cover
Contact Name
Asri Hidayat
Contact Email
asri.hidayat@kemdikbud.go.id
Phone
+628114118474
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Sultan Alauddin km.7, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia, 90221
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora
ISSN : 25024345     EISSN : 26864355     DOI : https://doi.org/10.36869
Core Subject : Social,
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora is an open access, a peer-reviewed journal published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan.
Articles 139 Documents
STRATIFIKASI SOSIAL: PENONTON BIOSKOP DI HINDIA BELANDA AWAL ABAD KE-20 Rosadi, Khaesyar Nisfhan Akbar; Putra, Eric Pradana
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v9i2.380

Abstract

Artikel ini membahas stratifikasi sosial dalam masyarakat Hindia Belanda terkait hiburan seni pertunjukan berupa menonton film atau 'gambar idoep' di bioskop pada awal abad ke-20. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bentuk stratifikasi sosial dalam konteks budaya hiburan bioskop di Hindia Belanda. Fokus utama penelitian ini adalah mengungkap bagaimana stratifikasi sosial mempengaruhi perilaku penonton bioskop dan memberikan gambaran tentang dinamika sosial di ruang bioskop pada masa tersebut. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan tahapan penelitian yang meliputi pengumpulan data, pengolahan data, analisis, dan penafsiran data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya strata atau hierarki sosial yang terdiri atas tiga kelas atau golongan: penduduk Eropa di tingkat pertama, kemdudian diikuti oleh penduduk asing lain seperti etnis Tionghoa di tingkat kedua, dan penduduk pribumi atau lokal berada di tingkat terakhir. Bentuk stratifikasi sosial ini terlihat dalam perbedaan harga tiket masuk, posisi tempat duduk, preferensi film, dan gedung bioskop berdasarkan kelas atau golongan serta kemampuan ekonomi. Penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana struktur sosial yang kaku dan hierarkis di Hindia Belanda tercermin dalam budaya hiburan, serta dampaknya terhadap perilaku dan interaksi sosial pada masa tersebut.
EKOKRITIK SASTRA LISAN DALAM MITOS GUNUNG PEGAT DI WONOGIRI Aprianto, Hendra
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v9i1.312

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran mitos Gunung Pegat dalam melestarikan lingkungan, memperkuat identitas budaya, dan memandu perilaku manusia dalam menjaga harmoni dengan alam. Mitos Gunung Pegat terdapat di beberapa daerah Indonesia, seperti Gunung Pegat di Ponorogo, Gunung Pegat di Blitar, dan Gunung Pegat di Wonogiri. Dalam penelitian ini lebih berfokus ke Gunung Pegat di Wonogiri. Cerita lisan yang turun temurun dari nenek moyang merupakan bentuk produk budaya dengan makna tersirat—yaitu untuk keberlangsungan alam dan hutan. Metode dalam pengumpulan data yaitu dengan menggunakan studi pustaka disertai dengan wawancara penduduk lokal Wonogiri. Artikel ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dikarenakan objek data berupa satuan-satuan bahasa, kata, dan frasa. Dalam penelitian ini menggunakan paradigma ekokritik yang digagas oleh Greg Garrard. Ekokiritk Garrad menggagas enam sudut pandang yaitu 1) Polusi (pollution), 2) Hutan belantara (Wildness), 3) Bencana (Apocalypse), 4) Tempat tinggal (Dwellings), 5) Hewan (Animals), dan 6) Bumi (The earth). Hasil analisis menunjukkan bahwa mitos ini bukan hanya merupakan cerita turun-temurun, tetapi juga cerminan dari hubungan yang kompleks antara manusia, lingkungan, dan makhluk hidup di sekitarnya. Mitos Gunung Pegat memberikan wawasan tentang kearifan lokal, kepercayaan pada keseimbangan alam, dan nilai-nilai pelestarian lingkungan. Dengan adanya artikel ini semoga bisa menjembatani penelitian yang berkelanjutan mengenai Gunung Pegat di daerah lain dan sebagai bahan referensi mengenai makna yang terdapat dalam tradisi lisan.
MUSEUM KOTA MAKASSAR: REPRESENTASI IDENTITAS SEJARAH KOTA MAKASSAR DARI MASA KE MASA Purnamasari, Nurul Adliyah
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v9i1.349

