cover
Contact Name
I Putu Dedy Arjita
Contact Email
ipdedyarjita@unizar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar Mataram Jalan Unizar No. 20 Turida, Sandubaya - Mataram NTB
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran: Media Informasi Ilmu Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 24609749     EISSN : 26205890     DOI : 10.36679
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Kedokteran diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar Mataram dengan frekuensi 2 (dua) kali setahun, yaitu pada bulan Juni dan Desember, sebagai media informasi dan komunikasi ilmiah dalam pengembangan Ilmu Kedokteran dan Kesehatan.
Articles 129 Documents
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DENGAN RASIO VOLUME EKSPIRASI PAKSA SATU DETIK PERTAMA PER KAPASITAS VITAL PAKSA (VEP1/KVP) PADA PASIEN ASMA STABIL DI RSUD KOTA MATARAM 2019 Prasetya Angga Firmansyah; Risky Irawan; Dian Rahadianti; Fachrudi Hanafi
JURNAL KEDOKTERAN Vol 6 No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36679/kedokteran.v6i2.332

Abstract

Saat ini asma masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama baik di negara maju maupun di negara berkembang. Diperkirakan terdapat 300 juta penduduk di dunia menderita asma. Prevalensi asma di Indonesia sendiri pada tahun 2018 sebesar 2,4%. Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berada di peringkat ke 7 dengan angka kejadian mencapai 2,5%. Asma adalah penyakit heterogen dengan berbagai proses penyebab yang mendasarinya. Salah satu penyebab asma yang telah diidentifkasi adalah asma dengan obesitas. Gold standart dalam pemeriksaan penyakit asma adalah spirometri. Parameter yang dinilai dalam pemeriksaan spirometri untuk menilai derajat obstruksi pasien asma adalah VEP1/KVP. Perubahan pada IMT baik overweight maupun underweight akan menyebabkan perubahan mekanik dan kimiawi sistem pernapasan yang nantinya berperan sebagai faktor yang berpengaruh dan memperberat nilai VE1/KVP pada pasien asma. Tujuan dalam penelitian ini mengetahui hubungan indek massa tubuh dengan rasio volume ekspirasi paksa satu detik pertama per kapasital vital paksa pada pasien asma stabil di RSUD Kota Mataram 2019. Penelitian ini merupakan analitik observasional, dengan rancangan cross sectional. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder dari rekam medik pasien asma yang menjalani rawat jalan di RSUD Kota Mataram 2019 berupa data berat badan dan tinggi badan serta nilai VEP1/KVP. Sampel pada penelitian ini berjumlah 118 orang. Analisis data menggunakan rank spearman dengan bantuan software SPSS versi 25. Hasil analisis didapatkan nilai p-value 0,000 (p-value ≤0,05), yang berarti terdapat hubungan antara IMT dan VEP1/KVP pada pasien asma stabil. Terdapat hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan rasio VEP1/KVP pada pasien asma stabil di RSUD Kota Mataram 2019.Kata Kunci: Asma, indeks massa tubuh, VEP1/KVP.ABSTRACTRight now, asthma is as yet one of the principle medical issues in both created and non-industrial nations. The highest quality level in inspecting asthma is spirometry. The boundary evaluated in the spirometry assessment to survey the level of impediment in asthma patients was FEV1/FVC. Changes in BMI both overweight and underweight will cause mechanical and synthetic changes in the respiratory framework which will later go about as an impacting factor and bother the VE1/KVP esteem in asthma patients. The reason for this examination to decide the connection between weight file and the proportion of constrained expiratory volume of the first second per constrained fundamental limit in stable asthma patients at Mataram City Clinic 2019. This examination was an observational scientific contemplated, with a cross sectional plan. This examination utilizing optional information from clinical records of asthma patients as weight and tallness information just as VEP1/KVP esteems. The patients are going through outpatient at the Mataram City Medical clinic in 2019. The example in this investigation added up to 118 individuals. Information examination utilized position spearman with the assistance of SPSS form 25 programming The aftereffects of the investigation utilizing Rank Spearmen acquired a p-value of 0.000 (p-value ≤0.05), which implies that there is a connection among BMI and FEV1/FVC in stable asthma patients at Mataram City Clinic 2019.Keywords: Asthma, body mass index, FEV1/FVC.
PERBANDINGAN SENSITIVITAS CO-AMOXICLAV DAN OFLOXACIN TERHADAP KUMAN AEROB PENYEBAB OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS DI RSUD PROVINSI NTB Herlina Wati; Oka Juniawan; Ayu Trisna
JURNAL KEDOKTERAN Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36679/kedokteran.v5i2.223

