cover
Contact Name
Ahmad Taufiq
Contact Email
jurnalpusair@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalpusair@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL SUMBER DAYA AIR
ISSN : 19070276     EISSN : 2548494X     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Sumber Daya Air (JSDA) is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. We publish original research papers, review articles and case studies focused on Water, and Water resources as well as related topics. All papers are peer-reviewed by at least two referees. JSDA is managed to be issued twice in every volume. The Scope of JSDA is: the fields of irrigation, environmental quality and water, swamp, beach, water building, water supply, hydrology and geotechnical fields, hydrology and water management, water environment, coastal fields, fields of cultivation and sabo fields.
Arjuna Subject : -
Articles 236 Documents
Pencemaran Nutrien (Zat Hara) Dan Kualitas Air Waduk Kaskade Batujai Dan Pengga Di P. Lombok Simon S. Brahmana
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 6, No 1 (2010)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.481 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v6i1.385

Abstract

Air waduk kaskade Batujai dan Pengga di P. Lombok dimanfaatkan untuk air irigasi, sumberbaku air minum Kabupaten Lombok Tengah dan pembangkit listrik. Penelitian kualitas air di kedua waduk telah dilakukan pada musim hujan dan musim kemarau .Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air waduk sudah tercemar pada tingkat sedang. Pencemaran air waduk disebabkan oleh karena limbah penduduk, pertanian, peternakan. Penelitian dilakukan berdasarkan metoda deskriptif yaitu dengan melakukan pengumpulan data skunder dan primer serta pengukuran kualitas air. Evaluasi kualitas arinya dilakukan berdasarkan Peraturan Pemerintrah No 82/2001 dan status eutrofikasi waduk digunakan Kriteria Eutrofikasi Danau /Waduk KepMen Menteri Negara Lingkungan Hidup No 28/2009. Beban pencemaran yang masuk ke waduk Batujai adalah Nitrogen total sebanyak 191 kg/hari dan Fosfat Total 69,5 kg/hari, sedangkan beban pencemaran yan masuk ke Waduk Pengga , Nitrogen total sebanyak 232,6 kg/hari dan Fosfat Total 16,7 kg/hari. Jumlah beban pencemaran tersebut dikategorikan tinggi bila dibandingkan dengan volume Waduk Batujai sebanyak 4,5 juta m3 dan volume Waduk Pengga 4 juta m3 pada keadaan air maksimum. Parameter kualitas air yang tidak memenuhi syarat untuk kelas 1 adalah BOD,COD dan detergen. Ratarata kadar BOD dan COD di waduk Batujai masing-masing 3,6 mg/L dan 9,5 mg/L sedangkan di Waduk Pengga 5,6 mg/L dan 9 mg/L. Ratarata Nitrogen total dan Fosfat Total di Batujai masing-masing 0,89 mg/L dan 0,054 mg/L sedangkan di Waduk Pengga 0,687 mg/L dan 0,058 mg/L.. Transparansi di kedua waduk masing-masing 0,5 meter. Tingkat Status Eutrofikasi di kedua waduk adalah mesortofikeutrofik ( penuyuburan sedang menuju subur).
Dampak Perubahan Tutupan Lahan Dan Iklim Terhadap Fungsi Hidrologi Daerah Aliran Sungai Konaweha Hulu Lisa Tanika
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 9, No 2 (2013)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1808.845 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v9i2.156

