cover
Contact Name
I Putu Dedy Arjita
Contact Email
ipdedyarjita@unizar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar Mataram Jalan Unizar No. 20 Turida, Sandubaya - Mataram NTB
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran: Media Informasi Ilmu Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 24609749     EISSN : 26205890     DOI : 10.36679
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Kedokteran diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar Mataram dengan frekuensi 2 (dua) kali setahun, yaitu pada bulan Juni dan Desember, sebagai media informasi dan komunikasi ilmiah dalam pengembangan Ilmu Kedokteran dan Kesehatan.
Articles 129 Documents
HUBUNGAN RIWAYAT SNORKELING DENGAN KEJADIAN OTITIS EKSTERNA DI POLI THT RSUD KOTA MATARAM PERIODE JANUARI-DESEMBER 2015 Lita Yuliati; Nurman Hikmallah; Dina Qurratu Ainin
JURNAL KEDOKTERAN Vol 2 No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Otitis externa adalah radang telinga luar yang dapat terjadi akut maupun kronis. Otitis eksterna dapat terjadi akibat kegiatan dari luar rumah seperti kegiatan snorkeling. Di Indonesia insiden terjadinya Otitis Eksternayang disebabkan oleh kegiatan snorkeling belum banyak dicari hubungannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari hubungan riwayat snorkeling dengan kejadian otitis eksterna di poli THT RSUD Kota Mataram periode Januari-Desember 2015. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian studi observational dengan pendekatan crossectional. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh pasien yang berobat di poli THT RSUD Kota Mataram dengan menggunakan cara pengambilan sampel yaitu random sampling. Total sampel yang didapatkan sebanyak 84 pasien. Analisis penelitian menggunakan contigency coefficient dengan tingkat kepercayaan <0,05. Hasil dari penelitian ini yaitu didapatkan sebanyak 37 (64,9%) pasien memiliki riwayat snorkeling dan mengalami otitis eksterna, dan didapatkan 10 (37,0%) pasien memiliki riwayat snorkeling tanpa mengalami otitis eksterna. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan antara riwayat snorkeling dengan kejadian otitis eksterna (R =0.016). Terdapat hubungan antara riwayat snorkeling dengan kejadian otitis eksterna di poli THT RSUD Kota Mataram periode Januari-Desember 2015.
POLA MAKAN TIDAK SEHAT DI USIA MUDA BERPOTENSI MENYEBABKAN SINDROM DISPEPSIA Deny Sutrisna Wiatma
JURNAL KEDOKTERAN Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dispepsia yang oleh orang awam sering disebut dengan “sakit maag” merupakan keluhan yang sangat sering kita jumpai sehari-hari. Istilah dispepsia mulai gencar dikemukakan sejak akhir tahun 80-an, yang menggambarkan keluhan atau kumpulan gejala (sindrom) yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di epigastrium, mual, muntah, kembung, cepat kenyang, rasa perut penuh, sendawa, regurgitasi dan rasa panas yang menjalar di dada. Secara garis besar, penyebab sindrom dispepsia dibagi menjadi dua kelompok, yaitu keompok penyakit (seperti tukak peptic, gastritis, batu kandung empedu, dll) dan kelompok dimana penunjang diagnostic yang konvensional atau baku (endoskopi, radiologi, laboratorium) tidak dapat memperlihatkan adanya gangguan patologis, structural dan biokimiawi, atau dengan kata lain kelompok terakhir ini disebut sebagai dispepsia fungsional. Banyak faktor yang menjadi penyebab timbulnya sindrom dispepsia dimana salah satu diantaranya adalah pola makan yang tidak sehat seprti tidak teraturnya waktu makan. Angka di Indonesia sendiri penyebab dispepsia adalah 86% dispepsia fungsional, 13% ulkus dan 1% disebabkan oleh kanker lambung. Dalam beberapa penelitan yang salah satunya dilakukan oleh Deny S. (2012) hubungan ketidakteraturan makan terhadap terjadinya sindrom dispepsia yang dilakukan terhadap 70 dengan mengguanakan metode case control study didapatkan nila Odds Ratio (OR) sebesar 20. Ketidakteraturan makan atau pola makan yang salah merupakan factor risiko yang mempengaruhi untuk terjadinya sindrom dispepsia sebesar hingga 20 kali lipat serta kejadian sindrom dispepsia mahasiswa/usia muda ternyata sesuia dengan pola maknnya yang tidak teratur
