Desa-Kota : Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Pemukiman
Desa-Kota, adalah jurnal perencanaan wilayah, kota, dan permukiman, yang tujuan utamanya adalah untuk memperdalam pemahaman tentang kondisi perkotaan, perdesaan, dan kewilayahan, serta perubahan dan dinamika yang terjadi di area tersebut, baik dari perspektif empiris, teoretis, maupun kebijakan.
Articles
8 Documents
Search results for
, issue
"Vol 2, No 1 (2020)"
:
8 Documents
clear
Kajian Karakteristik Koridor Jalan Slamet Riyadi Sebagai Ruang Interaksi Sosial Kota Surakarta Berdasarkan Teori Good City Form
Silka Azzahra Shafa Aulia;
Galing Yudana;
Istijabatul Aliyah
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v2i1.32648.14-30
Koridor adalah lahan memanjang yang membelah kota/kawasan atau sebuah lorong membentuk fasade bangunan berderet dengan lantai atau ruang kota bergerak dari ruang satu ke ruang lainnya (Wiharnanto dalam (Sumartono, 2003)). Koridor berfungsi sebagai jalan sekaligus wadah berinteraksi (Kurokawa, 1997). Koridor Jalan Slamet Riyadi yang berada di pusat Kota Surakarta terjadi perkembangan aktivitas perkotaan juga berfungsi sebagai ruang interaksi sosial. Adanya keselarasan antara aktivitas masyarakat dengan ruang yang mewadahinya menimbulkan suatu karakteristik yang dapat diamati berdasarkan Teori Good City Form (Lynch, 1981). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik Koridor Jalan Slamet Riyadi sebagai ruang interaksi sosial Kota Surakarta berdasarkan Teori Good City Form. Menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif untuk mengeksplorasi isu dengan pendeskripsian secara detail sehingga didapatkan gambaran mendalam tentang karakteristik koridor jalan berdasarkan Teori Good City Form di lokasi terkait. Pendekatan penelitian dilakukan secara deduktif dengan peneliti akan melakukan penelitian berangkat dari teori mengenai koridor, aktivitas di ruang publik, dan Good City Form Theory untuk terjun ke lapangan melakukan pencarian data yang dibutuhkan. Koridor Jalan Slamet Riyadi memenuhi kriteria bentuk yang baik sebagai ruang interaksi Kota Surakarta berdasarkan Teori Good City Form, juga memiliki karakteristik fisik (physical characteristic) dan karakteristik spasial (spatial characteristic) yang berbeda dari jalan perkotaan lainnya. Karakteristik fisik berupa jalan besar yang membelah pusat Kota Surakarta dengan pembagian jalur lalu lintas yang beragam mulai dari jalur lambat untuk becak dan sepeda, jalur kendaraan bermotor berdampingan dengan rel kereta api aktif, dan citywalk sebagai jalur pejalan kaki dengan dilengkapi deretan bangunan untuk perdagangan dan jasa serta pepohonan rindang. Sedangkan karakteristik spasial berupa jalan perkotaan yang memiliki nilai sejarah diantaranya sebagai pembatas daerah kekuasaan antara Keraton Kasunanan dan Keraton Mangkunegaran serta memiliki peranan sangat penting bagi Kota Surakarta selain sebagai penghubung menuju pusat Kota Surakarta, juga menjadi wadah penyelenggaraan beragam aktivitas bagi masyarakat juga event tahunan Kota Surakarta.Kata kunci: Karakteristik; Koridor Jalan Slamet Riyadi; Ruang Interaksi Sosial; Teori Good City Form
Pengaruh Pertumbuhan Penduduk dan Penggunaan Lahan terhadap Kualitas Air
Muhammad Arwanda Agam Noeraga;
Galing Yudana;
Paramita Rahayu
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v2i1.17058.70-85
Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang, ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Provinsi (KSP) Jawa Barat dengan arahan prioritas pada bidang lingkungan hidup berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Barat tahun 2009-2029. Selain itu, Jatinangor juga memiliki arahan prioritas pada bidang lingkungan dan sosial berdasarkan RTRW Kabupaten Sumedang tahun 2011-2031. Jatinangor mengalami peningkatan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan guna lahan terbangun yang pesat, serta permasalahan lingkungan terkait air bersih yakni penurunan muka sumber air tanah, pencemaran air tanah, dan penurunan debit sumber air baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Pembahasan pada penelitian ini terkait dampak pertumbuhan penduduk dan perubahan guna lahan terhadap kualitas air bersih rumah tangga di Jatinangor. Komponen yang dibahas dalam penelitian ini meliputi laju pertumbuhan penduduk; kepadatan penduduk; peningkatan lahan terbangun; intensitas pemanfaatan lahan; kebijakan tata guna lahan; perkembangan kondisi air bersih; pengelolaan pemenuhan air bersih; dan kualitas air bersih rumah tangga berdasarkan persepsi masyarakat. Penelitian ini menggunakan data primer berupa observasi lapangan dan kuesioner; serta data sekunder. Teknik analisis yang digunakan adalah statistik deskriptif, skoring, dan spatial overlay. Jatinangor mengalami peningkatan kepadatan penduduk dan perubahan guna lahan terbangun yang tinggi dari guna lahan non terbangun seperti kebun/ladang/sawah menjadi guna lahan terbangun seperti permukiman, industri tekstil, dan sarana/prasarana selama dua tahun terakhir (2014-2016). Sementara itu, Jatinangor juga mengalami permasalahan penurunan muka air tanah, pencemaran air tanah, dan penurunan debit sumber air PDAM. Dari penilaian persepsi masyarakat Jatinangor terhadap kualitas air bersih rumah tangga dapat diketahui bahwa kualitas air bersih rumah tangga menurun dan kurang memadai untuk kebutuhan sehari-hari.