Abstract

Model hidrologi dapat digunakan untuk menguraikan akibat yang saling berkaitan antara perubahan iklim dan tutupan lahan terhadap proses hidrologi. Model Generic River Flow (GenRiver) dan HBV diaplikasikan untuk mensimulasikan dampak dari perubahan yang penting pada tutupan hutan dan perubahan iklim sederhana di daerah hulu DAS Konaweha (2,856 km2) yang terletak di Kabupaten Konawe dan Kolaka, Sulawesi Tenggara. Setelah proses kalibrasi dan verifikasi model berhasil dilakukan, simulasi dijalankan untuk menilai kondisi tutupan lahan 1990-2010. Skenario untuk 21 tahun mendatang (2010-2030), menggunakan 8 kombinasi faktorial dari: (1) Bussiness as usual (BAU) (ekstrapolasi perubahan tutupan lahan yang terjadi 21 tahun terakhir (1990-2010)) dibandingkan dengan tidak adanya perubahan tutupan lahan sejak kondisi tahun 2010; (2) skenario iklim global A1F1 dan B1 yang diubah ke dalam skala lokal (skenario IPCC) ; dan (3) intensitas curah hujan tinggi dan rendah. Berdasarkan model, perubahan potensial pada intensitas curah hujan, tanpa mengubah curah hujan harian akan berdampak pada aliran permukaan dan pola debit musiman. Sedangkan perubahan tutupan lahan mempunyai dampak yang lebih sederhana dan perubahan iklim berdasarkan skenario IPCC tidak akan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap neraca air di daerah hulu DAS Konaweha.
Tambahan Bangunan Pengendali Dasar Sungai Untuk Menjaga Stabilitas Dasar Sungai Batang Kuranji Sumatera Barat Slamet Lestari
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 11, No 2 (2015)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32679/jsda.v11i2.108

Abstract

Studi ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan bangunan tambahan pada sistem pengendali dasar sungai. Penelitian dilakukan pada segmen Sungai Batang Kuranji mulai dari Bendung Nago sampai Bendung Intake PDAM ( 8,5km) dengan menggunakan model matematik / numerik. Analisis stabilitas dasar sungai dilakukan dengan mengacu pada debit banjir tahunan, sedangkan identifikasi detail kondisi hidraulik di sekitar bangunan pengendali dasar sungai dilakukan dengan menggunakan debit banjir periode ulang 100 tahunan. Hasil analisis yang telah dilakukan menunjukkan bahwa untuk menjaga stabilitas dasar Sungai Batang Kuranji diperlukan 5 buah bangunan pengendali dasar sungai baru, yaitu pada jarak : 411 m, 671 m, 1.041 m, 1.692 m, dan2.170 m dari Bendung Nago ke arah hilir, dengan masing-masing elevasi atas mercu : +76,00; +74,00; +71,50; +61,00; dan +51,50. Kelima bangunan tambahan ini akan berfungsi secara optimum jika dibangun dalam waktu bersamaan.
Evaluasi Pengaruh Jumlah dan Posisi Stasiun Curah Hujan pada Simulasi Aliran Limpasan Di Sungai Ping, Thailand Muchamad Wahyu Trinugroho
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 14, No 1 (2018)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1102.126 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v14i1.192

Abstract

The number and distribution of rainfall stations areneeded to simulate rainfall-run off transformation on hydrologic model. However, the availability of stations varies in watershed. The study aims to assess theinfluence of numberand distribution rainfall stations by a modelling approachto simulate run-off process. The use of HEC-HMS model is tocalibrate model parameters and simulaterun-offon 4 scenarios in Mae Caem Watershed (3,826 km2), Northern Thailand. The result shows the calibrated model parameters of 13 stationsare very satisfied by 0.826 of Nash coefficient. Based on the simulation result, the condition of 6 stations demonstrate the best fit regarding observation data by R2 = 0.927; the lowest correlation is three rainfall stations by 0.795 of R2. Also, simulated runoff rainfall for six stations (condition2) show results close to the observation discharge. Condition 1 (all stations) is somewhat higher than condition tworegarding pattern and peak discharge. Another result shows simulation of peak discharge condition 3 (station number 2, 5, and 13) has overestimate of observation discharge and condition 5 shows underestimate result to observation discharge. Overall the simulation results have met Nash's criteria, while the best results are in simulation with 6 stations (condition 2). Thus the number and position of rainfall stations have an influence on the modeling of rainfall runoff in the Ping River, Mae Caem Watershed.
Penerapan Teknologi Sabo Pada Sungai Sungai Di Wilayah Gunung Kelud Untuk Mengurangi Sedimentasi Waduk Wlingi Agus Sumaryono; Djudi Djudi; Dyah Ayu Puspitosari
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 7, No 1 (2011)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1044.413 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v7i1.376

