cover
Contact Name
dentin
Contact Email
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Dentin
ISSN : 26140098     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Dentin [e-issn: 2614-0098] merupakan terbitan berkala ilmiah tugas akhir berbahasa Indonesia berisi artikel penelitian dan kajian literatur tentang kedokteran gigi. Kontributor Dentin adalah kalangan akademisi (dosen dan mahasiswa). Dikelola oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Lambung Mangkurat dan terbit 3 (tiga) kali setahun setiap April, Agustus dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 249 Documents
EFEKTIVITAS DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL DAUN KERSEN DIBANDINGKAN KLORHEKSIDIN GLUKONAT 0,2% TERHADAP Staphylococcus aureus (Penelitian In Vitro pada Plat Resin Akrilik Tipe Heat Cured) Moehammad Rezaldi Panesa; Debby Saputera; Lia Yulia Budiarti
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACK                Bakcground: Cherry leaf (Muntingia calabura linn) has an active substance that can inhibit Staphylococcus aureus growth and can use alternative to denture cleanser on a plate heat cured type of acrylic resine. 0,2%  chlorhexidine gluconate is often used for denture cleanser but causes tooth discolorition. Purpose: This  research is to analyze inhibition effectivity of cherry leaf extract with concentration 5%, 7,5% and  0,2% chlorhexidine gluconate to Staphylococcus aureus growth on acrylic resine plate type of  heat cured. Methods: Experimental research use post-test only with control group design. 27 acrylic resine plate type of heat cured samples were divided into 3 groups (cherry leaf extract 5%, 7,5% and 0,2% chlorhexidine gluconate). Data analyse use One Way ANOVA test and continued with Post Hoc Benferroni test in confidence level of 95% (P<0,05).  Result: This result showed inhibition zone of cherry leaf extract 5%, 7,5% and 0,2% chlorhexidine gluconate are 13,34 mm, 16,35 mm and 27,32 mm. One Way ANOVA test showed that there are significant differences between the effectivity of the inhibition zona of cherry leaf extract with concentration 5%, 7,5% and 0,2% chlorhexidine gluconate. Conclusion: There are differences in the effectivity of cherry leaf compared with 0,2% chlorhexidine gluconate to Staphylococcus aureus on resine acrylic type of heat cured. Inhibition effectivity of cherry leaf extract with concentration  7,5% greater than 5%, but ts still smaller than 0,2% chlorhexidine gluconate. ABSTRACK                        Latar Belakang: Daun kersen (Muntingia Calabura linn) memiliki zat aktif yang mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dan dapat digunakan sebagai alternatif pembersih gigi tiruan. Klorheksidin glukonat 0,2% sering digunakan untuk pembersihan gigi tiruan dapat menyebabkan perubahan warna pada gigi asli maupun buatan. Tujuan: penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas daya hambat ekstrak daun kersen konsentrasi 5%, 7,5%, dengan klorheksidin glukonat 0,2% terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus dalam perendaman plat resin akrilik tipe heat cured. Metode: Penelitian eksperimental menggunakan rancangan post-test only with control group design. Sampel berjumlah 27 plat akrilik heat cured dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan (ekstrak daun kersen 5%, ekstrak daun kersen 7,5%, dan klorheksidin glukonat 0,2%). Analisis data menggunakan uji One Way ANOVA dan dilanjutkan uji Post Hoc Benferroni dengan tingkat kepercayaan 95% (P<0,05). Hasil: perlakuan ekstrak daun kersen konsentrasi 5% dan 7,5% ini menunjukkan zona hambat secara berurutan 13,34mm dan 16,35mm dan zona hambat klorheksidin glukonat 0,2% sebesar 27,32mm. Uji One Way ANOVA menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara efektivitas daya hambat ekstrak daun kersen konsentrasi 5%, 7,5%, dan klorheksidin glukonat 0,2%. Kesimpulan: terdapat perbedaan efektivitas daun kersen dibandingkan klorheksidin glukonat 0,2% terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus dalam perendaman plat resin akrilik tipe heat cured. Efektivitas daya hambat ekstrak daun kersen 7,5% lebih besar dibandingkan 5% tetapi masih lebih kecil dibandingkan klorheksidin glukonat 0,2%.
