cover
Contact Name
Asri Hidayat
Contact Email
asri.hidayat@kemdikbud.go.id
Phone
+628114118474
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Sultan Alauddin km.7, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia, 90221
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora
ISSN : 25024345     EISSN : 26864355     DOI : https://doi.org/10.36869
Core Subject : Social,
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora is an open access, a peer-reviewed journal published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan.
Articles 139 Documents
BURUNG-BURUNG PEMBAWA TANDA: ANEKA JENIS DAN PEMAKNAAN MITOS BURUNG PADA MASYARAKAT DESA NGABLAK, KAUPATEN PATI, JAWA TENGAH Rahman Latif Alfian; Johan Iskandar; Budiawati Supangkat Iskandar
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v8i1.238

Abstract

Penduduk pedesaan di ekosistem desa mengembangkan berbagai pengetahuan lokal untuk beradaptasi dengan lingkungan hidupnya, salah satunya adalah ‘membaca alam’ atau mencermati sistem pertanda di alam. Beberapa pertanda yang dimaknai sedemikian rupa oleh pemangkunya biasanya menjadi pedoman dalam melihat peristiwa tertentu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji lebih dalam jenis-jenis burung yang dianggap masyarakat sebagai pembawa pertanda, serta bagaimana masyarakat memaknainya. Penelitian ini menggunakan metode etnografi bersifat kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara mendalam dengan informan, untuk menggali data dan informasi dari sudut pandang pengampu (masyarakat). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa jenis burung dimaknai membawa pertanda tertentu. Misalnya saja sebagai pertanda buruk, seperti akan terjadi kematian, terjadi celaka, dan juga sering dimaknai sebagai pertanda kehadiran makhluk gaib. Burung derkuku/tekukur, burung puter, burung kutut/perkutut, suaranya dimaknai penduduk sebagai pembawa rezeki. Kedatangan burung bondol Jawa/Pipit Bondol/Emprit dimaknai penduduk akan kedatangan tamu penting. Burung Dali/ Seriti Kembang yang masuk rumah dimaknai sebagai pertanda akan mendapat rezeki bagi yang punya rumah. Serta burung Kepodang dipercayai penduduk dapat membawa wibawa bagi pemelihara. bagi warga Desa Ngablak, Pati keberadaan burung tersebut menjadi penting sebagai pengingat. Lebih dalam lagi, pemaknaan terhadap burung-burung tertentu memberikan pengaruh terhadap pola perilaku kehidupan masyarakat. Pada akhirnya, menjaga keberadaan burung-burung dan penanda-penanada alam lain menjadi penting dan prioritas bagi masyarakat. Implikasi hasil penelitian ini sangat penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya bidang etnoornitologi, dan juga untuk kepentingan praktis, seperti dapat mendokumentasikan pengetahuan lokal penduduk agar tidak punah.
KEBANGKITAN MANDAR ABAD XVI-XVII Abd Rahman Hamid
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v8i1.220

Abstract

Artikel ini menjelaskan kebangkitan Mandar abad XVI-XVII dengan tiga fokus, yaitu faktor-faktor pendukung, dinamika, dan eksistensinya. Penelitian ini menggunakan metode sejarah. Bahannya adalah sumber-sumber lokal yang dipadu dengan bahan pustaka yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebangkitannya ditunjang oleh faktor kekerabatan dan hubungan Mandar dengan Makassar. Dalam prosesnya memperlihatkan dua pola: Pertama, pola penyatuan pedalaman dan pesisir dari masa awal sampai terbentuk konfederasi Mandar (Pitu Babana Binanga dan Pitu Ulunna Salu); kedua, pola sekutu dan seteru dalam hubungan antarkerajaan di Mandar, hubungan dengan Makassar, Belanda, dan Bone. Persekutuan antara unit-unit politik kecil (tomakaka) dan kerajaan merupakan respon terhadap tantangan yang datang dari luar. Pihak yang menang (Balanipa, Sendana, Banggae, Pamboang, Mamuju, Tapalang, dan Binuang) menentukan nasib pihak yang kalah (Passokkorang). Karena faktor ikatan kerabat, rakyat dari pihak yang kalah dapat diterima oleh pihak yang menang. Ini menunjukkan bahwa faktor kultural lebih efektif menjaga kelanjutan hubungan antarkelompok dan kerajaan. Wilayah konfederasi Mandar dijadikan batas Provinsi Sulawesi Barat pada 2004.
INTERVENSI MEDIS MODERN TERHADAP KEHIDUPAN SUKU ANAK DALAM (KASUS BATIN SEMBILAN DI HUTAN HARAPAN) Hairul Anwar; Alna Hanana; Sidarta Pujiraharjo
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v8i1.229

