cover
Contact Name
I Putu Dedy Arjita
Contact Email
ipdedyarjita@unizar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar Mataram Jalan Unizar No. 20 Turida, Sandubaya - Mataram NTB
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran: Media Informasi Ilmu Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 24609749     EISSN : 26205890     DOI : 10.36679
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Kedokteran diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar Mataram dengan frekuensi 2 (dua) kali setahun, yaitu pada bulan Juni dan Desember, sebagai media informasi dan komunikasi ilmiah dalam pengembangan Ilmu Kedokteran dan Kesehatan.
Articles 129 Documents
PENDEKATAN DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA GANGGUAN MOOD PADA USIA LANJUT Huwainan Nisa Nasution; Hadiq Firdausi
JURNAL KEDOKTERAN Vol 6 No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36679/kedokteran.v6i2.333

Abstract

Gangguan mood rentan diderita para penderita berusia lanjut. Statistik menunjukkan, terjadi peningkatan presentasi gangguan ini terutama pada penduduk lanjut usia. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh gejala post power syndrome yang menyebabkan para lansia menjadi stres dan depresi. Penyebab lainnya yang dapat mencetuskan adalah penyakit komorbid yang menyertai kemudian menimbulkan pergantian mood yang cepat. Penyakit diabetes, tekanan darah tinggi, dan jantung koroner misalnya, diduga menyebabkan penderita merasa hilang kekuatan, kesulitan menyesuaikan diri, hingga akhirnya depresi. Kejadian bunuh diri pada usia lanjut yang mengalami gangguan mood juga dapat terjadi hampir setiap hari. Pentingnya deteksi dan diagnosis sejak dini merupakan hal yang penting demi mendapatkan terapi lebih dini. Gangguan mood pada usia lanjut bukanlah hal yang natural terkait proses penuaan, melainkan suatu gangguan patologis yang dapat diterapi.Kata kunci: gangguan mood, depresi, manik, usia lanjut, geriatri. ABSTRACTMood disorders are susceptible to elderly sufferers. Statistics show, there is an increase in the presentation of mood disorder, especially in the elderly population. This is probably caused by the symptoms of post power syndrome which causes the elderly to become stressed and depressed. Other causes that can trigger are comorbid diseases that accompany and then cause rapid mood changes. Diabetes, hypertension, and coronary heart disease, for example, are thought to cause lost of strength, difficulty adjusting, and depression. Suicides in the elderly with mood disorders can also occur almost every day. The importance of early detection and diagnosis is important in order to get early therapy. Mood disorders in elderly are not a natural thing related to the aging process, but a pathological disorder that can be treated.Key words: mood disorders, depression, manic, elderly, geriatrics.
HUBUNGAN KEPATUHAN KONSUMSI OBAT ANTIDIABETIK TERHADAP KADAR HBA1C PADA PASIEN DM TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT TAHUN 2019 Lintang Usnaini; Musyarrafah Musyarrafah; Halia Wanadiatri; IGP Winangun
JURNAL KEDOKTERAN Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36679/kedokteran.v5i2.224

Abstract

Prevalensi penyakit DM di NTB berada pada urutan ke-23 dari 35 provinsi yaitu sekitar 1,5%-2,0%. Kegagalan pengontrolan glukosa darah pasien DM tipe 2 karena ketidakpatuhan pasien terhadap pengobatan yang dilihat dari kesesuaian diri pasien terhadap anjuran medikasi yang telah diresepkan baik waktu, dosis, maupun frekuensi. Salah satu parameter yang digunakan dalam menilai pengendalian penyakit DM adalah kadar HbA1c. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan kepatuhan konsumsi obat antidiabetik dengan kadar HbA1c pada pasien DM tipe 2 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi NTB Tahun 2019. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Subjek penelitian terdiri dari 83 orang pasien DM tipe 2 yang diwawancara menggunakan kuesioner MMAS-8 untuk menilai tingkat kepatuhan responden dalam mengonsumsi obat antidiabetik dan kadar HbA1c diperoleh dari rekam medik. Data dianalisis menggunakan uji Chi Square dengan nilai signifikasi (p) adalah p ≤ 0.05. Hasil penelitian diperoleh nilai signifikansi (p) 0.000 yang menunjukkan adanya hubungan bermakna antara kepatuhan mengonsumsi obat antidiabetik dengan kadar HbA1c. Simpulan penelitian ini terdapat hubungan antara kepatuhan mengonsumsi obat antidiabetik dengan kadar HbA1c pada pasien diabetes melitus tipe 2 di RSUD Provinsi NTB Tahun 2019.
EFEKTIFITAS EKSTRAK DAUN GANDARUSA (Justicia gendarusa, Burm f.) MENGHAMBAT PROSES PENUAAN OVARIUM DAN MENGHAMBAT TERBENTUKNYA KISTA FUNGSIONAL PADA MARMUT (Cavia cobaya) Rusmiatik Rusmiatik; Wimpie Pangkahila
JURNAL KEDOKTERAN Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36679/kedokteran.v5i2.231

