cover
Contact Name
Asri Hidayat
Contact Email
asri.hidayat@kemdikbud.go.id
Phone
+628114118474
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Sultan Alauddin km.7, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia, 90221
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora
ISSN : 25024345     EISSN : 26864355     DOI : https://doi.org/10.36869
Core Subject : Social,
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora is an open access, a peer-reviewed journal published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan.
Articles 139 Documents
MOWINDAHAKO: TRADISI PERKAWINAN ADAT MASYARAKAT TOLAKI DI UNAAHA, KABUPATEN KONAWE, SULAWESI TENGGARA Hafid, Raodah
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v9i2.422

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan tradisi mowindahako pada perkawinan adat masyarakat Tolaki di Unaaha Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara. Tradisi mowindahako merupakan rangkaian  dalam perkawinan adat Tolaki  yaitu penyerahan pokok adat atau mahar perkawinan dan penyerahan seserahan adat lainnya kepada mempelai wanita  yang dilakukan sebelum pelaksanaan akad nikah, yaitu  pada saat digelar mombesara adat dan dihadiri oleh kedua belah pihak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan studi pustaka, selanjutnya dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa tradisi mowindahako sampai saat ini masih tetap dilakukan dalam tahapan perkawinan adat Tolaki. mowindahako merupakan tradisi sakral dan wajib dilakukan ketika melakukan perkawinan adat. mowindahako adalah tahap puncak dari penyelesaian adat yang dilakukan oleh juru bicara kedua mempelai yaitu tolea dari pihak laki-laki dan pabbitara  dari pihak mempelai wanita. Juru bicara adat mengumumkan secara resmi  semua kesepakatan yang dilakukan  pada saat peminangan.
Sejarah Evolusi Identitas Budaya Suku Anak Dalam Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas Pasca Orde Baru nofra, doni
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v9i2.385

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan evolusi budaya Suku Anak Dalam (SAD) yang bermukim di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Kawasan TNBD merupakan kawasan yang menjadi pemukiman terpadat Suku Anak Dalam di Provinsi Jambi yang dikenal dengan kehidupan nomaden. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode penelitian sejarah yang memiliki empat tahapan kerja yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka dan observasi. Observasi bersamaan dengan kegiatan dokumentasi lapangan dan wawancara mendalam. Analisis data penelitian menggunakan teori evolusi budaya. Hasil penelitian menujukkan bahwa modernisasi seiring perkembangan zaman dan perubahan fungsi hutan telah mempengaruhi pola kehidupan dan identitas budaya mereka. Perubahan kehidupan dan identitas budaya SAD dimulai pada masa pembangunan Orde Baru, datangnya kelompok transmigran, munculnya perusahaan perkebunan swasta, hingga penetapan TNBD. Pergeseran pola hidup masyarakat SAD ditandai dengan sudah mulai menetap sebagian besar mereka, dan turunnya kesadaran generasi muda SAD akan kearifan lokal adat istiadat yang mereka miliki. Interaksi dengan masyarakat luar merubah hidup mereka secara perlahan menjadi modern, baik dalam tempat tinggal, pendidikan, ekonomi hingga persoalan kepercayaan. Hingga penelitian ini dilakukan, SAD kawasan TNBD sudah terbagi menjadi kelompok nomaden, semi-nomaden hingga menetap.
PANTUN DI PASAR TERAPUNG LOK BAINTAN: MELESTARIKAN TRADISI LISAN ACIL-ACIL BANJARMASIN PENGGERAK EKONOMI DESA Wahyu, A. Rio Makkulau
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v9i2.402