Abstract

Otitis media supuratif kronis merupakan infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus-menerus atau hilang timbul dan salah satu penyakit yang sering ditemukan pada telinga. Otitis media supuratif kronis sering disebabkan oleh kuman aerob. Dalam penanganannya dapat diberikan antibiotik, beberapa antibiotik yang sering digunakan adalah co-amoxiclav dan ofloxacin. Tujuan penelitian adalah membandingkan sensitivitas co-amoxiclav dan ofloxacin terhadap kuman aerob penyebab otititis media supuratif kronis di RSUD Provinsi NTB. Metode Penelitian ini menggunakan desain jenis analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. 50 pasien otitis media supuratif kronis diswab untuk pengambilan sekret telinga dengan metode pengambilan sampel purposive sampling. Uji sensitivitas antibiotik diuji dengan metode dilusi. Data dianalisis menggunakan uji Paired Samples Test dengan tingkat signifikasi p < 0,05. Dari 50 pasien didapatkan penyebab otitis media supuratif kronis terbanyak adalah Pseudomonas Aeruginosa (32,0%). Co-amoxiclav sensitif terhadap gram positif (26,0%) dan gram negatif (14,0%) dengan total 40,0%. Ofloxacin sensitif terhadap gram positif (24,0%) dan gram negatif (46,0%) dengan total 70,0%. Dari hasil uji didapatkan p-value 0,000 (p<0,05), yang berarti terdapat perbedaan sensitivitas co-amoxiclav dan ofloxacin terhadap kuman aerob penyebab otitis media supuratif kronis.
ANALISIS FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PLASENTA PREVIA Nurul Huda Mursalim; Saharuddin Saharuddin; Azizah Nurdin; Jelita Inayah Sari
JURNAL KEDOKTERAN Vol 6 No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36679/kedokteran.v6i2.338

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan variabel dependen yaitu umur, paritas, riwayat sectio sesarea, riwayat gemelli dengan variabel independen yaitu plasenta previa di RSUD Batara Guru dan RS Hikmah Sejahtera Kabupaten Luwu Tahun 2018-2019. Pada studi ini memanfaatkan metode analitik observasional dengan pendekatan case control. Sampel ditentukan melalui perbandingan kelompok kasus sebanyak 50 sampel dengan kelompok kontrol 50 sampel. Teknik sampling menggunakan purposive sampling. Untuk mengetahui hubungan faktor risiko memanfaatkan uji chi square. Hasil terbanyak didapatkan 78 ibu hamil risiko rendah, 76 ibu hamil dengan multipara, ibu hamil dengan tidak ada riwayat sectio sesarea didapatkan 76 ibu hamil dan ibu yang tidak memiliki riwayat gemelli ada 97 ibu hamil. Hasil penelitian menujukkan dari uji chi square antara umur dengan plasenta previa didapatkan (P= 0.008 < 0,05) untuk hubungan paritas dengan plasenta previa didapatkan (P= 0,815 > 0,05) hubungan riwayat sectio sesarea didapatkan sebesar (P= 0.035 < 0,05) dan untuk hubungan riwayat gemelli sebesar (P= 1,000 > 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan faktor risiko paritas, riwayat gemelli pada kejadian plasenta previa dan didapatkan hubungan faktor risiko antara umur, riwayat sectio sesarea dengan kejadian plasenta previa di RSUD Batara Guru dan RS Hikmah Sejahtera Kabupaten Luwu Tahun 2018-2019. Kata kunci: Umur, paritas, riwayat sectio sesarea, riwayat gemelli, plasenta previa ABSTRACTThe major objective of this study was to investigate the risk factors that affect the occurrences of placenta previa, such as ages, parity, caesarean section history, and gemelli history of pregnant women. This study was conducted at Batara Guru Hospital and Hikmah Sejahtera Hospital of Luwu Regency in 2018 to 2019. The methodological approach taken in this study was observational analytic by using a case control approach. The samples used in this research consisted of 50 samples for the case group and 50 samples for the control group. The sampling technique used was a purposive sampling. A chi square test was performed in this experiment in order to understand the risk factors. From this research, it was apparent that 78 pregnant women were with the low risk of getting placenta previa, 76 pregnant women were with multiparous, 76 pregnant women were with no history of cesarean section, and 79 pregnant women were without a gemelli history. Based on the chi square test, the results of this study indicated that various relationships were obtained such as the relationship between ages and placenta previa occurrences with (P = 0.008 <0.05), the correlation among parity and placenta previa occurrences with (P = 0.815> 0.05), the correlation among caesarean section history and placenta previa occurrences with (P = 0.035 <0,05), and the correlation among gemelli history and placenta previa occurrences with (P = 1,000> 0.05). This research concludes that there was no relationship between parity and gemelli history factors and the occurrences of placenta previa. In contrast, it was evident that there were close relationships between the ages and caesarean section history factors and the occurrences of placenta previa at Batara Guru Hospital and Hikmah Sejahtera Hospital of Luwu Regency in 2018 to 2019.Keywords: ages, parity, caesarean sectio history, gemelli history, placenta previa
HUBUNGAN ANTARA MINUM TEH DENGAN GLUKOSA DARAH SEWAKTU PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM Al-AZHAR Artha Budi Susila Duarsa; Rahmat Hidayat
JURNAL KEDOKTERAN Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36679/kedokteran.v5i2.233

