Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Ecological Impacts of Mining Activities: Local Knowledge of Bajo Fisherman Communities Takwa Takwa; Zakaria Zakaria; Hendri Yawan; Ashari Ashari; Sumarlin Rengko HR; Muh Nurtanzis Sutoyo
BABASAL English Education Journal Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : English Education Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32529/beej.v4i2.2800

Abstract

This study aims to determine the extent of ecological changes affecting the fishermen in the coastal area of Pomalaa District, Kolaka Regency, and how the local knowledge of the Bajo fishermen in Kolaka manifests. The results of the study indicate that the ecological changes in the coastal area are caused by massive nickel mining activities on the coast, which have an impact on the lives of fishermen in the coastal villages of Pomalaa District, namely Hakatutobu, Tambea, Sopura, and Oko-Oko villages. The forms of ecological changes are evident in the pollution of the environment in mangroves, seagrass beds, coral reefs, and other marine biota, even the damages to the community's fisheries cultivation such as sea cucumber, seaweed, and floating cage culture. The study also found that the Bajo fishermen's community is very dilemmatic in facing this reality, and there is no choice for fishermen other than to rely on their local knowledge, search for and catch marine products as their effort to meet their needs.
MAKASSAR CULTURAL VALUES IN THE TEXTS OF SELAYAR BATIKS FOLK SONGS Rengko HR, Sumarlin; Milda, Milda; Hermansyah, Sam
La Ogi : English Language Journal Vol 10 No 1 (2024): Januari
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP, LP3M Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of the oral traditions that has developed to date in the Selayar Islands Regency is battki. Battik-battik belongs to the categories of folk songs. Battik-battik comes from the word ambatti which means to squeeze. The musical instrument used is the harp, therefore it is called battik- battik. Battik-battik is sung by men and women alternately on stage without using text, meaning this song is sung spontaneously. In the batti-batti folk song, there are cultural values sung by the singer, namely the culture of tabe, sipakatu and si usingnga'. So that in this study the authors used multi-disciplines, namely anthropolinguistics with the aim of exploring these cultures hidden in the text or song lyrics that are sung. Anthropolinguistics is a study that discuss the relationship or connection between culture and language. in anthropolinguistics studies examiners more how languages is used US a tools for social action. This research method uses qualitative research methods to explain a phenomenon in depth and is carried out by collecting data as deeply as possible.
Implementation And Evaluation Of The Bilingual Program For Eighth-Grade Students At MTSN 1 Sidrap Rengko HR, Sumarlin; Hermansyah, Sam
La Ogi : English Language Journal Vol 10 No 2 (2024): July
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP, LP3M Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55678/loj.v10i2.1588

Abstract

This study investigates the implementation and evaluation of the bilingual program for eighth-grade students at Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Sidrap (MTSN). As globalization intensifies, bilingual education is becoming increasingly vital in preparing students for future academic and professional challenges. This research focuses on how the bilingual program is integrated into the curriculum at MTSN, with particular emphasis on its effectiveness in enhancing students' proficiency in both Indonesian and English.The study employs a mixed-methods approach to evaluate the program's impact. Quantitative data were collected through standardized language proficiency tests and academic performance records, while qualitative insights were gathered from interviews with educators, students, and parents. The research aims to assess the program's success in improving language skills, examine any challenges encountered during implementation, and provide recommendations for program enhancement. Preliminary findings suggest that the bilingual program has positively impacted students' language proficiency and academic performance. However, challenges such as insufficient teacher training and resource limitations were identified. The study underscores the importance of continuous evaluation and adaptation to address these challenges and enhance the program's effectiveness.This research contributes to the broader discourse on bilingual education by providing empirical evidence on the implementation and impact of bilingual programs in a specific educational context. The insights gained from this study are expected to inform policy decisions and practice in bilingual education, particularly in similar educational settings.
Ecological Impacts of Mining Activities: Local Knowledge of Bajo Fisherman Communities Takwa, Takwa; Zakaria, Zakaria; Yawan, Hendri; Ashari, Ashari; HR, Sumarlin Rengko; Sutoyo, Muh Nurtanzis
BABASAL English Education Journal Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : English Education Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32529/beej.v4i2.2800

