cover
Contact Name
Moh Shidqon
Contact Email
ajidshidqon@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ajid.shidqon@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
ISSN : 26858908     EISSN : 26862603     DOI : -
Core Subject : Engineering,
PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI di terbitkan oleh PERHAPI dan terbit tahunan dan mempunya ISSN 2686-2603 (Online) & ISSN 2685-8908 (Cetak).
Arjuna Subject : -
Articles 379 Documents
GEOLOGICAL MAPPING AND PROVENANCE ANALYSIS: AS THE KEY TO IDENTIFY DISTRIBUTION OF MUD DIAPIR AND ITS IMPLICATION ON COAL RESERVES IN PT. ARUTMIN INDONESIA SITE SENAKIN Hamzah Zamzami Mahmud; Satrio E. Hapsoro; Guntur Ghiffari
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.123

Abstract

ABSTRAK Identifikasi keberadaan diapir merupakan hal esensial dalam pertambangan batubara mengingat sifatnya yang seperti intrusi dapat mengurangi cadangan batubara. Seperti yang teramati pada area pertambangan PT Arutmin Indonesia. Kehadiran mud diapir pada PIT HG telah terbukti mengurangi cadangan batubara, dengan luas area terdampak 0,7 Ha. Selain itu, beberapa diapir diperkirakan belum terpetakan karena terletak di bawah permukaan dan belum tersentuh oleh pengeboran eksplorasi PT Arutmin Indonesia, sehingga tanda-tanda permukaan seperti singkapan batuan dan struktur geologi maupun provenance diapir dapat menjadi petunjuk yang penting. Oleh sebab itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola distribusi dan korelasi antara keberadaan diapir dengan struktur geologi, stratigrafi, dan provenance teridentifikasi yang kemudian dapat digunakan untuk memperkirakan persebaran diapir lainnya. Analisis dilakukan pada data primer hasil pemetaan geologi lapangan sebagai representasi struktur geologi maupun stratigrafi makro sebagai identifikator provenance. Hasil pemetaan lapangan seluas 60 km2 menunjukkan daerah penelitian terdiri dari tiga satuan batuan, yaitu satuan batupasir-batulempung termasuk lima singkapan diapir di dalamnya, satuan batulempung, dan satuan intrusi andesit. Satuan batupasir-batulempung memiliki kesetaraan dengan Formasi Tanjung yang merupakan formasi batuan sedimen tertua di daerah penelitian. Struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian adalah sesar geser menganan serta sesar geser mengiri yang berperan besar sebagai pengontrol keterdapatan diapir. Analisis stratigrafi menunjukkan provenance mud diapir berasal dari satuan batupasir-batulempung, Formasi Tanjung. Berdasarkan hasil analisis di atas, persebaran mud diapir berkorelasi dengan persebaran struktur geologi terutama sesar geser dan persebaran satuan batupasir-batulempung. Karena hal tersebut, maka pada area Tambang Senakin terdapat potensi keberadaan mud diapir yang tidak tersingkap di permukaan dan dapat menyebabkan hilangnya cadangan batubara termodelkan yang jauh lebih besar dari yang telah terbukti saat ini. Sebagai langkah preventif untuk mengetahui keberadaan diapir yang belum teridentifikasi, maka penulis membuat peta potensi keterdapatan diapir pada area penelitian di PT. Arutmin Indonesia Tambang Senakin. