cover
Contact Name
dentin
Contact Email
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Dentin
ISSN : 26140098     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Dentin [e-issn: 2614-0098] merupakan terbitan berkala ilmiah tugas akhir berbahasa Indonesia berisi artikel penelitian dan kajian literatur tentang kedokteran gigi. Kontributor Dentin adalah kalangan akademisi (dosen dan mahasiswa). Dikelola oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Lambung Mangkurat dan terbit 3 (tiga) kali setahun setiap April, Agustus dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 249 Documents
EFEKTIVITAS DAYA HAMBAT EKSTRAK UMBI BAWANG DAYAK TERSTANDARISASI FENOL TERHADAP PERTUMBUHAN Enterococcus faecalis Dini Permata Sari; Muhammad Yanuar Ichrom Nahzi; Lia Yulia Budiarti
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT  Background: Bawang dayak bulb (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) is one of medicine plants from South Borneo has an antibacterial effect. Bawang dayak bulb contains of phenol can inhibit bacterial growth, one of gram-positive bacteria such as Enterococcus faecalis. Purpose: The purpose of this research is to analyzing the differences in antibacterial effectiveness of bawang dayak bulb extract with concentration 40%, 50%, 60%, 70%, 80% total phenol standarized and 2% Chlorhexidine gluconate to Enterococcus faecalis grownth as alternative material for root canal irrigation. Methods: This study was using true experimental laboratory, post test only with control group design with 6 group. Bawang dayak bulb extract with concentration 40%, 50%, 60%, 70%, 80% and 2% Chlorhexidine gluconate, each group was repeated 6 times. The antibacterial effect tested with diffusion method. Kruskal-Wallis and Mann Whitney tests were used for data analysis with 95% level of trust. Result: The result of total phenol shows that every 1mg or 1mg/ml extract contains 66,67µg. The radical zone of bawang dayak bulb extract with concentration 40%, 50%, 60%, 70%, 80% and 2% Chlorhexidine gluconate to Enterococcus faecalis are 14,08mm, 16,35mm, 18,26mm, 19,30mm, 21,28mm, 25,24mm. Conclusion: The conclusion this research is differences antibacterial effectiveness between bawang dayak bulb extract with concentration 40%, 50%, 60%, 70%, 80% and 2% Chlorhexidine gluconate. Bawang dayak bulb extract with concentration of 80% has greater antibacterial effectiveness than the concentration to Enterococcus faecalis.  Keywords: Bawang dayak bulb, Enterococcus faecalis, Chlorhexidine gluconate 2%  ABSTRAK  Latar belakang: Umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) adalah salah satu jenis tanaman obat di Kalimantan Selatan yang memiliki efek antibakteri. Umbi bawang dayak mengandung senyawa fenol yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri, salah satunya bakteri gram positif seperti Enterococcus faecalis. Tujuan: penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan efektivitas daya hambat ekstrak umbi bawang dayak 40%, 50%, 60%, 70%, 80% yang terstandarisasi fenol dan Chlorhexidine gluconate 2% terhadap Enterococcus faecalis sebagai alternatif bahan irigasi saluran akar. Metode: penelitian ini menggunakan true experimental dengan rancangan penelitian post test only with control group design dengan 6 perlakuan, yaitu ekstrak umbi bawang dayak konsentrasi 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, dan Chlorhexidine gluconate 2% dan dilakukan 6 kali pengulangan. Pengujian efek antibakteri menggunakan metode difusi. Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis dan uji Mann Whitney pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil: penelitian ini menunjukkan bahwa setiap 1mg atau 1mg/ml ekstrak terkandung 66,67µg kadar total fenol. Zona radikal ekstrak umbi bawang dayak konsentrasi 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, dan Chlorhexidin gluconate 2% terhadap Enterococcus faecalis secara berurutan sebesar 14,08mm, 16,35mm, 18,26mm, 19,30mm, 21,28mm, 25,24mm. Kesimpulan: penelitian ini terdapat perbedaan efektivitas daya hambat ekstrak umbi bawang dayak konsentrasi 40%, 50%, 60%, 70%, 80% dan Chlorhexidin gluconate 2% terhadap pertumbuhan Enterococcus faecalis. Ekstrak umbi bawang dayak konsentrasi 80% memiliki efektivitas daya hambat yang lebih besar terhadap Enterococcus faecalis.  Kata-kata Kunci: Umbi bawang dayak, Enterococcus faecalis, Chlorhexidine gluconate 2%