Abstract

Makassar telah bertumbuh dan berkembang sebagai pusat pemerintahan dan kota niaga kosmopolitan di era kejayaan Kerajaan Gowa pada abad ke-17, dan kini menjadi kota metropolitan dengan keragaman budaya dan etnis. Jejak perjalanan kota ini terekam dalam koleksi Museum Kota Makassar. Sebuah museum yang didirikan oleh pemerintah kota Makassar sebagai upaya untuk menghubungkan masyarakat luas dengan sejarah dan budaya di kota ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji koleksi dan pameran Museum Kota Makassar sebagai representasi sejarah Kota Makassar dari masa ke masa. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif, dimulai dengan observasi dan inventarisasi koleksi, pengumpulan data pustaka, analisis data untuk mengidentifikasi makna sejarah yang terkandung pada masing-masing koleksi, dan terakhir, proses interpretasi data untuk dapat memberikan jawaban komprehensif terhadap pertanyaan penelitian. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa beragam koleksi menunjukan identitas Makassar sebagai kota maritim pada masa kerajaan, kemudian berkembang menjadi kota perjuangan pada masa Perang Makassar (1666 – 1669) dan era kemerdekaan dalam Peristiwa Westerling (1946 – 1947), menjadi kota kolonial pada masa pendudukan VOC dan Hinda Belanda, kota metropolitan, dan hingga kini berkembang menjadi kota urban yang multi etnis, serta memiliki klub sepak bola legendaris, PSM Makassar.
MATTANRA ESSO: SISTEM PERHITUNGAN HARI PADA MASYARAKAT ALLUPPANGNGE DESA CORAWALI KABUPATEN BARRU Jumarni, Jumarni; Dahlan, Mubarak
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v9i1.350

Abstract

Dalam budaya dan tradisi orang Bugis, mattanra esso merupakan referensi utama dalam menentukan hari bagi seseorang untuk melakukan suatu kegiatan, upacara atau ritual, seperti pernikahan, membangun rumah, menanam padi, dan lain sebagainya. Artikel ini mencoba melihat praktik-praktik budaya dan pandangan masyarakat terhadap mattanra esso yang masih berlangsung hingga kini dengan mengambil kasus pada masyarakat Alluppangnge. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan metode pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi dan terlibat dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) sistem perhitungan hari dalam mattanra esso dilakukan dengan cara menghitung hari asse (1 hari sebelum dilahirkan), pole nanre (3 hari setelah dilahirkan), dan penno nanre (4 hari setelah dilahirkan) dari orang atau subjek yang akan melaksanakan kegiatan, upacara atau ritual. Masyarakat Alluppangnge percaya bahwa penentuan hari dapat memberi energi dan pengaruh dalam menjalani kehidupan sehari-hari; dan (2) pandangan masyarakat Alluppangnge terhadap mattanra esso merupakan referensi penting dan utama dalam mencari hari baik sebelum melaksanakan suatu aktivitas penting. Masyarakat Alluppangnge menyadari bahwa tradisi ini merupakan warisan berharga dari nenek moyang mereka yang sarat dengan makna dan kearifan.
ADAPTASI ORANG BALI BERBASIS TRI HITA KARANA DI WOTU, LUWU TIMUR Rahman, Abdul
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v9i1.332

Abstract

Desa Pepuro Barat merupakan salah satu desa di Kabupaten Luwu Timur yang mayoritas penduduknya orang Bali. Desa Pepuro Barat sebagai arena sosial budaya menjadikan orang Bali untuk berkumpul dan bertemu dengan beberapa golongan etnik dimana setiap anggotanya akan memainkan peran sebagai pengungkapan akan kedudukannya sebagai makhluk sosial yang saling berinteraksi. Peran-peran yang dilakukan oleh orang Bali akan terwujud sebagai pola-pola tindakan adaptasi yang bisa mewakili eksistensinya sebagai individu maupun anggota masyarakat.  Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi strategi adaptasi transmigran, khususnya orang Bali di Desa Pepuro Barat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara. Observasi dilakukan dengan cara melihat secara langsung aktivitas keseharian orang Bali di daerah transmigran. Selanjutnya dilakukan wawancara mendalam kepada orang Bali, khususnya generasi pertama yang memulai pemukiman di daerah ini untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan topik penelitian berdasarkan pengalaman dan persepsi subjek penelitian. Data yang terkumpul kemudian diverifikasi untuk memastikan validasi data, dan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan hasil sumber pustaka yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehidupan orang Bali telah berdaya dari segi ekonomi karena kemampuan beradaptasi dengan memanfaatkan alam sekitar dalam pencarian nafkah.
ADAPTASI BUDAYA MASYARAKAT DI KAWASAN KARST RAMMANG-RAMMANG YANG BER-KEARIFAN SEBAGAI PENGETAHUAN LOKAL PERUBAHAN IKLIM Anawagis, Fian; Rengko, Sumarlin; Rahman, Nurfadilah Fajri; Taufik, Muh.
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v9i1.357