PENATALAKSANAAN MOLA HIDATIDOSA DAN PERMASALAHANNYA DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PERIODE 1 JANUARI 2004 - 31 DESEMBER 2005 Aida Nurwidya
JURNAL KEDOKTERAN Vol 1 No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di negara-negara yang sudah maju penatalaksanaan mola hidatidosa tidak merupakan masalah karena sebagian besar telah terdiagnosis pada stadium dini, sebaliknya di negara-negara yang sedang berkembang masih cukup tinggi. Di negara berkembang pada umumnya diagnosis terlambat. Komplikasi seperti perdarahan, infeksi, eklamsia dan tirotoksikosis masih menjadi salah satu penyebab kematian ibu. Sebagian besar dari pasien mola akan segera sehat kembali setelah jaringannya dikeluarkan, tetapi ada sekelompok wanita yang kemudian menderita degenerasi keganasan menjadi koriokarsinoma. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penatalaksanaan mola hidatidosa, untuk mengetahui manfaat kuretase kedua pada penatalaksanaan mola hidatidosa dan untuk mengetahui seberapa besar kejadian tumor trofoblastik gestasional setelah tindakan kuretase dan histerektomi. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian noneksperimental, dengan pendekatan deskriptif observasional. Subjek penelitian adalah semua pasien dengan diagnosis mola hidatidosa berdasarkan pemeriksaan fisik dan ultrasonografi. Data diambil dari rekam medik. Sampel penelitian menggunakan total sampling dan masuk dalam kriteria inklusi. Data dianalisis menggunakan uji statistik chi-square pada tingkat kepercayaan 95 %. Dari penelitian penatalaksanaan mola hidatidosa dilakukan dengan tindakan kuretase (90%) dan histerektomi (10%). Hasil histopatologi kuretase kedua sudah tidak ditemukan jaringan mola hidatidosa (100%). Kejadian tumor trofoblastik gestasional sebanyak 20 %. Uji statistik dengan chi-square menunjukkan hasil terdapat hubungan signifikan antara variabel umur, paritas, umur kehamilan dan penatalaksanaan terhadap variabel terjadinya tumor trofoblastik gestasional (p<0,05). Penatalaksanaan mola hidatidosa terbanyak dengan tindakan kuretase, kuretase kedua perlu dipertimbangkan lagi karena hasil histopatologi kuret kedua sudah tidak ditemukan jaringan mola hidatidosa. Kejadian tumor trofoblastik gestasional sebanyak 20 %.
KULIAH KERJA LAPANGAN KESEHATAN MASYARAKAT BERSIH LINGKUNGANKU SEHAT WARGAKU DI KELURAHAN SELAGALAS TAHUN 2017 Sukandriani Utami; Siti Ruqayyah
JURNAL KEDOKTERAN Vol 3 No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesehatan lingkungan pada hakikatnya adalah suatu kondisi atau keadaan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimum pula. Ruang lingkup kesehatan lingkungan antara lain mencakup perumahan, pembuangan kotoran manusia (tinja), penyediaan air bersih, pembuangan sampah, pembuangan air kotor (limbah) dan sebagainya. Adapun yang dimaksud dengan usaha kesehatan lingkungan adalah suatu usaha untuk memperbaiki atau mengoptimumkan lingkungan hidup manusia agar menjadi media yang baik untuk terwujudnya kesehatan yang optimum bagi manusia yang hidup didalamnya (Notoatmodjo, 2003). Kontribusi lingkungan dalam mewujudkan derajat kesehatan merupakan hal yang essensial disamping masalah perilaku masyarakat, pelayanan kesehatan dan faktor keturunan. Lingkungan memberikan kontribusi terbesar terhadap timbulnya masalah kesehatan masyarakat. Faktor Lingkungan (fisik, biologi dan sosiokultural) mempunyai ikatan yang erat dengan faktor perilaku misalnya kebiasaan atau perilaku dalam menggunakan air bersih, membuang air besar serta membuang