EFEK PERENDAMAN MINUMAN BERKARBONASI TERHADAP DAYA LENTING KAWAT ORTODONTIK LEPASAN STAINLESS STEEL Priska E. Siagian; Diana Wibowo; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Carbonated beverage is a daily drinks with carbonic acid and has pH of 2.32. Carbonated beverage with lower pH may cause the releasing of nickel (Ni) and chromium (Cr) ions on stainless steel orthodontic wire in oral cavity and result in alteration of resilience. Purpose: The aim of this research is to know the change of resilience of stainless steel removable orthodontic wire before and after immersion with carbonated beverages and saline solution. Material and methods: This study is true experimental study using pre and post test with control group design, consist of 10 treatment groups and 10 control groups were obtained from preliminary test, each group using stainless steel ortodontic wire with length of 3cm which the diameter is 0.6 mm and given a scratch along the wire then perform the resilience before and after the immersion using a force meter gauge. Each sample was immersed in an incubator at 37°C for 13 hours. Research result: The results showed that the average of resilience in the treatment groups before immersion was 17.65 gr/mm and after immersion of 17.61 gr/mm, while in control groups before and after immersion was 17,64 gr/mm. The results of Dependent and Independent T-test showed that there was no change of resilience of wire in the treatment groups and the control groups (p> 0,05). Conclusion: There is no significant change of stainless steel orthodontic wire resilience because of the release of nickel and chromium ions. ABSTRAKLatar belakang: Minuman berkarbonasi merupakan minuman yang mengandung asam karbonat dan memiliki pH 2,32. pH rendah dalam minuman berkarbonasi dapat menyebabkan  pelepasan ion  nikel (Ni) dan kromium (Cr) pada kawat ortodontik lepasan stainless steel yang berada lama di rongga mulut dan mengakibatkan perubahan daya lenting. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan daya lenting kawat ortodontik lepasan stainless steel sebelum dan sesudah perendaman dengan minuman berkarbonasi dan larutan salin. Metode dan bahan: Penelitian bersifat eksperimental murni dengan metode pre and post test with control group design, terdiri dari 10 kelompok perlakuan dan 10 kelompok kontrol yang diperoleh dari uji pendahuluan, masing – masing kelompok menggunakan kawat ortodontik stainless steel dengan panjang 3cm berdiameter 0,6 mm dan diberi goresan sepanjang kawat kemudian melakukan pengukuran daya lenting sebelum dan sesudah perendaman dengan menggunakan gauge force meter. Masing - masing sampel direndam didalam inkubator dengan suhu 370C selama 13 jam. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan rerata perubahan daya lenting pada kelompok perlakuan sebelum perendaman sebesar 17,65 gr/mm dan sesudah perendaman sebesar 17,61 gr/mm, sedangkan rerata pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah perendaman sebesar 17,64 gr/mm. Hasil uji parametrik Dependen  dan Independen T-test menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan daya lenting kawat pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol (p > 0,05). Kesimpulan: Perendaman kawat ortodontik stainless steel mengalami perubahan daya lenting namun tidak signifikan dikarenakan pelepasan ion nikel dan kromium tidak terlalu banyak.
PENGARUH EKSTRAK FLAVONOID PROPOLIS KELULUT (G.thoracica) TERHADAP JUMLAH SEL NETROFIL PADA PERIODONTITIS (Studi In Vivo Pada Tikus Wistar (Rattus norvegicus) Jantan) Adela Tamara; Beta Widya Oktiani; Irham Taufiqurrahman
