cover
Contact Name
Richa Mardianingrum
Contact Email
j.pharmacosript@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
j.pharmacosript@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pembela Tanah Air No.177, Kahuripan, Tawang, Tasikmalaya, Jawa Barat 46115
Location
Kota tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
Pharmacoscript
ISSN : 26224941     EISSN : 26851121     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Pharmacoscript merupakan jurnal penelitian yang dikelola oleh Prodi Farmasi dibawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Perjuangan Tasikmalaya (P-ISSN: 2622-4941 E-ISSN: 2685-1121) Jurnal ini merupakan media publikasi penelitian dan review artikel pada semua aspek ilmu farmasi yang bersifat inovatif, kreatif, original dan didasarkan pada scientific yang diterbitkan 2 kali dalam 1 tahun yakni pada bulan Agustus dan Februari. Jurnal ini memuat bidang khusus di farmasi seperti kimia farmasi, teknologi farmasi, farmakologi, biologi farmasi, farmasi klinik, dan bioteknologi farmasi.
Arjuna Subject : -
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript" : 21 Documents clear
FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN KRIM PEWARNA RAMBUT DARI Monascus purpureus Anna, Yuliana; Meisya, Aulia; Resha Resmawati, Shaleha
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.1998

Abstract

Rambut merupakan satu dari beberapa elemen penting dalam penampilan seseorang dan sering kali dianggap sebagai mahkota yang mempercantik tampilan. Budaya di masyarakat rambut diberikan perhatian khusus sebagai ekspresi diri dan keindahan dimana pewarna rambut dapat dipakai sebagai tempat untuk mengekspresikan diri, dimana pewarna rambut telah dikembangkan dengan memakai pewarna alami karena dinilai lebih aman dibandingkan dengan memakai pewarna sintetik. Angkak mengandung metabolit sekunder berupa pigmen Monascus dengan tiga kelompok utama, yakni pigmen kuning, merah, dan jingga dimana angkak sendiri merupakan produk fermentasi beras Monascus sp. Tujuan dari riset ini ialah memperoleh hasil dari proses emanfaatan ekstrak pigmen merah dan pigmen kuning Monascus purpureus sebagai pewarna rambut dibuat menjadi 4 formula dimana formula 1 mengandung angkak sebanyak 10%, formula 2 mengandung angkak sebanyak 15%, dan formula 3 mengandung angkak sebanyak 20%. Formula terbaik diperoleh ada F3 dari pigmen kuning dan telah memenuhi standar menurut SNI 16-4339-1996 pada uji pH, daya sebar, dan viskositas. Untuk uji organoleptik, homogenitas, stabilitas warna pada rambut, iritasi memiliki hasil yang baik. Uji hedonik dilakukan terhadap 15 panelis dengan hasil F3 dari pigmen kuning yang paling banyak disukai.
HYPOGLYCEMIA POTENTIAL OF ETHANOL EXTRACT OF MELINJO LEAVES (Gnetum gnemon L.) ON WISTAR MALE WHITE RATS Herlina, Herlina; Dina Permata, Wijaya; Viva, Starlista; Annisa, Amriani; Herin, Noviarny
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.2011