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, penulis menyarankan pihak pelaksana tambang untuk melakukan analisis geolistrik pada titik yang telah direkomendasikan penulis. Kata kunci: mud diapir, Formasi Tanjung, analisis stratigrafi, pemetaan geologi lapangan, cadangan batubara  ABSTRACT Identifying diapir occurrence is essential in coal mining activities knowing it behaves like an intrusion that can lead to a reduction in coal reserve. As we can observe in PT Arutmin Indonesia mining field. The presence of mud diapir on PIT HG has been proved to cut down its coal reserve, with the total area affected is 0,7 Ha. Since not all of the mud diapirs are exposed to the surface, we suspected that some of them are still yet to be found by PT Arutmin Indonesia’s exploration. Hence, diapir provenance and surface hints such as outcrop and geological structure can be a crucial indication. Therefore, this study objectives are to identify distribution and correlation between diapir occurrence and geological structures, stratigraphy, and its identified provenance that can be used to estimate other diapirs. This study began with geological mapping to identify the geological structure and its stratigraphy. Stratigraphic analysis is carried out as provenance identifier.  Geological mapping in 60 km2 area concluded that the area have three lithological units, sandstone-claystone unit including five diapir outcrops, claystone unit, and andesite intrusion unit. Sandstone-claystone unit is equivalent to Tanjung Formation which is the oldest sedimentary rocks formation in the area. Dextral strike slip and sinistral strike slip faults which are found in the area considered to have a significant effect on diapirs occurrence. Further stratigraphic analysis shows that the the mud diapir’s provenance is from Tanjung Formation. Based on these analyses, we conclude that mud diapir occurrence has a good correlation to geological structures especially the strike slip faults and sandstone-claystone unit distribution. Consequently, Senakin Mine Field has a chance of losing its potential coal reserve much bigger than previously estimated due to unidentified mud diapirs occurrence below the surface. We will provide a mud diapir occurence potential map as a preventive measure in identifying unknown diapirs. We also suggest doing subsurface resistivity analysis for further detailed and better results. Keywords: mud diapir, Tanjung formation, stratigraphic analysis, geological mapping, coal reserve
STRATEGI TRANSPORTASI BATUBARA – MEMBANDINGKAN OVERLAND CONVEYING DENGAN TRUK PENGANGKUT BATUBARA Supris Rudianto; Tikto Hartanto
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.58

