cover
Contact Name
Richa Mardianingrum
Contact Email
j.pharmacosript@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
j.pharmacosript@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pembela Tanah Air No.177, Kahuripan, Tawang, Tasikmalaya, Jawa Barat 46115
Location
Kota tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
Pharmacoscript
ISSN : 26224941     EISSN : 26851121     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Pharmacoscript merupakan jurnal penelitian yang dikelola oleh Prodi Farmasi dibawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Perjuangan Tasikmalaya (P-ISSN: 2622-4941 E-ISSN: 2685-1121) Jurnal ini merupakan media publikasi penelitian dan review artikel pada semua aspek ilmu farmasi yang bersifat inovatif, kreatif, original dan didasarkan pada scientific yang diterbitkan 2 kali dalam 1 tahun yakni pada bulan Agustus dan Februari. Jurnal ini memuat bidang khusus di farmasi seperti kimia farmasi, teknologi farmasi, farmakologi, biologi farmasi, farmasi klinik, dan bioteknologi farmasi.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 2 (2023): Pharmacoscript" : 9 Documents clear
ANALISIS DRUG’s RELATED PROBLEMS (DRP’s) PADA PASIEN DENGAN KASUS CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD) DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TK II SARTIKA ASIH KOTA BANDUNG Setiadi Anggi; Prasanti Rani Wahyoe; Wikaningtyas Pratiwi
Pharmacoscript Vol. 6 No. 2 (2023): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v6i2.1210

Abstract

Chronic kidney disease atau CKD adalah penurunan progresif fungsi ginjal (penurunan sejumlah fungsi nefron) yang terjadi lebih dari beberapa bulan sampai beberapa tahun. Masalah medis yang kompleks umumnya ditemui pada pasien dengan diagnosa CKD baik dengan komorbid atau tanpa komorbid, sehingga hal ini rentan menyebabkan timbulnya masalah-masalah yang berkaitan dengan obat yang dapat mempengaruhi hasil terapi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menilai kejadian masalah terkait obat potensial pada pasien CKD dengan atau tanpa penyakit komorbid. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian non-eksperimental deskriptif dengan rancangan cross sectional secara prospektif dengan melihat data rekam medik pasien selama periode Mei 2022-Juli 2022. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan metode non-probability sampling   yaitu total sampling, dengan jumlah sampel 76 pasien. Kriteria inklusi adalah pasien baru masuk rawat inap dengan diagnosis CKD, dan dengan atau tanpa penyakit komorbid, berusia diatas 18 tahun (pria/wanita), memiliki LFG < 60 mL mnt/ 1,73 m2. Sedangkan, kriteria eksklusi meliputi pasien dengan rekam medis tidak lengkap atau tidak terbaca. Klasifikasi Drug Related Problems (DRPs) menggunakan Pharmaceutical Care Network Europe (PCNE) versi 9.1. Hasil analisis DRPs potensial menunjukkan bahwa terdapat terdapat 4 kasus indikasi tidak diobati (5,26%), 70 kasus interaksi obat potensial (93,33%), 67 kasus polifarmasi (88,16%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa diagnosis penyakit dan jumlah obat secara signifikan meningkatkan kejadian DRPs pada pasien (p <0,05). Analisis multivariat menggunakan regresi logistik menunjukkan bahwa variabel diagnosis penyakit dan jumlah obat terdapat perbedaan signifikan dalam peningkatan kejadian DRPs pada pasien (p <0,05), dengan hasil Odds Ratio (OR) variabel jumlah obat yaitu 2,618 artinya pasien dengan penyakit CKD yang mendapatkan jumlah obat banyak (polifarmasi) memiliki peluang resiko 2-3 kali terhadap terjadinya DRPs, begitupun pada hasil OR variabel jumlah diagnosa penyakit yaitu 2,382 artinya pasien dengan penyakit CKD yang mendapatkan multidiagnosa  memiliki peluang resiko 2 kali terhadap terjadinya DRPs.
ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA TERAPI ANTIDIABETES PASIEN NEFROPATI DIABETES DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT (RSUP) FATMAWATI Kusuma Ema Nillafita Putri
Pharmacoscript Vol. 6 No. 2 (2023): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v6i2.1215

