cover
Contact Name
dentin
Contact Email
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Dentin
ISSN : 26140098     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Dentin [e-issn: 2614-0098] merupakan terbitan berkala ilmiah tugas akhir berbahasa Indonesia berisi artikel penelitian dan kajian literatur tentang kedokteran gigi. Kontributor Dentin adalah kalangan akademisi (dosen dan mahasiswa). Dikelola oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Lambung Mangkurat dan terbit 3 (tiga) kali setahun setiap April, Agustus dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 249 Documents
EFEK PERENDAMAN MINUMAN PROBIOTIK TERHADAP DAYA LENTING KAWAT ORTODONTIK LEPASAN STAINLESS STEEL Peniasi Peniasi; Diana Wibowo; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT   Background: Stainless steel orthodontic wire is widely used because have a relatively high durability and ease of use. Resilience is the ability of a wire to move in the direction specified after activation. Factors that can affect the resilience of orthodontic wire in the oral cavity is acid content from probiotic drinks. Probiotic drinks are beverages containing lactic acid bacteria (C3H6O3) that can live in stomach acid. Consuming probiotic drinks can cause the release of nickel ions (Ni) and chromium (Cr) on the wire. Purpose: This study aims to determine changes in resistance of orthodontic stainless steel orthodontic resilience to immersion in probiotic drinks for 13 hours at 37 ° C. Method: The research type was the correct experimental study with pre and post test with control group design consisting of 2 groups, that group of probiotic drinking treatment and saline solution control group. The sample in this study 20 samples divided into 2 groups, and the measurement of resilience using gauge force meter. Result: Research data then analyzed by Independent parametric test (t-test) and Independent test (t-tes) result obtained showed value (p> 0,05). Conclusions: there is no alteration of resilience on stainless steel removable orthodontic wire soaked in probiotic drink after immersion for 13 hours with temperature 37˚C.ABSTRAKLatar belakang: Kawat ortodontik stainless steel merupakan kawat yang banyak digunakan karena memiliki daya lenting relatif tinggi serta pemakaian yang  nyaman. Daya lenting merupakan kemampuan suatu kawat untuk bergerak kearah yang ditentukan setelah dilakukannya aktivasi. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi daya lenting kawat ortodontik dalam rongga mulut yaitu kandungan asam dalam minuman probiotik. Minuman probiotik merupakan minuman yang mengandung bakteri asam laktat (C3H6O3) yang mampu hidup dalam asam lambung. Banyaknya mengkonsumsi minuman probiotik dapat menyebabkan pelepasan ion nikel (Ni) dan kromiun (Cr) pada kawat. Tujuan penelitian: Mengetahui adanya perubahan daya lenting pada kawat ortodontik lepasan stainless steel terhadap perendaman dalam minuman probiotik selama 13 jam dengan suhu 37˚C. Metode dan Bahan: Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian true eksperimental dengan rancangan pre and post test with control group design yang terdiri dari 2 kelompok, yaitu kelompok perlakuan minuman probiotik dan kelompok kontrol larutan salin. Jumlah sampel dalam penelitian ini 20 sampel yang dibagi menjadi 2 kelompok, dan pengukuran daya lenting menggunakan alat gauge force meter. Hasil penelitian: Data penelitian kemudian dianalisis dengan uji parametrik Dependent (t-tes) dan uji Independent (t-tes) hasil yang didapatkan menunjukan nilai (p>0,05 ). Kesimpulan: Tidak terdapat perubahan daya lenting pada kawat ortodontik lepasan stainless steel yang direndam dalam minuman probiotik  setelah dilakukan perendaman selama 13 jam dengan suhu 37º C.
