cover
Contact Name
Moh Shidqon
Contact Email
ajidshidqon@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ajid.shidqon@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
ISSN : 26858908     EISSN : 26862603     DOI : -
Core Subject : Engineering,
PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI di terbitkan oleh PERHAPI dan terbit tahunan dan mempunya ISSN 2686-2603 (Online) & ISSN 2685-8908 (Cetak).
Arjuna Subject : -
Articles 379 Documents
RAJA YANG TAK BERTAHTA Nashya Rizky Azzalia Azzalia
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI Hasil Lomba Esai
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.240

Abstract

Aku terlahir di Sorowako. Sebuah kota kecil di sekitar Pegunungan Verbeek yang dikenal sebagai Kota Nikel. Pegunungan ini terletak di perbatasan Provinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Nikel di Indonesia pertama kali ditemukan di Pegunungan Verbeek oleh seorang berkebangsaan Belanda bernama Albert Christian Krujt pada tahun 1901. Semenjak itu, kegiatan eksplorasi dilanjutkan oleh ahli geologi Belanda, yang kemudian diteruskan oleh pemerintah Indonesia (Arif, 2018).Persebaran nikel di Indonesia sebagian besar ditemukan di Pulau Sulawesi dan Maluku Utara (Anbiyak Cahyaningrum, 2021). Menurut data Badan Geologi yang dikutip oleh Anbiyak Cahyaningrum (2021), sumber daya bijih nikel Indonesia mencapai 11 milyar ton. Sedangkan jumlah cadangan, sebanyak 4,5 milyar ton (Badan Geologi, 2020). Hal ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia.
Arah Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Gumuk di Kabupaten Jember Jawa Timur: Keselarasan Teknologi Eksplorasi, Pengelolaan dan Wawasan Lingkungan Lilik Ismawati
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI Hasil Lomba Esai
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.235

Abstract

Kabupaten Jember merupakan salah satu dari dua kabupaten/kota di Indonesia yang memiliki kiri khas kekayaan alam berupa Gumuk bahkan sampai dijuluki kota “1000” Gumuk (bukit kecil), sebagaimana yang ditunjukkan pada gambar 1b. Gumuk merupakan suatu fenomena geologi yang sangat unik dan penting untuk ditelaah lebih lanjut keberadaannya. Gumuk Jember terbentuk dari aliran lava yang kemudian tertutup oleh material vulkanik yang berasal dari letusan Gunung Raung dan akibat pelapukan/erosi serta kegiatan tektonik dari mammock Raung (Khoiriyah, dkk. 2019). Jenis material penyusun gumuk diantaranya tanah urug, pasir, batu padas, batu pondasi, coral, batu pedang dan batu piring (Aprilian, 2020). Menurut Saisabela (2017) Tercatat jumlah Gumuk pada tahun 2012 di kabupaten jember sebanyak 1.670 buah sudah terinventarisir dan 285 buah belum terinventarisir. Beberapa gumuk diantaranya telah di eksploitasi (ditambang) untuk diambil material penyusunnya atau dibuat lahan pertanian/pemukiman. Hal itu berdampak buruk bagi masyarakat sekitar gumuk seperti cuaca lebih panas, sering terjadi kekeringan, erosi, banjir, angin kencang, perubahan iklim mikro, terjadi penurunan jumlah mata air, penurunan keanekaragaman hayati, hutan kota semakin sedikit, penurunan jumlah populasi hewan penghuni gumuk; burung hantu, capung, musang, dan lain sebagainya
Teknologi Automatic Engine Stopping System (AESS) pada Kondisi Idling Time Alat Berat Guna Efisiensi Pemakaian Bahan Bakar Dimas Chaidir Adinugroho
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI Hasil Lomba Esai
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.230