PENGARUH SINAR RADIASI TERHADAP KALSIUM SALIVA PADA RADIOGRAFER DI BANJARMASIN Nurfarahin Ajani; Bayu Indra Sukmana; Isyana Erlita
Dentin Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Radiasi sering digunakan dalam bidang kedokteran terutama untuk terapi dan pemeriksaan penunjang. Radiografer merupakan pekerja yang mengoperasikan seluruh kegiatan di Instalasi Radiologi untuk terapi maupun pemeriksaan penunjang. Radiasi dapat memberikan efek samping pada radiografer terutama pada saliva. Kalsium dalam saliva memegang peran penting dalam proses remineralisasi gigi untuk mengurangi resiko karies. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh radiasi terhadap kalsium saliva pada radiografer di Banjarmasin. Metode: Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian eksperimental murni (True Experimental) dengan rancangan post test only with control group design. Teknik pengambilan sampel penelitian menggunakan simple random sampling. Penelitian ini melibatkan 18 orang radiografer untuk kelompok uji dan 18 orang non-radiografer untuk kelompok kontrol, sehingga total sampel yang digunakan adalah 36 sampel. Hasil: Nilai rata-rata kalsium saliva untuk kelompok uji adalah 4,13 mg/dl dan kelompok kontrol adalah 6,17 mg/dl. Hasil uji parametrik uji T tidak berpasangan didapatkan p=0,000 (p<0,05) dan didapatkan bahwa kalsium saliva radiografer lebih rendah dibandingkan dengan kalsium saliva non-radiografer. Kesimpulan: Terdapat perbedaan kadar antara kalsium saliva radiografer dan kalsium saliva non-radiografer.Kata kunci: kalsium saliva, radiasi, radiografer
PERBANDINGAN NILAI KEKASARAN PERMUKAAN RESIN TERMOPLASTIK POLIAMIDA YANG DIRENDAM LARUTAN SODIUM HIPOKLORIT DAN ALKALIN PEROKSIDA Andreas Winardhi; Debby Saputra; Dewi Puspitasari
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT  Background: Thermoplastic polyamide resin or nylon is known to be used as a denture base because it has advantages that the color matches the gums, flexible and biocompatibility. Denture materials are related to denture cleanser include sodium hypochlorite and alkaline peroxide. Purpose: To compare the change in  the value of surface roughness of thermoplastic polyamide resin soaked in a solution of sodium hypochlorite and alkaline peroxide. Method: This study was purely experimental research design with post-test only with control group design. The samples used in the study is a thermoplastic polyamide resin square plate 20x20x3 mm based on the specifications of the ADA (American Dental Association) no.12. The samples were divided into three groups: The first treatment group is soaked in sodium hypochlorite, the second treatment group were soaked in alkaline peroxide and a third treatment group were soaked in distilled water. All treatment groups were soaked for 6 days and on sixth day roughness was measured. Result: Roughness measurements obtained the average value of roughness of thermoplastic polyamide resin roughness after immersion sodium hypochlorite (0.550 ± 0.024) was higher than alkaline peroxide (0.346 ± 0.018) and distilled water as a control (0.255 ± 0.013). This is due to changes in the structure and physical properties of the thermoplastic resin, resulting in increased surface roughness. The results of the analysis of all the group treated with post-hoc LSD test obtained P = 0.000 (P <0.005), then there is a significant difference between sodium hypochlorite with distilled water, alkaline peroxide with distilled water and sodium hypochlorite with alkaline peroxide. Conclusion: the value of the surface roughness soaked in sodium hypochlorite higher than alkaline peroxide and distilled water after 6 days.  