PENERAPAN MANDIBULAR CANINE INDEX METODE RAO DALAM PENENTUAN JENIS KELAMIN PADA SUKU DAYAK BUKIT. Analisa Tingkat Akurasi Elizabeth Rizky Setyorini; Irnamanda D.H; Iwan Aflanie
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Sex identification using dental on individual can be conducted by using morphometric characteristics which can be done by using Canine Index. Mandibular Canine Index value of every population is different, so that it should be done on Dayak Bukit tribe. Purpose: To find out that Mandibular Canine Index of Rao method can be applied to determine Dayak Bukit tribe’s sex. Method: Analytic observational study with cross sectional design, using study model of 70 samples of Dayak Bukit tribe which consist of 35 men and 35 women who then got the measurement of mesiodistal width of right mandibular canine and the distance between mandibular canines. Result: The mean size of  the mesiodistal width of mandibular canines in males is 7.127 mm, and 6.589 mm in women. The mean size of the distance between the mandibular canines is 27.595 mm in men and 26.127 in women. The mean size of Mandibular Canine Index in Dayak Bukit tribe is 0,260 mm in men and 0,253 mm in women. The standard  value of Mandibular Canine Index in Dayak Bukit tribe is 0,253 mm. The percentage of sex determination conformity is 91.4%. Result of the study were analysed using Chi Square test with p>0,05 indicates no significant differences sex based on Mandibular Canine Index and sex based on personal data. Conclusion: Based on this research, it can be concluded that the Mandibular Canine Indexof Rao method can be applied to determine Dayak Bukit tribe’s sex. Key words: Mandibular Canine Index, Sex Determination  ABSTRAKLatar Belakang: Identifikasi jenis kelamin menggunakan gigi pada individu salah satunya dilakukan dengan menggunakan metode karakteristik morfometrik  yang dilakukan dengan menggunakan Canine Index. Nilai Mandibular Canine Index setiap populasi berbeda, sehingga perlu dilakukan pada Suku Dayak Bukit. Tujuan: Untuk mengetahui bahwa Mandibular Canine Index  metode Rao dapat diterapkan untuk menentukan jenis kelamin Suku Dayak Bukit. Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional, menggunakan model studi 70 sampel Suku Dayak Bukit yang terdiri dari 35 laki-laki dan 35 perempuan yang kemudian dilakukan pengukuran lebar mesiodistal gigi kaninus mandibula kanan dan jarak antar gigi kaninus mandibula. Hasil: Penelitian menunjukkan rerata ukuran lebar mesiodistal gigi kaninus mandibula pada lakilaki adalah 7,127 mm, dan pada perempuan adalah 6,589 mm. Rerata ukuran jarak antar gigi kaninus mandibula adalah 27,595 mm pada laki-laki dan 26,127 pada perempuan. Rerata ukuran Mandibular Canine Index Suku Dayak Bukit adalah 0,260 mm pada laki-laki dan 0,253 mm pada perempuan. Nilai Standard Mandibular Canine Index Suku Dayak Bukit adalah 0,253 mm. Persentase kesesuaian penentuan jenis kelamin pada populasi Suku Dayak Bukit sebesar 91,4%. Hasil penelitian dianalisis menggunakan uji Chi Square dengan nilai p=1,00 (p>0,05) menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna penentuan jenis kelamin berdasarkan Mandibular Canine Index dan jenis kelamin berdasarkan data diri. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Mandibular Canine Index metode Rao dapat diterapkan untuk penentuan jenis kelamin Suku Dayak Bukit.  Kata-kata kunci: Mandibular Canine Index, penentuan jenis kelamin
AKTIVITAS DAYA HAMBAT EKSTRAK DAUN BELIMBING WULUH DENGAN KLORHEKSIDIN TERHADAP Candida albicans PADA PLAT AKRILIK Hafiz Rakhmatullah; Debby Saputera; Lia Yulia Budiarti
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT            Background: Denture stomatitis is inflammation disease the denture wearer characterized by erythema and edema under the denture. Buildup of food residue on denture acrylic-based resins are not cleaned can cause halitosis, bad for health of oral tissues and can increase number of microorganisms in oral cavity such as the fungus Candida albicans and can be treated with the use of mouthwash chlorhexidine gluconate 0.2%. Leaves starfruit (Avverhoa blimbi L.) has tannin, flavonoids and saponins which have antifungal effect against Candida albicans. Purpose: To determine the inhibitory activity of the methanol extract of leaves of starfruit with chlorhexidine against Candida albicans