Abstract

Penuaan merupakan proses alamiah yang dilalui oleh setiap mahluk hidup bila mempunyai umur panjang, sekaligus sebagai proses yang sangat ditakuti oleh kebanyakan orang. Selama proses tersebut, terjadi perubahan anatomi dan penurunan fungsi organ tubuh. penerapan ilmu terkini dan teknologi-teknologi kedokteran untuk deteksi dini, pencegahan, pengobatan, dan pengembalian berbagai disfungsi yang berkaitan dengan usia dan penyakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pemberian ekstrak daun gandarusa (justicia gendarusa Burm .f) dapat mengurangi pembentukan kista fungsional dan mampu menghambat proses penuaan pada ovarium marmut. Rancangan penelitian ini adalah posttest only control group design, terdiri dari empat kelompok. Besar sampel 28 ekor marmut betina berusia 24 bulan, berat badan 600-650 gram. Pemilihan sampel secara random. Penelitian dilakukan selama 2 bulan dengan waktu perlakuan 28 hari. Kelompok kontrol diberikan 6 ml aquadest dan kelompok perlakuan masing – masing diberikan ekstrak daun gandarusa 6 ml peroral 2 kali sehari sesuai dosis. Sesudah perlakuan dilakukan pembedahan, pembuatan preparat histologi ovarium, dan pengamatan menggunakan mikroskop. Analisis data terdiri dari analisis deskriptif dan komparatif dengan bantuan komputer.Hasil penelitian menunjukkan peningkatan jumlah folikel skunder, dan mengurangi terbentuknya kista fungsional secara bermakna dengan nilai (p<0,05) pada kelompok perlakuan, disebabkan kemampuan ekstrak daun gandarusa sebagai fitoestrogen dan antioksidan alami menghambat terbentuknya radikal bebas, sehingga melindungi DNA dan sel dari kerusakan.Simpulan : ekstrak daun gandarusa meningkatkan jumlah folikel skunder, dan mengurangi terbentuknya jumlah kista fungsional. Saran: perlu penelitian lebih lama agar efek ekstrak daun gandarusa terhadap ovarium tampak lebih jelas.
POTENSI PENULARAN COVID-19 DI DALAM KABIN PESAWAT KOMERSIL Syougie Syougie; Eri Widianto; Ferdi Afian; Dasti Anditiarina
JURNAL KEDOKTERAN Vol 6 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36679/kedokteran.v6i1.266

Abstract

COVID-19 dapat menular dengan mudah dari satu orang ke orang lain. Penularan dapat terjadi di mana saja termasuk dalam penerbangan. Lingkungan di dalam kabin pesawat merupakan lingkungan yang memungkinkan terjadi kontak dekat karena padatnya penumpang. Potensi penularan Covid-19 di lingkungan penerbangan khususnya potensi penularan di dalam kabin pesawat merupakan masalah yang harus diteliti dan ditanggulangi secepatnya. Kabin pesawat merupakan sebuah lingkungan tertutup berventilasi dengan kepadatan penumpang yang berdekatan satu sama lain, serta kondisi lingkungan yang hipobarik dengan kelembaban yang kering. Sebagian besar pesawat komersial mensirkulasi ulang sekitar setengah dari udara yang ada di dalam kabin pesawat untuk meningkatkan kontrol terhadap sirkulasi kabin, kelembaban, dan membantu efisiensi bahan bakar.
PERAN PENGGUNAAN TEKNOLOGI KAMERA DI DALAM HIGIENE PENERBANGAN amilya agustina; Andyka BanyuSutrisno; Ferdi Afian; Dasti Anditiarina
JURNAL KEDOKTERAN Vol 6 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36679/kedokteran.v6i1.264