Dentin Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang:Periodontitis adalah inflamasidestruktifpadajaringan periodontal yang disebabkanoleh bakteri anaerob seperti Actinobacillus actinomycetemcomitans (Aa), Porphyromonas gingivalis (Pg), dan Prevotellaintermedia yang ditandai dengan terbentuknyapoket, kegoyangan gigi, hilangnya perlekatan dan resesi gingiva. Periodontitis dapat ditangani dengan pemberian terapi scaling dan root planning serta ditunjang pemberian obat-obatan anti-inflamasi  seperti ibuprofen. Pemberian ibuprofen dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping sehingga memerlukan alternatif lain seperti penggunaan bahan alam. Bahan alam yang dapat dijadikan alternatif adalah propolis kelulut G.thoracica. Propolis kelulut G.thoracica memiliki kandungan flavonoid yang berperan sebagai zat anti-inflamasi sehingga akan menurunkan jumlah sel netrofil.  Tujuan: Untuk membuktikan pengaruh ekstrak flavonoid propolis kelulut (G.thoracica) terhadap jumlah sel netrofil pada tikus wistar (Rattus norvegicus) jantan yang diinduksi periodontitis.Metode:Penelitian ini menggunakan 36 ekor tikus yang dibagi menjadi 9 kelompok: kelompok kontrol negatif yang tidak diberi perlakuan sama sekali,  kelompok perlakuan yang diberikan ekstrak flavonoid propolis kelulut dengan konsentrasi 0,5 mg, dan kelompok kontrol positif ibuprofen.Hasil:Hasil uji statistik One-way ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan bermakna pada setiap kelompok perlakuan di hari ke-1 (p=0.000), hari ke-3 (p=0.001), dan hari ke-5 (p=0.002). Uji Post-Hoc Bonferroni untuk rerata jumlah sel netrofil di hari 1, 3, dan 5 menunjukkan terdapat perbedaan bermakna (p<0.05) pada tiap kelompok. Kesimpulan:Terdapat pengaruh ekstrak flavonoid propolis kelulut terhadap peningkatan jumlah sel netrofil di hari ke-1 dan penurunan jumlah sel netrofil di hari ke-3 dan ke-5 pada tikus wistar yang diinduksi periodontitis.Kata Kunci:  Ekstrak flavonoid propolis kelulut, Jumlah sel netrofil, Periodontitis.   (Studi In VivoPada Tikus Wistar (Rattus norvegicus) Jantan)
PERBANDINGAN PRAKIRAAN USIA DARI TOOTH CORONAL INDEX METODE BENINDRA DENGAN USIA KRONOLOGIS PADA SUKU BANJAR Nida Rizky Yulianti; Irnamanda D.H; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT  Background: Identification of age estimation through the teeth in Indonesia can be determined using Tooth Coronal Index by Benindra Method. Tooth Coronal Index by Benindra Method is a method to establish the age estimation by measuring the height of  the crown and the height of the coronal pulp cavity of radiographs.  Purpose: To analyze the comparison between age estimation of Tooth Coronal Index by Benindra method and chronological age at Banjarese population. Method: Analytic observational study with cross sectional design using the periapical radiographs of 70 samples of Banjarese population, followed by the measurement of the height of the crown and the height of the coronal pulp cavity of mandibular premolar using digital caliper. Result: The precentage of accuracy levels between age estimation  and chronological age is 66% in Banjarese male and 60% in Banjarese female. The result were analyzed using Mann-Whitney U test with p=0,105 (p>0,05) shows that there is no significant differences between age estimation of Tooth Coronal Index by Benindra method and chronological age at Banjarese population.  Conclusion: There is no differences between age estimation of Tooth Coronal Index by Benindra method and chronological age at Banjarese population.  Keywords: Tooth Coronal Index by Benindra Method, age estimation, chronological age, Banjarese population  ABSTRAKLatar Belakang: Identifikasi prakiraan usia melalui gigi di Indonesia dapat dilakukan menggunakan Tooth Coronal Index metode Benindra. Tooth Coronal Index metode Benindra adalah metode untuk menetapkan prakiraan usia dengan mengukur tinggi mahkota gigi dan tinggi ruang pulpa gigi pada foto radiografi. Metode ini dilakukan tidak spesifik pada suku tertentu. Tujuan: Untuk menganalisa perbandingan prakiraan usia dari Tooth Coronal Index metode Benindra dengan usia kronologis pada Suku Banjar. Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional menggunakan foto radiografi periapikal 70 sampel Suku Banjar yang kemudian dilakukan pengukuran tinggi mahkota gigi dan tinggi ruang pulpa gigi premolar rahang bawah dengan kaliper digital. Hasil: Persentase kesesuaian antara prakiraan usia dan usia kronologis sebesar 66% pada laki-laki dan 60% pada perempuan Suku Banjar. Hasil penelitian dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney U dengan nilai p=0,105 (p>0,05) menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara prakiraan usia dari Tooth Coronal Index metode Benindra dengan usia kronologis pada Suku Banjar. Kesimpulan: Tidak ada perbedaan prakiraan usia dari Tooth Coronal Index metode Benindra dengan usia kronologis pada Suku Banjar. Kata-kata kunci: Tooth Coronal Index Metode Benindra, prakiraan usia, usia kronologis, Suku Banjar
PERBANDINGAN INDEKS KARIES DMF-T BERDASARKAN JUMLAH KANDUNGAN FLUOR AIR GUNUNG DI KABUPATEN BALANGAN DENGAN AIR SUNGAI DI BANJARMASIN Fitria Ihsanti; Widodo Widodo; Isnur Hatta
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Caries is a disease in the oral cavity that affects the hard tissues of teeth, enamel, dentine and cementum that occur due to the presence of bacteria. The caries risk factor is one of the less fluorine use. Fluor is very necessary for the teeth because it can protect the enamel and dentin against the acidic substances so as to avoid the caries. Fluor is available in considerable quantities in the world. Any place that has a fluorine content varies. Purpose: Analyze the comparison of caries index DMF-T based on the amount of airborne fluorine content in Tebing Tinggi and kuin river air in Banjarmasin. Method: The method used analytic observational with cross-sectional design. The sample of the study chapter 52 respondents in each region. Result: Mann-Whitney analysis result on DMF-T score shows sig value. ie 0.000 <0.05, which means the difference between DMF-T grade SMP grade 1 Tebing Tinggi in Balangan Regency with DMF-T score of grade 1 junior high school students in Banjarmasin. Mann-Whitney analysis results on the amount of fluorine content showed sig value. ie 0.115> 0.05 which means there is no difference between the amount of fluorine content of mountain water with the amount of fluorine content of river water. Conclusion: The DMF-T index of grade 1 students of SMPN 2 Awayan Tebing Tinggi was lower than that of grade 1 students of SMPN 15 Banjarmasin and for the amount of water fluorine content of the mountain is lower than the river water.  ABSTRAKLatar belakang: Karies merupakan suatu penyakit  di dalam rongga mulut yang mengenai jaringan keras gigi seperti, enamel, dentin dan sementum yang terjadi akibat adanya interaksi bakteri pada permukaan gigi sehingga mengalami kerusakan jaringan keras. Faktor risiko karies salah satunya adalah penggunaan fluor yang kurang. Fluor sangat diperlukan untuk gigi  karena dapat melindungi enamel dan dentin terhadap zat asam sehingga terhindar dari karies. Fluor tersedia dengan jumlah cukup besar di dunia. Setiap tempat secara geografis yang berbeda memiliki kandungan fluor berbeda-beda pula. Tujuan: Menganalisis perbandingan indeks karies DMF-T berdasarkan jumlah  kandungan fluor air gunung di Tebing Tinggi dan  air sungai kuin di Banjarmasin. Metode: Jenis penelitian menggunakan metode penelitian analitik observasional yang menggunakan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 52 responden pada masing-masing daerah. Hasil: Hasil analisis Mann-Whitney pada skor DMF-T menunjukkan nilai sig. yaitu 0,000 < 0,05  yang berarti bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara skor DMF-T siswa SMP kelas 1 Tebing Tinggi di Kabupaten Balangan dengan skor DMF-T siswa kelas 1 SMP di Banjarmasin. Hasil analisis Mann-Whitney pada jumlah kandungan fluor menunjukkan nilai sig. yaitu 0,115 > 0,05  yang berarti bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara jumlah kandungan fluor air gunung dengan jumlah kandungan fluor air sungai. Kesimpulan: Indeks DMF-T siswa kelas 1 SMPN 2 Awayan Tebing Tinggi lebih rendah dibandingkan dengan  siswa kelas 1 SMPN 15 Banjarmasin dan untuk jumlah kandungan fluor air gunung lebih rendah dari pada air sungai.