Abstract

Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah penyebab kematian terbanyak di Indonesia. Menurut Kementerian Kesehatan RI (2014), proporsi diabetes mellitus pada penduduk usia ≥ 15 tahun sekitar 5,7% pada tahun 2007. Sedangkan ada tahun 2013, didapatkan proporsi diabetes mellitus sekitar 6,9%. Provinsi NTB khususnya kota Mataram, prevalensi diabetes mellitus sebesar 1,8%. Sesuai dengan data riskesdas (2013) yang menunjukan jumlah penderita diabetes mellitus terus meningkat dari tahun ke tahun mengikuti gaya hidup dan tingkat obesitas yang semakin tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara minum teh dengan glukosa darah sewaktu pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah pre eksperimental dengan rancangan one group pretest posttest. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar. Sampel dalam penelitian ini sebesar 35 responden. Hasil penelitian dianalisis dengan uji-t berpasangan. Dari 35 subjek yang menjadi sampel dalam penelitian, 26 subjek (74,3%) mengalami penurunan kadar glukosa darah sewaktu dan 9 subjek (25,7%) tidak mengalami penurunan kadar glukosa darah sewaktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara minum teh dengan glukosa darah sewaktu pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar (p<0,01) sehingga Ada hubungan antara minum teh dengan glukosa darah sewaktu pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar.
EFEKTIVITAS EKTRAK DAUN BUNI (Antidesma Bunius L) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Salmonella typhi sabariah sabariah; Herlinawati Herlinawati
JURNAL KEDOKTERAN Vol 6 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36679/kedokteran.v6i1.308

Abstract

daun buni (Atidesma bunius) adalah Salah satu tumbuhan yang bermanfaat untuk pengobatan tradisioal. Penelitian ini dilakukan Untuk mengetahui daya hambat ekstrak etanol daun buni (Antidesma bunius) terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typi dengan metode eksperimen murni. Pada. Dimana perlakuan yang diberikan adalah penambahan ekstrak etanol 70% dengan konsentrasi 5%, 10%, 20%, 40% kemudian dibandingkan dengan klorampenikol sebagai kontrol positif dan aquadest sebagai kontrol negative. Ekstrak etanol 70% daun buni (Antisdema bunius L) dengan konsentrasi (5%=13mm), (10%=14mm), (20%=15mm) dan (40%=17mm). dengan nilai statistik (5%=12,75), (10%=14,25), (20%=14,75), (40%=17,25), memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi dengan jumlah rata-rata 15 mm, Sehingga ekstrak daun buni (Antisdema bunius L) memiliki perbedaan daya hambat yang dapat dilihat dari jumlah nilai rata-rata sebanyak 15 mm.
ANALISIS HUBUNGAN PREEKLAMPSIA-EKLAMPSIA GRAVIDARUM DENGAN KEJADIAN PERSALINAN PREMATUR PADA IBU BERSALIN DI RSUD PROF. DR. H. ALOEI SABOE PERIODE JANUARI-SEPTEMBER TAHUN 2020 Dewi Meliyani Ramadlana Suleman; Dewi Setiawati; Arlina Wiyata Gama; Azizah Nurdin; Rahmi Damis
JURNAL KEDOKTERAN Vol 6 No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36679/kedokteran.v6i2.340