Keywords: Alkaline Peroxide, Sodium Hypochlorite, Surface Roughness, Thermoplastic Polyamide Resin  ABSTRAK  Latar belakang:Resin termoplastikpoliamida atau dikenal dengan nilon digunakan sebagai bahan basis gigi tiruan, karena memiliki beberapa kelebihan yaitu warnanya sesuai dengan warna gusi, fleksibel dan biokompatibilitas. Bahan gigi tiruan berhubungan dengan bahan pembersih antara lain sodium hipoklorit dan alkalin peroksida. Tujuan:Untuk membandingkan perubahan nilai kekasaran permukaan resin termoplastik poliamida yang direndam dalam larutan sodium hipoklorit dan alkalin peroksida. Metode: yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimental murni dengan rancangan post-test only with control group design. Sampel yang digunakan dalam penelitian adalah plat resin termoplastikpoliamida yang berbentuk persegi 20x20x3 mm berdasarkan spesifikasi ADA (American Dental Association) no.12. Sampel dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok perlakuan pertama yang direndam sodium hipoklorit,  kelompok perlakuan kedua yang direndam alkalin peroksida dan kelompok perlakuan ketiga yang direndam akuades. Semua kelompok perlakuan direndam selama 6 hari dan pada hari ke 6 dilakukan pengukuran kekasaran permukaan. Hasil: Pengukuran kekasaran didapatkan rerata nilai kekasaran termoplastik poliamida dengan perendaman sodium hipoklorit 6 hari (0,550 ± 0,024) lebih tinggi dibandingkan alkalin peroksida (0,346 ± 0,018) dan akuades sebagai kontrol (0,255 ± 0,013). Hasil analisis semua kelompok perlakuan denga nuji post-Hoc LSD didapatkan P=0,000 (P<0,005) maka terdapat perbedaan bermakna antara sodium hipoklorit dengan akuades, alkalin peroksida dengan akuades dan sodium hipoklorit dengan alkalin peroksida. Kesimpulan: dari penelitian adalah terdapat perbandingan nilai kekasaran permukaan yang direndam dalam sodium hipoklorit alkalin peroksida dan akuades setelah 6 hari.  Kata-kata Kunci: Alkalin Peroksida, Kekasaran Permukaan, Sodium Hipoklorit, Resin Termoplastik Poliamida
DAYA HAMBAT EKSTRAK BAWANG DAYAK (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Lactobacillus acidophilus Nadalia Malika Bilqis; Isyana Erlita; Deby Kania Tri Putri
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Lactobacillus acidophilus is bacteria which causes the advanced caries if it is ignored which will infect another tissue. Bawang dayak is a plant that is used as a traditional medicine which can inhibit the Lactobacillus acidophilus because it has compounds such as flavonoid, alkaloid, glycoside, phenolic, quinones, steroid, essential oils, and tannin. Purpose: The purpose of conducting this study is to find out the resistivity zone from Lactobacillus acidophilus after giving the bawang dayak extract of various concentrations. Method: This study applies a true experimental with posttest only with control group design with six treatment groups which are bawang dayak extract with the concentration of 20 mg/ml, 40 mg/ml, 60 mg/ml, 80 mg/ml, K(-) aquadest, and K(+) 2% of chlorhexidine digluconate. Maceration method is used to extract bawang dayak while diffusion method is used to test the resistivity and to measure the resistivity zone. Result: The result of the test that shows bawang dayak extract with the concentration of 20 mg/ml, 40 mg/ml, 60 mg/ml, and 80 mg/ml are obtained the average number of resistivity zone to 9,36 mm, 11,45 mm, 14,47 mm, 20,30 mm, and chlorhexidine digluconateis 15,33 mm. The data analysis of one-wayAnova and post-hoc LSD are obtained at (p<0.05) of bawang dayak extract which means that there is meaningful different to each treatment group. Conclusion: The resistivity zone of bawang dayak extract is higher than the positive control group which is 2% of chlorhexidine digluconate towards the growth of Lactobacillus acidophilus. ABSTRAKLatar belakang: Lactobacillus acidophilus merupakan bakteri pencetus karies lanjut yang apabila dibiarkan akan menginfeksi jaringan lainnya. Bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) merupakan tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional yang dapat menghambat Lactobacillus acidophilus dikarenakan memiliki senyawa flavonoid, alkaloid, glikosida, fenolik, kuinon, steroid, minyak atsiri dan tannin. Tujuan: Mengetahui zona hambat dari