Abstract

Kondisi pandemi Covid19, membuat perubahan dalam dunia penerbangan saat ini, penggunaan teknologi kamera dapat diaplikasikan untuk tindakan preventif terjadinya penularan penyakit ketika seseorang melakukan perjalanan menggunakan pesawat terbang. Seperti diketahui, pada tahun 2006 lebih dari 2 juta penumpang melakukan perjalanan menggunakan pesawat komersil. Teknologi yang digunakan adalah kamera dalam surveilans penerbangan. Didalam dunia penerbangan teknologi ini digunakan guna meningkatkan efisiensi dan menekan biaya operasional. Penggunaan yang paling sering dilakukan adalah pada sistem keamanan pesawat serta pada proses perawatan pesawat karena sifatnya yang tidak merusak material. Selain itu penggunaan kamera radiasi inframerah juga dapat digunakan pada sistem pengawasan didarat (bandara). Penggunaan kamera radiasi inframerah yang paling sering dilakukan dibandara adalah untuk mengecek suhu calon penumpang yang akan melakukan perjalanan.
BELL’S PALSY: SUATU TINJAUAN PUSTAKA Rohmania Setiarini
JURNAL KEDOKTERAN Vol 6 No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36679/kedokteran.v6i2.363

Abstract

Bell’s palsy merupakan kelainan saraf fasialis yang paling banyak dijumpai. Gejala klinis bell’s palsy yaitu adanya lesi saraf fasialis akut tipe lower motor neuron yang terjadi secara tiba-tiba dan cepat. Sekitar 80% pasien sembuh spontan. Etiologi dan patofisiologi masih diperdebatkan. Kehamilan memiliki resiko tiga kali lipat terjadi bell’s palsy. Penegakkan diagnosis berdasarkan klinis. Terapi yang direkomendasikan yaitu pemberian steroid oral. Artikel ini merupakan sebuah studi pustaka.Kata kunci: Bell’s palsy, etiologi, diagnosis, penatalaksanaan ABSTRACTBell's palsy is the most common facial nerve disorder. The clinical symptom is acute lower motor neuron type facial nerve lesion that occurs suddenly and rapidly. About 80% of patients recover spontaneously. The etiology and pathophysiology are still being debated. Pregnancy has a threefold risk of developing Bell's palsy. Diagnosis based on clinical. The recommended therapy is oral steroid administration. This article was a literature review.Keyword: Bell’s palsy, diagnosis, etiology, treatment
PENATALAKSANAAN KRISIS HIPERTENSI Dwi Pramana
JURNAL KEDOKTERAN Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36679/kedokteran.v5i2.243

Abstract

Krisis hipertensi merupakan salah satu kegawatan yang terjadi secara akut dan progresif yang meningkatkan angka kematian. Krisis hipertensi diklasifikasikan menjadi hipertensi emergensi dan hipertensi urgensi tergantung pada derajat peningkatan tekanan darah dan adanya kerusakan organ target. Tujuan utama penatalaksanan krisis hipertensi adalah untuk mengurangi tekanan darah dengan aman. Deteksi, evaluasi dan penatalaksanaan yang tepat pada krisis hipertensi penting dilakukan untuk mencegah kerusakan organ.
PERJALANAN DENGAN PESAWAT UDARA PADA PANDEMI PENYAKIT TRANSMISI PERNAFASAN Retno Wibawanti; Maria Sri Kristina; Ferdi Afian; Dasti Anditiarina
JURNAL KEDOKTERAN Vol 6 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36679/kedokteran.v6i1.267