Abstract

Pranata lokal di Kawasan karst Rammang-Rammang Maros mampu mempertahankan mekanisme budaya dalam sistem adaptif berbasis edukasi konservasi dan program kampung iklim terhadap perubahan iklim. Perubahan iklim merupakan permasalahan yang nyata di Kawasan karst Rammang-Rammang, Maros. Penelitian ini mendeskripsikan setiap bagian dari masyarakat dalam pranata lokal Indonesia telah mewariskan pengetahuan dan kearifan tanpa pendidikan formal yang terbukti secara jenius mampu meminimilasir kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh meningkatnya aktivitas dan jumlah kebutuhan manusia. Namun, kerapkali konlik sumberdaya dan ketidakharmonisan karena pengaruh dari luar membuat pengetahuan dalam adaptasi yang telah terinternalisasi dalam kearifan lokal sebagai mekanisme kadang dikesampingkan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan telaah dokumen. Analisis data mencakup beberapa tahapan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kearifan lokal masyarakat yang diewajantahkan oleh pranata sosial melalui adaptasi budaya dan ekologis masyarakat mengelola lingkungan alam di ekosistem karst dapat memperkuat jangka panjang equilibrium terhadap perubahan iklim ditingkat mikro. Kapasitas untuk memperkuat equilibrium ini adalah dengan mengintegrasikan sistem pengetahuan konservasi tradisional (non formal), menerapkan mekanisme pelestarian lingkungan dengan berbasis edukasi kampung iklim (informal) dengan pengetahuan berbasis sains (formal) dalam wujud sosial kehidupan sehari-hari, integrasi dukungan saintis, integrasi ilmiah dari luar meningkatkan penjagaan alam sebagai spirit oleh peran serta masyarakat kepada lingkungan lokal bahkan global untuk mereduksi kerentanan yang beresiko tinggi..
MAPPADENDANG: ANALISIS FUNGSIONALISME STRUKTURAL PADA TRADISI SUKU BUGIS Prasetio, Tri Bambang; Karim, Abd; Nurkidam, A; Rasyid, Abd
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v9i1.336

Abstract

Penelitian ini berfokus pada analisis fungsi sosial, budaya, dan keagamaan dari tradisi Mappadendang yang jalankan Suku Bugis di Kelurahan Wattang Bacukiki. Masyarakat setempat menjalankan Tradisi Mappadendang dua kali setahun sebagai bentuk syukur atas hasil panen. Artikel ini menggunakan metode kualitatif melalui observasi dan wawancara mendalam. Artikel ini mengaplikasikan teori Adaptation, Goals Attainment, Integration, dan Latency Fungsional Struktural Talcott Parsons. Hasilnya menunjukkan masyarakat Wattang Bacukiki secara kultural mengadaptasi tradisi untuk mempertahankan fungsi dan nilai kulturalnya di tengah perkembangan zaman. Tujuan fungsi tercapai karena kohesi sosial, nilai budaya, dan aspek keagamaan tercapai. Ritual Mappadendang berhasil terintegrasi dengan aspek keagamaan, terbukti dengan masyarakat Wattang Bacukiki berhasil menjadikan tradisi menjadi sarana keselamatan, silaturahmi, dan pemeliharaan hubungan sosial yang harmonis. Kemudian mereka juga berhasil melakukan perbaikan pola atas tradisi tanpa mengurangi nilai kultural sehingga tradisi ini dapat bertahan dan dapat terlaksana secara simultan di Watan Bacukiki. Artikel ini menggarisbawahi pentingnya dukungan berkelanjutan dari masyarakat dan pemerintah lokal untuk memastikan pelestarian nilai-nilai lokal tradisi Mappadendang dan mendukung penuh Pembangunan Kebudayaan khususnya di Sulawesi Selatan.
MAKNA FILOSOFI MAKANAN TRADISIONAL BANNANG-BANNANG PADA UPACARA ADAT DI KABUPATEN GOWA Raodah, Raodah
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v9i1.281