sampah di sembarang tempat termasuk pembuangan limbah. Hal ini akan menyebabkan terjadinya pencemaran air tersebut dan penduduk menjadi rawan terhadap penyakit menular bawaan air seperti penyakit kulit, diare dan lain-lain (Depkes RI, 2003). Maka dari itu, program Kuliah Kerja Lapangan Kesehatan Masyarakat (KKL-KESMAS) Tahun 2017 sebagai salah satu cara merubah pola pikir masyarakat yang masih rendah yaitu belum memperhitungkan dampak lingkungan kotor terhadap tingkat kesehatan mereka sendiri. Dengan demikian, masyarakat pada waktu yang akan datang diharapkan dapat meninggalkan kebiasaan yang kurang baik mengenai kesehatan lingkungan
HUBUNGAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DENGAN KEJADIAN HIPOTERMI DI RSUD PROVINSI NTB Linda Meliati; Yunita Marliana; Sirri Husnia; Fachrudi Hanafi
JURNAL KEDOKTERAN Vol 1 No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih jauh dari angka target MDGs yaitu tahun 2015 sebesar 23 per 1000 kelahiran hidup. Negara Indonesia masih tetap tergolong tinggi jika dibandingkan dengan negara Association of Southeast Asia Nations (ASEAN) yang lain.Data Dinas Kesehatan Provinsi NTB menunjukkan bahwa penyebab dari kematian bayi tersebut terdiri dari BBLR 37%, asfiksia 16%, pneumonia 10%, kelainan kongenital 11%, sepsis 2%, diare 2%, ikterus 1%, tetanus 1%, dan lain-lain 20%. Berdasarkan data di RSUD Provinsi NTB jumlah kejadian BBLR pada tahun 2014-2015 mengalami penurunan. Dari 341 (23,10%) menurun menjadi 333 (16,63%). Tujuan penelitian: untuk mengetahui hubungan BBLR dengan kejadian hipotermi di RSUD Provinsi NTB. Metode penelitian: jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang (Cross sectional). Populasi dalam penelitian ini adalah semua bayi baru lahir yang mengalami BBLR di RSUD ProvinsiNTB yaitu sebesar 195 bayi. Jumlah sampel yang digunakan sebesar 195 bayi yang ditentukan dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat diuji dengan menggunakan uji Rank Spearman dengan tingkat signifikan α = 0,05. Hasil penelitian dari 195 sampel didapatkan bahwa 176 (90,20%) bayi yang mengalami BBLR, 15 (7,70%) bayi yang mengalami BBLSR, dan 4 (2,10%) bayi yang mengalami BBLER dan dari 195 bayi yang mengalami hipotermi, didapatkan 67 (34,40%) bayi yang mengalami hipotermi ringan dan 128 (65,60%) bayi yang mengalami hipotermi sedang. Sedangkan dari hasil uji statistic didapatkan ada hubungan yang sangat kuat antara BBLR dengan kejadian hipotermi (p= 0,000 dan r = 0,924). Diharapkan masyarakat khususnya ibu hamil, agar lebih memperhatikan perawatan selama kehamilan dengan melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin minimal 4 kali selama hamil, agar dapat dideteksi secara dini masalah atau komplikasi yang terjadi selama kehamilan, sehingga dapat ditangani secara cepat dan tepat serta diharapkan ibu hamil lebih memperhatikan asupan gizinya selama hamil, agar nutrisi ibu terpenuhi dan melahirkan bayi yang sehat sehingga dapat menekan angka kematian pada bayi yang disebabkan oleh BBLR dan hipotermi. Bagi RSUD Provinsi NTB dan tenaga kesehatan diharapkan dapat meningkatkan kesehatan bayi BBLR dengan cara mengajarkan ibu atau keluarga tentang perawatan bayi BBLR di rumah yaitu dengan cara perawatan metode kangguru (PMK), agar ibu dapat melakukan perawatan bayi BBLR yang baik di rumah. Sehingga dapat mencegah terjadinya hipotermi pada bayi
NILAI-NILAI RAHMATAN LIL`ALAMIN DAN KEBHINNEKAAN Agus Widjaja