Abstract

ABSTRAK Pada tahun 2005 PT Kaltim Prima Coal (KPC) melakukan kajian proyek peningkatan bisnis untuk mengembangkan operasi tambang Sangatta. Kajian difokuskan pada peningkatan kapasitas produksi 34-35 Metrik Ton per Tahun (JTPT) saat itu, menjadi 44 JTPT dan sampai dengan 70 JTPT. Inisiatif pengurangan biaya produksi karena meningkatnya jarak tempuh , kenaikan harga bahan bakar dan kelangkaan ban pada tahun 2005 dimasukan sebagai fariabel eksogen penting dalam kajian ini. Kajian yang dilakukan meliputi strategi pemilihan transportasi batubara dengan cara membandingkan moda transportasi batubara mengunakan conveyor system terhadap mode  pengangkutan menggunakan  truk. Hasilnya mode transportasi conveyor system lebih unggul dari sisi produktifitas, kontinuitas produksi, umur layanan operasi yang lebih lama, biaya operasi maintenance yang lebih rendah dan lebih handal untuk lokasi tambang yang terbatas dengan kecuraman medan sampai pada tingkat 300-350. Dengan dasar pertimbangan teknis dan ekonomis, proyek peningkatan bisnis ini ditindak lanjuti dengan melakukan tujuh proses kajian secara internal. Tahapan berikutnya adalah  analisa keekonomian dengan memasukan lima belas variabel untuk menentukan satu dari  3 alternatif pembiayaan yang tersedia. Hasil analisa dari 3 alternatif tersebut akan diambil keputusan dengan membandingkan dua parameter utama yakni Net Present Value dan Internal Rate Return. Analisa ekonomi dipertajam dengan uji sensitifitas untuk melihat respond NPV terhadap pengaruh  variabel produksi, pasokan pembangkit listrik, biaya modal, dan biaya truk pengangkut. Rangkaian kajian dan evaluasi tersebut menghasilkan keputusan pembangunan Melawan Crushing Station Western Overland (OLC) yang berlokasi ditengah lokasi tambang Melawan area dengan   disain dasar berkapasitas rata-rata 4.000 ton per jam. Kata Kunci: Strategi transportasi batubara, Melawan Crushing Station Western OLC, pertimbangan aspek teknis dan analisis ekonomis   ABSTRACT KPC conducted a business improvement project study to develop Sangatta mining operations in 2005. The study focused on increasing production capacity from 34 to 35 Metric Tons per Year (MTPY) to 44 MTPY and up to 70 MTPY. Initiatives to reduce production costs due to increased mileage, rising fuel prices and tire scarcity in 2005 were included as exogenous variables in this study.The study focused on strategy for selecting coal transportation modes by comparing conveyor transporting system to trucking mode. The study resulted that  the conveyor system transportation mode was superior in terms of productivity, production continuity, longer service life cycle, lower operating maintenance costs and more reliable for finite  mine sites with steepness of terrain up to the level of 300-350.Based on technical and economic considerations, this business improvement project was followed up by conducting seven steps internal process study. The following stage was an economic analysis by entering fifteen variables to determine the best one from the 3 available financing alternatives.The results of the analysis of the 3 alternatives will be decided by comparing the two main parameters namely Net Present Value and Internal Rate Return. Economic analysis is sharpened with sensitivity testing to see NPV respond against the influence of production variables, power generation supplies, capital costs, and cost of transporter trucks. The course of studies and evaluations concluded to construct of Melawan Crushing Station Western Overland. It would be placed at center of the Melawan mine site, with a basic design average capacity was 4,000 tons per hour.   Keyword:  coal transportation strategy, Melawan Crushing Station Western Overland Conveyor, technical aspect consideration and economical analysis
KALA PENGEMBANGAN MASYARAKAT MENJADI PENGEMBANGAN BISNIS : CREATING SHARED VALUE ANTARA ANTAM DENGAN PERAJIN DAN PEDAGANG PERHIASAN EMAS DAN PERAK DI BALI Agustinus Toko Susetio; Jalal Jalal
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.86