Abstract

Wlingi Reservoir which had been operated since 1977 suffered from sedimentation problem. After the eruption of Kelud Volcano in 1990, the rate of sedimentation in Wlingi Reservoir had increased significantly.The planned total volume of the reservoir was 24 million m3, the total volume of it was 4,454 million m3 in 1998 and the volume of it in 2006 was 3,348 million m3. After the operation of the reservoir for 29 years since1977, the total volume of reservoir had reduced 86% of the initial total volume. In order to decrease the rate of sedimentation of Wlingi Reservoir, Ministry of Public Works has constructed sabo fasilities such as checkdams, groundsill, consolidation dams and lahar pockets along the lahar rivers which are originated from Kelud Volcano. Besides that, in order to maintain the volume of water in the reservoir for irrigation and hydro power plant purposes, periodical dredging has been done by “Perum Jasa Tirta I”. The sabo structures which had been already constructed at K. Putih, K. Jari, K. Semut and K. Lekso had been well functioned to control sediment discharges from the sediment sources at the slope of Kelud Volcano to the Wlingi Reservoir with the capacity of 43,15 million m3. The exsisting volume of sediment which has been deposited at the sabo structures is 29,11 million m3 and the remained spaces of the sabo structures to trap the sediment transported from the upstream is 14,04 million m3. So that the effort to decrease the rate of reservoir sedimentation has succesfully done and moreover the remained volume of sediment trap capasity at the sabosrtuctures is large enough when the debris flow occurred after the possibility of volcanic eruption in the future.
EMISI HEWAN TERNAK ACUAN UNTUK MENGHITUNG POTENSI BEBAN PENCEMARAN LIMBAH HEWAN Iskandar A. Yusuf
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 10, No 1 (2014)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1138.075 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v10i1.145

Abstract

Dalam rangka pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air diperlukan besaran beban pencemar berbagai sumber untuk setiap ruas sungainya. Beban pencemar peternakan merupakan hasil kali jumlah hewan dengan emisinya. Pada saat ini Indonesia masih menggunakan emisi dari negara maju yang sebenarnya tidak cocok kondisinya. Oleh karena itu, di Indonesia diperlukan besaran emisi berbagai jenis hewan ternak yang cocok. Penelitian ini menetapkan besaran emisi berbagai jenis hewan ternak, baik untuk per kg berat ternaknya maupun emisi hewan ternak acuan yang berdasarkan berat rata-rata populasi untuk berbagai jenis hewan ternaknya. Metode penelitiannya adalah dengan melakukan inventarisasi dan identifikasi tipologi sumber pencemar, kemudian dilakukan pengukuran langsung untuk berbagai jenis hewan ternak pada lokasi yang mewakili tipologi sumber pencemarnya. Sebagai hipotesis, emisi hewan ternak yang ada di negara maju sangat berbeda kondisinya terkait dengan berat hewan ternak, makanan serta pengelolaan limbahnya. Hasil penelitian menemukan bahwa besaran potensi emisi hewan ternak sangat dipengaruhi oleh: jenis makanan dan pola pengelolaan limbahnya serta besaran potensi beban pencemaran efektif yang akan diperhitungkan masuk ke sumber air sangat dipengaruhi oleh musim. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa metode perhitungan potensi emisi dan potensi beban pencemar sesuai dengan tipologinya dapat digunakan di seluruh Indonesia.
PREDIKSI TINGKAT PENCEMARAN AIR SUNGAI MENGGUNAKAN INDEKS KIMIA-FISIKA DAN METRIK BENTIK MAKROINVERTEBRATA Syamsul Bahri
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 3, No 4 (2007)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32679/jsda.v3i4.99

Abstract

Application of numeric benthic macroinvertebrate indices to predict river water pollution categories waspoorly developed in Indonesia. A lack of information in this numeric indices study caused Indonesia be leftbehind in developing this science, consequently this method was not yet applied in routinely based rivermanagement. The main objectives of this research are: a). to examine the suitability of three benthicmacroinvertebrate metrics to water chemical-physical index b). to assess test site based on water pollutioncategories. Survey method was used as research methodology. Water sampling and its analysis were done infield and laboratory. Standar Nasional Indonesia (SNI) was used as water quality analysis method. Scoringof LAWA was used to evaluate the chemical-physical index, whereas categorization and classification ofwater quality was based on the saprobic classification. As related to the correlation test, highest coefficientvalue was shown by score Biological Monitoring Working Party (BMWP) (r = 0,89) compared to a metrictaxa richness (r = 0,84), and diversity index (r = 0,57). Therefore, BMWP score is indicating thatclassification of water pollution in Ciliwung River can be divided into three categories: moderately polluted,critically polluted and heavily polluted.
PEMULIHAN KUALITAS AIR SUNGAI CILIWUNG MENGGUNAKAN MODEL KUALITAS AIR Iskandar A. Yusuf
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 5, No 2 (2009)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1462.571 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v5i2.471