JURNAL KEDOKTERAN Vol 3 No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perenungan demi perenungan dan kajian demi kajian Visi FK Unizar akhirnya disepakati untuk diubah. Dari kajian yang intens disertai perenungan mendalam terhadap perkembangan lingkungan stratejis internal maupun eksternal, maka Tim Perumus yang diketuai langsung oleh Dekan FK Unizar berhasil menyusun rumusan Visi sebagaimana berikut: “Menjadi Fakultas Kedokteran Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin”. Rumusan visi yang penuh nilai dengan wawasan yang luas dan penuh tantangan sekaligus dapat menjadi penguat bagi nilai Kebhinnekaan yang musti tertanam sebagai Visi Bersama (Shared Vision) di hati siapapun para civitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar. Visi yang baik, tidak saja karena rumusannya yang indah, tapi diharapkan visi itu dapat menumbuhkan nilai pengikat yang melekat ke dalam jiwa para orang-orangnya sehingga siap berkorban apapun untuk visi yang diyakini
FAKTOR RISIKO, EFEK KONTEKSTUAL DAN DETERMINAN KONTEKSTUAL PADA RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT Artha Budi Susila Duarsa
JURNAL KEDOKTERAN Vol 1 No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Riwayat alamiah penyakit perlu diketahui untuk memahami masing-masing penyakit, dengan memahami berbagai faktor risiko dan determinan kontekstual yang mempengaruhi terjadinya penyakit tersebut. Faktor risiko merupakan sebuah konsep yang dikenal dalam riwayat alamiah perjalanan penyakit. Riwayat alamiah perjalanan penyakit terdiri dari empat fase (Gertsman, Rothman, Mausner dan Kramer dalam Murti, 2003): a) Fase rentan (susceptibel), b) Fase subklinis (presimptomatic), 3) Fase klinis dan Fase penyembuhan, cacat dan kematian (disability or recovery. Efek kontekstual tidak akan terlepas dari studi ekologi (ecologic study) atau studi agregat (aggregate study) yang sering menggunakan pendekatan analisis multilevel (multilevel analysis). Analisis ini menggabungkan analisis tingkat individual dan analisis ekologis. Efek kontekstual dan faktor (deteminan) kontekstual di dalam health care dan variable kontekstual, maka pemahaman faktor (determinan) kontekstual di dalam epidemiologi dapat didefinisikan sebagai faktor (determinan) kontekstual yaitu : faktor risiko pada tingkat pengukuran ekologis seperti ukuran agregat (agregat measure), ukuran lingkungan (environmental measure) dan ukuran global (global measure) yang mempengaruhi perkembangan suatu penyakit atau status kesehatan dari individu. efek kontekstual dari suatu pajanan ekologi pada karakteristik individu dengan mengendalikan efek pada individu, yang juga merupakan bentuk dari biologic inference.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI PUSKESMAS SUSUNAN KOTA BANDAR LAMPUNG Rosbiatul Adawiyah; Artha Budi Susila Duarsa
JURNAL KEDOKTERAN Vol 2 No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pneumonia merupakan pembunuh utama anak dibawah usia lima tahun (balita) di dunia, lebih banyak dibandingkan dengan penyakit lain seperti AIDS, Malaria dan Campak. Namun, belum banyak perhatian terhadap penyakit ini. Di dunia, dari 9 juta kematian balita lebih dari 2 juta balita meninggal setiap tahun akibat pneumonia atau sama dengan 4 balita meninggal setiap menitnya. Dari lima kematian balita, satu diantaranya disebabkan pneumonia. Di Puskesmas Susunan Baru pada bulan Februari 2012 terjadi 1 (satu) kematian balita akibat pneumonia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap Kejadian Pneumonia pada Balita di Puskesmas Susunan Kota Bandar Lampung Tahun 2012. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain studi case control, dilakukan pada bulan Oktober-Nopember 2012 pada 130 balita yang tediri 65 kasus dan 65 kontrol di Puskesmas Susunan Baru yang dipilih sebagai sampel. Variabel dependen adalah kejadian Pneumonia pada balita, sedangkan variabel Independen adalah umur balita, status gizi balita, kelengkapan status imunisasi, pemberian Vitamin A, pemberian ASI Eksklusif, pendidikan ibu, dan asap pembakaran keluarga. Analisa data secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian didapatkan ada pengaruh kelengkapan status imunisasi, pemberian Vitamin A, pemberian ASI Eksklusif, dan asap pembakaran keluarga dengan