bakteri Lactobacillus acidophilus setelah diberikan ekstrak bawang dayak dengan berbagai konsentrasi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan post test only with control group design dengan 6 kelompok perlakuan,  yaitu ekstrak bawang dayak konsentrasi 20 mg/ml, 40 mg/ml, 60 mg/ml, 80 mg/ml, kontrol K(-) aquadest dan K(+) klorheksidin diglukonat 2%. Metode maserasi digunakan untuk mengekstraksi bawang dayak sedangkan uji daya hambat menggunakan metode difusi dan pengukuran zona hambat. Hasil: Hasil dari pengujian menunjukkan bahwa ekstrak bawang dengan konsentrasi 20 mg/ml, 40 mg/ml, 60 mg/ml, 80 mg/ml didapatkan rerata zona hambat 9,36 mm, 11,45 mm, 14,47 mm, 20,30 mm, dan klorheksidin diglukonat sebesar 15,33 mm. Analisis data One Way Anova diperoleh
COVER, DAFTAR ISI Vol.2 No.1 april 2018 dentin FKG ULM
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PERBANDINGAN DAYA HAMBAT EKSTRAK BAWANG PUTIH DENGAN SODIUM HIPOKLORIT TERHADAP Streptococcus mutans PADA PLAT AKRILIK Davi’ Qowiyul Ali; Debby Saputera; Lia Yulia Budiarti
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT  Background: Garlic (Allium sativum) is one of  medical plants has antibacterial activity by allicin, so garlic can be used as an alternative material for denture cleanser. Purpose This research to analyze the comparation inhibition of garlic extract and sodium hypochlorite to  Streptococcus mutans growth on heat cured acrylic plate. Methods: This research is true  experimental design with post-test only with control group design. Eight acrylic plate is size 10mm x 10mm x 2mm were divided into eight groups consist of six groups of garlic extract (3%, 4%, 5%, 6%, 7%, 8%) and two control groups (sodium hypochlorite 0.5%, aquadest). The total of repetitions of each group was 5 repetitions. Inhibition testing use the diffusion method. Results: The results showed that garlic extract with the highest inhibition of diameter zone is the 8% concentration (16.47mm) and the lowest inhibition of diameter zone is the 5% concentration (12.24mm). Sodium hypochlorite as a positive control has inhibition  of diameter zone is 10.48mm. the analyze data  is  One Way ANOVA statistical test with a confidence level of 95% shows that the value of P=0.000 (p<0.05) there are significantly different inhibition activity of garlic extract with sodium hypochlorite 0.5% to Streptococcus mutans growth. Conclusion: The conclusion of this research is a comparison of the inhibition activity of garlic with sodium hypochlorite 0.5% to Streptococcus mutans growth on acrylic plate. Extracts of garlic have higher inhibition effect than the sodium hypochlorite to Streptococcus mutans bacteria in heat cured acrylic plate.  Keywords: garlic extract, Streptococccus mutans, acrylic plate, diffusion method   ABSTRAK  Latar Belakang: Bawang putih (Allium sativum) adalah salah satu tanaman obat yang memiliki aktivitas antibakteri oleh allicin, sehingga bawang putih digunakan sebagai bahan alternatif denture cleanser. Tujuan: Penelitian ini menganalisis perbandingan daya hambat ekstrak bawang putih konsentrasi 3%, 4%, 5%, 6%, 7%, 8% dengan sodium hipoklorit 0,5% terhadap pertumbuhan  Streptococcus mutans pada plat akrilik heat cured. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental labolatoris murni dengan post test only with control group design. Delapan plat akrilik ukuran 10mm x 10mm x 2mm dibagi delapan  kelompok perlakuan yang terdiri dari 6 kelompok ekstrak bawang putih konsentrasi 3%, 4%, 5%, 6%, 7%, 8% dan 2 kelompok kontrol (Sodium hipoklorit 0,5% dan aquadest). Jumlah pengulangan setiap perlakuan adalah 5 kali pengulangan. Pengujian zona hambat mengunakan metode difusi. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bawang putih dengan diameter zona hambat tertinggi adalah konsentrasi 8% (16.47mm) dan diameter zona hambat terendah adalah konsentrasi 5% (12.24mm). Sodium hipoklorit sebagai kontrol positif memiliki zona hambat 10.48mm. Analisis data dengan uji statistik One Way ANOVA dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukan nilai P=0,000 (P< 0,05) terdapat perbedaan bermakna daya hambat ekstrak bawang putih dengan sodium hipoklorit 0,5% terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans. Kesimpulan: Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbandingan daya hambat ekstrak bawang putih dengan sodium hipoklorit 0,5% terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans pada plat akrilik. Ekstrak bawang putih konsentrasi 3%, 4%, 5%, 6%, 7% dan 8% memiliki daya hambat yang lebih tinggi dibandingkan dengan sodium hipoklorit 0.5% terhadap bakteri Streptococcus mutans pada plat akrilik heat cured.   Kata-kata kunci: ekstrak bawang putih (allium sativum), Streptococcus mutans, plat akrilik, metode difusi
PERBANDINGAN DAYA LENTING TERHADAP JARAK POSISI KOIL PEGAS JARI DARI BASIS AKRILIK Tara Syifa Hisanah; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan; Diana Wibowo
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Orthodontic treatment is one of the main dental to fix malocclusion. Treatment in orthodontic needs is divided into fixed and removable appliances. finger spring is components on a removable appliances that can. Wire length, wire diameter and spacing position of the coil on spring finger, can influence resilience. The length of the wire can be extended with the addition of a coil to obtain a more effective resilience. Purpose: Analyze the comparative resilience of the spring coil position finger with a distance of 2 mm, 8 mm and 14 mm from the base acrylic. Method: This study is a pre-experimental design with one shoot study design. This study uses a simple random sampling consisting of 3 treatment groups that spring coil position finger with a distance of 2 mm, 8 mm and 14 mm of acrylic base with a wire diameter of 0.6 mm and 3 mm diameter coil. Results: Data Do Shapiro-Wilk test and Levene's test to obtain normally distributed data and homogeneous. Data were analyzed using parametric tests One Way ANOVA p value = 0.000 (p <0.05), which showed a significant difference in the resilience of the most effective is the treatment group with a finger spring coil position 8 mm distance of 39.1 g / mm2. Conclusion: Based on the results of research can be concluded that there is a comparison of the resilience of the coil spring finger position distance of acrylic base.  Key words : Resilience, Distance Of Coil Position, Finger Spring.  ABSTRAKLatar Belakang: Perawatan ortodonti adalah salah satu perawatan untuk memperbaiki maloklusi gigi. Alat yang digunakan dalam perawatan ortodonti terbagi menjadi peranti cekat dan peranti lepasan. Peranti lepasan mempunyai komponen yang dapat menghasilkan pergerakan gigi salah satunya adalah pegas jari. Jarak posisi koil pada pegas jari, panjang kawat dan diameter kawat dapat mempengaruhi daya lenting. Panjang kawat  dapat diperpanjang dengan penambahan koil untuk mendapatkan daya lenting yang lebih efektif. Tujuan: Untuk menganalisis perbandingan daya lenting pada pegas jari dengan jarak posisi koil 2 mm, 8 mm dan 14 mm dari basis akrilik. Metode: Penelitian pre eksperimental dengan rancangan one shoot study design. Penelitian ini menggunakan simple random sampling yang terdiri dari 3 kelompok perlakuan yaitu pegas jari dengan jarak posisi koil 2 mm, 8 mm dan 14 mm dari basis akrilik dengan diameter kawat 0,6 mm dan diameter koil 3 mm. Hasil: Dilakukan uji data Shapiro-wilk dan Levene’s test sehingga didapatkan data terdistribusi normal dan homogen. Data dianalisis  menggunakan uji parametrik One Way Anova didapatkan nilai p = 0,000 (p < 0,05)  yang menunjukkan adanya perbedaan bermakna dan daya lenting paling efektif  yaitu pada kelompok perlakuan pegas jari dengan jarak posisi koil 8 mm sebesar 39,1 gr/mm2. Kesimpulan: Terdapat perbandingan daya lenting terhadap jarak posisi koil pegas jari dari basis akrilik.   Kata-kata kunci: Daya Lenting, Jarak Posisi Koil, Pegas Jari.