Abstract

Pantun di Pasar Terapung Lok Baintan adalah tradisi lisan yang digunakan oleh acil-acil (pedagang perempuan) di Banjarmasin sebagai alat komunikasi dalam aktivitas jual beli. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap peran pantun sebagai tradisi lisan yang masih hidup dan berkembang di kalangan acil-acil sebagai identitas pelestari budaya lokal, serta kontribusinya dalam menggerakkan perekonomian desa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan pendekatan kualitatif untuk memahami makna, fungsi, dan keberlanjutan tradisi pantun dalam konteks sosial-ekonomi masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pantun tidak hanya berperan sebagai alat komunikasi dalam jual-beli di pasar, tetapi juga sebagai medium pelestarian budaya dan pembangun hubungan sosial antar pedagang dan pembeli. Tradisi ini memberikan nilai tambah bagi identitas lokal serta menjadi daya tarik ekonomi yang mendukung keberlangsungan pasar terapung sebagai pusat ekonomi desa dan menarik wisatawan sebagai salah satu objek wisata budaya. Tradisi lisan ini memberikan pengalaman unik bagi pengunjung yang ingin menyaksikan langsung interaksi jual-beli di atas perahu dengan sentuhan budaya lokal. Kehadiran wisatawan turut menggerakkan perekonomian desa, menjadikan pantun sebagai daya tarik wisata yang melestarikan identitas budaya sekaligus memperkuat posisi Pasar Terapung Lok Baintan sebagai destinasi wisata ikonik di Kalimantan Selatan.
INTEGRATION OF ISLAM WITH LOCAL CULTURE: A STUDY OF MAUDHU LOMPOA TRADITION IN GOWA REGENCY Nuraeni, Nuraeni; syukur, syamzan; Rahmat, Rahmat; Idris, Muh.; Kadril, Kadril
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v9i2.388

Abstract

This research is about the integration of Islamic culture with local culture in Maudhu Lompoa tradition in Gowa Regency. The aim of this research is to reconstruct the history of the integration of Islam with local culture. it described and analyzed the integration of Islam in the traditional processions, the integration of Islam into the values contained in tradition and the impact of the integration of Islam on people's lives. The results of this research will fill the gaps in previous academic studies and will be useful for the government in formulating policies regarding the management and preservation of traditions as well as empowerment and improving community welfare through the implementation of traditions. This research uses qualitative method. The data analyzed is field data using a historical and anthropological approach to religion. Data were obtained through observation, in-depth interviews, photovoice, documentation and library data. The results of this research show that Maudhu Lompoa tradition began to be implemented after Islam became the official religion of the Kingdom of Gowa in 1605. Maudhu lompoa (big birthday), namely the birthday of the Prophet Muhammad, was carried out as a method of spreading Islam where local elements became an important part of the tradition, such as traditional properties consisting of basic ingredients which are believed to have symbolic meaning as a hope for achieving prosperity. In its development, this tradition is carried out every year as proof of love for the Prophet Muhammad SAW and gratitude to Allah SWT. Maudhu Lompoa tradition has a series of activities where the integration of Islam is in the preparation and implementation stages. This tradition is not just a commemoration of birthdays but also a form of gratitude to Allah SWT and a symbol of society's hope to achieve prosperity. The Islamic cultural values and local culture that are integrated in this tradition include the spiritual dimension, social and community dimensions as well as the arts and entertainment dimension. The integration of Islam in this tradition has an impact on people's lives, including; increasing community religiosity and community welfare through economic empowerment.
Kearifan Lokal dalam Tradisi Mappettu Ada: Integrasi Nilai Agama dan Budaya di Masyarakat Bugis Bone Hamsiati, Hamsiati; Hasmawati, Hasmawati
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v9i2.405

Abstract

Artikel ini mengkaji kearifan lokal dalam tradisi Mappettu Ada: integrasi nilai agama dan budaya di masyarakat Bugis Bone. Mappettu Ada adalah prosesi pernikahan yang penuh nilai-nilai keagamaan dan budaya, diekspresikan melalui bahasa Bugis kuno oleh pabbicara (juru bicara) dari pihak laki-laki dan perempuan. Tradisi ini mencerminkan kearifan lokal yang kaya serta berperan penting dalam penguatan moderasi beragama dan pelestarian budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mappettu Ada berfungsi sebagai sarana penyampaian pesan moral dan spiritual, serta sebagai medium pendidikan budaya bagi generasi muda. Keterlibatan aktif masyarakat dalam tradisi ini menunjukkan tingkat literasi budaya yang tinggi, dengan nilai-nilai kebersamaan, kesopanan, dan tanggung jawab sosial yang dikedepankan. Literasi agama dalam tradisi ini terlihat dari integrasi ajaran agama dalam setiap tahapan prosesi. Artikel ini menyimpulkan bahwa Mappettu Ada adalah contoh bagaimana literasi agama dan budaya dapat berjalan beriringan, memperkuat identitas komunitas, dan mendukung terciptanya harmoni sosial di tengah keberagaman. Penelitian ini menekankan pentingnya pelestarian tradisi lokal untuk menjaga dan mengembangkan literasi agama dan budaya yang relevan dengan kehidupan modern.
TEKNOLOGI TRADISIONAL PEMBUATAN TOPĒ LE’LENG PADA KOMUNITAS ADAT KAJANG DI KABUPATEN BULUKUMBA Ansaar, Ansaar
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v9i2.389