PERBANDINGAN INDEKS KARIES BERDASARKAN PARAMETER KIMIAWI AIR SUNGAI DAN AIR PDAM PADA LAHAN BASAH BANJARMASIN Nadia Nadia; Widodo Widodo; Isnur Hatta
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT      Background: The people in the wetlands area of Kuin Banjarmasin mostly still use river water to brush their teeth. Based on water chemical parameters which are pH, fluorine and calcium, wetlands water is not feasible to be used for toothbrushing, because it can cause dental caries. Purpose: To analyze the comparison of dental caries index on seventh grade students of SMPN 15 Banjarmasin who brushed their teeth using river water and PDAM water in Kuin Banjarmasin based on chemical parameters. Methods: This research use analytic observational method with cross sectional approach. Respondents and samples were taken by simple random sampling technique, the respondents were 136 students divided into 2 groups: 68 students who brushed their teeth using river water and 68 students who brushed their teeth using PDAM water. Sample of river water and PDAM water is taken according to student's address. Results: The Mann-Whitney test in students who brushed their teeth using river water and PDAM water obtained p = 0,000 (p <0.05), the results showed that there was a significant difference in students who brushed their teeth using river water and PDAM water. Conclusion: The caries index of students who brush their teeth using river water is higher than students who brush their teeth using PDAM water. ABSTRAKLatar belakang: Masyarakat yang berada di lahan basah Kecamatan Kuin Banjarmasin sebagian besar masih menggunakan air sungai untuk menyikat gigi. Berdasarkan kandungan parameter kimiawi air yaitu pH, fluor dan kalsium, karakteristik air sungai lahan basah tidak layak digunakan untuk menyikat gigi, karena dapat menyebabkan terjadinya karies. Tujuan: Menganalisis perbandingan indeks karies pada murid kelas 1 SMPN 15 Banjarmasin yang menyikat gigi menggunakan air sungai dan air PDAM pada lahan basah di Kecamatan Kuin Banjarmasin berdasarkan parameter kimiawi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Responden dan sampel diambil dengan teknik simple random sampling, besar responden sebanyak 136 murid yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 68 murid yang menyikat gigi menggunakan air sungai dan 68 murid yang menyikat gigi menggunakan air PDAM. Sampel air sungai dan air PDAM diambil sesuai alamat murid tinggal. Hasil:  Uji Mann-Whitney  pada murid yang menyikat gigi menggunakan air sungai dan air PDAM didapatkan nilai p=0,000 (p<0,05), hasil tersebut menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna pada murid yang menyikat gigi menggunakan air sungai dan air PDAM. Kesimpulan: Indeks karies murid yang menyikat gigi menggunakan air sungai lebih tinggi dibandingkan murid yang menyikat gigi menggunakan air PDAM.
PENGARUH PERENDAMAN EKSTRAK JAHE PUTIH KECIL TERHADAP NILAI KEKASARAN PERMUKAAN RESIN AKRILIK TIPE HEAT CURED Rizki Khairina; Debby Saputera; Rahmad Arifin
Dentin Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Heat cured type acrylic resin denture base has water absorption properties that can affect the surface roughness of acrylic resin. An alternative denture cleanser is needed to minimize the effects arising from chemicals. A 100% small ginger extract can be used as an alternative to natural denture cleanser. Objective: The purpose of this study was to analyze the effect of 100% small white ginger extract immersion on the surface roughness value of heat cured acrylic resin. Methods: This research was a true experimental method with a post-test only and control group design. One Way ANOVA test was performed to analyze the data which was followed by Bonferroni Post Hoc test. The sample is in the form of rectangular plate with a size of 65x10x3.3 mm. The number of research samples were 21 pieces were divided into 3 immersion groups, namely the group solution of 100% small white ginger extract, alkaline peroxide, and distilled water. Measurement of sample surface roughness was obtained by using Surface Roughness Tester. Results: The mean value of surface roughness in the group of 100% small white ginger extract was 0.112, the alkaline peroxide group was 0.131, and the aquades group was 0.104. The results of the One Way ANOVA parametric test obtained p = 0,000 (p <0.05) and continued with Bonferroni's Post Hoc test. Conclusion: There is a smaller effect after immersion in 100% small white ginger extract on the surface roughness of heat cured acrylic resin compared to the soaking in alkaline peroxide. Keywords: 100% small ginger extract, surface roughness, heat cured acrylic resin  ABSTRAKLatar Belakang: Basis gigi tiruan resin akrilik tipe heat cured mempunyai sifat penyerapan air yang dapat mempengaruhi kekasaran permukaan resin akrilik. Diperlukan alternatif denture cleanser untuk meminimalkan efek yang timbul dari bahan kimia. Ekstrak jahe putih kecil 100% dapat digunakan sebagai alternatif denture cleanser berbahan alami. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh perendaman ekstrak jahe putih kecil 100% terhadap nilai kekasaran permukaan resin akrilik tipe heat cured. Metode: Penelitian ini menggunakan metode true experimental (eksperimental laboratoris murni) dengan rancangan post-test only with control group design dan uji One Way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji Post Hoc Bonferroni. Sampel berbentuk persegi panjang dengan ukuran 65x10x3,3 mm. Jumlah sampel penelitian sebanyak 21 buah yang dibagi menjadi 3 kelompok perendaman, yaitu kelompok larutan ekstrak jahe putih kecil 100%, alkalin peroksida, dan akuades. Pengukuran nilai kekasaran permukaan sampel menggunakan alat Surface Roughness Tester. Hasil: Nilai rerata kekasaran permukaan kelompok ekstrak jahe putih kecil 100% sebesar 0,112, kelompok alkalin peroksida sebesar 0,131, dan kelompok akuades sebesar 0,104. Hasil uji parametrik One Way ANOVA didapatkan nilai p=0,000 (p<0,05) dan dilanjutkan uji Post Hoc Bonferroni. Kesimpulan: Terdapat pengaruh lebih kecil setelah dilakukan perendaman dalam  ekstrak jahe putih kecil 100% terhadap kekasaran permukaan resin akrilik tipe heat cured dibandingkan dengan perendaman dalam alkalin peroksida. Kata kunci: Ekstrak jahe putih kecil 100%, kekasaran permukaan, resin akrilik tipe heat cured
PENGARUH PERENDAMAN EKSTRAK DAUN KEMANGI 12,5% DAN BATANG PISANG MAULI 25% TERHADAP KEKERASAN PERMUKAAN RESIN AKRILIK Raudatul Izzah; I Wayan Arya K. Firdaus; Bayu Indra Sukmana
Dentin Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: The most used denture base is heat cured acrylic resin. The use of dentures can cause denture stomatitis. The action taken to prevent denture stomatitis is by cleaning the denture. Chemical denture cleaners can reduce surface hardness of acrylic resin surfaces. Alternative natural denture cleanser is used to minimize the effects of chemical denture cleanser. The natural denture cleanser is using 12,5% Basil leaves and 25% Mauli banana stem extracts. Objective: The aim of this study was to analyze the comparison in surface hardness of heat cured acrylic resin which immersed in 12.5% Basil leaves and 25% Mauli banana stem extracts with alkaline peroxide and distilled water. Methods: This study was a true experimental study with pre and posttest with control group design, using 24 cylindrical type heat cured acrylic resin samples with a diameter of 30 mm and 5 mm thickness. The study used 3 treatment groups: 12.5% Basil leaves and 25% Mauli banana stem extracts, alkaline peroxide, and distilled water. Hardness testing was done using Vickers Hardness Testing. Results: The mean of the decrease in surface hardness value of heat cured acrylic resin which was immersed in extract solution, alkaline peroxide, distilled water are 1.40, 1.38, and 0.60 respectively. Data were analyzed statistically using One-Way ANOVA parametric test and Bonferroni Post Hoc test. Conclusion: The decrease in surface hardness value of heat cured type acrylic resin immersed in 12.5% Basil leaves and 25% Mauli banana stem extracts is higher than those immersed in alkaline peroxide and distilled water.Keywords: Basil leaves and Mauli banana stem extracts, surface hardness, heat cured acrylic resin ABSTRAKLatar belakang: Basis gigi tiruan yang banyak digunakan adalah resin akrilik tipe heat cured. Penggunaan gigi tiruan dapat menyebabkan denture stomatitis. Tindakan yang dilakukan untuk mencegah denture stomatitis yaitu dengan melakukan pembersihan gigi tiruan. Pembersih gigi tiruan berbahan kimia dapat menurunkan kekerasan permukaan resin akrilik. Alternatif pembersih gigi tiruan alami digunakan untuk meminimalisir efek yang ditimbulkan oleh pembersih gigi tiruan berbahan kimia. Bahan pembersih gigi tiruan alami yang dipakai yaitu ekstrak daun kemangi 12,5% dan batang pisang mauli 25%. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan kekerasan basis resin akrilik tipe heat cured yang direndam pada ekstrak daun kemangi 12,5% dan batang pisang mauli 25% dengan alkalin peroksida dan akuades. Metode: penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan pre and posttest with control group design, menggunakan 24 sampel resin akrilik tipe heat cured berbentuk silindris dengan diameter 30 mm dan tebal 5 mm. Penelitian menggunakan 3 kelompok perlakuan: ekstrak daun kemangi 12,5% dan batang pisang mauli 25%, alkalin peroksida dan akuades. Uji kekerasan dilakukan menggunakan Vickers Hardness Testing. Hasil penelitian: Rerata nilai penurunan kekerasan permukaan resin akrilik tipe heat cured yang direndam pada larutan ekstrak daun kemangi 12,5% dan batang pisang mauli 25% sebesar 1,40, alkalin peroksida sebesar 1,38 dan akuades sebesar 0,60. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji parametrik One Way ANOVA dan uji Post Hoc Bonferroni. Kesimpulan: Nilai penurunan kekerasan permukaan resin akrilik tipe heat cured yang direndam pada ekstrak daun kemangi 12,5% dan batang pisang mauli 25% lebih tinggi dibandingkan dengan resin akrilik tipe heat cured yang direndam pada alkalin peroksida dan akuades.Kata-kata kunci: Ekstrak daun kemangi dan batang pisang mauli, kekerasan permukaan, resin akrilik tipe heat cured