Abstract

Preeklampsia dan eklampsia adalah hipertensi dalam kehamilan, yang bersifat progresif dan memiliki risiko kesehatan paling signifikan bagi wanita hamil dan janin. Penyakit ini menyebabkan lebih dari 60.000 kematian ibu dan 500.000 kematian janin per tahun di seluruh dunia. Salah satu dampak yang ditimbulkan terhadap janin adalah kelahiran prematur. Tujuan : Untuk menganalisis hubungan antara preeklampsia-eklampsia gravidarum dengan kejadian persalinan prematur pada ibu bersalin di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe periode Januari-September tahun 2020. Metode : Penelitian analitik observasional menggunakan pendekatan cross sectional. Ibu yang bersalin di RSUD Prof. Dr. H Aloei Saboe selama periode waktu Januari-September 2020 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi menjadi sampel dalam penelitian ini, yaitu berjumlah 66 sampel. Data diperoleh dari rekam medis dan dianalisais menggunakan Chi-square, dengan tingkat signifikansi 10% (α = 0,10). Hasil : Diperoleh nilai 0.048 ( <0,10), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara preeklampsia-eklampsia gravidarum dengan kejadian persalinan prematur pada ibu bersalin di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Periode Januari-September Tahun 2020. Kesimpulan : Ada hubungan signifikan antara preeklampsia-eklampsia gravidarum dengan persalinan prematur di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Periode Januari-September Tahun 2020.Kata kunci : Preeklampsia, Eklampsia Gravidarum, Prematur ABSTRACTPreeclampsia and eclampsia are hypertension in pregnancy, which is progressive and has the most significant health risk for pregnant women and fetuses. This disease has caused more than 60,000 maternal mortality and 500,000 fetal mortality per year worldwide. One of the effects appearing on the fetus is preterm birth. Objective: To analyze the relationship between preeclampsia-eclampsia gravidarum and the occurrence of preterm birth in women in labor at Prof. Dr. H. Aloei Saboe Regional Public Hospital period January-September 2020. Method: This research is an observational study using a cross-sectional approach. Women in labor at Prof. Dr. H. Aloei Saboe Regional Public Hospital in the January-September 2020 period qualifying the inclusion and exclusion criteria were sampled in this study, consisting of 66 samples. Data were obtained from medical records and analysis employing Chi-square, with a significance level of 10% (α = 0.10). Results: The study obtained a p-value 0.048 (p <0.10), which implies that there was a significant relationship between preeclampsia-eclampsia gravidarum and the occurrence of preterm birthinwomen in labor at Prof. Dr. H. Aloei Saboe Regional Public Hospital in the January-September 2020 period.Conclusion: There was a significant relationship between preeclampsia-eclampsia gravidarum and preterm birth at Prof. Dr. H. Aloei Saboe Regional Public Hospital in the January-September 2020 period.Keywords: Preeclampsia, Eclampsia Gravidarum, Preterm Birth
DETEKSI MUTASI GEN Emb SEBAGAI SIFAT RESISTENSI PRIMER FIRST LINE ORAL AGENTS ETHAMBUTOL PADA PASIEN TB PARU BTA + DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KAB. LOMBOK TIMUR fachrudi hanafi; sugijati sugijati; Dewi Utary
JURNAL KEDOKTERAN Vol 6 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36679/kedokteran.v6i1.258