Abstract

Agenda tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) mendorong instansi pemerintah, perusahaan swasta dan lembaga swadaya masyarakat melakukan gerakan kesehatan inklusif pada kelompok masyarakat rentan yang bermukim jauh dari fasilitas kesehatan umum. Upaya pelayanan dan promosi kesehatan salahsatunya diinisiasi oleh perusahaan Restorasi EkosisitemIndonesia (P.T. REKI) yang bernama Klinik Besamo. Kajian ini hendak menganalisis intervensi Klinik Besamo terhadap kehidupan Suku Anak Dalam Batin Sembilan berkenaan aspek kesehatan, pengalaman mendapat pelayanan dan promosi kesehatan medis modern, dan bagaimana mereka menegosiasikansistem medis tradisional yang turun-temurun dipraktikkan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Lokus penelitian berada di Hutan Harapan Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan dan wawancara mendalam kepada tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, staf pendamping dari P.T. REKI, dan Suku Anak Dalam Batin Sembilan. Temuan penelitian yaitu, perubahan ekosistem hutan dan dinamika sosial budaya yang terjadi saat ini membawa perubahan pola hidup, penghidupan, dan aspek kesehatan Suku Anak Dalam Batin Sembilan. Intervensi medis modern yang dilakukan oleh Klinik Besamo P.T. REKI mendapat penerimaan dari Suku Anak Dalam Batin Sembilan karena khasiat langsung yang dirasakan dari penanganan menggunakan obat kimia. Layanan dan promosi kesehatan modern kemudian menegosiasikan praktik pengobatan tradisional. Suku Anak Dalam Batin Sembilan memetakan ulang pengetahuan tentang penyakit dan cara penanganannya menggunakan medis modern.
GEREM ASEM: KULINER CITA RASA PESISIR BANTEN Agus Heryana; Ria Andayani Somantri
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v8i1.247

Abstract

Gerem asem adalah makanan tradisional cepat saji masyarakat pesisir atau pantai utara Banten yang memiliki cita rasa khas. Ada beberapa hal yang melatar belakangi penelitian  yang berjudul Gerem Asem: Kuliner Cita Rasa Pesisir Banten: (1) Latar belakang sejarah Banten yang sarat dengan pergulatan perdagangan rempah  dunia internasional pada abad ke-16 dan ke-17, terutama lada; (2)  Gerem asem merupakan makanan tradisional khas Banten yang memiliki cita rasa tersendiri. Kekhasan tersebut menimbulkan keingintahuan akan aspek pembuatannya; (3) Gerem asem sebagai produk budaya kuliner masyarakat Banten akan mencerminkan aspek-aspek budaya di dalamnya. (4) Pada praktiknya gerem asem -sebagaimana pula budaya lainnya- akan berhadapan dengan perubahan lingkungan dan paradigma pemiliknya. Akankah perubahan tersebut terlihat pada gerem asem? Adapun tujuan dari penelitian tersebut: (1) Mengetahui gerem asem dalam tinjauan kuliner; (2) Mengetahui posisi gerem asem dalam konteks Jalur Rempah; dan  (3) Mengetahui  aspek budaya yang terdapat dalam   gerem asem. Metode penelitian yang digunakan untuk menjawab masalah tersebut bersifat kualitatif dengan pendekatan deskripsi analisis. Adapun teknik pengumpulan data yang dipakai adalah studi pustaka, wawancara, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan, gerem asem merupakan salah satu jejak Jalur Rempah yang masih tersisa hingga saat. Penandanya adalah penggunaan rempah-rempah pada proses pembuatan gerem asem. Gerem asem juga menjadi salah satu identitas kuliner masyarakat pesisir Banten karena sudah menjadi bagian dari totalitas budaya mereka.
BUDAYA BELAJAR DAN PERILAKU SOSIAL ORANG TUA DAN PESERTA DIDIK PADA MASA PANDEMI COVID-19 Masgaba Umar; Rismawidiawati Rusli
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v8i1.221

