cover
Contact Name
Asri Hidayat
Contact Email
asri.hidayat@kemdikbud.go.id
Phone
+628114118474
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Sultan Alauddin km.7, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia, 90221
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora
ISSN : 25024345     EISSN : 26864355     DOI : https://doi.org/10.36869
Core Subject : Social,
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora is an open access, a peer-reviewed journal published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan.
Articles 139 Documents
DARI PAKU SAMPAI SUREMANA: SEJARAH BATAS SELATAN DAN UTARA MANDAR Abd. Rahman Hamid
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (773.242 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i1.66

Abstract

Artikel ini menjelaskan tentang sejarah batas wilayah Mandar sejak masa kerajaan dan kolonial, menggunakan metode penelitian sejarah. Bahan utama yang digunakan ialah sumber lokal (lontar Mandar) dan sumber kolonial khususnya lembaran negara. Hasil penelitian menemukan bahwa fondasi politik Mandar bermula dari konfederasi empat belas kerajaan-kerajaan di pesisir dan pedalaman akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, yang digunakan oleh pemerintah Hindia Belanda dalam penataan wilayah Mandar. Apabila pembentukan batas selatan Mandar terkait dengan kekuatan politik lain terutama Gowa dan Bone, maka batas utaranya dilakukan sendiri dengan menaklukkan Kaili. Batas selatan sampai Sungai Paku (dengan daerah Bugis) dan batas utara hingga Sungai Suremana (dengan daerah Kaili). Batas-batas itu juga digunakan oleh Provinsi Sulawesi Barat (terbentuk tahun 2004), sehingga dapat disimpulkan bahwa provinsi itu adalah nama baru dari Mandar.
STRATEGI BERTAHAN HIDUP NELAYAN KARAMPUANG DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN HIDUP abdul asis
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2133.261 KB) | DOI: 10.36869/.v5i1.21

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  dan memahami strategi bertahan hidup nelayan Karampuang dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan di Pulau Karampuang masih menggunakan alat tangkap sederhana dan penghasilannya masih tergolong rendah. Pada musim paceklik, nelayan merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari, sehingga mereka beralih ke pekerjaan lain dengan mengolah kebun dengan menanam tanaman hortikultura seperti jagung, ubi kayu, dan sayur-sayuran. Peluang untuk melakukan pekerjaan sampingan terbuka luas bagi masyarakat nelayan di sana karena akses ke kota Kabupaten Mamuju tergolong cukup dekat. Pekerjaan lain yang dapat dilakukan di luar bidang kenelayanan adalah menjadi pedagang, buruh bangunan, kuli angkut pelabuhan, kuli angkut pasar, dan jasa ojek. Sedangkan istri-istri nelayan banyak yang bekerja menjadi penjaga toko, buruh cuci di kota, dan membuka kedai-kedai di rumah dengan menjual barang kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan melakukan pekerjaan sampingan, maka kebutuhan hidup keluarganya  dapat terpenuhi. Kata Kunci: pekerjaan sampingan, nelayan Karampuang, kebutuhan hidup.
KERAJAAN BALANIPA PADA MASA KEKUASAAN I MANDAWARI 1870-1906 Abdul Karim
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.117 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i2.54

Abstract

Kerajaan Balanipa dikuasai secara utuh oleh Belanda pada tahun 1909. Periode tersebut merupakan awal terbentuknya Afdeling Mandar. Terbentuknya Afdeling Mandar tentu mengalami proses yang cukup panjang. Artikel ini, mengkaji tentang tonggak awal dari penguasaan Mandar. Proses tersebut tidak hanya melibatkan Belanda sebagai penjajah tetapi juga elit-elit Kerajaan Balanipa. Elit-elit tersebut secara tidak langsung mendorong terjadinya penguasaan tersebut karena Elit-elit inilah menyetujui perjanjian atau kontrakkontrak politik Kerajaan Balanipa dan Belanda. Kontrak tersebut kemudian mendorong terciptanya kebijakan politik di Mandar. Pertanyaan adalah, kebijakan apa yang ditempuh oleh I Mandawari dalam periode kepimpinannya ? Bagaimana kebijakan-kebijakan itu dijalankan ? dan apa dampak dari kebijakan tersebut ? untuk menjawab pertanyaan tersebut maka artikel ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi.
Refleksi Ke-indonesiaan: Kajian Sistem Pemerintahan Kerajaan Balanipa Abad XVI-XVII Abd Karim
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2598.885 KB) | DOI: 10.36869/.v5i1.7