Abstract

ABSTRAK ANTAM adalah perusahaan pertambangan yang memiliki praktik pengelolaan sosial dan lingkungan yang telah sesuai bahkan melampaui ketentuan hukum di Indonesia dan standar internasional.  Oleh karena itu, ketika terdapat kebutuhan dari para perajin dan pedagang perhiasan di Indonesia untuk bisa menembus pasar internasional yang semakin memerhatikan keberlanjutan, ANTAM ada dalam posisi sebagai mitra pemasok bahan baku yang dipersyaratkan.  ANTAM bukan semata-mata melakukan penjualan kepada mereka, melainkan juga berkontribusi dalam memberikan pengetahuan, keterampilan, dan akses yang dibutuhkan para perajin dan pedagang itu.    Dalam bisnis perhiasan, konsep green business dapat dilihat dengan adanya Responsible Jewelry Council (RJC) dan Fairtrade International yang merupakan organisasi international yang memiliki kepedulian dalam mempromosikan praktik industri perhiasan yang sesuai dengan seluruh aspek tanggung jawab sosial untuk mencapai keberlanjutan. Kedua organisasi tersebut adalah anggota dari ISEAL (International Social and Environmental Accreditation and Labelling).  RJC memiliki 500+ anggota yang melakukan kegiatan penambangan, pengolahan dan pemurnian, pembuatan perhiasan, sampai dengan pelaku usaha penjualan perhiasan. RJC Code of Practice mencakup di antaranya standar hak asasi manusia, hak pekerja, dampak lingkungan, publikasi atau penjelasan tentang produk dan beberapa topik lainnya yang dimutakhirkan terakhir pada tahun 2013 yang di antaranya mengacu pada UN Guiding Principles on Businesses and Human Rights yang dikeluarkan oleh PBB dan memasukkan ketentuan mengenai sumber bahan baku yang bebas konflik. Sertifikasi RJC juga membantu perusahaan dalam kemamputelusuran suatu produk, uji kelayakan rantai pasokan, dan penggunaan standar tersebut terus meningkat.  Fairtrade International juga bergerak dalam bidang yang sama, namun lebih fokus pada tambang rakyat dan komunitasnya.  ISEAL  mendukung para penambang untuk meningkatkan hubungan jangka panjang dan adil untuk memastikan bahwa pertambangan dapat menekan angka kemiskinan dan mendukung terwujudnya pembangunan berkelanjutan.  ANTAM membantu para perajin dan pedagang perhiasan untuk dapat memenuhi standar internasional itu, selain menjadi pemasok bahan bakunya.  Penjualan ANTAM meningkat seiring dengan semakin banyaknya perajin dan pedagang yang bisa memenuhi standar internasional. Kasus kolaborasi antara ANTAM dengan para perajin dan pedagang perhiasan di Bali yang dipaparkan menunjukkan bahwa gagasan Porter dan Cramer (2011) tentang creating shared value (CSV) bisa dilaksanakan oleh industri pertambangan, dengan menggabungkan pengembangan masyarakat (community development) dan pengembangan bisnis (business development).     ABSTRACT ANTAM is a mining company that has social and environmental management practices that comply with and even exceed Indonesian legal requirements as well as meet international standards. Therefore, when there is a need from crafters and jewelry traders in Indonesia to be able to penetrate the international market which is increasingly concerned about sustainability, ANTAM is in a position as a supplier of required raw materials. In the jewelry business, the concept of green business can be seen with the Responsible Jewelry Council (RJC) and Fairtrade International, which is an international organization that has a concern in promoting the practice of the jewelry industry in accordance with all aspects of social responsibility to achieve sustainability. Both organizations are members of ISEAL (International Social and Environmental Accreditation and Labeling). RJC has 500+ members who carry out mining, processing and refining activities, jewelry making, to business people selling jewelry. The RJC Code of Practice includes human rights standards, workers' rights, environmental impacts, publications or explanations about products and several other topics, most recently updated in 2013, among which refer to the UN Guiding Principles on Businesses and Human Rights issued by the United Nations and include provisions regarding conflict-free sources of raw materials. RJC certification also helps companies in product traceability, supply chain feasibility testing, and the use of these standards continues to increase. Fairtrade International is also engaged in the same field, but is more focused on the mining of the people and their communities. ISEAL supports miners to improve long-term and equitable relations to ensure that mining can reduce poverty and support sustainable development. ANTAM is helping crafters and jewelry traders to be able to meet these international standards, in addition to being a supplier of raw materials. ANTAM's sales have increased along with the increasing number of craftsmen and traders who can meet international standards. The case of collaboration between ANTAM and crafters and jewelers in Bali presented shows that the idea of Porter and Cramer (2011) about creating shared value (CSV) could be implemented by the mining industry, by way of combining community development and business development.
PENGELOLAAN LINGKUNGAN PADA KEGIATAN OPERASI TAMBANG DARAT BIJIH TIMAH MENGGUNAKAN METODE BOREHOLE MINING DI WIUP PT. TIMAH, TBK Nomensen Ricardo; Dewi Ayu Kusumaningsih; Teguh Nurhidayat
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.102