Overview: Faktor Pendorong Terjadinya Keterkaitan Kota-desa dari Segi Pergerakan Orang antara Kota Mojokerto dengan Wilayah Peri-urban di Kabupaten Mojokerto
Belinda Ulfa Aulia
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v2i1.39267.58-69
Kota Mojokerto sebagai wilayah perkotaan yang memiliki kelengkapan fasilitas pelayanan serta Kabupaten Mojokerto yang memiliki potensi dalam bidang pertanian dan perindustrian. Masyarakat melakukan pergerakan hingga keluar dari wilayah tempat tinggalnya, yaitu pergerakan dari desa ke kota maupun sebaliknya untuk memenuhi kebutuhannya. Hal ini menyebabkan beberapa masalah mulai bermunculan. Salah satunya terjadi kepadatan volume kendaraan pada beberapa ruas jalan. Pada penelitian ini memiliki tujuan untuk mengidentifkasi faktor-faktor pendorong terjadinya keterkaitan kota-desa antara Kota Mojokerto dengan wilayah peri urban di Kabupaten Mojokerto. Faktor-faktor tersebut dapat digunakan dalam perumusan arahan dalam program pembangunan terkait pola pergerakan penduduk dari desa ke kota dan dari kota ke desa yang terjadi secara masif maupun tidak masif. Pada penelitian ini menggunakan analisis klaster JMP untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong terjadinya keterkaitan kota-desa antara Kota Mojokerto dengan wilayah peri urban di Kabupaten Mojokerto. Dari analisis tersebut, dapat diketahui bahwa terdapat beberapa faktor yang menjadi pendorong keterkaitan kota-desa dalam konteks pergerakan orang. Faktor yang mendorong pergerakan orang dari desa ke kota adalah keinginan masyarakat untuk mencari hiburan/rekreasi; ketersediaan fasilitas perbelanjaan atau rekreasi; kualitas pelayanan sarana; adanya peluang usaha; biaya hidup yang rendah; dan kemudahan menjangkau sarana. Sedangkan untuk faktor yang mendorong terjadinya pergerakan manusia dari kota ke desa adalah kualitas pelayanan sarana; biaya hidup yang rendah; keinginan masyarakat utnuk mencari hiburan; ketersediaan fasilitas perbelajaan atau rekreasi; adanya relasi/hubungan sosial; adanya peluang usaha; dan kemudahan menjangkau sarana. Faktor-faktor tersebut secara general termasuk dalam hubungan sosial ekonomi.