PENGARUH PERENDAMAN EKSTRAK BATANG PISANG MAULI 25% DAN DAUN KEMANGI 12,5% TERHADAP NILAI KEKASARAN PERMUKAAN (Nilai kekasaran permukaan basis akrilik menggunakan resin akrilik tipe heat cured) Ghina Ulya Rifdayanti; I Wayan Arya K. Firdaus; Bayu Indra Sukmana
Dentin Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Denture cleanser that are often used are in the form of chemical solvent. Chemicals have side effects which may increase the degree of surface roughness in acrylic resin-based dentures. Surface roughness causes plaque formation and accumulation of Candida albicans which is the cause of denture stomatitis. Alternative can be used as denture cleanser such as 25% mauli banana stem extract and 12.5% basil leave. The combination of these two extracts is expected to have better effectiveness against Candida albicans by not changing the nature of the acrylic resin base is surface roughness. Objective: The aim of this study was to determine the effect of value surface roughness heat cured acrylic resin immersed with extract of 25% mauli banana stem and 12.5% basil leave. Methods: This research was a true experimental laboratory pretest and postest with control group design, using a simple random sampling technique. Sample of acrylic resin was rectangular 65 x 10 x 3.3 mm. The samples were 24 in number and divided into 3 treatment groups, 25% mauli banana stem and 12.5% basil leave extract, alkaline peroxide, and aquadest. Surface roughness measurement was performed using surface roughness tester. Result: The mean results of surface roughness increase in 25% banana mauli stem and 12.5% basil leave extract, alkaline peroxide, and aquadest group were 0.0613 µm, 0.0663 µm, and 0.0425 µm respectively. Data were analyzed using One Way ANOVA and Bonferroni Post Hoc test. Conclusion: An increase in surface roughness of acrylic resin on alkaline peroxide immersion is higher than 25% mauli banana stem and 12.5% basil leave extract, and aquadest.Keywords: Heat cured acrylic resin, mauli banana stem and basil leaves extract, surface roughness  ABSTRAKLatar belakang: Pembersih gigi tiruan yang sering digunakan adalah perendaman secara kimiawi. Bahan kimia memiliki efek samping dapat menyebabkan kekasaran permukaan pada basis gigi tiruan resin akrilik. Kekasaran permukaan menyebabkan penumpukan plak dan akumulasi Candida albicans yang merupakan penyebab denture stomatitis. Bahan alternatif yang dapat digunakan sebagai pembersih gigi tiruan yaitu ekstrak batang pisang mauli 25% dan daun kemangi 12,5%. Kombinasi antara kedua eksrtrak tersebut diharapkan memiliki efektifitas yang lebih baik terhadap Candida albicans dengan tidak merubah sifat basis resin akrilik yaitu kekasaran permukaan. Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh nilai kekasaran permukaan resin akrilik tipe heat cured yang direndam dengan ekstrak batang pisang mauli 25% dan daun kemangi 12,5%. Metode: Penelitian eksperimental laboratorium murni dengan Pretest and Postest with Control Group Design, pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling, bentuk sampel resin akrilik tipe heat cured persegi panjang 65 x 10 x 3,3 mm berjumlah 24 sampel yang dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan yaitu ekstrak batang pisang mauli 25% dan daun kemangi 12,5%, alkalin peroksida, dan akuades. Pengukuran kekasaran permukaan menggunakan alat surface roughness tester. Hasil penelitian: Hasil rerata peningkatan kekasaran permukaan yang dihasilkan pada ekstrak batang pisang mauli 25% dan daun kemangi 12,5%, alkalin peroksida, dan akuades sebesar (0,0613 µm, 0,0663 µm dan 0,0425 µm). Data dianalisis menggunakan uji statistik One Way ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Pos Hoc Bonferroni. Kesimpulan: Peningkatan kekasaran permukaan resin akrilik pada perendaman alkalin peroksida lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak batang pisang mauli 25% dan daun kemangi 12,5%, dan akuades.Kata-kata kunci: Ekstrak batang pisang mauli dan daun kemangi, kekasaran permukaan, resin akrilik tipe heat cured.