in heat cure acrylic plate. Methods: This experimental research using post test only control group design with 6 treatment groups, namely methanol extract of leaves of starfruit 20%, 40%, 60%, 80%, 100% and 0.2% chlorhexidine gluconate and carried out 5 times repetition. Testing antifungal effect diffusion method. Data analysis using Kruskal-Wallis and Mann Whitney test at 95% confidence level. Results: In this study showed that methanol extract of leaves starfruit 20%, 40%, 60%, 80%, 100%, and 0.2% chlorhexidine gluconate has an average of radical zone sequentially by 10.48 mm, 13 31 mm, 15.27 mm, 17.29 mm, 20.26 mm, 22.22 mm. Conclusion:Based on the results of this study concluded that the methanol extract of leaves of starfruit concentration of 100% have a zone of inhibition greater than the concentration underneath but did not exceed the effects of chlorhexidine against Candida albicans in heat cure acrylic plateABSTRAK            Latar Belakang: Denture stomatitis adalah keradangan yang terjadi pada pemakai gigi tiruan ditandai dengan adanya eritema dan edema di bawah gigi tiruan. Penumpukan sisa makanan pada gigi tiruan berbasis resin akrilik yang tidak dibersihkan dapat menyebabkan halitosis, berdampak buruk bagi kesehatan jaringan rongga mulut dan dapat meningkatkan jumlah mikroorganisme dalam rongga mulut seperti jamur Candida albicans dapat diobati dengan penggunaan obat kumur chlorhexidine gluconate 0,2%. Daun belimbing wuluh (Avverhoa blimbi L.) memiliki senyawa tanin, flavonoid, dan saponin yang memiliki efek antijamur terhadap Candida albicans. Tujuan: Untuk mengetahui aktivitas daya hambat ekstrak metanol  daun belimbing wuluh dengan chlorhexidine terhadap Candida albicans pada plat akrilik heat cure. Metode: Penelitian eksperimental ini menggunakan rancangan post test only with control group design dengan 6 kelompok perlakuan, yaitu ekstrak metanol daun belimbing wuluh 20%, 40%, 60%, 80%, 100% dan chlorhexidine gluconate 0,2% dan dilakukan 5 kali pengulangan. Pengujian efek antijamur menggunakan metode difusi. Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis dan uji Mann Whitney pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Pada penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun belimbing wuluh 20%, 40%, 60%, 80%, 100%, dan chlorhexidine gluconate 0,2%  memiliki rata-rata zona radikal secara berurutan sebesar 10,48 mm, 13,31 mm, 15,27 mm, 17,29 mm, 20,26 mm, 22,22 mm. Kesimpulan: Bahwa ekstrak metanol daun belimbing wuluh konsentrasi 100% memiliki zona hambat yang lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi di bawahnya, tetapi tidak melebihi efek dari chlorhexidine terhadap Candida albicans pada plat akrilik heat cure
UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN BINJAI (Mangifera caesia) TERHADAP MORTALITAS LARVA Artemia salina Leach Syahdana, Nayeta Levi; Taufiqurrahman, Irham; Wydiamala, Erida
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Background: Binjai leaves (Mangifera caesia) is a plants of the Anacardiaceae family that contains several active compounds which potentialy as anticancer. Purpose: The objective of this research is to determine the effectiveness of the ethanol extraction of Binjai leaves (EEBL) to the mortality of Artemia salina Leach larvae with Brine Shrimp Lethality Test methods (BSLT).  Method: a true experimental research using Post-test Only with Control Group Design, consists of 8 treatment groups were obtained from preliminary test, with four times replication and Ten larvae were used in each group. Each group was consecutively given 156.25, 312.5, 6250, 1250, 2500, 5000, and 10,000 (mg / L) and 1 negative control (0 mg / L or artificial sea water).  Result: The result probit analysis indicated that LC50 value of leaves extraction of Binjai was 489.059 mg / L. KruskalWallis test obtained by value p = 0.000, EEBL had effect on mortality of Artemia salina Leach  larvae. ManWhitney test results obtained by value p = 0.019, there was a significant difference between the negative control with all treatment groups. Conclusion: It can be concluded that EEBL has efficacy against the mortality of Artemia salina Leach  larvae with Brine Shrimp Lethality Test methods (BSLT).Keywords: Effectiveness, Mangifera caesia, Binjai, Artemia salina Leach, BSLT, LC50.  