cover
Contact Name
Majalah Sainstekes
Contact Email
majalah.sainstekes@yarsi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
majalah.sainstekes@yarsi.ac.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian Universitas YARSI, Jl. Letjen Suprapto Kav. 13 Cempaka Putih,Jakarta Pusat 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Sainstekes
Published by Universitas Yarsi
ISSN : 20856237     EISSN : 26856794     DOI : -
Majalah Sainstekes / Sainstekes Magazine is a peer-reviewed and open access journal that focuses and promotes the results of research in medicine, economics, law, psychology and technology.
Arjuna Subject : -
Articles 134 Documents
Gambaran Pengetahuan dan Kesadaran Pria Pra-Lansia terhadap Gejala Lower Urinary Tract Symptoms sebagai Indikasi Pembesaran Prostat Jinak Muhammaad S.M. Zainul haq; Anni M.N. Ziha Ul Haq; Tsalitsa Afifah Nidaul Haq
Majalah Sainstekes Vol. 13 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/ms.v13i1.6165

Abstract

Pembesaran prostat jinak atau Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) merupakan gangguan urologi yang sering terjadi pada pria usia lanjut dan dapat menimbulkan gejala Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS) seperti sering buang air kecil, nokturia, pancaran urin melemah, dan rasa tidak lampias setelah berkemih. Rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap gejala awal gangguan prostat dapat menyebabkan keterlambatan deteksi dini dan penanganan medis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, kesadaran deteksi dini, serta respons pria pra-lansia terhadap gejala gangguan prostat dan LUTS. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan promotif dan preventif dalam bidang kesehatan masyarakat. Penelitian dilaksanakan di Kota dan Kabupaten Serang, Provinsi Banten, dengan melibatkan 10 pria pra-lansia usia 45–59 tahun yang dipilih secara purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara semi terstruktur mengenai pengetahuan prostat, gejala LUTS, kesadaran pemeriksaan dini, dan respons terhadap gangguan berkemih. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar informan telah mengetahui istilah pembesaran prostat, namun pemahaman mengenai fungsi prostat dan gejala LUTS masih belum optimal. Gejala yang paling banyak dialami informan meliputi nokturia, pancaran urin melemah, dan rasa tidak lampias setelah berkemih. Kesadaran terhadap deteksi dini masih rendah karena sebagian informan menganggap gangguan berkemih sebagai bagian normal dari proses penuaan. Respons informan terhadap gejala gangguan berkemih cukup beragam, mulai dari konsultasi medis hingga pengobatan mandiri. Penelitian ini menyimpulkan bahwa edukasi kesehatan prostat berbasis promotif dan preventif perlu ditingkatkan untuk meningkatkan kesadaran deteksi dini gangguan prostat pada pria pra-lansia
Pengaruh Aktivitas Fisik Terhadap Kadar HbA1c Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih Vino Ramadhan; Linda Weni
Majalah Sainstekes Vol. 13 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/ms.v13i1.4910

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 adalah gangguan metabolisme yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah akibat ketidakmampuan sel β-pankreas untuk menghasilkan insulin yang cukup atau ketidakpekaan insulin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh aktivitas fisik terhadap kadar HbA1c pada penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Cempaka Putih. Penelitian eksperimental kuantitatif ini melibatkan penderita Diabetes Melitus Tipe 2 yang mengikuti program aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu selama 6 bulan. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan pengukuran kadar HbA1c sebelum dan setelah intervensi. Analisis dilakukan dengan uji Wilcoxon. Dari 24 pasien, uji Wilcoxon menunjukkan nilai signifikansi (p=0,034). Sebelum intervensi, 20,8% responden memiliki kadar HbA1c "Buruk" (>8%), yang turun menjadi 4,2% setelah intervensi. Sebagian besar responden yang melakukan aktivitas fisik lebih dari 150 menit per minggu menunjukkan perbaikan kadar HbA1c. Peneliitan ini menunjukkan aktivitas fisik rutin selama enam bulan diikuti dengan penurunan kadar HbA1c pada penderita Diabetes Melitus Tipe 2. Temuan ini mendukung pentingnya aktivitas fisik sebagai bagian dari pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2.
Hubungan Pola Sidik Jari dengan Kejadian Hipertensi pada Komunitas Akademik Kampus X di Jakarta Pusat Aisyah Joyita Patria; Endang Purwaningsih; Samsul Mustofa; Etty Widayanti
Majalah Sainstekes Vol. 13 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/ms.v13i1.5537

Abstract

Dermatoglifi adalah cabang ilmu genetika yang mempelajari gambaran dermal pada jari tangan dan kaki manusia. Pola sidik jari dipengaruhi faktor genetik yang bersifat permanen sepanjang hidup. Penelitian sebelumnya menunjukkan faktor genetik berkontribusi pada hipertensi dan analisis pola sidik jari berpotensi sebagai screening hipertensi. Penelitian ini menggunakan studi deskriptif dan analitik dengan metode purposive sampling. Data diambil setelah subjek menandatangani informed consent dan pencetakan pola dermatoglifi pada ujung jari tangan. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dan t-test. Ditemukan pola sidik jari paling dominan pada penderita hipertensi adalah pola loop. Uji t-test tidak menemukan perbedaan signifikan pada Total Triradius Count (TTC) dan Total Ridge Count (TRC) antara penderita hipertensi dan kelompok normal. Uji chi-square juga tidak menunjukkan hubungan signifikan antara pola sidik jari dengan kejadian hipertensi (p>0,05). Disimpulkan tidak ada hubungan signifikan antara pola sidik jari dengan kejadian hipertensi pada civitas akademik pada Kampus X yang terletak di Jakarta Pusat. Selain itu, tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam TTC dan TRC antara penderita hipertensi dan kelompok normal.
Durasi Efek Protektif Terapi Pencegahan Tuberkulosis terhadap Tuberkulosis Aktif pada Anak: Sebuah Tinjauan Kasus Berbasis Bukti Arifianto; Alya Darin Wijaya
Majalah Sainstekes Vol. 13 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/ms.v13i1.5826

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan permasalahan utama kesehatan global dengan proporsi insidensi didominasi oleh populasi rentan, termasuk anak-anak. Populasi anak lebih rentan untuk mengidap infeksi TB berat karena belum sempurnanya perkembangan sistem imun mereka. Terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) secara historis telah terbukti mampu memberikan proteksi terhadap infeksi TB pada anak. Meskipun demikian, durasi proteksi dari TPT masih memberikan hasil yang kontroversial. Tinjauan kasus berbasis bukti ini bertujuan untuk menyimpulkan durasi proteksi dari TPT yang diberikan pada populasi anak sehat. Dari 3 artikel yang tersaring, dapat disimpulkan bahwa efek proteksi dari TPT dapat bertahan hingga maksimal 2 tahun pasca pemberian TPT. Meskipun demikian, optimalisasi durasi proteksi dapat dicapai apabila strategi pengendalian TB dilakukan secara komprehensif dengan mencakup pula upaya screening, inisiasi dini TPT, serta langkah-langkah pengendalian infeksi