Abstract

ermasalahan pemakaian bahan bakar pada alat berat yang terjadi di sebagian besar perusahaan tambang kerap terjadi, seiring waktu berbagai perusahaan tambang mencari ide dan solusi atas permasalahan tersebut. Hal tersebut terjadi karena pemakaian bahan bakar atau fuel alat yang digunakan tidak sesuai dengan rencana awal dan management terhadap fleet yang beroperasi untuk memenuhi target produki perusahaan. Salah satu contoh dari permasalahan tersebut sering sekali terjadi saat unit dalam keadaan idling time atau mengantri pada antrian front loading sehingga sering terjadi juga operator unit tidak mempunyai inisiatif untuk mematikan unit tersebut untuk efisiensi bahan bakarnya. Setiap alat penambangan pada fleet tambang masing-masing memiliki berbagai target pengeluaran yang dikeluarkan seperti pengeluaran bahan bakar liter per jamnya. Permasalahan ini sebaiknya harus cepat diatasi seiring dengan meningkatnya teknologi yang ada mendukung efisiensi pengeluaran perusahaan sebagaimana pengeluaran terhadap bahan bakar alat-alat penambangan. Salah satu sektor ekonomi di Indonesia yang memerlukan investasi dalam jumlah yang cukup besar adalah sektor pertambangan. Pertambangan memerlukan investasi dalam jumlah yang besar untuk keperluan penyelidikan umum, eksplorasi, konstruksi, dan operasi (Fadhila Achmadi et al, 2020). Fuel cost merupakan salah satu penyumbang ongkos atau biaya tambang terbesar pada kegiatan operasi tambang dari awal sampai akhir penambangan, seperti pada gambar di bawah ini.
INOVASI BARU DALAM TEKNOLOGI SERTA UPAYA UNTUK MENGOPTIMALKAN KEBIJAKAN MINERBA Rachel Misael
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI Hasil Lomba Esai
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.241

Abstract

Kemajuan teknologi dalam sektor pertambangan semakin dilirik di kalangan masyarakat. Salah satu kemajuan dalam sektor pertambangan yang memiliki dampak besar bagi kehidupan manusia adalah kemajuan teknologi digital. Teknologi digital merupakan suatu alat yang tidak menggunakan tenaga manusia secara manual, melainkan menggunakan sistem pengoperasian yang otomatis dengan komputerisasi. Salah satu contohnya adalah PT Petrosea Tbk sebagai perusahaan kontraktor pertambangan yang sukses menerapkan digitalisasi pertambangan. Terbukti pada tahun 2019, PT Petrosea Tbk diseleksi oleh World Economic Forum ke dalam Global Lighthouse Network karena berhasil dalam pengimplementasian teknologi pada Revolusi Industri 4.0. Inovasi-inovasi dalam kemajuan teknologi digital di sektor pertambangan juga dapat meningkatkan produktivitas yang akan berpengaruh terhadap cashflow perusahaan. (Sari, 2020). Contoh lain dari kemajuan teknologi dalam sektor pertambangan adalah penggunaan metode implementasi bottom air deck untuk membuat perangkap energi dan mengurangi energi terbuang secara vertikal. Bottom air deck merupakan salah satu strategi untuk dapat menambah kedalaman lubang drill tanpa menambah penggunaan bahan peledak yang digunakan. (Sadiq, 2021). Melampaui aspek keamanan dan produktivitas, ada harapan bahwa kemajuan teknologi yang terjadi dapat membantu mengatasi permasalahan yang terjadi di sektor pertambangan.
PENINGKATAN PRODUKSI BATUBARA DENGAN OPTIMALISASI CADANGAN BATUBARA PIT 11 UTARA PT ARUTMIN INDONESIA, TAMBANG ASAMASAM Wahyu Gilang Nugraha; Wahyu Dwi Febriyanto; Gigih Gunawan; Ilham Maessa; Gumilang O. Purbanagara
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2020: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.173

Abstract

Kondisi Pit 11 Utara tambang Asamasam di tahun 2020 semakin mendekati desain akhir dan adanya dorongan upaya konservasi cadangan batubara, maka mining engineering department tambang Asamasam melakukan optimasi cadangan batubara dengan penambahan desain di area Pit 11 Utara. Langkah optimasi yang dilakukan adalah melalui penegakan lereng-lereng, memotong jalan final dan juga pendalaman lubang bukaan pada seam utama di Pit 11 Utara dengan tetap meminimalkan stripping ratio sehingga optimasi yang dilakukan tetap bernilai ekonomis. Desain awal penambangan pada desain Pit Shell Pit 11 Utara, akan final pada elevasi -65 mdpl. Namun setelah optimasi bottom Pit 11 Utara direncanakan dapat final sampai elevasi M85-M90 mdpl. Hal ini didukung oleh kondisi geologi model batubara pada seam utama tersebut yang menebal. Salah satu tantangan pekerjaan optimasi pada Pit 11 Utara. Dari sisi geoteknik, dilakukan analisis kestabilan terhadap desain optimasi dan monitoring lereng secara real time menggunakan radar (SSR) karena area optimasi merupakan salah satu area kritis. Dari kegiatan optimasi ini didapatkan penambahan batubara sebanyak 445.4 kton batubara hingga akhir bulan September. Perolehan tambahan batubara ini mampu memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam menaikkan produksi tambang Asamasam.
MANAJEMEN STOCKPILE DALAM MENINGKATKAN KEEFEKTIFAN DAN KETERATURAN STOCKPILE PT GAG NIKEL Gagah Arofat
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.59