Abstract

Male rats were used in the study to evaluate the ethanol extract of melinjo leaf (Gnetum gnemon L.) for hypoglycemia after being given alloxan and having their pancreatic histology observed. Secondary metabolites with antidiabetic properties found in melinjo leaf include flavonoids, tannins, saponins, and phenolics. This study sought to ascertain the ethanol extract of melinjo leaves' ED50 as well as its impact on lowering blood glucose levels and monitoring pancreatic histology. The doses of melinjo leaf ethanol extract were varied to 125, 250, and 500 mg/kgBW. An insulin dosage of 1 IU/kgBW served as the positive control, a 0.5% Na CMC suspension served as the negative control, and a normal control group did not receive any therapy. Rats were tested by utilizing a DTN-410-K photometer to measure their fasting blood glucose levels on days 0, 10, 15, and 20 using the GOD-PAP enzymatic method. Hematoxylin-eosin staining was used in histopathology preparations, which were prepared in accordance with established protocols. Melinjo leaf ethanol extract dosages of 125, 250, and 500 mg/kgBW resulted in three treatment groups with corresponding the percentage of blood glucose reduction (%BGR) of 31.48, 34.39, and 42.90%, whereas the positive control had an average BGR of 40.68%. Melinjo leaf ethanol extract has an ED50 of 720.86 mg/kgBW. According to the histological image, the positive control group and the three treatment groups showed improvement, whereas the negative group's Langerhans islet endocrine cells showed necrosis. The 500 mg/kg BW dosage group shows the greatest improvement.
PENINGKATAN SIFAT FISIKOKIMIA KELARUTAN DAN DISOLUSI RAMIPRIL DENGAN KRISTAL MULTIKOMPONEN MENGGUNAKAN KOFORMER GOLONGAN ASAM KARBOKSILAT Muhamad Reza, Pahlevi; M. Ramadhan, Saputro; Jajang Japar, Sodik; Reza, Pratama
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.2040

Abstract

Salah satu tantangan utama pengembangan obat saat ini adalah kelarutan yang buruk, karena diperkirakan 40% dari semua obat yang baru dikembangkan memiliki kelarutan dan permeabilitas yang buruk. Akibatnya, kandidat baru yang memasuki jalur pengembangan obat gagal karena sifat biofarmasi yang tidak optimal. Ramipril termasuk ke dalam BCS kelas II dengan nilai pKa 5,2 dan memiliki kelarutan air yang buruk dengan nilai bioavailabilitas yang rendah yaitu 28%. Absorbsi ramipril setelah pemberian oral yaitu 50%-60%. Keterbatasan sifat fisikokimia yang dimiliki ramipril dapat diatasi dengan modifikasi kristal salah satunya dengan pembentukkan kristal multikomponen menggunakan teknik kokristalisasi. Pendekatan dalam memperbaiki sifat fisikokimia ramipril dengan konteks kelarutan dan disolusi masih jarang dilakukan, sehingga dengan teknik kokristalisasi dalam modifikasi kristal ramipril menjadi suatu novelty dalam penelitian ini. Pendekatan dengan kristal multikomponen bertujuan untuk meningkatkan sifat fisikokimia ramipril seperti kelarutan dan disolusi. Metode yang digunakan dalam preparasi kristal multikomponen dengan teknik kokristalisasi yaitu liquid assisted grinding menggunakan koformer golongan asam karboksilat seperti asam tartrat dengan perbandingan 1:1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelarutan kristal multikomponen ramipril 4,35 mg/10 mL dan ramipril murni 1,69 mg/10 mL dalam aquadest. Kristal multikomponen ramipril terdisolusi 73,27% dan ramipril murni 51,74% selama 60 menit menggunakan media aquadest. Modifikasi kristal ramipril menggunakan teknik kristal multikomponen menggunakan metode liquid assisted grinding memberikan dampak perubahan sifat fisikokimia dalam meningkatkan kelarutan dan laju disolusi.
IDENTIFIKASI PENGGUNAAN OBAT HIGH ALERT PADA PASIEN LANSIA DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH GAMPING BERDASARKAN BEERS CRITERIA Woro, Supadmi; Bahrul Adhim, Rahmana; Joko, Sudibyo
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.2045