PEBANDINGAN JUMLAH KOLONI BAKTERI ANAEROB PADA SALIVA ANAK YANG BERKUMUR DENGAN AIR LAHAN GAMBUT DAN AIR PDAM Eny Febriyanti; Deby Kania Tri Putri; Didit Aspriyanto
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT  Background: Peatland water has an acid pH. The acidicity of peat water supports the growth of bacteria that are asidogenic and asidurik, so can increase the acid conditions in the oral cavity that affect the tooth decay process. Water PDAM comes from river water, which passes through filtration and disinfection steps to become clean water, but these stages do not guarantee the loss of pathogenic bacteria in water. Purpose: Investigate the comparison of anaerobic bacterial colonies on the saliva of a child who rinsed with peat water and PDAM water. Method: This study used quasi experimental method with post test only with control group design. The sample of research consisted of 60 respondents. The research material is saliva from the saliva of children who rinse with peat water and tap water at about 2 ml each. The number of anaerobic bacterial colonies was calculated by TPC  (Total Plate Count) method. Results: This study showed the number of anaerobic bacterial colonies in peatland water as much as 217 CFU / ml while the number of anaerobic bacterial colonies in the water of the PDAM is 133 CFU / ml. Based on independent t-test (0.000) (p <0,05), there was a significant difference between the number of colonies of anaerobic bacteria that rinsed with peat water and PDAM water. Conclusion: The number of colonies of anaerobic bacteria in the saliva of children rinsing with peatland water more than the number of anaerobic bacterial colonies in the saliva of children rinsing with PDAM water.   ABSTRAK  Latar Belakang: Air lahan gambut memiliki pH asam. Sifat asam air gambut mendukung pertumbuhan bakteri-bakteri yang bersifat asidogenik dan asidurik, sehingga mampu meningkatkan kondisi asam pada rongga mulut yang berpengaruh terhadap proses kerusakan gigi. Air PDAM berasal dari air sungai, yang melalui tahapantahapan filtrasi dan desinfeksi untuk menjadi air bersih, akan tetapi tahapan tersebut tidak menjamin hilangnya bakteri-bakteri patogen dalam air. Tujuan: Mengetahui perbandingan jumlah koloni bakteri anaerob pada saliva anak yang berkumur dengan air lahan gambut dan air PDAM. Metode: Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimental dengan rancangan post test only with control group design. Sampel penelitian terdiri dari masingmasing 60 responden. Bahan penelitian diambil dari saliva anak yang berkumur dengan air lahan gambut dan air PDAM masing-masing sebanyak 2 ml kemudian jumlah koloni bakteri anaerob dihitung dengan metode TPC (Total Plate Count). Hasil: Penelitian ini menunjukkan jumlah koloni bakteri anaerob pada air lahan gambut sebanyak 217 CFU/ml sedangkan jumlah koloni bakteri anaerob pada air PDAM sebanyak 133 CFU/ml. Berdasarkan hasil uji independent t-test (0,000)(p<0,05) menunjukkan ada perbedaan yang bermakna antara jumlah koloni bakteri anaerob yang berkumur dengan air lahan gambut dan air PDAM. Kesimpulan: Jumlah koloni bakteri anaerob pada saliva anak yang berkumur dengan air lahan gambut lebih banyak dibandingkan dengan jumlah koloni bakteri anaerob pada saliva anak yang berkumur dengan air PDAM.
