Journal Psikogenesis
Jurnal Psikogenesis is a semiannualy publication produced by Fakultas Psikologi Universitas YARSI since 2012 (e-ISSN: 2597-7547, p-ISSN: 2303-3177). The journal reflects the wide application of all aspects of psychology related to health. It also addresses the social contexts in which psychological and health processes are embedded. The main emphasis of the journal is on original research, theoretical review papers, meta-analyses, and applied studies.
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 6, No 2 (2018): Desember"
:
10 Documents
clear
Efektivitas Program Pelatihan untuk Meningkatkan Perilaku Asertif dan Perilaku Pembela pada Situasi Perundungan Sekolah Dasar Kelas V
Veronica Novelina Parapat;
Lucia RM Royanto
Jurnal Online Psikogenesis Vol 6, No 2 (2018): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (359.062 KB)
|
DOI: 10.24854/jps.v6i2.696
Prevalensi terjadinya perundungan di Indonesia pada tingkat sekolah dasar semakin tinggi. Salah satu penyebabnya adalah individu mulai berusaha mencari status dalam lingkungan sosial. Kasus perundungan juga menjadi perhatian bagi sekolah dasar X dan Y di Jakarta. Adanya penguatan dari saksi terhadap aktivitas perundungan atau sikap keengganan melindungi korban menjadi salah satu faktor yang berpengaruh besar pada terjadinya perundungan. Oleh karena itu, program pelatihan bagi siswa sekolah dasar diberikan untuk meningkatkan perilaku asertif dan pembela saat menghadapi situasi perundungan. Program ini dapat membantu pihak sekolah mengurangi perundungan yang terjadi di sekolah. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimental dengan desain penelitian pre-test/post-test between subjects. Jumlah partisipan penelitian adalah 46 siswa kelas V, dengan diantaranya 23 siswa pada kelompok yang diberikan pelatihan dan 23 siswa pada kelompok yang tidak diberikan pelatihan. Teknik analisis data Independent Sample T-test digunakan untuk melihat perbandingan skor rata-rata antara dua kelompok. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan perilaku asertif dan perilaku pembela yang signifikan antara kelompok yang diberikan pelatihan dan kelompok yang tidak diberikan pelatihan. Meski demikian, berdasarkan hasil analisis kualitatif terdapat peningkatan penggunaan strategi membela korban pada kelompok yang diberikan pelatihan. Penelitian selanjutnya perlu mempertimbangkan durasi program pelatihan yang lebih panjang dan jenis kegiatan bermain peran untuk mendapatkan perubahan perilaku yang signifikan. Selain itu, penggunaan metode self-report perlu untuk dipertimbangkan kembali pada siswa sekolah dasar mengingat hal ini dapat menyebabkan bias.
Hubungan Culture Intelligence dengan Organizational Citizenship Behavior melalui Kepemimpinan Transformasional
Angela Irena Sindoro Dahzuki;
Aditya Nanda Priyatama;
Rafika Nur Kusumawati
Jurnal Online Psikogenesis Vol 6, No 2 (2018): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (447.884 KB)
|
DOI: 10.24854/jps.v6i2.697
Perilaku yang tidak terdapat pada deksripsi pekerjaan secara formal dalam sebuah pekerjaan tetapi jika dilakukan akan dihargai atau dapat disebut sebagai Organizational Citizenship Behavior. Perilaku ini muncul karena terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi, salah satunya kepemimpinan transformasional. Selain karakteristik seorang pemimpin, organisasi perlu menyadari bahwa setiap karyawan mempunyai latar belakang budaya atau kultur yang berbeda. Culture Intelligence hadir untuk memahami keberagaman dari berbagai budaya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui hubungan culture intelligence dan organizational citizenship behavior dengan kepemimpinan transformasional sebagai variabel mediator, (2) mengetahui hubungan culture intelligence dan organizational citizenship behavior (3) mengetahui hubungan culture intelligence dengan kepemimpinan transformasional, (4) mengetahui hubungan kepemimpinan transformasional dan organizational citizenship behavior. Penelitian ini menggunakan purposive sampling dengan sampel sebanyak 73 karyawan yang terdiri dari 44 karyawan laki-laki dan 29 karyawan perempuan . Hasil uji hipotesis menunjukkan persamaan langsung antara culture intelligence dan organizational citizenship behavior sebesar 0,203, sementara persamaan tidak langsung antara culture intelligence dan organizational citizenship behavior yang dimediatori oleh kepemimpinan transformasional adalah sebesar 0,378. Penelitian ini bersifat mediasi sempurna dikarenakan hubungan culture intelligence dan organizational citizenship behavior bernilai tidak signifikan positif, sedangkan untuk hubungan culture intelligence dan kepemimpinan transformasional serta hubungan kepemimpinan transformasional dan organizational citizenship behavior bernilai positif dan signifikan. Berdasarkan hasil tersebut, culture intelligence dan organizational citizenship behavior yang dimediatori oleh kepemimpinan transformasional terdapat hubungan yang signifikan dan positif.