Abstract

Pasien lanjut usia (lansia) adalah pasien yang sering dikaitkan dengan berbagai penyakit dan penurunan fungsi organ sehingga berisiko lebih besar pada saat menggunakan obat. Penggunaan obat high alert pada lansia perlu kewaspadaan. High alert merupakan obat yang memiliki risiko tinggi menimbulkan efek berbahaya jika penggunaannya tidak tepat. Beers Criteria merupakan salah satu alat untuk mengidentifikasi penggunaan obat pada pasien lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan obat high alert mengacu dalam daftar ISMP dan kajian berdasarkan beers criteria 2019 pada pasien lanjut usia di RS PKU Muhammadiyah Gamping. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional secara retrospektif. Jumlah sampel ditentukan berdasarkan rumus slovin dan diperoleh 417 sampel. Data diambil dari rekam medik elektronik RS PKU Muhammadiyah Gamping periode Juni – Agustus 2023 yang mendapatkan terapi obat high alert. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menghitung persentase golongan obat high alert yang paling banyak digunakan dan persentase kajian terapi obat high alert berdasarkan beers criteria 2019. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa dari 417 pasien terdapat 233 (55,88%) pasien laki-laki dan 184 (44,12%) pasien perempuan dan dari 643 penggunaan obat high alert berdasarkan ISMP, obat yang paling banyak digunakan adalah obat golongan insulin dengan persentase 39,35%. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa dari seluruh sampel penelitian penggunaan obat high alert pada pasien lanjut usia di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping, terdapat 380 (59,10%) obat masuk dalam beers criteria 2019 sebagai obat yang berpotensi tidak tepat, sementara 263 (40,90%) tidak masuk dalam beers criteria 2019.
EFIKASI DAN KEAMANAN INHIBITOR PCSK9 DALAM PENCEGAHAN STROKE ISKEMIK: LITERATURE REVIEW Shofia Ummu, Lathifa; Suharjono, Suharjono
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.2047

Abstract

Stroke iskemik merupakan kelainan neurologis yang ditandai dengan berkurangnya suplai darah ke otak sehingga mengalami kekurangan oksigen dan nutrisi kemudian menjadi nekrotik. salah satu penyebab stroke iskemik yang paling umum adalah terbentuknya aterosklerosis yang dikaitkan dengan kejadian stroke berulang. Penggunaan inhibitor PCSK9 dapat diberikan sebagai terapi pencegahan stroke iskemik dan kejadian stroke berulang sehingga perlu dilakukan kajian tentang efikasi dan keamanan inhibitor PCSK9 dalam pencegahan stroke dan penurunan angka kejadian stroke berulang. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan pencarian artikel dibatasi pada rentang waktu antara 2013 – 2023. Inhibitor PCSK9 secara signifikan dapat menurunkan LDL-C dan trigliserida sehingga mengurangi pembentukan aterosklerosis yang merupakan penyebab utama kejadian stroke. Kesimpulannya, inhibitor PCSK9 dapat digunakan sebagai pencegahan stroke iskemik dan stroke berulang tetapi pada beberapa penelitian belum menunjukkan keamanan ditandai dengan adanya efek samping kejang dan reaksi terhadap tempat suntikan sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
IN SILICO STUDY OF APIGENIN AND ITS DERIVATIVES AS POTENTIAL INHIBITORS OF TNF-Α AND MMP-9 FOR BURN WOUND HEALING Baharun, Rasyid; Rini Madyastuti, Purwono; Bayu Febram, Prasetyo; Vetnizah, Juniantito
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.2062

Abstract

The prevalence of burns ranks fourth in trauma after traffic accidents, falls, and violence. The prevalence of burns ranks fourth in trauma after traffic accidents, falls, and violence. The healing of burn wounds results from a complex inflammatory response where pro-inflammatory cytokines, for instance, TNF-α and MMP-9, play a pivotal role. Flavonoids with strong anti-inflammatory activity are apigenin, this compound comes from plants. In this study, we evaluated apigenin and its derivatives to determine their effectiveness as burn wound healing agents using molecular docking modeling techniques. To evaluate the molecular docking of these compounds with their target proteins, we used computer-aided drug design tools such as AutoDock Vina, PyMOL, and Discovery Studio. The data showed that apigenin compounds have better affinity than natural ligands to inhibit MMP-9 which can increase the rate of the inflammatory phase of burn wound healing. These findings indicate that apigenin and its derivatives have good potential to be candidates in the development of new therapeutic interventions for burn wound healing.
CHARACTERIZATION AND ANTIOXIDANT ACTIVITY OF KALAKAI (Stenochlaena palustris) LEAVES EXTRACT IN NANOSTRUCTURED LIPID CARRIER SYSTEM Fahrina, Nurhaliza; Aris, Fadillah; Muhammad, Fauzi
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.2066