ABSTRAKLatar Belakang: Daun binjai (Mangifera caesia) merupakan salah satu tumbuhan dari famili Anacardiaceae yang mengandung beberapa senyawa aktif sehingga memiliki potensi sebagai antikanker Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak etanol daun binjai (EEDB) terhadap mortalitas larva Artemia salina Leach dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Metode: Penelitian bersifat eksperimental murni dengan metode Posttest Only with Control Group Design, terdiri dari 8 kelompok perlakuan yang diperoleh dari uji pendahuluan, dengan empat replikasi dan tiap konsentrasi berisi 10 ekor larva. Delapan kelompok terdiri dari 7 kelompok perlakuan, yaitu 156,25 , 312,5 , 6250 , 1250 , 2500 , 5000, dan 10.000 (mg/L) serta 1 kontrol negatif (0 mg/L atau air laut buatan). Hasil: Hasil uji probit didapatkan nilai LC50 sebesar 489,059 mg/L. Uji Kruskal-Wallis diperoleh nilai p=0,000, terdapat pengaruh EDB terhadap mortalitas larva Artemia salina Leach. Hasil uji Man-Whitney diperoleh nilai p=0,019, ada terdapat perbedaan signifikan antara kontrol negatif dengan semua kelompok perlakuan. Kesimpulan: Ekstrak etanol daun binjai mempunyai efektivitas terhadap mortalitas larva Artemia salina Leach dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Kata-kata kunci: Uji efektivitas, Mangifera caesia, Binjai, Artemia salina Leach,  BSLT, LC50
HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT DENGAN STATUS KEBERSIHAN RONGGA MULUT PEROKOK (Tinjauan pada Siswa SMA/Sederajat di Kota Banjarbaru) Jeanyvia Anggreyni Sodri; Rosihan Adhani; Isnur Hatta
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Smoking habits were known to have adverse health effects, but prevalence has continue to increase each year. Nationally, the average age  to start smoking was 17.6 years by education status including at high school level. The content of the cigarette can interfere with the function of saliva as self cleansing so it will affect health status and oral hygiene. Smokers behaviors in maintaining oral health tend to be bad. Purpose: Analyze the relationship between knowledge, attitude and action of dental and oral health with oral hygiene status in smokers. Method: Observational analytic study with cross sectional approach. Sampling using cluster sampling, with the number of respondents as many as 120 smokers. Results:Most smokers had moderate oral hygiene status of 71 persons (59.2%), 51 persons had moderate knowledge, 57 persons (47.5%) had an attitude with good category, and as many as 59 persons (49,2%) had medium and oral hygiene measures. Spearman Rho test results showed a significant relationship between knowledge, attitude and action of dental and oral health with oral hygiene status of smokers.Conclusion: There is a significant relationship between knowledge, attitude and action of dental and mouth health with hygiene status of oral cavity of smoker. ABSTRAKLatar belakang: Kebiasaan merokok diketahui berdampak buruk pada kesehatan, akan tetapi prevalensi terus meningkat tiap tahunnya. Secara nasional, rata-rata umur mulai merokok adalah 17,6 tahun menurut status pendidikan termasuk pada tingkat SMA. Kandungan yang ada pada rokok dapat mengganggu fungsi saliva sebagai self cleansing sehingga akan berpengaruh terhadap status kesehatan dan kebersihan rongga mulut. Perilaku merokok serta perilaku kesehatan gigi dan mulut perokok yang cenderung buruk dapat mempengaruhi status kebersihan rongga mulut. Tujuan: Menganalisis hubungan antara pengetahuan, sikap dan tindakan kesehatan gigi dan mulut dengan status kebersihan rongga mulut pada perokok Metode: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan cluster sampling, dengan jumlah responden sebanyak 120 orang perokok.Hasil penelitian: Jumlah tertinggi adalah perokok yang memiliki status kebersihan rongga mulut dengan kategori sedang sebanyak 71 orang (59,2%), sebanyak 51 orang memiliki pengetahuan dengan kategori sedang, sebanyak 57 orang (47,5%) memiliki sikap dengan kategori baik, dan sebanyak 59 orang (49,2%) memiliki tindakan kesehatan gigi dan mulut dengan kategori sedang. Hasil uji Spearman Rho menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap dan tindakan kesehatan gigi dan mulut dengan status kebersihan rongga mulut perokok. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap dan tindakan kesehatan gigi dan mulut dengan status kebersihan rongga mulut perokok.