Abstract

ABSTRAK Borehole mining (BHM) merupakan metode penambangan menggunakan aliran air bertekanan tinggi (water jet) dan dikombinasikan dengan sistem pemompaan slurry dari bawah tanah. Dalam upaya meningkatkan produksi bijih timah, PT. TIMAH, Tbk melakukan kegiatan penambangan menggunakan metode BHM. Pemilihan metode penambangan BHM bertujuan untuk menambang sumberdaya marginal tanpa memerlukan stripping overburden (OB), dengan prinsip kerja: membuat lubang vertikal hingga dasar zona target menggunakan alat holemaker; dengan memanfaatkan tekanan water jet, air akan memberai material di sekelilingnya; saat material terberai, pompa tanah siap menghisap slurry hingga ke permukaan. Kapasitas penambangan efektif menggunakan metode BHM adalah 750 m3/bulan, dengan jam jalan efektif alat 125 jam/bulan. Kegiatan penambangan dengan metode BHM ini, berpotensi menimbulkan masalah lingkungan diantaranya terbentuknya lubang bekas penambangan (void) dan genangan air di sekitar lokasi tambang. Pemindahan tanah dari bawah permukaan pada kegiatan ore getting dengan volume 750 m3 dapat mengganggu struktur dan kekuatan tanah sehingga menyebabkan runtuhan/amblesan yang pada akhirnya menghasilkan void. Pengelolaan lingkungan yang tidak baik dapat menimbulkan masalah yang serius terhadap bentang lahan dan akan menimbulkan dampak turunan seperti masalah sosial. Perencanaan desain penutupan lahan dengan metode backfilling menjadi terobosan untuk mengatasi void yang ada. Prinsipnya, material yang akan diambil pada titik penambangan berikutnya ditransfer ke void sebelumnya yang telah terbentuk dan demikian seterusnya. Di samping itu, dilakukan revegetasi di sekitar lokasi penambangan BHM untuk meningkatkan daya dukung tanah. Limpasan air ke permukaan secara kontinu menyebabkan kondisi lahan sekitar menjadi lembab (jenuh air) sehingga daya dukung tanah menurun. Kegiatan penambangan menggunakan metode BHM di PT. TIMAH, Tbk memang merupakan suatu terobosan dalam konservasi cadangan bijih timah. Namun, aspek lingkungan juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Pengelolaan lingkungan yang tepat dapat meminimalkan masalah lingkungan yang terjadi. Lubang-lubang berdiameter 1,5 hingga 3 meter yang dihasilkan dapat diatasi dengan sistem back-filling. Limpasan air di permukaan diatasi dengan perencanaan sistem penirisan tambang yang terencana yaitu dengan pembuatan jalur/paritan di sekitar area penambangan. Kata kunci: borehole mining, void, backfilling  ABSTRACT Borehole mining (BHM) is a mining method using high pressure water flow (water jet) and combined with an underground slurry pumping system. In an effort to increase tin ore production, PT. TIMAH, Tbk conducts mining activities using the BHM method. The selection of the BHM mining method aims to mine marginal resources without the need for stripping overburden (OB), with the working principle: making vertical holes to the bottom of the target zone using a holemaker; by utilizing the pressure of a water jet, water will fill the surrounding material; when the material is dispersed, the ground pump is ready to suction the slurry to the surface. The effective mining capacity using the BHM method is 750 m3 / month, with effective road hours of 125 hours / month. Mining activities using the BHM method have the potential to cause environmental problems including the forming of void pits and puddles around the mine site. Displacement of soil from below the surface in ore getting activities with a volume of 750 m3 can disrupt the structure and strength of the soil, causing collapse / subsidence which eventually produces voids. Improper environmental management can cause serious problems for the landscape and will cause derivative impacts such as social problems. Land cover design planning with backfilling method is a breakthrough to overcome existing voids. In principle, the material to be taken at the next mining point is transferred to the previously formed voids and so on. In addition, revegetation was carried out around the BHM mining location to increase the carrying capacity of the soil. The runoff of water to the surface continuously causes the surrounding land to become moist (saturated with water) so that the carrying capacity of the soil decreases. Mining activities use the BHM method at PT. TIMAH, Tbk is indeed a breakthrough in the conservation of tin ore reserves. However, environmental aspects also need to be considered. Proper environmental management can minimize environmental problems that occur. The holes with a diameter of 1.5 to 3 meters produced can be overcome with a back-filling system. Surface runoff is overcome by planning a planned mine drainage system by making a path / trench around the mining area Key Words: borehole mining, void, backfilling  
PREDIKSI PEMBENTUKAN DAN KUALITAS AIR PIT LAKE: BERDASARKAN KONDISI HIDROLGI DAN GEOKIMIA BATUAN Ginting J Kusuma; Kris Pranoto; Edy J Tuheteru; Imanuel Manege; Rudy S Gautama
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.118