Abstract

Exposure to ultraviolet light can cause damage and death of skin cells through multiple mechanisms, including the formation of free radicals that can cause hyperpigmentation, erythema, sunburn, photo-aging, and even skin cancer. Kalakai (Stenochlaena palustris) is a typical Kalimantan plant with the ability to be a high antioxidant. However, it is still very rarely utilized. Kalakai leaves contain polyphenolic groups that function as free radical antidotes, as well as flavonoid compounds that can stabilize radical compounds. Various technology-based drug delivery systems have been developed to improve therapeutic effectiveness, including nanotechnology. Nanostructured lipid carrier (NLC) is the second-generation lipid-based carrier designed to overcome the limitations of previous-generation lipid-based carriers. This system consists of a mixture of and unstructured due to their different constituent parts. This research will develop a formula for kalakai leaf extract in a nanostructured lipid carrier system using the emulsification-sonication method. Based on the data, the characteristics of kalakai leaf extract in a nanostructured lipid carrier system that meet the standards are F1 (5%) and F2 (10%). Among the three formulas, F3 showed the highest IC50 value compared to F1 and F2, which is 14,967 ± 0,240 with powerful antioxidant activity, followed by F2 with an IC50 value of 24,186 ± 1,797, and F1 with IC50 value of 65,504 ± 5,041.
QUANTIFICATION OF TOTAL FLAVONOID CONTENT IN FRACTIONATED YOUNG LEAF EXTRACTS OF RED SHOOT LEAVES (Syzygium myrtifolium) USING UV-VIS SPECTROPHOTOMETRY Vilya, Syafriana; Rika, Amelia; Nissa, Maftucha; Munawarohthus, Sholikha; Windri, Handayani; Yasman, Yasman
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.2075

Abstract

Syzygium myrtifolium (red shoot leaves) is widely known for its rich phytochemical profile, particularly flavonoids, which exhibit various pharmacological properties. This study aimed to determine the total flavonoid content in the crude extract, n-hexane fraction, ethyl acetate fraction, and water fraction of red shoot leaves (Syzygium myrtifolium) using a colorimetric method with quercetin as a standard. The results revealed that the ethyl acetate fraction had the highest flavonoid content (65.781 ± 6.365 mgQE/g), followed by the crude extract (26.093 ± 0.961 mgQE/g), n-hexane fraction (18.293 ± 2.925 mgQE/g), and water fraction (12.583 ± 0.824 mgQE/g). The study also found that the solvent polarity significantly influenced the flavonoid extraction efficiency, with ethyl acetate, a moderately polar solvent, being most effective for isolating flavonoid aglycones. The n-hexane fraction contained polymethyl flavonoids, which are more soluble in nonpolar solvents, while flavonoid glycosides were more soluble in polar solvents like water and alcohol mixtures. Furthermore, the research highlights the importance of extraction methods, as the total flavonoid content in mature red shoot leaves was found to be higher than in younger leaves, likely due to increased secondary metabolite production in mature tissues. This study emphasizes the role of solvent polarity in flavonoid extraction and provides insights into the phytochemical composition of S. myrtifolium leaves for potential applications in natural product research.
FORMULASI DAN UJI KARAKTERISTIK GRANUL INSTAN POLIHERBAL BANGJALE (BANGLE, JAHE, DAN LEMON) SEBAGAI ANTIOKSIDAN Nur, Aji; Shandra Isasi , Sutiswa
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.2078