Abstract

Materi tulisan ini adalah merupakan hasil penelitian lapangan yang dilaksanakan di Desa Tana Toa Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. Penelitian ini bertujuan selain untuk mendeskripsikan teknik pembuatan tope le’leng (sarung hitam Kajang) pada komunitas adat Kajang, juga untuk mengetahui bentuk pola pewarisan yang diterapkan para orang tua kepada anaknya terkait keterampilan dalam hal menenun. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriktif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, pengamatan dan kajian pustaka. Hasil penelitian ini  menunjukan, bahwa teknik pembuatan sarung hitam Kajang oleh komunitas adat Kajang, melalui beberapa tahapan, yaitu: 1) pencelupan benang ke dalam pewarna alami, 2) penghanian atau penyusunan benang lunsing (ma’ngane), 3) pembuatan benang pakan (a’paturung), 4) proses pertenunan (attannung), dan 5) menggosok permukaan kain sarung (maggarusu’) setelah selesai ditenun. Bentuk pola pewarisannya, berlangsung secara transmisi dari generasi ke generasi atau dari orang tua ke anak-anaknya dan seterusnya, atau melalui jalur keluarga. Tidak ada pendidikan khusus yang mereka lalui, semua berawal dari pembelajaran yang diberikan para orang tua kepada anaknya. Hal pertama yang diajarkan, adalah memperkenalkan bagian-bagian atau komponen pada peralatan tenun berikut fungsinya. Setelah itu barulah diajarkan cara mengoperasionalkan alat tenun secara tahap demi tahap.
STRATEGI BANGUNAN PERTAHANAN DI WILAYAH SUMEDANG: KAJIAN SISTEM PERTAHANAN Septiadi, Nur
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v9i2.407

Abstract

Penelitian ini berfokus pada strategi pertahanan yang diterapkan pada benteng-benteng di wilayah Sumedang, khususnya dalam konteks pemerintahan kolonial Belanda di awal abad ke-20. Latar belakang penelitian ini berakar pada pentingnya Sumedang secara strategis, yang terletak di jalur utama dari timur ke Bandung—kota yang dianggap sebagai ibu kota potensial Hindia Belanda saat itu. Untuk melindungi wilayah ini, pemerintah kolonial membangun serangkaian benteng yang saling terhubung, membentuk sistem pertahanan yang kokoh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap bagaimana struktur-struktur ini, seperti Benteng Palasari, Benteng Gunung Koentji, dan Benteng Baterai, dirancang dan dioperasikan untuk memantau wilayah tersebut, melindungi rute pasokan, dan memberikan dukungan artileri jarak jauh. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui tinjauan pustaka, arsip sejarah, dan pengamatan langsung di lapangan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sistem pertahanan ini berhasil mengintegrasikan keunggulan geografis Sumedang dengan teknologi pertahanan modern, menciptakan jaringan benteng yang mampu melawan berbagai ancaman. Kesimpulan penelitian ini menekankan bahwa sistem perbentengan di Sumedang tidak hanya penting dalam konteks lokal tetapi juga sebagai bagian dari upaya Belanda untuk mempertahankan dominasinya di Jawa Barat.Kata Kunci: sistem pertahanan, Sumedang, kolonial Belanda, strategi militer
LANSKAP ARKEOLOGI SITUS LAPANGAN UDARA KENDARI II: PERSPEKTIF PROSESUAL Sope, Amaluddin
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v9i1.330

Abstract

Situs Lapangan Udara Kendari II dibangun Belanda untuk mempermudah distribusi pasukan dari Batavia ke daerah-daerah kekuasaan. Penelitian ini berangkat dari konsiderans teoretis yang menempatkan situs Lapangan Udara Kendari II. Lanskap berfokus pada penekanan unsur-unsur fisik disekitar situs, baik itu alami maupun budaya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pemahaman mengenai lanskap situs Lapangan Udara Kendari II. Perolehan data penelitian dilakukan dengan mengumpulkan sumber pustaka yang berkaitan dengan kajian lanskap dalam arkeologi, menggunakan paradigma arkeologi prosesual, dan selanjutnya dianalisis secara deskriptif melalui penalaran induktif. Hasil temuan menunjukkan, pertama, lanskap Lanud Kendari II cukup representatif, ditandai dengan (1) medan yang luas dan datar; (2) deretan perbukitan panjang yang berpotensi menjadi benteng alam; (3) persediaan air yang melimpah; dan (4) lokasi yang stabil secara meteorologi. Lapangan Udara Kendari II muncul sebagai lokasi yang sangat strategis untuk menjaga berbagai infrastruktur Pemerintah Hindia Belanda. Kedua, hubungan antara Lapangan Kendari II dan bangunan di sekitarnya, seperti bunker, gudang amunisi, revetment, dan jembatan, menegaskan pentingnya lokasi ini sebagai lokasi pertahanan yang penting.
POTENSI HUNIAN PRASEJARAH DI PULAU BUTON: GAMBAR CADAS GUA LAUMEHE DAN PERSPEKTIF PENGELOLAAN Ukba, Saswal
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v9i2.394