Perubahan Sentra Industri Kerajinan Batik Laweyan dalam Mendukung Kota Surakarta sebagai Kota Kreatif Desain
Ellyas Arini Wanda Rachmanto;
Winny Astuti;
Rufia Andisetyana Putri
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v2i1.31280.86-99
Kota Surakarta ditetapkan menjadi kota kreatif desain pada tahun 2013 oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dengan dibentuknya SCCN (Solo Creative City Network) untuk di ajukan ke UNESCO sebagai salah satu kota kreatif di Indonesia. Kota kreatif desain memfokuskan pada kegiatan industri kerajinan yang mengunakan desain untuk menciptakan sebuah karya. Kota kreatif desain memiliki komponen dasar yaitu ekonomi, lingkungan, dan komunitas kreatif. Di Kota Surakarta terdapat 21 industri kreatif yang terbagi menjadi industri kreatif kuliner, seni pertunjukan, dan kerajinan. Industri kerajinan batik Laweyan merupakan industri kerajinan batik tertua di Kota Surakarta dan masih aktif hingga sekarang, sudah banyak mengalami pasang surut, serta tidak dapat dilepaskan pada perkembangan Kota Surakarta. Tujuan pada penelitian ini adalah untuk melihat perubahan dari sentra industri kerajinan batik di Kampung Batik Laweyan yang mendukung Kota Surakarta sebagai kota kreatif desain. Penelitian ini menggunakan analisis perubahan yaitu analisis Signed Rank Wilcoxon, dimana data yang dimasukan pada anlisis ini adalah data dari hasil rekap kuisioner yang pada definisi operasional dan menggunakan aplikasi SPSS. Analisis Signed Rank Wilcoxon dapat melihat perubahan serta nilai perubahan pada setiap komponen sentra industri kerajinan batik, sehingga dari analisis Wilcoxon ini dapat terlihat signifikansi perubahan. Selain itu penelitian ini juga menggunakan analisis deskriptif naratif untuk memberikan informasi lebih detail tentang perubahan yang terjadi di Kampung Batik Laweyan sesuai dengan komponen sentra industri kerajinan yang dapat mendukung Kota Surakarta sebagai kota kreatif desain. Perubahan yang terjadi pada komponen sentra industri kerajinan ini akan mendukung kota kreatif desain, apabila perubahan mengarah ke positif maka akan mendukung kota kreatif desain dan sebaliknya. Terdapat 2 komponen di sentra industri kerajinan Kampung Batik Laweyan yang tidak mengalami perubahan dan tidak dapat mendukung kota kreatif desain yaitu sarana edukasi dan perluasan pangsa pasar. Sehingga dapat direkomendasikan untuk pengembangan kawasan Kampung Batik Laweyan dengan pada sarana prasarana dan perluasan pangsa pasar.
Tingkat Kesiapan Kota Surakarta sebagai Kota Nyaman Bersepeda
Tities Amrihtasari Suryono;
Paramita Rahayu;
Erma Fitria Rini
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v2i1.32260.100-116
Kota Surakarta merupakan kota menengah yang terus berkembang dengan total kendaraan bermotor sebanyak 85% dari total jumlah penduduk. Pemerintah Kota Surakarta saat ini mengalami kemacetan di banyak titik. Salah satu upaya untuk mengurangi kemacetan adalah dengan ditetapkannya Kota Surakarta sebagai kota nyaman bersepeda. Dalam kota nyaman bersepeda dibutuhkan integrasi antar aspek yaitu kebijakan dan kelembagaan, luas wilayah, jumlah penduduk kota, bentuk kota, infrastuktur yang dibagi menjadi jalur dan pakir sepeda, perbandingan pemilihan moda transportasi, dan sosial kebudayaan bersepeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesiapan Kota Surakarta sebagai kota nyaman bersepeda dan juga mengetahui tingkat kepentingan dari variabel kota nyaman bersepeda di Kota Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan dua tahap analisis (1) analisis deskriptif untuk mengetahui kesiapan Kota Surakarta sebagai kota nyaman bersepeda yang dinilai pada setiap variabelnya (2) teknik Analytical Hierarchy Process (AHP) yang digunakan untuk memutuskan variabel mana yang mempunyai tingkat kepentingan tertinggi ke terendah terhadap kesiapan kota nyaman bersepeda. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel yang siap dalam konteks kota nyaman bersepeda adalah jumlah penduduk dan luas wilayah. Urutan prioritas variabel kota nyaman bersepeda di Kota Surakarta menurut para pelaku utama adalah jaringan/ jalur sepeda, kebijakan dan kelembagaan, perbandingan pemilihan moda, sosial kebudayaan bersepeda, parkir sepeda, bentuk kota, jumlah penduduk, dan urutan terakhir adalah luas wilayah.
