cover
Contact Name
Asri Hidayat
Contact Email
asri.hidayat@kemdikbud.go.id
Phone
+628114118474
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Sultan Alauddin km.7, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia, 90221
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora
ISSN : 25024345     EISSN : 26864355     DOI : https://doi.org/10.36869
Core Subject : Social,
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora is an open access, a peer-reviewed journal published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan.
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2018)" : 17 Documents clear
MAKNA SIMBOLIK PAKAIAN ADAT MAMASA DI SULAWESI BARAT Ansaar Ansaar
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.534 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i1.78

Abstract

Penulisan artikel ini, selain bertujuan untuk mendeskripsikan pakaian adat Mamasa juga untuk mengungkapkan makna simbolik yang terkandung di dalamnya. Materi dalam tulisan ini diambil dari hasil penelitian lapangan dengan menggunakan metode wawancara, pengamatan, dan studi pustaka. Hasil pembahasan menunjukkan, bahwa pakaian adat Mamasadalam penggunaannya,berkaitan erat dengan stratifikasi sosial yang ada di masyarakat. Selain berfungsi untuk menutupi fisik pemakai, pakaian adat Mamasa juga memiliki makna atau filosofi tersendiri sebagaimana yang diakui dalam masyarakat Mamasa dan tersirat melalui simbol-simbol tertentu. Pakaian adat Mamasa ini memiliki bentuk atau karakteristik tersendiri yang membedakan dengan pakaian adat dari daerah lainnya. Pakaian adat ini dibedakan dalam dua jenis, yaitu pakaian adat yang dipakai oleh kaum bangsawan (tana’ bulawan) dan pakaian adat untuk kalangan masyarakat umum.Diantaranya penggunaan bayu pongko’, bayu kalonda, dan talana tallu buku (celana khas Mamasa) yang merupakan simbol pakaian kebesaran bagi tokoh-tokoh hadat yang ada di Mamasa.Warna putih menjadi salah satu unsur pembeda dari kedua jenis ini.Demikian pula halnya dengan aksesoris yang dipakai, selain berfungsi sebagai pelengkap penampilan, aksesoris-aksesoris ini memiliki makna simbolik yang penting artinya bagi masyarakat Mamasa. Seperti pare passan (kalung), gayang (keris), gelang (rara maupun lola), yang merupakan simbol dari kekayaan si pemakai.
TRAJEKTORI JARINGAN ULAMA DI BONE DAN WAJO 1900-1950 Taufik Ahmad
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.363 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i1.68

Abstract

Pembentukan dan perkembangan jaringan ulama tidak dapat dipisahkan dengan perubahan-perubahan sosial politik regional dan global. Munculnya gejolak politik di Timur Tengah mempengaruhi ritme perkembangan jaringan ulama di Sulawesi Selatan. Studi ini bermaksud untuk menganalisis jaringan ulama di wilayah Bone dan Wajo 1900-1950. Dengan menggunakan metodologi sejarah, studi ini membuktikan bahwa trajektori jaringan ulama di wilayah Bone dan Wajo berkerja secara fleksibel dalam mersepon perubahan sosial politik dalam konteks lebih luas. Pada decade awal abad ke 20, ketika kontrol pemerintah Hindia Belanda menguat, transmisi intelektual Islam bekerja secara non-formal yang diperankan oleh imam-imam melalui pengajianpengajian kitab di masjid. Ketika politik etis Hindia Belanda mulai menghasilkan elite baru yang terdidik, jaringan ulama pun dengan dukungan otoritas lokal merespon dengan membangun basis pendidikan yang lebih modern. Berdirinya pesantrean As‟Adiyah di Sengkang dan Madrasah Amiriah di Watampone adalah respon atas pentingnya Pendidikan Islam modern.Akibatnya lebih jauh, akses pendidikan tidak lagi terbatas pada lingkaran kekerabatan, namun melonggar dan semakin terbukanya ruang kepada setiap orang untuk belajar agama. Transmisi intelektual Islam melalui Pendidikan modern ini selanjutnya melahirkan elite-elite baru dalam masyarakat Bone dan Wajo.
MEMAHAMI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT BUGIS WAJO MELALUI MAKNA BALO LIPAQ SABBE Hardiyanti Nur; Arisal Arisal
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.855 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i1.83