Abstract

This study aims to determine the extent of ecological changes affecting the fishermen in the coastal area of Pomalaa District, Kolaka Regency, and how the local knowledge of the Bajo fishermen in Kolaka manifests. The results of the study indicate that the ecological changes in the coastal area are caused by massive nickel mining activities on the coast, which have an impact on the lives of fishermen in the coastal villages of Pomalaa District, namely Hakatutobu, Tambea, Sopura, and Oko-Oko villages. The forms of ecological changes are evident in the pollution of the environment in mangroves, seagrass beds, coral reefs, and other marine biota, even the damages to the community's fisheries cultivation such as sea cucumber, seaweed, and floating cage culture. The study also found that the Bajo fishermen's community is very dilemmatic in facing this reality, and there is no choice for fishermen other than to rely on their local knowledge, search for and catch marine products as their effort to meet their needs.
Mengungkap Makna dan Nilai Kelong Agama HR, Sumarlin Rengko; Asriani, Nur; Rani, Andi Isra
PUSAKA Vol 10 No 2 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i2.862

Abstract

Tulisan ini memaparkan makna dan nilai yang tedapat dalam teks kelong agama. Kelong agama adalah salah satu jenis kelong yang dimiliki etnik Makassar. Kelong agama berisi hakikat dan sifat Tuhan, rasa bakti dan kewajiban manusia terhadap Tuhan, serta menegenai akhlak manusia. Kelong agama mencerminkan pola pikir yang penuturnya. Di dalam teks kelong agama terkandung makna dan nilai-nilai kehidupan pendukungnya. Makna dan nilai-nilai yang terkandung di dalam kelong agama etnik Makassar dianalisis dengan menggunakan teori semantik secara deskriptif kualitatif, dan eksplorasi kelong agama perspektif nilai. Penulisan ini melalui tahap, seperti: penelitian pustaka, klasifikasi, terjemahan, dan menganalisis data. Hasil penelitian kelong agama menunjukkan bahwa terdapat dua jenis makna, yaitu makna denotatif dan konotatif. Teks kelong agama mengandung beragam nilai yang masih relevan dengan kehidupan sehari-hari, diantaranya nilai; kepercayaan, moral, religious, kepatuhan, kepribadian, pengetahuan, dan evaluasi diri.
Akulturasi Islam dan Budaya Lokal dalam Adat Pernikahan Masyarakat Bugis di Sinjai Yani, Ahmad; M, M. Dahlan; HR, Sumarlin Rengko; Akramullah, Ahmad Habib
PUSAKA Vol 12 No 1 (2024): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v12i1.1472

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses akulturasi antara Islam dan budaya lokal terjadi dalam upacara pernikahan masyarakat Bugis di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam fenomena kompleks ini dengan fokus pada peran sistem pangadereng (adat) dan unsur sara’ (syariat) dalam upacara pernikahan. Metode penelitian yang diterapkan adalah penelitian lapangan dengan pendekatan historis dan antropologi agama. Pendekatan ini dipilih untuk memungkinkan pemahaman yang holistik tentang dinamika budaya dan agama dalam konteks pernikahan Bugis di Sinjai. Data untuk penelitian ini dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara dengan pemangku adat, tokoh agama, dan pihak pemerintah setempat, serta dokumentasi lapangan. Selain itu, data dari literatur-literatur yang relevan juga dijadikan sebagai sumber informasi tambahan untuk mendukung temuan penelitian. Temuan kajian ini menunjukkan karakteristik unik dari adat pernikahan dalam masyarakat Bugis Sinjai, yang tercermin dalam serangkaian tahapan seperti mammanu’manu’, madduta, mappettu ada, mappacci, tudang botting, dan marola.Proses ini secara nyata mencerminkan adanya akulturasi budaya lokal pernikahan Bugis dengan ajaran Islam di Sinjai, menciptakan suatu bentuk akulturasi kulturalspiritual yang khas. Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya pemahaman mendalam terhadap adat perkawinan masyarakat Islam Sinjai, terutama dalam konteks konsep pernikahan dan proses yang melibatkan upacara tersebut. Sebagai rekomendasi, disarankan agar masyarakat dan pemerintah setempat mengambil langkah-langkah strategis untuk mempertahankan dan menjaga keberlanjutan adat istiadat perkawinan yang masih eksis, sambil tetap memilah unsur-unsur budaya eksternal yang dapat diterima dan sesuai dengan ajaran Islam.
Strengthening Strategies for Bugis Language Learning through an AI-Based Local Language Preservation Model in Barru Regency Sumarlin Rengko HR; Andi Filsah Muslimat; Pammuda; Mutahharah Nemin Kaharuddin; Nasihin; Ridwan Syam; Abdul Rauuf Muri; Zaidul
INTERACTION: Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 12 No. 1 (2025): INTERACTION: Jurnal Pendidikan Bahasa
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36232/interactionjournal.v12i1.3942