Abstract

Industri penerbangan bekerja sama dengan pihak pemerintahan setempat dan otoritas kesehatan masyarakat bertanggung jawab untuk mengkomunikasikan potensi risiko kesehatan masyarakat secara tepat dan sesuai. Bagi orang yang akan bepergian dapat melaksanakan tanggung jawabnya untuk membantu meminimalkan risiko penularan penyakit dengan menunda atau menghindari bepergian, terutama bagi orang yang sakit, lanjut usia, orang dengan penyakit kronis atau penyakit dasar lainnya. Orang dengan penyakit menular yang aktif tidak boleh bepergian melalui udara. Maskapai penerbangan juga dapat menolak penumpang naik pesawat bila diduga mempunyai penyakit infeksius yang menular.
HUBUNGAN UKURAN DEFEK OMPHALOCELE TERHADAP KELAINAN KONGENITAL PENYERTA Prajitno Sugianto
JURNAL KEDOKTERAN Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36679/kedokteran.v5i2.222

Abstract

Background: Omphalocele is often associated with the presence of other congenital anomalies. One study says that a small of defect omphalocele is often accompanied by intestinal disorders and have a better prognosis. Based on this study the researcher wants to review the relationship between the size of omphalocele defect and the presence of associated congenital anomaly in Hasan Sadikin Hospital. Methods: This is a retrospective cross-sectional study. All patient with omphalocele between January 2007 – March 2012 were included in this study. Data collected were patient demographics, size of omphalocele defect and congenital anomalies identified. In this study, patients were designated as those with small (4 cm and less) or large (greater than 4 cm) defect omphaloceles. This study analyzed correlation between size of defect with associated anomaly using Fisher exact test and p < 0.05 is considered to be significant. Results: There were 52 omphalocele cases (24 girls, 28 boys), median birth weight 2710gr (range 1300gr–4000gr). Twenty seven patients were classified as small defect, with 25 classified as large defect. Anomaly found in the small defect groups consists of facial anomaly (7%); cardiac anomaly (7%); intestinal disorder (22%,P=0,02) include patent omphalomesentericus duct, anorectal malformation and cloaca extrophi; limb anomaly (7%). Meanwhile, anomalies identified in the large defect group consist of facial anomaly (8%); cardac defect (32%) include dextrocardi and tetralogi Fallot; limb anomaly (16%).In this study, cardiac defects was significantly higher in the large defect group, meanwhile intestinal diorder is statistically significant in small defect groups. Conclusion: Small defect omphalocele correlates with an increased prevalence of associated gastrointestinal anomalies and a lower prevalence of cardiac anomalies.
PENGALAMAN PENGGUNAAN NAPZAH SUNTIK DALAM PEMANFAATAN LAYANAN VCT DI PUSKESMAS KABUPATEN LOMBOK TIMUR Dany Karmila
JURNAL KEDOKTERAN Vol 6 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36679/kedokteran.v6i1.304

Abstract

Latar belakang dan tujuan: Layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) merupakan suatu layanan untuk pencegahan HIV-AIDS yang bersifat sukarela. Namun, pemanfaatan secara langsung ke layanan VCT oleh pengguna napza suntik di Kabupaten Lombok Timur tergolong masih kurang. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui secara mendalam pengalaman pengguna napza suntik dalam pemanfaatan layanan VCT di Puskesmas Kabupaten Lombok Timur - NTB. Metode: Rancangan kualitatif dimana data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam kepada 7 partisipan di Kabupaten Lombok Timur NTB. Partisipan dipilih secara purposive yang terdiri dari 5 orang penasun HIV negatif yang melakukan VCT ulang, 1 petugas LSM dan 1 penjangkau lapangan. Data dianalisis dengan pendekatan induktif dan disajikan secara naratif. Hasil: Berdasarkan hasil wawancara mendalam didapatkan bahwa pengalaman partisipan dalam pemanfaatan layanan VCT secara langsung masih kurang. 5 partisipan HIV negatif yang melakukan VCT ulang memanfaatkan layanan secara mobile VCT. Hal ini disebabkan partisipan masih merasa risih diperhatikan orang karena layanan VCT masih menggunakan labeling di luar ruangan sehingga partisipan malu untuk masuk ke ruangan tersebut. Simpulan: Pengalaman partisipan dalam memanfaatkan layanan secara langsung masih kurang dikarenakan partisipan merasa risih diperhatikan orang karena layanan VCT masih menggunakan labeling di luar ruangan di gedung puskesmas sehingga partisipan malu untuk masuk ke ruangan tersebut. sehingga diperlukan adanya kerjasama instansi kesehatan swasta, kader serta kelurahan untuk meningkatkan pemanfaatan layanan.

Page 6 of 13 | Total Record : 129