Abstract

ABSTRAK Pada akhir masa penambangan, tambang batubara terbuka akan membentuk kolam tambang (pit lake) yang kualitas air bentukannya dipengaruhi oleh kualitas air lindian tiap litologi batuan dinding pit. Lokasi penelitian dilakukan di salah satu pit di wilayah Kalimantan, dengan litologi batuan dinding pit terdiri dari 30% batuan yang berpotensi asam dan 70% batuan yang tidak berpotensi asam dengan kualitas air sump memiliki pH yang rendah. Penilitian ini dilakukan untuk membuat prediksi pengisian pit dengan air dan waktu yang dibutuhkan sampai pit terisi dengan air secara penuh selain itu juga dilakukan prediksi kualitas air yang akan terbentuk. Berdasarkan data hidrologi yang ada, maka pit pada lokasi penelitian diprediksi akan terisi penuh dan mencapai permukaan air yang stabil pada tahun ke-36 dengan total volume air 24.000.000 m3, sumber air utama yang digunakan untuk menghitung lama waktu terisi air adalah air hujan yang jatuh langsung ke dalam pit, tanpa memperhitungkan luasan tangkapan hujan di sekitar pit. Prediksi kualitas air pada pit lake dilakukan dengan pencampuran (mixing) air lindian pada tiap litologi dinding pit menggunakan perangkat lunak PHREEQC dengan data karakteristik geokimia, kualitas air lindian sampel, dan kandungan mineral pada batuan, berdasarkan data tersebut, maka dilakukan prediksi kualitas air dengan menggunakan tiga skenario yakni skenario optimis, konservatif dan proporsional. Hasil yang diperoleh pada prediksi kualitas air terutama untuk nilai pH yang akan terbentuk di tahun ke-36 adalah sebagai berikut skenario optimis sebesar 6,8, skenario konservatif sebesar 3,13 dan skenario proporsional adalah sebesar 3,42.  
Prediksi dan Arah Kebijakan Mengenai Bijih Nikel di Indonesia dalam Menghadapi Peningkatan Permintaan Baterai Mobil Listrik M. Azqar Zalvino
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI Hasil Lomba Esai
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.236

Abstract

Indonesia memiliki potensi nikel laterit terbesar di dunia dengan total cadangan mencapai 21 juta metrik ton dengan sebaran lokasi cadangan di berbagai titik seperti di Kawasan Timur Indonesia (KTI) terutama di Sulawesi Tenggara, Maluku Utara dan Papua1,2. Dibalik potensinya yang sangat melimpah, United States Geological Survey melaporkan Indonesia mengalami perlambatan produksi nikel dengan perkiraan sekitar 10,9% pada 2020. Indonesia sanggup memproduksi nikel sebesar 853 ribu metrik ton pada tahun 2019 yang kemudian menyusut menjadi sekitar 760 ribu metrik ton pada tahun 20203. Di Indonesia, beberapa kebijakan telah disahkan untuk meregulasikan penambangan dan penjualan nikel, seperti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020, Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 11 Tahun 2020 dan Nomor 35 Tahun 2017.
Menakar Masa Depan Industri Nikel Laterit sebagai Bahan Baku Teknologi Baterai Mobil Listrik di Indonesia Fakhri Hibatullah Ramadhan
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI Hasil Lomba Esai
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.231

Abstract

Secara geologis, Indonesia terletak pada titik pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yaitu Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik, selain itu Indonesia merupakan negara yang berada pada wilayah khatulistiwa yang memiliki iklim tropis. Kondisi tersebut sangat mendukung adanya proses pelapukan pada batuan yang sangat intensif. Keterdapatan endapan nikel laterit di Indonesia yang berada pada zona khatulistiwa tersebut berakitan dengan distribusi jalur tektonik ofiolit yang terangkat ke permukaan akibat proses tektonik yang disebabkan oleh interaksi lempeng benua Indo-Australia, Eurasia dan lempeng samudra Pasifik.
Pertambangan Indonesia di Masa Depan Raditya Lucas Sinaga
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI Hasil Lomba Esai
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.242