PERBANDINGAN JARAK EKSPANSI ANTARA SUHU NORMAL DAN SUHU TINGGI DENGAN MENGGUNAKAN MODIFIKASI MODEL STUDI Monatasia Sijabat; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan; Diana Wibowo
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground:Screws can be used to widen the expansion of the dental arch to the transversal, sagittal, anterior and posterior. Expansion screw has the basic ingredients which are made of metal, metal when heated will undergo expansion process. Purpose: Determine the differences within the maxillary dental arch widening between 37oC and 45oC by using screws expansion modification study models. Methods: This type of research conducted an experimental study of pure (true experimental) with only post-test design with control group design and using simple random sampling consisting of two groups of samples immersion at 37oC and 45oC. How to determine the number of samples that was using Lemeshow formula with the number of each group of 10 samples. Removable orthodontic appliance was installed on the model studies of the upper jaw, then screw the expansion was activated. Next, the sample immersed in a water bath with a temperature setting of 37oC and 45oC for 5 minutes, then do measurement distance widening the maxillary dental arch using a sliding digital caliper. Results: Showed that the samples contained within the widening difference maxillary dental arch between 37oC and 45oC, with an average difference interpremolar one time activation was 0.11 mm, 2 times of activation is 0.23 mm, 3 times activation is 0.35 mm and 4 times the activation is 0.48 mm.Conclusion:Based on the results of research conducted can be concluded that there are differences within the maxillary dental arch widening between 37oC and 45oC by using screws expansion modification study models. Values within the maxillary dental arch widening at 45oC higher than at 37oC.  Key words: temperature, screw expansion, dental arch  ABSTRAKLatarBelakang:Sekrupekspansi dapat digunakan untuk memperlebar lengkung gigi ke arah transversal, sagital, anterior maupun posterior. Sekrup ekspansi memiliki bahan dasar yang terbuat dari logam, apabila logam dipanaskan akan mengalami proses pemuaian.Tujuan:Untukmengetahuiperbedaanjarak pelebaran lengkung gigi rahang atas antara suhu 37oC dan suhu 45oC dengan menggunakan sekrup ekspansi pada modifikasi model studi. Metode: Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental murni (true experimental) dengan rancangan post-test only with control group design dan menggunakan simple random sampling yang terdiri dari dua kelompok yaitu perendaman sampel pada suhu 37oC dan suhu 45oC. Cara menentukan jumlah sampel yaitu menggunakan rumus Lemeshow dengan jumlah masing-masing kelompok sebanyak 10 sampel.  Peranti ortodonti lepasan dipasang pada model studi rahang atas, kemudian sekrup ekspansi diaktivasi. Selanjutnya, sampel direndam di dalam water bath dengan pengaturan suhu sebesar 37oC dan 45oC selama 5 menit, setelah itu dilakukan pengkuran jarak pelebaran lengkung gigi rahang atas menggunakan sliding caliper digital. Hasil: Menunjukkanbahwapadasampelterdapat perbedaan jarak pelebaran lengkung gigi rahang atas antara suhu 37oC dan suhu 45oC, dengan rata-rata perbedaan interpremolar 1 kali aktivasi adalah 0,11 mm, 2 kali aktivasi adalah 0,23 mm, 3 kali aktivasi adalah 0,35 mm dan 4 kali aktivasi adalah 0,48 mm. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat perbedaan jarak pelebaran lengkung gigi rahang atas antara suhu 37oC dan suhu 45oC dengan menggunakan sekrup ekspansi pada modifikasi model studi. Nilaijarakpelebaranlengkunggigirahangataspadasuhu 45oC lebihbesardibandingkanpadasuhu 37oC.  Kata kunci: suhu, sekrup ekspansi, lengkung gigi