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) merupakan gangguan kesehatan yang menjadi salah satu penyebab kondisi darurat kesehatan global dengan progresitas penyakit yang sangat cepat di abad 21. Prevalensi diabetes melitus diprediksi akan terus meningkat setiap tahunnya, hingga mencapai 643 juta orang pada tahun 2030. Kondisi DM akan memunculkan sebuah risiko komplikasi baik komplikasi mikrovaskular ataupun makrovaskular, serta akan berdampak pada besaran biaya yang diperlukan untuk sebuah proses terapi medis yang berkelanjutan. Pertimbangan kondisi komplikasi pasien, efektivitas, risiko efek samping, dan harga obat akan sangat menentukan pilihan terapi dan keberhasilan proses terapi pasien. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan terapi antidiabetika yang lebih cost effective untuk pasien nefropati diabetik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif non eksperimental dengan menggunakan data rekam medis pasien rawat jalan di Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati dalam jangka waktu 1 (satu) tahun. Berdasarkan perhitungan secara ACER penggunaan Glimepiride lebih cost effective, namun secara ICER penggunaan Gliquidone lebih cost effective dibandingkan dengan pilihan terapi yang lain.
POLA PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN DISPEPSIA DI PUSKESMAS CIMAHI TENGAH KOTA CIMAHI Suherman Linda Purnamawati; Islamiyah Alfi Nurul; Mutawali Ahmad; Amelia Riza; Septiani Vina; Ramdani Robby; Indrawati Wiwiek
Pharmacoscript Vol. 6 No. 2 (2023): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v6i2.1257

Abstract

Dispepsia merupakan suatu kondisi nyeri atau rasa tidak nyaman, seperti mual, muntah, kembung, cepat kenyang, rasa perut penuh, dan nyeri pada epigastrium. Dispepsia merupakan penyakit tidak menular dengan peringkat 20 penyakit terbesar di Puskesmas Kota Bandung. Di Puskesmas di Kecamatan Batununggal Bandung (2020) ditemukan ketidaktepatan dosis (40,38%), ketidaktepatan waktu interval pemberian (29%), dan ketidaktepatan lama pemberian obat (90,38%) dispepsia. Penggunaan obat dispepsia yang rasional sangat penting untuk mencapai keberhasilan terapi dan mencegah kejadian yang tidak dikendaki.. . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan dan rasionalitas penggunaan obat pada pasien dispepsia yang meliputi tepat indikasi, tepat pemilihan obat, tepat dosis obat, tepat interval waktu pemberian obat, dan tepat cara pemberian obat. Penelitian bersifat deskriptif dengan metode pengambilan data secara retrospektif dengan teknik purposive sampling. Penelitian dilakukan pada resep 52 pasien dengan diagnosa dispepsia di Puskesmas Cimahi Tengah pada bulan Oktober-Desember 2021. Data dianalisis secara deskriptif berdasarkan karaktersitik pasien, profil obat dan kesesuaian penggunaan obat berdadsarkan Konsensus Nasional Penatalaksanaan Dispepsia dan Infeksi Helicobacter pylori. Hasil penelitian diperoleh data sebanyak 17 pasien laki-laki (32,69%) dan 35 pasien perempuan (67,31%). Pasien dispepsia mayoritas terjadi pada pasien berusia 36-45 tahun (21,15%). Golongan obat dispepsia paling sering digunakan adalah antasida (71,83%) dan obat terapi pendukung yang paling sering digunakan adalah parasetamol (61,54%), terapi kombinasi obat terbanyak digunakan yaitu antasida dan omeprazole sebanyak (19,23%). Ketepatan pemilihan obat, ketepatan indikasi obat, ketepatan dosis obat, ketepatan interval waktu pemberian obat, dan ketepatan cara pemberian obat dispepsia di Puskesmas Cimahi Tengah Kota Cimahi didapatkan hasil 100% tepat sesuai literatur.
DESAIN DAN STUDI INTERAKSI SENYAWA KOMPLEKS COBALT (II)-(1-BENZOYL-3-METHYL THIOUREAS) DENGAN DNA SEBAGAI KANDIDAT ANTIKANKER Ruswanto Ruswanto; Mardianingrum Richa; Naser Fahmi Muhamad
Pharmacoscript Vol. 6 No. 2 (2023): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v6i2.1264