Abstract

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada tahun 2021, sumber daya alam memberikan kontribusi terbesar senilai 104.108,80 milyar rupiah bagi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang totalnya sebesar 298.204,20 milyar rupiah. Dengan jelas terlihat bahwa sektor pertambangan merupakan salah satu sektor terpenting bagi Indonesia mengingat produksi sumber daya alam tidak lepas dari kegiatan pertambangan. Kontribusi substansial sektor pertambangan erat kaitannya dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dalam bidang pertambangan. Kemajuan teknologi memungkinkan kegiatan penambangan dilakukan dengan lebih aman dan efisien.
KEBIJAKAN PERTAMBANGAN BERBASIS ZERO CARBON MINING SEBAGAI SOLUSI STRATEGIS UNTUK MENJAWAB TANTANGAN INDUSTRI PERTAMBANGAN YANG RAMAH LINGKUNGAN DAN BERKELANJUTAN Hidayattullah, Mochamad Fathur
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI Hasil Lomba Esai
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.237

Abstract

“Menjadi Penggerak Utama Pembangunan Nasional Melalui Pengelolaan ESDM yang Optimal Demi Terwujudnya Kemandirian dan Ketahanan Energi Untuk Kesejahteraan Rakyat Yang Adil dan Merata”-- VISI RENSTRA ESDM 2020-2024 --Kutipan kalimat tersebut adalah refleksi akan cita-cita sakral bagi pembangunan energi di Indonesia. Bangsa Indonesia dengan segala potensi dan kekayaan alam terutama sektor mineral dan batubara mampu untuk mewujudkan kemandirian dan ketahanan energi untukrakyatnya. Kemandirian yang dimaksudkan adalah mampu untuk berdiri sendiri dalam segala pemenuhan kebutuhan energi nasional tanpa harus bergantung pada pihak lain. Ketahanan yang dimaksudkan adalah mampu bertahan dari segala tantangan dan kondisi dengan memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki sendiri. Kedua aspek tersebut telah dimiliki oleh bangsa ini dan langkah selanjutnya adalah mewujudkan mimpi besar tersebut. Kekayaan mineral dan batubara Indonesia sangat melimpah. Potensi batu bara Indonesia berupa cadangan mencapai 38,84 miliar ton dengan rata-rata produksi sebesar 600 juta ton per tahun, maka disimpulkan bahwa umur cadangan batubara Indonesia masih 65 tahun ke depan (Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, 2021). Tidak kalah juga potensi mineral Indonesia yaitu Nikel yang memiliki cadangan mencapai 52% dari total cadangan dunia saat ini yang sebesar 139 juta ton dan merupakan yang terbesar di dunia (Asosiasi Penambang Nikel Indonesia, 2021). Kedua hal tersebut sangat merepresentasikan akan ketangguhan energi Indonesia.
“ SINTESIS+” DAN METODE GAS PERUNUT SEBAGAI BUKTI DARI KEMAJUAN TEKNOLOGI DAN ARAH KEBIJAKAN DALAM PERTAMBANGAN YANG MENGUTAMAKAN KESELAMATAN PEKERJA TAMBANG Dwivanya C, Grestine
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI Hasil Lomba Esai
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.232

Abstract

Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan kekayaan sumber daya alam pertambangannya, baik itu mineral maupun batubara. Lahan pertambangan ini tersebar di berbagai wilayah yang terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu tambang terbuka, tambang bawah tanah dan tambang bawah air. Sektor lahan dan lapangan pekerjaan pertambangan yang luas, menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat Indonesia. Namun aktivitas pertambangan sangat rawan dengan resiko terjadi kecelakaan. Oleh karena itu pemerintah selalu berusaha untuk melindungi segenap pekerja tambang serta kekayaan tambang tersebut lewat kebijakan yang terus disempurnakan, seperti adanya perubahan Undang – Undang Nomor 3 Tahun 2020 atas Undang – Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Anak bangsa juga ikut serta berkontribusi dengan berinovasi lewat perkembangan teknologi dalam bidang pertambangan mineral dan batubara untuk kesejahteraan bangsanya.

Page 11 of 38 | Total Record : 379