Meningkatkan Kepuasan Perkawinan Melalui Aktivitas Menghitung Kebaikan
Ratih Andrini;
Imelda Ika Dian Oriza;
Made Cynthia Agrita Putri Rizwari;
Mustika Nur Rafidasari
Jurnal Online Psikogenesis Vol 6, No 2 (2018): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jps.v6i2.698
Ketidakpuasan dalam perkawinan tidak hanya berdampak pada hubungan perkawinan, tetapi juga pada diri individu, seperti menurunnya kesehatan psikologis dan peningkatan stres psikologis dan kecenderungan depresi. Tujuan dari penelitian ini adalah menguji efektivitas aktivitas menghitung kebaikan dalam meningkatkan kepuasan perkawinan. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 62 orang yang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen diminta untuk melaporkan kebaikan yang ia lakukan kepada pasangannya selama 7 hari berturut-turut. Kepuasan perkawinan partisipan diukur sebanyak 2 kali (pre-test dan post-test), dengan menggunakan Enrich Marital Satisfaction (EMS) yang sudah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan tingkat kepuasan perkawinan yang signifikan antara kelompok yang melakukan aktivitas menghitung kebaikan dan yang tidak melakukan aktivitas menghitung kebaikan. Akan tetapi, partisipan pada kelompok eksperimen menunjukkan tingkat kepuasan perkawinan yang meningkat sesudah melakukan aktivitas menghitung kebaikan, walaupun tidak signifikan.
Studi Korelasi antara Teacher Learning Climate dengan Job Satisfaction pada Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kota Bandung
Sekar Ayu Anjani;
Anissa Lestari Kadiyono
Jurnal Online Psikogenesis Vol 6, No 2 (2018): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (511.587 KB)
|
DOI: 10.24854/jps.v6i2.699
Sekolah sebagai tempat terselenggaranya pendidikan sebaiknya memberikan ruang pembelajaran bagi guru selaku pendidik agar mampu menyesuaikan kemampuan dan wawasannya pada sistem penyelenggaraan pendidikan yang terus berubah. Hal ini dikenal dengan nama iklim belajar guru. Dengan adanya iklim belajar guru maka diharapkan kepuasan kerja sebagai guru pun meningkat. Tujuan penelitian ini adalah memberi gambaran mengenai hubungan antara teacher learning climate dan job satisfaction pada guru SMP Negeri Kota Bandung. Penelitian ini dilakukan terhadap 109 guru yang aktif mengajar di SMP Negeri Kota Bandung. Rancangan penelitian yang digunakan adalah non-eksperimental kuantitatif dengan metode korelasi. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner dengan pemilihan sampel cluster random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara teacher learning climate dengan job satisfaction pada guru SMP Negeri Kota Bandung. Namun, diketahui dalam penelitian ini bahwa kepuasan guru SMP Negeri Kota Bandung pada dimensi advancement masuk dalam kategori rendah dan tidak memiliki hubungan dengan teacher learning climate. Artinya, kepuasan kerja guru SMP Negeri Kota Bandung terhadap kesempatan mendapatkan promosi harus ditingkatkan.