Abstract

Kerajaan Balanipa (Mandar) telah “berdemokrasi” sebelum Indonesia lahir. Apabila salah satu cerminan Indonesia adalah sistem pemerintahan demokratis, maka identitas politik yang kita sandang sebagai Negara Demokratis telah ada sebelum negara ini lahir. Bahwa jiwa keindonesiaan telah ada sebelum kehadiran Bangsa Eropa di Nusantara. Bahkan telah dipraktekkan di Kerajaan Balanipa (Mandar) pada abad XVI-XVII sebagai sistem perintahan lokal (mara’dia). Sistem tersebut memiliki perangkat konstitusi Kerajaan dimana kedudukan Raja tidak mutlak berkuasa. Lembaga hadat memiliki kuasa untuk memberhentikan raja sebagai pemimpin, seperti Presiden yang bisa diturunkan dari jabatannya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) negara ini. Pemimpin dipilih atas kehendak rakyat. Sebuah refleksi sistem pemerintahan, bahwa jiwa zaman yang sekarang merupakan warisan dari masa lalu bangsa ini sendiri bukan warisan bangsa barat sebagai bangsa penjajah. Selanjutnya Artikel ini akan menjawab pertanyaan besar yakni, bagaimana praktek-praktek demokrasi diterapkan di Mandar? Bagaimana demokrasi itu di terjemahkan oleh elit dan masyarakat Mandar? dan bagaimana sistem pemerintahan itu dijalankan di Mandar pada abad XVI-XVII? artikel ini menggunakan metode penelitian sejarah. Dengan menggunakan sumber lokal (Lontara’’) dan akan dilengkapi dengan sumber-sumber dari zaman kolonial.
DINAMIKA PELAYARAN DAN PERUBAHAN PERAHU LAMBO DALAM KEBUDAYAAN MARITIM ORANG BUTON Tasrifin Tahara; Rismawidiawati Rusli
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1280.107 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i2.46

Abstract

Nilai budaya maritim menjadi ciri kebudayaan orang Buton. Oleh karena itu, perahu menjadi penopang utama kelangsungan tradisi maritim orang Buton dari waktu ke waktu dan dari satu tempat (ruang) ke tempat yang lain. Mereka berlayar melintasi ruang samudera (laut) dan dari satu pulau ke pulau lain. Perahu lambo merupakan kebudayaan yang tidak lepas dari eksistensi tradisi maritim orang Buton. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data kepustakaan, pengamatan dan wawancara di wilayah Kepulauan Buton. Hasil penelitian menarasikan dinamika pelayaran dan perubahan bentuk dan fungsi perahu lambo seiring dengan masuknya motorisasi dan perubahan struktur sosial masyarakat. Perahu lambo sebagai komponen utama kebudayaan maritim orang Buton. 
NILAI PENDIDIKAN MORAL DALAM TEKS MÉONG MPALO BOLONGÉ Asdar Asdar
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.869 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i1.82

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap nilai pendidikan moral yang terdapat dalam teks Méong Mpalo Bolongé. Data dalam penelitian ini adalah data tertulis berupa kutipan-kutipan yang menggambarkan nilai pendidikan moral yaitu kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam teks Méong Mpalo Bolongé. Sumber data dalam penelitian ini adalah keseluruhan isi teks Méong Mpalo Bolongé halaman 120-197 transliterasi dan terjemahan Nurhayati Rahman tahun 2009 yang diterbitkan oleh La Galigo Press, Makassar. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah teknik baca dan teknik catat. Berdasakan hasil penelitian dan analisis data menunjukkan bahwa nilai pendidikan moral yang terdapat dalam teks Méong Mpalo Bolongé yaitu aspek kebaikan adalah kesabaran (masabbaraq), keteguhan (agettengeng), musyawarah (assipetangngareng), kejujuran (alempureng), kesopansantunan (mappakalebbiq), saling memanusiakan (sipakatau), kedermawanan (makacoa), dan menasihati (mappangajaq). Sedangkan aspek keburukan yang terdapat dalam teks Méong Mpalo Bolongé adalah kekikiran (masekkeq), kedendaman (nanniangi), kemubaziran (mapparinnaja), kesewenang-wenangan (makkabbo-aqbo), dan kemalasan (makuttu).
TRADISI MERTI DESO DI MARGOLEMBO tini suryaningsi
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3142.802 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v5i2.36