EFEKTIVITAS EKSTRAK METANOL DAUN KERSEN DIBANDINGKAN KLORHEKSIDIN GLUKONAT TERHADAP CANDIDA ALBICANS PADA HEAT CURED AKRILIK Novita Pratiwi; Debby Saputera; Lia Yulia Budiarti
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground:Denture stomatitis is inflammation to mucosa of the mouth that direct contact with denture. Predispotition denture stomatitis factors is accumulation of Candida albicans. Denture cleanser are chemical and natural materials.One of the chemicals is chlorhexidine glukonat 0,2% as a large spectrum antimicroba agent, fungicidal effect, effect of tooth discoloration and also relative expensive. A natural materialis leaf of cherry (Muntingia calabura linn) containsof bioactive contain of flavonoids, tannins and saponins have a fungicidal effect to Candida albicans.Purpose: To analyzethe effectivity of methanol extract leaf of cherry with concentration 15%, 30%, 45%, 60%, 75% comparison chlorhexidine gluconate 0,2% to Candida albicans in acrlic resineheat curedtype. Method: This research is trueexperimental, post test with only control group design with leaf of cherry extract with concentration 15%, 30%, 45%, 60%, 75% and chlorhexidine gluconate 0,2% as positive control.Result: Inhibition zone test show that methanol extract ofcherry leaf with concentration 15%, 30%, 45%, 60%, 75% and chlorhexidine gluconate 0,2% are 12,40mm, 15,34mm, 17,38mm, 18,14mm, 20,17mm and 23,28mm. The analyse data use One Way ANOVA with 95% level of trust show that p=0,000 (<0,05) which mean there area significant differences between the group.Conclusion: The result of this research is a significant differences of inhibition effectivity of methanol of cherry leafwith concentration 15%, 30%, 45%, 60%, 75% compared with chlorhexidine gluconate 0,2% to Candidaalbicans in resine acrylic heat cured type. Chlorhexidine gluconate 0,2% has highest inhibition to Candida albicans.  Keywords: Cherry leaf (Muntingia calabura linn), Chlorhexidine gluconate 0,2%, Candida albicans, denture stomatitis, acrylic resine heat cured type  ABSTRAKLatar Belakang:Denture stomatitis merupakan peradangan pada mukosa mulut yang bersentuhan langsung dengan gigi tiruan.Faktor predisposisi denture stomatitis adalah akumulasi Candida albicans yang berlebih.Bahan pembersih gigi tiruan adalah kimia dan alami. Salah satu bahan kimia yaitu klorheksidin glukonat 0,2% sebagai antimikroba spektrum luas yang memiliki efek fungisidal sekaligus memiliki efek diskolorisasi gigi dan harganya relatif mahal. Bahan alamiyaitu daun kersen (Muntingia calabura linn) mengandung senyawa bioaktif flavonoid, tanin, dan saponin yang memiliki efek fungisidal terhadap Candida albicans.Tujuan:Untuk menganalisis efektivitas daya hambat ekstrak metanol daun kersen konsentrasi15%, 30%, 45%, 60%, 75% dibandingkan dengan klorheksidin glukonat 0,2% terhadap Candida albicans pada resin akrilik tipe heat cured.Metode: Penelitian eksperimental ini menggunakan rancangan post test only with control group design dengan perlakuan yaitu ekstrak daun kersen konsentrasi 15%, 30%, 45%, 60%, 75% dan klorheksidin glukonat 0,2% sebagai kontrol positif.Hasil: Pada pengukuran zona hambat didapatkan hasil ekstrak metanol daun kersen konsentrasi 15%, 30%, 45%, 60%, 75% dan klorheksidin glukonat 0,2%  adalah 12,40mm, 15,34mm, 17,38mm, 18,14mm, 20,17mm dan 23,28mm. Analisis data menggunakan One Way ANOVA pada tingkat kepercayaan 95% menunjukkan nilai p = 0,000 (p<0,05) yang berarti terdapat perbedaan bermakna antar kelompok.Kesimpulan:Hasil penelitian ini dapat disimpulkan terdapat perbedaan efektivitas daya hambat ekstrak metanol daun kersen konsentrasi 15%, 30%, 45%, 60%, 75% dibandingkan dengan klorheksidin glukonat 0,2% terhadap Candida albicans pada resin akrilik tipe heat cured.Klorheksidin glukonat 0,2% memiliki daya hambat yang paling tinggi terhadap Candida albicans.  Kata-kata kunci: Daun kersen (Muntingia calabura linn), klorheksidin glukonat 0,2%, Candida albicans,denture stomatitis, resin akrilik tipeheat cured

Page 5 of 25 | Total Record : 249