Nilai Kerja (Work Values) dan Adaptabilitas Karier Peserta Didik Kelas IX di Depok, Jawa Barat
Linda Primana;
Amanda Kristanti Permadi
Jurnal Online Psikogenesis Vol 6, No 2 (2018): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jps.v6i2.694
Berdasarkan Kurikulum 2013, peserta didik SMA diberikan kesempatan untuk memilih peminatannya di kelas X. Dengan demikian sebelum peserta didik lulus SMP, mereka diharapkan sudah memiliki wawasan tentang nilai-nilai dari suatu pekerjaan (work values) sebagai dasar pertimbangannya dalam merencanakan karier masa depannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran work values terhadap adaptabilitas karier peserta didik kelas IX. Work values diukur dengan menggunakan The Work Values Scale (Ye, 2015) dan adaptabilitas karier diukur dengan menggunakan alat ukur Career Adapt-Abilities Scale (CAAS) (Savickas Porfeli, 2012). Partisipan penelitian ini adalah 569 peserta didik kelas IX SMP di Depok, Jawa Barat. Hasil olah data statistik Pearson Correlation menunjukkan terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara work values dan adaptabilitas karier. Work values memberikan kontribusi sebesar 21% (R2) terhadap variasi adaptabilitas karier. Penelitian ini memberikan masukan tentang pentingnya wawasan peserta didik mengenai work values atau nilai suatu pekerjaan dimulai sejak mereka berada di SMP, agar mereka dapat dengan percaya diri menentukan pilihan peminatannya di SMA.
Efektivitas Teknik Prompting dan Positive Reinforcement untuk Meningkatkan Frekuensi Kontak Mata pada Anak Prasekolah dengan Autisme
Anita Carolina Hendarko;
Ike Anggraika
Jurnal Online Psikogenesis Vol 6, No 2 (2018): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jps.v6i2.700
Anak-anak dengan autisme menunjukkan defisit dalam keterampilan komunikasi dan interaksi sosial, salah satunya adalah kurangnya kontak mata. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan frekuensi kontak mata pada anak usia pra sekolah dengan autisme dengan menggunakan teknik prompting dan positive reinforcement. Penelitian ini menggunakan single case experimental A-B design. Partisipan adalah seorang anak perempuan berusia 4 tahun dengan diagnosa ASD level moderate. Teknik pengumpulan data melalui observasi frekuensi kontak mata setelah subjek dipanggil namanya. Analisis data dilihat dengan membandingkan frekuensi kontak mata sebelum dan sesudah intervensi dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan frekuensi kontak mata yang signifikan pada partisipan, dari 5% sebelum intervensi menjadi 75% setelah intervensi berakhir dan bertahan menjadi 80% saat follow-up. Untuk penelitian selanjutnya, perlu dipertimbangkan beberapa hal, yaitu pemilihan aktivitas dan reinforcement dan keterlibatan orangtua merupakan faktor pendukung program pelatihan pada anak.
Resiliensi Trauma dan Gejala Posttraumatic Stress Disorder (PTSD) pada Dewasa Muda yang Pernah Terpapar Kekerasan
Renada Gita Paramitha;
Chandradewi Kusristanti
Jurnal Online Psikogenesis Vol 6, No 2 (2018): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jps.v6i2.701
Individu dewasa awal yang pernah terpapar kekerasan berisiko mengulangi kembali peristiwa kekerasan yang pernah mereka alami atau saksikan, mereka juga berisiko mengalami trauma yang berkembang menjadi PTSD (Posttraumatic Stress Disorder). Di sisi lain, individu yang resilien mampu menjaga fungsi fisik dan psikologisnya serta mampu beradaptasi secara positif setelah terpapar peristiwa traumatis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara gejala PTSD dengan resiliensi terhadap trauma pada individu dewasa awal yang pernah terpapar kekerasan. Karakteristik penelitian ini adalah individu dewasa awal yang pernah terpapar kekerasan dan terindikasi mengalami gejala PTSD. Dalam penelitian ini, alat ukur PTSD Checklist – Civilian Version (α = 0.969) digunakan untuk mengukur gejala PTSD dan alat ukur Trauma Resilience Scale  (α = 0.974) digunakan untuk mengukur resiliensi terhadap trauma. Pengujian menggunakan Pearson Product Moment menemukan adanya korelasi signifikan antara gejala PTSD dengan resiliensi terhadap trauma (p0.01, r=-.564) pada partisipan (n = 131). Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya bagi institusi ataupun praktisi yang berminat dalam pemulihan trauma untuk mulai mengembangkan program intervensi yang berfokus pada peningkatan resiliensi trauma bagi penyintas kekerasan.