Abstract

Temuan terbaru gambar cadas pada Gua Laumehe Buton Tengah menambah pemahaman baru bahwa potensi hunian manusia prasejarah tidak saja sampai pada Kawasan Situs Prasejarah Gua Liang Kobori Pulau Muna. Temuan arkeologis Gua Laumehe kemungkinan memiliki hubungan dengan situs-situs prasejarah lainnya yang ditemukan di Pulau Sulawesi, yaitu Maros Pangkep, Matarombeo, dan Pulau Muna. Observasi langsung dan mengandalkan data sekunder melalui kepustakaan yang relevan menjadi metode yang digunakan dalam penelitian ini melalui cara kualitatif serta menggunakan studi komparasi dengan mencocokkan gambar cap tangan pada Gua Laumehe dengan gua prasejarah yang terdapat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara untuk menemukan hubungan kontak budaya yang terjadi, serta menggunakan perspektif manajemen sumber daya arkeologi untuk menjelaskan perspektif pengelolaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi temuan gambar cadas cap tangan di Sulawesi Tenggara dan menjelaskan perspektif pengelolaan pada Gua Laumehe saat ini. berdasarkan penelitian diketahui bahwa gambar cap tangan Gua Laumehe memiliki tiga gambar negatif cap tangan kiri (hand stancil) yang di duga melambangkan hasil aktivitas yang kurang beruntung. Gua Laumehe memiliki potensi untuk ditetapkan sebagai situs cagar budaya karena didukung dengan nilai-nilai budaya, ornamen stalaktit, stalagmit, dan gambar cap tangan yang dimilikinya. Temuan arkeologis tersebut dapat menjadi tanda-tanda untuk menemukan bukti gua prasejarah lainnya apabila eksplorasi dilakukan pada kawasan sepanjang pantai Buton Tengah.
SARIKAT COMBINATIE MINANGKABAU (S.C.M.) DALAM PERGERAKAN NASIONAL (1919-1922) Saputra, Yandi; Pratama, Fikri Surya
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v9i2.410

Abstract

Terbaginya kelompok pergerakan politik pada masyarakat Minangkabau era kolonial secara garis besar dapat dirangkum dengan lahirnya organisasi-organsiasi dengan berbagai ideologi. Menyadari adanya fenomena tersebut,  maka dibentuklah Sarikat Combinatie Minangkabau sebagai jembatan penghubung keragaman ini . Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana eksistensi Sarikat Combinatie Minangkabau. Pengumpulan sumber data penelitian dikumpulkan melalui studi kepustakaan. Sumber utama penelitian ini penulis peroleh dari surat kabar masa penjajahan melalui situs Delpher. Analisis topik ini dimulai dengan pendekatan seajrah politik. Tahap akhir penelitian ini adalah historiografi yang disajikan dalam bentuk tulisan ilmiah sejarah. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa tujuan perkumpulan ini adalah: memperkuat ikatan timbal balik antara berbagai perkumpulan pribumi murni dan juga antara pribumi, sehingga segala sesuatu yang dapat mengganggu ketentraman negara dan rakyat Minangkabau dapat ditangani dengan baik; membantu pemerintah dalam melaksanakan tugasnya dengan memberikan informasi tentang negara dan rakyat tersebut di atas; bekerja dengan berani dan bersatu demi kemajuan dan kemakmuran Minangkabau dan rakyat Minangkabau. Beberapa isu yang diperjuangkan oleh organisasi ini adalah memperjuangkan tanah ulayat Minangkabau yang kerap disalahgunakan oleh pemerintah; persoalan pemilihan umum dan hak pilih masyarakat Minangkabau; serta persoalan otonomi bagi Minangkabau, dimaksudkan tidak menginginkan “terpisah dari Belanda”, hanya persamaan kulit putih dan coklat serta penghapusan segala perbedaan.