Abstract

The partners of this program are UPTD SD Negeri 32 Barru and the Department of Education and Culture of the Barru Regency Government. This community service activity aims to provide understanding and knowledge to the community regarding policies and the history of local languages as a means to explore the existence of regional languages themselves. The enhancement of understanding about local language policies and history is integrated with a workshop on regional language preservation through the strategic use of Artificial Intelligence (AI) technology to develop and improve practical skills in creating learning processes not only through traditional approaches but also through technological approaches that are effective and easy to use. This program supports the preservation of regional languages through innovative and effective utilization of AI, while also enriching insights into the relationship between technology and regional language learning, thereby producing concrete outputs such as lesson plans, learning modules, or actions that can be implemented after the workshop.
Pemanfaatan Feses Sapi Sebagai Pupuk Kompos di Desa Mangepong, Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan Pratama, Muh. Rezki; Rengko HR, Sumarlin
Bambu Laut: Jurnal Pengabdian Masyarakat VOLUME 2, NOMOR 1, APRIL 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35911/bambulaut.v2i1.43082

Abstract

Desa Mangepong, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto, merupakan daerah yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani. Namun, keterbatasan pengetahuan dalam penggunaan pupuk ramah lingkungan menjadi tantangan utama. Feses sapi, yang melimpah sebagai limbah peternakan, memiliki potensi besar untuk diolah menjadi pupuk kompos bernilai ekonomis. Artikel ini membahas proses pengolahan feses sapi menjadi pupuk kompos menggunakan teknologi EM4 untuk mempercepat fermentasi. Program ini bertujuan untuk mengatasi masalah kelangkaan pupuk bersubsidi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hasil program menunjukkan bahwa pemanfaatan feses sapi sebagai pupuk kompos berhasil menurunkan biaya produksi pertanian, meningkatkan kesuburan tanah, serta membuka peluang ekonomi baru bagi petani dan peternak. Dengan pendekatan ini, feses sapi dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pertanian berkelanjutan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Ternak di Kabupaten Jeneponto: Lebih dari Sekadar Kuda Pratama, Muh. Rezki; Rengko, Sumarlin
Bambu Laut: Jurnal Pengabdian Masyarakat VOLUME 2, NOMOR 2, OKTOBER 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35911/bambulaut.v2i2.43748

Abstract

Kabupaten Jeneponto di Provinsi Sulawesi Selatan dikenal luas sebagai "Kota Kuda" karena kuatnya tradisi masyarakat dalam memelihara kuda, baik sebagai simbol budaya maupun sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, potensi peternakan di Jeneponto jauh lebih beragam. Artikel ini membahas sektor peternakan di Jeneponto secara menyeluruh, mulai dari populasi kuda, sapi, kambing, hingga ternak lainnya seperti kerbau, ayam kampung, domba, dan itik. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui studi literatur dan observasi lapangan. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun kuda menjadi ikon daerah, sapi dan kambing juga merupakan komoditas unggulan dengan sistem pemeliharaan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Pengelolaan ternak sebagian besar masih bersifat konvensional dan menjadi usaha sampingan masyarakat. Namun, meningkatnya permintaan pasar, khususnya terhadap kambing dan sapi, membuka peluang pengembangan sektor peternakan yang lebih produktif dan berorientasi bisnis di masa depan.
Pelatihan Pembuatan Puding Jagung Sebagai Bentuk Diversifikasi Olahan Jagung di Desa Mangepong Musdalifah, Musdalifah; Rengko, Sumarlin
Bambu Laut: Jurnal Pengabdian Masyarakat VOLUME 2, NOMOR 2, OKTOBER 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35911/bambulaut.v2i2.45330

Abstract

Melimpahnya lahan pertanian jagung di Desa Mangepong, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto memberikan peluang besar untuk dikembangkan sebagai usaha produktif. Namun, sebagian besar masyarakat setempat masih memilih untuk menjual hasil panen secara langsung kepada pengepul atau konsumen tanpa melalui proses pengolahan. Kondisi ini menyebabkan rendahnya nilai jual hasil pertanian dan berdampak pada lambatnya pertumbuhan ekonomi desa, padahal pertanian merupakan sektor utama mata pencaharian warga. Potensi ini dapat dioptimalkan melalui kegiatan pelatihan dan sosialisasi pembuatan puding jagung sebagai salah satu bentuk usaha pengolahan hasil pertanian. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang peluang usaha berbasis olahan jagung agar mereka terdorong untuk mengolah hasil panennya sendiri demi meningkatkan nilai ekonominya. Antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap kegiatan ini menunjukkan respon yang positif, sehingga diharapkan dapat mendorong pemanfaatan jagung sebagai peluang usaha guna mendukung peningkatan ekonomi masyarakat.