The most influencing factor to the utilization of healthy latrine is the role of Pamsimas facilitators. Recommendation: community figures and facilitators of PAMSIMAS have to provide information about proper sanitation (healthy latrines) and their benefits to the community. It is strongly recommended to the local government to provide environmental health workers in the remote areas in Mentawai Islands Distric.