Abstract

Kompleks logam Cobalt (II) dengan ligan turunan tiourea telah banyak diteliti dan dipelajari dalam pengembangan obat anti kanker. Tujuan penelitian adalah untuk menemukan kandidat antikanker yang lebih poten dari senyawa Cobalt (II)-tiourea dengan cara mempelajari interaksi pada DNA Dodecamer. Metode yang digunakan adalah simulasi docking dan prediksi farmakokinetik dan toksisitas. Dua senyawa Cobalt (II)-tiourea yaitu senyawa Bis-[3-methyl-1-(naphthalene-2-carbonyl)thiourea] Cobalt (III) dan Bis-[1-(4-heptylbenzoyl)-3-methylthiourea] Cobalt (III) yang diprediksi sebagai kandidat antikanker melalui interaksi dengan DNA Dodecamer.
FORMULASI SEDIAAN LOTION EKSTRAK DAUN TANAMAN PORANG (Amorphophallus muelleri Blume) YANG STABIL SECARA FARMASEUTIK Hamsinah Hamsinah; M Vina Purnamasari; Meylinda Amelia; Aminah Aminah
Pharmacoscript Vol. 6 No. 2 (2023): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v6i2.1277

Abstract

Daun tanaman porang (Amorphophallus muelleri Blume) memiliki potensi sebagai antioksidan karena mengandung senyawa flavonoid yang mampu menangkal radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi serta mengevaluasi sediaan lotion dari ekstrak daun porang yang stabil secara farmaseutik. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yaitu ekstrak kental daun tanaman porang yang diperoleh dengan mengekstraksi daun porang dengan maserasi. Formulasi lotion dibuat dengan memvariasikan asam stearat dengan konsentrasi 10%, 11% dan 12,5% serta trietanolamin dengan konsentrasi 2%, 3% dan 4%. Evaluasi sediaan meliputi uji organoleptik, homogenitas, tipe emulsi, pH, daya sebar, daya lekat, viskositas, tipe aliran, serta kestabilan fisik selama 10 hari penyimpanan. Hasil evaluasi yang telah dilakukan sebelum dan setelah kondisi dipaksakan menunjukkan uji organoleptik tidak terdapat perubahan warna, bentuk dan bau. Uji homogenitas menunjukkan ketiga formula homogen. Uji tipe emulsi menunjukkan ketiga formula merupakan emulsi minyak dalam air. Uji pH berkisar antara 7,2-7,69. Uji daya sebar ketiga formula berkisar antara 5,03-6,36. Uji daya lekat pada formula 2 dan formula berkisar antara 4-5 detik sedangkan formula 1 tidak memenuhi kriteria karena lebih dari 4 detik. Uji viskositas berkisar antara 9200-31806,67 cps. Uji tipe aliran menunjukkan aliran thiksotropik-plastis. Semua sediaan lotion yang telah diujikan memenuhi kriteria, kecuali pada pengujian daya lekat terdapat formula 1 sehingga ekstrak daun porang dapat dibuat menjadi sediaan lotion yang stabil secara farmaseutik.
FAKTOR RISIKO INFEKSI SEKUNDER BAKTERI DAN POLA SENSITIVITAS ANTIBIOTIK PADA PASIEN COVID-19 DI RUANG INTENSIF SALAH SATU RUMAH SAKIT TIPE A DI BANDUNG Rejeki Tri Ratna; Amalia Lia; Sumardi Uun
Pharmacoscript Vol. 6 No. 2 (2023): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v6i2.1282