PERBANDINGAN JUMLAH KOLONI BAKTERI SUBGINGIVA BERDASARKAN SIKLUS MENSTRUASI PADA WANITA (Tinjauan Mahasiswi FKG ULM Angkatan 2014) Sari Rahmita; Widodo Widodo; Rosihan Adhani
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Menstruasi merupakan suatu siklus reproduksi yang normal terjadi pada wanita yang mengakibatkan perubahan hormonal. Selama menstruasi terdapat hormon seks yang berpengaruh yaitu estrogen dan progesteron. Perubahan hormon estrogen dan progesteron dapat terjadi peradangan gingiva dan menjadi lingkungan yang baik bagi mikroorganisme dan diidentifikasi sebagai pemicu terjadinya penyakit periodontal. Tujuan: Menganalisis perbedaan jumlah koloni bakteri subgingiva berdasarkan siklus menstruasi pada wanita. Metode dan Bahan: penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada 30 orang sampel dengan menstruasi yang normal. Sampel plak subgingiva diambil dengan 3 kali pengambilan yaitu pada pra menstruasi, menstruasi, post menstruasi. Hasil penelitian: Hasil penelitian didapatkan jumlah koloni bakteri plak subgingiva yang tertinggi pada menstruasi yaitu 60,23 cfu, pra menstruasi 56,23 cfu dan pada post menstruasi 34,77 cfu. Hasil penelitian dari struktur dan morfologi bakteri plak subgingiva pada siklus menstruasi adalah coccus (+), diikuti basil (-). Hasil analisis data pada  pra menstruasi dengan menstruasi tidak memiliki perbedaan yang signifikan karena didapat nilai sig. yang dihasilkan, yaitu 0,420 (p>0,05). Sedangkan antara pra menstruasi dengan post menstruasi dan antara menstruasi dengan post menstruasi didapat nilai 0.000 (p<0,005) yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan. Kesimpulan: Terdapat perbedaan jumlah koloni bakteri subgingiva berdasarkan siklus menstruasi pada wanita.  Kata-kata kunci:Jumlah koloni bakteri subgingiva, menstruasi, post menstruasi, pra menstruasi  ABSTRACTBackground: Menstruation is a normal reproductive cycle that occurs in women that cause hormonal changes. During menstruation there are sex hormones that influence estrogen and progesterone. Changes in the hormones estrogen and progesterone can occur gingival trade and become a good environment for microorganisms and identified as triggers of periodontal disease. Purpose: Compare the amount of subgingival bacterial colonies based on the menstrual cycle in women. Material and methods: This study was an observational analytic cross-sectional approach conducted on 30 samples with normal menstruation. Subgingival plaque was performed with 3 times of menstruation, menstruation, post menstruation. Research result: The results showed that the highest subgingival plaque colonies in menstruation were 60.23 cfu, pre menstruation 56.23 cfu and 34.77 cfu menstrual post. The results of the structure and morphology of subgingival plaque on the menstrual cycle were coccus (+), followed by bacillus (-). While between menstrual period with menstrual post and between menstruation with post menstruasi get value 0.000 (p <0,005) which mean there is significant difference. Conclusion: There is a difference in the number of subgingival bacterial colonies based on the menstrual cycle in women.Keywords: Amount of subgingival bacterial colonies, menstruation, post menstruation, pra menstruation
PERBANDINGAN SUHU 37OC DAN 45OC TERHADAP DAYA LENTING KAWAT ORTODONTI STAINLESS STEEL Nelma Yulita; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan; Diana Wibowo
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Resilience is the ability of a wire that returned to the intial position when it is moved or deflected in a certain direction. Orthodontic stainless steel wire resilience is affected by several factors, one of them is the temperature. The change of oral temperature significantly while eating or drinking at high temperature, will affect the change of orthodontic stainless steel wire resilience. Purpose: To analyze comparison temperature by 37oC and 45oC to orthodontic stainless steel wire resilience. Method: The method of research is true eksperimental with post-test only with control group design. The subjects of this research consist of two groups, control group and treatment group. Control