Abstract

Latar belakang : Ethambutol termasuk obat lini pertama pengobatan TB yang berkhasiat spesifik terhadap mycobakteri dan tidak terhadap bakteri-bakteri lain. Bukti–bukti genetik menunjukkan bahwa mutasi gen Emb, merupakan penyebab kekebalan Etambutol, dengan persentase mutasi gen Emb sebesar 60% - 70%. Data dari RS Persahabatan tahun 1993 menunjukkan resistensi Mycobacterium tuberculosis terhadap Etambutol adalah 7,7%, sedangkan penelitian di provinsi DKI, Sumatera Barat dan Sulawesi Selatan berkisar antara 11,9% dan 15,6%. Hasil penelitian Syaifudin menemukan sifat resistensi Etambutol berdasarkan mutasi gen Emb menggunakan metode SSCP radioaktif didapatkan 7,1%. Selain itu hasil penelitian pola kepekaan kuman M.tuberculosis terhadap OAT menggunakan teknik PCR dari sampel dahak dan pleura penderita TB di RSU Provinsi NTB diperkirakan telah mengalami resistensi terhadap ethambuthol sebesar 29,4%. Frekuensi dan jenis mutasi pada gen Emb juga spesifik karena perbedaan geografis sehingga sangat perlu dilakukan pemeriksaan sifat resistensi gen Emb pada setiap daerah.Tujuan penelitian : mendeteksi adanya mutasi gen Emb Mycobacterium tuberculosis sebagai sifat resistensi primer first line oral agents ethambutol pada penderita TB paru dengan BTA + yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten Lombok Timur.Metode : Penelitian ini bersifat observasional deskritif yaitu mendeteksi adanya mutasi gen Emb M. tuberculosis. Tempat penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten Lombok Timur. Metode yang digunakan dalam mendeteksi adanya mutasi gen Emb adalah menggunakan teknik PCR dan dilanjutkan dengan nested PCR. Variabel penelitian adalah sputum penderita TB paru baru dengan BTA +.Hasil : Dari hasil pengumpulan data didapatkan sebanyak 50 sampel sputum BTA +. Dari pemeriksaan dengan PCR diagnostik Tb1 dan Tb2, semua sampel dinyatakan + (100%) mengandung M. tuberculosis. Setelah dilakukan pemeriksaan PCR kemudian dilanjutkan dengan analisis nested PCR dan hasilnya membuktikan telah terjadi mutasi pada daerah komplementer primer yang merupakan target gen Emb M. tuberculosis dan didapatkan sebanyak 5 sampel (10%) yang dinyatakan resisten atau terjadi mutasi sedangkan sisanya 45 sampel (90%) masih sensitif atau tidak terjadi mutasi. Lima sampel tersebut berasal dari Puskesmas Wanasaba (2), Terara (1), Denggen (1) dan Lepak (1).Kesimpulan : telah terjadi resistensi primer first line oral agents ethambutol pada beberapa penderita TB paru dengan BTA + di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten Lombok Timur.
HUBUNGAN PAPARAN SINAR-X DENGAN JUMLAH LIMFOSIT PADA RADIOGRAFER DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Komang Kartika Yanti; Fauzy Ma'ruf; Musyarrafah Musyarrafah; Ety Retno Setyowati
JURNAL KEDOKTERAN Vol 6 No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36679/kedokteran.v6i2.330

Abstract

Latar Belakang: Radiografer Rumah Sakit berisiko terpapar dengan radiasi sinar-X yang dihasilkan oleh alat penunjang diagnostik dan terapi di Instalasi Radiologi. Paparan radiasi sinar-X yang diterima radiografer secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko paparan radiasi kumulatif selama bekerja sehingga mempengaruhi kesehatan jangka panjang. Efek paparan radiasi pada tubuh bervariasi tergantung pada tingkat radiosensitivitas sel. Sel yang paling sensitif adalah sel limfosit. Tujuan: Mengetahui hubungan paparan sinar-X dengan jumlah limfosit pada radiografer di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat (RSUD Provinsi NTB). Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik cross sectional. Populasi penelitian yaitu radiografer di Instalasi Radiologi RSUD Provinsi NTB tahun 2020 sebanyak 12 orang. Sampel ditentukan dengan teknik total sampling dan diperoleh 9 responden sesuai kriteria yang ditentukan. Paparan radiasi sinar-X didapat melalui hasil pemantauan dosis radiasi radiografer tahun 2018-2020 dan jumlah limfosit didapat melalui pemeriksaan laboratorium. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson melalui SPSS 23.0. Hasil: Rerata dosis radiasi yang diterima radiografer tahun 2018-2020 sebesar 0,076 mSv, rerata jumlah limfosit sebesar 29,489%. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan paparan sinar-X tidak berhubungan dengan jumlah limfosit pada radiografer di RSUD Provinsi NTB dengan hubungan sangat lemah dan berpola negatif (p-value 0,704; r −0,148). Kesimpulan: Paparan sinar-X tidak berhubungan dengan jumlah limfosit pada radiografer di RSUD Provinsi NTB.Kata kunci: Paparan sinar-X, jumlah limfosit, radiografer. ABSTRACTBackground: Radiographers are at risk of being exposed to X-ray radiation produced by diagnostic and therapeutic support devices in radiology installations. Continuous exposure of X-ray radiation that received by radiographers can increase the risk of cumulative radiation exposure during work that can affect long-term health. The effects of radiation exposure on the body vary depending on the level of radiosensitivity of the cells. The most sensitive cells are lymphocytes. Objective: To analyze X-ray exposure with lymphocyte count in radiographers at the Regional Public Hospital of West Nusa Tenggara Province (RSUD Provinsi NTB). Methods: This research use observational cross sectional analytic study. Population in this research was 12 radiographers who worked in Radiology Installation of the Regional Public Hospital of West Nusa Tenggara Province. The sample was determined by total sampling and obtained 9 respondents according to the specified criteria. X-ray radiation exposure was obtained from the results of monitoring doses from 2018-2020 and the lympgocyte count obtained through laboratory tests. The collected data were analyzed using Pearson correlation test through Statistic Product and Service Solution version 23.0. Results: The results showed that the average radiation dose received by radiographers in 2018-2020 was 0.076 mSv and the average lymphocytes count was 29.489%. The results of the Pearson correlation test showed that there was no correlation between X-ray exposure and lymphocyte count in radiographers at RSUD Provinsi NTB with a very weak correlation and a negative pattern (p-value 0.704; r −0.148). Conclusion: There was no correlation between X-ray exposure and lymphocyte count in radiographers at RSUD Provinsi NTB.Key words: X-ray exposure, lymphocyte count, radiographer.
HUBUNGAN ANTARA KEPRIBADIAN DENGAN KEJADIAN RELAPS PADA PASIEN KANKER PAYUDARA DI POLI ONKOLOGI RSUD DR. SOETOMO SURABAYA Danang Nur Adiwibawa
JURNAL KEDOKTERAN Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36679/kedokteran.v5i2.234

