cover
Contact Name
Ahmad Abas Musofa
Contact Email
abas@iainbengkulu.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
tsaqofah@iainbengkulu.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam
ISSN : 2528732X     EISSN : 26846926     DOI : -
Jurnal kajian kebudayaan Islam yang mencakup tiga wujud yaitu ide, sistem sosial & benda. Sedangkan model kajian sejarah Islam Indonesia dan dunia ialah original history dan reflective history.
Arjuna Subject : -
Articles 123 Documents
Perjalanan Isra Mikraj Nabi Muhammad dalam Pandangan Orientalis dan Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Mochammad Nginwanun Likullil Mahamid
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 8, No 1 (2023): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v8i1.5623

Abstract

This article was directed to compare the results of the study on the Isra Miraj event of Prophet Muhammad. This was based on the orientalist view from Germany, Annemarie Schimmels book entitled Muhammad is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety, and Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam book by Muhammad Abdul Malik bin Hisham. By using the descriptive-narrative method and comparative study, this article proved that the two books shad many similarities in explaining the series of Prophet Muhammad’s journey to the sky from beginning to end. However, it had differences in the source of writing, the material presented, and the focus of the discussion. In general, the first book excelled in terms of material and discussion, which was more varied because the sources used were very diverse. This was in contrast to the second book, which lacked sources, but the explanation was more systematic and directed. On the other hand, the orientalist’s book was able to provide a broad assessment and description of the Isra Miraj with critical reasoning as an academic. Meanwhile, the book written by Ibnu Hisham only focused on explanations about the science of monotheism that Muslims must believe, without inviting readers to think further in relation to contemporary phenomena. Artikel ini diarahkan untuk membandingkan hasil penelitian mengenai peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad, menurut pandangan dari seorang orientalis asal Jerman, Annemarie Schimmel, dalam bukunya berjudul And Muhammad is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety, dengan buku Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, karya dari Muhammad Abdul Malik bin Hisyam. Dengan metode deskriptif-naratif dan jenis penelitian studi komparatif, artikel ini membuktikan bahwa kedua buku tersebut memiliki banyak persamaan dalam menjelaskan rangkaian perjalanan Nabi Muhammad ke langit dari awal sampai akhir, hanya saja memiliki perbedaan pada sumber penulisan, materi yang disampaikan, dan fokus pembahasannya. Secara umum, buku pertama unggul dari segi materi dan pembahasannya yang lebih bervariasi, karena sumber yang digunakan sangat beragam, bertolak belakang dengan buku kedua yang minim sumber, namun penjelasannya lebih sistematis dan terarah. Di sisi lain, buku karya Orientalis tersebut, mampu memberi penilaian dan gambaran yang luas tentang peristiwa Isra Mikraj dengan nalar kritis sebagai seorang akademisi, sedangkan buku yang ditulis Ibnu Hisyam hanya berkutat pada penjelasan seputar ilmu tauhid yang wajib diyakini oleh umat Islam, tanpa mengajak pembaca untuk berpikir lebih jauh kaitannya dengan fenomena masa kini.
Urgensi Pelestarian Aksara Pegon sebagai Bentuk Peninggalan Budaya Sunan Ampel Munawir Munawir; Muqouwi Matul Adilah; Refi Mariska Anggraini
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 8, No 1 (2023): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v8i1.8009