Abstract

Artikel ini menjelaskan tentang tradisi yang dilaksanakan untuk mengungkapkan rasa syukur atas selesainya panen padi, dan memohon doa untuk persiapan memulai menanam padi berikutnya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data berupa pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Tradisi merti deso merupakan tradisi tahunan yang dilakukan oleh masyarakat transmigran Jawa sebagai wujud pelestarian budaya mereka. Walaupun saat ini mereka menetap di Pulau Sulawesi, khususnya di Desa Margolembo, Kecamatan Mangkutana, Kabupaten Luwu Timur, namun mereka tetap mempertahankan tradisi nenek moyang mereka di daerah yang mereka tinggali saat ini dengan beragam etnik lainnya. Saat ini, tradisi merti deso dilaksanakan lebih sederhana, namun, akar tradisi tersebut masih dipertahankan. Merti deso dilaksanakan karena berkaitan dengan kepercayaan terhadap segala usaha dan kerja keras dalam bidang pertanian yang membawa berkah dan rezeki dalam kehidupan mereka. Merti desa merupakan bentuk ucapan syukur masyarakat karena telah selesainya usaha pertanian dari awal hingga akhir yaitu panen.
WOLIO, BUTON, ATAU BAUBAU SEBAGAI WACANA NAMA KOTA BAUBAU (IDENTITAS DAN TRANSFORMASI NILAI BUDAYA KESULTANAN BUTON) Tasrifin Tahara; Syamsul Bahri
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.125 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i1.73

Abstract

Artikel ini membahas tentang legitimasi identitas penamaan Kota Baubau. Penyematan nama Kota Baubau saat ini muncul dari wacana ketika menjadi sebagai sebuah daerah otonom baru. Ada tiga nama yang menjadi wacana, yakni Wolio, Baubau, dan Buton. Nama Wolio merupakan transformasi dari kelompok sub etnik yang menjadi penguasa masa Kesultanan Buton. Nama Buton sebagai entitas bangsa sebuah kesultanan yang wilayahnya berpusat di Kota Baubau saat ini. Sedangkan Baubau merupakan suatu wilayah baru di Wilayah Pusat Kesultanan Buton yang menjadi pusat perekonomian. Metode penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data dokumentasi, wawancara, dan pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wacana penamaan Kota Baubau dari tiga pilihan Wolio, Baubau, dan Buton merupakan artikulasi sebuah atau transformasi dari masa Kesultanan Buton hingga saat ini sebagai identitas Kota Baubau berbasis etnik dan wilayah masa lalu.
Cover, Daftar Isi dan Kumpulan abstrak pangadereng pangadereng
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1423.643 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i1.105

Abstract

MAJELIS TARJIH DAN AGENDA PENGEMBANGAN PEMIKIRAN ISLAM DALAM KONTEKS PERUBAHAN MASYARAKAT DI YOGYAKARTA Iwan Dwi Aprianto
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i2.150

Abstract

Muhammadiyah’s thought struggle that was oriented to reform an purification of religion was realized through its efforts to institutionalize the study of Islamic thought by established Majelis Tarjih. This study aims to find out the process of the early development of the Majelis Tarjih which was formed by Muhammadiyah until the main points of though that are generated in the context of change in society. The method used in this study is a critical historical method which consists of four stages, namely heuristics, source criticism (verification), interpretation, and historiography. Based on study, Majelis Tarjih played a role in developing the mission of the Muhammadiyah organization in purification efforts by returning all religious issues to the main sources namely the Quran and hadith. In its development, Majelis Tarjih produced various religious decisions in response to various problems faced by muslim. Such contribution demonstrate the ability of the Majelis Tarjih to answer contemporary problems, even methodologically leads to changes adapted to the development of science and technology.Pergumulan pemikiran Muhammadiyah yang berorientasi kepada reformasi serta pemurnian agama diwujudkan melalui usahanya melembagakan kajian pemikiran Islam dengan membentuk Majelis   Tarjih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses perkembangan awal Majelis Tarjih yang dibentuk oleh Muhammadiyah hingga pokok-pokok pikiran yang dihasilkannya dalam konteks perubahan di dalam masyarakat. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah kritis yang terdiri atas empat tahap, yaitu heuristik, kritik sumber (verifikasi), interprestasi, dan historiografi. Berdasarkan kajian yang dilakukan, Majelis Tarjih berperan mengembangkan misi organisasi Muhammadiyah dalam usaha pemurnian dengan cara mengembalikan segala persoalan keagamaan ke sumber utamanya, yaitu Al-Qur’an dan hadis. Dalam perkembangannya, Majelis Tarjih menghasilkan berbagai keputusan keagamaan sebagai respon terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh umat Islam. Kontribusi demikian menunjukkan kemampuan Majelis Tarjih untuk menjawab masalah-masalah kontemporer, bahkan secara metodologis mengarah kepada perubahan yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Page 6 of 14 | Total Record : 139