Abstract

Background. Breast cancer is a major health problem that affects the lives of millions of women. Some patients have treatment but still found relapse.Suggest personality factors influence relapse breast cancer.But until now it is still controversy. Methods. Analytic research observational case control study to find relationship between personality with the incidence of relapse in breast cancer patients and comparing personality relapse and non relapse. Research in Poli Onkologi RSUD Dr.Soetomo with 56 patients,28 patients relapse and 28 non relapse.Use Instrument OCEAN-Big Five Inventory 44 Quessioner and Demogarfi Quessioner. Result. There is no relationship between personality with incidence of relapse (p>0,05). neuroticism personality (29%) in relapse, openness personality (32%) and extraversion personality (36%) in non relapse. Conclusion. The incidence of relapse breast cancer is not simply due to personality but maybe other factors.
MANIFESTASI OTOLOGIK PADA GRANULOMATOSIS DENGAN POLIANGIITIS (GPA) Baiq Annisa Mulya Kartini
JURNAL KEDOKTERAN Vol 7 No 1 (2021): Desember 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36679/kedokteran.v7i1.448

Abstract

Granulomatosis dengan polyangiitis (GPA) merupakan penyakit sistemik yaitu vaskulitis pada pembuluh darah kecil dan sedang yang terkait dengan anti-neutrophil-cytoplasmic-antibody (ANCA). Gejala klinis GPA yaitu vaskulitis nekrotikans sistemik, inflamasi granulomatosa dan glomerulonefritis nekrosis. Sebagian besar pasien dengan GPA memiliki manifestasi sistem telinga, hidung dan tenggorokan (THT) dan mencari intervensi medis untuk manifestasi ini. Lebih dari 80% memiliki masalah rinologi dan 20-40% memiliki masalah otologik. Angka kejadian GPA di Amerika Serikat menunjukkan peningkatan prevalensi sebesar 21,8 per 100.000 dan peningkatan insiden tahunan 1,3 kasus per 100.000. Sedangkan di Indonesia belum ada data pendukung terkait dengan insiden GPA. Insiden puncak pada usia 65-74 tahun. GPA disebabkan oleh multifaktorial yaitu infeksi, lingkungan dan induksi obat. Pada patofisiologi GPA, terdapat dua ANCA yang berperan yaitu proteinase 3 (PR3) dan myeloperoxidase (MPO). Keduanya akan mengativasi monosit dan neutrofil yang pada akhirnya melakukan reaksi inflamasi yang merusak pembuluh darah. Manifestasi otologik yang paling sering muncul pada pasien GPA adalah otitis media unilateral atau bilateral dengan efusi serosa. Pengobatan GPA dibagi menjadi terapi induksi meliputi kombinasi siklofosfamid dan kortikosteroid, rituximab, metotreksat dan glukokortikosteroid. Terapi pemeliharaan meliputi azathioprine, metotreksat, leflunomide, rituximab, cotrimoxazole dan plasma exchange. Jika tidak diobati, penyakit ini biasanya menjadi fatal dan 82% pasien meninggal dalam waktu 1 tahun.Kata kunci: Granulomatosis dengan polyangiitis; manifestasi otologic; etiologic; patofisiologi; diagnosis; tatalaksana; prognosis

Page 7 of 13 | Total Record : 129