Pengaruh Penggunaan Media Belajar Quipper School Terhadap Minat Belajar Matematika Pada Siswa
Dwi Hurriyati;
Desy Arisandy
Jurnal Online Psikogenesis Vol 6, No 2 (2018): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jps.v6i2.702
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penggunaan media belajar quipper school terhadap minat belajar matematika pada siswa SMAN 15 Palembang. Hipotesa dalam penelitian adalah terdapat pengaruh penggunaan media belajar quipper school terhadap minat belajar matematika siswa. Subjek dari penelitian ini adalah siswa SMAN 15 Palembang sebanyak 90 orang. Sampel diambil dengan teknik purposive dimana peneliti hanya mengambil siswa yang memiliki skor matematika 65-70 pada ulangan hariam Matematika. Penelitian ini menggunakan teknik uji beda 2 kelompok independent untuk melakukan uji hipotesis. Hasil analisis data penelitian pada kelompok 1 menunjukkan ada perubahan minat yang signifikan setelah diberlakukan metode belajar Quipper School di SMAN 15 Palembang (t= -8.669, p 0.05). Hasil uji beda juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nilai Matematika siswa antara sebelum dan setelah mengikuti metode belajar Quipper School (t = -13.803, p 0.05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penggunaan media belajar Quipper School yang signifikan terhadap minat belajar matematika pada siswa SMAN 15 Palembang.
Efektivitas Gratitude Training Untuk Meningkatkan Subjective Well-Being Pada Remaja di Panti Asuhan
Irma Rosalinda Lubis;
Linda J. Agustini
Jurnal Online Psikogenesis Vol 6, No 2 (2018): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jps.v6i2.703
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan apakah pelatihan bersyukur dapat meningkatkan subjective well-being pada remaja di panti asuhan. Penelitian diadakan dari Februari hingga Juli 2017 yang diadakan di Panti Asuhan Ar-Riyadhul Jannah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pra-eksperimen dengan One-Group Pretest-Posttest Design. Subjek berjumlah 7 peserta yang ditentukan dengan cara Accidental Sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi, wawancara serta instrumen Kesejahteraan Subyektif yang terdiri dari SWLS dan SPANE. Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon. Berdasarkan hasil analisis data, nilai diperoleh dari z SWLS = -2,375; z SPANE = -2.214; p SWLS = 0,018 0,05; p SPANE = 0,027; p 0,05 (signifikan), yang artinya bahwa pelatihan rasa syukur efektif untuk meningkatkan kesejahteraan subjektif pada remaja di panti asuhan. Hasil ini dapat ditindak lanjuti oleh pihak panti asuhan Ar-Riyaadhul Jannah maupun lembaga-lembaga lainnya di masyarakat yang melibatkan remaja untuk dapat melakukan program pelatihan bersyukur yang dapat meningkatkan subjective well-being.
Hubungan antara Mindful Parenting dengan Gaya Pengasuhan pada Ibu yang Memiliki Anak Usia 3-6 Tahun
Widya Saraswati;
Zulfa Febriani
Jurnal Online Psikogenesis Vol 6, No 2 (2018): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24854/jps.v6i2.704
Anak usia dini (3-6 tahun) berada dalam tahap mengembangkan inisiatif sehingga umumnya tampil dengan penuh energi dan eksplorasi. Hal ini dapat menguras energi emosional ibu sebagai pengasuh utama. Untuk itu, ibu perlu terampil mengelola kondisi emosional dengan tetap merespon anak secara baik dan memerhatikan kebutuhan anak untuk memahami konsteks sosial. Mindfulness dalam pengasuhan (mindful parenting) menerapkan kesadaran penuh dalam konteks pengasuhan yang sedang berlangsung antara ibu dengan anak, sehingga memfasilitasi ibu untuk sabar, menerima, sekaligus memanfaatkan moment yang ada untuk membangun interaksi sehingga dianggap dapat membangun gaya pengasuhan yang positif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara mindful parenting dengan pola asuh pada ibu yang memiliki anak usia 3-6 tahun. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 101 ibu yang dipilih secara incidental di daerah DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan alat ukur Mindfulness in Parenting Questionnaire (MIPQ) dan The Parenting Styles and Dimensions Questionnaire (PSDQ). Data diolah dengan korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menyatakan bahwa, terdapat hubungan positif yang siginifikan antara mindful parenting dengan tipe pola asuh authoritative (r = 0,608 ; p = 0,000 0,05), dan hubungan negative yang signifikan dengan pola asuh authoritarian (r = -0,278 ; p = 0,005 0,05). Sementara, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara mindful parenting dengan tipe pola asuh permissive (r = -0,171; p= 0,087 0, 05). Hal ini menunjukkan bahwa semakin seorang ibu memiliki karakter atau kemampuan pengasuhan yang berkesadaran maka akan semakin memiliki pola asuh yang autorithative. Kesimpulan penelitian perlu mempertimbangkan kondisi sampel yang kurang beragam secara sosiodemografis.