group is at 37°C and treatment group is at 45°C. Each group consists of five samples of stainless steel wire that are immersed in the water for a minute and then get a deflection by 2 mm. Result: This research shows the average amount of power required by the stainless steel wire, which is done in the control group is 64.6 gram/mm, while the average amount of power required by the stainless steel wire, which is done in the treatment group is 70.6 gram/mm. Based on the Mann Whitney test, it can be known that p value is 0,006 (p<0,05) so that the data show that there is a significant difference between temperature 37oC and 45oC to orthodontic stainless steel wire resilience. Conclusion: There is comparison temperature to the orthodontic stainless steel wire resilience  by immersion  at 37°C greater than the resilience of the wire by immersion at 45oC.  Keywords: resilience, orthodontic stainless steel wire resilience  ABSTRAKLatar belakang: Daya lenting adalah kemampuan suatu kawat dapat kembali ke posisi semula  apabila digerakkan atau didefleksikan ke arah tertentu. Daya lenting kawat ortodonti stainless steel dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah suhu. Perubahan temperatur mulut secara signifikan saat makan maupun minum terutama pada suhu panas mempengaruhi perubahan daya lenting kawat ortodonti stainless steel. Tujuan: Untuk menganalisis perbandingan suhu 37oC dan suhu 45oC terhadap daya lenting kawat ortodonti stainless steel. Metode: Penelitian menggunakan true eksperimental dengan post-test only with control group design. Subjek penelitian ini terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Kelompok kontrol pada suhu 37oC dan kelompok perlakuan pada suhu 45oC. Masing-masing kelompok terdiri dari 5 sampel kawat stainless steel yang direndam dalam air selama 1 menit dan kemudian diberi defleksi sebesar 2 mm. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa rerata besarnya daya yang diperlukan kawat stainless steel yang dilakukan pada kelompok kontrol yaitu 64,6 gram/mm, sedangkan rerata besarnya daya yang diperlukan kawat stainless steel yang dilakukan pada kelompok perlakuan yaitu 70,6 gram/mm. Berdasarkan hasil uji mann whitney diketahui nilai p sebesar 0,006 (p<0,05) sehingga data tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara suhu 37oC dan suhu 45oC terhadap daya lenting kawat ortodonti stainless steel. Kesimpulan: Terdapat perbandingan suhu terhadap daya lenting kawat ortodonti berbahan dasar stainless steel dengan perendaman suhu 37oC lebih besar dibandingkan daya lenting kawat dengan perendaman suhu 45oC.  Kata-kata kunci: daya lenting, kawat ortodonti stainless steel
PERBEDAAN TOTAL FLAVONOID ANTARA METODE MASERASI DENGAN SOKLETASI PADA EKSTRAK DAUN BINJAI (Mangifera caesia) (Studi pendahuluan terhadap proses pembuatan sediaan obat penyembuhan luka) Johay Maulida Rosita; Irham Taufiqurrahman; Edyson Edyson
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Binjai is a plant that contains secondary metabolites such as flavonoids. Flavonoids have antioxidant effects that help in the healing process of wound. The isolation of flavonoid compound is influenced by many factors, one of which is the extraction method. The decision of the extraction method that can optimally extract flavonoids is significant to do. Purpose: To analyze the extraction method that can optimally entice the level of flavonoids in Binjai leaf extracts. Methods: True experimental research with posttest-only with control group design, using simple random sampling technique, consisting of 4 treatment groups which are the maceration of 95% ethanol, the soxhlet extraction of  95% ethanol, and the control group which are the maceration of 95% n-hexane, the soxhlet extraction of 95% n-hexane. The level of total flavonoids is calculated with UV-Vis Spectrophotometry. Results: The average total flavonoids are the soxhlet extraction of 77.41 µg/mg ethanol, the maceration of 30.298 µg/mg ethanol, the soxhlet extraction of 168.129 µg/mg n-hexane, and the maceration of 104.8 µg/mg n-hexane. The T-test shows differences between each group. Conclusion: The extraction method that can optimally extract the flavonoids in Binjai leaf is the soxhlet extraction method.  