Abstract

Salah satu aktivitas keseharian masyarakat Bugis Wajo yakni menenun. Menenun atau mattennung sebagai wujud tradisi masyarakat setempat yang keberadaanya hingga kini masih tetap menunjukkan eksistensinya di tengah kecanggihan teknologi modern. Perpaduan benang-benang khas hingga menjadi kain dengan berbagai bentuk corak serta kandungan filosofi makna yang termuat di dalamnya menjadi poin penting dalam melestarikan kearifan lokal daerah melalui karya. Artikel merupakan hasil penelitian dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dengan melalui pengamatan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat belas macam corak sarung sutera (balo lipaq sabbé) dengan makna yang termuat di dalamnya. Corak tersebut terdiri atas balo makkalū, balo tettong, balo lobang, balo renniq, balo bombing, balo coboq, balo pucuk, balo mappagiling, balo mesa, balo bunga kertas, balo candiq bukkang, balo bukkang, balo matahari, dan balo areq-kareq. Makna filosofi yang termuat di dalam corak atau balo lipaq sabbé tersebut terkait dengan sistem kekuasaan dalam suatu wilayah, kebangsawanan, keindahan, keberanian, serta keutuhan dan kesempurnaan hidup manusia.
NILAI-NILAI BUDAYA DALAM TRADISI TUDANG SIPULUNG MASYARAKAT AMPARITA KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG Fatmawati P
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.358 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i1.74

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai dalam tradisi Tudang Sipulungmasyarakat Amparita Kabupaten Sidenreng Rappang. Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data, berupa: pengamatan, wawancara mendalam, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan tudang sipulungmerupakan suatu tradisi bagi masyarakat petani yang dilakukan sebelum dan sesudah panen padi.Tujuan dilaksanakannya Tudang Sipulung ialah untuk membicarakan masalah yang berhubungan dengan aktivitas petani, baik pada saat mulai menanam benih sampai tiba waktu panen.Tradisi Tudang Sipulungdilaksanakan secara sederhana oleh masyarakat petani di lapangan, balai Desa, dan bahkan di rumah-rumah sawah sekalipun.Dalam pelaksanaan acara tersebut, terdapat sejumlah nilai sebagai pedoman bagi masyarakat petani dalam menjalani aktivitas kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan sosial masyarakat maupun keluarga.Nilai-nilai tersebut meliputi nilai musyawarah, nilai Religius, nilai Solidaritas, nilai ketaatan/kepatuhan, nilai kesederhanaan, dan nilai kebersamaan.
PERMUKIMAN SELATAN KOTA MAKASSAR: PERUMAHAN BTN MINASA UPA 1980 - 2015 Syafaat Rahman Musyaqqat
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.584 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i1.79

Abstract

Studi ini membahas latar belakang pembangunan Perumahan BTN Minasa sebagai salah satu wilayah permukiman penduduk di sebelah selatan Kota Makassar, yang kemudian mengalami proses perkembangan dari 1980 sampai 2015, serta untuk mendapatkan gambaran mengenai kehidupan sosial ekonomi masyarakat di Perumahan BTN Minasa Upa. Studi ini menggunakan metode sejarah dengan empat tahapan kerja, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa derasnya arus urbanisasi sebagai salah satu faktor diperluasnya kota di tahun 1971 memunculkan beragam masalah, terutama keterbatasan tempat tinggal. Oleh karena itu, dengan melibatkan pihak swasta, pemerintah Kota Makassar memfokuskan pada pembangunan perumahan rakyat. Pembangunan Perumahan BTN Minasa Upa merupakan salah satu dari program tersebut.Perumahan ini mengalami perkembangan yang cukup pesat baik dari perkembangan perumahan seperti sarana dan prasarana maupun keadaan penduduk, sehingga sangat berpengaruh terhadap corak kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat perumahan.
CALABAI DALAM TUBUH LELAKI TELAAH EPISTEMOLOGI FENOMENOLOGI PADA NOVEL KARYA PEPI AL-BAYQUNIE Feby Triadi
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.611 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i1.69

Abstract

Penelitian ini bertujuan melihat sejauh mana pengaruh Epistemologi Fenomenologi Edmud Husserlmengenai kesadaran dalam penulisan karya sastra milik Pepi Al-Bayqunie. Metode yang digunakan adalah pengumpulan bahan-bahan tertulis untuk mengungkap letak Fenomenologi dalam novel. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa, Pepi sebagai seorang aktivis keagamaan, menarasikan hal yang dianggap tabu, sebagai kesadaran diri sendiri, dengan memahami gejala Fenomenologi dan menjadikan kesadaran kolektif, guna konstruksi nilai pada masyarakat. Dengan begitu melihat tiga peran kesadaran bahasa, simbol dan makna, memberikan penafsiran untuk menjangkau seberapa luas khazanah pemikiran dan kreativitas penulis dalam membangun narasi-narasi yang mendukung data. Tentu ini tidak dilakukan begitu saja, tanpa adanya perenungan disertai dengan kesadaran individu yang dapat diterima secara kolektif. Maka dengan begitu dipastikan Fenomenologi menampakkan dirinya sebagai sesuatu yang emik.
PROFIL DAN ETOS KERJA NELAYAN SEJAHTERA DI PESISIR KAMPUNG KAILIKABUPATEN BANTAENG Nur Alam Saleh
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.976 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i1.84