Abstract

Penelitian yang bertujuan mendeskripsikan makna filosofi kue tradisional bannang-bannang sebagai sajian dalam berbagai upacara adat pada masyarakat di Kabupaten Gowa. Bannang-bannang merupakan karya budaya yang menjadi warisan leluhur yang perlu dilestarikan, untuk mendapatkan sertifikasi sebagai warisan budaya tak benda, sebagai objek pemajuan kebudayaan dalam Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2017.  Kue tradisional bannang-bannang memiliki nilai-nilai budaya dan pengetahuan lokal secara komunal dimiliki  masyarakat Gowa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi dan dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kue tradisional bannang-bannang merupakan kue tradisional yang selalu disajikan dalam berbagai upacara adat pada masyarakat di Kabupaten Gowa utamanya pada upacara perkawinan adat, karena kue tradisional bannang-bannang memiliki makna filosofi dan simbol kebahagian dalam kehidupan  rumah tangga. Bagi masyarakat luar, kue bannang-bannang biasanya dijadikan oleh-oleh  ketika berkunjung ke Makassar, karena kue tradisional ini dapat bertahan lama.
NILAI BUDAYA BABACAKAN DALAM HAUL PRABU DALEM WONG SAGATI Heryana, Agus -
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v9i1.340

Abstract

AbstrakSaat makan dijadikan sebuah peristiwa budaya dalam wujud tradisi makan bersama, maka yang terjadi adalah perubahan paradigma.  Tradisi makan tidak lagi sekedar pelipur lapar pelepas dahaga, namun berfungsi sebagai media hubungan (interaksi) sosial antara individu dengan individu dan atau individu dengan masyarakat luas. Makan menjadi kompleks saat dikaitkan dengan system dan nilai budaya.   Semua itu terakumulasikan dalam tradisi makan bersama yang di Provinsi Banten disebut Babacakan.  Tradisi Babacakan tidaklah berdiri sendiri, melainkan selalu digandengkan dengan tujuan-tujuan tertentu. Sekurang-kurangnya bertujuan mempererat persaudaraan dan menghormati tamu. Oleh karena itulah pada Upacara Haul Prabu Dalem Wong Sagati selalu diakhiri dengan tradisi Babacakan.  Babacakan pada upacara yang dimaksud akan diteliti menggunakan metode deskripsi analisis dengan menggunakan pendekatan orintasi nilai budaya. Tujuannya tidak lain untuk mengetahui nilai budaya yang terkandung di dalamnya.   Simpulan yang diperoleh diantaranya (1) dasar pijakan babacakan adalah sedekah makanan; (2) fungsinya memperat persatuan dan menjalin kebersamaan baik keluarga maupun kelompok masyarakat; (3) menghadirkan keakraban; (4) ajang sosialisasi untuk aktualisasi diri atau kelompok. Kata kunci : babacakan, makan bersama, sedekah, haul, silaturahmi  AbstractWhen meal is made into a cultural event in the form of banquet tradition, what occurs is a paradigm shift. The meal tradition is no longer just a hunger filler or thirst quencher, but also serves as a medium for social relations (interactions) among individuals and/or between individuals and the wider community. Meal becomes complex when interacting with cultural systems and values. All of that is accumulated in a banquet tradition which, in Banten Province, is called babacakan. The babacakan tradition does not stand alone, but is always coupled with certain goals. At least it aims to strengthen brotherhood and respect for guests. That is why the memorial ceremony of Prabu Dalem Wong Sagati always ends with the babacakan tradition. The babacakan tradition will be studied using a descriptive analysis method by means of a cultural value orientation approach. The goal is none other than to know the cultural values contained in it. The conclusions obtained include (1) the basis of babacakan is food alms; (2) its function is to strengthen unity and establish togetherness in both families and community groups; (3) presenting familiarity; (4) a socialization event for self-actualization or groups.   Keywords: babacakan, banquet, alms, memorial ceremony, gathering