Abstract

ABSTRAK PT Gag Nikel termasuk salah satu dari 13 perusahaan yang diperbolehkan melakukan aktivitas pertambangan dengan sistem tambang terbuka di wilayah hutan lindung, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Luas wilayah Kontrak Karya 13.136 Ha sedangkan luas Pulau Gag adalah 6.030,53 Ha. PT Gag Nikel memperoleh  Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan untuk Kegiatan Operasi Produksi Nikel dan Sarana Penunjangnya Seluas 603,25 Ha. Secara singkat geologi daerah Pulau Gag tersusun oleh 2 (dua) satuan batuan yang dominan yaitu batuan vulkanik bagian Utara (menempati 1/3 daratan) dan bagian Selatan batuan ultramafik (menempati 2/3 daratan). PT Gag Nikel memulai kegiatan operasional penambangan pada bulan Januari 2018 sedangakan untuk estimasi sumberdaya per 31 Desember 2018 adalah limonit 154,36 juta WMT kadar Ni 1,46 % dan saprolit 160,08 juta WMT kadar Ni 1,92 % dan untuk cadangan per 31 Desember 2018 adalah limonit 8,22 juta WMT kadar Ni 1,55 % dan saprolit 39,54 juta WMT kadar Ni 1.89 %. Manajemen stockpile adalah bagian penting dalam proses penambangan Nikel laterit, hal ini dikarenakan berkaitan dengan proses blending selanjutnya, proses pengeringan, dan kepastian barging serta penjadwalan pengapalan. Mengingat umur tambang yang masih panjang dengan target produksi 3 juta WMT tiap tahun untuk itu penanganan stockpile menjadi hal yang sangat penting dalam rantai produksi. Departemen yang berkaitan langsung dengan hal ini adalah Departemen Qa/ Qc. Departemen tersebut bertugas untuk memantau perkembangan stockpile terkait kuantitas dan kualitasnya. Setiap stockpile memiliki kadar (rata-rata), MC S/M yang berbeda-beda. Selama ini stockpile yang ada selalu diukur volume, MC, dan kadarnya, sehingga nantinya dapat digunakan/diprediksi untuk melakukan rencana blending dengan stockpile yang lain (secara keseluruhan) saat ditransport ke barge atau final stockpile area (EFO - Exported Final Ore). Pengambilan sample dilakukan dengan increement (per- 2 truck DT) dan dilakukan komposit setiap 10 increement (20 DT) untuk menghasilkan satu assay dari pit tambang menuju rencana stockpile yang akan ditempatkan (dumping). Dalam rangka untuk meningkatkan keefektifan dan keteraturan stockpile maka diperlukan sistem yang baik dalam penanganannya. Untuk itu dibuatlah metode terkait manajemen stockpile yang terdiri dari lokasi, desain, dan perawatan stockpiles. Diharapkan metoda ini dapat menjaga kualitas dan kuantitas serta memudahkan pengaturan blending. Kata kunci :  Cadangan, Manajemen, Pulau Gag, Sumberdaya, Stockpile
ANALISIS TEKNIS PENGGUNAAN SHOTCRETE PADA TAMBANG BAWAH TANAH GRASBERG BLOCK CAVE (GBC) DI PT. FREEPORT INDONESIA PROVINSI PAPUA Mahmud Said; A.A Inung Arie Adnyano; Bayurohman Pangacella Putra; Jeffryson Munsaki Rumbewas
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2020: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.197