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil dan etos kerja nelayan kampung kaili dalam pengelolaan sumberdaya laut di kabupaten bantaeng. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk memberikan gambaran sosial budaya keluarga nelayan di kampung kaili kelurahan bonto lebang kecamatan bissappu.temuan penelitianetos kerja yang dimiliki masyarakat kampung kaili ada dua hal, yaitu pertama terpenuhinya dasar hidup dan kedua dapat membahagiakan keluarga serta kerabatnya. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa masyarakat kampung kaili memaknai etos kerja sebagai bukti ketekunan, percaya diri, disiplin serta kegigihan. Dalam kondisi tertentu etos kerja masyarakat nelayan kampung Kaili mengalami kenaikan karena kebutuhan yang meningkat. Masyarakat nelayan kampung kaili juga sebagian besar menggunakan konsep etos kerja islami, yang mengharuskan rasa pemanfaatan kepada orang lain dengan cara bersedekah, infak dan sebagainya. Demikianlah etos kerja yang islami mampu mewujudkan kesejahteraan sosial melalui bekerja untuk pemenuhan kebutuhan dasar.
PELABUHAN BUNGENG DALAM JARINGAN PERDAGANGAN ANTARDAERAH DAN ANTARPULAU (1992-2016) sahajuddin sahajuddin
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.382 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i1.75

Abstract

Kajian ini bertujuan mengungkapkan terjadinya perdagangan antardaerah dan antarpulau di Pelabuhan Bungeng, Jeneponto. Metode yang digunakan adalah metode sejarah pada umumnya yang menjelaskan persoalan berdasarkan perspektif sejarah. Hasil kajian menunjukkan bahwa di Pelabuhan Bungeng Jeneponto terjadi kegiatan bongkar muat barang dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan dan Nusantara. Jaringan perdagangan ini terjadi karena pelabuhan ini memiliki komoditas unggulan daerah Jeneponto, yaitu produksi garam. Sementara produksi bongkarnya pelabuhan ini juga unik, karena penduduk Jeneponto memiliki budaya makan daging kuda yang sangat tinggi, sehingga komoditi ini banyak diimpor dari daerah atau pulau lain. Dua komoditi itulah yang paling banyak dibongkar muat di pelabuhan ini. Mengimbangi bongkar muat barang tersebut, komoditi lain juga terjadi peningkatan yang cukup signifikan.
UPACARA TRADISIONAL MASSORONG LOPI DI DESA TAPANGO KABUPATEN POLMAN PROVINSI SULAWESI BARAT Abdul Hafid
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.826 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i1.80

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang tradisi ritual upacara massorong lopi yang dilakukan pada masyarakat di Desa Tapango Kabupaten Polman Provinsi Sulawesi Barat.Tulisan ini bersifat deskriptif – kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi (yaitu pengamatan yang dilakukan secara langsung terhadap berbagai aktivitas dan perilaku pada masyarakat Tapango), wawancara mendalam terhadap tokoh masyarakat, budayawan, pelaku ritual dan pemerintah setempat, dan dokumentasi. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa tradisi ritual ini merupakan warisan nenek moyang terdahulu yang diyakini sebagai pencucian diri atau tolak bala’ dari berbagai gangguan bencana alam, baik gangguan tanaman, gangguan di sungai maupun gangguan wabah penyakit yang dapat membahayakan kehidupan masyarakat.Tradisi ritual ini dipimpin oleh sando banua (dukun kampung) dan dihadiri oleh seluruh warga Desa Tapango dan sekitarnya, serta pemerintah setempat. Waktu pelaksanaan upacara massorong lopiini, dilakukan pada bulan syafar (berdasarkan kelender Hijriah) dan tempat pelaksanaannya yaitu di tepi sungai dalam wilayah Desa Tapango, dengan membawa bersama-sama berbagai jenis sesajen.Dan hingga saat ini kegiatan tradisi ritual massorong lopi masih dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat pendukungnya yang bermukim di Desa Tapango dan masyarakat Mandar pada umumnya.
HUBUNGAN DISASOSIATIF DI PERMUKIMAN TRANSMIGRASI SUKAMAJU Iriani Iriani
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.902 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i1.76

Abstract

Tulisan ini ingin menjelaskan hubungan sosial disasosiatif pada masyarakat transmigrasi, seperti kerja sama, konflik, dan kontravensi di Sukamaju. Proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan wawancara mendalam, observasi dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa di Kecamatan Sukamaju sebagai daerah transmigrasi, memiliki berbagai macam etnis, yakni, Bali, Lombok, Sunda, dan Bugis, dengan demikian maka terjadi proses sosial sejak lama di permukiman transmigrasi tersebut. Adapun proses sosial yang terjadi di Sukamaju ada yang bersifat disasosiatif, yakni ada yang bersifat kerjasama, persaingan, konflik dan kontravensi. Walaupun proses sosial tersebut dianggap sebagai proses sosial yang bersifat negatif, namun tidak berlangsung lama, akan tetapi berakhir dengan damai dan mereka dapat hidup rukun hingga saat ini

Page 1 of 2 | Total Record : 17