Abstract

Pada penelitian sebelumnya, serbuk instan kombinasi rimpang bangle, rimpang jahe dan sari buah lemon telah terbukti memiliki aktivitas antioksidan. Formulasi dalam serbuk instan dengan maltodekstrin DE 18-20 sebagai bahan pengisi dan PEG-40 HCO sebagai peningkat kelarutan menghasilkan serbuk instan yang baik dalam hal kelarutan, akan tetapi daya alirnya kurang baik. Salah satu upaya memperbaiki kekurangan tersebut peneliti melakukan pengembangan produk dalam bentuk granul dan penambahan anti adheren. Penelitian tentang pengembangan produk kombinasi bangle, jahe dan lemon untuk memperoleh sediaan dengan karakteristik yang baik dalam bentuk sediaan granul instan. Penelitian dilakukan secara eksperimental laboratorium yang terbagi menjadi empat tahap pengerjaan. Pertama adalah penyiapan bahan uji dan pengujian parameter bahan. Tahap kedua, optimasi basis granul instan. Tahap ketiga, formulasi granul instan bangle jahe dan lemon. Tahap keempat, uji aktivitas antioksidan  mengunakan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) dari sediaan granul instan dan uji karakteristik sediaan granul instan. Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak rimpang jahe, ekstrak rimpang bangle, dan sari buah lemon memiliki aktivitas anti oksidan dengan kategori kuat. Optimasi penggunaan PVP 2% sebagai pengikat pada menghasilkan granul dengan presentase paling banyak sebesar 52,1%. Formulasi granul bangjale (Bangle, jahe dan lemon) dengan penambahan aerosil menghasilkan granul dengan karakteristik sifat alir, faktor Hausner, kecepatan alir, dan sudut istirahat yang baik. Granul instan yang dihasilkan memiliki aktivitas antioksidan dengan kategori kuat. Formulasi Bangjale (bangle, jahe, dan lemon) dalam sediaan granul instan dengan penambahan aerosil dapat memperbaiki karakteristik granul terutama sifat alirnya.
KADAR TOTAL FLAVONOID DAN AKTIVITAS ANTIDIABETES DAUN Gnetum gnemon L.: STUDI IN SILICO Nurrizka, Kurniawati; Lintang Nur, Hayati; Nurul Hidayatul, Mar'ah
Pharmacoscript Vol. 8 No. 1 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i1.2114

Abstract

Gnetum gnemon L. adalah herbal yang banyak digunakan di Indonesia, dikenal karena kandungan metabolit sekundernya seperti flavonoid, terpenoid, stillbenoid, dan polifenol. Meskipun berbagai penelitian telah menunjukkan potensi senyawa bioaktif dalam melinjo, studi yang mengeksplorasi pengaruh tahap kematangan daun terhadap kandungan flavonoid serta evaluasi mekanisme molekulernya terhadap protein target diabetes masih jarang dilakukan. Penelitian ini mengevaluasi total kandungan flavonoid dalam ekstrak etanol 70% daun melinjo (muda dan tua) menggunakan spektrofotometri UV-Vis, serta afinitas senyawa terhadap target protein diabetes (GLUT1, PPAR-γ, glukokinase) melalui analisis in silico. Hasil menunjukkan bahwa daun tua memiliki konsentrasi flavonoid sebesar 1,42%, lebih tinggi dibandingkan daun muda yang hanya 1,27%, dengan perbedaan yang signifikan secara statistik (p<0,05). Analisis in silico mengungkapkan bahwa senyawa gnemonoside D dan gnetin C menunjukkan energi pengikatan tertinggi terhadap target protein diabetes (-10,13 dan -10 kkal/mol), melampaui obat kontrol positif gliburida dan luteolin. Temuan ini menegaskan potensi G. gnemon L. sebagai agen anti-diabetes alami. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi efektivitas senyawa ini melalui uji in vivo dan uji klinis, serta mengeksplorasi pengembangan formulasi obat berbasis flavonoid. Selain itu, meskipun hasil in silico menunjukkan bahwa senyawa flavonoid memiliki aktivitas penghambatan lebih tinggi daripada obat kontrol, uji farmakokinetik dan farmakodinamik diperlukan untuk memastikan efektivitasnya dibandingkan obat konvensional dalam pengobatan diabetes.

Page 2 of 3 | Total Record : 21