Abstract

Penggunaan shotcrete merupakan salah satu penyanggaan sekunder untuk menjaga kestabilan lubang bukaan pada metode penambangan block caving yang diterapkan PT. Freeport Indonesia di area Grasberg Block Cave (GBC). Pada pengaplikasian shotcrete dilapangan divisi engineering menambahkan material dari kebutuhan sebenarnya sebanyak 240% sebagai faktor overspray. Penambahan tersebut akan mempengaruhi besarnya biaya material shotcrete dan tidak sesuai dengan program efisiensi perusahaan pada masa development. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi tidak optimalnya penggunaan shotcrete, melakukan pencegahan untuk mengurangi shotcrete yang terbuang dilapangan, dan mengurangi penambahan shotcrete faktor overspray saat perencanaan. Metode penelitian dengan mengumpulkan data primer yang diperoleh langsung dilapangan dan data sekunder yang diperoleh dari arsip perusahaan serta studi literatur. Pada perencanaan shotcrete, kapasitas getmen mixer 4 m³ dapat melapisi heading dengan shotcrete sepanjang 4,65 meter dan berdasarkan data pengukuran panjang dan luasan area shotcrete hanya membutuhkan rata-rata 1,97 m³. Hasil analisis berdasarkan 22 data mixer, didapatkan volume shotcrete yang terisi dalam getmen mixer rata-rata 3,86 m³, shotcrete yang tertempel pada heading rata-rata 3,16 m³, dan panjang yang dapat di shotcrete pada penyemprotan full drift hanya 2,96 meter. Sehingga terdapat overspray rata-rata 121% yang menunjukkan penambahan material faktor overspray saat perencanaan kurang dari 240%. Overspray yang terjadi dipengaruhi oleh faktor overbreak, ketebalan shotcrete 12-27 cm yang melebihi dari perencanaan 7,5 cm, ketidaksesuaian volume pengisian getmen mixer yang kurang dari 4 m³, dan material terbuang dilapangansaat spraying (rebound) dan saat proses transfer material dari getmen mixer ke maxijet.
PENINGKATAN KUALITAS FRAGMENTASI DAN DIGGING TIME DENGAN MENGGUNAKAN DETONATOR ELEKTRONIK DI PIT CMD PT KALTIM PRIMA COAL Aris Hermawanto; Radja Nove Putra
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.76

Abstract

ABSTRAK Salah satu faktor penting yang mempengaruhi kualitas hasil peledakan adalah tingkat keakurasian waktu tunda dari sistem inisiasi peledakan yang digunakan. Saat ini, peledakan di Pit PAMA CMD PT Kaltim Prima Coal (PT KPC) menggunakan detonator non electric (nonel) yang memiliki tingkat keakurasian waktu tunda sebesar ±97-98% dari waktu tunda rencana. Hasil analisis fragmentasi menggunakan software WipFrag™ dan pengukuran digging time pada peledakan nonel menunjukkan % passing 300 mm (P30) sebesar 80,64% dengan digging time 11,10 detik di Pit Pelikan dan P30 sebesar 82,66% dengan digging time 10,41 detik di Pit Kanguru. Ukuran fragmentasi pada peledakan nonel di Pit PAMA CMD aktualnya telah memenuhi standar ukuran fragmentasi yang diterapkan di PT KPC yaitu P30 ≥ 80%, namun masih terdapat potensi untuk meningkatkan hasil ini dengan menggunakan detonator elektronik DigiShot™ Plus (DS+). Penggunaan DS+ yang memiliki tingkat keakurasian waktu tunda mencapai ±99.8% dari waktu tunda rencana, selain dapat meningkatkan kualitas ukuran fragmentasi juga dapat memperbaiki digging time dan mengurangi penggunaan Lead in Line (LiL) dengan aplikasi remote firing. Hasil peledakan DS+ di Pit Pelikan menunjukkan P30 sebesar 86,24% atau 5,6% lebih tinggi dibanding peledakan nonel dengan digging time 10,22 detik atau 7,9% lebih cepat dibanding peledakan nonel. Sementara data yang didapat di Pit Kanguru menunjukkan P30 sebesar 87,55% atau 4,9% lebih tinggi dengan digging time 9,66 detik atau 7,2% lebih cepat dibanding peledakan nonel. Data ini didapatkan dari penggunaan DS+ sebanyak 8.541 unit di 89 lokasi peledakan di Pit Pelikan dan Pit Kanguru PAMA CMD PT KPC. Selaras dengan peningkatan pada kualitas fragmentasi dan digging time, peledakan DS+ di Pit PAMA CMD juga berkontribusi terhadap perbaikan produktivitas alat gali yang meningkat ±2,5% dan penghematan penggunaan LiL sepanjang 49,8 km. Dapat disimpulkan, penggunaan detonator elektronik pada peledakan sangat berpotensi untuk meningkatkan kualitas hasil peledakan dan penghematan biaya peledakan jika diaplikasikan dengan optimal. Kata kunci: elektronik, fragmentasi, digging time   ABSTRACT One important factor that influences the quality of blasting results is the accuracy of the delay of the blasting initiation system used. At present, the blast activity at PAMA CMD Pit PT Kaltim Prima Coal uses a non-electric (nonel) detonator which has a delay time accuracy of ± 97-98% of the planned delay. The results of fragmentation analysis using WipFrag™ software and measurement of digging time on nonel blasting showed % passing 300 mm (P30) was 80.64% with digging time of 11.10 seconds in the Pelikan Pit and P30 of 82.66% with digging time of 10.41 seconds in the Kanguru Pit.The size of the fragmentation in nonel blast at PAMA CMD Pit actually has met the standard fragmentation size applied at PT KPC which is P30 ≥ 80%, but there is still potential to increase this result by using the DigiShot ™ Plus (DS +) electronic detonator. The use of DS + which has an accuracy of delay time reaching ± 99.8% of the plan delay time, not only to increase the quality of the fragmentation size, but also improve digging time and reduce the use of Lead in Line (LiL) with remote firing applications. The results of DS + blasting in Pelikan Pit showed P30 was 86.24% or 5.6% higher than nonel blasting with digging time 10.22 seconds or 7.9% faster than nonel blasting. The data obtained in the Kanguru Pit showed P30 was 87.55% or 4.9% higher with a digging time of 9.66 seconds or 7.2% faster than nonel blasting. This data was obtained from the use of DS + as many as 8,541 units in 89 blasting locations in the Pelikan Pit and the Kanguru PAMA CMD Pit PT KPC. In line with the improvement in the quality of fragmentation and digging time, DS + blasting in the PAMA CMD Pit also contributed to improved digging equipment productivity which increased by ± 2.5% and savings in the use of LiL along 49.8 km. It can be concluded, the use of electronic detonators in blasting has the potential to improve the quality of blasting results and blast cost savings if applied optimally. Keywords: electronics, fragmentation, digging time
SUMBER DAYA MANUSIA MELAWAN ARTIFICIAL INTELLEGENCE Aldi Miftahur Rizqi Saipullah
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2020: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.213