Abstract

Pasien COVID-19 dapat mengalami infeksi sekunder selama perawatan di rumah sakit. Infeksi virus pada saluran pernafasan dapat menjadi predisposisi infeksi sekunder bakteri yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Beberapa penelitian melaporkan adanya infeksi sekunder pada pasien COVID-19 dengan prevalensi yang bervariasi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk memberikan gambaran kejadian infeksi sekunder, menganalisis faktor risiko yang berkaitan dengan kejadian infeksi sekunder, dan mengidentifikasi bakteri serta pola kepekaannya terhadap antibiotik pada pasien COVID-19 di Intensive Care Unit (ICU). Penelitian ini merupakan dekskriptif analitik dengan metode cross sectional menggunakan data retrospektif di salah satu rumah sakit tipe A di Bandung pada periode Maret 2020-Februari 2022. Sebanyak 302 subjek yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan 38,41% subjek mengalami infeksi sekunder bakteri. Bakteri Gram negatif yang paling banyak diidentifikasi pada sputum yaitu Acinetobacter baumannii (56,03%), Klebsiella pneumoniae (38,79%), dan Pseudomonas aeruginosa (9,48%). Sedangkan bakteri Gram positif yang diidentifikasi yaitu Staphylococcus haemolyticus (11,21%), Staphylococcus hominis (3,45%), dan Streptococcus mitis (2,59%). Antibiotik dengan sensitivitas tertinggi terhadap bakteri Gram negatif pada subjek yaitu amikasin dan tigesiklin. Sedangkan terhadap bakteri Gram positif pada subjek yaitu vankomisin, linezolid, tetrasiklin dan tigesiklin. Infeksi sekunder bakteri pada penelitian ini paling banyak disebabkan oleh bakteri Gram negatif. Infeksi sekunder bakteri berhubungan dengan riwayat penggunaan antibiotik, riwayat hospitalisasi, penggunaan ventilator dan penyakit diabetes melitus. Pola sensitivitas antibiotik dapat menjadi pedoman dalam memilih antibiotik yang sesuai untuk infeksi sekunder bakteri pada pasien COVID-19.
KNOWLEDGE INFLUENCE IN THE COMPLIANCE RATE OF TAKING DRUGS TUBERCULOSIS Kamri Andi Maulana; Asmaliani Ira
Pharmacoscript Vol. 6 No. 2 (2023): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v6i2.1285

Abstract

Compliance with medication for tuberculosis patients is one of the determinants of the success of therapy in addition to the effectiveness of antibiotics. The aim of this study is to identify the factors that influence the success of a therapy, in the long-term use of antibiotics for tuberculosis. We use questionnaires that we have created and validated in interviews and can be used to directly measure the level of compliance with the therapy experienced by the patient. This research method is an observational study with cross-sectional design and retrospective data collection. Respondents were patients with tuberculosis, both new and recurrent. The study sample consisted of 30 respondents with sequential sampling selection and the basis for patient interviews. The analysis used is a Chi-square binary between a variable in the history of tuberculosis with a long diagnosis during therapy that shows a relationship between education and family involvement in helping treatment especially in male patients with a P value <0,05. Multivariate analysis showed that men who never completed education even though they were still in a productive age had a low level of compliance. The results of the interviews showed that patients who obeyed the drug only reached 30% with scores reaching a score of 8. This is due to the large amount of medication taken, so the risk of success of therapy is very large. This research shows that the level of education, information, and family environment can support patient medication compliance. In addition, the more the amount of medication taken, the lower the patient's compliance.
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SERUM WAJAH EKSTRAK DAUN JAMBU AIR (Syzygium aqueum (Burm.f.) Alston) MENGGUNAKAN METODE DPPH Amalia Dewi Zulfa; Adlina Salsabila; Agustien Gina Septiani
Pharmacoscript Vol. 6 No. 2 (2023): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v6i2.1363