kejadian Pneumonia pada balita. Variabel yang merupakan faktor paling dominan berpengaruh terhadap kejadian Pneumonia pada balita adalah asap pembakaran keluarga setelah dikontrol variabel kelengkapan status imunisasi, pemberian Vitamin A, pemberian ASI Eksklusif, dan pendidikan ibu, dengan nilai OR = 13,363 yang berarti balita dengan asap pembakaran keluarga yang tidak baik akan berisiko terkena Pneumonia 13 kali lebih tinggi dibandingkan balita dengan asap pembakaran keluarga yang baik. Saran yang dapat penulis berikan adalah perlu dilakukan pendekatan secara komprehensif dalam menurunkan kasus Pneumonia balita melalui pendekatan dan advokasi ke legislatif untuk mengalokasikan pembiayaan untuk pembuatan leaflet, poster, tentang bahaya asap pembakaran keluarga dan asap rokok bagi kesehatan balita
PERAN PEMERIKSAAN D-DIMER TERHADAP DIAGNOSIS TROMBOSIS Andika Rediputra
JURNAL KEDOKTERAN Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Trombosis merupakan penyebab kematian terbanyak di Amerika Serikat. Lebih dari 2 juta orang meninggal setiap tahun akibat thrombosis arteri atau vena atau penyakit-penyakit yang ditimbulkannya. Dalam jumlah yang sama dijumpai penderita thrombosisnon - fatal seperti misalnya thrombosis vena dalam (deep vein thrombosis), emboli paru non-fatal, thrombosis serebrovaskuler, transient cerebral ischemic attack, penyakit jantung koroner non-fatal, thrombosis vaskuler retina, dan lain-lain. Jika dibandingkan dengan kematian akibat kanker sebesar 550.000 per tahun, thrombosis menimbulkan kematian 4 kali lebih banyak. Ini menunjukkan bahwa thrombosis memberikan dampak luar biasa pada morbiditas, mortalitas dan biaya perawatan medik. Sebagian morbiditas tersebut dapat dicegah dengan pencegahan primer, dan sebagian lagi dengan pencegahan sekunder sesudah terjadi serangan. Oleh karena itu pengertian tentang faktor risiko dan patogenesisnya menjadi sangat penting dalam rangka menyusun cara pencegahan dan pengobatan yang baik
EFEK KOMBINASI XILO-OLIGOSAKARIDA DAN Lactobacillus casei DALAM MENGURANGI KADAR KOLESTEROL SECARA IN VITRO Diani Sri Hidayati
JURNAL KEDOKTERAN Vol 1 No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Many studies reported that consumption of probiotics, prebiotics or combination of both (sinbiotics) can reduce cholesterol levels in the blood. Xilooligosaccharides has not clear yet to influence hipercholesterolemia. This study aimed to determine the xilooligosaccharides effeet against the Lactobacillus casei’s activity to reduce cholesterol levels in vitro. Lactobacillus casei is probiotic bacteria that was used as bacteria test in this study. This study was experimental laboratory with design was post test only control group design, samples in this study were Lactobacillus casei and xilooligosaccharides. Total samples 25 divided into five groups witch consist of K: as control (MRSB without L.casei and XOS), Pl :MRSB containing cholesterol + L. Casei, P2: MRSB containing cholesterol + L.casei + XOS 1%, P3: MRSB containing cholesterol + L,casei + XOS 3 %, P4: MRSB containing cholesterol + L.casei + XOS 5%. The results of this study showed that the lowest reduction cholesterol levels was P1 group whose not given the xos (12,42±1,29 µg/ml), then P2 group whose given 1% concentration of XOS (13,15±1,87 µg/ml), then P3 group whose given 3% concentration of XOS ( l4,45+1,53 µg/ml), then the highest reduction was P4 group whose given 5% concentration of XOS (16,40 ± 1,85 µg/ml). This showed that XOS affected L. casei's activity to reduce cholesterol levels. Anova analytic results showed significant differences ( p=-0,008), then post hoc tests with LSD showed significant differences between the P4 with P1 (p=0,002), and P2 between P4 (p=0,007), while between the other group showed no significant differences.

Page 9 of 13 | Total Record : 129