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan budaya belajar dan prilaku sosial orang tua dan peserta didik ketika belajar dari rumah pada masa pandemi Covid-19 dengan mengambil kasus pembelajaran di SMP 1 Sungguminasa dan SMP 1 Manuju di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Pengumpulan data dilakukan dengan focus group discussion (FGD), wawancara, pengamatan, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya belajar dan prilaku sosial orang tua dan peserta didik selama pandemi covid-19 mengalami perubahan. Semenjak covid-19, peserta didik di SMPN 1 Sungguminasamelakukan proses belajar dari rumah (BDR) secara daring tidak lagi dilakukan secara tatap muka. Namun, bagi SMPN 1 Manuju yang terbatas fasilitas dan jaringan internet terpaksa menerima tugas secara langsung di sekolah setelah beberapa bulan, sekolah mencoba melakukan BDR secara daring namun tidak mencapai hasil yang baik. Pada proses BDR ini, orang tua memiliki peran yang cukup penting, yaitu orang tua berperan sebagai partner dengan anaknya dalam pembelajaran secara daring di rumah; mendampingi anak-anaknya dalam melaksanakan belajar secara daring; dan menyiapkan segala fasilitas anaknya yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran. Namun demikian, terdapat juga orang tua yang mengeluh karena menurutnya menambah pekerjaan rumah, harus memfasilitasi anaknya berupa handphone (HP), kuota internet, ditambah anak-anak mereka menjadi tidak disiplin. Sedangkan respons dari peserta didik pada umumnya lebih menyukai belajar dari sekolah daripada belajar dari rumah. Alasan mereka, lebih mudah memahami materi pelajaran jika bertatap muka (sidallekang) dengan guru, dan dapat berinteraksi secara langsung dengan teman-temannya di sekolah. 
PESONA, KONFLIK, DAN KERENTANAN SAUJANA BUDAYA MASYARAKAT DI KAWASAN CAGAR BUDAYA SANGIRAN wahyu wahyu widiyanta
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v8i1.233

Abstract

Saujana budaya Sangiran merupakan lanskap alam yang di dalamnya tersimpan tinggalan budaya masa lampau. Saujana budaya tersebut tidak lepas dari keberadaan masyarakat masa kini dengan segala aktivtas dan persepsi terhadap tinggalan cagar budaya yang ada. Kondisi ini menyebabkan kerentanan dan konflik kepentingan, apabila tidak dikelola secara arif dan bijaksana oleh semua pihak. Penelitian ini bertujuan mengurai seberapa besar nilai penting tinggalan arkeologis dan sejauh mana masyarakat memandang tinggalan arkeologis tersebut sebagai saujana budaya milik mereka. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh dari hasil pengamatan, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan cagar budaya Sangiran memiliki pesona lokalitas sumber penghidupan yang sangat strategis dari masa lampau hingga masa sekarang. Pelibatan masyarakat rentan sebagai subjek utama dalam pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Sangiran akan memiliki kemampuan untuk meningkatkan kesejahteraan, sehingga kerentanan maupun konflik kepentingan dapat dihindari dan kawasan situs tetap lestari.
RESOLUSI KONFLIK SOSIO-EKOLOGI PADA TRADISI BALON UDARA Priyaji Agung Pambudi; Savina Nurma Fardiani
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v8i1.223

Abstract

The hot air ballooning tradition as a local wisdom continues to raise pros-cons. It flights have a negative impact on humans and environment. Research is needed to conflict resolution, this research with a qualitative approach through physical, social observation, literature review, and in-depth interviews. This tradition in Ponorogo Regency has shifted because it was found a practice outside the Idul Fitri. It is exacerbated by the number of cases in economic losses, damage to settlements, public infrastructure, electricity services disruption, internet, forest fires, and fatalities. The results found that the negative impact of the tradition is more (18 points) than the positive impact (5 points) and has the potential to serious environmental damage. It is proposed that 7 points of conflict resolution need support from academia, business, government, community, and media (ABGCM) for the transformation into a better pattern for the preservation, safety, and the socio-system and the ecosystem harmonious.
HILANGNYA HAK EKSKLUSIF TANAMAN REMPAH ASLI INDONESIA Sunardi Purwanda
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v8i1.235