Abstract

Faktanya indeks modal manusia yang bisa diumpakan sebagai takaran setiap negara untuk mengukur perbandingan sumber daya manusia di indonesia pada tahun lalu hanya sebesar 0,53 yang mana tidak lebih tinggi dari negara ASEAN yang lain, dengan Malaysia berdasarkan WORLD BANK yang berada diperingkat 55 dengan point 0,67 sedangkan Indonesia berada di peringkat 87. Dengan perbandingan dan beberapa analisis tujuan dari penelitian ini adalah bagaimana cara menstimulasi perkembangan sumber daya manusia di indonesia terkhususnya disektor pertambangan yang bisa bersaing atau bahkan peka terhadap celah teknologi dan mampu meraelisasikanya, seperti halnya teknologi terbaru di Papua indonesia yang mana tambang bawah tanahnya sudah dioprasikan dengan beberapa alat berat yang dapat dikontrol dari jarak jauh.kemajuan yang ada saat ini membuat Sumber Daya Manusia mau tak mau harus siap untuk bisa perang melawan teknologi tapi bukan tak mungkin sumber daya manusia di Indonesia dapat menciptakan atau mengevaluasi teknologi yang sangat menguntukan untuk masyarakat luas 
KAJIAN GEOTEKNIK UNTUK OPTIMALISASI DESAIN TAMBANG BATUBARA MENGGUNAKAN LIMIT EQUILIBRIUM METHOD1) Luqmanul Hakim Maulana; vJerry Dwi Fajar S.T
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.92