Abstract

In Ciliwung River, pollutant sources coming from domestic waste, breeding, and industry with totalwaste load of about 212 ton BOD/day and estimated in the year 2020 will reach 280 ton BOD/day. Whereas,discharge in Katulampa weir of 10.24 m3/s and 195 m3/s as minimum and maximum discharge respectively,indicate that Ciliwung water quality is very heavily polluted especially in the dry season after passing BogorMunicipality until Jakarta Bay. The water quality modeling applied a finite segment method calibrated withspatial variation at one time by using real time sampling water quality data in order to obtain accurateresults of model calibration. Recovery strategies for the existing very heavily polluted water quality shallapply a water quality target program that has to be completed by the end of the year 2020. Study resultsrecommend a recovery applying a short-term program up to the year 2012 as preparation stage forrestructuring water quality and reviewing the waste load permit. Whereas, the mid-term program shall putinto effect the waste water permit for domestic and industry activities, and wastewater treatment plantperformance auditing. The long-term program shall concentrate on hazardous waste disposal andapplication of clean industrial technology.
Penelitian Pengolahan Air Sungai Yang Tercemar Oleh Bahan Organik Yayu Sofia
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 6, No 2 (2010)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1327.797 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v6i2.412

Abstract

In the water quality management, besides monitoring it is also need to treat polluted river water. The treatment of polluted river water can be done by physical method such as reaeration, precipitation and filtration. The research on treatment of polluted river water (River Cimuka) was conducted at Desa Sukabirus, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung. There are 3 systems to be studied in this research that is reaeration, precipitation dan filtration. The result shows that the most suitable system for river water teratment is the aeration system, that is to pass to blocking wall reaeration chanel.Data from this research show that the river water treatment system can increase thedissoleved oxygen up to 300% and decreasing the organic pollutant in the form of KMnO4 value 11%, 20% of BOD and 12% of COD. The other pollutan such as suspended solid also decrease up to 26%, 23% for turbidity up to 23% and total ammonia up to 33%.
Model Keruangan Konservasi Sumber Daya Airtanah Menggunakan Pendekatan Bentuk Lahan Di Lereng Selatan Gunungapi Merapi Bambang Hargono
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1500.31 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v10i2.134

Abstract

Wilayah Perkotaan Yogyakarta memiliki penduduk terpadat dan terbanyak. Kondisi tersebut menyebabkan kebutuhan akan air yang tinggi. Walaupun daerah lereng selatan Gunung Merapi memiliki curah hujan yang tinggi, penurunan muka air tanah sudah berlangsung lama dengan intensitas rata-rata mencapai 30 cm setiap tahun. Untuk itu diperlukan konservasi sumberdaya air di wilayah Perkotaan Yogyakarta. Tujuan dari penelitian ini yang pertama adalah untuk mengetahui model wilayah hidrologis berdasarkan bentuk lahan untuk mengetahui neraca air di sebagian lereng selatan Gunungapi Merapi, yang kedua, untuk mengetahui wilayah yang kekurangan air, dan kapan terjadinya, dan yang terakhir, menyusun rekomendasi mengenai konservasi yang diperlukan untuk mengatasi kekurangan air di sebagian lereng Selatan Gunungapi Merapi. Metode yang digunakan adalah penentuan wilayah lokasi penelitian berdasarkan satuan bentuk lahan, dan interfluv sungai, analisis ketersediaan air, perhitungan neraca air dan kapan terjadi kekurangan air, dan analisis untuk menentukan upaya konservasi. Berdasarkan hasil analisis, masih terdapat kekurangan air di beberapa wilayah Perkotaan Yogyakarta pada periode tertentu dengan asumsi kebutuhan air 120 L/orang/hari dan 50 L/orang/hari. Upaya konservasi yang diusulkan adalah melakukan manajemen air hujan.

Page 6 of 24 | Total Record : 236