Abstract

Akibat praktik monopoli dagang oleh VOC di masa lalu, terjadilah tindakan penyelundupan tanaman rempah asli Indonesia. Tanaman rempah selundupan berhasil dikembangbiakkan dan membuat komoditas rempah bukan lagi menjadi barang yang mewah. Rempah semakin dekat dengan konsumen rempah dunia Eropa. Artikel ini menggambarkan tentang kebijakan monopoli dagang VOC di masa lampau yang membuat rempah-rempah asli Indonesia keluar dari lingkungan alamnya dan berdampak pada Indonesia secara materiel dan imateriel. Penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah, selain menggunakan pendekatan socio-legal. Hapusnya hak ekslusivitas terhadap tanaman rempah asli Indonesia telah membawa kerugian secara ekonomi bagi Pemerintah Indonesia. Tidak adanya perlindungan hukum terhadap tanaman rempah asli Indonesia pada masa penguasaan VOC di Nusantara ternyata berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap Pemerintah Indonesia dan masyarakat Kepulauan Maluku pada saat ini. Bentuk kerugian imateriel juga telah “mencabut” ingatan kolektif atas kekayaan rempah di Kepulauan Maluku, selain terhapusnya ingatan “pengetahuan tradisional” akibat proteksi tanaman rempah oleh Belanda di masa lalu.
PRASASTI-PRASASTI KERAJAAN SUNDA DI WILAYAH PINGGIRAN: TINJAUAN TEORI PANOPTICON Muhamad Alnoza
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v8i1.225

Abstract

Kerajaan Sunda merupakan negara yang bercorak kebudayaan Hindu-Buddha yang berdiri di Jawa bagian Barat dan berkuasa selama abad ke-8 hingga abad ke-16 M. Kerajaan tersebut oleh para peneliti sebelumnya diperkirakan membentang dari Banten hingga daerah Banyumas modern pada masa kejayaannya (abad ke-16 M). Sebagai suatu negara yang besar, kerajaan ini berpusat di Kota Pakwan Pajajaran atau Bogor sekarang. Secara arkeologis, temuan-temuan yang berhubungan dengan Kerajaan Sunda utamanya berupa prasasti,  rupanya jugaditemukan di daerah Sukabumi dan Cirebon. Oleh karena itu muncul asumsi, bahwa di masa lalu Kerajaan Sunda telah membangun hubungan asosiatif antara Pakwan Pajajaran sebagai pusat kerajaan dengan daerah pinggiran di sekitarnya. Kajian ini dengan demikian mempermasalahkan bagaimana keterkaitan antara keterangan pada Prasasti Sang Hyang Tapak dan Huludayeuh sebagai media panopticon dengan lokus penemuannya sebagai suatu daerah pinggiran Kerajaan Sunda. Tujuan dari diajukannya permasalahan penelitian ini adalah untuk merekonstruksi daerah pusat dan pinggiran di Kerajaan Sunda pada masa pemerintahan raja yang mengeluarkan Prasasti Sang Hyang Tapak dan Huludayeuh. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dapat dijumpai informasi baru mengenai keberadaan daerah produksi dan perbatasan kerajaan Sunda melalui indikasi wacana kekuasaan pada Prasasti Sang Hyang Tapak dan Huludayeuh.
KONEKTIVITAS BANDAR-BANDAR DI JALUR REMPAH DALAM NOVEL ARUS BALIK Muhammad Fadli Muslimin
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v8i1.237

Abstract

Bandar menjadi tempat vital sebagai pintu gerbang masuknya para pedagang dari bangsa lain dan juga lokal untuk melakukan aktivitas perdagangan sekaligus transfer pengetahuan. Di dalam karya sastra sejarah Arus Balik, Pramoedya Ananta Toer menggambarkan secara apik bagaimana peran bandar-bandar yang tidak saja sekaligus sebagai tempat aktivitas perdagangan tetapi juga menjadi tempat terjadinya peristiwa-peristiwa penting yang tercatat oleh sejarah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan peran bandar-bandar sebagai bagian dari konektivitas jalur rempah dan dinamika sosial yang terjadinya pada periode 1510-1530. Permasalahan yang diangkat pada penelitian ini antara lain, bagaimana penggambaran jalur serta praktik perdagangan rempah, peran dan penggambaran bandar, dan dinamika sosial yang berkembang.  Metode penelitian yang digunakan adalah thick description yang berfokus pada interpretasi peristiwa di dalam karya dengan mempertimbangkan unsur kontekstualnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat sembilan bandar yang menjadi sentra pelayaran, perdagangan dan pendistribusian rempah, yaitu bandar Malaka, Kota Tuban, Banten, Jepara, Gresik, Lao Sam, Sunda Kelapa, dan Maluku yang menjadi sorotan utama. Bandar tersebit menunjukkan peran dan fungsinya yang berbeda-beda serta beragam peristiwa sejarah, utamanya aliansi armada kerajaan Nusantara. Kesimpulannya adalah bandar sebagai jantung dari konektivitas jalur rempah memainkan fungsi dan peran sosialnya sebagai sarana menguatkan, menstabilkan, sekaligus mempertahankan kepentingan kolektif dan internal masing-masing kerajaan. 

Page 11 of 14 | Total Record : 139