Abstract

Walisongo is known for the figures who spread Islam in Indonesia, especially on the island of Java, with a variety of unique ways of conveying their da'wah. One of them is Sunan Ampel whose real name is Sayid Ali Rahmatullah, he has a unique way of spreading Islam through writing the Pegon script. The writing does have a connection with the history of the development of Islam in Indonesia, especially the Pegon script under Sunan Ampel in Java. Where the pegon script was widely used by scholars in the past in making a work. Pegon script is able to protect these works from change. This Pegon script does have its own uniqueness because the form of writing is like Arabic writing, but actually the rules deviate from Arabic and Javanese. Through the spread of Islam by Sunan Ampel on the island of Java, finally the Pegon script was very popular in various circles, even as a form of acculturation of Islamic culture with Java. At present, the preservation of the Pegon script is mostly taught by pesantren through the yellow book. Whereas the preservation of pegon as an Islamic culture should not only be the task of the Islamic boarding school. Therefore, this study relates to the importance of preserving the Pegon script, as a form of preserving Islamic culture in Indonesia which has become a historical symbol of the entry of Islam on the island of Java. Walisongo dikenal dengan para tokoh yang menyebarkan agama islam di Indonesia terutama di pulau jawa dengan beragam cara yang unik dalam menyampaikan dakwahnya. Salah satunya yakni Sunan Ampel yang memiliki nama asli Sayid Ali Rahmatullah, beliau memiliki cara yang unik dalam menyebarkan islam melalui tulisan aksara pegon. Tulisan memang memiliki keterkaitan dengan sejarah perkembangan islam di Indonesia, khususnya aksara pegon yang dibawah oleh Sunan Ampel di tanah Jawa. Dimana aksara pegon banyak digunakan oleh ulama pada masa dahulu dalam membuat sebuah karya. Aksara pegon mampu membuat karya-karya tersebut terjaga dari perubahan. Aksara pegon ini memang memiliki keunikan tersendiri sebab bentuk tulisannya seperti tulisan Arab namun sebenarnya kaidahnya menyimpang dari bahasa Arab dan juga bahasa jawa. Melalui penyebaran agama islam oleh Sunan Ampel di pulau Jawa akhirnya aksara pegon sangat populer di berbagai kalangan bahkan sebagai wujud dari akulturasi budaya islam dengan Jawa. Pada masa sekarang, pelestarian aksara pegon kebanyakan diajarkan oleh pesantren melalui kitab kuning. Padahal seharusnya pelestarian pegon sebagai budaya islam bukan hanya tugas dari pondok pesantren saja. Oleh karena itu, penelitian ini berkaitan dengan pentingnya melestarikan aksara pegon, sebagai wujud pelestarian budaya islam di Indonesia yang menjadi simbol sejarah masuknya islam di pulau Jawa.
Kyai Modjo dan Pengaruhnya Terhadap Asimilasi Budaya Religius Jawa dan Minahasa pada Masyarakat Kampung Jawa Tondano Dahlia Haliah Ma'u; Rosdalina Bukido
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 8, No 1 (2023): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v8i1.10511

Abstract

This article describes the role of Kyai Modjo (1792-1849), a prominent figure and scholar from Surakarta who was exiled by the Dutch, colonizer in Javanese area in Tondano Minahasa (North Sulawesi). As the first islamic preacher in Minahasa, he became a role model and thus he and his followers gained Minahasa public sympathy that led the people to take shahadah. Further, intermarriage between indigenous people of Minahasa and Kyai Modjo’s followers caused assimilation of Javanese-Minahasa culture which was reflected in tradition of wedding ceremony, funeral procession, birth ritual, and lebaran ketupat ceremony.    Artikel ini mendeskripsikan tentang peran Kyai Modjo (1792-1849), seorang tokoh sekaligus ulama yang diasingkan oleh penjajah Belanda dari Surakarta ke daerah Jawa Tondano Minahasa (Sulawesi Utara). Sebagai penyiar Islam pertama di Minahasa serta keteladanan yang dimilikinya, ia dan pengikutnya mampu menarik simpatik masyarakat Minahasa untuk mengakui keesaan Allah Swt. Disamping itu, karena terjadinya kawin-mawin antara pengikut Kyai Modjo dan masyarakat setempat, berimplikasi pada budaya religius Jawa ke dalam budaya Minahasa. Asimilasi budaya Jawa dan Minahasa dapat terlihat pada tradisi perkawinan, kelahiran, kematian, ziarah, dan lebaran ketupat.

Page 13 of 13 | Total Record : 123