Kesiapan Aksesibilitas Jalur Pedestrian Kawasan Transit Terminal Tirtonadi, Kota Surakarta Berdasarkan Konsep Transit Oriented Development (TOD)
Andindita Aulia Dewi;
Soedwiwahjono Soedwiwahjono;
Kuswanto Nurhadi
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v2i1.31548.31-44
Transit Oriented Development (TOD) merupakan konsep ruang kota yang berorientasi pada pejalan kaki dan pengguna transportasi publik. Salah satu klasifikasi area TOD ialah kawasan transit, kawasan dengan stasiun transit dan penggunaan lahan yang mendorong aktivitas transit. Kota Surakarta merupakan salah satu kota yang menerapkan konsep TOD dalam pengembangan kawasan. Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan RI menetapkan Terminal Tirtonadi sebagai kawasan transit dengan konsep TOD. Konsep TOD menekankan pentingnya berjalan kaki yang ditunjang dengan adanya jalur pedestrian. Jalur pedestrian berguna untuk meningkatkan aksesibilitas di kawasan transit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesiapan aksesibilitas jalur pedestrian di kawasan transit Kota Surakarta berdasarkan Konsep TOD. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menjabarkan variabel menjadi indikator-indikator terukur. Penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif serta teknik analisis skoring dan deskriptif. Data dalam penelitian diperoleh melalui observasi. Hasil perhitungan skoring menunjukan bahwa tingkat kesiapan tiap variabel berbeda-beda dan menunjukan bahwa aksesibilitas jalur pedestrian di kawasan transit Terminal Tirtonadi berdasarkan konsep TOD tergolong belum siap, dengan tiga kriteria kesiapan tergolong tidak siap, tiga kriteria lainnya tergolong belum siap dan dua kriteria tergolong siap. Beberapa faktor yang mempengaruhi kesiapan tersebut berasal dari aspek stakeholder dan rencana.
Integrasi Kawasan Industri Millennium Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang dengan Wilayah Sekitar Menuju Kota Industri
Kokoh Widyastoro;
Paramita Rahayu;
Erma Fitria Rini
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v2i1.31744.1-13
The Government of Tangerang Regency has a plan to develop an industrial city in Tangerang Regency. An industrial city is an integrated city that combines industrial estates, residential areas, and commercial areas with a high concentration of population activities. The development of industrial city has several elements that need to be integrated including the separation of industrial land use, land-use connectivity, accessibility, infrastructure and settlements in the surrounding industrial estate. The Millennium industrial estate is the largest industrial estate which develops in central area of Tangerang Regency. The purpose of this study is to what extent the Millennium industrial Estate is integrated with surrounding areas towards fulfilling the concept of industrial city. This research uses quantitative methods using descriptive analysis with Guttman Scale. The analyzes are performed on each sub-variable supported by space syntax analysis, GIS and VCR analysis to confirm the value into Guttman Scale. The results of the analysis showed that the Millennium industrial estate has been integrated in terms of land use planning, accessibility, availability of public green space, and industrial infrastructures. While the elements of availability of industrial separation zones, connectivity and location of settlements are still not integrated Based on the theory, issues and analysis, the results obtained that the integration of the Millennium industrial Estate with the surrounding areas has fulfilled 50% of requirements to develop an integrated industrial city.
Kesiapan Sosial Kampung Cibunut sebagai Kampung Kreatif Berwawasan Lingkungan
Shifa Nurul Indah Pertiwi;
Winny Astuti;
Hakimatul Mukaromah
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v2i1.32514.45-57
Kota Bandung terpilih menjadi salah satu kota kreatif dari UNESCO. Kampung kreatif adalah salah satu bagian dari penerapan kota kreatif. Kampung Cibunut diresmikan menjadi kampung kreatif yang berwawasan lingkungan pada tahun 2017. Kampung Cibunut membutuhkan waktu sekitar 3 tahun untuk diresmikan sebagai kampung kreatif berwawasan lingkungan. Sedangkan, di sisi lain, beberapa kampung yang menerapkan konsep berwawasan lingkungan membutuhkan waktu minimal 5 tahun untuk diresmikan atau mendapatkan penghargaan yang berkaitan dengan berwawasan lingkungan. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat tingkat kesiapan sosial dari Kampung Cibunut sebagai kampung kreatif berwawasan lingkungan. Penelitian ini menggunakan analisis skoring. Tingkat kesiapan dibagi menjadi 3, yakni tidak siap, cukup siap, dan siap. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa kondisi sosial Kampung Cibunut tergolong cukup siap dalam menjadi kampung kreatif berwawasan lingkungan. Dari hasil analisis dapat dilihat bahwa tingat kemampuan masyarakat dalam hal berwawasan lingkungan tergolong tinggi, selain itu kelembagaan di Kampung Cibunut juga cukup baik dalam mendukung kampung kreatif berwawasan lingkungan.