Key words: binjai, total flavonoids, maceration, soxhletation  ABSTRAKLatar Belakang: Binjai merupakan tanaman yang mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid. Flavonoid memiliki efek antioksidan yang membantu dalam proses penyembuhan luka. Isolasi senyawa flavonoid dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah metode ekstraksi. Penentuan metode ekstraksi yang dapat mengekstraksi flavonoid secara optimal penting untuk dilakukan. Tujuan: Untuk menganalisis metode ekstraksi yang dapat menarik kadar flavonoid dalam ekstrak daun binjai secara optimal. Metode: Penelitian eksperimental murni dengan posttest-only with control group design, menggunakan teknik simple random sampling, terdiri dari 4 kelompok perlakuan, yaitu maserasi etanol 95%, sokletasi etanol 95% dan kelompok control yaitu maserasi n-heksana 95%, sokletasi n-heksana 95%. Kadar total flavonoid dihitung menggunakan Spektrofotometer UV-Vis. Hasil: Rata-rata total flavonoid yaitu sokletasi etanol 77,41 µg/mg, maserasi etanol 30,298 µg/mg, sokletasi n-heksana 168,129 µg/mg dan maserasi n-heksana 104,8 µg/mg. Uji ttest menunjukkan ada perbedaan antar tiap kelompok. Kesimpulan: Metode ekstraksi yang dapat mengekstraksi flavonoid dalam daun binjai secara optimal adalah metode sokletasi.  Kata-kata kunci: binjai, total flavonoid, maserasi, sokletasi
HUBUNGAN ANTARA ORAL HYGIENE PADA WANITA PASKAMENOPAUSE DENGAN SKOR GINGIVAL INDEKS DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA BUDI SEJAHTERA BANJARBARU Dayanne Sembiring; Rosihan Adhani; Isnur Hatta
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Menopause adalah bagian dari kehidupan seorang wanita yang ditandai dengan berakhirnya menstruasi sebagai salah satu tanda penuaan. Pada wanita paska menopause terjadi penurunan hormon estrogen. Penurunan hormon estrogen berpengaruh pada memburuknya kondisi oral hygiene yang dapat menyebabkan atau memperparah penyakit gingivitis. Tujuan: Mengetahui hubungan antara oral hygiene pada wanita paskamenopause dengan skor gingival indeks di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional, menggunakan simple random sampling. Penelitian ini dilakukan pada 46 wanita paska menopause di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru pada bulan Desember 2017. Pengumpulan data dilakukan dengan pemeriksaan indeks OHI-S dan Gingival Indeks, dilanjutkan analisa data dengan Shapiro-Wilk. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar wanita paskamenopause di Panti Sosial Tresna Werdha memiliki oral hygiene dalam kategori sedang sebanyak 28 orang (60,5%) dan sebanyak 22 orang (47,8%) mengalami gingivitis ringan. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara oral hygiene pada wanita paskamenopause dengan skor gingival indeks di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru. ABSTRACTBackground: Menopause is part of a woman's life marked by the end of menstruation as one sign of aging. In postmenopausal women there is a decrease in estrogen hormone. Decreased estrogen hormone affects the deterioration of oral hygiene conditions that can cause or aggravate gingivitis. Purpose: This study aims to determine the relationship between oral hygiene in postmenopausal women with a score of gingival index in Social Institution Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru. Method: This was an observational analytic study with cross sectional approach, using simple random sampling. The study was conducted on 46 postmenopausal women at Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru Social Institution in December 2017. Data collection was done by examining OHI-S index and Gingival Index, followed by data analysis with Shapiro-Wilk. Results: The results showed that most postmenopausal women in the Tresna Werdha Social Institution had oral hygiene in the moderate category of 28 people (60.5%) and 22 (47.8%) had mild gingivitis. Conclusion: There is a relationship between oral hygiene in postmenopausal women with a gingival index score in social home Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS JUS BUAH NANAS (Ananas Comosus) DENGAN JUS BUAH STROBERI (Fragaria xannanassea) SEBAGAI BAHAN ALAMI PEMUTIH GIGI EKSTERNAL Kevinda Januarizqi; Isyana Erlita; Sherli Diana