Abstract

ABSTRAKPT XYZ sebagai salah satu perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan batubara yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Telah merencanakan pembuatan pit dan timbunan di suatu lahan yang belum dibuka. Oleh karena itu diperlukan studi geoteknik untuk menganalisa geometri lereng bukaan tambang serta timbunan yang telah direncanakan oleh pihak perusahaan.Kegiatan penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data primer yang diperoleh dari pengeboran geoteknik, pengukuran muka air tanah dari 9 titik yang dianggap mewakili karakteristik massa tanah atau batuan dari beberapa pit. Lapisan batuan penyusun lereng tambang didominasi oleh batupasir dan batulempung, dijumpai pula batu lanau, carbon disamping batubara yang akan ditambang. Tanah atau batuan di lokasi penelitian termasuk kriteria batuan sedang sampai lemah, dibuktikan oleh pendekatan indeks kekuatan geologi dan sifat mekanik batuan. Pengukuran muka air tanah di daerah penelitian termasuk dalam kondisi jenuh dengan kedalaman MAT 0,88 - 11,975 meter.Penelitian dilakukan dengan jumlah pit sebanyak 7 pit, dan 13 penampang (section) yaitu penampang A-A’ sampai dengan penampang N-N’, yang merepresentasikan bentuk dari tiap pit penambangan batubara meliputi highwall dan lowwall. Kemantapan lereng untuk rencana desain tambang awal pada penampang A-A’ sampai dengan penampang N-N’ untuk lereng highwall dan lowwall faktor keamanannya terdapat yang sudah stabil namun masih dapat dioptimalkan, stabil dan tidak stabil, sehingga untuk lereng yang berada dalam kondisi stabil yang dapat dioptimalkan dilakukan desain ulang dengan kemiringan lereng yang curam dari sebelumnnya, kemudian untuk lereng yang tidak stabil dilakukan desain ulang dengan kemiringan lereng yang landai dari sebelumnnya. Rekomendasi lereng untuk penampang A-A’ lereng highwall yaitu overall slope angle 330 dan tinggi lereng 69,665 m serta untuk lereng lowwall yaitu overall slope angle 130 dan tinggi lereng 48,105 m, penampang B-B’ lereng highwall yaitu overall slope angle 290 dan tinggi lereng 34,139 m serta untuk lereng lowwall yaitu overall slope angle 220 dan tinggi lereng 40,109 m, penampang C-C’ lereng highwall yaitu overall slope angle 300 dan tinggi lereng 97,900 m serta untuk lereng lowwall yaitu overall slope angle 150 dan tinggi lereng 69,284  m, penampang D-D’ lereng highwall yaitu overall slope angle 490 dan tinggi lereng 77,023 m serta untuk lereng lowwall yaitu overall slope angle 70 dan tinggi lereng 132,16  m. Kata Kunci:  Kestabilan Lereng, Highwall, Lowwall, Sidewall, Metode Kesetimbangan Batas  ABSTRACT PT XYZ as one of the companies engaged in coal mining located in Kutai Kartanegara Regency, East Kalimantan Province. Planned construction of pits and waste dump on land that has not been cleared. Therefore a geotechnical study is needed to analyze the geometry of the mine opening slope and the pile planned by the company.Research activities carried out by collecting primary data obtained from geotechnical drilling, groundwater level measurements from 9 points that are considered to represent the characteristics of the soil mass or rock from several pits. Rock layers making up the mine slope are dominated by sandstone and claystone, silt stone, carbon in addition to the coal to be mined. The soil or rocks at the study site are of moderate to weak rock criteria, evidenced by the geological strength index approach and rock mechanical properties. Based on ground water level measurements in the study area included in saturated conditions with a MAT depth of 0.88 - 11.975 meters from the surface.The study was conducted with a total of 7 pits, and 13 section sections, namely A-A section to N-N section, which represent the shape of each coal mining pit including highwall and lowwall. Slope stability for the initial mine design plan on cross sections A-A 'to N-N cross sections for highwall and lowwall slopes there are safety factors that are already stable but can still be optimized, stable and unstable, so for slopes that are in stable conditions that are can be optimized redesigned with a steep slope from the previous, then for unstable slopes redesigned with a safety slope from the previous. Recommended slopes for cross section A-A 'highwall slopes are overall slope angle 330 and slope height 69,665 m and for lowwall slopes are overall slope angle 130 and slope height 48,105 m, cross section B-B' highwall slopes are overall slope angle 290 and slope height 34,139 m and for lowwall slopes namely overall slope angle 220 and slope height 40,109 m, cross section C-C 'highwall slope is overall slope angle 300 and slope height 97,900 m and for lowwall slopes are overall slope angle 150 and slope height 69,284 m, cross section D-D 'highwall slope is 490 overall slope angle and 77.023 m slope height and lowwall slope angle 70 overall and 132.16 m slope height. Key Word:  Slope Stability, Highwall, Lowwall, Sidewall, Limit Equilibrium Method