Abstract

Antioksidan adalah senyawa yang dapat menghambat atau menangkal aktivitas radikal bebas. Daun jambu air digunakan dalam pembuatan sediaan serum wajah karena memiliki aktivitas antioksidan. Serum merupakan salah satu sediaan kosmetik yang mengandung konsentrasi zat yang tinggi dan lebih efektif mengatasi kulit wajah. Konsentrasi ekstrak daun jambu air yang digunakan pada pembuatan serum ini yaitu sebesar 6%, 8%, dan 10%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak daun jambu air dengan menggunakan metode DPPH. Metode DPPH digunakan untuk menunjukkan kemampuan senyawa antioksidan pada sampel dalam mendonorkan elektronnya. Uji evaluasi sediaan yang dilakukan diantaranya uji organoleptis, uji homogenitas, uji daya sebar, uji pH, dan uji viskositas. Selanjutnya dilakukan pengujian aktivitas antioksidan dengan menggunakan alat Spektrofotometer UV-Vis. Hasil menunjukkan ketiga formulasi serum wajah ekstrak daun jambu air telah memenuhi persyaratan pada setiap uji evaluasi. Uji aktivitas antioksidan sediaan serum ekstrak daun jambu air formula 1, 2, dan 3 menghasilkan nilai IC50 berturut-turut sebesar 114,62 ppm; 92,97 ppm; dan 41,93 ppm dengan kategori sedang, kuat, dan sangat kuat.
PEMODELAN MOLEKUL DAN MOLEKULAR DINAMIK PUTIK BUNGA SAFRON (Crocus sativus L.) SEBAGAI KANDIDAT OBAT ANTIKANKER PAYUDARA Pitaloka Ria Indah Kusuma; Kesuma Dini; Azminah Azminah
Pharmacoscript Vol. 6 No. 2 (2023): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v6i2.1391

Abstract

Kanker payudara adalah tumor ganas yang terbentuk dari sel-sel payudara yang berkembang tanpa terkendali. Doxorubicin merupakan antibiotik golongan antrasiklin yang banyak digunakan untuk kemoterapi pada kanker payudara namun menyebabkan kardiotoksisitas. Tujuan penelitian ini adalah menemukan senyawa sebagai kandidat obat antikanker payudara yang berasal dari metabolit sekunder putik bunga saffron (Crocus sativus L) secara in silico. Analisis metabolit sekunder dilakukan dengan prediksi druglikeness, ADME-Tox, dan uji aktivitas metabolit sekunder dengan metode molecular docking menggunakan program AutoDock Vina dengan reseptor SIRT1 (PDB: 4I5I). Tahap selanjutnya dilakukan uji stabilitas dengan molecular dynamic menggunakan program CHARMM-GUI dan GROMACS yang terdiri dari RMSD, RMSF, jari-jari girasi, SASA dan ikatan hydrogen. Hasil molecular docking menunjukkan metabolit sekunder terbaik putik bunga saffron (Crocus sativus L) yaitu Scutellarein 7-methyl ether 6-glucoside (ΔG = -11,53 kkal/mol) terhadap senyawa pembanding doxorubicin (ΔG = -9,46 kkal/mol). Hasil interaksi ikatan senyawa Scutellarein 7-methyl ether 6-glucoside dengan reseptor 4I5I menunjukkan adanya ikatan hydrogen pada asam amino ASP A:348; ILE A:347; ikatan hidrofobik pada asam amino PHE A:273; PHE A:297. Senyawa Scutellarein 7-methyl ether 6-glucoside selama simulasi menunjukkan hasil RMSD yang relatif stabil dengan selisih nilai RMSD pada kisaran 0,15-0,3 Å; nilai RMSF; nilai jari-jari girasi; nilai SASA, ikatan hidrogen yang relatif stabil tanpa adanya fluktuasi selama waktu simulasi berjalan hingga 20ns. Diharapkan pada penelitian lebih lanjut dilakukan uji in vitro terhadap senyawa Scutellarein 7-methyl ether 6-glucoside yang berpotensi sebagai aktivator SIRT1.

Page 1 of 1 | Total Record : 9