DAYA HAMBAT EKSTRAK UBI BAWANG DAYAK (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) TERHADAP PERTUMBUHAN Streptococcus mutans (Studi In Vitro Dengan Metode Difusi) Azilita Ananda; Deby Kania Tri Putri; Sherli Diana
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Karies merupakan penyakit kronis jaringan keras gigi yang salah satunya disebabkan oleh faktor mikroorganisme yaitu bakteri Streptococcus mutans, pertumbuhan bakteri ini dapat dihambat dengan memberikan ekstrak umbi bawang dayak. Umbi bawang dayak   merupakan tumbuhan herbal khas Kalimantan yang berpotensi sebagai alternatif obat kumur. Ekstrak umbi bawang dayak  memiliki kandungan yang bersifat antibakteri salah satunya adalah fenol sebagai kandungan terbesar dengan konsentrasi 34,20% yang dapat merusak sel bakteri  sehingga pertumbuhan Streptococcus mutans menurun dan lisis. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan daya hambat ekstrak umbi bawang dayak konsentrasi 80mg/ml dengan kontrol positif klorheksidin glukonat 0,2% terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans. Metode dan bahan: Rancangan penelitian ini adalah true experimental design dengan post test only with control group. Penelitian ini menggunakan 6 kelompok perlakuan menggunakan sampel bawang dayak dengan metode maserasi dan pengujian aktivitas antibakteri dengan metode difusi.  Hasil penelitian: Nilai rata-rata zona hambat ekstrak umbi bawang dayak konsentrasi 20mg/ml sebesar 11,59 mm, konsentrasi 40mg/ml sebesar 14,39 mm, konsentrasi 60mg/ml sebesar 18,53 mm, konsentrasi 80mg/ml sebesar 23,55 mm, kontrol positif klorheksidin glukonat 0,2%  sebesar 21,39. Uji one-way Anova dan uji Post Hoc LSD menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara setiap kelompok perlakuan. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan daya hambat ekstrak umbi bawang dayak konsentrasi 80mg/ml terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans dengan zona hambat sebesar 23,55 mm dan klorheksidin glukonat 0,2% yang hanya memiliki zona hambat sebesar 21,39 mm. ABSTRACTBackground: Caries is a chronical disease of hard teeth tissue. It is caused by microorganism factor which is Streptococcus mutans bacterium, this bacterai can be inhibited with umbi bawang dayak extract . Umbi bawang dayak is Borneo particular herbal plant which has potential as an alternative to mouthwash. Umbi bawang dayak extracts contain antibacterial which have phenol as the largest content with 34.20% concentration. Purpose: To figure out the resistivity effect of umbi bawang Dayak extract with 20mg/ml, 40mg/ml, 60mg/ml and 80mg/ml concentration towards the growth of Streptococcus mutans. Method and Materials: This study applies a true experimental design with posttest-only with control group. This study takes six groups with 1 kg sampel of umbi bawang dayak using maserasi method and isolate of Streptococcus mutans using diffusion method. The Result of Research: The average number of inhibition zone of umbi bawang dayak extract with 20mg/ml concentration is 11.59mm, 40mg/ml concentration is 14.39mm, 60mg/ml concentration is 18.53mm, 80mg/ml concentration is 23.55mm. The average number of inhibition zone of umbi bawang dayak of chlorhexidine gluconate 0,2% is 21.39, and aquadest is 0.00mm. One-way Anova and Post-Hoc LSD show that there is significant difference between each of the treatment groups. Conclusion: Based on the result of the research, it can be concluded that there is different inhibition effect of umbi bawang dayak extract in 80mg/ml concentration with inhibition zone 23,55 mm and chlorhexidine gluconate 0,2%  with inhibition zone 21,39 mm towards the growth of Streptococcus mutans.

Page 3 of 25 | Total Record : 249