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Facial aesthetics can be influenced by several factors, one of them is teeth color. Teeth discoloration can be treated with teeth whitening using natural ingredient. The natural ingredient that can be used to whiten teeth are pineapple (Ananas Comosus) that contains bromelain, and strawberry (Fragaria x ananassea) that contains ellagic acid. Purpose: To determine the comparison of effectiveness between pineapple juice (Ananas Comosus) and strawberry juice (Fragaria x ananassea) as the natural ingredient for external teeth whitening. Methods: Is quasi experimental, using pre post-test only with control group design, with 30 samples of maxillary incisor post extraction consist of 3 groups; group 1 is the immersion of pineapple juice, group 2 is the immersion of strawberry juice, and group 3 is the immersion of negative control in sterile distilled water for 6 hours/day inside the incubator and is repeated until 14 days. Teeth discoloration is observed with Shade Guide Opalescence. Results: Group 1 normality test is p=0.030 (p<0.05) not normally distributed, and group 2 is p=0.243 (p>0.05) normally distributed. The homogeneity test results p=0.003 (p<0.05) which means that all data is heterogeneous. The Kruskal-Wallis test results p=0.000 (p<0.05) which shows differences of teeth color level between the treatment groups, continued with Mann-Whitney test results p=0.019 (p>0.05) shows not significantly difference between group 1 and 2, p=0.000 (p<0.05) shows a significant difference with group 3. It is because pineapple contains bromelain which can make your teeth whiter. Conclusion: The concluded that there is no difference between the effectiveness of teeth whitening pineapple juice (Ananas Comosus) with  strawberry juice (Fragaria x ananassea), color changes of pineapple juice is whiter.  Key words: Pineapple, Bromelain, Strawberry, Ellagic acid, Teeth discoloration, Teeth whitening.  ABSTRAKLatar Belakang: Estetika wajah dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah warna gigi. Warna gigi yang mengalami perubahan warna dapat dilakukan perawatan dengan cara pemutihan gigi menggunakan bahan alami. Bahan alami yang digunakan adalah Nanas (Ananas Comosus) yang mengandung bromelain dan Stroberi (Fragaria x annanassea) yang mengandung asam elegat. Tujuan: Untuk mengetahui perbandingan efektivitas jus buah nanas (Ananas Comosus) dengan jus buah stroberi (Fragaria x annanassea) sebagai bahan alami pemutih gigi. Metode: Adalah quasi experimental, menggunakan rancangan pre-post test only with control group design dengan 30 sampel gigi insisivus RA post ekstraksi terdiri dari 3 kelompok perlakuan, yaitu kelompok 1 perendaman jus buah nanas, kelompok 2 perendaman jus buah stroberi dan kelompok 3 perendaman kontrol negatif aquadest steril selama 6 jam/hari dalam inkubator dan dilakukan pengulangan sampai 14 hari. Perubahan warna diamati menggunakan Shade Guide Opalescence. Hasil: Uji normalitas kelompok 1 p=0.030 (p<0.05) tidak terdistribusi normal dan kelompok 2 p=0.243 (p>0.05) terdistribusi normal. Uji homogenitas didapatkan hasil p=0.003 (p<0.05) berarti semua data tidak homogen. Hasil uji Kruskal-Wallis didapatkan p=0.000 (p<0.05) maka terdapat perbedaan tingkat warna gigi antar kelompok perlakuan, dan dilanjutkan uji Mann-Whitney p=0.019 (p>0.05) menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok 1 dan 2, p=0.000 (p<0.05) menunjukkan ada perbedaan bermakna dengan kelompok 3. Hal ini disebabkan karena nanas mengandung bromelain yang dapat merubah warna gigi menjadi lebih putih. Kesimpulan: Penelitian tidak terdapat perbedaan bermakna efektivitas pemutihan gigi antara jus buah nanas (Ananas Comosus) dengan jus buah stroberi (Fragaria x annanassea), tetapi jus buah nanas menghasilkan perubahan tingkat warna gigi menjadi lebih putih. Kata kunci: Nanas, bromelain, stroberi, asam elegat, perubahan warna gigi, pemutihan gigi.

Page 2 of 25 | Total Record : 249